Keberhasilan suatu kepemimpinan cendrung diukur
dari pembangunan fisik, sudah berapa buah gedung bertingkat dibangun, jembatan
yang direhab, jalan yang dirintis. Masjid yang diperindah serta sekian laporan
pembangunan yang selesai diresmikan. Dan itu benar,disamping dibutuhkan biaya
yang tidak sedikit waktu yang relatif singkat, hal itu mudah dilakukan oleh
siapa saja tapi baru satu asfek yang nampak padahal ruang lingkup pembangunan
itu mencakup fisik, mental dan asfek lainnya.
Seorang
Soekarno selain deklarator bangsa ini juga dikenang dengan usahanya membangun
monumental yang kita kenal dengan Monas meskipun ketika itu kehidupan
masyarakat menjerit dalam kemiskinan. Demikian pula keberhasilan Soeharto
karena dia mampu menciptakan berbagai bangunan pencakar langit sehingga
dijuluki ”Bapak Pembangunan” meskipun banyak tanah rakyat yang digusur tanpa
penyelesaian yang jelas.
Kita
memang membutuhkan sarana dan prasarana yang bisa ditunjang dengan pembangunan
fisik yang berkesinambungan apalagi kemakmuran rakyat biasanya diukur dari
tempat tinggal seseorang, di kompleks mana, gang apa dan kendaraan jenis apa
yang dimilikinya. Semua itu tidak kita pungkiri, bahkan Iskandar Zulkarnain
seorang raja yang beriman kepada Allah mempunyai benteng yang kokoh untuk
mempertahankan rakyatnya dari serangan negara bar-bar lain. Sulaimanpun punya
kerajaan yang bagus dilengkapi dengan gedung perkotaan gaya metropolitan. Tapi
mereka tidak meluakan untuk membangun mental dan spiritual rakyatnya agar hidup
qana’ah tawaddhu dan tidak mempertuhankan selain Allah.
Menurut
konsep da’wah, dalam rangka membangun mental manusia ada iga unsur pembangunan
yang perlu dilakukan yaitu fisik, aqal dan ruhi yang kesemuanya harus
diperhatikan, bila tidak akan terjadi kepincangan padahal kita harus hidup
tawazun yaitu seimbang dalam membangunnya, yang selama ini kita hanya
memprioritaskan pembangunan fisik dan aqal saja dengan mengabaikan ruhani
sehingga terbentuk manusia gagah dan cerdas tapi tidak baik dan jauh dari
aturan agama. Ruhani atau mental manusia perlu dibangun dengan nilai-nilai
agama sehingga kepentingan dunia akherat diletakkan secara adil.
Kehadiran Nabi Muhammad Saw, sebagai rahmat lil alamin [menyebarkan kasih
sayang bagi seluruh alam] memberikan contoh teladan tentang pembinaan ummat,
hanya tigabelas tahun beliau mampu mencetak kader dari berbagai golongan hingga
berdirinya sebuah negara baru di Madinah, beliau berhasil membentuk karakter
dan jati diri ummat ini melalui perjuangan da'wahnya. Jati diri Nabi Saw, dan
ummat pendukungnya dapat dibaca dalam surat Al Fath, surat ke 48 ayat 29, ”Muhammad
itu adalah utusan Allah,dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras
[tegas] terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka
[sesama muslim], kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan
keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”.
Dari ayat diatas dapat dilihat
adanya lima tanda bagi seorang Muslim yang mengaku sebagai ummat Islam dengan
mengikuti Nabi Muhammad Saw, yaitu;
- Tegas kepada orang kafir
Pengertian tegas [keras] bukan
berarti suka berkelahi dan saling tantang menantang dengan adu kekuatan, hal
itu bisa terjadi di medan pertempuran, akan tetapi yang dimaksud adalah punya
garis agama yang nyata, tidak mencampuradukkan aqidah [ajaran agama dan
pelaksanaan ibadah] dan tidak menyalah artikan pengertian toleransi. Toleransi
artinya membiarkan orang berbuat menurut keyakinannya dan jangan diganggu,
kitapun bebas berbuat menurut keyakinan kita tanpa diganggu. Garis agama yang
diajarkan Islam dalam surat Al Kafirun pada surat ke 109, ayat 1-6 yaitu, ”Katakanlah
hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah Tuhan
yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah, untukmulah
agamamu dan untukkulah agamaku”.
Ummat Islam tidak akan
memaksakan keyakinannya kepada orang lain yang sudah beragama, baik dengan
bujuk rayu atau dengan bantuan, beasiswa, pelayanan kesehatan dan pendidikan di
sekolah ataupun ancaman, karena dalam Islam tidak ada paksaan untuk masuk ke
dalam agama Islam, jika beriman seluruh manusia di bumi ini tidak akan
meninggikan tahta Allah atau akan kafir seluruh manusia di bumi ini juga tidak
akan menjatuhkan jabatan Allah sebagai Tuhan. Agama Islam menolak segala bentuk
pencampuran aqidah, baik dengan dalih toleransi, teposaliro atau kerukunan
antar ummat beragama.
- Kasih sayang sesama mereka
Ciri kedua ummat Islam, yaitu
kasih sayang kepada sesamanya, yang tua menyayangi yang muda, yang muda hormat
kepada yang tua, sikaya membantu simiskin, sementara simiskin mendoakan yang
kaya. Bukannya ummat Islam yang saling
tekan dan tindas, yang pintar menjual yang bodoh, sikuat menekan yang lemah.
Ummat Islam harus saling asah, asih, asuh, bukan saling gasak, gesek dan gosok.
Menurut Imam Al Ghazali, ummat
Islam itu ibarat dua tangan yang kompak, ketika tangan kanan berayun ke depan
maka yang kiri mengalah ke belakang dan sebaliknya sehingga enak dipandang.
Sungguh tidak serasi dipandang bila tangan kanan dan kiri tidak saling
pengertian, ketika berjalan keduanya ingin kedepan atau keduanya ingin ke
belakang, lebih luas ummat Islam diibaratkan pula seperti lima jari pada satu
tangan yang bersatu, bila lima jari bersatu dapat berbuat sesuatu, tapi kalau
bercerai tidak satupun beban yang dapat diangkat.
Ibu
jari adalah simbul penguasa atau umara/ pemerintah yang punya tugas mengayomi,
membina, membimbing dan mensejahterakan rakyatnya. Tidak ubahnya sebagai
seorang itu, keadilan akan ditegakkan walaupn yang melakukan orang terpandang,
kebenaran akan dibela meskipun penguasa atau pemerintah.
Jari
telunjuk adalah para hartawan yang dermawan, dengan hartanya dia mampu menunjuk
bangunan yang terbengkalai, fakir miskin dan anak yatim dapat dia bantu.
Hartawan yang dermawanlah yang dapat berperan sebagai jari telunjuk untuk
menjalin kasih sesama ummat bukan hartawan yang kikir lagi bakhil.
Orang yang dilambangkan dengan
jari tengah adalah para ulama yang berperan sebagai penyampai denyut nadi ummat
melalui fatwanya yang berdasarkan Al ur’an dan Hadits. Letaknya di tengah mempunyai makna yang dalam
artinya. Dia tidak boleh terlalu rapat dengan penguasa dan terlalu kental
dengan orang kaya. Karena kehadirannya membela kepentingan rakyat dan ummat
serta menegakkan kebenaran dengan ajaran Allah. Kalau dia terlalu dekat dengan
penguasa dan orang kaya dapat mengaburkan misi yang diembannya, apalagi dia
rela diperalat sehingga fatwa yang disampaikannya sesuai dengan pesan sponsor
dari penguasa dan konglomerat.
Ulama yang diharapkan adalah
ulama yang dapat menjalin persahabatan dengan lapisan masyarakat manapun tapi
tetap tegar dan tegas dengan prinsip da’wah yaitu menyampaikan kebenaran
walaupun pahit dirasakannya. Dia mampu untuk mengatakan hitam walaupun dipaksa
untuk mengatakan putih. Dia
tidak bisa berkata haram kalau hal tersebut halal dan sebaliknya.
Jari manis adalah keindahan.
Letak cincin berlian disini. Dia ibarat pemuda yang dihiasi dengan berbagai
keindahan cita-cita dan harapan, baik orang tua, agama maupun bangsa.
Kehadirannya di tengah masyarakat harus bermanfaat bagi kelansungan hidup suatu
bangsa melalui bidang pendidikan atau keterampilan yang dimiliki.
Jari yang terakhir adalah
kelingking. Kedudukannya pada urutan terakhir dan bentuknyapun paling kecil di
bandingkan dengan jari lain. Tapi perannya tidak dapat diabaikan begitu saja.
Dia adalah kaum ibu dan wanita. Posisinya bukan hanya segi tiga; dapur, kasur
dan sumur saja, tapi pada zaman sekarang telah merambah ke dunia yang pada
umumnya dilakukan oleh lelaki. Satu sisi dia disebut dengan wanita yang
berperan ganda.
Sebagai
pendamping suami, peran ganda wanita mengamankan kedudukan suami dari segala
macam rongrongan yang dapat melemahkan keteguhan pendirian dan pengabdiannya.
Sebagai ibu, peran ganda wanita dapat menyumbangkan pada negara putra-putri
yang berguna dan berbudi luhur. Dan terakhir sebagai ibu rumah tangga yang
harmonis, sakinah dan mawaddah yaitu rumah tangga yang tenang dan tentram.
- Mereka rukuk dan sujud
Islam identik dengan shalat,
bila tidak shalat tidak layak dikatakan sebagai muslim, demikian salah satu
ucapan Rasulullah. Shalat merupakan tiang agama, tanpa shalat maka runtuhlah
agama seseorang. Salah satu identitas ummat Rasulullah Saw, ialah shalat wajib
sehari semalam lima waktu yang telah ditentukan. Dapat dikatakan hubungan
telefon manusia kepada Allah dengan nomor 24434, maksudnya, subuh dua rakaat,
zuhur dan ashar empat-empat rakaat, maghrib tiga rakaat dan isya empat rakaat
yang dilakukan pada jam-jam resmi, selain itu ada jam-jam lain yang tidak ada
gangguan sehingga berdialog leluasa dengan Allah, sementara orang lain sedang
tidur, itulah shalat tahajud [diwaktu
setelah dua pertiga malam].
Ada sepuluh keuntungan dalam
shalat yang dilakukan oleh seorang muslim yaitu;
a.
Membentuk
wajah yang cerah
b.
Hati
yang tenang
c.
Jasmani
yang segar
d.
Alat
pengaman dalam kubur
e.
Tempat
turun rahmat
f.
Anak
kunci rezeki
g.
Memberarkan
timbangan amal
h.
Mendapat
ridha Ilahi
i.
Menikmati
kehidupan syurga
j.
Menjadi
perisai api neraka
- Mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya
Kehadiran manusia di dunia ini
bukan kehendak dan permintaan masing-masing tapi kehendak Allah dengan tujuan
supaya menjadi hamba Allah dengan melakukan pengabdian kepada-Nya dalam segala
sepak terjang kehidupan. Untuk itu apapun yang dilakukannya selalu sesuai
dengan kehendak Allah; apakah sebagai petani, dia tidak akan kufur nikmat,
apakah pedagang tidak akan menipu timbangan dan sukatan, apakah pegawai tidak
akan korupsi, manipulasi dan cendrunag memenuhi kebutuhan pribadi. Dia dapat
disebut sebagai ummat selektif, pakaian, makanan dan minuman diusahakan dari
upaya yang baik walaupun sedikit tapi halal.
Sebagai muslim sebelum berbuat
dan bertindak terlebih dahulu dihitung apakah Allah ridha dengan perbuatan
tersebut ataukah Allah akan murka, apakah Allah akan senang dengan rezeki yang
saya peroleh ini atau murka sebagaimana yang dikatakan Umar bin Khattab,
”Hitung-hitunglah dirimu sebelum dihitung Allah”.
- Tanda mereka nampak dari bekas sujud
Orang yang biasa sujud dengan
meletakkan dahinya di lantai, dalam waktu yang cukup lama maka dahi tersebut
akan membekas keras dan hitam karena sujud yang dilakukan terus menerus, tanda
ini sebenarnya tidak penting walaupun nampak, namun yang lebih penting ialah
dalam perbuatan sehari-hari yang menunjukkan, orang yang suka shalat berbeda
dengan mereka yang tidak shalat, baik dalam tingkahlaku di tengah masyarakat
melalui tutur kata, pergaulannya sampai kepada makanan dan minumannya.
Orang yang suka rukuk dan sujud
bila menerima ujian hidup dari Allah dia akan tabah dan sabar menghadapi uji
coba tersebut, dan bila mendapat nikmat Allah dia akan bersyukur dengan
membelanjakan [menggunakan] nikmat itu ke jalan Allah [fi sabilillah]. Bahkan
nanti di akherat bagi orang yang rukuk dan sujud akan membekas dengan cahaya
yang indah dan dapat dibedakan dengan orang yang tidak shalat, sehingga di
tengah Padang Mashar Rasululah dapat melihat mana ummatnya yang taat dan mana
yang bukan termasuk ummat beliau.
Dari lima identitas ummat Muhammad
Saw, tersebut menunjukkan suatu jati diri rombongan yang akan ikut bersama
Rasul. Nanti di akherat, malaikat pemeriksa tidak sulit-sulit lagi dalam
pemeriksaan, karena orang yang mengaku ummat Muhammad Saw, sudah memiliki
atribut atau tanda yang dapat menjamin keselamatannya dalam perjalanan menuju
jannah bersama dengan rombongan lain yang dipimpin Rasul.
Pembentukan umat atau takwinul ummah
artinya membentuk pribadi yang betul-betul berkualitas secara muslim yang
kaffah [integral], semua itu dapat dilakukan dengan mempergencar da’wah yang
tersistim bukan da’wah asal jadi sebagaimana yang diajarkan Rasulullah. Untuk
membentuk mental manusia yang kita harapkan dengan enam cara yaitu;
Pertama, menanamkan Al
Wa’yu artinya kesadaran diri untuk hidup bersama islam dengan segala
suka dan dukanya melalui pengkajian islam yang intensif, sebenarnya kenapa
ummat islam berbuat diluar ketentuan ajaran agamanya karena sebagian dari
mereka tidak sadar tentang perannya dalam hidup ini, kewajiban dan haknya
sebagai muslim masih belum mereka ketahui. Kesadaran ini perlu kita tumbuhkan
karena memang banyak muslim yang tidak sadar tentang kemuslimannya.
Kedua, kita dalam membina umat ini
perlu adanya Islahul Mustamirah yaitu melakukan perbaikan diri secara
berkesinambungan bukan insidentil sebab musuh islam itu setiap waktu mengincar
ummat ini untuk disesatkan disamping itu setiap muslim dimusuhi oleh idiologi
apapun tanpa mengenal batas waktu.
Ketiga, dalam membina ummat ini kita
perlu memupuk Ukhuwah Islamiyyah yaitu persaudaraan muslim yang diikat oleh
aqidah, ibadah dan da’wah yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat, dengan membentuk mental
manusia agar terujud keimanan yang dalam [imanul amiq] sehingga iman yang
dimiliki bukan sebatas kultur tapi iman yang mendiologi.
Kelima, akan terujud pembangunan mental
yang kita harapkan bila kita berupaya menanamkan Taqwa Haqqa Tuqatihi yaitu
ketaqwaan yang sebenar-benarnya taqwa bukan sebatas hiasan bibir saja.
Keenam, pembangunan mental manusia
dapat diujudkan dengan Islamiyyatul Hayah yaitu islamisasi
dalam seluruh asfekkehidupan.
Untuk
melakukan semua itu memang bukan tugas ulama saja tapi tugas semua muslim
melalui da’wah yang intensif dikerjakan dengan rapi dan terprogram yang hanya
bisa dilakukan dengan da’wah fardiyah
[rekrutmen] bukan da’wah yang cendrung seremonial dan formal.
Rasul
saja dalam sejarahnya mengajak ummat ini agar menggencarkan da’wah secara
pribadi tapi dalam bingkai jama’i [organisasi]. Allah menyiratkan dalam
firman-Nya surat Ali Imran 3;104 , ”Dan
hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar, merekalah
orang-orang yang beruntung” .
Wadah
pembentukan ummat itu sejak zaman dahulu ialah masjid, tempat yang penting
sekali bagi ummat islam dalam mencetak kader-kader berkualitas;
Dalam sebuah surat Al Taubah ayat 109 Allah swt
berfirman, ”Sesungguhnya masjid itu
dibangun berdasarkan atas ketaqwaan kepada Allah semenjak hari pertama” .
berdirinya sebuah masjid dilandasi atas ketaqwaan kepada Allah bukan karena
pertentangan kelas sosial dan pertikaian pendapat di tengah ummat, begitu
berbeda pendapat dalam urusan kecil berdirilah masjid baru karena dianggap
masjid yang lama tidak sesuai dengan fahamnya.
Masjid
didirikan bukan pula untuk menyusun suatu rencana menghancurkan islam dari
dalam sebagaimana masjid yang didirikan orang munafiq dimasa Rasul. Bukan pula
masjid yang didirikan untuk membuat alisan sesat dalam islam yang akibatnya
menyesatkan ummat, bukan pula untuk menghidup suburkan bid’ah, kurafat dan
tahayul, dia harus bersih dari segala motivasi, harus berdasarkan taqwa kepada
Allah. Dalam kita lihat bagaimana Nabi memfungsikan masjid pada masa itu:
1.Tempat Ibadah
Masjid
didirikan pokok utamanya adalah untuk tempat beribadah seperti shalat, membaca
Al Qur’an, berzikir dan i’tikaf, hanya semata-mata memakmurkan masjid Allah
melalui pengabdian, sebagaimana firman Allah dalam surat At Taubah ayat 18,
”Sesungguhnya
orang yang memakmurkan masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan
hari akhir, mendirikan shalat, membayarkan zakat, dan tiada yang ditakuti
kecuali Allah”.
2.Tempat Bersidang Dan Musyawarah
Segala
persoalan ummat bisa dibicarakan di masjid sejak dari perjanjian, perdamaian
dan peperangan, menyusun suatu program kerja yang harus digarap maka masjidlah
tempatnya, kurang tepat bila persoalan ummat dibicarakan di hotel berbintang
yang menghabiskan biaya atau di tempat hiburan yang menjurus kepada maksiat
sementara tempat suci yaitu masjid dibiarkan kosong tidak dimanfaatkan.
3.Tempat Menuntut Ilmu
Nabi
Muhammad Saw membentuk kader seperti Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali di dalam
masjid, disini diajarkan berbagai ilmu agama sebagai bekal kehidupan di dunia
menuju akherat. Di Minangkabau pemberian ilmu kepada murid pada hakekatnya juga
di masjid yaitu surau yang berada di sebelah masjid. Banyak tokoh-tokoh bangsa
yang dicetak di masjid seperti Buya
Hamka, Agus Salim, M. Natsir dan lain-lainnya. Masjid memang mempunyai
peranan penting dalam memberikan ilmu kepada ummat.
4.Pengaturan Zakat, Sedekah dan Amal
Shaleh
Sejak
dari penampungan zakat, sedekah dan amal sosial lainnya sampai kepada pendataan orang yang berhak menerimanya yang
dilanjutkan dengan penyebarannya, semua dilakukan di masjid, sehingga masjid
nampak betul-betul berfungsi untuk kemasyarakatan.
5.Tempat Latihan Ilmu Perang
Para
prajurit menggunakan masjid sebagai tempat menyusun dan membicarakan taktik dan
strategi perjuangan, sebagai tempat latihan bahkan gudang tempat menyimpan
alat-alat persenjataan agar mudah diambil ketika diperlukan.
Di
samping itu dimasa Rasulullah Saw masjid betul-betul tempat berbagai kegiatan
ummat seperti sebagai rumah sakit tentara, musuh yang tertawan diletakkan tidak
jauh dari masjid agar mereka melihat segala gerak ummat islam dalam beribadah
kepada Allah, masjidpun tempat propaganda atau da’wah islam melalui pengajian,
ceramah, khutbah bahkan pembacaan syair yang bernafaskan islam dan perjuangan.
Salah
seorang sahabat Nabi bernama Hasan bin
Tsabit sering membaca syair-syair yang membangkitkan semangat ummat islam,
kemudian pada masa khalifah Umar bin
Khattab diapun membacanya tapi dihalangi oleh Umar maka dia protes dengan
ucapan, ”Saya sudah membaca syair di
dalam masjid Nabi Saw, di hadapan orang yang lebih mulia dari tuan”.
Kenyataan
yang nampak sekarang adalah masjid nampak megah tetapi tidak difungsikan
sebagaimana mestinya, kita takut dengan ramalan Rasulullah Saw yang disabdakan,
”Hampir akan tiba masanya kepada manusia;
islam hanya tinggal namanya, Al Qur’an hanya tinggal tulisannya saja, masjid
dibangun megah dan ramai, tetapi sepi dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya,
ulama-ulama mereka bertingkahlaku jahat dibawah kolong langit ini, dari mulut
mereka meluncur fitnah-fitnah, dan fitnah itu kembali menerkam mereka [ulama
dan ummat]” [HR. Baihaqi]
Kita
memang mengharapkan masjid yang indah, megah lagi mewah, bahkan rumah Allah
tersebut harus lebih indah, megah dan mewah dari rumah-rumah masyarakat, tapi
harus disertai dengan berbagai aktivitas, tepatnya masjid tersebut dimakmurkan oleh jamaahnya, bila
tidak terujud masih lebih baik langgar/ mushalla/ surau buruk di ujung desa
yang digunakan untuk berbagai aktivitas terutama membentuk kader-kader bangsa
yang bertaqwa kepada Allah Swt, wallahu
a'lam.[Cubadak Solok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29Agustus 2010.M]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar