Rabu, 09 Desember 2015

23. Harta



Semua manusia yang normal tidak bisa melepaskan diri dari keinginan untuk memiliki sesuatu yang kita kenal dengan harta, bahkan sejak kecil kita sudah diberitahukan oleh orangtua kita tentang sesuatu yang kita miliki seperti "Bajuku, topiku, sepatuku", sehingga orang lain tidak berhak untuk itu, bila sedikit saja diusik oleh orang lain harta itu, spontan sang anak berontak, menangis dan marah.

Untuk memiliki sesuatu "harta", manusia melakukan kegiatan berbagai aktivitas sejak dari pengusaha hingga buruh harian, berdagang hingga tukang ojek, penyanyi hingga menamen sampai kepada jabatan-jabatan penting sejak dari Presiden sampai tukang parkir, semuanya membutuhkan balasan hasil jerih payahnya, bahkan seorang pengamen dengan suara lantang menyanyikan tembang sumbangnya bahwa dia mengamen hanya untuk makan setiap hari dan sisanya untuk beli mobil.

Ada orang yang menghabiskan waktu dan tenaganya untuk meraih sesuatu sampai menjadikan malam sebagai siang dan siang jadi malam demi meraih sesuatu untuk dimiliki dengan dalih untuk kepentingan pribadi, rumah tangga dan keluarga. Sehingga seorang ayah ibarat seekor kerbau yang membajak di sawah dari pagi buta sampai menjelang malam, hanya sebentar sekali waktunya untuk istirahat, sejumput rumput yang dia raih untuk melepaskan penatnya dari sesuatu yang tidak ada lagi yang harus dikunyahnya, itupun mendapat lecutan dari sang tuan.

Keletihan sang kerbau tidak hanya sebatas itu saja, tanduknyapun bergelimang tanah kubangan, yang semua itu dia lakukan demi memenuhi keinginan tuannya yaitu mengais secercah harta dari sawah ladang yang dibajaknya dikala panen tiba.

Semua orang berhak untuk mendapatkan harta, baik dengan cara halal maupun dengan haram, hal itu  tentu punya resiko masing-masing. Karena sulitnya untuk meraih harta itu sehingga timbullah kalimat yang tidak layak muncul seperti "Mencari yang haram saja sulit apalagi yang halal". Lebih-lebih dizaman paceklik, kemarau panjang yang juga memperpanjang penderitaan para petani, mempersulit jalan pencari rezeki yang hanya bermodalkan otot tanpa memperhitungkan otak.

Harta, juga sebagai simbul ketika seseorang menjelang dewasa, disaat ada keinginan untuk menyunting seorang dara cantik di sebuah desa, akankah kaki di langkahkan untuk meraih pujaan hati kalau diri tidak punya apa-apa, apa yang dapat dibanggakan kepada sang pujaan dan calon mertua bila tidak punya, apakah mungkin seorang ayah akan menyerahkan anak gadisnya dipinang oleh lelaki yang hanya mengandalkan dengkul dan kumis saja, mau makan apa nanti anak orang, sedangkan memelihara ayam saja harus punya sesuatu untuk memenuhi makanannya.

Harta, dia dipertanyakan oleh seorang ayah dikala seorang lelaki berkeinginan menyunting anak gadisnya, bekerja dimana, berapa penghasilannya sehari, kendaraan apa yang dia miliki, setelah nikah nanti mau tinggal dimana? Ini pertanyaan tabu sebenarnya untuk urusan mencari menantu, tapi apakah tidak layak bila hal itu mampu dipenuhi oleh calon menantu. Bagaimana beratnya beban kehidupan yang akan ditanggung seorang ayah dikala anaknya sudah menikah tapi sang suami tidak mampu memberikan sesuatu berupa harta kepada isterinya
.
Ada orang yang mendapatkan harta tanpa banyak menghabiskan waktu, tidak ada sekolah khusus yang dia tekuni, tapi dia mampu punya sesuatu itu tidak sesulit orang lain untuk meraihnya, sehingga kendaraan, tempat tinggal dan fasilitas lain bisa dinikmatinya dan memang itu hasil usahanya, nasib jualah yang menentukannya sehingga dia mencapai sesuatu dengan mudah. Tidak sedikit orang yang telah menghabiskan segala-galanya untuk meraih itu tapi tetap tidak mampu dia  peroleh, padalah kalau dia berdagang maka dagangannya tidak berbeda dengan orang lain tapi tetap saja orang enggan untuk belanja kepadanya, ibarat berladang, dia juga sudah berupaya berladang persis sebagaimana orang lain, tapi panen yang dia terima tidak seberuntung tetangganya.

Kalaulah seorang ayah harus mengumpulkan dulu uang untuk sekolah anaknya hingga tamat perguruan tinggi sekian puluh juta, maka hal itu tidak mungkin bisa dikumpulkan oleh seorang petani biasa, pedagang kaki lima atau pegawai rendahan, tapi dikala dia upayakan anaknya tetap sekolah walaupun dengan susah payah memenuhi setiap hari dan bulannya, selain dari penghasilan usahanya atau pinjaman orang lain akhirnya sekolah anak akan tamat juga, tanpa  terasa dia telah mengumpulkan uang lebih banyak dari anggaran semula, ditambah lagi aset pendidikan yang diterima anaknya hingga tiga kali lipat dirasakan kelak.

Karena ingin untuk meraih harta diluar kemampuannya, banyak orang yang harus melakukan sesuatu seperti menipu dan mencuri atau transaksi lain yang tidak dibenarkan oleh hukum manapun, bertentangan oleh agama apapun dan yang lebih penting hati nurani pelaku sendiri tidak menerima transaksi itu, tapi karena desakan nafsu, bisikan setan atau ajakan siapapun sehingga rela mengorbankan kepribadian, walaupun akhirnya harta yang diinginkan diperoleh juga.

Karena hartalah seorang anak kampung harus meninggalkan tanah kelahirannya dengan alasan merantau, mencari pengalaman hidup yang intinya sebab di kampung tidak nampak  peluang untuk mencari harta yang lebih baik dan menjanjikan, walaupun sebenarnya ketika di rantaupun apa yang didambakan tidak dapat diraih kecuali sebatas untuk makan sehari-hari, kendaraan tidak ada, rumahpun masih menyewa bahkan anak-anak banyak yang tidak sekolah dengan dalih tidak ada biaya.

Karena kekurangan hartalah sehingga anak-anak melakukan kegiatan di jalan-jalan raya untuk mengais rezeki dengan meminta-minta, mengamen,  ibu-ibu dengan menggendong anaknya yang masih balita ditambah wajah kesedihan menadahkan tangan mengharapkan belas kasihan, tidak sedikit ummat islam yang harus meninggalkan agamanya disamping karena lemahnya iman juga karena hidup jauh dari cukup sehingga iming-iming harta, giuran makanan dan pakaian rela menanggalkan aqidahnya sehingga wajar bila Nabi Muhammad menyatakan, hampir saja kefakiran membawa seseorang kepada kekafiran.

Tiga ratus limapuluh tahun lamanya Belanda menjajah bangsa Indonesia itupun lantaran harta, paling tidak dua hal sebagai misi penjajahan yang dilakukan Belanda yaitu Gosvel, untuk menyebarkan agama yang mereka anut yaitu Kristen dan Gold yaitu emas sebagai lambang  kekayaan, yang mereka keruk dari dasar hingga permukaan bumi Nusantara ini sehingga lembah yang becek dan bau dapat menimbum sebagian wilayah Negeri Kincir Angin itu seperti Rotherdam dan Amsterdam,  demikian pula halnya tiga tahun Jepang menjajah, yang intinya juga untuk mengumpulkan kekayaan dan harta yang dirampas dari bangsa Indonesia ini walaupun mengorbankan nyawa dan harga diri bangsa Indonesia, dibelahan dunia lainnyapun penjajahan merajalela dalam rangka untuk merampas harta dari negara orang walaupun dalihnya demi demokrasi dan perluasan koloni.

Saddam Husein dengan pasukan Iraknya memborbardir Kuwait, Israel merampas tanah wakaf Palestina, Amerika memerangi bangsa lain faktornya juga karena ingin merampas kekayaan bangsa lain untuk kepentingan bangsanya. Para Perompak, perampok, koruptor, para pencoleng, pencopet, penjambret berbuat demikian karena dimotivasi ingin memiliki sesuatu tanpa susah payah mencarinya, lebih baik mengambil harta yang sudah ada pada orang lain walaupun mengorbankan harga diri.

Kisah klasik dalam sejarah peradaban manusia juga kita kenal, sebagaimana saudara sepupu Nabi Musa yang bernama Qarun, karena kepintarannya mencari harta sehingga kunci gudangnya saja harus ditarik gerobak untuk membawanya, dari hal itulah sehingga dia dekat dengan Fir'aun yang mengingkari kenabian Musa dan menolak ke Esaan Allah lantaran Musa dan pengikutnya orang-orang yang tidak punya harta, nampaknya harta bisa mendekatkan seseorang dengan kekuasaan. Tsa'labah yang hidup di zaman Nabi Muhammad yang bosan dengan kemiskinan sehingga bermohon kepada Allah melalui Nabi Muhammad agar diberikan harta yang banyak dengan harapan semakin taat menjalankan perintah Allah, tapi nyatanya karena hartalah dia akhirnya jauh dari agama dan mati dalam keadaan penyesalan.
''Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, Maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan kami Telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya Berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri"[Al Qashash 28;76]

Di tengah masyarakat, walaupun seseorang tidak berpendidikan tinggi, tidak punya kedudukan sosial yang baik dan tidak pula dari keluarga terpandang tapi dia akan dihargai karena punya harta yang banyak, orang yang cukup berada, orang kaya kata orang. Sangat mudah baginya untuk bisa dekat dengan siapapun hingga duduk dengan seorang pejabat, semua orang ingin dekat pula dengannya dengan berbagai keluhan kesusahan yang disampaikan dengan harapan dapat bantuan gratis atau pinjaman berjangka.

Karena harta pula pertengkaran bisa terjadi, perselisihan mengakhiri persaudaraan hingga harus berhadapan di pengadilan, saling gugat, saling mempertahankan harta masing-masing walaupun akhirnya harta itu habis dalam proses penyelesaian persengketaan itu, ibarat pepatah mengatakan yang menang jadi abu yang kalah jadi arang, sia-sia. Tragedi terbesarpun akan mengakhiri kehidupan manusia dalam penjara karena terlalu banyak punya harta yang diperoleh dengan cara tidak baik.

Ketika kita punya sedikit harta saja, banyak orang yang mau dekat bersama kita bahkan mengaku sebagai saudara, ada hubungan kerabat dan hubungan lainnya, kemana pergi kita akan diikuti, apapun yang disuruh kepadanya akan dikerjakan, loyalitasnya dapat diandalkan, itu ketika punya harta, namun dikala harta itu sedikit-demi sedikit menghilang semua orang akan mengacuhkan kita, teman dan sahabat tidak ada lagi, semua semakin menjauh dengan alasan kesibukan masing-masing, maka tinggallah sendiri tanpa ada yang mau tau keberadaannya. Nampaknya harta bisa mendekatkan dan menjauhkan pertemanan, memang benar bahwa tidak ada teman yang abadi itu, yang ada hanya kepentingan dan kepentingan. Selama ada harta maka disana ada kepentingan, dikala harta sudah tidak ada lagi maka tidak ada lagi kepentingan.

Keinginan memiliki harta, nafsu untuk punya sesuatu, dibenarkan oleh Allah yang digambarkan dalam firman-Nya yang mengatakan bahwa manusia itu dihiasi keinginan kepada wanita, kepada anak-anak, binatang ternak dan harta serta perniagaan lainnya, yang intinya memang insting terhadap hal itu sudah ada pada diri manusia bahkan Islam menghargai hak hidup dan mencari kehidupan bagi manusia.bila seorang manusia berhasil dalam usahanya, maka pendapatannya itu menjadi haknya, tidak boleh diganggu gugat oleh orang lain, ”Manusia hanya mendapat menurut usaha atau kesanggupannya”
Semua manusia ingin memiliki harta yang berlimpah untuk kebutuhan hidupnya, untuk semua itu segala cara ditempuh. Dahulu ketika masih miskin, dia hanya berfikir, “Apa makan kita sekarang?’’, artinya untuk makan saja sulit. Sudah mulai maju penghasilannya dia berkata, ”Makan apa kita sekarang?’’. Maksudnya seseorang tadi sudah berfikir jenis makanan yang akan dikonsumsi. Semakin naik penghasilan dia akan berkata, ”Makan dimana kita sekarang?’’, dia sudah bosan kalau makan hanya di satu restoran saja sehingga untuk sarapan pagi di restoran A, makan siang di restoran B, dan makan malam di restoran C, tetapi setelah jadi pengusaha, pabrik sudah sekian jumlahnya, deposito selalu meningkat, rumah sudah cemerlang, kendaraan mahal selalu mengkilap, dia mulai berfikir, ” Makan siapa kita sekarang ?’’.

            Itulah gambaran orang-orang yang  tamak serta rakus dengan kehidupan dunia, sehingga sepak kiri terjang kanan, jilat atas injak bawah, sodok sana gosok sini, merupakan alat yang sah untuk mengeruk keuntungan. Memang benar bahwa setiap manusia itu  mempunyai watak loba, tamak serta kurang qana’ahnya sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw, ”Andaikata seseorang itu sudah memiliki dua lembah dari emas, pastilah ia akan mencari yang ketiganya sebagai tambahan dari dua lembah yang sudah ada itu” [HR. Bukhari dan Muslim].

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, ”Banyak sekali keinginan-keinginan tersembunyi dalam hati yang cukup merusak mahabbah dan ubudiyah kepada Allah serta keikhlasan beragama”. Kaab bin Malik meriwayatkan dari Nabi Saw. Ia bersabda, ”Tidak ada dua srigala lapar yang dilepaskan dari kandang kambing  yang justru sangat berbahaya baginya, selain kerakusan seseorang terhadap harta dan kedudukan bagi agamanya” [HR. Ahmad].

            Tanpa harta tidak mungkin kita akan bahagia tapi harta bukanlah satu-satunya yang mendatangkan kebahagiaan, harta  sebagai fasilitas hidup yang harus dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya, dia ibarat darah pada satu tubuh yang memerlukan kehidupan, berpandai-pandailah menggunakan darah bahkan bila kelebihan pada tubuh seseorang juga tidak baik bagi kesehatan sehingga perlu adanya penyaluran melalui pendonoran darah dalam rangka untuk membantu kehidupan orang lain.

Harta itu ibarat senjata bermata dua, kedua sisinya bisa melukai kita bila tidak hati-hati menggunakannya, dia dipersoalkan bukan saja darimana dan dengan apa diperoleh tapi kemana dipergunakan juga menjadi beban yang punya harta. Ke hati-hatian inilah yang mendorong sahabat Nabi bernama Abu Bakar untuk menginvestasikan hartanya dengan memerdekakan para budak, Umar bin Khattab tidak punya apa-apa lagi karena seluruh hartanya diserahkan untuk biaya jihad begitu juga Usman bin Affan milyaran rupiah hartanya untuk melepaskan ummat islam dari paceklik, nampaknya efektif harta itu bila di tangan orang-orang yang bijak.

Nabi  Muhammad dalam mengembangkan da'wah Islam juga membutuhkan harta tidak sedikit tapi untuk fasilitas hidup beliau tetap ada, beliau punya kuda tunggangan yang kuat dan cepat untuk digunakan dalam peperangan, beliau punya onta yang gagah yang digunakan untuk perjalanan jauh dan punya keledai untuk jalan sore-sore dengan cucu-cucunya. Walaupun beliua  berbuka hanya dengan sebutir kurma tapi kurma yang beliau konsumsi bukan kurma sembarangan, tentu kurma yang berkualitas. 

Itulah yang menjadikan Khadijah berucap kepada Rasulullah dikala hartanya habis untuk mengembangkan da'wah islam, katanya kepada sang suami, "Yang saya sedihkan bukanlah karena harta saya habis untuk agama ini, tapi yang saya sedihkan karena tidak ada lagi harta yang harus saya infaqkan, seandainya kelak aku sudah meninggal sedangkan engkau akan mengembangkan da'wah ini ke sebuah pulau, maka bongkarlah kuburanku,ambil tulang-tulangku sebagai jembatan demi tersebarnya islam ini ke seantero dunia".

Alangkah mulianya munajab seorang Abu Bakar sehubungan dengan harta dan rezeki, ”Ya Allah letakkanlah harta itu di tanganku, jangan Engkau letakkan di hatiku”, artinya kalau Abu Bakar saja sangat berhati-hati atas harta yang dimilikinya, takut kalau dikendalikan oleh harta bukan mengendalikan harta yang akan merusak agamanya, apalagi kita yang tidak sekualitas, tidak sekaliber Abu Bakar.

            Tanpa harta memang sulit untuk bahagia, tapi harta bukanlah jaminan untuk mencapai bahagia. Jika kita miliki juga harta itu maka bersyukurlah dengan menginfaqkan ke jalan Allah, bila hari ini kita dalam kekurangan, maka bersabarlah sekaligus berusaha, Allah tidak menyia-nyiakan hamba-Nya yang mencucurkan keringat, membanting tulang demi mencari nafkah untuk kebutuhan keluarganya.

Jangan kita memandang bahwa orang yang serba punya lalu diridhai Allah, belum tentu, ridha Allah tidak terletak dari banyaknya harta dan jabatannya yang diraih. Izin Allah diberikan kepada siapa saja dalam mencari harta, tapi ridha Allah diberikan kepada orang yang mencari harta dan jabatan dengan cara yang halal walaupun jumlahnya sedikit dan kadangkala menemui kegagalan
Dalam menerima rezeki sebenarnya yang penting bukan banyaknya tapi berkahnya, yaitu dengan harta itu dia bahagia sebab dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan harta itu pula dia harus berderma di jalan Allah, tidak gelisah dan tidak sesak nafasnya karena penghasilan yang dia terima, ini kriteria harta yang berkah. Betapa banyak orang yang memiliki harta melimpah tapi hidunya gelisah, resah, cemas, takut dan panik karena hartanya tidak berkah. Idealnya biarlah kita kaya tapi kita orang-orang yang shaleh diantara hamba-hamba-Nya yang shaleh.

            Menurut Imam Al Ghazali ada  lima hal untuk menghilangkan sifat loba, tamak dan rakus dalam kehidupan sehingga menjadi orang yang qana’ah yaitu;

            Pertama, membiasakan diri  hidup dalam keadaan sedang, sederhana dan tidak berlebih-lebihan, secukupnya saja dalam berbelanja dan menjauhi kemewahan.

            Kedua, hendaklah seseorang itu meyakinkan dengan seyakin-yakinnya bahwa rezeki yang ditentukan untuknya itu pasti akan dicapai dan diperolehnya. Rezeki itu pasti akan datang sekalipun ia tidak berhati tamak dan loba untuk meraihnya.

            Ketiga, hendaklah disadari bahwa dengan berbuat qana’ah itu seseorang akan memperoleh kemuliaan sebab tidak memerlukan atau mengharapkan pertolongan orang lain dan tidak sampai meminta-minta sesuatu untuk menutupi kebutuhannya, sedangkan bersifat loba dan tamak itu merupakan lambang kehinaan.

            Keempat, hendaklah memperbanyak pemikirannya perihal kehikmatan yang dimiliki oleh golongan kaum kafir dan kurang akal, selanjutnya hendaknya melihat prihidup para Rasul, Nabi dan orang-orang shaleh sebelumnya tentang kehidupan.

            Kelima, hendaknya disadari bahwa harta itu banyak sekali menyebabkan timbulnya bencana dan marabahaya.

            Dengan melaksanakan hal-hal sebagaimana yang tersebut di atas, insya Allah seseorang itu akan dapat mengusahakan sifat qana’ah, menerima dengan apa yang ada disisinya, tetapi harus berusaha untuk memperbaiki nasibnya, juga tetap berpegang teguh pada sifat sabar dalam keadaan yang bagaimanapun gawatnya karena sikap mulia yang ditanamkan oleh Nabi Muhammad adalah bila yang berkaitan dengan rezeki maka lihatlah orang yang lebih miskin dari kita, tapi yang berkaitan dengan ibadah maka lihat dan teladanilah orang yang lebih shalehdari kita, bahkan watak seorang mukmin itu selalu baik, bila mendapatkan rezeki maka dia bersyukur dan itu baik baginya dan bila mendapatkan musibah dia bersabar maka itu juga baik baginya, yakinlah selama masih ada usia, masih bisa berusaha maka masih dapat untuk mengais harta Allah di dunia ini, jangankan manusia sedangkan ulat di dalam lubang batu saja masih mendapatkan rezeki dari Tuhannya, wallahu a'lam. [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar