Dengan
penampilan yang sederhana, saya melihat seorang lelaki bersahaja berjalan melangkahkan kakinya
menuju kelas sambil memeluk sebeban buku sebagai referensi, hari ini dia akan
menyampaikan pelajaran kepada murid-muridnya dengan harapan para murid itu
kelak tampil sebagai pemimpin membawa kapal besar Indonesia ini menuju kearah
yang lebih baik, mencapai kemerdekaan yang sebenarnya merdeka dari segala
belenggu penjajahan dan perbudakan yang menghempaskan manusia kepada kehinaan,
dengan pendidikanlah dia berupaya meretas masa depan anak negeri agar pintar,
baik dan pintar dengan bekal ilmu pengetahuan. Itulah penampilan sebagian besar
guru-guru kita sejak dari ujung desa hingga kota besar.
Kekaguman terhadap guru itulah yang mendorong
saya punya cita-cita kelak menjadi seorang guru. Hal itu dapat dirasakan sekian
puluh tahun sebagai guru, susah dan senang, sakit dan pedih, pahit dan getir
sebagai guru sudah saya rasakan, sejak sebagai guru mengaji pada sebuah
madrasah, sebagai guru tingkat sekolah dasar, sltp, slta hingga menjadi seorang
dokter. Walaupun perjalanan jauh sudah pernah ditempuh dengan berhujan dan
berpanas, berjalan kaki hingga naik motor butut semuanya dilakukan hanya satu
tekad untuk berhadapan dengan murid, guna transfer ilmu dan kepribadian.
Pendidik atau guru ialah orang yang memikul tanggungjawab untuk
mendidik. Pada umumnya jika kita
mendengar istilah pendidik akan terbayang di depan kita seorang manusia dewasa.
Dan sesungguhnya yang kita maksud dengan pendidik adalah hanya manusia dewasa
yang akan melaksanakan kewajibannya tentang pendidikan siterdidik.
Kalau kita hanya berpegang kepada istilah membimbing atau
menolong seperti disebutkan dalam definisi pendidikan, maka orang akan dapat
berkata bahwa seorang anakpun dapat menjadi
pendidik karena ia dapat menolong anak lainnya. Namun demikian kita
harus mengingat pula bahwa pendidikan itu hanya menolong, tetapi menolong
dengan sadar, dengan maksud menuju tujuan pendidikan.
Kalau seorang anak menolong anak lainnya, tidaklah ada
intensi [maksud] pada si penolong untuk menghubungkan tindakannya itu dengan
tujuan pendidikan. Sampai disini saja gugurlah julukan pendidik pada anak
penolong tadi.
Kalau ditinjau dari segi pertanggungjawaban, maka orang
dewasa yang mendidik memikul pertanggungjawaban terhadap anak didiknya,
sedangkan sipenolong kecil itu belumlah demikian. Jelaslah kiranya bahwa si
penolong kecil itu belum dapat disebut pendidik dalam arti sesungguhnya, jadi pendidik
itu adalah orang dewasa yang kita sebut dengan guru, menjadi gurupun tidak
sembarang guru tapi guru yang punya profesi sebagai pendidik hingga profesional
di bidang pendidikan yang digelutinya.
Menjadi profesional, berarti menjadi ahli
dalam bidangnya. Dan seorang ahli, tentunya berkualitas dalam melaksanakan
pekerjaannya. Akan tetapi tidak semua Ahli dapat menjadi berkualitas. Karena
menjadi berkualitas bukan hanya persoalan ahli, tetapi juga menyangkut
persoalan integritas dan personaliti
Dan kata profesional bukan hanya kata baku yang diperuntukkan
bagi mereka yang kerja dikantoran. Bekerja di dalam ruang berAC, memakai
kemeja, jas mahal, celana bahan bagi laki-lakinya, atau memakai blazer, rok
mini, berkutat dengan orang-orang penting yang biasa disebut dengan istilah
“meeting”. Tidak! kata professional berlaku untuk setiap profesi. Termasuk
guru.
Guru harus memiliki keahlian
tertentu dan distandarkan secara kode keprofesian. Bila ia tak punya keahlian
menjadi guru maka tidak dapat disebut sebagai guru. Oleh karnanya tidak semua
orang bisa menjadi guru.[ Menjadi Guru Profesional, Nessa Morena].
Salah satu syarat guru profesional ialah sebagaimana yang diungkapkan oleh tokoh
pendidikan Ki Hajar Dewantara; Ing ngarso
sung tulodo, ing madyo mangunkarso, tutwuri handayani, berarti
keberadaannya pada semua sisi sangat diperlukan dalam rangka membawa manusia
junior dengan bekal ilmu pengetahuan serta kepribadian yang luhur, sehingga
akan tercetak manusia pintar lagi baik.
Untuk menjadi pintar sebagai sasaran sangatlah
mudah yaitu suapi saja anak didik dengan berbagai ilmu pengetahuan, ini adalah
bidang garap dari pengajaran, fokusny adalah otak. Sedangkan untuk menjadi
manusia baik sangat sulit karena sasarannya adalah hati, bagian ini wewenang
dari pendidikan. Anak yang pintar belum tentu baik karena dia tidak dididik,
hatinya tidak diperhalus, keteladanan tidak diberikan. Anak yang baik bukan
jaminan pula untuk pintar karena pengajaran yang diberikan kepadanya kurang.
Apalah artinya kepintaran kalau tidak baik karena akan
menimbulkan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan pola kehidupan. Pada
satu sisi dia banyak mempunyai ilmu pengetahuan tapi pada sudut lain dia tidak
dapat menghargai karya orang lain, meremehkan guru, tidak santun kepada
orangtua atau tindakan lainnya.
Tugas guru bukan pada intelektualitasnya saja tetapi
lebih jauh kepada kepribadiannya, baik dan pintar, otak dan hati sasarannya.
Untuk menjadi pintar telah banyak usaha guru dikerahkan dalam bentuk
transpormasi dan transfer ilmu pengetahuan, lugasnya pengalihan ilmu kepada
murid berlansung dengan berbagai kegiatan formal sepanjang mengarah kepada otak
atau keterampilan. Sudah banyak jasa guru dalam mencetak kader bangsa yang
berkualitas, baik level daerah sampai tingkat internasional.
Dengan demikian berarti kehadiran guru yang berkualitas
sangat diperlukan dalam mencetak kader bangsa disamping pintar juga baik. Dr.
Zakiah Drajat sangat menekankan sekali agar seorang guru memiliki kepribadian.
Faktor erpenting bagi seorang guru ialah kepribadiannya, kepribadian itulah
yang akan menentukan apakah ia kembali menjadi pendidik dan pembina yang baik
bagi anak didiknya, atau akan jadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak
didik, terutama bagi anak didik yang masih kecil dan mereka yang sedang mengalami
kegoncangan jiwa.
Apa yang dimaksud dengan kepribadian ? dalam uraian kita
tidak akan membicarakan arti atau batasan kepribadian secara teori, akan tetapi
akan mencoba memahami berbagai unsur kepribadian yang dapat dilihat atau
dipahami dengan mudah. Orang awam dengan
mudah mengatakan bahwa seseorang itu punya kepribadian yang baik, kuat dan
menyenangkan. Sedangkan ada pula orang lain dikatakan mempunyai kepribadian
lemah atau buruk dan sebagainya.
Kepribadian sesungguhnya adalah abstrak, sukar dilihat
atau diketahui secara nyata, yang dapat
diketahui adalah penampilan atau bekasnya dalam segala segi dan asfek
kehidupan. Misalnya dalam tindakannya, ucapan, caranya bergaul, berpakaian dan
dalam menghadapi persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang berat.
Guru yang goncang atau tidak stabil emosinya, misalnya mudah cemas, penakut,
pemarah, penyedih dan pemurung. Anak didik akan terombang-ambing di bawah arus
emosi guru yang goncang tersebut, tidak menyenangkan bagi anak didik, karena
mereka seringkali merasa tidak dimengerti oleh guru. Kegoncangan perasaan anak
didik itu akan menyebabkan kurangnya kemampuannya untuk menerima dan memahami
pelajaran, sebab konsentrasi fikirannya diganggu oleh perasaannya yang goncang
karena melihat atau menghadapi guru yang goncang tadi.
Guru yang pemarah atau keras, akan menyebabkan anak didik
takut. Ketakutan itu dapat tumbuh dan berkembang menjadi benci. Karena takut
itu menimbulkan derita atau ketegangan dalam hati anak, jika ia sering
menderita oleh seorang guru, maka guru tersebut akan dijauhi agar dapat
menghindari derita yang mungkin terjadi.
Hari ini kondisi kita jauh lebih maju
daripada saat kita menyatakan merdeka. Saat republik berdiri, angka buta
hurufnya 95 persen. Saya membayangkan betapa berat beban para pemimpin republik
muda yang rakyatnya tidak mampu menulis, meski hanya menuliskan namanya
sendiri. Hari ini, angka buta huruf itu tinggal 8 persen.
Melek huruf adalah langkah awal. Langkah berikutnya adalah akses ke pendidikan berkualitas bagi tiap anak sebagai kunci mengonversi keterbelakangan jadi kemajuan. Garda terdepan dalam soal ini adalah guru. Di balik perdebatan yang rumit dan panjang soal pendidikan, berdiri para guru. Mereka bersahaja, berdiri di depan anak didiknya; mendidik, merangsang, dan menginspirasi. Dalam impitan tekanan ekonomi, guru tetap hadir untuk anak Indonesia. Hati mereka bergetar setiap melihat anak-anak itu menjadi "orang". Pada pundak guru, kita titipkan persiapan masa depan republik ini.
Sekarang kita menghadapi masalah variasi kualitas dan distribusi guru. Menghadapi masalah itu, kita bisa berkeluh kesah, menyalahkan, dan mengkritik. Tapi, kita juga bisa singsingkan lengan baju dan berbuat sesuatu. Saya sedang mengajak semua untuk turun tangan. Melibatkan diri dalam mempersiapkan masa depan republik; menyiapkan masa depan anak-anak negeri dan melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa.
Saya dan banyak kawan seide kini sedang mengembangkan program Indonesia Mengajar, sebuah inisiatif dengan misi ganda: Pertama, mengisi kekurangan guru berkualitas di sekolah dasar, terutama di daerah terpencil; dan kedua menyiapkan anak muda terdidik untuk jadi pemimpin masa depan yang memiliki kedekatan dengan rakyat kecil di pelosok negeri. [Guru Sebagai Garda Depan Indonesia, Anies Baswedan]
Melek huruf adalah langkah awal. Langkah berikutnya adalah akses ke pendidikan berkualitas bagi tiap anak sebagai kunci mengonversi keterbelakangan jadi kemajuan. Garda terdepan dalam soal ini adalah guru. Di balik perdebatan yang rumit dan panjang soal pendidikan, berdiri para guru. Mereka bersahaja, berdiri di depan anak didiknya; mendidik, merangsang, dan menginspirasi. Dalam impitan tekanan ekonomi, guru tetap hadir untuk anak Indonesia. Hati mereka bergetar setiap melihat anak-anak itu menjadi "orang". Pada pundak guru, kita titipkan persiapan masa depan republik ini.
Sekarang kita menghadapi masalah variasi kualitas dan distribusi guru. Menghadapi masalah itu, kita bisa berkeluh kesah, menyalahkan, dan mengkritik. Tapi, kita juga bisa singsingkan lengan baju dan berbuat sesuatu. Saya sedang mengajak semua untuk turun tangan. Melibatkan diri dalam mempersiapkan masa depan republik; menyiapkan masa depan anak-anak negeri dan melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa.
Saya dan banyak kawan seide kini sedang mengembangkan program Indonesia Mengajar, sebuah inisiatif dengan misi ganda: Pertama, mengisi kekurangan guru berkualitas di sekolah dasar, terutama di daerah terpencil; dan kedua menyiapkan anak muda terdidik untuk jadi pemimpin masa depan yang memiliki kedekatan dengan rakyat kecil di pelosok negeri. [Guru Sebagai Garda Depan Indonesia, Anies Baswedan]
Puluhan
tahun silam menjadi guru sangat sulit karena diukur dari kualitas dan prestasi,
pengabdiannya dibanggakan, ilmunya diterima, akhirnya dijadikan sebagai teladan
dalam hidup bermasyarakat. Tapi kini akibat terlalu banyaknya tampil
guru-guruan dalam arti menyandang predikat guru bukan berangkat dari niat yang
ikhlas serta minat yang mendasar lagi luhur. Hal ini menjadikan guru yang tidak
terlibat didalamnya yaitu guru betul-betul guru dengan segala atributnya ikut
tercemar.
Pameo lama,”Guru
kencing berdiri murid kencing berlari” nampaknya masih sering dianut
masyarakat kita, betapa tidak kalau murid melakukan adalahkesalahan dalam masyarakat orang akan berkata,”Pantas saja demikian karena
gurunya juga begitu”. Sebenarnya hal ini ditujukan kepada salah seorang guru
yang tidak disenangi, guru yang tidak berkualitas, guru yang tidak punya
wibawa. Demikian kerasnya penilaian masyarakat kepada manusia yang disebut
sebagai guru.
Guru, digugu dan ditiru, walaupun telah usang istilah ini
masih relefan dengan dunia pendidikan sampai kapanpun, karena sebagai teladan
lansung bagi murid, baik di kelas maupun dalam aktivitas masyarakat luas. Pamor
itu akan pudar, julukan itu akan hambar di telinga kalau kita masih mendapati
beberapa guru yang penampilannya tidak layak sebagai guru seperti berambut
gondrong, ngebut di jalan, minum di kaki lima sambil berdiri pakai tangan kiri
pula, berjudi, mabuk-mabukan, menggandeng gadis sembarangan atau gurau tawa
dengan sesama teman yang menjurus kepada porno, minta rokok, atau boncengan
dengan murid.
Nampaknya hal di atas adalah manusiawi dan wajar di
lakukan oleh siapa pun tetapi masyarakat tidak menghendaki hal itu di lakukan
oleh guru, karena dia adalah cerminan masyarakat yang harus di ikuti segala
langkahnya.
Tugas guru bukan pada intelektualitasnya saja tetapi lebih jauh kepada kepribadiannya, baik dan pintar, otak dan hati sasarannya. Untuk menjadi pintar telah banyak usaha guru dikerahkan dalam bentuk transpormasi dan transfer ilmu pengetahuan, lugasnya pengalihan ilmu kepada murid berlansung dengan berbagai kegiatan formal sepanjang mengarah kepada otak atau keterampilan. Sudah banyak jasa guru dalam mencetak kader bangsa yang berkualitas, baik level daerah sampai tingkat internasional.
Dengan
demikian berarti kehadiran guru yang berkualitas sangat diperlukan dalam
mencetak kader bangsa disamping pintar juga baik. Dr. Zakiah Drajat sangat
menekankan sekali agar seorang guru memiliki kepribadian. Faktor terpenting
bagi seorang guru ialah kepribadiannya, kepribadian itulah yang akan menentukan
apakah ia kembali menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya,
atau akan jadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak didik, terutama
bagi anak didik yang masih kecil dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan
jiwa.
Demikian besarnya peran seorang guru dalam mendidik
muridnya menjadi pemimpin dimasa yang akan datang, dikerahkan segala potensinya
untuk itu, patut kiranya dihargai dan dihormati selayaknya seorang guru,
sehingga wajar bila Ali bin Abi Thalib menyatakan; "Aku adalah hamba
bagi seorang guru yang telah mengajarku walaupun hanya satu huruf, jika ia
menghendaki menjualnya, juallah aku, jika ia menghendaki memerdekakannya
merdekakanlah aku, dan jika ia menghendaki menjadikan aku seorang budak,
jadikanlah aku seorang budak".
Nabi Muhammad Saw bersabda; "Siapa saja yang
mengajarkan seorang hamba sebuah ayat saja dari kitab Allah, maka ia menjadi
tuannya [menguasainya]".
Kesuksesan
seorang guru sehingga menjadi figur yang membanggakan muridnya, sampai kapanpun
murid tidak akan lupa dengan gurunya walaupun sang guru tidak tahu lagi siapa
dan sudah berapa murid yang menerima pelajaran dan teladan darinya. Sekedar
mengajar saja mungkin tidak begitu sulit tapi menampilkan keteladan akan lebih
lama bersemayam pada anak didik, keteladananlah yang akan membawa keberhasilan
seorang guru. Guru pada hakekatnya juga seorang ulama yang berkewajiban untuk
menerangi kehidupan manusia menuju kebahagiaan di dunia dan kampung akherat
yang menyenangkan.
Suatu
ketika Hasan Al Bisyri didatangi oleh para budak, mereka mengharapkan agar
beliau besok jum’at berkenan menyampaikan khutbah tentang pembebasan budak dan
keutamaannya. Mereka sangat antusias sekali akan merdeka bila mendengar fatwa
sang ulama sekaliber Hasan Al Bisyri. Dua dan tiga minggu, dua dan tiga bulan
hingga mendekati setahun belum juga terdengar fatwa itu, walaupun sang ulama
sudah sering pula menyampaikan khutbah dengan tema lain. Tepat satu tahun
permohonan pada budak itu dikabulkan oleh Hasan Al Bisyri dengan berapi-api
disambut dengan kesadaran oleh para tuan untuk memerdekakan budaknya.
Tentu saja para budak
bertanya, kenapa sekarang mereka bisa merdeka ? tidak setahun yang lalu
? sang ulama kharismatik itu menjawab,”Ketika
kalian datang kepadaku pertama kali tentang itu, aku tidak berdaya dan tidak
mampu menyampaikannya. Sekaranglah baru saya punya uang, tadi pagi saya sudah
memerdekakan seorang budak”, itulah sebuah keteladanan yang dicontohkan
oleh ulama kita dahulu.
Dunia ini akan indah, baik dan selamat bila para guru dan ulamanya
mengajarkan ilmunya dan dia juga mengamalkan ilmunya itu, siap tampil sebagai
teladan dengan akhlak terpuji. Para nabi dan rasulpun tampil ke dunia ini
berperan sebagai guru bagi ummatnya bahkan sebelum mereka menjadi seorang guru
dan rasul maka sang nabi tadi harus berguru dulu dengan guru lain, artinya di
atas langit ada langit, sebagaimana kisah nabi Musa yang harus berperan sebagai
murid sebelum menjadi guru di komunitasnya.
Nabi
Musa pernah ditanya oleh muridnya tentang orang yang paling pintar saat itu,
maka dia menjawab bahwa dialah orang yang paling pintar. Tidak begitu lama
Allah menegur Musa bahwa masih ada hamba Allah yang lebih pintar daripadanya.
Musa bermaksud mencari orang tersebut
dengan muridnya yang bernama Yusa' bin Nun. Pertemuan Musa dengan orang yang
dimaksud terjadi dipertemuan dua lautan, dua lautan tersebut ada perbedaan
pendapat ulama adalah laut Arab dan laut Merah,
laut Tengah dan laut Atlantik dan ada yang mengatakan Laut asin dan laut
Tawar [muara sungai Nil].
Dengan berbekal seadanya di tengah
perjalanan mereka makan lalu ikan mereka yang tinggal sebelah melompat ke laut,
Musa yakin bahwa inilah tempat yang dikatakan Allah, akhirnya Musa bertemu
dengan orang yang dicari, orang yang dimaksud ialah nabi Khidir, sang guru
mulai mengajar muridnya dengan metodenya.
Nabi Khidir mengajukan syarat
belajar itu diantaranya adalah sabar sedangkan Khidir mengetahui karakter Musa
adalah seorang pemuda yang tidak sanggup berlaku sabar; " Dia menjawab:
"Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku, Dan
bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan
yang cukup tentang hal itu? Musa berkata: "Insya Allah kamu akan
mendapati Aku sebagai orang yang sabar, dan Aku tidak akan menentangmu dalam
sesuatu urusanpun".[18;67-69]
Karena tekad yang luar biasa untuk mendapatkan ilmu
dari orang yang lebih pintar dari dia, Musa berjanji akan siap untuk sabar
selama menuntut ilmu;
Syarat kedua dalam menuntut ilmu adalah tidak banyak
bertanya selama pelajaran sedang berlansung apalagi belum dijelaskan maksud dari pelajaran itu; "Dia
berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku
tentang sesuatu apapun, sampai Aku sendiri menerangkannya kepadamu".[18;70]
Ketika perjalanan mencari ilmu sedang berlansung,
tiba-tiba Khidir melubangi perahu sehingga mengundang protes dari Musa, dari
peristiwa itu kembali Khidir menuntut kesabaran dari muridnya; "Maka berjalanlah
keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa
berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan
penumpangnya?" Sesungguhnya kamu Telah berbuat sesuatu kesalahan yang
besar" "Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah Aku Telah berkata:
"Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku, Musa
berkata: "Janganlah kamu menghukum Aku Karena kelupaanku dan janganlah
kamu membebani Aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".[18;71-73]
Akhirnya Khidir memaklumi sikap Musa dan menerima
sikapnya yang lupa untuk berlaku sabar, namun tiba-tiba kembali Musa dikagetkan
pada peristiwa diluar kewajaran, Kidhir membunuh anak kecil yang tidak berdosa,
hal itu memancing kembali kemarahan Musa yang
tidak sabar melihat peristiwa itu; "Maka berjalanlah keduanya;
hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, Maka Khidhr membunuhnya.
Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan Karena dia
membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu Telah melakukan suatu yang mungkar, "Khidhr
berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya kamu tidak
akan dapat sabar bersamaku?"Musa berkata: "Jika Aku bertanya kepadamu
tentang sesuatu sesudah (kali) ini, Maka janganlah kamu memperbolehkan Aku
menyertaimu, Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku"[18;74-76]
Musa berjanji kesalahan kedua ini dapat dimaafkan,
bila terjadi lagi maka dia siap menerima sangsi apapun yang diberikan sang
guru, sehingga perjalananpun berlanjut
terus hingga sampai pada sebuah kampung, di dalam kampung itu ada rumah yang sudah roboh, Khidir mengajak Musa
untuk memperbaikinya Kembali
Musa memprotes dengan mengajukan usul
kepada Khidir atas kejadian yang mereka alami; Maka keduanya
berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka
minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau
menjamu mereka, Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah
yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata:
"Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".[18;77]
Sudah tiga kali kesabaran Musa diuji dan kenyataannya
memang dia tidak mampu bersabar dalam perjalanan itu, sesuai dengan janjinya
bahwa kalau dia sudah tiga kali mendapat
teguran dari guru maka Musa siap untuk diberi sangsi atas kesalahannya itu,
Khidir lansung memberikan vonis untuk berpisah
hari itu juga, tapi sebelum berpisah Khidir memberikan kesempatan kepada
Musa untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi dibalik itu, dengan seksama
Musa menerima ilmu yang selama ini belum pernah dia peroleh;
Khidhr
berkata: "Inilah perpisahan antara Aku dengan kamu; kelak akan
kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar
terhadapnya, dapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja
di laut, dan Aku bertujuan merusakkan bahtera itu, Karena di hadapan mereka ada
seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.
Dan
adapun anak muda itu, Maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami
khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan
kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka
dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam
kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).
Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua
orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi
mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu
menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan
simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah Aku melakukannya itu
menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang
kamu tidak dapat sabar terhadapnya"[18;78-82]
Seorang
guru memang harus lebih dari muridnya pada segi ilmu sehingga membuat simpati
serta kagum murid kepada muridnya, itulah makanya guru itu adalah orang-orang
yang diharapkan banyak ilmu dan pengamalannya, kuat imannya dan tidak sedikit
amal shaleh yang dimiliki, semakin tinggi kedudukannya di mata manusia karena
bergelar guru, dosen, profesor atau serenceng gelar lain yang menunjukkan
prestasi dan prestisenya sebagai guru, hal itu tidak menyilaukannya, karena
bagaimanapun dia adalah hamba yang mendapat gelar pahlawan tapi tanpa tanda
jasa walaupun banyak jasa dan pengabdiannya untuk membebaskan manusia dari
kebodohan, tak banyak pintanya dari waktu ke waktu, beri peluang untuk
mengajar, mendidik anak bangsa ini walaupun tak sebanding imbalan yang diterima
dibanding dengan pengabdian, guru tetaplah guru walaupun muridmu sudah jadi
orang besar memimpin bangsa ini, wallahu a'lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/
Agustus 2010.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar