Semua manusia yang normal tidak bisa
melepaskan diri dari keinginan untuk memiliki sesuatu yang kita kenal dengan
harta, bahkan sejak kecil kita sudah diberitahukan oleh orangtua kita tentang sesuatu
yang kita miliki seperti "Bajuku, topiku, sepatuku", sehingga orang
lain tidak berhak untuk itu, bila sedikit saja diusik oleh orang lain harta
itu, spontan sang anak berontak, menangis dan marah.
Untuk
memiliki sesuatu "harta", manusia melakukan kegiatan berbagai
aktivitas sejak dari pengusaha hingga buruh harian, berdagang hingga tukang
ojek, penyanyi hingga menamen sampai kepada jabatan-jabatan penting sejak dari
Presiden sampai tukang parkir, semuanya membutuhkan balasan hasil jerih
payahnya, bahkan seorang pengamen dengan suara lantang menyanyikan tembang
sumbangnya bahwa dia mengamen hanya untuk makan setiap hari dan sisanya untuk
beli mobil.
Ada orang yang
menghabiskan waktu dan tenaganya untuk meraih sesuatu sampai menjadikan malam
sebagai siang dan siang jadi malam demi meraih sesuatu untuk dimiliki dengan
dalih untuk kepentingan pribadi, rumah tangga dan keluarga. Sehingga seorang
ayah ibarat seekor kerbau yang membajak di sawah dari pagi buta sampai
menjelang malam, hanya sebentar sekali waktunya untuk istirahat, sejumput
rumput yang dia raih untuk melepaskan penatnya dari sesuatu yang tidak ada lagi
yang harus dikunyahnya, itupun mendapat lecutan dari sang tuan.
Keletihan
sang kerbau tidak hanya sebatas itu saja, tanduknyapun bergelimang tanah
kubangan, yang semua itu dia lakukan demi memenuhi keinginan tuannya yaitu
mengais secercah harta dari sawah ladang yang dibajaknya dikala panen tiba.
Semua
orang berhak untuk mendapatkan harta, baik dengan cara halal maupun dengan
haram, hal itu tentu punya resiko
masing-masing. Karena sulitnya untuk meraih harta itu sehingga timbullah
kalimat yang tidak layak muncul seperti "Mencari yang haram saja sulit
apalagi yang halal". Lebih-lebih dizaman paceklik, kemarau panjang yang
juga memperpanjang penderitaan para petani, mempersulit jalan pencari rezeki
yang hanya bermodalkan otot tanpa memperhitungkan otak.
Harta,
juga sebagai simbul ketika seseorang menjelang dewasa, disaat ada keinginan
untuk menyunting seorang dara cantik di sebuah desa, akankah kaki di langkahkan
untuk meraih pujaan hati kalau diri tidak punya apa-apa, apa yang dapat
dibanggakan kepada sang pujaan dan calon mertua bila tidak punya, apakah
mungkin seorang ayah akan menyerahkan anak gadisnya dipinang oleh lelaki yang
hanya mengandalkan dengkul dan kumis saja, mau makan apa nanti anak orang,
sedangkan memelihara ayam saja harus punya sesuatu untuk memenuhi makanannya.
Harta, dia
dipertanyakan oleh seorang ayah dikala seorang lelaki berkeinginan menyunting
anak gadisnya, bekerja dimana, berapa penghasilannya sehari, kendaraan apa yang
dia miliki, setelah nikah nanti mau tinggal dimana? Ini pertanyaan tabu
sebenarnya untuk urusan mencari menantu, tapi apakah tidak layak bila hal itu
mampu dipenuhi oleh calon menantu. Bagaimana beratnya beban kehidupan yang akan
ditanggung seorang ayah dikala anaknya sudah menikah tapi sang suami tidak
mampu memberikan sesuatu berupa harta kepada isterinya
.
Ada orang yang
mendapatkan harta tanpa banyak menghabiskan waktu, tidak ada sekolah khusus
yang dia tekuni, tapi dia mampu punya sesuatu itu tidak sesulit orang lain
untuk meraihnya, sehingga kendaraan, tempat tinggal dan fasilitas lain bisa
dinikmatinya dan memang itu hasil usahanya, nasib jualah yang menentukannya
sehingga dia mencapai sesuatu dengan mudah. Tidak sedikit orang yang telah
menghabiskan segala-galanya untuk meraih itu tapi tetap tidak mampu dia peroleh, padalah kalau dia berdagang maka
dagangannya tidak berbeda dengan orang lain tapi tetap saja orang enggan untuk
belanja kepadanya, ibarat berladang, dia juga sudah berupaya berladang persis
sebagaimana orang lain, tapi panen yang dia terima tidak seberuntung
tetangganya.
Kalaulah
seorang ayah harus mengumpulkan dulu uang untuk sekolah anaknya hingga tamat
perguruan tinggi sekian puluh juta, maka hal itu tidak mungkin bisa dikumpulkan
oleh seorang petani biasa, pedagang kaki lima atau pegawai rendahan, tapi
dikala dia upayakan anaknya tetap sekolah walaupun dengan susah payah memenuhi
setiap hari dan bulannya, selain dari penghasilan usahanya atau pinjaman orang
lain akhirnya sekolah anak akan tamat juga, tanpa terasa dia telah mengumpulkan uang lebih
banyak dari anggaran semula, ditambah lagi aset pendidikan yang diterima
anaknya hingga tiga kali lipat dirasakan kelak.
Karena
ingin untuk meraih harta diluar kemampuannya, banyak orang yang harus melakukan
sesuatu seperti menipu dan mencuri atau transaksi lain yang tidak dibenarkan
oleh hukum manapun, bertentangan oleh agama apapun dan yang lebih penting hati
nurani pelaku sendiri tidak menerima transaksi itu, tapi karena desakan nafsu,
bisikan setan atau ajakan siapapun sehingga rela mengorbankan kepribadian,
walaupun akhirnya harta yang diinginkan diperoleh juga.
Karena
hartalah seorang anak kampung harus meninggalkan tanah kelahirannya dengan
alasan merantau, mencari pengalaman hidup yang intinya sebab di kampung tidak
nampak peluang untuk mencari harta yang
lebih baik dan menjanjikan, walaupun sebenarnya ketika di rantaupun apa yang
didambakan tidak dapat diraih kecuali sebatas untuk makan sehari-hari,
kendaraan tidak ada, rumahpun masih menyewa bahkan anak-anak banyak yang tidak
sekolah dengan dalih tidak ada biaya.
Karena
kekurangan hartalah sehingga anak-anak melakukan kegiatan di jalan-jalan raya
untuk mengais rezeki dengan meminta-minta, mengamen, ibu-ibu dengan menggendong anaknya yang masih
balita ditambah wajah kesedihan menadahkan tangan mengharapkan belas kasihan,
tidak sedikit ummat islam yang harus meninggalkan agamanya disamping karena
lemahnya iman juga karena hidup jauh dari cukup sehingga iming-iming harta,
giuran makanan dan pakaian rela menanggalkan aqidahnya sehingga wajar bila Nabi
Muhammad menyatakan, hampir saja kefakiran membawa seseorang kepada kekafiran.
Tiga ratus
limapuluh tahun lamanya Belanda menjajah bangsa Indonesia itupun lantaran harta,
paling tidak dua hal sebagai misi penjajahan yang dilakukan Belanda yaitu Gosvel,
untuk menyebarkan agama yang mereka anut yaitu Kristen dan Gold yaitu emas
sebagai lambang kekayaan, yang mereka
keruk dari dasar hingga permukaan bumi Nusantara ini sehingga lembah yang becek
dan bau dapat menimbum sebagian wilayah Negeri Kincir Angin itu seperti
Rotherdam dan Amsterdam, demikian pula
halnya tiga tahun Jepang menjajah, yang intinya juga untuk mengumpulkan
kekayaan dan harta yang dirampas dari bangsa Indonesia ini walaupun
mengorbankan nyawa dan harga diri bangsa Indonesia, dibelahan dunia lainnyapun
penjajahan merajalela dalam rangka untuk merampas harta dari negara orang
walaupun dalihnya demi demokrasi dan perluasan koloni.
Saddam
Husein dengan pasukan Iraknya memborbardir Kuwait,
Israel
merampas tanah wakaf Palestina, Amerika memerangi bangsa lain faktornya juga
karena ingin merampas kekayaan bangsa lain untuk kepentingan bangsanya. Para
Perompak, perampok, koruptor, para pencoleng, pencopet, penjambret berbuat
demikian karena dimotivasi ingin memiliki sesuatu tanpa susah payah mencarinya,
lebih baik mengambil harta yang sudah ada pada orang lain walaupun mengorbankan
harga diri.
Kisah
klasik dalam sejarah peradaban manusia juga kita kenal, sebagaimana saudara
sepupu Nabi Musa yang bernama Qarun, karena kepintarannya mencari harta
sehingga kunci gudangnya saja harus ditarik gerobak untuk membawanya, dari hal
itulah sehingga dia dekat dengan Fir'aun yang mengingkari kenabian Musa dan
menolak ke Esaan Allah lantaran Musa dan pengikutnya orang-orang yang tidak
punya harta, nampaknya harta bisa mendekatkan seseorang dengan kekuasaan.
Tsa'labah yang hidup di zaman Nabi Muhammad yang bosan dengan kemiskinan
sehingga bermohon kepada Allah melalui Nabi Muhammad agar diberikan harta yang
banyak dengan harapan semakin taat menjalankan perintah Allah, tapi nyatanya
karena hartalah dia akhirnya jauh dari agama dan mati dalam keadaan penyesalan.
''Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum
Musa, Maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan kami Telah menganugerahkan
kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh
sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya Berkata kepadanya:
"Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang terlalu membanggakan diri"[Al Qashash 28;76]
Di tengah
masyarakat, walaupun seseorang tidak berpendidikan tinggi, tidak punya
kedudukan sosial yang baik dan tidak pula dari keluarga terpandang tapi dia
akan dihargai karena punya harta yang banyak, orang yang cukup berada, orang
kaya kata orang. Sangat mudah baginya untuk bisa dekat dengan siapapun hingga
duduk dengan seorang pejabat, semua orang ingin dekat pula dengannya dengan
berbagai keluhan kesusahan yang disampaikan dengan harapan dapat bantuan gratis
atau pinjaman berjangka.
Karena
harta pula pertengkaran bisa terjadi, perselisihan mengakhiri persaudaraan
hingga harus berhadapan di pengadilan, saling gugat, saling mempertahankan
harta masing-masing walaupun akhirnya harta itu habis dalam proses penyelesaian
persengketaan itu, ibarat pepatah mengatakan yang menang jadi abu yang kalah
jadi arang, sia-sia. Tragedi terbesarpun akan mengakhiri kehidupan manusia
dalam penjara karena terlalu banyak punya harta yang diperoleh dengan cara
tidak baik.
Ketika
kita punya sedikit harta saja, banyak orang yang mau dekat bersama kita bahkan
mengaku sebagai saudara, ada hubungan kerabat dan hubungan lainnya, kemana
pergi kita akan diikuti, apapun yang disuruh kepadanya akan dikerjakan, loyalitasnya
dapat diandalkan, itu ketika punya harta, namun dikala harta itu sedikit-demi
sedikit menghilang semua orang akan mengacuhkan kita, teman dan sahabat tidak
ada lagi, semua semakin menjauh dengan alasan kesibukan masing-masing, maka
tinggallah sendiri tanpa ada yang mau tau keberadaannya. Nampaknya harta bisa
mendekatkan dan menjauhkan pertemanan, memang benar bahwa tidak ada teman yang
abadi itu, yang ada hanya kepentingan dan kepentingan. Selama ada harta maka
disana ada kepentingan, dikala harta sudah tidak ada lagi maka tidak ada lagi
kepentingan.
Keinginan
memiliki harta, nafsu untuk punya sesuatu, dibenarkan oleh Allah yang
digambarkan dalam firman-Nya yang mengatakan bahwa manusia itu dihiasi
keinginan kepada wanita, kepada anak-anak, binatang ternak dan harta serta
perniagaan lainnya, yang intinya memang insting terhadap hal itu sudah ada pada
diri manusia bahkan Islam menghargai
hak hidup dan mencari kehidupan bagi manusia.bila seorang manusia berhasil
dalam usahanya, maka pendapatannya itu menjadi haknya, tidak boleh diganggu
gugat oleh orang lain, ”Manusia hanya mendapat menurut usaha atau
kesanggupannya”
Semua manusia ingin memiliki harta yang
berlimpah untuk kebutuhan hidupnya, untuk semua itu segala cara ditempuh. Dahulu ketika masih miskin, dia hanya
berfikir, “Apa makan kita sekarang?’’, artinya untuk makan saja sulit. Sudah
mulai maju penghasilannya dia berkata, ”Makan apa kita sekarang?’’. Maksudnya
seseorang tadi sudah berfikir jenis makanan yang akan dikonsumsi. Semakin naik
penghasilan dia akan berkata, ”Makan dimana kita sekarang?’’, dia sudah bosan
kalau makan hanya di satu restoran saja sehingga untuk sarapan pagi di restoran
A, makan siang di restoran B, dan makan malam di restoran C, tetapi setelah
jadi pengusaha, pabrik sudah sekian jumlahnya, deposito selalu meningkat, rumah
sudah cemerlang, kendaraan mahal selalu mengkilap, dia mulai berfikir, ” Makan
siapa kita sekarang ?’’.
Itulah gambaran orang-orang yang tamak serta rakus dengan kehidupan dunia,
sehingga sepak kiri terjang kanan, jilat atas injak bawah, sodok sana gosok
sini, merupakan alat yang sah untuk mengeruk keuntungan. Memang benar bahwa
setiap manusia itu mempunyai watak loba,
tamak serta kurang qana’ahnya sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw, ”Andaikata seseorang itu sudah memiliki dua
lembah dari emas, pastilah ia akan mencari yang ketiganya sebagai tambahan dari
dua lembah yang sudah ada itu” [HR. Bukhari dan Muslim].
Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah berkata, ”Banyak
sekali keinginan-keinginan tersembunyi dalam hati yang cukup merusak mahabbah
dan ubudiyah kepada Allah serta keikhlasan beragama”. Kaab bin Malik
meriwayatkan dari Nabi Saw. Ia bersabda, ”Tidak ada dua srigala lapar yang
dilepaskan dari kandang kambing yang justru sangat berbahaya baginya, selain
kerakusan seseorang terhadap harta dan kedudukan bagi agamanya” [HR.
Ahmad].
Tanpa harta tidak mungkin kita akan bahagia tapi harta
bukanlah satu-satunya yang mendatangkan kebahagiaan, harta sebagai fasilitas hidup yang harus
dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya, dia ibarat darah pada satu tubuh yang
memerlukan kehidupan, berpandai-pandailah menggunakan darah bahkan bila
kelebihan pada tubuh seseorang juga tidak baik bagi kesehatan sehingga perlu
adanya penyaluran melalui pendonoran darah dalam rangka untuk membantu
kehidupan orang lain.
Harta itu ibarat senjata bermata dua,
kedua sisinya bisa melukai kita bila tidak hati-hati menggunakannya, dia
dipersoalkan bukan saja darimana dan dengan apa diperoleh tapi kemana
dipergunakan juga menjadi beban yang punya harta. Ke hati-hatian inilah yang
mendorong sahabat Nabi bernama Abu Bakar untuk menginvestasikan hartanya dengan
memerdekakan para budak, Umar bin Khattab tidak punya apa-apa lagi karena
seluruh hartanya diserahkan untuk biaya jihad begitu juga Usman bin Affan
milyaran rupiah hartanya untuk melepaskan ummat islam dari paceklik, nampaknya
efektif harta itu bila di tangan orang-orang yang bijak.
Nabi Muhammad dalam mengembangkan da'wah Islam
juga membutuhkan harta tidak sedikit tapi untuk fasilitas hidup beliau tetap
ada, beliau punya kuda tunggangan yang kuat dan cepat untuk digunakan dalam
peperangan, beliau punya onta yang gagah yang digunakan untuk perjalanan jauh
dan punya keledai untuk jalan sore-sore dengan cucu-cucunya. Walaupun beliua berbuka hanya dengan sebutir kurma tapi kurma
yang beliau konsumsi bukan kurma sembarangan, tentu kurma yang
berkualitas.
Itulah
yang menjadikan Khadijah berucap kepada Rasulullah dikala hartanya habis untuk
mengembangkan da'wah islam, katanya kepada sang suami, "Yang saya sedihkan
bukanlah karena harta saya habis untuk agama ini, tapi yang saya sedihkan
karena tidak ada lagi harta yang harus saya infaqkan, seandainya kelak aku
sudah meninggal sedangkan engkau akan mengembangkan da'wah ini ke sebuah pulau,
maka bongkarlah kuburanku,ambil tulang-tulangku sebagai jembatan demi
tersebarnya islam ini ke seantero dunia".
Alangkah mulianya munajab seorang Abu Bakar sehubungan dengan harta dan
rezeki, ”Ya Allah letakkanlah harta itu
di tanganku, jangan Engkau letakkan di hatiku”, artinya kalau Abu Bakar
saja sangat berhati-hati atas harta yang dimilikinya, takut kalau dikendalikan
oleh harta bukan mengendalikan harta yang akan merusak agamanya, apalagi kita
yang tidak sekualitas, tidak sekaliber Abu Bakar.
Tanpa
harta memang sulit untuk bahagia, tapi harta bukanlah jaminan untuk mencapai
bahagia. Jika kita miliki juga harta itu maka bersyukurlah dengan menginfaqkan
ke jalan Allah, bila hari ini kita dalam kekurangan, maka bersabarlah sekaligus
berusaha, Allah tidak menyia-nyiakan hamba-Nya yang mencucurkan keringat,
membanting tulang demi mencari nafkah untuk kebutuhan keluarganya.
Jangan kita memandang bahwa orang yang
serba punya lalu diridhai Allah, belum tentu, ridha Allah tidak terletak dari
banyaknya harta dan jabatannya yang diraih. Izin Allah diberikan kepada siapa
saja dalam mencari harta, tapi ridha Allah diberikan kepada orang yang mencari
harta dan jabatan dengan cara yang halal walaupun jumlahnya sedikit dan
kadangkala menemui kegagalan
Dalam
menerima rezeki sebenarnya yang penting bukan banyaknya tapi berkahnya, yaitu
dengan harta itu dia bahagia sebab dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan
harta itu pula dia harus berderma di jalan Allah, tidak gelisah dan tidak sesak
nafasnya karena penghasilan yang dia terima, ini kriteria harta yang berkah.
Betapa banyak orang yang memiliki harta melimpah tapi hidunya gelisah, resah,
cemas, takut dan panik karena hartanya tidak berkah. Idealnya biarlah kita kaya
tapi kita orang-orang yang shaleh diantara hamba-hamba-Nya yang shaleh.
Menurut Imam Al
Ghazali ada lima hal untuk
menghilangkan sifat loba, tamak dan rakus dalam kehidupan sehingga menjadi
orang yang qana’ah yaitu;
Pertama,
membiasakan diri hidup dalam keadaan
sedang, sederhana dan tidak berlebih-lebihan, secukupnya saja dalam berbelanja
dan menjauhi kemewahan.
Kedua, hendaklah seseorang itu
meyakinkan dengan seyakin-yakinnya bahwa rezeki yang ditentukan untuknya itu
pasti akan dicapai dan diperolehnya. Rezeki itu pasti akan datang sekalipun ia
tidak berhati tamak dan loba untuk meraihnya.
Ketiga, hendaklah disadari bahwa
dengan berbuat qana’ah itu seseorang akan memperoleh kemuliaan sebab tidak
memerlukan atau mengharapkan pertolongan orang lain dan tidak sampai
meminta-minta sesuatu untuk menutupi kebutuhannya, sedangkan bersifat loba dan
tamak itu merupakan lambang kehinaan.
Keempat, hendaklah memperbanyak
pemikirannya perihal kehikmatan yang dimiliki oleh golongan kaum kafir dan
kurang akal, selanjutnya hendaknya melihat prihidup para Rasul, Nabi dan
orang-orang shaleh sebelumnya tentang kehidupan.
Kelima, hendaknya disadari bahwa
harta itu banyak sekali menyebabkan timbulnya bencana dan marabahaya.
Dengan melaksanakan hal-hal sebagaimana yang tersebut di
atas, insya Allah seseorang itu akan dapat mengusahakan sifat qana’ah, menerima
dengan apa yang ada disisinya, tetapi harus berusaha untuk memperbaiki
nasibnya, juga tetap berpegang teguh pada sifat sabar dalam keadaan yang
bagaimanapun gawatnya karena sikap mulia yang ditanamkan oleh Nabi Muhammad
adalah bila yang berkaitan dengan rezeki maka lihatlah orang yang lebih miskin
dari kita, tapi yang berkaitan dengan ibadah maka lihat dan teladanilah orang
yang lebih shalehdari kita, bahkan watak seorang mukmin itu selalu baik, bila mendapatkan
rezeki maka dia bersyukur dan itu baik baginya dan bila mendapatkan musibah dia
bersabar maka itu juga baik baginya, yakinlah selama masih ada usia, masih bisa
berusaha maka masih dapat untuk mengais harta Allah di dunia ini, jangankan
manusia sedangkan ulat di dalam lubang batu saja masih mendapatkan rezeki dari
Tuhannya, wallahu a'lam. [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar