Selasa, 15 Desember 2015

76. Taqwa



Ubay bin Ka'ab bertanya kepada Umar bin Khattab tentang taqwa, Umar menjawab,"Apakah anda pernah melewati jalan berduri?", Ubay menjawab,"Ya pernah", Umar bertanya,"Apakah yang anda lakukan?". Kata Ubay,"Saya kesampingkan duri itu dan berusaha maju ke depan dan berhati-hati", kata Umar, "Itulah taqwa". Rasulullah menyatakan bahwa taqwa itu ada di hati bukan diucapan, sedangkan orang yang bertaqwa juga dikatakan adalah orang yang mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Imam Al Gazali menempatkan taqwa dengan tawakkal, qona'ah, wara',  dan yakin.

T; Tawakal yaitu menyerahkan hasil usaha kepada Allah setelah maksimal berusaha,  Q; Qona’ah artinya sikap hidup yang tidak boros dan berangan-angan tinggi. Dia terima dengan rasa syukur apa yang diperoleh hari ini, tetapi tetap berusaha dengan sungguh-sungguh untuk masa depan, W; Wara’ artinya berhati-hati terhadap barang yang syubhat, orang yang bertaqwa ditinggalkannya yang syubhat ini, Y ; Yakin artinya kepercayaan yang semakin dalam kepada Allah, Rasul dan Syari’at-Nya. 

Banyak ayat-ayat Allah yang tercantum dalam Al Qur'an yang menganjurkan agar ummat yang beriman meningkatkan kualitas imannya hingga ke jenjang taqwa diantaranya;

a.Al Hasyr 59;18-19" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik".
           
            b.Ali Imran 3;102 "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam".

            c.Al Hujurat 49;13 "Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal".

            d.Az Zumar 39;73 "Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya Telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya".

Banyak lagi persi taqwa yang dapat dikemukakan sebagaimana yang disampaikan oleh Ali bin Ab Thalib yang menerangkan kriteria taqwa yaitu;

1.Istiqamah/Teguh
            Makna taqwa itu ialah berpegang teguh atau istiqamah dalam kehidupan, kokoh dan kuat seperti karang karena memang hidup ini penuh dengan tempaan dan gemblengan untuk menjadikankan ummat ini tetap istiqamah; "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu"[Fushilat 41;30]

Untuk sebuah pengakuan keimanan maka banyak orang yang bisa tapi untuk menjaga iman agar tetap kokoh dan bersih dari nilai-nilai yang mencemarkan ketauhidan tidak banyak orang yang sanggup. Orang yang istiqomah harus jauh dari sifat syirik, karena syirik itu dapat merusak iman dan merupakan kesesatan ; "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya" [An Nisa' 4;116]

Bagaimanapun kondisi yang dialami, sakit atau senang, bahagia atau sengsara bahkan dikala diuji dengan segala yang melenakan hidupnya agar berpaling dari islam maka semakin kokoh keimanannya hingga ajal menjemputnya kelak. Kekonsistenannya terhadap islam nampak dalam kehidupan sehari-hari melalui pribadi, keluarga dan bermasyarakat; " Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)" [Al Ahzab 33;23]

2.Keseimbangan Hidup/ Tawazun
            Orang yang bertaqwa adalah orang yang hidupnya tawazun yaitu seimbang dengan memperhatikan berbagai asfek pada diri manusia yaitu jasmani, makanannya berupa materi seperti makan dan minum. Bila jasmani tidak diberi makan maka finalnya adalah kematian.  Akal, makanannya ilmu pengetahuan. Yang harus diberi bahan ilmu pengetahuan, bila akal tidak dipasok dengan makanannya maka akhirnya yang punya akal ini menjadi orang bodoh yang tidak begitu penting kehadirannya di dunia ini.  Rohani, makanannya berupa non materi, diantaranya adalah  beribadah kepada Allah. Rohani yang tidak diberi makanan lezat yang berupa ibadah dan kedekatan kepada Allah maka rohani ini akan gersang bahkan cendrung melakukan pemberontakan rohani.

            Dalam hal ilmupun seorang taqwa memperhatikan asfek menuntut ilmu selain mengajarkan ilmu itu kepada orang lain, hidup yang hanya memikirkan mengajarkan ilmu tapi melalaikan menuntut ilmu pasti mengalami keganjilan, ibarat accu yang selalu dicas tapi tidak ada aut putnya maka accu itu akan soak, sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran 3;179 "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya".

Keseimbangan dalam hidupnya tergambar pada kepentingan dunia dan kepentingan akherat, kedua-duanya harus diupayakan untuk keselamatan hidup pribadi, keluarga dan masyarakat; "Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"[Al Baqarah 2;201].

3.Zikrullah/Ingat kepada Allah
            Orang yang bertaqwa adalah orang yang selalu zikrullah yaitu ingat kepada Allah dalam kondisi bagaimanapun; "Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman"[An Nisa' 4;103]

Zikir bukan hanya melalui lisan saja tapi zikir itu mempunyai tiga dimensi yaitu;
a.Zikir dalam hati; selalu ingat Allah disetiap detak jantung hatinya.
b.Zikir pada lisan; banyak menyebut dan membesarkan nama Allah.
c.Zikir dengan amal; selalu melakukan amaliyah ibadah.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal" [Al Anfal 8;2]

4.Menyerahkan Diri Kepada Allah
Orang yang bertaqwa itu adalah orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah secara total yang disebut dengan muslim. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Hujurat 49;14 "Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami Telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi Katakanlah 'kami Telah tunduk', Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Di dunia ini hanya ada dua yaitu jalan Allah dan jalan syaitan, kafir atau muslim, islam atau selain islam. Seorang muslim dan muslimah bila telah menyatakan wala’ yaitu hanya loyalitas dan patuh hanya kepada Allah maka wajib untuk bara’ yaitu menolak, membenci, memusuhi, membatasi diri dan menjauhkan segala tuhan selain Allah; “Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[152], Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” [Al An’am 6;153]

            Bahkan keimanan orang yang bertaqwa itu ditunjukkan dalam kehidupan yang total dalam pangkuan islam dengan menyingkirkan segala hal yang dapat menyesatkannya, firman Allah dalam surat Al Baqarah 2;208 dinyatakan; " Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu".

Beberapa ayat dibawah  ini Allah  mengungkapkan orang-orang yang taqwa diantaranya;

1.Orang yang menempatkan Al Qur'an sebagai dasar kehidupan
            Orang yang bertaqwa itu adalah orang yang menjadikan Al Qur'an sebagai petunjuk dalam seluruh asfek kehidupannya tanpa ragu-ragu. Al Qur’an bukanlah sekedar bacaan yang mendapat pahala ketika membacanya tapi adalah sebagai way of live bagi seorang mukmin dalam menapaki kehidupan yang penuh dengan berbagai ujian dan godaan.
            Seorang mukmin yang telah menyatakan dirinya beriman kepada Allah harus melestarikan keimanan tersebut melalui amal perbuatan sehari-hari, termasuk aplikasi beriman kepada kitab Allah yaitu Al Qur’an. "Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa"[Al Baqarah 2;2]

2.Orang yang punya pandangan jauh ke depan
            Orang yang bertaqwa menjadikan kehidupan dunia adalah kehidupan sementara sedangkan kehidupan akherat adalah tujuan akhir, sehingga dunia dijadikan sebagai pulau persinggahan. Hidup bagi orang yang bertaqwa bukanlah disini dan ini saja yang hanya sebentar, tapi hidup yang abadi ada di akherat sehingga perlu bekal dan persiapan untuk menuju kesana dengan iman yang bersih dari syirik dan ibadah yang bersih dari riya'. "Katakanlah: "Kesenangan di dunia Ini Hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun''[An Nisa' 4;77].

3.Orang yang memiliki usaha yang bersih
            Rasulullah menyatakan bahwa di dunia ini ada yang halal dan itu jelas, ada yang haram dan itu juga jelas tapi ada yang samar-samar, itu yang disebut dengan syubhat, sifat orang mukmin adalah yang berhati-hati terhadap barang yang syubhat, meninggalkan yang haram sudah pasti tapi meninggalkan yang syubhat menunjukkan iman yang baik.
            Prinsip hidupnya adalah berusaha untuk meraih kehidupan layak di dunia dengan cara yang halal dan bersih, dari usaha yang bersih itulah kelak akan mendapat berkah dari Allah, usaha yang kotor disamping mengotori rezeki juga akan membuat jiwa tidak bersih sehingga menjauhkan seseorang dari mendapat berkah dan hidayah Allah;  “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”[Al Baqarah 2;172]

"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,  Pada suatu hari yang besar,(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? [Al Muthaffifin 83;1-6]

4.Orang yang memiliki sifat adil
            Karena pentingnya sifat adil ini sampai Rasulullah menyuruh berlaku adil kepada anak-anak walaupun dari segi ciuman dan perhatian kepada mereka, sifat adil hanya dimiliki oleh orang-orang yang bertaqwa karena orang lain tidak akan mampu menegakkannya; "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan."[Al Maidah 5;8].

5.Orang yang memiliki sifat setia kawan dan ukhuwah
            Setia kawan dan ukhuwah hanya dimiliki oleh orang-orang beriman dengan kualitas taqwa, hal ini terujud dikala Rasulullah mempertemukan ummat ini di Madinah saat melaksanakan  hijrah. Setia kawan yang dibenarkan adalah setia kawan yang terikat karena Allah semata, karena ikatan ini yang kuat tanpa dibatasi oleh ras, suku dan bangsa, sebagaimana Rasulullah mempersaudarakan Bilal bin Rabah yang awalnya budak hitam, Shuaib Ar Rumy yang berasal dari Romawi dengan Umar bin Khattab dan Usman bin Affan yang berasal dari suku Quraisy    "Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat" [Al Hujurat 49;10]

6.Orang yang menyampaikan kebenaran
            Orang yang bertaqwa adalah orang yang menyampaikan kebenaran kepada siapapun walaupun pahit akibatnya kelak. Kebenaran itu adalah apa adanya tidak dapat ditutup tutupi, hingga sampai ketika kita bercandapun oleh Rasulullah tidak boleh dengan kebohongan, harus dengan kebenaran. Karena sekali saja kita berbohong maka selamanya orang tidak akan percaya lagi;  "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar" [Al Ahzab 33;70]

            Taqwa adalah level yang tinggi setelah seseorang melewati fase sebagai muslim yaitu mengakui islama sebagai agamanya, ketika meningkat kualitas muslim menuju tingkat kedua yaitu mukmin, yaitu tingkatan orang yang sudah baik kepribadiannya, imannya sudah menghunjam ke dada, amalnyapun semakin bagus. Mukmin meningkatkan mutunya dengan segala kesungguhan menuju kesana sampailah kepada level Muhsin, yaitu karakter muslim yang berupaya selalu berbuat baik sebanyak mungkin, amal wajibnya ditambah dengan yang sunnah-sunnah, bila dia mampu meningkatkan kualitas iman dan amalnya maka mendekatlah kepada level Mukhlis artinya orang yang ikhlas dalam menapaki kehidupan ini, segala yang diberikan dan dilakukan hanya mencari ridha Allah, maka barulah masuk ke tahaf Muttaqin yaitu orang yang bertaqwa.  Allah tidak memandang manusia karena suku, bangsa dan kelahirannya tapi kemuliaan itu disematkan Allah kepada hamba yang mampu mencapai derajat taqwa.
           
Rupanya iman dan taqwa tidak hanya diucapkan saja apalagi hanya dipendam saja di hati, tapi taqwa itu harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk pribadi, keluarga hingga masyarakat luas, sampai Nabi Ibrahim mohon kepada Allah agar nanti anak keturunannya menjadi pemimpin orang yang bertaqwa artinya menjadi orang yang bertaqwa saja sungguh mulia apalagi memimpin orang yang bertaqwa tentu kualitasnya lebih taqwa dari yang dipimpinnya.
Taqwa tidak bisa dibiarkan saja karena dia merupakan level iman yang mengalami fluktuasi yaitu ibarat gelombang, kadangkala naik dan kadangkala turun, taqwa harus dijaga dengan sebaik-baiknya hingga pada akhir kehidupan kita tetap dalam posisi masih bertaqwa.
Agar taqwa itu tetap bertahan di dada kita bahkan akan mengalami kondisi yang baik  terus ada lima  sikap yang harus kita tanamkan dalam diri kita sebagaimana yang dikupas oleh Dr. Muhammad Nasih Ulwan dalam bukunya, Tarbiyyah Ruhiyyah/  Pendidikan Ruhani yaitu;

1.Mu'ahadah, mengingat perjanjian
            Sejak berada dalam rahim sang ibu, kita telah berjanji kepada Allah untuk menjadi hamba yang baik, taat dan siap untuk beribadah kepada Allah, hal itu diungkapkan dalam surat di bawah ini;  " Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)",[Al A'raf 7;172].

Taqwa akan terjaga dengan baik bila kita ingat perjanjian dengan Allah sehingga membuat kita berusaha untuk meninggalkan hal-hal yang dapat menurunkan kualitas taqwa; "Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu Telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat" [An Nahl 16;91]

2.Muraqabah, merasakan kesertaan Allah
Allah selalu menyertai dan bersama makhluk-Nya dalam situasi dan kondisi bagaimanapun juga, ini adalah pengawasan yang efektif untuk menjaga kontinuitas amal dan istiqamahnya iman, keyakinan ini akan menjauhkan seorang mukmin dari praktek kotor dalam seluruh asfek kehidupannya. Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz [Al An’Am 6;59]

Muraqabatullah membangkitkan sifat ihsan dalam seluruh aktivitas, baik ada orang ataupun tidak ada orang yang melihatnya. Kualitas kerja dan kedisiplinan tidak terpengaruh oleh orang lain hatta pimpinan sekalipun karena pemimpin yang tertinggi selalu melihat dan memantaunya.

Seorang pemuda yang selalu berbuat maksiat kepada Allah dengan berbagai kelakuan. Suatu malam dia sedang menjalankan aksinya, memanjat rumah seseorang untuk mencuri, namun dia mendengarkan bacaan Al Qur'an dikumandangkan oleh seorang wanita, dia sudah biasa mendengarkan Al Qur'an dibacakan tapi malam ini seolah-olah isi Al Qur'an itu ditujukan kepadanya. Dia urungkan niatnya untuk mencuri,dia turun dari rumah itu untuk mensucikan diri kemudian bertaubat kepada Allah.

3.Muhasabah, introsfeksi diri
Mengoreksi kesalahan diri sendiri tidaklah semudah bila kita mengoreksi kesalahan orang lain, padahal sikap ini mendatangkan keuntungan bagi kesucian jiwa. Kalau kita bisa melihat kesalahan dan dosa orang lain sebenarnya kesalahan dan dosa kitapun terlalu banyak untuk dinilai. Taubatpun mengajak kita untuk mengakui kesalahan kita kepada Allah agar taubat itu betul-betul dikabulkan  yaitu penyesalan atas semua kejahatan yang telah dikerjakan dimasa lampau, dan berusaha meninggalkannya, kemudian berjanji untuk tidak mengulanginya dihari yang akan datang. Tidaklah taubat seseorang dikatakan benar sehingga dia merasa sedih dan menyesali semua kejahatan yang telah dikerjakannya, yaitu penyesalan yang disertai dengan perasaan sedih di hadapan Allah SWT.

Orang yang selalu melakukan muhasabah juga menyesal: bila ia berbuat kebaikan ia menyesal Kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan tentu penyesalannya membuat dia sangat takut dengan balasan dari Allah yang tidak bisa dikompromikan. [Al Hasr 59;18]

4.Mu'aqabah, pemberian sangsi
            Umumnya sifat manusia bila melakukan kesalahan dia cendrung mencari pembenaran untuk membela dan memanjakan dirinya sehingga kesalahan itu akan berlarut-larut dia lakukan kemudian harinya, sedangkan seorang mukmin yang ingin menjaga taqwanya dia harus melakukan mu'aqabah yaitu pemberian sangsi bila melakukan kesalahan.

Suatu hari Umar bin Khattab lalai shalat Ashar karena mengurus kebunnya, karena hal itu dia akhirnya menyadari itu sebuah kesalahan, Umar mengiqab dirinya dengan menyedekahkan kebun itu untuk orang miskin.

Hasan bin Hanan pernah melewati sebuah rumah yang selesai dibangun, beliau bertanya,"Kapan rumah ini dibangun?" kemudian beliau menegur dirinya,"Kenapa kau tanyakan sesuatu yang tidak berguna untuk dirimu?". Maka dia menjatuhkan sangsi pada dirinya dengan puasa satu tahun. 

5.Mujahadah , optimalisasi
Dalam bidang apapun, pribadi muttaqin dituntut untuk bersungguh-sungguh, baik sebagai pedagang, petani, pegawai, buruh ataupun pelajar untuk tidak boleh setengah-setengah dalam bekerja agar hasil yang didapatkan memuaskan. Ada pendapat yang mengatakan, ”Lebih baik jadi petani yang berhasil karena bekerja sungguh-sungguh daripada jadi pengusaha yang gagal karena bekerja ala kadarnya”.

            Allah berfirman dalam surat Al Hujurat 49;15   ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar”.

Mujahadah adalah sikap pribadi yang ingin menjaga taqwanya dengan baik sehingga dalam melaksanakan sesuatu apalagi yang berkaitan dengan amal ibadah dikerjakan dengan sungguh-sungguh, sebagaimana Umar bin Khattab pernah ketinggalan shalat jama'ah, lalu malamnya dia  ganti dengan ibadah sepanjang malam dan tidak tidur, inilah ujud kesungguhannya dalam beribadah, demikian pula kesungguhan Amir bin Abdi Qais pada ibadah shalat ialah dia selalu shalat seribu raka'at setiap harinya dengan melaksanakan shalat wajib dan mengisinya dengan shalat sunnah.

Rupanya iman dan taqwa tidak hanya diucapkan saja apalagi hanya dipendam saja di hati, tapi taqwa itu harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk pribadi, keluarga hingga masyarakat luas, sampai Nabi Ibrahim mohon kepada Allah agar nanti anak keturunannya menjadi pemimpin orang yang bertaqwa artinya menjadi orang yang bertaqwa saja sungguh mulia apalagi memimpin orang yang bertaqwa tentu kualitasnya lebih taqwa dari yang dipimpinnya.

Taqwa tidak bisa dibiarkan saja karena dia merupakan level iman yang mengalami fluktuasi yaitu ibarat gelombang, kadangkala naik dan kadangkala turun, taqwa harus dijaga dengan sebaik-baiknya hingga pada akhir kehidupan kita tetap dalam posisi masih bertaqwa. wallahu a'lam. [Cubadak Solok, 15 Ramadhan 1431.H/ 25 Agustus 2010]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar