Kamis, 17 Desember 2015

95. Neraka



Pada ayat enam dari surat At Tahrim menyatakan,”Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu, didalamnya terdapat malaikat yang kasar lagi bengis, yang tidak maksiat kepada Allah dan taat atas perintah yang diperintahkan Allah dilaksanakannya”.
Menurut Al Maraghi, yang dimaksud dengan keluarga yaitu isteri, anak dan siapa saja yang berada dalam tanggungjawab kita, sedangkan menurut Sayid Qutb, keluarga adalah anak, isteri, ibu dan kerabat lainnya.

            Bagaimana keadaan neraka yang digambarkan oleh Allah :
  1. Bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, yaitu manusia yang masih mempunyai dosa dan orang-orang kafir serta batu sembahan yang dijadikan Tuhan oleh manusia.
  2. Di dalam neraka tersebut terdapat malaikat yang kasar dan kejam, apa yang diperintahkan Allah mereka tidak pernah membantah, dia tidak memiliki rasa kasih sayang kepada penghuni neraka, dan tidak akan mau mendengarkan jerit tangis penghuninya.

            Dengan demikian tidaklah sesuai dengan pendapat anak muda sekarang, mereka senang hidup di neraka karena disana mereka akan bertemu dengan wanita-wanita cantik, bintang film yang seksi serta wanita yang tenggelam dalam kemaksiatan. Jangankan tentang kecantikan, sedangkan daging dan tulang manusia yang masuk neraka akan hancur dimakan api.
Banyak di antara kita yang salah presepsi bahwa neraka itu hanya untuk orang-orang kafir dan munafik. Ada pula yang lebih keliru lagi sambil berspekulasi : Hidup ini hanya sekali. Akhirat adalah urusan nanti.Akibatnya, kita merasa tenang-tengang saja setelah kita menjadi Muslim dan Mukmin secara formal.Lebih celaka lagi, berbagai dosa dan maksiatpun dilakukan tanpa malu pada Allah Ta’ala, Tuhan Pencipta. Perlu kita ketahui bahwa formalitas keislaman dan keimanan kita sama sekali tidak akan menolong kita di akhirat nanti jika kita tidak melaksanakan kosekuensi-konsekuensi keislaman dan keimanan itu secara baik dan utuh.
Sesungguhnya Neraka itu bukan hanya tempat hukuman yang amat pedih bagi orang-orang kafir, musyrik dan munafik.Neraka juga diperuntukkan bagi orang-orang Mu’min yang tidak mentaati (durhaka) dan lalai terhadap sistem dan aturan kehidupan yang Allah tetapkan untuk manusia selama mereka hidup di dunia.Akan tetapi, neraka juga menjadi tempat hukuman bagi orang-orang yang beriman yang tidak menjalankan nilai-nilai keimanan secara utuh dan menyeluruh saat mereka hidup di dunia. Mereka ini disebut orang-rang yang durhaka pada Allah dan Rasul-Nya dan lalai dari mengingat Allah dan ancaman akhirat.[Fathuddin Ja'far,Dosa-Dosa Yang Menyebabkan Pelakunya Masuk Neraka, eramuslim.com.Jumat, 05/02/2010 09:26 WIB].

Sesungguhnya rasa takut kita kepada siksa neraka adalah hidayah agung daRi Allah yang dibeRikan kepada kita yang patut disyukuRi, demi kewaspadaan dan kehati-hatian kita di dalam menempuh jalan hidup yang luRus dan benaR. 

MaRi kita mencOba mengetahui bebeRapa pOin penting yang beRkaitan dengan neRaka, agaR keimanan kita beRtambah dan selalu beRusaha meninggalkan maksiat-maksiat yang dapat menjeRumus-kan kita ke salah satu juRangnya yang sangat dalam.Sebab, kejahilan kita teRhadap hakikat neRaka akan membuat kita menyepelekan faktOR-faktOR beRbahaya yang dapat membuat kita menjadi salah satu daRi penghuni tempat sadis teRsebut. (Na’udzubillah min dzalik) 

Yang peRtama, neRaka adalah sebuah tempat (yang sangat luas yang diciptakan Oleh Allah) untuk menyiksa hamba-hamba-Nya (yang beRmaksiat, membangkang maupun kafiR kepadaNya), dan neRaka itu teRus meRasa kuRang untuk diisi, sampai Allah Ta’ala meletakkan (tapak) kakiNya, kemudian neRaka beRkata, "Cukup, cukup!" (Sebagaimana disebutkan dalam hadits Riwayat al-BukhaRi dan Muslim daRi Abu HuRaiRah).

Yang kedua, neRaka mempunyai tujuh pintu, setiap pintu itu akan dimasuki Oleh gOlOngan-gOlOngan pembangkang dan pelaku maksiat teRtentu.
Allah Ta’ala beRfiRman,"Jahanam itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk gOlOngan yang teRtentu daRi meReka." (Al-HijR: 44). 

Yang ketiga, panasnya neRaka.Panasnya tak teRhingga, kaRena dihidupkan selama seRibu tahun sehingga waRnanya menjadi putih, kemudian dihidupkan selama seRibu tahun lagi sehingga waRnanya beRubah menjadi meRah, dan dihidupkan kembali selama seRibu tahun lagi sehingga menjadi hitam.MaRi kita bayangkan, alangkah panasnya neRaka, sehingga waRnanya pun bisa menjadi hitam kelam.Tak ada satu pun makhluk yang ada di atas bumi ini yang sanggup menahan panas yang begitu dahsyat ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,"NeRaka kalian adalah satu bagian daRi tujuh puluh bagian daRi NeRaka Jahanam." (HR. al-BukhaRi dan Muslim).

Panas api saat ini, membuat baja yang begitu keRas dan kOkOh bisa menjadi meleleh. Lalu bagaimana dengan tubuh-tubuh kita yang begitu lembek, ditambah dengan kadaR panas yang melebihi daRi panas dunia seukuRan tujuh kali lipat? 

POin yang keempat adalah, kObaRan api neRaka yang menyala-nyala. Api neRaka beRkObaR sangat dahsyat, dan menyambaR semua penghuninya tanpa belas kasihan.
Allah Ta’ala beRfiRman;"Sesungguhnya neRaka itu melOntaRkan bunga api sebesaR dan setinggi istana, seOlah-Olah ia iRingan unta yang kuning." (Al-MuRsalat: 32, 33).
Di samping itu, api neRaka juga bisa maRah dan menggeRam-geRam ketika melihat ROmbOngan calOn penghuninya yang digiRing untuk memasuki tempat tinggal meReka.  Allah Ta’ala beRfiRman,"Apabila neRaka itu melihat meReka daRi tempat yang jauh, meReka mendengaR kegeRamannya dan suaRa nyalanya."(Al-FuRqan: 12). 

Yang kelima, bahan bakaR neRaka teRdiRi daRi manusia dan bebatuan. Sebagaimana Allah Ta’ala beRfiRman di dalam suRat Al-BaqaRah,"PelihaRalah diRimu daRi neRaka yang bahan bakaRnya manusia dan batu, yang disediakan bagi ORang-ORang yang kafiR." (Al-BaqaRah: 24). 

Yang keenam, sebagaimana neRaka meRupakan juRang dan lembah, maka dia mempunyai kedalaman.JaRak kedalamannya sejauh kita melempaR batu daRi pinggiR neRaka ke dalam juRang neRaka selama tujuh puluh tahun. Satu keteRangan daRi sahabat Abu HuRaiRah menjelaskan,
"Ketika kami sedang beRsama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba beliau mendengaR suaRa dentuman, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam beRtanya, 'Apakah kalian tahu suaRa apa ini?'Kami menjawab, 'Hanya Allah dan RasulNya yang paling tahu!'Beliau menjelaskan, 'Ini adalah batu yang dilempaRkan ke dalam neRaka, sejak tujuh puluh tahun yang lalu, kemudian ia melayang di dalam neRaka, sekaRang ini ia sampai pada dasaRnya'." (HR. Muslim, 7096). 

Yang ketujuh, penjaga neRaka.Allah Ta’ala beRfiRman, "Hai ORang-ORang yang beRiman, pelihaRalah diRimu dan keluaRgamu daRi api neRaka yang bahan bakaRnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasaR, yang keRas, yang tidak menduRhakai Allah teRhadap apa ang dipeRintahkanNya kepada meReka dan selalu mengeRjakan apa yang dipeRintahkan." (At-TahRim: 6). 

Yang kedelapan, badan penghuni neRaka.Untuk meRasakan siksaan abadi yang dahsyat di neRaka itu, maka tubuh paRa penghuni neRaka dibesaRkan, dan setiap kali kulit-kulit meReka telah menjadi hangus dan gOsOng, maka dia akan di-ganti dengan kulit yang lainnya, agaR siksaan itu benaR-benaR teRasa Oleh meReka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda, "Gigi geRaham ORang kafiR atau gigi taRing ORang kafiR (di HaRi Kiamat, di neRaka) adalah sebesaR gunung Uhud dan tebal kulitnya sejauh peRjalanan tiga haRi." (HR. Muslim).

Allah Ta’ala beRfiRman,"Sesungguhnya ORang-ORang yang kafiR kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan meReka ke dalam neRaka.Setiap kali kulit meReka hangus, Kami ganti kulit meReka dengan kulit yang lain, supaya meReka meRasakan azab.Sesungguhnya Allah MahapeRkasa lagi Mahabijaksana." (An-Nisa`: 56). 

Yang kesembilan, makanan penduduk neRaka adalah beRupa Zaqqum, yaitu buah daRi sebatang pOhOn yang keluaR daRi dasaR NeRaka Jahim, jika penduduk neRaka memakan buah itu maka peRut-peRut meReka akan mendidih, dikaRenakan panasnya buah Zaqqum teRsebut. Dengan demikian tidak akan penduduk neRaka yang mendapatkan Rasa kenyang, bahkan meReka akan lebih meRasa lapaR dan haus.  Dan Allah Ta’ala beRfiRman, "Sesungguhnya pOhOn zaqqum itu, makanan ORang yang banyak beRdOsa.(Ia) sebagai kOtORan minyak yang mendidih di dalam peRut, sepeRti mendidihnya aiR yang sangat panas." (Ad-Dukhan: 43-46).
Allah Ta’ala beRfiRman,
"Sesungguhnya ia adalah sebatang pOhOn yang keluaR daRi dasaR NeRaka Jahim.Mayangnya sepeRti kepala setan-setan.Maka sesungguhnya meReka benaR-benaR memakan sebagian daRi buah pOhOn itu, maka meReka memenuhi peRutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pOhOn zaqqum itu pasti meReka mendapat minuman yang beRcampuR dengan aiR yang sangat panas." (Ash-Shaffat: 63–67). 

Yang kesepuluh, minuman penduduk neRaka adalah minuman yang tidak membuat Rasa dahaga teRObati, tidak mendapat kesejukan dan kesegaRan. Minuman meReka adalah nanah yang sangat panas, yang akan membuat peRut ORang yang meminumnya menjadi teRbuRai.  Allah Ta’ala beRfiRman,"MeReka tidak meRasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, kecuali aiR yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal." (An-Naba`: 24–26).
 Allah Ta’ala juga beRfiRman, yang aRtinya,  "Kemudian sesudah makan buah pOhOn zaqqum itu pasti meReka mendapat minuman yang beRcampuR dengan aiR yang sangat panas". (Ash-Shaffat: 67).
SeRta Allah Ta’ala juga beRfiRman,"Di hadapannya ada Jahanam dan dia akan dibeRi minuman dengan aiR nanah, diminumnya aiR nanah itu dan hampiR dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya daRi segenap penjuRu, tetapi dia tidak juga mati; dan di hadapannya masih ada azab yang beRat." (IbRahim: 16–17). 

Minuman itu betapa menyakitkan, menambah deRita, dan menghancuRkan tubuh meReka.
Siksaan bagi penduduk neRaka sangatlah beRvaRiasi, tetapi semua siksaan itu tidak ada yang Ringan, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa siksaan yang paling Ringan adalah, apabila baRa api neRaka diletakkan di bagian lekuk telapak kaki seseORang maka Otaknya akan mendidih. Sabda Rasulullah,"Sesungguhnya azab yang paling Ringan yang menimpa penduduk neRaka pada HaRi Kiamat adalah apabila baRa api diletakkan di lekuk kedua telapak kaki seseORang, maka Otaknya akan mendidih." (HR. al-BukhaRi).

MeReka akan memakan baRa api sepenuh peRut meReka, diakibatkan tindakan meReka di dunia memakan haRta anak yatim dengan caRa yang zhalim, Allah Ta’ala beRfiRman,"Sesungguhnya ORang-ORang yang memakan haRta anak yatim secaRa zhalim, sebenaRnya meReka itu menelan api sepenuh peRutnya dan meReka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neRaka)." (An-Nisa`: 10).
Muka-muka dan punggung-punggung meReka dipukuli Oleh paRa malaikat, tanpa mengenal Rasa belas kasihan,
"Kalau kamu melihat ketika paRa malaikat mencabut jiwa ORang-ORang kafiR seRaya memukul muka dan belakang meReka (dan beRkata), 'Rasakan Olehmu siksa neRaka yang membakaR, (tentulah kamu akan meRasa ngeRi)'."( Al-Anfal: 50). 

Ada juga di antaRa meReka yang disiksa dengan disetRika lam-bung dan punggung meReka dengan emas seRta peRak yang tidak meReka zakatkan ketika meReka beRada di dunia.
Di antaRa meReka pun ada yang disiksa dengan dicambuk tanpa henti dengan besi-besi panas, setiap kali meReka akan keluaR, meReka digiRing kembali untuk meRasakan cambuk-cambuk besi teR-sebut.
Ada juga yang dibelitkan Rantai api NeRaka Jahanam ke leheR-leheR meReka dan tangan-tangan meReka, seRta Rantai teRebut dibe-lenggukan di kaki-kaki meReka.Siksaan itu tiada beRkesudahan, beRsambung, dan beRsambung sepanjang haRi.[Waznin Mahfud,NgeRinya NeRaka,Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, DaRul Haq JakaRta.].

Jika seseorang ditanya: mau masuk surga atau neraka; mau pahala atau siksa? Tentu semuanya mau masuk surga dan meraih pahala.Mungkin hanya orang bodoh yang ingin masuk neraka dan mendapatkan siksa.
Namun, sadarkah kita, keinginan masuk surga dan meraih pahala sering hanya dusta belaka?Bukankah sering keinginan itu hanya ada di lisan kita, tidak benar-benar berasal dari lubuk hati kita dan termanifestasikan dalam amal-amal kita?Buktinya, tak sedikit orang justru melakukan amal-amal yang menjauhkan diri mereka dari kemungkinan masuk surga dan meraih pahala.Mereka malah makin mendekatkan dirinya ke neraka dan 'memilih' siksa.Di mulut mereka sangat ingin masuk surga dan enggan masuk neraka.Namun kenyataannya, mereka enggan menunaikan shalat, tak mau melaksanakan kewajiban menuntut ilmu, tidak berbakti kepada orang tua, malas berdakwah, cuek terhadap kemungkaran, dll. Semua itu pasti akan menjaukan diri mereka dari surga dan malah bisa menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Di lisan, mereka ingin pahala dan tak mau disiksa.Namun kenyataannya, mereka suka berbohong, berakhlak buruk, berlaku sombong dan merendahkan orang lain, memamerkan aurat, berzina, korupsi, memakan riba, mendzalimi orang lain, dll.Semua itu pasti mengundang siksa dan menjauhkan mereka dari pahala.

Maka dari itu, tentu benar sabda Baginda Nabi SAW, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra., "Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan." Para Sahabat heran, bagaimana mungkin ada orang yang enggan masuk surga? Tentu tidak masuk akal! Karena itu, mereka kemudian bertanya, "Ya Rasulullah, siapakah yang enggan masuk surga?"Baginda menjawab, "Mereka yang menaatiku pasti bakal masuk surga.Sebaliknya, mereka yang tidak mau mengikutiku, itulah yang enggan masuk surga."(HR Bukhari dan Ahmad).

Pertanyaannya: Lebih banyak mana, yang mengikuti Rasulullah SAW atau yang menyimpang bahkan meninggalkan jalan beliau? Tentu lebih banyak yang terakhir.Artinya, sadar atau tidak, kebanyakan manusia ternyata 'memilih' neraka ketimbang surga.[Diantara dua pilihan, Media Ummat; Tuesday, 23 March 2010 13:53].
Walaupun ada dua pilihan yang menjadi patokan bagi manusia untuk menentukan hidupnya kelak, apakah untuk masuk syurga atau akan masuk ke neraka, namun terlalu banyak yang masuk neraka itu dengan berlomba-lomba melalui Pilpres, Pilkada, Pemilu dan Pildes, ujung-ujungnya jadi penguasa yang menyombongkan diri, mementingkan diri sendiri dengan menzhalimin rakyat.

Jika generasi salafush-shalih begitu khawatir dan takut menjadi penguasa, manusia-manusia zaman sekarang justru berlomba-lomba meraihnya. Dengan segala cara, meski harus menghamburkan uang ratusan juta hingga miliaran rupiah, mereka berusaha mewujudkan mimpinya; entah menjadi presiden/wapres, sekadar menjadi kepala daerah, ataupun menjadi wakil rakyat. Dalam hal ini, 'keberanian' mereka mengalahkan 'keberanian' Khalifah Umar bin al-Khaththab atau Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Bagaimana tidak! Keduanya, saat menjabat sebagai khalifah, begitu takutnya terhadap hisab Allah pada Hari Akhir nanti atas kepemimpinannya di dunia.Sebaliknya, manusia-manusia zaman sekarang yang sangat ambisi kekuasaan, begitu beraninya 'menantang' hisab Allah SWT.

Saat mereka berhasil menjadi penguasa, kepala daerah atau wakil rakyat, bukan kegelisahan dan isak tangis yang mereka tunjukkan (sebagaimana yang ditunjukkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz), namun kegembiraan dan rasa syukur. Jika demikian, sesungguhnya mereka tidak sedang bersyukur, tetapi sedang ber-'sukur' (sukr, b. arab; mabuk). Ya, mereka sedang 'mabuk kekuasaan'. Mereka lupa bahwa dengan kekuasaan, jabatan atau posisi sebagai wakil rakyat yang mereka raih dalam sistem sekular yang tidak menerapkan hukum-hukum Allah itu, mereka sebetulnya sedang berjalan menuju ke neraka; mereka sedang berlomba masuk ke dalamnya[B. IskandarArief, Berlomba ke Neraka, Mediaummat.com. Monday, 11 May 2009 15:13].

            Senantiasalah, mumpung masih ada restan umur yang diberikan Allah kepada kita, isilah dengan peningkatan iman dan penambahan iman sehingga hidup kita tidak termasuk orang yang merugi, bila tidak demikian maka sia-sialah hidup kita di dunia sedangkan di akherat dapat dipastikan masuk ke dalam neraka, yaitu tempat yang tidak menyenangkan bagi manusia bahkan tempat penyiksaan bagi orang-orang yang berdosa,   wallahu a’lam    [Joo Chiat Complex Singapura,  08 Rajab 1432.H/ 10 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar