Senin, 14 Desember 2015

58. Tauhid



Aqidah menurut bahasa dari aqoda ya’qidu- uqdatan wa aqidatan yang berarti ; ikatan, janji dan keyakinan yang mantap. Menurut istilah adalah  perkara-perkara yang dibenarkan oleh jiwa dan hati merasa senang dan tenang karenanya serta menjadi suatu keyakinan bagi pemiliknya yang tidak dicampuri keraguan. Aqidah Islamiyah bersumber pada Al Qur’an, As Sunnah dan Al Ijma’.

Aqidah, yang terangkum dalam rukun iman, ibarat akar pada sebuah pohon, ibarat pondasi pada sebuah bangunan. Manifestasi  dari iman itu harus nampak pada tiga hal yaitu pada hati, lisan dan amal perbuatan. Sebelum menanamkan ibadah dan akhlak kepada anaknya, pertama sekali Lukman menanamkan aqidah dan iman yang bersih dari syirik;

"Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".[Lukman 31;13]

Pembersihan iman dari noda syirik sangat penting dalam rangka menjaga kesucian tauhid, bila iman sudah bersih maka ibadah dan akhlak yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari akan dijamin kesuciannya. Landasan ibadah dan akhlak adalah iman yang bersih dari noda syirik. Bahkan Allah akan mengampuni semua dosa dengan izinnya kecuali dosa yang mencederai ketauhidan dengan kesyirikan.

Syirik yang tergores dihati ummat berarti telah merusak keimanannya kepada Allah, kemurnian iman dan ibadahnya tidak dapat dipertanggungjawabkan, bahkan perbuatan ini tidak berampun, walaupun Allah mengampuni segala perbuatan dosa manusia dengan izinnya bila bertaubat, dan ini merupakan hak preogratifnya, selain itu syirik juga merupakan dosa besar; “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”[An Nisa ‘ 4;48]

Syirik yang dilakukan seorang hamba juga berarti telah menyeretnya kepada kesesatan yang jauh, lebih primitif dari pada orang-orang jahiliyah, seseorang bila tidak berada dalam lingkungan dan lingkaran tauhid b erarti dia  hadir dalam lingkaran syirik, dari sekian kesesatan maka syirik merupakan kesesatan yang sangat jauh, sulit untuk diberikan kesadaran , firman Allah dalams urat An Nisa’ 4;60 “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”

Orang yang syirik kepada Allah dengan berbagai bentuk dan caranya, diharamkan untuk masuk syurga, tidak ada tempat disyurga bagi mereka yang telah mengingkari Alllah dengan melakukan syirik, syurga itu untuk orang-orang yang bersih aqidahnya, tempat yang syirik adalah neraka, Al Maidah 5;72 menjelaskan;“ Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”

Demikian besarnya bahaya bagi mereka yang menserikatkan Allah, baik di dunia sampai di akherat Allah tidak simpati kepada mereka bahkan sia-sia hidupnya walaupun amal-amal mereka nampak, syirik inipun salah satu perbuatan orang-orang kafir sehingga keberadaan mereka sama saja dengan  orang-orang kafir, sehingga selayaknya kita menghijrahkan diri ini dari segala hal yang merusak iman yaitu syirik, menuju kepada keimanan yang bersih, suci dan murni yaitu keimanan yang tauhid, tidak tercemar oleh noda-noda dan virus penyesatan.

Tidak akan pernah ada, siapapun yang dapat memberikan kemuliaan kepada manusia, kecuali manusia hanya dengan bertauhid. Tauhidlah yang akan membangkitkan kekuatan dan harga diri penganutnya, Hanya Allah saja Yang Maha Kuat, dan hanya Allah saja Yang Maha Perkasa.Hanya Allah saja yang berhak di sembah dan dibadahi. Hanya Allah saja, yang layak dimintai pertolongan.Tak ada seorangpun manusia yang dapat menandinginya.

Seorang penganut “aqidah tauhid” tidak mau menjadi hamba sahaya dari siapapun.Penguasa manapun.Raja dan Presiden manapun.Apalagi menghamba kepada Raja dan Presiden yang zalim.Hakekatnya mereka adalah orang-orang yang lemah.Tidak memiliki kekuatan apa-apa. Karena itu, manusia yang menyembah manusia, meminta pertolongan, meminta perlindungan, menggantungkan hidupnya kepada sesama manusia, maka mereka akan tersungkur ke dalam lembah kehinaan.

Betapa banyaknya manusia hari ini yang menjadi hamba hina-dina, karena mereka memperlakukan manusia yang lemah itu, sebagai sesembahan mereka.Menjadi mereka tempat bergantung dan meminta pertolongan.Mereka menganggap yang namanya Raja dan Presiden mempunyai kekuasaan dan kekuatan yang dapat menjadi tempat mereka bergantung.

Mengagung-agung manusia dengan status yang dimilikinya, dan menafikan kekuasaan dan keesaan AllahTa’ala, maka manusia akan masuk ke dalam lubang kesesatan, yang tak mungkin dapat mengangkat dirinya kepda kemuliaan di hadapan Allah Ta’ala. Mereka menjadi manusia yang paling lemah, dan hina,baik dihadapan manusia dan dihadan Allah Rabbul Alamin.

Hari-hari ini  Allah Azza Wa Jalla memperlihatkan dan membuktikan kepada manusia di seluruh muka bumi, bahwa manusia yang selama disangka kuat dan dengan kekuasaannya, bisa menjadi tempat bergantung dan melindungi mereka, satu demi satu berguguran dan tersungkur. Sekarang Allah perlihatkan kelemahan mereka dengan terang benderang.Seperti terangnya matahari di siang hari.

Para Raja dan Presiden yang disangka sebagai manusia yang paling ‘super’ dengan kekuasaan yang dimilikinya, kini berguguran, tanpa dapat menunda-nunda lagi.Mereka pergi dengan hina. Manusia-manusia yang selama ini telah menyatakan kesombongannya, dan tidak mau tunduk dengan Allah Rabbul Alamin, sekarang dipelihatkan akan datangnya kekuasaan Allah dihadapan mereka.

Aqidah tauhid menimbulkan harga diri yang amat tinggi dalam jiwa pemeluknya. Tidak ada orang-orang mukmin yang benar “haqqan” menjadi hina dina. Karena seluruh jiwa raganya hanya bersedia tunduk kepada Allah.Maka apapun yang terjadi dalam kehidupannya, tidak pernah mereka risaukan.

Seorang yang beriman wajib thaat kepada Raja, Presiden dan Sultan, hanya selama mereka masih menjalankan keadilan.Karena hanya Allah yang menyuruh berbuat adil, dan taat kepada keadilan. Seorang mukmin tidak akan pernah tunduk kepada kezaliman dan kebathilan. Karena Allah yang melarang kazaliman dan kebathilan.Dalam bentuk apapun.

Seorang mukmin tidak wajib tunduk kepada penguasa yang sombong dan angkuh.Karena yang memiliki kesombongan dan keangkuhan itu hanyalah Allah semata.Bukan manusia.
Orang-orang mukmin dibolehkan  hormat dan menghormati kepada penguasa, seperti Raja, Presiden dan Sulthan, selama mereka masih berlaku adil, selama masih ber- “amar ma’ruf, nahyi munkar”, karena hanya itulah yang sesuai dengan kalimat : La ilaha illal Lah”.[Mashadi, Hanya Dengan Tauhid Manusia Mendapat Kemuliaan, Eramuslim.com, Thursday, 03/03/2011 11:34 WIB].

                Tauhidnya iman bukan hanya sebatas ucapan saja, selain menghunjam di hati juga harus diujudkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu ibadah, ibadah yang dilakukan seorang muslim harus bersih dari motivasi apapun bahkan nabi menyebut orang yang riya dalam ibadah dapat dikatakan syirik kecil, artinya sang abid beribadah tauhidnya digerogoti oleh syirik.
Hakikat pentauhidan ibadah hanya untuk Allah, hal ini seperti digambarkan di dalam dua ayat dibawah ini.“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain dia”. (QS. Hud : 50)“Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu dari Nya”. (QS. Hud : 2)

Makna bentuk kalimat (ayat) pertama (QS.Hud, 50), berupa perintah beribadah kepada Allah dan penegasan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Sedangkan makna bentuk ayat kedua (QS.Hud, 2), merupakan larangan beribadah kepada selain Allah, makna bentuk kalimat kedua adalah manka tersirat (implisit) dari makna bentuk kalimat pertama. Bentuk kalimat pertama bersifat eksplisit,sedangkan bentuk kedua adalah bentuk mafhum (implisit).

Al-Qur’an Makkiyah dengan sangat gamblang menegaskan, bahwa pertama, beribadah kepada Allah dan tidak beribadah kepada selain-Nya. Kemudian, memberikan pengertian bahwa jiwa manusia menghajatkan nash yang tegas tentang kedua sisi hakikat ini – tidak cukup perintah beribadah kepada Allah semata, tetapi adanya penegasan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan adanya larangan yang tegas untuk beribadah selain-Nya. Karena, hakikatnya sepanjang selalu terjadi manusia tidak menolak beribadah kepada Allah, dan tidak mengingkari-Nya, tetapi dalam waktu bersamaan mereka juga menyembah dan beribadah kepada selain-Nya.Ini ironi dan tragedi yang terjadi dalam kehidupan umat manusia.Baik di masa lalu maupun di masa kini.

Hakikatnya Al-Qur’an itu, mengungkapkan tentang hakikat tauhid itu ada dalam dua bentuk.Yaitu perintah dan larangan. Supaya yang satu menguatkan yang lain, yang akan menghilangkan segala celah yang mungkin bisa dimasuki kemusyrikan dalam suatu bentuk diantara bentuk-bentuk yang berbeda-beda.
Allah berfirman :“Janganlah kamu menyembah dua tuhan, sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut”. (Q.S. An-Nahl, 51).

Al-Qur’an Makkiyah ini menjadi pedoman yang bersifat final, di mana hanya dibolehkan menyembah kepada Allah semata.
Tidak layak makhluk melakukan penyelewengan aqidah dengan menyembah selain-Nya.Seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, yang memusuhi agama Allah, dan selalu membawa kehidupan ke dalam kegelapan dan kehancuran, karena sikap kemusyrikan mereka.[Mashadi, Beribadahlah Hanya Untuk Allah Semata, Eramuslim.com.Senin, 09/08/2010 16:37 WIB]

Pentingnya tauhid ini dalam kehidupan mukmin adalah dalam rangka membersihkan iman dan ibadah serta perjuangan apapun dari hal-hal yang dapat merusak kemurnian pengabdian kepada Allah, sejak awal tegaknya risalah ini dibingkai oleh ketauhidan yang diperjuangkan oleh Rasulullah.

Sesungguhnya Tauhid yang murni dan bersih adalah inti ajaran dari semua risalah samawiyah yang diturunkan Allah Ta’ala.Ia adalah tiang penopang yang menegakkan bangunan Islam. Ia adalah syi’ar Islam yang terbesar yang tak dapat terpisahkan dari Islam itu sendiri. Inilah pesan utama Allah kepada Rasulnya yang diutus kepada ummat manusia.“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang rasul (untuk menyampaikan): Sembahlah (oleh kalian) akan Allah dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl: 36)

Itulah misi utama para Rasul; menegakkan penyembahan dan penghambaan hanya kepada Allah serta menafikan dan menjauhi segala bentuk thaghut. Dan yang dimaksud dengan thaghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melampaui batas-batas yang seharusnya tak boleh ia langgar, baik berupa sesembahan, panutan dan ikutan. Sehingga thaghut setiap kaum/komunitas adalah siapapun yang mereka jadikan sumber dasar hukum selain Allah dan RasulNya, yang mereka jadikan Tuhan selain Allah Subhannahu wa Ta'ala , yang mereka ta’ati meskipun dimurkai dan tidak diridloi Allah Ta’ala.“Tidakkah engkau melihat kepada orang-orang yang menyangka bahwa mereka telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan yang diturunkan sebelummu, (padahal) mereka ingin bertahkim (mengambil hukum) dari thaghut padahal sungguh mereka telah diperintah untuk kafir kepadanya.” (An-Nisa: 60)

Kedua unsur penting inilah yang terangkai dalam kalimat suci La ilaha illallah; tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.Di atas kalimat Tauhid yang murni dan mulia itulah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membangun ummatnya, di atas landasan yang kokoh itulah beliau menegakkan da’wah, dari situlah beliau menegakkan generasi yang hanya meng-Esa-kan Allah Yang Maha Esa dan membebaskan diri mereka dari cengkraman makhluq-makhluq lain yang dianggap sekutu bagi Allah Ta’ala

Dan sesungguhnya kemunduran dan musibah-musibah yang selama ini menimpa umat Islam adalah disebabkan mereka tidak lagi memperhatikan syi’ar yang penting ini.Lemahnya ikatan tauhid dalam jiwa-jiwa mereka adalah sebab utama dari berbagai kekalahan kaum muslimin dan kemenangan musuh-musuh mereka yang kita saksikan dalam kurun waktu yang cukup lama. Banyak di antara kaum muslimin yang tenggelam dalam kebodohan terhadap tauhid ini, sehingga mereka mendatangi penghuni-penghuni kubur, berdoa didepan batu-batu nisannya, meminta pertolongan penghuninya saat susah dan sedih. Bahkan lebih dari itu, seringkali mereka memuji dan mengagungkan panghuni kubur itu dengan ungkapan-ungkapan yang hanya pantas diberikan kepada Allah Rabbul ’alamin.

Dikarenakan lemahnya keyakinan akan pertolongan Allah, banyak di antara kaum muslimin yang kemudian menggunakan jimat dengan menggantungkan di tubuh mereka karena yakin hal itu akan mendatangkan keselamatan dan menghindarkannya dari marabahaya. Padahal Allah telah menegaskan:“Dan jika Allah menimpakan musibah atasmu maka tidak ada yang dapat menyingkapnya selain Ia, dan jika Ia memberikan kebaikan padamu maka Ia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (Al-An’am: 17).

Dan suatu hari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam pernah melihat lelaki yang mengenakan jimat di tangannya, lalu beliau berkata:“Cabutlah (benda itu) karena ia hanya akan semakin membuatmu lemah/takut. Karena sesungguhnya jika engkau mati dalam keadaan memakainya maka engkau tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ahmad dengan sanad “la ba’sa bih”).

Dan juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:.“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat) maka sungguh ia telah berbuat syirik.” Di antara kaum muslimin juga terdapat orang yang terfitnah oleh para tukang sihir dan peramal yang katanya dapat meramal masa depan.[Muhammad Ihsan Zainuddin, Wujudkan Kejayaan Umat Dengan Kemurnian Tauhid, Sumber:www.alsofwah.or.id/khutbah, Posted By http://ichsanmufti.wordpress.com].

Muslim yang baik, dimanapun mereka berada dan pada posisi apapun jabatan yang disandang cendrung meletakkan tauhid sebagai pondasi berdirinya sebuah bangsa dan Negara, sedangkan untuk mendirikan rumah saja kita tidak mau ada unsur syirik didalamnya, pembangunan dan pengelolaan rumah itu harus bersih dari aroma syirik, apalagi untuk sebuah Negara.

Para pendiri bangsa ini meletakkan dasar negara Indonesia berasaskan Tauhid (penuturan saksi sejarah kepada penulis).Itu terbukti secara konstitusional. Paling tidak ada 3 dalil kanstitusional yang menguatkan hal itu:

Pertama, bunyi pembukaan UUD 45 Alinia ketiga, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”Pernyataan tegas itu menunjukkan bahwa para pendiri negeri ini sadar betul bahwa kemerdekaan ini bukan semata-mata jerih payah mereka, tapi lebih pada karunia dari Allah swt.Ini sekaligus membuktikan bahwa para pendiri negeri ini religius dan taat beragama.

Kedua, adalah bunyi Pasal 29 Ayat 1 Undang-Undang Dasar, “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.”Sebelum rumusan ini disepakati, bunyi ayat itu adalah “Negara berdasarkan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Delapan kata yang terakhir dicoret, karena umat Islam sangat toleran terhadap agama lain, dan untuk menggantikan delapan kata itu, disepakatilah satu kata, yaitu Esa. Kenapa bukan Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Kasih Sayang dst., tapi mengapa dipilih kata Esa. Karena Esa itu berarti Tauhid.Allah swt.berfirman: “Katakanlah, Dialah Allah Yang Esa.” (Al-Ikhlas:1).

Ketiga, adalah pasal 31 ayat 3 (hasil amandemen) tentang Pendidikan Nasional Indonesia. Berbunyi, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional,yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”

Subhanallah, jadi kalau kita fair, ketiga landasan konstitusional itu sudah menjadi bukti bahwa negeri ini didirikan karena tekad kuat dari para pendirinya untuk maju, membangun dan menjadi negara yang besar berlandasan tauhid.

Berdasarkan akar sejarah bangsa ini -yaitu para pahlawan dan syuhada’ adalah mayoritas muslim dan bukti bahwa semangat para pendiri negeri ini adalah tauhid-, maka sudah seharusnya jika pemimpin negeri ini melanjutkan perjuangan mereka dengan semangat yang sama dan tidak sekali-kali menjadikan umat Islam sebagai kelompok yang dicurigai, didiskriminasi apalagi dijadikan musuh. Dan jangan sampai ada lagi kelompok-kelompok dari pengelola negeri ini yang sengaja mengkait-kaitkan tindak pengkrusakan dan terorisme dengan agama Islam atau agama apapun, apa lagi dengan sengaja menciptakan kondisi dan kesan seperti itu. Sebab, selain tindak pengkrusakan dan tindak terorisme bukan dari ajaran agama apapun, apalagi agama Islam, juga berarti kita melupakan sejarah bangsa sendiri dan melupakan perjuangan umat Islam selama ini.[Negara Bertauhid itu Bernama Indonesia, dakwatuna.com,  18/8/2010 | 09 Ramadhan 1431 H].

Kemerdekaan Indonesia yang sudah melewati  usia ketujuh puluh ternyata tidak mudah menghapuskan syirik yang merajalela pada ummatnya walaupun para pendiri negara ini menghendaki Indonesia sebagai Negara yang bertauhid dengan maksud meraih berkah dan rahmat Allah, kila lihatlah bagaimana tercemarnya tauhid di negeri ini dengan maraknya praktek syirik yang tersebar di seluruh pelosok desa dan perkotaan, kita khawatir, datangnya bencana dan musibah yang bertubi-tubi menimpa bangsa kita ini karena telah jauh dari tauhid dan  tenggelam kepada syirik yang mendatangkan murka dari Allah,  Wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 26 Juni 2011.M/ 24 Rajab 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar