Ramadhan telah ditunaikan, dengan
segala keimanan rela menahan lapar dan
haus, serta menghindarkan aktivitas seksual suami isteri yang sah di siang
hari. Bagi orang yang berpuasa dia akan merasakan dan menemukan dua
kegembiraan, yaitu gembira ketika berbuka puasa karena dahaga lepas setelah
beberapa teguk air membasahi kerongkongan, lapar terobati setelah disuapi
makanan, letih habis, capek hilang, tidak dapat dibayangkan dengan lukisan
kata-kata betapa sejuknya hati ini ketika berbuka puasa.
Kegembiraan
kedua, yaitu ketika bertemu dengan Allah Swt di Padang Mashar dengan segala
pertanggungjawaban di hadapan Mahkamah Yang Maha Adil sebagaiana Allah
memfirmankan,”Semua amal yang dilakukan
anak Adam adalah untuknya, sedangkan puasa yang dilakukannya adalah untukKu”,
artinya pahalanya hanya Allah yang lebih tahu dan lansung diberikan kelak.
Dalam rangka menyambut hari raya tanggal 1 Syawal,
ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu;
1.Menyempurnakan Ibadah
Puasa
Menghitung kembali hari-hari puasa yang
tidak dilakukan karena beberapa hal, kemudian pada tahun ini juga harus
dibayarkan dengan puasa pada hari dan bulan yang lain, sebagaimana anjuran
Allah dalam surat Al Baqarah 2;184,”Hari-hari
yang tertentu, jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan [lalu
berbuka] maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu
pada hari-hari yang lain”.
2.Membayar Zakat Fithrah
Hikmah dari membayar zakat fithrah yaitu
mensucikan orang yang berpuasa dari perbuatan, perkataan sia-sia dan keji
selama puasa, zakat fithrah itu disalurkan kepada fakir miskin dengan batas
waktu sebelum usai shalat Idul Fithri, dengan kadar 2,5 kilogram beras perjiwa
atau sejenis makanan yang menyenangkan. Umar bin Khattab berkata,”Rasulullah Saw memerintahkan kami
mengeluarkan zakat fithrah sebelum orang pergi shalat”.
3.Perhitungan Zakat Mal
Bagi ummat islam yang selalu
memperhitungkan zakat harta pada bulan Ramadhan, hendaklah sebagian harta yang
dimilikinya sebagai ummat yang wajib disampaikan kepada yang berhak
menerimanya. Karena dibalik harta itu
terdapat hak fakir miskin, anak yatim dan lainnya. Allah tidak membenarkan bila
orang yang beriman dan telah cukup nisab hartanya, lalu tidak memperhitungkan
zakat yang harus dikeluarkannya.
4.Menyambut Idul Fithri dengan Gembira
Kegembiraan ini bukan diiringi dengan
berbagai pesta meriah dengan mempersiapkan minuman dan makanan serta pakaian
yang menggembirakan. Sambutlah Hari Raya Idul Fithri dengan kegembiraan, karena
kita telah berhasil mengekang dorongan hawa nafsu selama satu bulan dengan
ibadah puasa. Kedatangan Idul Fithri tidak layak ditakuti karena situasi
ekonomi yang kurang menggembirakan, apalagi diiringi dengan pertengkaran antara
suami isteri tidak tersedianya pakaian dan makanan untuk anak-anak.
5.Mengucapkan Takbir
Takbir akan bergema sejak masuknya Idul
Fithri, yaitu setelah berbuka pada hari terakhir puasa Ramadhan sampai selesai
shalat Idul Fithri, baik di rumah, di masjid maupun perjalanan menuju kelapangan
untuk melaksanakan shalat. Al Qur’an pada surah Al Baqarah ayat 185
mengisyaratkan,”Supaya kamu besarkan dan
agungkan asma Allah karena rasa syukur nikmat [yang telah diberikan Allah
berupa pedoman hidup yaitu Al Qur’an”.Rasulullah Saw bersabda,”Hendaklah kamu siarkn hari raya dengan
takbir” [HR. Thabrani dari Anas].
6.Jangan ke kuburan karena Hari Tertentu
Salah satu adat kebiasaan di Indonesia
ialah melakukan ziarah pada hari-hari dan bulan-bulan tertentu, seperti hari
akan menyambut puasa dan setelah selesai bulan Ramadhan, yang diiringi dengan
manabur bunga dan menyiram air. Pada saat lebaran sehabis shalat Id, ummat
islam berbondong-bondong ke kuburan dalam rangka ziarah kubur. Ajaran islam
tidak melarang ziarah, bahkan disunnahkan oleh Nabi Muhammad Saw untuk
mengingat mati, tapi janganlah dilakukan dengan aturan islam yang dibalut dan
dipoles oleh adat nenek moyang. Ziarahlah sebagaimana yang dituntunkan oleh sunnah Rasulullah Saw
yang menganjurkan ziarah kubur itu kapan saja, hanya jangan ditentukan pada
hari dan bulan tertentu, seperti pada saat menyambut Ramadhan atau Idul Fithri
saja.
Rasulullah Saw mengajarkan do’a ketika masuk kubur,’’Semoga
Kesejahteaan tetap bagimu wahai ahli kubur kaum mukmunin dan muslimin, insya
Allah kami akan bertemu denganmu, kami mohon kepada Allah untuk kami dan
kamu”[HR.Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah].
7.Bersilaturahim
Lebaran tiba, adalah saat yang dapat
digunakan untuk saling kunjung mengunjungi antara satu dengan lainnya, bahkan
saat lebaran saja kegiatan ini dilakukan, pada hari lainpun tidak ada halangan.
Pada saat ini saling menebur dosa dan memaafkan segala kesalahan, isteri mohon
maaf kepada suami dan sebaliknya, anak mohon maaf kepada ibu dan bapaknya dan
sebaliknya, hubungan dengan tetangga dijalin dengan silaturahim. Disamping itu
satu hal yang tidak patut dilaksanakan ialah berjabat tangan antara pria dan
wanita yang bukan muhrimnya. Jika bertemu antara satu dengan yang lain
hendaklah saling mengucapkan tahniah yaitu ”Taqabbalallahu
minna waminkum” semoga Allah menerima amal kami dan amal kamu” [HR.Jubair
Ibnu Nufair].
Akhir
Ramadhan takbir bergema sejak dari surau yang berada di ujung kampung sampai
masjid pencakar langit di tengah kota, berkumandang menyemarakkan Idul Fithri
dengan mengagungkan Asma Allah dengan takbir. Zakat fithrahpun dikeluarkan
sebagai rangkaian amaliah ibadah puasa Ramadhan dengan penyaluran kepada fakir
miskin, agar dapat merasakan kegembiraan besok bersama dengan orang-orang islam
lainnya.
Disela-sela
gema takbir masih terdapat beberapa orang yang harus berduka karena kemalangan
yang menimpa, kesedihan ini akan tergurat lebar karena lebaran datang,
sedangkan anggota keluarga tidak cukup mengelilingi mereka. Bagaimana jerit
pilu seorang isteri di tengah keramaian takbir sementara suami berada jauh,
entah dialam baqa atau jauh merantau mengadu nasib mencari rezeki. Bagaimana
keadaan janda yang ditinggal suami tercinta, atau hati seorang ibu ketika
anaknya tidak ada di sekitarnya, entah karena ditinggalkan selamanya atau
menuntut ilmu di rantau tidak dapat hadir pada saat ini.
Tidakkah
kita tahu bagaimana keras dan
sempitnya kehidupan dalam penjara dibalik terali besi, pada saat itu ingin
tenaga mendobrak jeruji serta menjebol tembok penjara untuk sedetik saja
melihat sanak keluarga lalu bersama mereka merayakan Idul Fithri, tapi apa
daya, kungkungan begitu keras, keadaan memaksa untuk menikmati lebaran dengan
getir dalam kesendirian.
Gema
takbir masih memecah angkasa, kesedihan ditinggal suami dan anak tercinta,
kepiluan dalam penjara, kedukaan dalam hidup dapat hilang dan luntur ditelan
takbir [Allahu Akbar], tahmid [Alhamdulillah], tasbih [Subhanallah] dan tahlil
[Lailaha illallah]. Kebesaran Allah dapat melepaskan diri dari kepiluan,
kegetiran, kesedihan untuk ikut bersama-sama merayakan Idul Fithri dengan
situasi dan kondisi apa adanya.
Bagi
orang yang mengamalkan hasil Ramadhan, tentunya jiwa sosialnya semakin tinggi
setelah ditempa selama satu bulan untuk merasakan bagaimana rasanya lapar dan
haus, bagaimana rasanya tidak makan sekian jam, apalagi mereka yang tidak
menyentuh nasi sekian hari. Sehingga layak dan pantas kalau mereka mengangkat
martabat fakir miskin, yatim piatu minimal di hari raya itu sementara takbir
berkumandang, bjukan sekedar dengan zakat fithrah 2,5 kg, merdekakan mereka
pada hari itu dari rasa sedih dan duka, karena papa dan kesengsaraan dengan
mencukupi kebutuhannya sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah
Saw.. Rasulullah pernah terlambat
menunaikan shalat Idul Fithri karena berpapasan denan seorang bocah yang
bermasalah, pakaiannya kumal, rambutnya kusut dan tidak terurus,”Kenapa kamu
menangis sementara teman-temanmu sibuk dengan permainannya, pakaiannyapun
bagus-bagus dan di tangannya da kue yang enak, dimana orangtuamu?”.
Anak itu terkejut dengan datangnya seorang lelaki di
hadapannya, dia tidak tahu kalau sedang berhadapan dengan Rasulullah,”Bagaimana
saya tidak sedih, ayah saya sudah meninggal, ia syahid dalam peperangan
mengikuti perintah jihad dari Rasulullah, sedangkan ibu saya sudah menikah
lagi, mereka tidak memperhatikan saya...”, Keluhan lirih itu disambut oleh
ajakan Rasulullah,”maukah engkau berayahkan Muhammad, beribukan Aisyah,
bersaudarakan Fatimah dan bertemankan Hasan?”.
Spontan anak itu menerima tawaran itu, Rasulullah
mengantarkan anak itu pulang untuk dimandikan, diberi makan, diberi baju baru
dan belanja layaknya seorang anak yang sedang merayakan Idul Fithri.
Diantara
gema takbir, Rasulullah telah mengangkat derajat seorang anak sebagai manusia
yang mulia dengan penghormatan yang layak tanpa melecehkan keadaannya.
Kemudian
seandainya para hartawan dan dermawan islam yang ada di dunia ini mau dan mampu
berbuat demikian, maka akan habislah kaum gelandangan, minimal mengurangi
jumlah mereka, walaupun mereka dibebaskan pada hari lebaran saja, sudah suatu
usaha yang patut dipuji, dalam surat Al Ma’un Allah berfirman,”Adakah engkau ketahui orang yang
mendustakan agama ? maka demikian itu adalah orang yang mengusir anak yatim dan
tiada menyuruh memberi makan orang miskin”.
Orang
yang mengusir anak yatim, dan tiada suka menyantuni orang miskin, dengan
memberi makanan atau keperluan mereka adalah masuk golongan orang yang
mendustakan hari pembalasan atau agama Allah; meskipun mereka mengaku, ia orang
muslim sejati, karena tiadalah faedahnya perkataan itu, jika tiada disertai
amal kebaikan.
Diantara
gema takbir, terdapat dua golongan manusia yang ikut merayakan Idul Fithri atau
Idul Adha, yaitu golongan hartawan dengan segala fasilitas kemewahan, serta
golongan miskin yang selalu dalam kekurangan. Mereka ingin diangkat martabatnya
dengan uluran tangan dan santunan dari hartawan dan dermawan, karena mereka
tahu dibalik harta si kaya ada haknya yang harus dikeluarkan untuk mereka.
Biarkan takbir berlalu dengan gema
dan kumandang yang Agung selama rintihan mereka dapat terobati, pengaduan
mereka terjawab,kemiskinan mereka walaupun sejenak terlupakan. Derajat dan
martabat merekapun terentaskan.
Keberhasilan Ramadhan tidak dapat dilihat ketika
bulan Ramadhan tapi diketahui sebelas bulan setelah Ramadhan, sebagaimana
aktivitas ummat ketika itu, Ramadhan berakhir bukan berarti selesai tugas
ibadah, tapi lebih berat lagi yaitu memelihara nilai-nilai perjuangan Ramadhan
sampai datang Ramadhan berikutnya. Bila kita tidak menjaganya berarti kita
telah menyia-nyiakan ibadah selama ini. Kita beranggapan telah beribadah dengan
pahala yang banyak akan tetapi di akherat kosong. Ibarat fatamorgana, seperti
debu yang menempel pada batu yang licin, ketika hujan datang berhamburan atau seperti
wanita yang menenun kain dimalam hari, saat pagi datang ia urai kembali
sehingga kain berantakan, Allah menegaskan,”Dan
janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benang yang sudah
dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali...”[An Nahl 16;92].
Dalam
Idul Fithri setelah puasa sebulan penuh yang beriman dituntut untuk suci
kembali dari segala kotoran, kesalahan, fikiran kotor, faham sesat dan dosa
agar kesucian yang dimaksud secara lahir batin terujud maka ada enam kesucian
yang harus dijaga sejak dari bulan Syawal sampai datangnya Ramadhan tahun
depan.
Pertama,
suci dari kekuasaan hawa nafsu; hawa nafsu manusia cendrung mengarah kepada
kesesatan dan kejahatan, dia tidak mengenal baik dan buruk, benar dan salah
serta halal dan haram tapi mengenal menang dan kalah, untung dan rugi serta
konsep tiga H yaitu Halal, Haram Hantam dalam meraih tujuan.
Dengan
puasa bahwa nafsu manusia cukup terkendali dengan baik, makanan walaupun milik
sendiri dan sah menurut hukum tidak akan dimakan kalau belum datang saatnya,
isteri walaupun sah menurut takaran syariat tidak akan dicampuri siang hari
Ramadhan karena disamping membatalkan puasa juga akan kena denda / kefarat.
Kesucian dari
kekuasaan hawa nafsu inilah yang dikehendaki oleh Idul Fithri bukan
hanya di bulan Ramadhan saja, kalau manusia dijajah oleh hawa nafsu dia berbuat
bukan lagi karena Allah tapi karena mengharapkan popularitas berupa tepukan dan
”wah”, materi sebagai pengharapan pertama.
kedua
, suci dari dosa; dosa yang dilakukan manusia sebelum dihukum di akherat
menjadi hukuman di dunia, bagai seorang penjahat yang menyelewengkan kekuasaan
karena dihantui perasaan bersalah dia serahkan dirinya untuk dihukum. Anak yang
durhaka kepada orangtua akan kembali kepada kebenaran karena dihantui oleh
kesalahan, walaupun fikirannya dapat mengatasi dan aman, tidak ada masalah,
tapi perasaan dan hati nuraninya tidak tentram.
Dosa
seseorang diampuni Allah bila menyesali perbuatannya, mengakui kesalahan dan
menebus kesalahan dengan kebaikan, dia semakin dekat dan taat kepada Allah
sehingga shalat yang dilakukan bukan sekedar sarana ibadah dan media terima
kasih kepada Allah tapi sebagai hobi yang sulit untuk ditinggalkan. Dosa yang
dilakukan masih diberi tangguh oleh Allah untuk bertaubat sebelum datang
kematian sebagaimana Kazman yang mati dalam gelimang dosa, dia tidak sempat
menghitung kesalahannya lalu tidak ada waktu untuk bertaubat.
Menurut
Rasulullah setiap orang yang berbuat dosa maka akan ada bekas hitam di hatinya
sehingga hatinya tadi diliputi oleh dosa dan menhitam sehingga sulit untuk
menerima kebenaran.
Ketiga,
kesucian dari fikiran; orang islam tidak boleh berfikiran seperti fikiran
komunis, kapitalis atau fikiran orang kafir lainnya, dia harus berfikir secara
islami sehingga timbul pada dirinya satu watak ”salamatul fikrah” yaitu fikiran
yang selamat dari kontaminasi atau racun-racun orientalis dan sekularis.
Orang
yang berfikir sesuai dengan ilmu, bacaan dan informasi yang diterimanya, bila
kita terbiasa dengan buku-buku yang berorientasi Barat dan melupakan buku-buku
lain yang ditulis oleh ulama-ulama terkenal maka kita cendrung perpanjangan
tangan dari orang-orang yang tidak islami.
Dihari
Idul Fithri segala fikiran yang kotor yang keluar dari konsep Allah harus dijauhkan karena dari
fikiran itu akan keluar ucapan dan tindakan yang kotor pula.
Keempat,
suci dari najis dan kotoran; untuk menunaikan ibadah segala anggota badan harus
bersih, baik pakaian maupun tempat, orang islam paling sedikit harus mandi
sekali dalam sehari demi menjaga kebersihan dan kesegaran badan. Pakaianpun
harus bersih dari kotoran,walaupun tidak bagus apalagi baru tapi bersih lebih
baik dan lebih enak dipandang daripada pakaian baru lagi mahal namun penuh
dengan kotoran dan berbau tidak sedap.Menjaga kebersihan rumahpun perlu apalagi
kamar mandi, itu semua menjaga kesehatan dan tidak kalah pentingnya adalah
menjaga kebersihan lingkungan, di rumah seorang muslim tidak akan ditemui
selokan yang tertimbun sampah yang dapat mendatangkan banjir.
Kelima,
suci dari niat; segala perbuatan manusia bermuara dari niat, bila niatnya baik
maka baik pulalah hasilnya demikian pula dengan ibadah, kalau dilakukan karena
Allah maka segala amalnya dihitung dan diperhitungkan Allah, ibadah karena
niatnya mencari pujian manusia maka nilainya akan diperoleh dari manusia
sendiri. Peristiwa hijrah adalah peristiwa besar demikian pula berjihad dijalan
Allah maka balasannya syurga dari Allah, tapi kalau dilakukan karena manusia
atau karena seorang kekasih maka pahalanya dari Allah tidak akan didapat.
Manusia
dalam berbuatpun kadangkala simpangsiur bahkan dalam beramal juga diliputi niat
yang baik seperti naik haji sambil membeli barang dagangan, puasa biar lansing
dan karena malas memasak, shalat tahajud diiringi dengan ronda menjaga rumah
dan bersedekah agar pengemis cepat pergi, ibadah yang demikian nilainya
dihadapan Allah tentu saja tidak sempurna, kesucian itupun setelah puasa
diharapkan terujud di hati orang yang berpuasa.
Keenam,
suci dari keharaman harta benda; tidak semua harta yang kita miliki diperoleh
dari jalan yang benar tentu saja ada yang dihasilkan dari jalan yang salah
walaupun tanpa kita sadari. Minimal harta itu kita peroleh dari jenis yang
syubhat, yaitu barang yang tidak jelas halal dan haramnya, orang yang baik kata
Rasulullah adalah orang yang meninggalkan yang syubhat itu, harta syubhat bisa
suci kembali bila kita banyak berinfaq, sedekah dan zakat, tapi harta haram tidak bisa disucikan, harta ini memang harus
disingkirkan.
Kegiatan
rutin yang dilakukan ummat islam selama bulan Ramadhan diantaranya puasa,
shalat malam [tarawih], shalat berjamaah, membaca Al Qur’an, sedekah,
pengajian-pengajian dan lain-lainnya. Kegiatan tersebut bila terbukti pula diluar bulan Ramadhan berarti
pengkaderan selama satu bulan berhasil.
Puasa
yang dilakukan selama bulan Ramadhan dapat diselesaikan dengan baik, menahan
lapar dan dahaga, serta menjauhkan segala yang membatalkan puasa, hal ini biasa
dilakukan karena bulan puasa, bila tidak nampak dilakukan diluar bulan Ramadhan
dengan puas nazar, puasa sunnat dan puasa qadhanya tidak terujud kader yang baik.
Shalat
malam yang dilakukan di bulan Ramadhan
dengan tarawih biasa dan wajar, tapi apakah terlihat pula shalat malam tersebut
dengan tahajudnya di luar bulan Ramadhan, bila puasanya baik tentu saja
kegiatan ini akan berkelanjutan bukan di bulan Ramadhan saja.
Orang
mengejar shalat berjamaah di bulan Ramadhan karena pahalanya besar bahkan
shalat sunat saja sama nilainya dengan shalat wajib di luar bulan Ramadhan.
Tapi kerap kali bila Ramadhan berlalu tidak lagi shalat berjamaah diutamakan
untuk dilakukan baik di masjid ataupun di rumah, begitu Ramadhan berlalu maka
shalatpun menjadi nomor terakhir.
Tabungan
Ramadhan akan penuh oleh infaq, sedekah
dan santunan, orang yang memberi berbuka bagai yang puasa pahalanya sama dengan
orang yang berpuasa, setelah puasa usai pula sedekah, infaq dan santunan jarang
sekali terdengar, pembangunan masjid terhenti karena dana yang dihasilkan
Ramadhan telah habis, terpaksa pembangunan dilanjutkan menanti Ramadhan
berikutnya.
Di
bulan Ramadhan syiar islam nampak memancar dengan kegiatan tilawatil qur’an
yang digemakan di masjid-masjid melalui qori dan qariah, baik selesai tarawih
ataupun menjelang subuh, dimana-mana diadakan pengajian dan pengkajian islam
dan Al Qur’an, setelah berlalu satu bulan mulia ini Al Qur’an disimpan di
lemari yang paling tinggi, sekali-kali berkumandang ayat-ayat ini melalui
kaset, tidak terdengar lagi suara merdu anak-anak mengaji dan mengeja Al Qur’an.
Pengajian-pengajian
semarak, dari kuliah subuh, kuliah taraweh sampai pengajian menjelang berbuka,
begitu pula radio selalu mengudarakan ceramah-ceramah islam, tapi sayang hanya
satu bulan, begitu Syawal menjelang Ramadhanpun tenggelam diiringi tenggelamnya
segala aktivitas ummat.
Orangtuapun
sibuk membawa anak-anaknya untuk shalat di masjid, menyediakan makan sahur dan
berbuka keluarga karena dihiasi oleh Ramadhan, perhatian orangtua ekstra ketat
dibulan ini, terpanggil ayat Allah dalam surat At Tahrim 66;6 yang artinya,”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargam dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu”.
Sehubungan dengan ayat diatas Umar bin
Khattab bertanya kepada Rasulullah,”Ya Rasulullah kami telah dapat memelihara
diri kami, tetapi bagaimana caranya memelihara keluarga kami?” Jawab
Rasul,”Kamu laranglah mereka dari segala
perbuatan yang dilarang Allah, dan perintahkan mereka mengerjakan pekerjaan
yang diperintahkan Allah” [HR> Al Quraisyi].
Sangat
rugi orang yang tidak menjaga dirinya dari neraka, tidak terpuji orang yang
hanya menjaga dirinya sementara keluarganya diabaikan, sangat bodoh orang yang
menyelamatkan keluarganya sementara dirinya tenggelam dalam neraka.
Bila
segala kegiatan yang berlansung di bulan Ramadhan tidak dilanjutkan di luar
bulan Ramadhan berarti tempaan, pengkaderan dan latihan di bulan ini sedikit
hasilnya dan manfaatnya atau tidak berhasil dan tidak bermanfaat sama sekali.
Seandainya dapat pula terlaksana dengan baik di bulan lain berarti tercapailah
tujuan dari puasa yaitu meraih derajat taqwa. Taqwa adalah tingkatan tertinggi
dalam ajaran islam setelah seseorang disebut dengan muslim, mukmin, muhsin dan
mukhlis.
Sifat yang harus tertanam
setelah Ramadhan yaitu sabar, disiplin, kasih sayang,semakin dekat kepada Allah
dan punya masa depan sebagai neraca pribadi, keluarga dan masyarakat,”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan hari esok” [59;18]
Dihari Idul Fithri bukan pakaian saja yang
baru dan baik tapi segala perlengkapan kehidupanpun harus baru lagi suci
sebagaimana kata seorang sufi,”Yang
dikatakan orang yang merayakan Idul Fithri itu bukanlah mereka yang mampu
menyediakan serba baru, tapi bagi mereka yang mampu memperbaharui imannya”.
Wallahu a'lam [Cubadak
Solok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29 Agustus 2010]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar