Awalnya seluruh Nabi dan Rasul membawa risalah
Tauhid, tapi karena perjalanan sejarah yang panjang akhirnya terjadilah
penyelewengan yang dilakukan oleh pengikut-pengikut dan agama yang
bertanggungjawab, sebagaimana orang-orang Yahudi telah menjadikan Nabi mereka
Uzair sebagai Tuhan dan Nasrani telah
menjadikan Nabi Isa sebagai putra Allah, ini adalah penyelewengan yang
membahayakan Tauhid, selain itu merekapun telah menjadikan rahib-rahib mereka
sebagai Tuhan [9;31] bahkan segala sesuatu yang memiliki kegahiban
diproklamirkan sebagai Tuhan.
Karena
perjalanan sejarah ini segala penyelewengan terjadi bahkan menjadikan manusia
taqlid, tidak mau lagi mengkaji kebenaran, mereka cendrung suatu ajaran atau
pendapat tanpa memiliki ilmu sehingga terjadi sesat dan menyesatkan. Yang
akibatnya eksistensi Allah kabur dan dikaburkan oleh faham-faham yang sengaja
menyelewengkan aqidah tauhid, maka tercemarlah iman manusia hingga
mengantarkannya kepada kenifakan, syirik, fasiq, zhalim dan lain-lainnya bentuk
kekafiran.
Untuk
itulah, ada baiknya kita angkat kembali eksistensi Allah, keberadaan dimata
hamba-Nya sehingga perannya tidak menyalahi apa yang ditentukan, demikian pula
eksistensi manusia juga tidak akan merusak eksistensi Allah; letakkanlah
kembali keberadaan Allah sesuai dengan kapasitasnya dan keberadaan manusia
sesuai dengan fitrahnya, inilah eksistensi Allah dimata hamba-Nya;
Allah
itu ahad; maksudnya adalah Allah saja yang memiliki sifat, pekerjaan dan
zat-Nya yang tidak sama dengan makhluk-Nya. Allah ahad atas sifatnya, hanya Dia
saja yang mempunyai kesempurnaan sifat, Allah ahad atas pekerjaan-Nya adalah
hanya Allah saja yang mampu berbuat demikian menurut kehendak-Nya dan Allah
ahad dari segi zat-Nya, kejadian Allah tidak sama dengan kejadian makhluk
demikian pula zat kejadian Allah tidak satupun makhluk berkewajiban untuk
mengetahinya [112;1-4]
Tidak ada yang menyamainya; walaupun
sifat dan pekerjaannya juga banyak dimiliki oleh hamba-Nya tapi segala sifat
dan pekerjaan itu jauh berbeda dengan apa yang dikerjakan hamba-Nya,
(Dia) Pencipta langit dan bumi. dia
menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis
binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak
dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang
Maha mendengar dan Melihat [Asy Syura 42;11]
Allah itu Tuhan bagi sekalian
makhluk; semua makhluk yang ada di dunia ini Tuhannya adalah Allah walaupun
tidak sedikit yang keliru mengambil tuhan, ada yang mengambil tuhan dari jenis
jin, malaikat, manusia, batu, berhala serta apapun yang mereka ikuti dalam
seluruh aturan yang dibuat manusia;
(yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu
ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu,
Maka sembahlah Dia; dan dia adalah pemelihara segala sesuatu.[Al An’am 6;102]
Tidak ada tuhan selain Dia; sehingga
segala sembahan yang diambil manusia adalah bathil yang mempermudah mereka
untuk masuk neraka tanpa hisab, inilah yang disebut dengan syirik, segala
pengabdian manusia harus ditujukan kepada Allah semata;
Sejak dahulu manusia berusaha mencari
perlindungan yang dapat dijadikan sebagai Tuhan, ada yang mengambil berhala
sebagai sembahannya, ada yang berupa batu besar, pohon kayu dan laut dijadikan
sebagai Tuhannya, hal ini merupakan fithrah manusia. Manusia bagaimanapun
adalah makhluk lemah yang membutuhkan tempat bersandar dan mencari kekuatan
lain yang dianggapnya mampu memberi bantuan kepadanya sehingga tanpa ilmu
mereka jadikan selain Allah sebagai Tuhannya.
Bila
tanpa bimbingan wahyu dari yang Maha Kuasa sungguh banyaklah manusia yang sesat
jalan hidupnya, sedangkan wahyu dan para Nabi diturunkan untuk membimbing dan
mengajak mereka untuk menyembah Allah masih juga terjadi penyelewengan.
Penyelewengan
itu terjadi dengan diambilnya selain Allah sebagai Tuhan, ada yang menjadikan
hawa nafsu [25;43], patung-patung dan berhala [26;69-76], jin dan malaikat
[34;40-41], nabi-nabi [3;79], thaghut dan orang-orang alim sebagai yang mereka
sembah [9;31]. Inilah perjuangan para nabi untuk mengembalikan nilai-nilai
tauhid yang telah tercemar; Nabi Musa harus berhadapan dengan Fir’aun yang
telah menjadikan dirinya sebagai Tuhan, Nabi Nuh harus menerima pil pahit dengan
tenggelamnya sebagian bahkan anaknya sendiri telah menjadikan yang lain sebagai
Tuhannya, Nabi Luth merelakan isterinya untuk ditinggalkan karena keingkarannya
kepada Allah, Nabi Ibrahim memerangi ayahandanya yang menyembah berhala dan
sekaligus berseteu dengan Raja Namrudz, serta para nabi lainnya berupaya
menunjuki ummatnya untuk menyembah dan menjadikan Allah saja sebagai Tuhan,
tapi upaya itu banyak ditentang oleh kaumnya, ilmu dan pengetahuan serta
aktivitas mereka telah bergelimang dengan nilai-nilai yang rendah yaitu syirik
atau mensyerikatkan-Nya [25;2-3]
Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada
anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah
kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar".[Lukman 31;13]
Dialah Tuhan yang wajib ditaati; ibadah
saja tidak cukup tanpa diiringi dengan ketaatan, sebagaimana iblis adalah
makhluk Allah yang sudah banyak ibadahnya serta hamba Allah yang senior, tapi
akhirnya terlaknat dan dikutuk Allah karena ketaatannya kepada Allah tidak
terujud,”Hai orang-orang yang beriman,
taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya..”[4;59]
Kalau manusia mau untuk sejenak merenungi alam yang
terbentang dengan segala makhluk serta peristiwa yang terjadi didalamnya, maka
tidak akan ditemui keingkaran kepada Khaliqnya.
Berfikir sejenak atas peristiwa alam yang terjadi sehari-hari akan
membangkitkan kesadaran yang tinggi, bagaimana langi dan bumi diciptakan serta rintik
hujan sampai ke tanah yang dapat menyuburkan tanaman; ”Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di
laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari
langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati dan Dia
sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang
dikendalikan antara langit dan bumi. Sesungguhnya adalah tanda kebesaran Allah
bagi kaum yang berfikir” [Al Baqarah 2;164].
Allah
memerintahkan kepada manusia agar mereka menggunakan fikiran dan mengerti
peristiwa yang terjadi untuk diambil maknanya. Di angkasa raya dengan kebesaran
penciptanya berjuta-juta bintang bertaburan memberi warna indahnya langit,
pergantian musim dan cuaca, gumpalan awan yang membawa hujan, sungai yang
mengaliri air, ”Sesungguhnya Kami telah
menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang” [Ash
Shaffat;6].
Jangankan
kita menyaksikan alam raya ini keluar dari orbit bumi, sedangkan di bumi saja
dikala malam langit cerah, bintang-bintang bertebaran dihiasi bulan dengan
cahayanya memantul ke bumi, hati orang mukmin jadi tunduk, merendah menerima
kebesaran Ilahi. Ketika hujan lebat di tengah malam yang pekat disertai badai
yang kuat, dingin pula, gelegar kilat yang menyambar tak terlintaskan di dalam
hati manusia sedikit saja rasa takut, mohon perlindungan kepada-Nya ? ”Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat
kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan
mendung, dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, demikian pula para
malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilinar lalu
mengenai siapa saja yang
dikehendaki-Nya” [Ar Ra’ad; 12-13].
Kebesaran
Allah tak ditemui tandingannya dan hal ini diakui dengan kerendahan hati oleh orang-orang
yang beriman yang mau mengetuk hatinya untuk membacakan segala peristiwa dari
alam ini, sejak dari biji yang tak
berdaya, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia yang dihidupkan serta dimatikan
dengan kekuasaan-Nya, ”Sesungguhnya Allah
menumbuhkan butir-butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan
yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup” [Al
An’am;95]
Banyak
pelajaran yang dapat dipetik dari ciptaan Allah, lautan dengan segala
kekayaannya, binatang serangga dengan berbagai jenisnya, tumbuh-tumbuhan dengan
corak warnanya sampai kepada diri manusia iu sendiri, ”Dari pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang
bertebaran di muka bumi, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk kaum yang
meyakini”[Al Jatsiyah; 4].
Bagaimana
awal mula diciptakan manusia yang berasal dari air mani dengan segala proses
kejadiannya, ”Allah yang membuat segala
sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai pencitaan manusia dari tanah,
kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina [air mani]”
[As Sajadah; 7-8].
Alangkah
indahnya dunia ini dengan aturannya yang rapi, susunan tubuh manusia, mata
bening laksana kaca menghias wajahnya, otak sebagai kendali kesadaran
manusiapun teraur indah sehingga manusia itu mulia dari makhluk yang lainnya.
Pantaskah manusia berlaku sombong kepada penciptanya, berlagak angkuh dan
takabur sementara begitu banyak nikmat Allah direguknya dalam hidup ini,
”Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat
menentukan jumlahnya...”
Dengan tanpa
perhitungan Allah mencurahkan nikmat-Nya kepada manusia sehingga manusia dapat
hidup tentram dan damai dengan segala fasilitas yang disediakan. Segala
kebutuhan dan sarana hidup telah disediakan Allah untuk digali, diolah, dijaga
dan dilestarikan sebagai amanat dari Allah, sejak dari hutan yang lebat lagi
subur yang dapat menampung air sebagai persediaan dimusim kemarau, minyak yang
terpendam di dalam bumi sebagai harta yang tak ternilai jumlah dan harganya sampai
kepada lautan yang penuh dengan segala keperluan hidup manusia, semua itu untuk
manusia, ”Dan sesungguhnya telah Kami
muliakan Bani Adam dan telah Kami berikan ia kendaraan di darat dan di lautan
dan telah Kami berikan rezeki yang baik-baik, dan telah Kami lebihkan ia dari
kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan yang sebenar-benarnya dilebihkan”
[Al Isra’ 17;70].
Semua
fasilitas tersebut bila tidak dijaga dan dipelihara oleh manusia maka
kecelakaan, kesusahan dan malapetaka akan turun, hal ini terjadi karena ulah
kelengahan manusia dan kejahilannya, ”Telah
hadir kerusakan di bumi dan di laut dengan sebab tangan manusia, yang akhirnya
Allah rasakan kepada mereka ganjaran dari sebagian yang mereka kerjakan, supaya
mereka mau kembali kepada jalan Tuhan”[Ar Rum 30;41].
Konsep
kembali kepada alam telah menyentakkan kita semua, bahkan produk pemikiran
manusia yang selama ini kita andalkan keampuhannya terasa lumpuh. Sebagai
muslim kita harus menyadari bahwa kita bukan saja kembali kepada hukum alam tetapi
kita jusru harus kembali taat kepada hukum Allah. Selama ini memang kita seolah
silau kepada ilmu dan teknologi dengan mengabaikan moral dan akhlak. Sementara
itu manusia dengan ganasnya memakai ilmu dan tekhnologinya; telah berbuat
semena-mena terhadap alam dengan alasan untuk pembangunan, apakah untuk
membangun harus melakukan kerusakan ?
Hidup
akan tentram dan damai, bila memperoleh jaminan dari Allah sebagai penguasa
alam semesta; sehingga tidak ada rasa takut dalam memelihara sarana kehidupan ini.
Sangatlah sia-sia bila manusia terlepas dari jaminan Allah walaupun nikmat
Allah masih diterima tetapi diiringi oleh turunnya murka dan laknat Allah.
Sedangkan orang yang berada dalam jaminan penguasa atau raja saja hidupnya
merasa enak, apalagi di bawah lindungan dan jaminan Allah, dalam surat Al A’raf
7;96 Allah berfirman, ”Jikalau sekiranya
penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada
mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan juga ayat-ayat
Kami itu, maka mereka Kami siksa disebabkan perbuatannya”.
Begitu
banyak sejarah yang terbentang di belakang kita yang dapat diambil sebagai
pelajaran, tadinya mereka jaya dibawah berkah Allah akhirnya hancur berantakan
karena laknat Allah. Itu semua karena kekafiran dan keingkaran manusia
sebagaimana halnya kaum ’Ad, Tsamud, Bani Israil serta hancurnya negeri Saba’,
pada masa jayanya negeri ini dengan bendungan Maghribnya diperintah oleh
seorang Ratu bernama Bulqis yang akhirnya dapat ditaklukkan dan diislamkan oleh
Nabi Sulaiman. Karena tentram dan damainya negeri ini dengan kemakmuran
kehidupan penduduknya sehingga terukir dengan indahnya dalam Al Qur’an sebagai
sebutan ”Baldatun Thayibatun Warabbun
Ghafur” yaitu Negeri Yang Baik
Dibawah Ampunan Allah, sampai pada Dinasti Mahrib yang dilanjutkan oleh
raja-raja yang tidak cakap dalam memerintah, menyebabkan runtuhnya negeri Saba
’ pada tingkat yang paling rendah.
Terjadilah
perebutan kekuasaan silih berganti, saling bertengkar merebut harta warisan dan
merebut mahkota serta saling bunuh bahkan terjadi perang antar saudara.
Akhirnya kerajaan yang dipegang oleh Ibnu Amin al Azdi yang lalai dengan
fungsinya sebagai raja pemimpin rakyat. Dia tidak mempunyai sifat-sifat utama,
bahkan pengecut, pengkhianat negeri, bejat moral, lalim, melalaikan segala
amanat yang seharusnya dilaksanakan oleh seorang raja. Bendungan Maghribpun
tidak diperhatikan lagi, dinding dan pintunya mulai rusak yang kian berat,
batu-batunya pada lepas, disana-sini terdapat lubang menganga yang sangat
menyedihkan, karena rakyat semakin melarat dan sengsara, seluruh penduduk telah
melupakan ajaran Allah dan mengingkari nikmat Allah, mereka merusak semua
bangunan umum termasuk bendungan raksasa itu yang setiap saat mengancam mereka.
Ketika
terjadi hujan yang lebat dengan terus menerus, bendungan tersebut tidak mampu
lagi menampung air yang semakin membanjir maka akhirnya bendungan Maghrib
tersebut jebol dan hancur dengan menelan korban yang tidak sedikit dan negeri
Saba’ hancur berantakan sebagai balasan atas kekufuran mereka, dalam surat As
Saba’ Allah menerangkan,”Maka Kami
datangkan kepada mereka banjir yang besar yang menghancurkan segalanya dan Kami
ganti kebun-kebun mereka itu dengan kebun-kebun yang ditumbuhi pohon-pohon
berbuah pahit dan semacam pohon cemara dan sedikit pohon bidara”[As Saba’
34;16-17].
Peringatan
Allah tersebut bukan berarti kita dilarang mencari kebahagiaan di dunia, namun
yang perlu menjadi perhatian kita adalah bahwa kita harus mengusahakan sesuai
dengan kehendak Allah, sesuatu hal yang mustahil Allah menimpakan azab-Nya
tanpa sebab dan tanpa kesalahan manusia. Semua malapetaka, laknat yang dialami
ummat sebelumnya menjadi renungan kita dan pelajaran yang sangat berharga untuk
meninjau kembali musibah yang kian datang dengan bertubi-tubi sejak dari
banjir, gunung meletus, tanah longsor, hasil panen tidak menjadi dan musibah
lain, ini baru peringatan ringan yang ditunjukkan Allah.
Laknat
Allah akan tiba menimpa ummat Islam dalam berbagai segi, baik lahir maupun
bathin disebabkan kesalahan manusia itu sendiri. Sejak awal ummat Islam telah
diproklamirkan Allah sebagai ummat terbaik sebagai mana tersurat dalam surat
Ali Imran 3;110, ”Kamu adalah umat
terbaik yang dilahirkan di kalangan manusia karena menyeru kepada yang ma’rug
dan mencegah kepada yang mungkar dan beriman kepada Allah”.
Sejak awal kejadian manusia sudah
menjalin suatu hubungan atau ikatan dengan Khaliqnya, sebagai tuhan yang layak
disembah dan bersaksi, ”Jangan ada lagi
Tuhan selain Allah”, ikatan itu terukir dalam surat Al A’raf;172, ”Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan
keturunan anak-anak adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka seraya berkata, ”Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka
menjawab, ”Betul, engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi”. Kami lakukan yang
demikian iu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan,”Sesungguhnya kami [Bani
Adam] adalah orang-orang yang lengah terhadap ini”.
Ikatan
yang terjadi di alam ruh/ rahim diikrarkan kembali ketika manusia lahir dengan
kumandang adzan dan iqomat yang dilanjutkan dengan dua kalimat syahadat sebagai
ikrar dan sumpah seorang muslim untuk tunduk dan patuh atas segala aturan serta
kehendak Allah.
Manusia
tidak akan dapat menjalin hubungan dengan Allah bila ia tidak kenal dengan
Allah, suatu hal musahil, kenalpun tidak lalu terjalin hubungan, apalagi untuk
taraf cinta harus melalui proses. Tak ada sesuatupun yang lebih berharga bagi
seorang manusia selain pengenalan terhadap pencipta dirinya. Orang yang tidak
mengenal Allah bagaikan seonggok batu yang tidak bermanfaat, sungguh aneh
makhluk yang tidak mengenal pencipta dirinya.
Mengenal
Allah adalah syarat utama untuk meraih kebahagiaan. Cinta dan kasih sayang
Allah hanya diberikan kepada orang-orang yang mengenal Allah. Mengenal Allah
adalah ilmu yang paling utama dan menjadi sumber dari segala ilmu pengetahuan.
Seringkali
manusia tidak bisa menghargai Allah dengan penghargaan yang semestinya, atau
tidak beribadah kepada Allah dengan benar karena lemahnya pengenalan mereka terhadap
Allah. Manusia seperti ini biasanya lebih menghargai bangsa, keturunan, atasan
atau pimpinannya ketimbang Allah. Mereka akui keberadaan Allah tetapi hukum dan
kedaulatan-Nya dilalaikan, firman Allah dalam surat Az Zumar 39;67, ”Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan
pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggamannya pada
hari kiamat dan langit di gulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Allah dan
Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan”.
Fithrah
merupakan faktor yang paling kuat dalam pengenalan terhadap Allah.
Siapapun yang fithrahnya hidup, akan
berupaya mengenal Allah. Sebaliknya mereka yang telah terkunci mati hati
nuraninya, tidak akan sam;pai pada pengenalan terhadap Allah. Orang yang
beriman dengan keimanan yang tinggi dan
dia berusaha agar dirinya diperhatikan Allah, do;anya terjawab, amalnya diberi
pahala, zikirnya didengar, detak niat hatinya terawasi sehingga dikala dia
berkata maka hakekanya itu adalah ucapan Allah, orang ini dekat kepada Allah,
dia berhubungan dengan Allah karena dia memang berusaha mendekatkan diri
kepada-Nya,dia berhubungan dengan Allah karena berusaha untuk menghubungkan
diri, dia kenal Allah karena dia selalu mencari jalan untuk kenal dengan Allah.
Abu
Bakar Ash Shiddiq mengungkapkan, ”Aku
mengenal Rabbku melalui perantara Rabbku, seandainya Rabbku tidak mengenalkan
diri-Nya padaku maka aku tidak akan mengenal Rabbku”. Dengan keimanan
terhadap wahyu Allah, seorang mukmin terbimbing untuk mengenal Allah melalui
dua fenomena yang Allah berikan yaitu; pertama, ayat-ayat kauniyah yang
terdapat di alam semesta. Semua bentuk
penciptaan alam maupun aktivitasnya merupakan tanda-tanda kekuasaan
Allah bagi orang-orang yang menggunakan
akal. Kedua, ayat-ayat qauliyah yang merupakan penjelasan Allah tentang
berbagai hal yang berhubungan dengan kehidupan manusia dan hakekat alam
semesta. Ayat ini telah terhimpun dalam bentuk Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah,
Allah berfirman, ”Sesungguhnya didalam
penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam terdapat
tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berfikir. Yaitu orang-orang
yang mengingat Allah ketika mereka berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring,
serta mereka berfikir tentang penciptaan langit dan bumi, kemudian berkata,”Ya
Rabb kami, tiadalah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau,
maka hindarkan kami dari siksa azab
neraka” [Ali Imran 3;190-191].
Untuk
mengenal Allah kita tidak mempelajari substansi atau eksistensi-Nya, tetapi
cukup mempelajari ciptaan-ciptaan-Nya melalui bimbingan Al Qur’an dan sunnah
Rasul-Nya. Metode yang diajarkan islam pada ayat diatas adalah zikir dan fikir.
Zikir adalah sikap dalam dalam menerima wahyu Allah sementara fikir adalah
sikap dalam memperhatikan alam semesta, zikir tidak dapat dilepaskan dari
fikir, sebagaimana fikir tidak ada nilainya tanpa zikir.
Bila
manusia mampu mengenal Allah dengan baik maka dia tidak akan salah faham
terhadap sunnatullah, ujud berupa derita dan kebahagiaan mampu difahami, apapun
yang diberikan Allah kepadanya walaupun menurut rasio dan hawa nafsunya adalah
buruk tapi imannya mengatakan itu semua kebaikan dari Allah. Dengan pengakuan
iman yang demikian berarti sudah terjalin hubungan antara Khaliq dengan
makhluknya yang merupakan kebutuhan mutlak bagi manusia mukmin.
Hubungan
dengan Allah dapat pula diibaratkan seperti gardu dengan pusat listrik.
Manakala gardu mendapat suplai energi listrik yang besar maka ia akan membagi
listriknya ke rumah-rumah dengan baik. Namun bila hubungannya dengan pusat
listrik lemah atau byarpet, maka gardu tersebut tidak bermanfaat menerangi
rumah-rumah di sekitarnya, firman Allah, ”Dan
barangsiapa yang tidak mendapat cahaya Allah, maka tidak ada cahaya baginya”
[An Nur 24;35].
Untuk
memperkuat hubungan dengan Allah, Rasulullah sendiri diwajibkan untuk melakukan
qiyamullail setiap malam [74;1-4]. Qiyamullail adalah saat pening dan
paling tepat untuk menerima hidayah Allah yang menjadi sumber utama da’wah
Rasulullah [73;5-6]. Rasulullahpun menempa sahabat-sahabatnya melalui qiyamullail dan tilawah qur’an dalam shalat. Mereka tidak pernah melewatkan itu,
mereka merasakan kenikmatan yang tiada tara tatkala berinteraksi dengan Al
Qur’an. Ketika sampai ayat azab mereka menangis, tatkala membaca ayat rahmat
menjadi gembira. Ketika digambarkan tentang kekuasaan Allah merekapun memuji
Allah dan tatkala menemukan ayat-ayat
sajadah mereka bersujud dengan penuh rasa takut
[17;109, 32;16].
Melalui
fikiran mukmin dapat memperkuat hubungan dengan-Nya bahkan hidup tanpa zikir
akan jauh dari dekapan Allah, jauh dari rahmat-Nya. Manusiai akan banyak menghadapi kendala dalam
kehidupannya tanpa zikir, qur’an menggambarkan betapa qillatudzikir [sedikit berzikir] akan menimbulkan quswatul qalbu [kekerasan hati] 57;16.
Sedangkan hati yang telah mengeras mempunyai daya kerja yang sangat l emah
dalam menyerap pesan-pesan Allah dan Rasul-Nya. Padahal kebahagiaan seorang
muslim tergantung pada sejauh mana ia mampu menyerap pesan allah Ta’ala. Dan
apabila dosa-dosa itu menyelimuti hati, maka ia akan menutupinya. Kalau sudah
tertutup maka Allah Swt akan memberinya cap, maka tak ada lagi jalan bagi kekufuran untuk keluar darinya.
Apalah
artinya sebuah pesan da’wah yang disampaikan oleh da’i bagii yang mengalami
qaswatul qalbi ? sementara da’wah islam
dalam penyampaiannya tidak mengandalkan bentuk-bentuk rayuan materi sebagaimana
da’wah-da’wah lain. Islam akan diterima oleh mereka yang mau tanpa ada paksaan
dan rayuan, bila masuk dalam jama’ah islam maka keislaman tadi bukan untuk Allah
tapi bagi keuntungan dan keselamatan sendiri.
Keimanan
akan luntur, kabur bila pribadi mukmin tidak senantiasa menjalin hubungan
dengan Allah melalui jalan syariat yang telah dicontohkan Rasul Saw serta
teladan shalafus shaleh. Menjalin dan memperkuat hubungan dengan Allah suatu
kewajiban agar hidup dari waktu ke waktu bermakna sebelum menghembuskan nafas
terakhir meninggalkan jasad, wallahu a’lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/
Agustus 2010.M]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar