Ubay bin Ka'ab bertanya kepada Umar bin Khattab tentang taqwa, Umar
menjawab,"Apakah anda pernah melewati jalan berduri?", Ubay
menjawab,"Ya pernah", Umar bertanya,"Apakah yang anda
lakukan?". Kata Ubay,"Saya kesampingkan duri itu dan berusaha
maju ke depan dan berhati-hati", kata Umar, "Itulah taqwa".
Rasulullah menyatakan bahwa taqwa itu ada di hati bukan diucapan, sedangkan
orang yang bertaqwa juga dikatakan adalah orang yang mengerjakan segala
perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Imam Al Gazali menempatkan taqwa
dengan tawakkal, qona'ah, wara', dan
yakin.
T; Tawakal yaitu menyerahkan hasil usaha
kepada Allah setelah maksimal berusaha,
Q; Qona’ah artinya sikap hidup yang tidak boros dan berangan-angan
tinggi. Dia terima dengan rasa syukur apa yang diperoleh hari ini, tetapi tetap
berusaha dengan sungguh-sungguh untuk masa depan, W; Wara’ artinya berhati-hati
terhadap barang yang syubhat, orang yang bertaqwa ditinggalkannya yang syubhat
ini, Y ; Yakin artinya kepercayaan yang semakin dalam kepada Allah, Rasul dan
Syari’at-Nya.
Banyak ayat-ayat Allah yang tercantum
dalam Al Qur'an yang menganjurkan agar ummat yang beriman meningkatkan kualitas
imannya hingga ke jenjang taqwa diantaranya;
a.Al Hasyr 59;18-19" Hai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan
apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah
kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka
lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik".
b.Ali Imran 3;102 "Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam".
c.Al Hujurat 49;13 "Hai manusia,
Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui
lagi Maha Mengenal".
d.Az
Zumar 39;73 "Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam
syurga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu
sedang pintu-pintunya Telah terbuka dan berkatalah kepada mereka
penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah
kamu! Maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya".
Banyak lagi persi taqwa yang dapat
dikemukakan sebagaimana yang
disampaikan oleh Ali bin Ab Thalib
yang menerangkan kriteria taqwa yaitu;
1.Istiqamah/Teguh
Makna taqwa itu ialah berpegang
teguh atau istiqamah dalam kehidupan, kokoh dan kuat seperti karang karena
memang hidup ini penuh dengan tempaan dan gemblengan untuk menjadikankan ummat
ini tetap istiqamah; "Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan
mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan
gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu"[Fushilat 41;30]
Untuk sebuah pengakuan keimanan maka
banyak orang yang bisa tapi untuk menjaga iman agar tetap kokoh dan bersih dari
nilai-nilai yang mencemarkan ketauhidan tidak banyak orang yang sanggup. Orang
yang istiqomah harus jauh dari sifat syirik, karena syirik itu dapat merusak
iman dan merupakan kesesatan ; "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni
dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain
syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan
(sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya"
[An Nisa' 4;116]
Bagaimanapun kondisi yang dialami, sakit
atau senang, bahagia atau sengsara bahkan dikala diuji dengan segala yang
melenakan hidupnya agar berpaling dari islam maka semakin kokoh keimanannya
hingga ajal menjemputnya kelak. Kekonsistenannya terhadap islam nampak dalam
kehidupan sehari-hari melalui pribadi, keluarga dan bermasyarakat; " Di
antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah
mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara
mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah
(janjinya)" [Al Ahzab 33;23]
2.Keseimbangan Hidup/ Tawazun
Orang yang bertaqwa
adalah orang yang hidupnya tawazun yaitu seimbang dengan memperhatikan berbagai
asfek pada diri manusia yaitu
jasmani, makanannya berupa materi seperti makan dan minum. Bila jasmani tidak
diberi makan maka finalnya adalah kematian.
Akal, makanannya ilmu pengetahuan. Yang harus diberi bahan ilmu
pengetahuan, bila akal tidak dipasok dengan makanannya maka akhirnya yang punya
akal ini menjadi orang bodoh yang tidak begitu penting kehadirannya di dunia
ini. Rohani, makanannya berupa non
materi, diantaranya adalah beribadah
kepada Allah. Rohani yang tidak diberi makanan lezat yang berupa ibadah dan
kedekatan kepada Allah maka rohani ini akan gersang bahkan cendrung melakukan
pemberontakan rohani.
Dalam hal ilmupun seorang taqwa
memperhatikan asfek menuntut ilmu selain mengajarkan ilmu itu kepada orang
lain, hidup yang hanya memikirkan mengajarkan ilmu tapi melalaikan menuntut
ilmu pasti mengalami keganjilan, ibarat accu yang selalu dicas tapi tidak ada
aut putnya maka accu itu akan soak, sebagaimana firman Allah dalam surat Ali
Imran 3;179 "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu
selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya".
Keseimbangan dalam hidupnya tergambar pada
kepentingan dunia dan kepentingan akherat, kedua-duanya harus diupayakan untuk
keselamatan hidup pribadi, keluarga dan masyarakat; "Dan di antara
mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di
dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"[Al
Baqarah 2;201].
3.Zikrullah/Ingat kepada Allah
Orang yang bertaqwa
adalah orang yang selalu zikrullah yaitu ingat kepada Allah dalam kondisi
bagaimanapun; "Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu),
ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian
apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa).
Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang
yang beriman"[An Nisa' 4;103]
Zikir
bukan hanya melalui lisan saja tapi zikir itu mempunyai tiga dimensi yaitu;
a.Zikir
dalam hati; selalu ingat Allah disetiap detak jantung hatinya.
b.Zikir
pada lisan; banyak menyebut dan membesarkan nama Allah.
c.Zikir
dengan amal; selalu melakukan amaliyah ibadah.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman
ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila
dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada
Tuhanlah mereka bertawakkal" [Al
Anfal 8;2]
4.Menyerahkan Diri
Kepada Allah
Orang yang bertaqwa itu adalah orang yang
menyerahkan dirinya kepada Allah secara total yang disebut dengan muslim.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Hujurat 49;14 "Orang-orang Arab
Badui itu berkata: "Kami Telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum
beriman, tapi Katakanlah 'kami Telah tunduk', Karena iman itu belum masuk ke
dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia tidak akan
mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang."
Di dunia ini hanya ada dua yaitu jalan
Allah dan jalan syaitan, kafir atau muslim, islam atau selain islam. Seorang
muslim dan muslimah bila telah menyatakan wala’ yaitu hanya loyalitas dan patuh
hanya kepada Allah maka wajib untuk bara’ yaitu menolak, membenci, memusuhi,
membatasi diri dan menjauhkan segala tuhan selain Allah; “Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka
ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[152], Karena
jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu
diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” [Al An’am 6;153]
Bahkan keimanan orang yang bertaqwa
itu ditunjukkan dalam kehidupan yang total dalam pangkuan islam dengan
menyingkirkan segala hal yang dapat menyesatkannya, firman Allah dalam surat Al
Baqarah 2;208 dinyatakan; " Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu
ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya
syaitan itu musuh yang nyata bagimu".
Beberapa ayat dibawah ini Allah
mengungkapkan orang-orang yang taqwa diantaranya;
1.Orang yang menempatkan Al Qur'an sebagai dasar kehidupan
Orang yang
bertaqwa itu adalah orang yang menjadikan Al Qur'an sebagai petunjuk dalam
seluruh asfek kehidupannya tanpa ragu-ragu. Al Qur’an bukanlah sekedar bacaan
yang mendapat pahala ketika membacanya tapi adalah sebagai way of live bagi
seorang mukmin dalam menapaki kehidupan yang penuh dengan berbagai ujian dan
godaan.
Seorang
mukmin yang telah menyatakan dirinya beriman kepada Allah harus melestarikan
keimanan tersebut melalui amal perbuatan sehari-hari, termasuk aplikasi beriman
kepada kitab Allah yaitu Al Qur’an. "Kitab (Al Quran) Ini tidak ada
keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa"[Al Baqarah 2;2]
2.Orang yang punya pandangan jauh ke depan
Orang yang
bertaqwa menjadikan kehidupan dunia adalah kehidupan sementara sedangkan
kehidupan akherat adalah tujuan akhir, sehingga dunia dijadikan sebagai pulau
persinggahan. Hidup bagi orang yang bertaqwa bukanlah disini dan ini saja yang
hanya sebentar, tapi hidup yang abadi ada di akherat sehingga perlu bekal dan
persiapan untuk menuju kesana dengan iman yang bersih dari syirik dan ibadah
yang bersih dari riya'. "Katakanlah: "Kesenangan di dunia Ini
Hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan
kamu tidak akan dianiaya sedikitpun''[An Nisa' 4;77].
3.Orang yang memiliki usaha yang bersih
Rasulullah
menyatakan bahwa di dunia ini ada yang halal dan itu jelas, ada yang haram dan
itu juga jelas tapi ada yang samar-samar, itu yang disebut dengan syubhat,
sifat orang mukmin adalah yang berhati-hati terhadap barang yang syubhat, meninggalkan
yang haram sudah pasti tapi meninggalkan yang syubhat menunjukkan iman yang
baik.
Prinsip
hidupnya adalah berusaha untuk meraih kehidupan layak di dunia dengan cara yang
halal dan bersih, dari usaha yang bersih itulah kelak akan mendapat berkah dari
Allah, usaha yang kotor disamping mengotori rezeki juga akan membuat jiwa tidak
bersih sehingga menjauhkan seseorang dari mendapat berkah dan hidayah
Allah; “Hai orang-orang yang
beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan
bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”[Al
Baqarah 2;172]
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang
yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain
mereka minta dipenuhi, Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang
lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya
mereka akan dibangkitkan, Pada suatu
hari yang besar,(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta
alam? [Al Muthaffifin
83;1-6]
4.Orang yang
memiliki sifat adil
Karena pentingnya sifat adil ini
sampai Rasulullah menyuruh berlaku adil kepada anak-anak walaupun dari segi
ciuman dan perhatian kepada mereka, sifat adil hanya dimiliki oleh orang-orang
yang bertaqwa karena orang lain tidak akan mampu menegakkannya; "Hai
orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan
(kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.
berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah
kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan."[Al Maidah 5;8].
5.Orang yang memiliki sifat setia kawan dan ukhuwah
Setia kawan
dan ukhuwah hanya dimiliki oleh orang-orang beriman dengan kualitas taqwa, hal
ini terujud dikala Rasulullah mempertemukan ummat ini di Madinah saat
melaksanakan hijrah. Setia kawan yang
dibenarkan adalah setia kawan yang terikat karena Allah semata, karena ikatan
ini yang kuat tanpa dibatasi oleh ras, suku dan bangsa, sebagaimana Rasulullah
mempersaudarakan Bilal bin Rabah yang awalnya budak hitam, Shuaib Ar Rumy yang
berasal dari Romawi dengan Umar bin Khattab dan Usman bin Affan yang berasal
dari suku Quraisy "Orang-orang beriman itu Sesungguhnya
bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu
itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat" [Al Hujurat
49;10]
6.Orang yang menyampaikan kebenaran
Orang yang
bertaqwa adalah orang yang menyampaikan kebenaran kepada siapapun walaupun
pahit akibatnya kelak. Kebenaran itu adalah apa adanya tidak dapat ditutup
tutupi, hingga sampai ketika kita bercandapun oleh Rasulullah tidak boleh
dengan kebohongan, harus dengan kebenaran. Karena sekali saja kita berbohong
maka selamanya orang tidak akan percaya lagi; "Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar" [Al
Ahzab 33;70]
Taqwa adalah level yang tinggi setelah seseorang melewati
fase sebagai muslim yaitu mengakui islama sebagai agamanya, ketika meningkat
kualitas muslim menuju tingkat kedua yaitu mukmin, yaitu tingkatan orang yang
sudah baik kepribadiannya, imannya sudah menghunjam ke dada, amalnyapun semakin
bagus. Mukmin meningkatkan mutunya dengan segala kesungguhan menuju kesana
sampailah kepada level Muhsin, yaitu karakter muslim yang berupaya selalu
berbuat baik sebanyak mungkin, amal wajibnya ditambah dengan yang
sunnah-sunnah, bila dia mampu meningkatkan kualitas iman dan amalnya maka
mendekatlah kepada level Mukhlis artinya orang yang ikhlas dalam menapaki
kehidupan ini, segala yang diberikan dan dilakukan hanya mencari ridha Allah,
maka barulah masuk ke tahaf Muttaqin yaitu orang yang bertaqwa. Allah tidak memandang manusia karena suku,
bangsa dan kelahirannya tapi kemuliaan itu disematkan Allah kepada hamba yang
mampu mencapai derajat taqwa.
Rupanya
iman dan taqwa tidak hanya diucapkan saja apalagi hanya dipendam saja di hati,
tapi taqwa itu harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk
pribadi, keluarga hingga masyarakat luas, sampai Nabi Ibrahim mohon kepada
Allah agar nanti anak keturunannya menjadi pemimpin orang yang bertaqwa artinya
menjadi orang yang bertaqwa saja sungguh mulia apalagi memimpin orang yang
bertaqwa tentu kualitasnya lebih taqwa dari yang dipimpinnya.
Taqwa tidak bisa dibiarkan saja karena dia
merupakan level iman yang mengalami fluktuasi yaitu ibarat gelombang,
kadangkala naik dan kadangkala turun, taqwa harus dijaga dengan sebaik-baiknya
hingga pada akhir kehidupan kita tetap dalam posisi masih bertaqwa.
Agar taqwa itu tetap bertahan di dada kita
bahkan akan mengalami kondisi yang baik
terus ada lima sikap yang harus
kita tanamkan dalam diri kita sebagaimana yang dikupas oleh Dr. Muhammad Nasih
Ulwan dalam bukunya, Tarbiyyah Ruhiyyah/
Pendidikan Ruhani yaitu;
1.Mu'ahadah, mengingat perjanjian
Sejak
berada dalam rahim sang ibu, kita telah berjanji kepada Allah untuk menjadi
hamba yang baik, taat dan siap untuk beribadah kepada Allah, hal itu
diungkapkan dalam surat di bawah ini; " Dan (ingatlah),
ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)",[Al A'raf 7;172].
Taqwa akan
terjaga dengan baik bila kita ingat perjanjian dengan Allah sehingga membuat
kita berusaha untuk meninggalkan hal-hal yang dapat menurunkan kualitas taqwa; "Dan
tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu
membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu Telah
menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya
Allah mengetahui apa yang kamu perbuat" [An Nahl 16;91]
2.Muraqabah, merasakan kesertaan Allah
Allah selalu menyertai dan bersama
makhluk-Nya dalam situasi dan kondisi bagaimanapun juga, ini adalah pengawasan
yang efektif untuk menjaga kontinuitas amal dan istiqamahnya iman, keyakinan
ini akan menjauhkan seorang mukmin dari praktek kotor dalam seluruh asfek
kehidupannya. Dan pada sisi Allah-lah
kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri,
dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun
pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir
biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering,
melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz [Al An’Am 6;59]
Muraqabatullah membangkitkan sifat ihsan
dalam seluruh aktivitas, baik ada orang ataupun tidak ada orang yang
melihatnya. Kualitas kerja dan kedisiplinan tidak terpengaruh oleh orang lain
hatta pimpinan sekalipun karena pemimpin yang tertinggi selalu melihat dan
memantaunya.
Seorang pemuda yang selalu berbuat maksiat
kepada Allah dengan berbagai kelakuan. Suatu malam dia sedang menjalankan
aksinya, memanjat rumah seseorang untuk mencuri, namun dia mendengarkan bacaan
Al Qur'an dikumandangkan oleh seorang wanita, dia sudah biasa mendengarkan Al
Qur'an dibacakan tapi malam ini seolah-olah isi Al Qur'an itu ditujukan
kepadanya. Dia urungkan niatnya untuk mencuri,dia turun dari rumah itu untuk
mensucikan diri kemudian bertaubat kepada Allah.
3.Muhasabah, introsfeksi diri
Mengoreksi kesalahan diri sendiri tidaklah
semudah bila kita mengoreksi kesalahan orang lain, padahal sikap ini
mendatangkan keuntungan bagi kesucian jiwa. Kalau kita bisa melihat
kesalahan dan dosa orang lain sebenarnya kesalahan dan dosa kitapun terlalu
banyak untuk dinilai. Taubatpun mengajak kita untuk mengakui kesalahan kita
kepada Allah agar taubat itu betul-betul dikabulkan yaitu
penyesalan atas semua kejahatan yang telah dikerjakan dimasa lampau, dan
berusaha meninggalkannya, kemudian berjanji untuk tidak mengulanginya dihari
yang akan datang. Tidaklah taubat seseorang dikatakan benar sehingga dia merasa
sedih dan menyesali semua kejahatan yang telah dikerjakannya, yaitu penyesalan
yang disertai dengan perasaan sedih di hadapan Allah SWT.
Orang yang selalu melakukan muhasabah juga
menyesal: bila ia berbuat kebaikan ia menyesal Kenapa ia tidak berbuat lebih
banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan tentu penyesalannya membuat dia
sangat takut dengan balasan dari Allah yang tidak bisa dikompromikan. [Al
Hasr 59;18]
4.Mu'aqabah, pemberian sangsi
Umumnya
sifat manusia bila melakukan kesalahan dia cendrung mencari pembenaran untuk
membela dan memanjakan dirinya sehingga kesalahan itu akan berlarut-larut dia
lakukan kemudian harinya, sedangkan seorang mukmin yang ingin menjaga taqwanya
dia harus melakukan mu'aqabah yaitu pemberian sangsi bila melakukan kesalahan.
Suatu hari Umar bin Khattab lalai shalat
Ashar karena mengurus kebunnya, karena hal itu dia akhirnya menyadari itu
sebuah kesalahan, Umar mengiqab dirinya dengan menyedekahkan kebun itu untuk
orang miskin.
Hasan bin Hanan pernah melewati sebuah
rumah yang selesai dibangun, beliau bertanya,"Kapan rumah ini
dibangun?" kemudian beliau menegur dirinya,"Kenapa kau tanyakan
sesuatu yang tidak berguna untuk dirimu?". Maka dia menjatuhkan sangsi
pada dirinya dengan puasa satu tahun.
5.Mujahadah , optimalisasi
Dalam bidang apapun, pribadi muttaqin
dituntut untuk bersungguh-sungguh, baik sebagai pedagang, petani, pegawai,
buruh ataupun pelajar untuk tidak boleh setengah-setengah dalam bekerja agar
hasil yang didapatkan memuaskan. Ada pendapat yang mengatakan, ”Lebih baik jadi petani yang berhasil
karena bekerja sungguh-sungguh daripada jadi pengusaha yang gagal karena
bekerja ala kadarnya”.
Allah
berfirman dalam surat Al Hujurat 49;15 ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman
hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka
tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan
Allah, mereka itulah orang-orang yang benar”.
Mujahadah adalah sikap pribadi yang ingin
menjaga taqwanya dengan baik sehingga dalam melaksanakan sesuatu apalagi yang
berkaitan dengan amal ibadah dikerjakan dengan sungguh-sungguh, sebagaimana
Umar bin Khattab pernah ketinggalan shalat jama'ah, lalu malamnya dia ganti dengan ibadah sepanjang malam dan tidak
tidur, inilah ujud kesungguhannya dalam beribadah, demikian pula kesungguhan
Amir bin Abdi Qais pada ibadah shalat ialah dia selalu shalat seribu raka'at
setiap harinya dengan melaksanakan shalat wajib dan mengisinya dengan shalat
sunnah.
Rupanya iman dan taqwa tidak hanya
diucapkan saja apalagi hanya dipendam saja di hati, tapi taqwa itu harus
diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk pribadi, keluarga hingga
masyarakat luas, sampai Nabi Ibrahim mohon kepada Allah agar nanti anak
keturunannya menjadi pemimpin orang yang bertaqwa artinya menjadi orang yang
bertaqwa saja sungguh mulia apalagi memimpin orang yang bertaqwa tentu
kualitasnya lebih taqwa dari yang dipimpinnya.
Taqwa tidak bisa dibiarkan saja karena dia
merupakan level iman yang mengalami fluktuasi yaitu ibarat gelombang,
kadangkala naik dan kadangkala turun, taqwa harus dijaga dengan sebaik-baiknya
hingga pada akhir kehidupan kita tetap dalam posisi masih bertaqwa. wallahu a'lam. [Cubadak Solok, 15
Ramadhan 1431.H/ 25 Agustus 2010]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar