Selasa, 15 Desember 2015

71. Sekuler



Rasulullah bersabda,”Seorang anak dilahirkan dalam keadaan suci [fithrah] maka ayah dan ibunya yang menjadikan beragama Yahudi, Nasrani atau Majudi” [HR.Bukhari]. berangkat dari hadits ini bahwa kehadiran anak di dunia ini akan dihiasi oleh coretan dari orangtuanya, baik orangtua dalam keluarga itu, guru ataupun masyarakat. Bila coretan yang diterima baik maka baiklah lukisan yang terpampang di kanvas.

Orangtua harus khawatir dengan generasi yang ditinggalkannya. Anak disamping karunia Allah dia juga sebagai amanah yang harus dididik dengan nilai-nilai agama agar fithrah yang dibawanya sejak lahir dapat tumbuh dan berkembang sebagai generasi yang sempurna ketaqwaannya sebagaimana Nabi Ibrahim berdoa;”Wahai Tuhanku, jadikanlah aku ummat yang mendirikan shalat dan demikian juga anak cucuku dan keturunanku. Wahai Tuhanku, perkenankanlah doaku, wahai Tuhanku, ampunilah aku dan juga kedua ibu bapakku dan bagi orang-orang mukmin pada hari terjadi perhitungan”[Ibrahim 13;40-41].

Dalam hal mendidik anak, Ibnu Khaldun maupun Ibnu Shina memberikan satu konsep, yaitu pengajaran Al Qur’an adalah sebagai basis [dasar] bagi permulaan dari berbagai kurikulum pendidikan yang mesti diajarkan dan diterapkan kepada anak-anak sesuai dengan sabda Rasulullah Saw, ”Didiklah anak-anakmu dengan tiga perangai; cinta kepada nabimu, cinta kepada kaum kerabatnya dan cinta dalam membaca Al Qur’an, bakal berada dalam naungan Allah kelak pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya” [HR. Thabrani].

Dalam hadits lain beliau kembali menegaskan,”Suatu pahala akan diberikan kepada orangtua yang mengajarkan Al Qur’an kepada puteranya, pada hari kiamat nanti akan mendapat mahkota di dalam syurga”[Thabrani]. Disabdakan lagi,”Rumah yang sering dibaca Al Qur’an didalamnya akan terbayang oleh penghuni langit sebagaimana bintang-bintang terbayang oleh penduduk bumi” [HR. Al Baihaqi dan Aisyah].

Peran orangtua dalam mencetak generasi qur’ani dalam rumah tangga bukan sekedar tanggungjawab saja tapi mengandung nilai ibadah disisi Allah, tak heran jika Rasulullah bersabda,” Barangsiapa yang dikarunia anak perempuan lalu ia mengajarkannya akhlak mulia dan mendidiknya dengan baik, diberi makan bergizi, kelak amalannya itu akan menjadi penjaganya dari api neraka”.

Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum  memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan.Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan.Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi.

Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. “Gelar” dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab.
Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular.Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta akhlak kehidupan Muslim.Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis.

Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan para anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis [Tujuan Pendidikan dalam Islam , Cyber Sabili,  Selasa, 06 April 2010 04:30 Herry nurdi ].

KH. Mohamad Isa Anshory menjelaskan tentang bahaya sekulerisme terhadap dunia islam yang akan merusak semua tatanan kehidupan, semuanya diawali dari pendidikan, menjauhkan para siswa dari agama yang dianutnya bahkan menjadikan islam sebagai musuh dan penghalang dari kemajuan.

Kultur imperialisme Barat telah mewariskan semacam “mazhab pikiran” yang amat menyesatkan dunia Islam (Alam Islamy), ialah suatu pandangan hidup yang “serba dunia”, sekulerisme atau La Diniyah!

Faham sekulerisme membawa ajaran, Islam tidak perlu dibawa-bawa mengatur masyarakat. Agama adalah soal pribadi dan ukhrawi, persoalan dunia dan negara, persoalan masyarakat an kehidupan manusia seluruhnya, terserah kepada pikiran, otak dan rasio manusia. Tangan Tuhan tidak boleh ikut campur mengatur urusan manusia.

Ajaran imperialisme Barat itu tentu saja dalam rangka tujuan hendak meng-Kristenkan dan meng-Kafirkan umat Islam, hendak melikwidir Islam dari muka bumi.

Siasat jahat kaum imperialis ini mendapat ruang dan peluang yang lapang di negeri-negeri Islam yang dijajahnya. Kelakuan dan tindak-tanduk para penguasa dan kepala negara yang menyebut dirinya, “wakil Tuhan” di dunia, tetapi sudah menyimpang dari Qur’an dan Sunnah, telah menyekasikan kezaliman Sultan Abdul Hamid yang telah membawa malapetaka bangsa Turki dalam masa yang panjang.

Gerakan Turki Muda dengan pimpinan Mustafa Kamal berhasil menggulingkan kekuasaan Sultan yang zalim itu.Akan tetapi Mustafa Kamal tidak memberikan alternatif yang benar kepada rakyat yang sudah terlepas dari belenggu kezaliman itu.Kemalisme telah mengubah wajah Turki menjadi bangsa dan negara sekuler.
Segala yang berbau “Arab” dimusnahkan. Bahasa ibadah dilarang, karena ia adalah “Arab” yang harus dibasmi. Nasionalisasi dan rasionalisasi dilancarkan.Adzan dan iqamat harus diganti dengan bahasa Turki, tidak boleh lagi dengan bahasa Arab, karena Arab adalah malapetaka dan sumber bencana. Mustafa Kamal hendak membangun sebuah rumah melalui menghancurkan sebuah kota. Bangsa Turki yang pernah dalam sejarah mengambil alih dan meneruskan pimpinan dan kejayaan Islam, dipaksa dengan sekulerisme yang didatangkan dari Barat.

Mustafa Kamal emoh kepada Timur (Islam) dan dia berkiblat ke Barat.Kemalisme hendak membangun Turki Baru dengan jalan menindas kehidupan rohani, kehidupan jiwa bangsa Turki sendiri.Jika hanya menilainya dari satu segi, Mustafa Kamal memang seorang pahlawan.

Dia sukses dan jaya menjatuhkan rezim lama yang zalim.Dia telah diangkat menjadi “Bapak” Republik Turki, dan namanya diganti menjadi dengan Kemal Attaturk, Bapak Bangsa, sebagai tanda penghormatan dan penghargaan kepada jasanya.Tetapi, apakah dia seorang patriot yang sempurna, masih menjadi pertanyaan?Bahkan patriot yang sempurna harus mengenal betul jiwa bangsanya, nurani dan naluri bangsanya, isi dada, darah dan daging bangsanya?

Kalau Kemal kesal, dendam dan benci melihat praktek para Sulltan sebelum dia mengendalikan negara, orang seperti dia tentunya tahu, bahwa para Sultan itu telah menyimpang dan menyeleweng dari Qur’an dan Sunnah.

Kenapa justru Islam (hukum dan syariahnya) yang harus menerima hukuman pengebirian, dan menggantinya dengan sekulerisme Barat?Sekulerisme atau La Diniyah yang dipaksakan kepada bangsa yang telah berabad-abad menerima dan mengamalkan Islam yang malah telah membuat bangsa Turki menjadi besar dan jaya dalam sejarah.Pada hakekatnya Bapak Turki pada permulaan telah menanamkan bibit antipati dalam hati rakyat.Dia bukan saja tidak mendengar nurani dan naluri bangsanya, tetapi malah menentang hatinurani budi dan naluri bangsanya.

Berhasilkah dia menyembuhkan “Orang sakit Eropa” (Turki) itu dengan resep imperialis, ialah sekulerisme, paham yang memecah duniawi dan ukhrawi, menceraikan jasmani  dengan ruhani? Sejarah menyaksikan “Orang sakit” itu masih tetap belum mendapatkan kesembuhannya.Telah puluhan tahun sekulerisme memerintah bangsa Turki, tetapi bangsa itu tetap “Orang sakit” yang menunggu obat.

Tiga tahun yang lalu seorang sahabat yang pernah tinggal di Ankara, ibukota Turki, menceritakan kepada saya [KH.M.Isa Ansyari], bagaimana nasib malapetaka dan sengsara bangsa Turki sampai sekarang ini. Teman itu berkata, “Seorang penjabat tinggi negara Turki pernah berkata kepda saya dengan nada haru dan keluh kesah, bahwa suatu waktu  di Amerika melihat pembesar-pembesar pemerintah setiap hari minggu datang ke Gereja dengan anak isterinya. Ingin menjabat negara itu hal yang seperti itu berjalan di negerinya, dia ingin mellhat kehidpuan yang subur dinegerinya.

Kehidupan rakyat jauh dibawah taraf yang layak sebagai manusia yang adab.Ekonomi dan sosial rakyat belum mendapat perubahan. Jiwa dna nurani rakyat kering. Jika hendak mendirikan masjid atau madrasah harus meminta izin lebih dahulu kepada pemerintah.Sekulerisme sudah kehilangan akal dan kehabisan daya untuk mengendalikan rakyat Islam yang terkenal fanatik dan teguh hati.

Rakyat rindu kebebasan hidup beragama, kebebasan mengembangkan kodrat dan thaat.Rakyat rindu dan terkenang kepada sejarah lama, sejarah nenek moyang yang besar, warisan Islam. Teman itu pernah memberi nasehat kepada teman Turki seraya mengatakan, “.. Kalau Tuan ingin membangun negeri Tuan, ingin membangun kembali bangsa Turki, Tuan harus kembali memaki cara yang pernah menjayakan bangsa ini dahulu”, tukasnya.

Suatu bangsa yang agamanya telah menjadi darah daging, tidak mungkin ditegakkan dengan sistem yang bertentangandengan jiwanya. Sekulerisme mungkin berhasil dilaksanakan pada bangsa luar Islam. Jika revolusi Perancis gagal, karena rakyat tidak mendapatkan kebebasan dan dan kebahagiaan dalam soal ekonomi, maka Revolusi Turki Muda gagal, karena tidak berlandaskan semangat dan jiwa rakyat.Bukan di Turki saja, kita melihat adanya sekulerisme.Juga banyak negara-negara Islam yang menyebutkan undang-udang Dasarnya berdasar Islam, tetapi sistem perundang-undangnya menyimpang dari tuntunan syari’ah.
DR. Abdul Qadir Audah rahimahullah, seorang ulama Mesir, yang ikut menggulingkan rezim Farouk waktu Revolusi Mesir 1952, dalam bkunya, “Islam dan Perundan-Undangan” : “Sudah menjadi tabi’at Islam , bahwa ia merupakan dasar hukum pada tiap negeri yang telah dimasuksinya, dan bila Islam itu merupakan agama, maka ia menjadi syariat yang sempurna tiap-tiap muslim.

Karenanya, syari’at Islam adalah undang-undang yang satu-satunya bagi tiap-tiap bagi negeri Islam sejak Islam menjelma ke negeri itu, dan hal seperti itu berlangsung sampai imperialisme berkuasa menggagahi negeri-negeri Islam itu.Maka masuklah Perundang-undangan Eropa ke negeri-negeri Islam, atau karena pemimpin Islam itu telah dapat ditipu oleh imperialis Barat.Itulah awalnya bencana yang terjadi di dunia Islam yang menghancurkan umat Islam, dan seluruh struktur kehidupannya.

Hendaklah umat Islam mengerti, bahwa Islamlah yang menciptakan mereka, menjadikannya sebaik-baik umat yang dibangkitkan untuk manusia, dan menyebabkan mereka dulu bisa berkuasa diatas kekuasaan-kekuasaan dunia, dan syariat Isalm itulah yang mengajar dan mendidik mereka, merasakan artinya mulia dan jaya, memberikan kekuatan dan cita-cita, melahirkan pahlawan-pahlawan yang membuka negeri-negeri Islam.
Syariah Islamlah yang membawa manusia kepada persamaan yang sesungguhnya dan keadilan yang mutlak, dan mewajibkan mereka bekerjasama diatas dasar kebaikan dan taqwa, dan bahwa mereka mengajak yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar. Sekulerisme dan La Diniyah tidak ada hubungannya dengan kehidupan kaum Muslimin.[KH. Mohamad Isa Anshory, Bahayanya Sekulerisme - La Diniyah, Eramuslim.com, Jumat, 20/05/2011 15:43 WIB].

Generasi yang berkualitas itu hanya akan lahir dari sistem dan konsep pendidikan Islam, bukan dari konsep pendidikan sekuler, materialis dan kapitalis. Generasi yang bermutu ialah generasi muda yang beriman kepada Allah dan selalu menjadikan petunjuk Allah (Al-Qur’an) sebagai rambu-rambu kehidupan.Generasi muda yang memiliki hati yang bersih dan kasih sayang terhadap orang tua, keluarga dan masyarakatnya.Generasi yang berpendirian teguh dan tidak terpengaruh oleh lingkungan dan pergaulan yang tidak sehat, dan bahkan mereka yang mempengaruhinya ke arah kebaikan.Generasi yang berani menegakkan kebenaran dan menolak kebatilan, apapun resiko yang harus mereka alami.Generasi yang berani mengatakan bahwa Tuhan yang kami sembah dan taati adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini. Generasi yang tidak akan pernah tunduk kepada tuhan selain hanya Allah karena mereka mengetahui dan menyadari bahwa ubudiyah (ibadah dan taat) kepada tuhan selain Tuhan Allah adalah kehancuran dan kebinasaan di dunia dan akhirat. [Ustadz Fathuddin Ja’far,Generasi Yang Kehilangan Orientasi Hidup,Eramuslim.com Kamis, 29/04/2010 20:34 WIB].

 Hudzaifah ibnu Al-Yamani pernah bertanya kepada Rasulullah saw.:
    "Wahai Rasulullah, apakah sesudah kebaikan ini akan ada masa keburukan?" Jawab Rasulullah:  "Ya., yaitu munculnya kaum yang mengajak orang lain ke neraka jahannam. Barangsiapa memenuhi ajakannya berarti telah menyiapkan dirinya untuk masuk neraka." Aku berkata: "Terangkanlah ciri-ciri mereka itu, wahai Rasulullah!" Jawab Rasul,  "Kulit mereka sama dengan kulit kita dan mereka bicara dengan bahasa kita."

    Beliau mengemukakan Hadits tersebut, karena menyesalkan sekali adanya orang-orang yang bersikap kebarat-baratan justru dari kalangan kita sendiri, warna kulitnya sejenis dengan kita, bahasanya sama dengan kita, bahkan semboyannya pun seperti semboyan kita. Namun mereka membelakangi sumber-sumber ajaran Islam berupa Al-Quran, Hadits, dan Sejarah Islam.Sebaliknya mereka hadapkan wajah dan hati mereka kepada sumber-sumber Barat.Kemudian mereka menuduh dan membohongkan Islam seperti yang diperbuat orang Barat.

   Menurut Syeikh Ahmad Jamal, pengaruh itu masuk ke orang Islam lantaran salah satu dari 3 hal:
   1. Karena mereka belajar di perguruan tinggi Barat, Eropa atau Amerika.
   2. Karena mereka belajar di bawah asuhan orang-orang Barat di perguruan tinggi di dalam negeri mereka sendiri, atau
   3. Karena mereka hanya membaca sumber-sumber dari Barat di luar tempat-tempat pendidikan formal dengan mengenyampingkan sumber-sumber Islami, karena tidak tahu atau karena ingin menyombongkan diri, yakni menganggap remeh terhadap sumber-sumber Islam.

    Kalau sudah demikian, tanggung jawab siapa?
    Kembali Syeikh Ahmad Jamal mengulasnya, bahwa itu adalah tenggung jawab kita --ummat Islam-- juga.Kenapa?Karena, kitalah yang mengirim mereka ke sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Barat dengan aneka alasan.Pengiriman mahasiswa itu tanpa membekali antisipasi untuk mencegah keraguan-raguan yang ditanamkan guru-guru Barat, dan kita tidak menyediakan untuk mahasiswa itu citra dan syiar Islam serta bentuk rumah tangga dan negara yang benar-benar Islami.Hingga kita tidak bisa meluruskan mereka ketika bengkok.

   "Ya, kita mengirim mereka ke perguruan-perguruan Barat, namun kita tidak membangun rumah Islam buat mereka yang dapat melindungi mereka dari panah dan hembusan beracun orang-orang Barat." tulis Ahmad Muhammad Jamal.

    Dengan tandas, Ustadz itu mengemukakan bahwa di samping bahaya tersebut, masih pula kita mendatangkan tenaga-tenaga pengajar dari Barat untuk memberikan pelajaran di perguruan-perguruan dan universitas-universitas kita.Dapat dipastikan, tenaga-tenaga Barat itu menyampaikan kepentingan-kepentingan mereka sebagaimana yang dilakukan rekan-rekan mereka di negara Barat, yaitu meracuni dan menimbulkan rasa antipati terhadap Islam.

    Faktor-faktor itu masih pula ditambah dengan kesalahan kita yaitu membuka pintu lebar-lebar untuk penyebaran kebudayaan Barat, sehingga orang kita begitu saja membenarkan apa-apa yang datang dari Barat dan menerimanya bula-bulat.  

    Akibat dari itu semua, Ustadz Ahmad Muhammad Jamal (68th) yang wafat di Kairo Mesir pada Hari Arafah 1413H itu mengemukakan peringatan yang cukup tandas:

            "Dengan terjadinya hal-hal semacam itu maka juru da'wah Islam hanya dapat berteriak di lembah sunyi dan di padang yang lengang, bahkan mereka hanya dapat membacakan do'a kepada ahli kubur.Hanya sedikit pemuda Muslim yang diselamatkan oleh Allah.Yang sedikit inipun selalu dihalang-halangi kelompok jahat yang mayoritas itu dengan berbagai jalan.Setiap orang beriman ditekan, diintimidasi dan dirintangi dari menjalankan agama Alah."[H Hartono Ahmad Jaiz, Tasawuf, Pluralisme, &Pemurtadan;Membentengi Ummat dari Sekulerisasi dan Penyimpangan Pemikiran,navigasi & konversi ke format html: nono 2005].

Kehadiran  para sekuler di negara kita walaupun mereka anak-anak kita yang telah dididik dengan materi kebarat-baratan, mereka itu merupakan kaki tangan dari para orientalis yang akan merusak islam dan ummatnya, Kalau kita ingin melahirkan generasi sebaik dan setara generasi yang ada pada masa Rasulullah maka kita harus mengikuti cara-cara, sistim dan  kurikulum yang ada pada masa itu, yang semuanya harus berangkat dari konsep hijrah dari pendidikan sekuler kepada pendidikan yang islami, wallahu a'lam[Kubu Dalam Parak Karakah Padang, 13 Rajab 1432.H/ 14 Juni 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar