Kamis, 10 Desember 2015

43. Pembinaan Ummat



Keberhasilan suatu kepemimpinan cendrung diukur dari pembangunan fisik, sudah berapa buah gedung bertingkat dibangun, jembatan yang direhab, jalan yang dirintis. Masjid yang diperindah serta sekian laporan pembangunan yang selesai diresmikan. Dan itu benar,disamping dibutuhkan biaya yang tidak sedikit waktu yang relatif singkat, hal itu mudah dilakukan oleh siapa saja tapi baru satu asfek yang nampak padahal ruang lingkup pembangunan itu mencakup fisik, mental dan asfek lainnya.

            Seorang Soekarno selain deklarator bangsa ini juga dikenang dengan usahanya membangun monumental yang kita kenal dengan Monas meskipun ketika itu kehidupan masyarakat menjerit dalam kemiskinan. Demikian pula keberhasilan Soeharto karena dia mampu menciptakan berbagai bangunan pencakar langit sehingga dijuluki ”Bapak Pembangunan” meskipun banyak tanah rakyat yang digusur tanpa penyelesaian yang jelas.

            Kita memang membutuhkan sarana dan prasarana yang bisa ditunjang dengan pembangunan fisik yang berkesinambungan apalagi kemakmuran rakyat biasanya diukur dari tempat tinggal seseorang, di kompleks mana, gang apa dan kendaraan jenis apa yang dimilikinya. Semua itu tidak kita pungkiri, bahkan Iskandar Zulkarnain seorang raja yang beriman kepada Allah mempunyai benteng yang kokoh untuk mempertahankan rakyatnya dari serangan negara bar-bar lain. Sulaimanpun punya kerajaan yang bagus dilengkapi dengan gedung perkotaan gaya metropolitan. Tapi mereka tidak meluakan untuk membangun mental dan spiritual rakyatnya agar hidup qana’ah tawaddhu dan tidak mempertuhankan selain Allah.

            Menurut konsep da’wah, dalam rangka membangun mental manusia ada iga unsur pembangunan yang perlu dilakukan yaitu fisik, aqal dan ruhi yang kesemuanya harus diperhatikan, bila tidak akan terjadi kepincangan padahal kita harus hidup tawazun yaitu seimbang dalam membangunnya, yang selama ini kita hanya memprioritaskan pembangunan fisik dan aqal saja dengan mengabaikan ruhani sehingga terbentuk manusia gagah dan cerdas tapi tidak baik dan jauh dari aturan agama. Ruhani atau mental manusia perlu dibangun dengan nilai-nilai agama sehingga kepentingan dunia akherat diletakkan secara adil.

Kehadiran Nabi Muhammad Saw, sebagai rahmat lil alamin [menyebarkan kasih sayang bagi seluruh alam] memberikan contoh teladan tentang pembinaan ummat, hanya tigabelas tahun beliau mampu mencetak kader dari berbagai golongan hingga berdirinya sebuah negara baru di Madinah, beliau berhasil membentuk karakter dan jati diri ummat ini melalui perjuangan da'wahnya. Jati diri Nabi Saw, dan ummat pendukungnya dapat dibaca dalam surat Al Fath, surat ke 48 ayat 29, ”Muhammad itu adalah utusan Allah,dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras [tegas] terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka [sesama muslim], kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”.

            Dari ayat diatas dapat dilihat adanya lima tanda bagi seorang Muslim yang mengaku sebagai ummat Islam dengan mengikuti Nabi Muhammad Saw, yaitu;

  1. Tegas kepada orang kafir
      Pengertian tegas [keras] bukan berarti suka berkelahi dan saling tantang menantang dengan adu kekuatan, hal itu bisa terjadi di medan pertempuran, akan tetapi yang dimaksud adalah punya garis agama yang nyata, tidak mencampuradukkan aqidah [ajaran agama dan pelaksanaan ibadah] dan tidak menyalah artikan pengertian toleransi. Toleransi artinya membiarkan orang berbuat menurut keyakinannya dan jangan diganggu, kitapun bebas berbuat menurut keyakinan kita tanpa diganggu. Garis agama yang diajarkan Islam dalam surat Al Kafirun pada surat ke 109, ayat 1-6 yaitu, ”Katakanlah hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang  kamu sembah, dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah, untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.

      Ummat Islam tidak akan memaksakan keyakinannya kepada orang lain yang sudah beragama, baik dengan bujuk rayu atau dengan bantuan, beasiswa, pelayanan kesehatan dan pendidikan di sekolah ataupun ancaman, karena dalam Islam tidak ada paksaan untuk masuk ke dalam agama Islam, jika beriman seluruh manusia di bumi ini tidak akan meninggikan tahta Allah atau akan kafir seluruh manusia di bumi ini juga tidak akan menjatuhkan jabatan Allah sebagai Tuhan. Agama Islam menolak segala bentuk pencampuran aqidah, baik dengan dalih toleransi, teposaliro atau kerukunan antar ummat beragama.

  1. Kasih sayang sesama mereka
      Ciri kedua ummat Islam, yaitu kasih sayang kepada sesamanya, yang tua menyayangi yang muda, yang muda hormat kepada yang tua, sikaya membantu simiskin, sementara simiskin mendoakan yang kaya. Bukannya ummat Islam yang  saling tekan dan tindas, yang pintar menjual yang bodoh, sikuat menekan yang lemah. Ummat Islam harus saling asah, asih, asuh, bukan saling gasak, gesek dan gosok.

      Menurut Imam Al Ghazali, ummat Islam itu ibarat dua tangan yang kompak, ketika tangan kanan berayun ke depan maka yang kiri mengalah ke belakang dan sebaliknya sehingga enak dipandang. Sungguh tidak serasi dipandang bila tangan kanan dan kiri tidak saling pengertian, ketika berjalan keduanya ingin kedepan atau keduanya ingin ke belakang, lebih luas ummat Islam diibaratkan pula seperti lima jari pada satu tangan yang bersatu, bila lima jari bersatu dapat berbuat sesuatu, tapi kalau bercerai tidak satupun beban yang dapat diangkat.

            Ibu jari adalah simbul penguasa atau umara/ pemerintah yang punya tugas mengayomi, membina, membimbing dan mensejahterakan rakyatnya. Tidak ubahnya sebagai seorang itu, keadilan akan ditegakkan walaupn yang melakukan orang terpandang, kebenaran akan dibela meskipun penguasa atau pemerintah.

            Jari telunjuk adalah para hartawan yang dermawan, dengan hartanya dia mampu menunjuk bangunan yang terbengkalai, fakir miskin dan anak yatim dapat dia bantu. Hartawan yang dermawanlah yang dapat berperan sebagai jari telunjuk untuk menjalin kasih sesama ummat bukan hartawan yang kikir lagi bakhil.

      Orang yang dilambangkan dengan jari tengah adalah para ulama yang berperan sebagai penyampai denyut nadi ummat melalui fatwanya yang berdasarkan Al ur’an dan Hadits.  Letaknya di tengah mempunyai makna yang dalam artinya. Dia tidak boleh terlalu rapat dengan penguasa dan terlalu kental dengan orang kaya. Karena kehadirannya membela kepentingan rakyat dan ummat serta menegakkan kebenaran dengan ajaran Allah. Kalau dia terlalu dekat dengan penguasa dan orang kaya dapat mengaburkan misi yang diembannya, apalagi dia rela diperalat sehingga fatwa yang disampaikannya sesuai dengan pesan sponsor dari penguasa dan konglomerat.

      Ulama yang diharapkan adalah ulama yang dapat menjalin persahabatan dengan lapisan masyarakat manapun tapi tetap tegar dan tegas dengan prinsip da’wah yaitu menyampaikan kebenaran walaupun pahit dirasakannya. Dia mampu untuk mengatakan hitam walaupun dipaksa untuk mengatakan putih. Dia tidak bisa berkata haram kalau hal tersebut halal dan sebaliknya.

      Jari manis adalah keindahan. Letak cincin berlian disini. Dia ibarat pemuda yang dihiasi dengan berbagai keindahan cita-cita dan harapan, baik orang tua, agama maupun bangsa. Kehadirannya di tengah masyarakat harus bermanfaat bagi kelansungan hidup suatu bangsa melalui bidang pendidikan atau keterampilan yang dimiliki.

      Jari yang terakhir adalah kelingking. Kedudukannya pada urutan terakhir dan bentuknyapun paling kecil di bandingkan dengan jari lain. Tapi perannya tidak dapat diabaikan begitu saja. Dia adalah kaum ibu dan wanita. Posisinya bukan hanya segi tiga; dapur, kasur dan sumur saja, tapi pada zaman sekarang telah merambah ke dunia yang pada umumnya dilakukan oleh lelaki. Satu sisi dia disebut dengan wanita yang berperan ganda.

            Sebagai pendamping suami, peran ganda wanita mengamankan kedudukan suami dari segala macam rongrongan yang dapat melemahkan keteguhan pendirian dan pengabdiannya. Sebagai ibu, peran ganda wanita dapat menyumbangkan pada negara putra-putri yang berguna dan berbudi luhur. Dan terakhir sebagai ibu rumah tangga yang harmonis, sakinah dan mawaddah yaitu rumah tangga yang tenang dan tentram.

  1. Mereka rukuk dan sujud
      Islam identik dengan shalat, bila tidak shalat tidak layak dikatakan sebagai muslim, demikian salah satu ucapan Rasulullah. Shalat merupakan tiang agama, tanpa shalat maka runtuhlah agama seseorang. Salah satu identitas ummat Rasulullah Saw, ialah shalat wajib sehari semalam lima waktu yang telah ditentukan. Dapat dikatakan hubungan telefon manusia kepada Allah dengan nomor 24434, maksudnya, subuh dua rakaat, zuhur dan ashar empat-empat rakaat, maghrib tiga rakaat dan isya empat rakaat yang dilakukan pada jam-jam resmi, selain itu ada jam-jam lain yang tidak ada gangguan sehingga berdialog leluasa dengan Allah, sementara orang lain sedang tidur, itulah shalat  tahajud [diwaktu setelah dua pertiga malam].
      Ada sepuluh keuntungan dalam shalat yang dilakukan oleh seorang muslim yaitu;
a.       Membentuk wajah yang cerah
b.      Hati yang tenang
c.       Jasmani yang segar
d.      Alat pengaman dalam kubur
e.       Tempat turun rahmat
f.       Anak kunci rezeki
g.      Memberarkan timbangan amal
h.      Mendapat ridha Ilahi
i.        Menikmati kehidupan syurga
j.        Menjadi perisai api neraka

  1. Mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya
      Kehadiran manusia di dunia ini bukan kehendak dan permintaan masing-masing tapi kehendak Allah dengan tujuan supaya menjadi hamba Allah dengan melakukan pengabdian kepada-Nya dalam segala sepak terjang kehidupan. Untuk itu apapun yang dilakukannya selalu sesuai dengan kehendak Allah; apakah sebagai petani, dia tidak akan kufur nikmat, apakah pedagang tidak akan menipu timbangan dan sukatan, apakah pegawai tidak akan korupsi, manipulasi dan cendrunag memenuhi kebutuhan pribadi. Dia dapat disebut sebagai ummat selektif, pakaian, makanan dan minuman diusahakan dari upaya yang baik walaupun sedikit tapi halal.

      Sebagai muslim sebelum berbuat dan bertindak terlebih dahulu dihitung apakah Allah ridha dengan perbuatan tersebut ataukah Allah akan murka, apakah Allah akan senang dengan rezeki yang saya peroleh ini atau murka sebagaimana yang dikatakan Umar bin Khattab, ”Hitung-hitunglah dirimu sebelum dihitung Allah”.
  
  1. Tanda mereka nampak dari bekas sujud 
      Orang yang biasa sujud dengan meletakkan dahinya di lantai, dalam waktu yang cukup lama maka dahi tersebut akan membekas keras dan hitam karena sujud yang dilakukan terus menerus, tanda ini sebenarnya tidak penting walaupun nampak, namun yang lebih penting ialah dalam perbuatan sehari-hari yang menunjukkan, orang yang suka shalat berbeda dengan mereka yang tidak shalat, baik dalam tingkahlaku di tengah masyarakat melalui tutur kata, pergaulannya sampai kepada makanan dan minumannya.

      Orang yang suka rukuk dan sujud bila menerima ujian hidup dari Allah dia akan tabah dan sabar menghadapi uji coba tersebut, dan bila mendapat nikmat Allah dia akan bersyukur dengan membelanjakan [menggunakan] nikmat itu ke jalan Allah [fi sabilillah]. Bahkan nanti di akherat bagi orang yang rukuk dan sujud akan membekas dengan cahaya yang indah dan dapat dibedakan dengan orang yang tidak shalat, sehingga di tengah Padang Mashar Rasululah dapat melihat mana ummatnya yang taat dan mana yang bukan termasuk ummat beliau.

            Dari lima identitas ummat Muhammad Saw, tersebut menunjukkan suatu jati diri rombongan yang akan ikut bersama Rasul. Nanti di akherat, malaikat pemeriksa tidak sulit-sulit lagi dalam pemeriksaan, karena orang yang mengaku ummat Muhammad Saw, sudah memiliki atribut atau tanda yang dapat menjamin keselamatannya dalam perjalanan menuju jannah bersama dengan rombongan lain yang dipimpin Rasul.

Pembentukan umat atau takwinul ummah artinya membentuk pribadi yang betul-betul berkualitas secara muslim yang kaffah [integral], semua itu dapat dilakukan dengan mempergencar da’wah yang tersistim bukan da’wah asal jadi sebagaimana yang diajarkan Rasulullah. Untuk membentuk mental manusia yang kita harapkan dengan enam cara yaitu;

            Pertama, menanamkan Al Wa’yu artinya kesadaran diri untuk hidup bersama islam dengan segala suka dan dukanya melalui pengkajian islam yang intensif, sebenarnya kenapa ummat islam berbuat diluar ketentuan ajaran agamanya karena sebagian dari mereka tidak sadar tentang perannya dalam hidup ini, kewajiban dan haknya sebagai muslim masih belum mereka ketahui. Kesadaran ini perlu kita tumbuhkan karena memang banyak muslim yang tidak sadar tentang kemuslimannya.

            Kedua, kita dalam membina umat ini perlu adanya Islahul Mustamirah yaitu melakukan perbaikan diri secara berkesinambungan bukan insidentil sebab musuh islam itu setiap waktu mengincar ummat ini untuk disesatkan disamping itu setiap muslim dimusuhi oleh idiologi apapun tanpa mengenal batas waktu.

            Ketiga, dalam membina ummat ini kita perlu memupuk Ukhuwah Islamiyyah yaitu persaudaraan muslim yang diikat oleh aqidah, ibadah dan da’wah yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

            Keempat, dengan membentuk mental manusia agar terujud keimanan yang dalam [imanul amiq] sehingga iman yang dimiliki bukan sebatas kultur tapi iman yang mendiologi.

            Kelima, akan terujud pembangunan mental yang kita harapkan bila kita berupaya menanamkan Taqwa Haqqa Tuqatihi yaitu ketaqwaan yang sebenar-benarnya taqwa bukan sebatas hiasan bibir saja.

            Keenam, pembangunan mental manusia dapat diujudkan dengan Islamiyyatul Hayah yaitu islamisasi dalam seluruh asfekkehidupan.

            Untuk melakukan semua itu memang bukan tugas ulama saja tapi tugas semua muslim melalui da’wah yang intensif dikerjakan dengan rapi dan terprogram yang hanya bisa dilakukan dengan da’wah   fardiyah [rekrutmen] bukan da’wah yang cendrung seremonial dan formal.

            Rasul saja dalam sejarahnya mengajak ummat ini agar menggencarkan da’wah secara pribadi tapi dalam bingkai jama’i [organisasi]. Allah menyiratkan dalam firman-Nya surat Ali Imran 3;104 , ”Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung” .

            Wadah pembentukan ummat itu sejak zaman dahulu ialah masjid, tempat yang penting sekali bagi ummat islam dalam mencetak kader-kader berkualitas;

Dalam sebuah surat Al Taubah ayat 109 Allah swt berfirman, ”Sesungguhnya masjid itu dibangun berdasarkan atas ketaqwaan kepada Allah semenjak hari pertama” . berdirinya sebuah masjid dilandasi atas ketaqwaan kepada Allah bukan karena pertentangan kelas sosial dan pertikaian pendapat di tengah ummat, begitu berbeda pendapat dalam urusan kecil berdirilah masjid baru karena dianggap masjid yang lama tidak sesuai dengan fahamnya.

            Masjid didirikan bukan pula untuk menyusun suatu rencana menghancurkan islam dari dalam sebagaimana masjid yang didirikan orang munafiq dimasa Rasul. Bukan pula masjid yang didirikan untuk membuat alisan sesat dalam islam yang akibatnya menyesatkan ummat, bukan pula untuk menghidup suburkan bid’ah, kurafat dan tahayul, dia harus bersih dari segala motivasi, harus berdasarkan taqwa kepada Allah. Dalam kita lihat bagaimana Nabi memfungsikan masjid pada masa itu:

1.Tempat Ibadah
      Masjid didirikan pokok utamanya adalah untuk tempat beribadah seperti shalat, membaca Al Qur’an, berzikir dan i’tikaf, hanya semata-mata memakmurkan masjid Allah melalui pengabdian, sebagaimana firman Allah dalam surat At Taubah ayat 18,

 ”Sesungguhnya orang yang memakmurkan masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, membayarkan zakat, dan tiada yang ditakuti kecuali Allah”.

2.Tempat Bersidang Dan Musyawarah
      Segala persoalan ummat bisa dibicarakan di masjid sejak dari perjanjian, perdamaian dan peperangan, menyusun suatu program kerja yang harus digarap maka masjidlah tempatnya, kurang tepat bila persoalan ummat dibicarakan di hotel berbintang yang menghabiskan biaya atau di tempat hiburan yang menjurus kepada maksiat sementara tempat suci yaitu masjid dibiarkan kosong tidak dimanfaatkan.

3.Tempat Menuntut Ilmu
      Nabi Muhammad Saw membentuk kader seperti Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali di dalam masjid, disini diajarkan berbagai ilmu agama sebagai bekal kehidupan di dunia menuju akherat. Di Minangkabau pemberian ilmu kepada murid pada hakekatnya juga di masjid yaitu surau yang berada di sebelah masjid. Banyak tokoh-tokoh bangsa yang dicetak di masjid seperti Buya Hamka, Agus Salim, M. Natsir dan lain-lainnya. Masjid memang mempunyai peranan penting dalam memberikan ilmu kepada ummat.

4.Pengaturan Zakat, Sedekah  dan Amal Shaleh
      Sejak dari penampungan zakat, sedekah dan amal sosial lainnya sampai kepada  pendataan orang yang berhak menerimanya yang dilanjutkan dengan penyebarannya, semua dilakukan di masjid, sehingga masjid nampak betul-betul berfungsi untuk kemasyarakatan.

5.Tempat Latihan Ilmu Perang
      Para prajurit menggunakan masjid sebagai tempat menyusun dan membicarakan taktik dan strategi perjuangan, sebagai tempat latihan bahkan gudang tempat menyimpan alat-alat persenjataan agar mudah diambil ketika diperlukan.

            Di samping itu dimasa Rasulullah Saw masjid betul-betul tempat berbagai kegiatan ummat seperti sebagai rumah sakit tentara, musuh yang tertawan diletakkan tidak jauh dari masjid agar mereka melihat segala gerak ummat islam dalam beribadah kepada Allah, masjidpun tempat propaganda atau da’wah islam melalui pengajian, ceramah, khutbah bahkan pembacaan syair yang bernafaskan islam dan perjuangan.

            Salah seorang sahabat Nabi bernama Hasan bin Tsabit sering membaca syair-syair yang membangkitkan semangat ummat islam, kemudian pada masa khalifah Umar bin Khattab diapun membacanya tapi dihalangi oleh Umar maka dia protes dengan ucapan, ”Saya sudah membaca syair di dalam masjid Nabi Saw, di hadapan orang yang lebih mulia dari tuan”.

            Kenyataan yang nampak sekarang adalah masjid nampak megah tetapi tidak difungsikan sebagaimana mestinya, kita takut dengan ramalan Rasulullah Saw yang disabdakan,

 ”Hampir akan tiba masanya kepada manusia; islam hanya tinggal namanya, Al Qur’an hanya tinggal tulisannya saja, masjid dibangun megah dan ramai, tetapi sepi dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya, ulama-ulama mereka bertingkahlaku jahat dibawah kolong langit ini, dari mulut mereka meluncur fitnah-fitnah, dan fitnah itu kembali menerkam mereka [ulama dan ummat]” [HR. Baihaqi]

            Kita memang mengharapkan masjid yang indah, megah lagi mewah, bahkan rumah Allah tersebut harus lebih indah, megah dan mewah dari rumah-rumah masyarakat, tapi harus disertai dengan berbagai aktivitas, tepatnya masjid  tersebut dimakmurkan oleh jamaahnya, bila tidak terujud masih lebih baik langgar/ mushalla/ surau buruk di ujung desa yang digunakan untuk berbagai aktivitas terutama membentuk kader-kader bangsa yang bertaqwa kepada Allah Swt,  wallahu a'lam.[Cubadak Solok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29Agustus 2010.M]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar