Dalam rangka mengais rezeki Allah, banyak usaha yang bisa
dilakukan, mendatangkan keuntungan besar untuk mencukupi kebutuhan hidup
seseorang dan keluarganya bahkan bisa menjadi kekayaan yang menggiurkan,
jangankan petani yang punya ternak, sedangkan usaha anak-anak metal dengan
mengamen saja menanamkan sikap optimis pada dirinya, sebuah dendangnya
menyatakan bahwa mereka mengamen hanya untuk mencari makan, sisanya untuk beli
mobil. Bertani juga bisa demikian apalagi ditambah dengan ternak sapi, kerbau,
kambing, ayam dan ternak ikan dengan berbagai jenisnya.
Ternak pada masanya menjadi ujud kemewahan bagi
pemiliknya seperti kita saksikan pada film-film dokumenter walaupun mobil dan
kendaraan lain sudah ada, bagi seorang Demang pada zaman Belanda, kuda sebagai
kendaraan untuk kegagahan menunjukkan prestise seseorang, keledai sebagai hewan
tunggangan untuk membawa beban berat dari satu daerah ke daerah lain apalagi
harus melalui perjalanan yang masih belum tersentuh tekhnologi modern, selain
kuda apalagi untuk pacuan, maka sapipun menjadi kebanggaan bagi pemiliknya yang
mampu memenangkan acara karapan di Madura dan pacu jawi di Sumatera Barat,
begitu juga anjing yang mahir dalam berburu mendapat tempat tersendiri bagi kalangan
masyarakat perburuan.
Dalam sebuah perang, saat malam hari, dua orang sahabat
nabi yang ditugaskan untuk piket mendengar dari jarak jauh ada gerakan dan
bunyi yang mencurigakan. Keduanya siap-siap untuk mencari tahu, gerangan apa
yang terjadi dan ada apa dengan keamanan malam ini. Rasulpun mendengar hal itu,
beliau secepat kilat dengan kudanya menuju sumber yang mencurigakan, kedatangan
Rasul lebih cepat dibandingkan sahabat yang piket tadi, karena kuda yang beliau miliki bukan
sembarang kuda, kuda pilihan untuk mengintai lawan, begitu juga dengan onta
beliau, sesampai Hijrah di Madinah, para sahabat Anshar memegang tali onta itu
sambil berharap agar onta itu mau berhenti di rumah mereka, Rasul menghentikan
keinginan sahabat itu sambil menyatakan, biarkan dia memilih tempat yang
disukainya, tanpa disangka onta itu berhenti di depan rumah seorang anak yatim,
tanah itu dibebaskan dan di bangun masjid disana yang kita kenal dengan masjid
Nabawi.
Abu Dzar Al Ghifari adalah sahabat nabi yang mahir berdagang,
ketika hijrah ke Madinah, para Muhajirin disaudarakan oleh Rasul dengan kaum Anshar,
persaudaraan itu diujudkan dengan penyerahan sesuatu untuk membantu mereka, ada
Anshar yang punya sawah dan ladang lebih dari satu maka dia serahkan kepada
sahabat Muhajirin, ada yang punya ternak onta, sapi dan domba juga dibagi untuk
saudaranya, hanya Abu Dzar yang tidak mau menerima pemberian itu walaupun
halal, dia hanya bertanya, tunjukkan kepadaku dimana pasar, setelah tahu pasar,
dia bertindak sebagai makelar untuk menjualkan onta, sapi atau domba orang,
dari hasil itu dia mendapat komisi. Komisi yang diterimapun bukan berupa dinar
dan dirham tapi dia hanya meminta tali ternak yang dijual itu saja. Hal itu
berlansung sekian bulan sehingga menumpuklah tali-tali itu sampai menggunung. Tali
itu dijualnya sampai bisa membeli seekor dua ekor ternak sampai dia jadi kaya
raya dari hasil penjualan ternak yang ditekuninya, itulah aktivitas sahabat
yang satu ini, dia bisa punya ternak dari keahliannya berdagang.
Banyak nabi
dan rasul yang ketika kecilnya menggembalakan ternak, punya orangtua atau
keluarganya atau juga karena memenuhi
hidup dengan menerima upah gembala.
Nabi Muhammadpun ketika kecil ikut menggembalakan ternak Abu Thalib,
seorang paman yang membesarkanya setelah kakeknya Abdul Muthalib meninggal
dunia, Suatu ketika pernah ia mencoba untuk ikut
serta pada acara begadang pemuda jahiliyyah. Untuk itu, tugas mengembala
kambing digantikan oleh temannya. Iapun mulai berjalan ke suatu lokasi, tempat
anak-anak jahiliyyah begadang. Namun
di perjalanan ia berpapasan dengan sebuah pesta kenduri perkawinan. Ia merasa
tertarik, disaksikannya pesta itu sambil duduk-duduk. Tapi kemudian ia tertidur
sehingga sama sekali tidak sempat terlibat dalam aktivitas jahiliyyah itu.
Sejak itu, ia bertekad untuk tidak akan pernah ikut lagi. Ia selalu menyibukkan diri dengan
menyendiri dan banyak berfikir tentang hakekat hidup. Semua ini mempertajam
kemampuan berfikirnya.
Ketika
nabi Musa melerai pertengkaran dua orang pemuda di suatu tempat, salah seorang
pemuda itu tidak mau mengalah sehingga Musa memukul salah seorang dari mereka
sehingga jatuh tersungkur dan meninggal. Dengan kejadian itu Musa dianjurkan
oleh masyarakat untuk melarikan diri sebab pemuda yang meninggal itu dari
kalangan Fir’aun yang sedang berkuasa yang kebetulan menjadi ayah angkat Musa
sendiri. Musa pergi tidak tahu harus kemana mengikuti langkah kakinya tanpa
tujuan yang jelas, hanya untuk menyelamatkan diri.
Akhirnya dia sampailah pada sebuah kebun di negeri
Madyan, dia bersandar pada sebuah batang pohon di kebun milik masyarakat karena
keletihan, haus dan lapar yang dirasakan. Sementara itu dia melihat dari
kejauhan ada serombongan lelaki yang sedang menimba air pada sebuah sumur untuk
memberi minum domba-dombanya, yang menarik adalah Musa melihat pada tempat lain
berdiri dua orang gadis yang sedang memegang ember menunggu giliran.
Musa mendekati gadis itu dan bertanya keadaan mereka,
jawabnya adalah ”Kami sedang menunggu
giliran, bila lelaki itu telah selesai barulah kami bisa mengambil air untuk
ternak-ternak kami” jawab mereka. Mus menyela, ”Wah kalau begitu kalian terlalu
lama di tempat ini, bolehkah kalau kalian saya bantu?”, dua orang gadis itu
dengan senang hati mempersilahkan Musa menolong mereka, dengan mudah saja Musa
dapat menyibak lelaki yang lain sehingga ia dapat membawa sekian ember. Dalam
waktu singkat semua domba-domba milik sang gadis itu telah segar kembali dan
merekapun pulang. Tidak lupa mereka mengucapkan terima kasih kepada Musa, pemuda
yang telah menolongnya tanpa pamrih.
Sesampai di rumah rupanya sang ayah seorang nabi juga
bernama Syuaib mempertanyakan kehadiran mereka, kenapa sekali ini sang anak
cepat pulang dari menggembalakan domba dan tidak biasanya, sang gadis menjawab,
”Ayah, tadi ada seorang pemuda yang tubuhnya kuat yang menolong kami sehingga
kami cepat pulang, tampaknya pemuda itu layak kalau kita jadikan sebagai
pembantu kita di rumah ini, untuk melakukan pekerjaan yang tidak layak wanita
mengerjakannya”, ayahnya meresfon, karena sudah ada sinyal dari malaikat bahwa
pemuda itu adalah seorang nabi yang bernama Musa.
Sang ayah memerintahkan salah seorang anak gadisnya untuk
menjemput pemuda yang ditemui tadi,
”Kalau begitu segeralah kamu jemput dia dan suruh kemari, biar kita beri upah
atas jasa yang telah dilakukannya”. Sang putripun pergi ke tempat yang
dimaksud, dia melihat Musa sedang duduk disebuah kebun. Dari jarak jauh dengan
suara tegas dan lantang dia berseru, ”Tuan, ayah saya mengundang anda ke rumah,
anda akan diberi upah atas jasa yang
anda berikan kepada kami tadi”. Musapun menyanggupi ajakan gadis itu. Mereka berjalan dengan jarak yang
jauh, sang putri di depan sedangkan Musa di belakang. Rupanya angin bertiup
kencang yang menyibakkan rok si gadis sehingga nampaklah betis halusnya. Musa
berkata, ”Hai tuan putri, sekarang anda berjalan di belakang saya, kemudian
berikan aba-aba kemana arah jalan yang harus dilalui”.
Melalui dialoq yang panjang akhirnya nabi Syuaib memilih
Musa sebagai menantunya dengan syarat sebagai maharnya agar Musa siap menjadi
pekerja di rumah itu selama sembilan tahun, ingin digenapkan sepuluh tahun
bagus benar, kata nabi Syuaib dengan antusias. Kegiatan Musa di rumah Nabi Sueb
ikut serta memelihara ternak-ternak milik mertuanya yang dilakukan selama
sepuluh tahun sebagai mahar untuk mempersunting anak dara nabi Syueb.
Sapi sebagai ternak bukan hanya simbul kekayaan tapi juga
digunakan oleh ummat Nabi Musa yang dimotori oleh Samiri, Samiri mempengaruhi
orang-orang yang telah beriman kepada Musa untuk berbuat syirik dengan
menyembah Patung Sapi, yang akhirnya dapat dihancurkan oleh Musa dan Harun.
Nabi Isa juga seorang penggembala ternak sejak kecilnya,
lalu dikiaskan oleh kaum Nasrani lebih jauh lagi, bukan hanya menggembalakan ternak
berupa hewan saja, manusia dianggap sebagai ternak yang digembalakan oleh Isa
untuk menyelamatkan hidupnya di dunia ini, siapa saja yang tidak masuk agama
Kristen dianggap domba-domba berkeliaran yang harus diselamatkan.
Bagaimana kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail, juga
melibatkan episode tentang ternak. Sampai Ismail menjelang dewasa, tidak pernah
ditengok oleh ayahnya, hanya dalam asuhan ibunya seorang, Ismail tidak
mengetahui dan mengenal ayahnya, dia diasuh dengan belaian kasih sayang seorang
ibu, dengan segala beban penderitaan, hingga datang suatu hari Ibrahim
menjenguk anak dan isterinya. Tetapi sayang ketika dalam kegembiraan Ibrahim
mendapat ujian kembali. Belum habis rasa
capeknya setelah menelusuri perjalanan yang panjang, belum terobati rasa
rindunya sebuah mimpi mengusik ketenangannya, mimpi itu dari Allah agar dia
menyembelih putranya.
Dapat dibayangkan betapa hancur dan pedihnya hati seorang
ayah yang sudah lama memendam rasa rindu, tapi setelah bertemu anak yang baru
saja tumbuh remaja harus pula disembelih. Dia tidak tega melakukannya, sehingga
beberapa saat mimpi itu selalu disimpan. Tidak berani menceritakan kepada anak
dan isterinya. Namun karena perintah Allah, pengorbanan apa saja dia selalu
siap melaksanakannya, ”...Ibrahim
berkata, ”Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”. Ismail menjawab, ”Hai bapakku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insya Allah engkau akan
mendapatiku orang-orang yang sabar” [Asy Syafaat;120].
Ismail walaupun masih muda belia rela serta tidak gentar
menyerahkan dirinya untuk disembelih. Dia ikhlas karena dia anak yang shaleh
yang telah dibina, dididik, ditempa oleh seorang ibu dengan segala beban
penderitaan. Mereka sadar bahwa hidup hanyalah serentetan ujian dari Allah. Dan
kini mereka sedang berada dalam ujian yang kesekiankalinya yaitu melakukan
penyembelihan terhadap anak kesayangannya, belahan jiwa, penyejuk mata penenang
hati. Ketika pisau akan disembelih ke leher Ismail dengan sangat hati-hati
Ibrahim melakukannya, atas kuasa Allah, diganti dengan seekor domba, Allah
menerima iman dan kesabarannya.
Dalam kisah Ashabul Kahfi, pemuda-pemuda yang
diselamatkan dalam gua itu juga disertai oleh seekor anjing yang menemani
mereka, kisah ini diungkapkan Allah dalam firman-Nya dalam surat Al Kahfi 18;22
''Nanti
(ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat
adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima
orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap barang yang
gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang
ke delapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui
jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali
sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal
mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang
mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka''.
Yang
mengabarkan kepada Nabi Sulaiman tentang sebuah kerajaan yang dipimpin oleh
seorang wanita sedangkan rakyatnya menyembah berhala adalah seekor burung
Hud-hud, Sulaimanpun menyuruh burung itu untuk mengantarkan surat da'wah agar
sang Ratu dan rakyatnya menyembah Allah, dialah Ratu Balqis yang akhirnya menerima untuk beriman kepada Allah
dan menjadikan Sulaiman sebagai nabi dan suaminya. Begitu besar jasanya seekor
burung dalam rangka memperluas jangkauan da'wah Sulaiman. Walaupun hewan tidak
diwajibkan untuk beribadah dalam arti khusus kepada Allah tapi makhluknya
menunjukkan ketundukan dan ketaatan terhadap Khaliqnya walaupun anjing, burung,
bahkan seekor kucingpun tidak boleh dianiaya walaupun tidak sengaja untuk
menganiayanya dalam rangka beribadah kepada Allah, nabi Muhammad menggambarkan
tentang akan masuk nerakanya seorang wanita lantaran mengurung seekor kucing
hingga kelaparan walaupun hal itu dia lakukan dalam rangka untuk shalat, agar
shalatnya tidak diganggu oleh kucingnya.
Bagaimana
nabi Sulaiman harus menghentikan pasukannya karena dia mendengar dialoq semut
yang mengabarkan bahwa mereka akan diinjak-injak oleh pasukan Sulaiman, untuk
itu diperintahkan kepada semua semut untuk masuk ke sarangnya untuk
menyelamatkan diri, setelah aman barulah mereka dibolehkan untuk keluar dari
persembunyiannya.
Nabi
Muhammad Saw pernah menceritakan dalam sebuah hadits yang mengatakan bahwa pada
masa dahulu terdapat seekor anjing yang sedang kehausan di pinggir perigi
[kolam], dia berputar-putar di pinggir kolan tersebut dengan amat letihnya.
Ketika itu juga datanglah seorang pelacur Bani Israil. Dengan perasaan tulus
dan hiba, dibukanya sepatunya, kemudian
disauknya air dengan sepatu tersebut. Anjing itupun minum dengan senangnya,
hausnya lepas, kemudian dia berlalu meninggalkan pelacur seorang diri. Kata
Nabi, Allah memperhitungkan dan mengampuni dosanya”.
Perlakuan
baikpun diajarkan beliau ketika kita menyembelih hewan dengan sikap santun dan
lemah lembut, sebelum menyembelih hewan tersebut janganlah memperlihatkan senjata
penyembelihan kepada hewan apalagi sengaja mengasahkan pisau di dekatnya,
disembelih dengan pisau yang tajam agar hewan tidak terlalu lama merasakan sakit dan pedihnya mata pisau, bahkan lebih
jauh nabi mengajak kita untuk memperhatikan lingkungan ketika akan buang air
kecil sekalipun, untuk tidak membuang air di air tergenang dan jangan membuang
air di lubang-lubang serangga, bagi kita air kecil tapi bagi serangga yang
datang semacam air bah yang dapat mencelakakan komunitasnya.
Peternakan
apa saja selama halal untuk dipeternakkan, sebaiknya dikembangkan untuk
aktivitas positif yang mendatangkan rupiah tidak sedikit sehingga ada orang
yang naik haji dengan kerbau, ada orang yang punya mobil karena sapi, ada orang
yang bisa membangun rumah karena dibantu oleh ayam da anak-anak jadi sarjana karena ikan nila. Hewan
apa saja yang kita miliki agar dipelihara dengan baik selain mendatangkan
devisa yang menguntungkan juga sebuah ikhtiar mengais rezeki Allah karena
banyak jalan untuk mendatangkan rezeki yang halal diantaranya dengan
peternakan, jangan lupa untuk membayar kewajiban zakat dan infaq dari hasil
tersebut agar keberkahan usaha dijamin oleh yang punya rezeki yaitu Allah,
wallahu a'lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ 2010.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar