Aqidah menurut
bahasa dari aqoda ya’qidu- uqdatan wa aqidatan yang berarti ; ikatan, janji dan
keyakinan yang mantap. Menurut istilah adalah
perkara-perkara yang dibenarkan oleh jiwa dan hati merasa senang dan
tenang karenanya serta menjadi suatu keyakinan bagi pemiliknya yang tidak
dicampuri keraguan. Aqidah
Islamiyah bersumber pada Al Qur’an, As Sunnah dan Al Ijma’.
Aqidah,
yang terangkum dalam rukun iman, ibarat akar pada sebuah pohon, ibarat pondasi
pada sebuah bangunan. Manifestasi dari
iman itu harus nampak pada tiga hal yaitu pada hati, lisan dan amal perbuatan.
Sebelum menanamkan ibadah dan akhlak kepada anaknya, pertama sekali Lukman
menanamkan aqidah dan iman yang bersih dari syirik;
"Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia
memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan
Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang
besar".[Lukman 31;13]
Pembersihan
iman dari noda syirik sangat penting dalam rangka menjaga kesucian tauhid, bila
iman sudah bersih maka ibadah dan akhlak yang diwujudkan dalam kehidupan
sehari-hari akan dijamin kesuciannya. Landasan ibadah dan akhlak adalah iman
yang bersih dari noda syirik. Bahkan Allah akan mengampuni semua dosa dengan
izinnya kecuali dosa yang mencederai ketauhidan dengan kesyirikan.
Syirik yang tergores dihati ummat berarti telah merusak
keimanannya kepada Allah, kemurnian iman dan ibadahnya tidak dapat
dipertanggungjawabkan, bahkan perbuatan ini tidak berampun, walaupun Allah
mengampuni segala perbuatan dosa manusia dengan izinnya bila bertaubat, dan ini
merupakan hak preogratifnya, selain itu syirik juga merupakan dosa besar; “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni
dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi
siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka
sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”[An Nisa ‘ 4;48]
Syirik yang dilakukan seorang hamba juga berarti telah
menyeretnya kepada kesesatan yang jauh, lebih primitif dari pada orang-orang
jahiliyah, seseorang bila tidak berada dalam lingkungan dan lingkaran tauhid b
erarti dia hadir dalam lingkaran syirik,
dari sekian kesesatan maka syirik merupakan kesesatan yang sangat jauh, sulit
untuk diberikan kesadaran , firman Allah dalams urat An Nisa’ 4;60 “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang
yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan
kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada
thaghut, padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan
bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”
Orang yang syirik kepada Allah dengan berbagai bentuk dan
caranya, diharamkan untuk masuk syurga, tidak ada tempat disyurga bagi mereka yang
telah mengingkari Alllah dengan melakukan syirik, syurga itu untuk orang-orang
yang bersih aqidahnya, tempat yang syirik adalah neraka, Al Maidah 5;72
menjelaskan;“ Sesungguhnya Telah kafirlah
orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera
Maryam", padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil,
sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya
surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu
seorang penolongpun.”
Demikian besarnya bahaya bagi mereka yang menserikatkan
Allah, baik di dunia sampai di akherat Allah tidak simpati kepada mereka bahkan
sia-sia hidupnya walaupun amal-amal mereka nampak, syirik inipun salah satu
perbuatan orang-orang kafir sehingga keberadaan mereka sama saja dengan orang-orang kafir, sehingga selayaknya kita
menghijrahkan diri ini dari segala hal yang merusak iman yaitu syirik, menuju
kepada keimanan yang bersih, suci dan murni yaitu keimanan yang tauhid, tidak
tercemar oleh noda-noda dan virus penyesatan.
Tidak akan pernah ada,
siapapun yang dapat memberikan kemuliaan kepada manusia, kecuali manusia hanya
dengan bertauhid. Tauhidlah yang akan membangkitkan kekuatan dan harga diri
penganutnya, Hanya Allah saja Yang Maha Kuat, dan hanya Allah saja Yang Maha
Perkasa.Hanya Allah saja yang berhak di sembah dan dibadahi. Hanya Allah saja,
yang layak dimintai pertolongan.Tak ada seorangpun manusia yang dapat menandinginya.
Seorang penganut “aqidah
tauhid” tidak mau menjadi hamba sahaya dari siapapun.Penguasa manapun.Raja dan
Presiden manapun.Apalagi menghamba kepada Raja dan Presiden yang
zalim.Hakekatnya mereka adalah orang-orang yang lemah.Tidak memiliki kekuatan
apa-apa. Karena itu, manusia yang menyembah manusia, meminta pertolongan,
meminta perlindungan, menggantungkan hidupnya kepada sesama manusia, maka
mereka akan tersungkur ke dalam lembah kehinaan.
Betapa banyaknya manusia hari
ini yang menjadi hamba hina-dina, karena mereka memperlakukan manusia yang
lemah itu, sebagai sesembahan mereka.Menjadi mereka tempat bergantung dan
meminta pertolongan.Mereka menganggap yang namanya Raja dan Presiden mempunyai
kekuasaan dan kekuatan yang dapat menjadi tempat mereka bergantung.
Mengagung-agung manusia dengan
status yang dimilikinya, dan menafikan kekuasaan dan keesaan AllahTa’ala, maka
manusia akan masuk ke dalam lubang kesesatan, yang tak mungkin dapat mengangkat
dirinya kepda kemuliaan di hadapan Allah Ta’ala. Mereka menjadi manusia yang
paling lemah, dan hina,baik dihadapan manusia dan dihadan Allah Rabbul Alamin.
Hari-hari ini Allah Azza
Wa Jalla memperlihatkan dan membuktikan kepada manusia di seluruh muka bumi,
bahwa manusia yang selama disangka kuat dan dengan kekuasaannya, bisa menjadi
tempat bergantung dan melindungi mereka, satu demi satu berguguran dan
tersungkur. Sekarang Allah perlihatkan kelemahan mereka dengan terang
benderang.Seperti terangnya matahari di siang hari.
Para Raja dan Presiden yang
disangka sebagai manusia yang paling ‘super’ dengan kekuasaan yang dimilikinya,
kini berguguran, tanpa dapat menunda-nunda lagi.Mereka pergi dengan hina.
Manusia-manusia yang selama ini telah menyatakan kesombongannya, dan tidak mau
tunduk dengan Allah Rabbul Alamin, sekarang dipelihatkan akan datangnya
kekuasaan Allah dihadapan mereka.
Aqidah tauhid menimbulkan
harga diri yang amat tinggi dalam jiwa pemeluknya. Tidak ada orang-orang mukmin
yang benar “haqqan” menjadi hina dina. Karena seluruh jiwa raganya hanya
bersedia tunduk kepada Allah.Maka apapun yang terjadi dalam kehidupannya, tidak
pernah mereka risaukan.
Seorang yang beriman wajib
thaat kepada Raja, Presiden dan Sultan, hanya selama mereka masih menjalankan
keadilan.Karena hanya Allah yang menyuruh berbuat adil, dan taat kepada
keadilan. Seorang mukmin tidak akan pernah tunduk kepada kezaliman dan
kebathilan. Karena Allah yang melarang kazaliman dan kebathilan.Dalam bentuk
apapun.
Seorang mukmin tidak wajib
tunduk kepada penguasa yang sombong dan angkuh.Karena yang memiliki kesombongan
dan keangkuhan itu hanyalah Allah semata.Bukan manusia.
Orang-orang mukmin
dibolehkan hormat dan menghormati kepada penguasa, seperti Raja, Presiden
dan Sulthan, selama mereka masih berlaku adil, selama masih ber- “amar ma’ruf,
nahyi munkar”, karena hanya itulah yang sesuai dengan kalimat : La ilaha illal
Lah”.[Mashadi, Hanya Dengan
Tauhid Manusia Mendapat Kemuliaan, Eramuslim.com, Thursday, 03/03/2011 11:34
WIB].
Tauhidnya iman bukan hanya sebatas
ucapan saja, selain menghunjam di hati juga harus diujudkan dalam kehidupan
sehari-hari yaitu ibadah, ibadah yang dilakukan seorang muslim harus bersih
dari motivasi apapun bahkan nabi menyebut orang yang riya dalam ibadah dapat
dikatakan syirik kecil, artinya sang abid beribadah tauhidnya digerogoti oleh
syirik.
Hakikat
pentauhidan ibadah hanya untuk Allah, hal ini seperti digambarkan di dalam dua
ayat dibawah ini.“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali
tidak ada bagimu Tuhan selain dia”. (QS. Hud : 50)“Agar
kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi
peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu dari Nya”. (QS. Hud :
2)
Makna bentuk
kalimat (ayat) pertama (QS.Hud, 50), berupa perintah beribadah kepada Allah dan
penegasan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Sedangkan makna
bentuk ayat kedua (QS.Hud, 2), merupakan larangan beribadah kepada selain
Allah, makna bentuk kalimat kedua adalah manka tersirat (implisit) dari makna bentuk
kalimat pertama. Bentuk kalimat pertama bersifat eksplisit,sedangkan bentuk
kedua adalah bentuk mafhum (implisit).
Al-Qur’an
Makkiyah dengan sangat gamblang menegaskan, bahwa pertama, beribadah kepada
Allah dan tidak beribadah kepada selain-Nya. Kemudian, memberikan pengertian
bahwa jiwa manusia menghajatkan nash yang tegas tentang kedua sisi hakikat ini
– tidak cukup perintah beribadah kepada Allah semata, tetapi adanya penegasan
bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan adanya larangan
yang tegas untuk beribadah selain-Nya. Karena, hakikatnya sepanjang selalu
terjadi manusia tidak menolak beribadah kepada Allah, dan tidak
mengingkari-Nya, tetapi dalam waktu bersamaan mereka juga menyembah dan
beribadah kepada selain-Nya.Ini ironi dan tragedi yang terjadi dalam kehidupan
umat manusia.Baik di masa lalu maupun di masa kini.
Hakikatnya
Al-Qur’an itu, mengungkapkan tentang hakikat tauhid itu ada dalam dua
bentuk.Yaitu perintah dan larangan. Supaya yang satu menguatkan yang lain, yang
akan menghilangkan segala celah yang mungkin bisa dimasuki kemusyrikan dalam
suatu bentuk diantara bentuk-bentuk yang berbeda-beda.
Allah berfirman
:“Janganlah kamu menyembah dua tuhan, sesungguhnya Dialah Tuhan
Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut”. (Q.S.
An-Nahl, 51).
Al-Qur’an
Makkiyah ini menjadi pedoman yang bersifat final, di mana hanya dibolehkan
menyembah kepada Allah semata.
Tidak layak makhluk melakukan
penyelewengan aqidah dengan menyembah selain-Nya.Seperti yang dilakukan oleh orang-orang
musyrik, yang memusuhi agama Allah, dan selalu membawa kehidupan ke dalam
kegelapan dan kehancuran, karena sikap kemusyrikan mereka.[Mashadi, Beribadahlah Hanya Untuk
Allah Semata, Eramuslim.com.Senin, 09/08/2010 16:37 WIB]
Pentingnya
tauhid ini dalam kehidupan mukmin adalah dalam rangka membersihkan iman dan
ibadah serta perjuangan apapun dari hal-hal yang dapat merusak kemurnian
pengabdian kepada Allah, sejak awal tegaknya risalah ini dibingkai oleh
ketauhidan yang diperjuangkan oleh Rasulullah.
Sesungguhnya Tauhid yang murni
dan bersih adalah inti ajaran dari semua risalah samawiyah yang diturunkan
Allah Ta’ala.Ia adalah tiang penopang yang menegakkan bangunan Islam. Ia adalah
syi’ar Islam yang terbesar yang tak dapat terpisahkan dari Islam itu sendiri.
Inilah pesan utama Allah kepada Rasulnya yang diutus kepada ummat
manusia.“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang rasul (untuk
menyampaikan): Sembahlah (oleh kalian) akan Allah dan jauhilah thaghut.”
(An-Nahl: 36)
Itulah misi utama para Rasul; menegakkan
penyembahan dan penghambaan hanya kepada Allah serta menafikan dan menjauhi
segala bentuk thaghut. Dan yang dimaksud dengan thaghut adalah segala sesuatu
yang menyebabkan seorang hamba melampaui batas-batas yang seharusnya tak boleh
ia langgar, baik berupa sesembahan, panutan dan ikutan. Sehingga thaghut setiap
kaum/komunitas adalah siapapun yang mereka jadikan sumber dasar hukum selain
Allah dan RasulNya, yang mereka jadikan Tuhan selain Allah Subhannahu wa Ta'ala
, yang mereka ta’ati meskipun dimurkai dan tidak diridloi Allah
Ta’ala.“Tidakkah engkau melihat kepada orang-orang yang menyangka bahwa mereka
telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan yang diturunkan
sebelummu, (padahal) mereka ingin bertahkim (mengambil hukum) dari thaghut
padahal sungguh mereka telah diperintah untuk kafir kepadanya.” (An-Nisa: 60)
Kedua unsur penting inilah
yang terangkai dalam kalimat suci La ilaha illallah; tiada Tuhan yang berhak
disembah selain Allah.Di atas kalimat Tauhid yang murni dan mulia itulah
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membangun ummatnya, di atas landasan
yang kokoh itulah beliau menegakkan da’wah, dari situlah beliau menegakkan
generasi yang hanya meng-Esa-kan Allah Yang Maha Esa dan membebaskan diri mereka
dari cengkraman makhluq-makhluq lain yang dianggap sekutu bagi Allah Ta’ala
Dan sesungguhnya kemunduran
dan musibah-musibah yang selama ini menimpa umat Islam adalah disebabkan mereka
tidak lagi memperhatikan syi’ar yang penting ini.Lemahnya ikatan tauhid dalam
jiwa-jiwa mereka adalah sebab utama dari berbagai kekalahan kaum muslimin dan
kemenangan musuh-musuh mereka yang kita saksikan dalam kurun waktu yang cukup
lama. Banyak di antara kaum muslimin yang tenggelam dalam kebodohan terhadap
tauhid ini, sehingga mereka mendatangi penghuni-penghuni kubur, berdoa didepan
batu-batu nisannya, meminta pertolongan penghuninya saat susah dan sedih.
Bahkan lebih dari itu, seringkali mereka memuji dan mengagungkan panghuni kubur
itu dengan ungkapan-ungkapan yang hanya pantas diberikan kepada Allah Rabbul
’alamin.
Dikarenakan lemahnya keyakinan
akan pertolongan Allah, banyak di antara kaum muslimin yang kemudian
menggunakan jimat dengan menggantungkan di tubuh mereka karena yakin hal itu
akan mendatangkan keselamatan dan menghindarkannya dari marabahaya. Padahal
Allah telah menegaskan:“Dan jika Allah menimpakan musibah atasmu maka tidak ada
yang dapat menyingkapnya selain Ia, dan jika Ia memberikan kebaikan padamu maka
Ia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (Al-An’am: 17).
Dan suatu hari Nabi
Shallallaahu alaihi wa Salam pernah melihat lelaki yang mengenakan jimat di
tangannya, lalu beliau berkata:“Cabutlah (benda itu) karena ia hanya akan
semakin membuatmu lemah/takut. Karena sesungguhnya jika engkau mati dalam
keadaan memakainya maka engkau tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ahmad
dengan sanad “la ba’sa bih”).
Dan juga diriwayatkan oleh
Imam Ahmad, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:.“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah
(jimat) maka sungguh ia telah berbuat syirik.” Di antara kaum muslimin juga
terdapat orang yang terfitnah oleh para tukang sihir dan peramal yang katanya
dapat meramal masa depan.[Muhammad Ihsan Zainuddin, Wujudkan Kejayaan Umat Dengan Kemurnian Tauhid, Sumber:www.alsofwah.or.id/khutbah, Posted By http://ichsanmufti.wordpress.com].
Muslim yang baik, dimanapun
mereka berada dan pada posisi apapun jabatan yang disandang cendrung meletakkan
tauhid sebagai pondasi berdirinya sebuah bangsa dan Negara, sedangkan untuk
mendirikan rumah saja kita tidak mau ada unsur syirik didalamnya, pembangunan
dan pengelolaan rumah itu harus bersih dari aroma syirik, apalagi untuk sebuah
Negara.
Para pendiri bangsa ini
meletakkan dasar negara Indonesia berasaskan Tauhid (penuturan saksi sejarah
kepada penulis).Itu terbukti secara konstitusional. Paling tidak ada 3 dalil
kanstitusional yang menguatkan hal itu:
Pertama,
bunyi pembukaan UUD 45 Alinia ketiga, “Atas berkat rahmat
Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya
berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini
kemerdekaannya.”Pernyataan tegas itu menunjukkan bahwa para pendiri
negeri ini sadar betul bahwa kemerdekaan ini bukan semata-mata jerih payah
mereka, tapi lebih pada karunia dari Allah swt.Ini sekaligus membuktikan bahwa
para pendiri negeri ini religius dan taat beragama.
Kedua,
adalah bunyi Pasal 29 Ayat 1 Undang-Undang Dasar, “Negara berdasar atas
Ketuhanan Yang Maha Esa.”Sebelum rumusan ini disepakati, bunyi ayat
itu adalah “Negara berdasarkan Ketuhanan dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
Delapan kata yang terakhir dicoret, karena umat Islam sangat toleran terhadap
agama lain, dan untuk menggantikan delapan kata itu, disepakatilah satu kata,
yaitu Esa. Kenapa bukan Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Kasih Sayang dst., tapi
mengapa dipilih kata Esa. Karena Esa itu berarti Tauhid.Allah swt.berfirman: “Katakanlah,
Dialah Allah Yang Esa.” (Al-Ikhlas:1).
Ketiga,
adalah pasal 31 ayat 3 (hasil amandemen) tentang Pendidikan Nasional Indonesia.
Berbunyi, “Pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional,yang meningkatkan keimanan dan
ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang
diatur dengan undang-undang.”
Subhanallah,
jadi kalau kita fair, ketiga landasan konstitusional itu sudah menjadi bukti
bahwa negeri ini didirikan karena tekad kuat dari para pendirinya untuk maju,
membangun dan menjadi negara yang besar berlandasan tauhid.
Berdasarkan akar sejarah
bangsa ini -yaitu para pahlawan dan syuhada’ adalah mayoritas muslim dan bukti
bahwa semangat para pendiri negeri ini adalah tauhid-, maka sudah seharusnya
jika pemimpin negeri ini melanjutkan perjuangan mereka dengan semangat yang
sama dan tidak sekali-kali menjadikan umat Islam sebagai kelompok yang
dicurigai, didiskriminasi apalagi dijadikan musuh. Dan jangan sampai ada lagi
kelompok-kelompok dari pengelola negeri ini yang sengaja mengkait-kaitkan
tindak pengkrusakan dan terorisme dengan agama Islam atau agama apapun, apa
lagi dengan sengaja menciptakan kondisi dan kesan seperti itu. Sebab, selain
tindak pengkrusakan dan tindak terorisme bukan dari ajaran agama apapun,
apalagi agama Islam, juga berarti kita melupakan sejarah bangsa sendiri dan
melupakan perjuangan umat Islam selama ini.[Negara Bertauhid itu Bernama
Indonesia, dakwatuna.com, 18/8/2010 | 09
Ramadhan 1431 H].
Kemerdekaan Indonesia yang sudah
melewati usia ketujuh puluh ternyata
tidak mudah menghapuskan syirik yang merajalela pada ummatnya walaupun para
pendiri negara ini menghendaki Indonesia sebagai Negara yang bertauhid dengan
maksud meraih berkah dan rahmat Allah, kila lihatlah bagaimana tercemarnya
tauhid di negeri ini dengan maraknya praktek syirik yang tersebar di seluruh
pelosok desa dan perkotaan, kita khawatir, datangnya bencana dan musibah yang
bertubi-tubi menimpa bangsa kita ini karena telah jauh dari tauhid dan tenggelam kepada syirik yang mendatangkan
murka dari Allah, Wallahu
a’lam, [Cubadak Solok, 26 Juni 2011.M/ 24 Rajab 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar