Seorang Arab Baduy datang menemui
Rasulullah Saw dengan maksud akan masuk Islam, yaitu agama baru yang dia
ketahui dari masyarakat Quraisy yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Pemuda itu
hidup bergelimang jahiliyah dengan berbagai aktivitas maksit yang ukurannya hal
demikian wajar dilakukan, dia berkata, ”Ya Muhammad saya mau masuk Islam”.
Rasul menyodorkan persyaratan,
”Ucapkanlah kalimat syahadat”, dia protes, ”Mengucapkan dua kalimat syahadat
bagi saya sangatlah mudah, saya ingin masuk Islam, tapi untuk saya boleh
berjudi, berzina, mabuk-mabukan, mencuri dan kegiatan lainnya yang sudah jadi
kebiasaan kami disini...”.
Mendengar itu para sahabat geram,
”Ya Rasulullah, izinkan aku memukul pemuda ini” kata Umar bin Khattab, tapi
Rasul bisa meredam kemarahan para sahabatnya. Sambil mendekati pemuda itu,
kembali beliau bertanya, ”Apa yang kamu maksud wahai anak muda?”. Sang pemuda
menjawab, ”Ya itu tadi, aku mau masuk Islam tapi kebiasaan buruk saya tidak
terhalang untuk dilakukan seperti erjudi, mencuri, berzina dan lainnya”.
Dengan ketulusan hati Rasulullah
memeluk pemuda itu sambil bertanya,
”Apakah kamu punya ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan punyakah engkau
seorang isteri?”. dia mengangguk berarti punya, Rasul bertanya, ”Wahai pemuda,
Bagaimana kalau ibumu, anak perempuanmu, isterimu, dan saudara perempuanmu
dizinahi oleh orang lain sebagaimana kamu berazina dengan orang lain”.
Dengan muka merah dan rasa malu
mendalam, dia tersinggung dan tidak menyangka kalau ada pertanyaan demikian.
Geram sekali dia, sambil mengepalkan tinjunya dia berteriak, ”Tidak ya
Muhammad, aku mau masuk Islam tanpa syarat itu”, lalu dia ucapkan kalimat
syahadat, ”Asyhadu anla Ilaha Illallah waashadu anna Muhammad Rasulullah”.
Sebuah realitas sejarah
mengungkapkan kepada kita bahwa pemuda yang baru masuk Islam, siap meninggalkan
segala perbuatan maksiat dengan meninggalkan syarat itu. Sebuah kesaksian
menunjukkan bahwa bila seseorang telah mengucapkan syahadat sebagai kemestian masuk
ke dalam Islam harus meninggalkan segala dosa, maksiat dan pelanggaran lainnya.
Sebenarnya inilah yang dimaksud oleh
Islam dengan istilah Inqilabiyah yaitu perombakan secara total dari pribadi
fasiq jadi muslim yang baik, dari jahiliyah menjadi islamiyah, atau istilah
lain yang disebut dengan shibghah yaitu celupan atau warna. Allah menerangkan
dalam surat Al Baqarah 2;138, ”Shibghatullah dan siapakah yang lebih baik
shibghahnya daripada Allah, dan hanya kepada-Nya kami menyembah”.
Seharusnya begitu seseorang
menyatakan diri sebagai muslim maka harus terjadi pada dirinya celupan atau
warna yang sesuai dengan kehendak Allah yaitu
aqidah yang salimah, ibadah yang shahihah, salamatul fikrah dan matiinul
khuluq [aqidah yang bersih, ibadah yang sehat, pemikiran yang jernih dan akhlak
yang baik].
Tapi yang kita temukan hari ini
adalah ummat Islam yang serba rajin, rajin beribadah tapi rajin pula menimba
maksiat, rajin mengikuti pengajian dan rajin pula berjudi sehingga kita sulit
untuk membedakannya, muslim atau kafir. Itulah makanya Sayid Qutb menyatakan,
”Masuklah ke dalam Islam keseluruhan atau keluar dari Islam keseluruhan”, Allah
berfirman, ”Kemudian kitab itu [Al Qur’an] Kami wariskan kepada orang-orang
yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang
menganiaya diri mereka sendiri, dan diantara mereka ada yang pertengahan dan
diantara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah”
[Al Fathir 35;32].
Secarik kain kita masukkan ke dalam
wantek berwarna biru, maka kain putih itu wajib berwarna biru semuanya, inilah
yang dimaksud dengan shibghah atau celupan. Bila kita muslim berarti seluruh
pribadi kita, keluarga kita, masyarakat kita harus mengacu kepada ajaran Islam
dengan kriteria ketiga sebagaimana ayat diatas yaitu orang yang lebih dahulu
berbuat kebaikan sebelum yang lainnya berfikir tentang kebaikan.
Bila ummat Islam masuk ke dalam
agama ini tanpa syarat seperti pemuda tadi, tentu tidak kita temukan para
pejabat yang memperkaya diri dengan harta haram, korupsi dan manipulasi. Kita
juga tidak akan menemukan politisi yang suka dengan suap, sogok atau apapun
namanya untuk menghalalkan segala cara, kita juga tidak akan menemukan pedagang
yang curang, mempermainkan harga, manipulasi kwitansi dan kebejatan lainnya.
Bila ummat Islam masuk Islam tanpa
syarat tentu tidak akan kita temukan para lelaki yang hidung belang mengganggu
wanita lain sebagaimana tidak sukanya dia bila ibunya, isterinya, anak
perempuannya dan saudara perempuannya diganggu oleh lelaki lain.
Bila ummat Islam masuk dienullah
tanpa syarat apapun tentu tidak kita temukan para wanitanya yang menjajakan
kemolekan dengan mengumbar aurat melalui pakaian minim, ketat, transparan dan
menor. Dan tidak kita temukan pornografi dan pornoaksi berkeliaran di
media-media cetak maupun elektronik.
Pemuda yang datang dari daerah Arab
pegunungan, desa terpencil yang kita kenal dengan Arab Baduy, dikala masuk
Islam tidak lebih dari sepuluh menit dia siap meninggalkan segala bentuk
kemaksiatan yang semuanya itu sudah menjadi budaya hidupnya sehari-hari.
Sungguh luar biasa, jarang kita temukan orang yang menjadikan sesuatu kebiasaan
menjadi budayanya bisa meninggalkan seketika.
Tidak sedikit kita temukan pendapat
yang mengatakan bahwa merokok itu makruh bahkan ulama Pakistan sepakat
menjatuhkan vonis haram kepada rokok. Mereka tahu bahwa merokok itu merusak
kesehatan, kantong dan kebugaran seseorang, tapi untuk meninggalkannya sangat
sulit sekali dengan berbagai alasan.
Tapi pemuda tadi, sungguh kuat azam
[tekad] nya mengubah posisinya dari seorang jahiliyyah menjadi seorang muslim
yang punya kepribadian istiqamah. Itulah makanya kalimat tauhid yang harus
diucapkan sebagai syarat masuk Islam mengandung arti yang sangat dalam. Bila
kita mengucapkan kalimat syahadat itu ”Laa Ilaaha Illallah” bukan hanya berarti
”Tidak ada Tuhan selain Allah”, tapi mengandung arti, bahwa yang disembah, yang
ditaati, yang dicintai, yang ditakuti azabnya, yang diharapkan balasan dan
rahmatnya, yang diikuti hukumnya, yang diakui kehebatannya, yang menghidupkan
dan mematikan, yang menentukan batas kehidupan alam ini, semuanya itu hanyalah
Allah semata.
Islam sebagai dienullah adalah agama,
aturan dan undang-undang yang diturunkan Allah. Banyak orang memberikan
pengertian islam tidak sebagaimana yang diharapkan oleh Islam itu sendiri, ada
yang mengartikan dengan Isya, Subuh, Luhur, Ashar dan Maghrib, dan ada pula
yang mengartikan dengan kata “selamat” dan “sejahtera”, bahkan yang lebih jauh
menyimpang lagi pengertian islam diartikan dengan fanatik, bodoh, fundamentalis, ekstrimis, teroris dan julukan
lain yang bernada sinis serta negatif.
Pengertian islam yang sebenarnya adalah;
Pertama, islam
artinya kesejahteraan dan keselamatan, artinya seorang yang masuk islam harus
merasakan keselamatan dan memberikan keselamatan kepada orang lain, sebagaimana
Rasulullah menyabdakan bahwa muslim itu adalah yang selamat orang lain dari
lidah dan tangannya;
“Dengan Kitab Itulah Allah menunjuki
orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan
Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada
cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan
yang lurus’ [Al Maidah 5;16].
Kedua, islam artinya
adalah jenjang keatas atau tangga untuk naik, artinya status manusia tidak
ditentukan oleh sosialnya tapi ditentukan oleh tingkat keimanannya, untuk
mencapai tingkat keimanan tersebut melalui tahap, ibarat anak tangga. Seorang
yang telah menyatakan diri sebagai muslim maka kedudukannya di hadapan Allah
tinggi, apalagi dia mampu mencapai derajat taqwa;
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah
(pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi
(derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”[Ali Imran 3;139]
Ketiga, islam artinya penyerahan diri secara total
kepada Allah. Sebagai muslim harus pasrah atas segala aturan-Nya baik peraturan
itu yang berat apalagi yang ringan, baik dalam suka maupun dalam duka;
“
Katakanlah: "Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang
tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan
kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah
Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang Telah disesatkan oleh
syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai
kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan):
"Marilah ikuti kami". Katakanlah:"Sesungguhnya petunjuk Allah
Itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri
kepada Tuhan semesta Alam”[Al An’am 6;71],
Keempat, islam
artinya tunduk dan pasrah atau menyerah atas segala aturan dan perintah Allah
sebagai konsekwensi iman yang istiqamah;
“ Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila
mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di
antara mereka[1045] ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh".
dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.”[An Nur 24;51]
Kelima, pengertian islam adalah cara hidup yang
datang dari Allah, dia bukan buatan Muhammad, bukan ciptaannya dan bukan pula
jiplakan dari dien-dien terdahulu;
“Sesungguhnya
agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang
yang Telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka,
Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.’[Ali Imran
3;19]
“Barangsiapa mencari agama selain agama islam,
Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di
akhirat termasuk orang-orang yang rugi”[Ali Imran 3;85].
Demikian pula halnya islam mempunyai
makna; cara hidup yang datang dari Allah yang telah dipraktekkan oleh
Rasulullah dan para sahabat, dia bukanlah teori yang kosong dari aplikasi
[8;73], ajarannya mencakup seluruh asfek kehidupan, bukan hanya membicarakan
akherat saja tapi semua segi kehidupan manusia; pendidikan, kebudayaan,
ekonomi, iptek, politik, negara dan undang-undang [2;208].
Islam itu milik Allah bukan milik yang
lain, seseorang untuk masuk ke dalam islam tidak pernah dipaksa-paksa, manusia
bebas untuk memilih jalan yang terbaik menurutnya, bahkan bila manusia semuanya
menolak ajaran Allah maka tidak akan merendahkan derajat serta posisi Allah,
demikian pula bila semua manusia menerima ajaran Islam yang diwahyukan Allah
maka tidak akan meninggikan keberadaan-Nya, Allah tidak dipengaruhi oleh
manusia, Dia berkuasa dan tidak membutuhkan bantuan orang lain;
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama
(Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.
Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah,
Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak
akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui’[Al Baqarah 2;256].
Seorang mukmin yang mengakui ajaran islam
dan siap untuk mengikutinya maka tidak boleh mengkompromikan konsep Allah ini
dengan konsep-konsep bathil lainnya, seluruh ajaran islam telah baku dan
berlaku untuk siapa saja, dia harus diterima secara bulat [8;42] sehingga
ucapan Sayyid Qutb patut kita cermati,”Masuklah ke dalam islam keseluruhan atau
tinggalkan islam keseluruhannya” inilah sikap hidup yang tegas yang harus
diambil oleh manusia, mau kafir silahkan dan mau beriman boleh juga.
Itulah pengertian dan makna islam yang dipaparkan oleh Al Qur’an dan Hadis
Rasulullah, kewajiban kita untuk mempelajarinya, mengkaji, menghayati,
mengamalkan dan menda’wahkan ke tengah masyarakat, jangan kita sebagaimana yang
diibaratkan oleh Rasulullah,”Al Islam ya’lu wala yu’la ‘alaih” artinya islam
itu tinggi dan tidak ada yang dapat mencapai ketinggiannya, tapi umatnya tetap
rendah karena tidak mau memasuki dirinya ke dalam lautan islam yang luas, tidak
mau menaiki ketinggian islam dengan mengamalkannya. Posisi seorang muslim akan
meningkat di hadapan Allah tergantung sejauh mana dia mau dan mampu mengamalkan
ajarannya dalam kehidupan sehari-hari
dalam pribadi, keluarga, masyarakat dan bernegara.
Banyak orang yang salah faham terhadap
Islam sehingga memaknai dengan versi negaif; fanatik, fundamentalis, teroris,
ekstrimis dan julukan lainnya sehingga membuat imej buruk di tengah kehidupan
ini, padahal islam itu adalah agama yang diturunkan Allah untuk menggantikan
peran-perang agama-agama yang telah lalu, karena memang agama terdahulu itu
diturunkan Allah hanya untuk satu kaum saja, ia ibarat obor yang menerangi satu
kamar saja, sedangkan islam untuk seluruh manusia, perannya ibarat seperti matahari
menerangi seluruh alam.
Islam
bukanlah agama parsial yang hanya membahas dan membicarakan satu atau sebagian
saja tentang hidup ini, tapi agama universal yang mencakup seluruh asfek
kehidupan [2;208]. Namun demikian secara garis besar dia dapat disebutkan dalam
empat kelompok saja yaitu;
Pertama, aqidah yaitu perbincangan
sekitar keimanan dan seluk beluknya. Iman seseorang mukmin harus terhunjam di
dada [8;2], terucap melalui lisan [24;51], dan teraplikasi melalui amal
perbuatan [2;25, 103;1-3], salah satu saja tidak terpenuhi berarti
dipertanyakan iman seseorang.
Kedua, islam juga membicarakan tentang
syari’ah yaitu seluruh aturan hidup yang dilembagakan oleh ajaran Allah, baik
masalah ibadah mahdhoh serta aturan muamalah lainnya, yang semua itu terbingkai
oleh iman dan ibadah yang termotivasi dihati dengan istilah ikhlas yaitu hanya
mencari ridha Allah [98;5].
Ketiga, yang tidak kalah pentingnya
dari dua hal diatas yaitu akhlak adalah
segala prilaku seorang muslim dalam bertindak di tengah masyarakat, baik terhadap
Allah,orangtua, guru bahkan terhadap alam semesta
Keempat, yaitu ilmu pengetahuan dan
tekhnologi dengan tidak melupakan siroh atau sejarah manusia di dunia,
khususnya dunia islam dan perkembangannya.
Dari
keempat ruanglingkup tersebut yang sangat penting adalah iman, merupakan
fondasi untuk menentukan pilihan seorang sebagai muslim, kafir, munafiq atau
fasiq. Itulah makanya Rasulullah menempatkan pembinaan ummat yang prioritas
sekali adalah penataan iman dihati ummatnya, rusaknya manusia diabad kapanpun
saja juga diawali dari rusaknya iman,demikian pula untuk memperbaiki ummat ini
diawali dari pembenahan iman.
Memahami
islam secara menyeluruh adalah penting walaupun tidak secara detail. Begitulah
cara paling minimal untuk memahami agama agar menjadi pemeluk yang mantap dan
untuk menumbuhkan sikap hormat bagi pemeluk agama lainnya. Juga untuk
menghindari kesalahfahaman yang memungkinkan timbulnya pandangan dan sikap
negatif terhadap islam. Maka untuk memahami islam secara benar ialah dengan
cara-cara sebagai berikut;
Islam harus dipelajari dari sumbernya yang
asli yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Kekeliruan memahami islam karena
orang hanya mengenalnya dari sebagian ulama-ulama dan pemeluk-pemeluknya yang
telah jauh dari pimpinan Al Qur’an dan Sunnah. Atau pengenalan terhadap kitab
fiqh dan tasauf yang telah tua ketinggalan zaman yang kebanyakan bercampur
dengan bid’ah dan khuraafat. Mempelajari islam dengan jalan demikian itu,
menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk islam yang sinkritisme, hidup penuh
bid’ah, kurafat, artinya ibadah dan kepercayaannya bercampur aduk dengan
hal-hal yang tidak islam, jauh dari ajaran islam yang murni.
Islam harus dipelajari secara integral,
tidak dengan cara parsial, artinya dipelajari secara menyeluruh sebagai satu
kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. Apabila islam dipelajari secara
sebagian saja dari ajarannya, apalagi yang bukan pokok ajaran dan dalam bidang
masalah khilafiah, maka tentulah pengetahuannya tentang islam seperti yang
dipelajarinya, yaitu sebagian kecil dari masalah dan bukan pokok.
Islam perlu dipelajari dari kepustakaan
yang ditulis oleh para ulama besar, kaum zhu’ama dan sarjana-sarjana islam.
Pada umumnya mereka memahami islam secara baik, pemahaman yang lahir dari
perpaduan ilmu yang dalam terhadap Al Qur’an dan sunnah Rasulullah dengan
pengalaman yang indah dari praktek ibadah yang dilakukan setiap hari.
Kesalahan sementara orang mempelajari
islam ialah dengan jalan mempelajari ummat islam an sich, bukan agama islam
yang dipelajarinya, setiap konservatif sebagian golongan islam, keterbelakangan
dibidang pendidikan, keawaman, kebodohan, disintegrasi dan kemiskinan
masyarakat islam itulah yang dinilai sebagai islamnya itu sendiri. Tak ada
suatu kesalahan besar melainkan dengan cara semacam ini.
Islam disebut dengan agama universal atau
mendunia karena beberapa hal yaitu;
Pertama, kehadirannya untuk seluruh
manusia di dunia ini, bukan untuk orang Arab saja walaupun beliau Nabi Muhammad
bangsa Arab dan tidak terbatas untuk satu bangsa manapun. Dari suku bangsa
manapun layak dan berhak untuk memperoleh hidayah iman dan islam dengan cara
mempelajarinya;
“Maha Suci Allah yang Telah menurunkan Al
Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada
seluruh alam”[Al Furqan 25;1]
Kedua,
islam itu untuk seluruh manusia dimanapun dia berada tanpa dibatasi oleh wilayah sebuah negara; “Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan
kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai
pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui”[Saba 34;28]
Ketiga, dalam menjalankan aturan islam
tidak ada kesulitan,semua manusia mampu untuk melakukannya sesuai dengan
kualitas iman seseorang, menurut situasi dan kondisi; .
“Dan berjihadlah
kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. dia Telah memilih
kamu dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu
kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. dia (Allah) Telah menamai
kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu[993], dan (begitu pula) dalam (Al
Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua
menjadi saksi atas segenap manusia, Maka Dirikanlah sembahyang, tunaikanlah
zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. dia adalah Pelindungmu, Maka
dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.”[Al Hajj 22;78]
Keempat, islam yang dibawa oleh Nabi
Muhammad itu adalah wahyu Allah untuk kepentingan manusia, tentu Allah tahu apa
kepentingan dan aturan yang layak untukmanusia sesuai dengan fithrahnya, sebab
Dia adalah Khaliq yang menciptakan makhluk; “ Dan tiadalah yang diucapkannya itu
(Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah
wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”[An Najm 53;3-4].
Kelima, ajaran islam yang dibawa Nabi
Muhammad tersebut, semuanya mengajarkan kepada kebaikan, yang kebaikan itu
untuk keselamatan manusia, baik di dunia hingga akherat, tidak ada satu
ajaranpun yang mengajak ummat ini untuk celaka. Disamping itu islam adalah
agama yang tidak mudah terkontaminasi oleh ajaran dan budaya lain, dia tidak
terpengaruh oleh tempat dan waktu, sampai kapanpun dia dijamin oleh Allah
keasliannya.
Itulah
islam yang sudah diawali oleh para nabi dan rasul terdahulu dengan risalah
tauhidnya yang intinya adalah ajaran keselamatan untuk manusia sehingga layak
dinamakan dengan islam, beruntunglah orang yang mampu meraih hidayah iman dan
islam kemudian mau dan mampu pula merealisasikan islam tersebut dalam kehidupan
sehari-hari,wallahu a’lam.[Cubadak Solok, 14 Ramadhan 1431.H/ 24 Agustus 2010.M
]

trimakasih banyak. materinya komplit dan jelas.
BalasHapus