Selasa, 15 Desember 2015

72. Ternak



Dalam rangka mengais rezeki Allah, banyak usaha yang bisa dilakukan, mendatangkan keuntungan besar untuk mencukupi kebutuhan hidup seseorang dan keluarganya bahkan bisa menjadi kekayaan yang menggiurkan, jangankan petani yang punya ternak, sedangkan usaha anak-anak metal dengan mengamen saja menanamkan sikap optimis pada dirinya, sebuah dendangnya menyatakan bahwa mereka mengamen hanya untuk mencari makan, sisanya untuk beli mobil. Bertani juga bisa demikian apalagi ditambah dengan ternak sapi, kerbau, kambing, ayam dan ternak ikan dengan berbagai jenisnya.

            Ternak pada masanya menjadi ujud kemewahan bagi pemiliknya seperti kita saksikan pada film-film dokumenter walaupun mobil dan kendaraan lain sudah ada, bagi seorang Demang pada zaman Belanda, kuda sebagai kendaraan untuk kegagahan menunjukkan prestise seseorang, keledai sebagai hewan tunggangan untuk membawa beban berat dari satu daerah ke daerah lain apalagi harus melalui perjalanan yang masih belum tersentuh tekhnologi modern, selain kuda apalagi untuk pacuan, maka sapipun menjadi kebanggaan bagi pemiliknya yang mampu memenangkan acara karapan di Madura dan pacu jawi di Sumatera Barat, begitu juga anjing yang mahir dalam berburu mendapat tempat tersendiri bagi kalangan masyarakat perburuan.

            Dalam sebuah perang, saat malam hari, dua orang sahabat nabi yang ditugaskan untuk piket mendengar dari jarak jauh ada gerakan dan bunyi yang mencurigakan. Keduanya siap-siap untuk mencari tahu, gerangan apa yang terjadi dan ada apa dengan keamanan malam ini. Rasulpun mendengar hal itu, beliau secepat kilat dengan kudanya menuju sumber yang mencurigakan, kedatangan Rasul lebih cepat dibandingkan sahabat yang piket tadi,  karena kuda yang beliau miliki bukan sembarang kuda, kuda pilihan untuk mengintai lawan, begitu juga dengan onta beliau, sesampai Hijrah di Madinah, para sahabat Anshar memegang tali onta itu sambil berharap agar onta itu mau berhenti di rumah mereka, Rasul menghentikan keinginan sahabat itu sambil menyatakan, biarkan dia memilih tempat yang disukainya, tanpa disangka onta itu berhenti di depan rumah seorang anak yatim, tanah itu dibebaskan dan di bangun masjid disana yang kita kenal dengan masjid Nabawi.
           
            Abu Dzar Al Ghifari adalah sahabat nabi yang mahir berdagang, ketika hijrah ke Madinah, para Muhajirin disaudarakan oleh Rasul dengan kaum Anshar, persaudaraan itu diujudkan dengan penyerahan sesuatu untuk membantu mereka, ada Anshar yang punya sawah dan ladang lebih dari satu maka dia serahkan kepada sahabat Muhajirin, ada yang punya ternak onta, sapi dan domba juga dibagi untuk saudaranya, hanya Abu Dzar yang tidak mau menerima pemberian itu walaupun halal, dia hanya bertanya, tunjukkan kepadaku dimana pasar, setelah tahu pasar, dia bertindak sebagai makelar untuk menjualkan onta, sapi atau domba orang, dari hasil itu dia mendapat komisi. Komisi yang diterimapun bukan berupa dinar dan dirham tapi dia hanya meminta tali ternak yang dijual itu saja. Hal itu berlansung sekian bulan sehingga menumpuklah tali-tali itu sampai menggunung. Tali itu dijualnya sampai bisa membeli seekor dua ekor ternak sampai dia jadi kaya raya dari hasil penjualan ternak yang ditekuninya, itulah aktivitas sahabat yang satu ini, dia bisa punya ternak dari keahliannya berdagang.

Banyak nabi dan rasul yang ketika kecilnya menggembalakan ternak, punya orangtua atau keluarganya atau juga karena memenuhi  hidup dengan menerima upah gembala.   Nabi Muhammadpun ketika kecil ikut menggembalakan ternak Abu Thalib, seorang paman yang membesarkanya setelah kakeknya Abdul Muthalib meninggal dunia,   Suatu ketika pernah ia mencoba untuk ikut serta pada acara begadang pemuda jahiliyyah. Untuk itu, tugas mengembala kambing digantikan oleh temannya. Iapun mulai berjalan ke suatu lokasi, tempat anak-anak jahiliyyah begadang. Namun di perjalanan ia berpapasan dengan sebuah pesta kenduri perkawinan. Ia merasa tertarik, disaksikannya pesta itu sambil duduk-duduk. Tapi kemudian ia tertidur sehingga sama sekali tidak sempat terlibat dalam aktivitas jahiliyyah itu. Sejak itu, ia bertekad untuk tidak akan pernah ikut lagi. Ia selalu menyibukkan diri dengan menyendiri dan banyak berfikir tentang hakekat hidup. Semua ini mempertajam kemampuan berfikirnya.

Ketika nabi Musa melerai pertengkaran dua orang pemuda di suatu tempat, salah seorang pemuda itu tidak mau mengalah sehingga Musa memukul salah seorang dari mereka sehingga jatuh tersungkur dan meninggal. Dengan kejadian itu Musa dianjurkan oleh masyarakat untuk melarikan diri sebab pemuda yang meninggal itu dari kalangan Fir’aun yang sedang berkuasa yang kebetulan menjadi ayah angkat Musa sendiri. Musa pergi tidak tahu harus kemana mengikuti langkah kakinya tanpa tujuan yang jelas, hanya untuk menyelamatkan diri.

            Akhirnya dia sampailah pada sebuah kebun di negeri Madyan, dia bersandar pada sebuah batang pohon di kebun milik masyarakat karena keletihan, haus dan lapar yang dirasakan. Sementara itu dia melihat dari kejauhan ada serombongan lelaki yang sedang menimba air pada sebuah sumur untuk memberi minum domba-dombanya, yang menarik adalah Musa melihat pada tempat lain berdiri dua orang gadis yang sedang memegang ember menunggu giliran.

            Musa mendekati gadis itu dan bertanya keadaan mereka, jawabnya adalah  ”Kami sedang menunggu giliran, bila lelaki itu telah selesai barulah kami bisa mengambil air untuk ternak-ternak kami” jawab mereka. Mus menyela, ”Wah kalau begitu kalian terlalu lama di tempat ini, bolehkah kalau kalian saya bantu?”, dua orang gadis itu dengan senang hati mempersilahkan Musa menolong mereka, dengan mudah saja Musa dapat menyibak lelaki yang lain sehingga ia dapat membawa sekian ember. Dalam waktu singkat semua domba-domba milik sang gadis itu telah segar kembali dan merekapun pulang. Tidak lupa mereka mengucapkan terima kasih kepada Musa, pemuda yang telah menolongnya tanpa pamrih.

            Sesampai di rumah rupanya sang ayah seorang nabi juga bernama Syuaib mempertanyakan kehadiran mereka, kenapa sekali ini sang anak cepat pulang dari menggembalakan domba dan tidak biasanya, sang gadis menjawab, ”Ayah, tadi ada seorang pemuda yang tubuhnya kuat yang menolong kami sehingga kami cepat pulang, tampaknya pemuda itu layak kalau kita jadikan sebagai pembantu kita di rumah ini, untuk melakukan pekerjaan yang tidak layak wanita mengerjakannya”, ayahnya meresfon, karena sudah ada sinyal dari malaikat bahwa pemuda itu adalah seorang nabi yang bernama Musa.

            Sang ayah memerintahkan salah seorang anak gadisnya untuk menjemput pemuda yang ditemui  tadi, ”Kalau begitu segeralah kamu jemput dia dan suruh kemari, biar kita beri upah atas jasa yang telah dilakukannya”. Sang putripun pergi ke tempat yang dimaksud, dia melihat Musa sedang duduk disebuah kebun. Dari jarak jauh dengan suara tegas dan lantang dia berseru, ”Tuan, ayah saya mengundang anda ke rumah, anda akan  diberi upah atas jasa yang anda berikan kepada kami tadi”. Musapun menyanggupi ajakan  gadis itu. Mereka berjalan dengan jarak yang jauh, sang putri di depan sedangkan Musa di belakang. Rupanya angin bertiup kencang yang menyibakkan rok si gadis sehingga nampaklah betis halusnya. Musa berkata, ”Hai tuan putri, sekarang anda berjalan di belakang saya, kemudian berikan aba-aba kemana arah jalan yang harus dilalui”.

            Melalui dialoq yang panjang akhirnya nabi Syuaib memilih Musa sebagai menantunya dengan syarat sebagai maharnya agar Musa siap menjadi pekerja di rumah itu selama sembilan tahun, ingin digenapkan sepuluh tahun bagus benar, kata nabi Syuaib dengan antusias. Kegiatan Musa di rumah Nabi Sueb ikut serta memelihara ternak-ternak milik mertuanya yang dilakukan selama sepuluh tahun sebagai mahar untuk mempersunting anak dara nabi Syueb.

            Sapi sebagai ternak bukan hanya simbul kekayaan tapi juga digunakan oleh ummat Nabi Musa yang dimotori oleh Samiri, Samiri mempengaruhi orang-orang yang telah beriman kepada Musa untuk berbuat syirik dengan menyembah Patung Sapi, yang akhirnya dapat dihancurkan oleh Musa dan Harun.

            Nabi Isa juga seorang penggembala ternak sejak kecilnya, lalu dikiaskan oleh kaum Nasrani lebih jauh lagi, bukan hanya menggembalakan ternak berupa hewan saja, manusia dianggap sebagai ternak yang digembalakan oleh Isa untuk menyelamatkan hidupnya di dunia ini, siapa saja yang tidak masuk agama Kristen dianggap domba-domba berkeliaran yang harus diselamatkan.

            Bagaimana kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail, juga melibatkan episode tentang ternak. Sampai Ismail menjelang dewasa, tidak pernah ditengok oleh ayahnya, hanya dalam asuhan ibunya seorang, Ismail tidak mengetahui dan mengenal ayahnya, dia diasuh dengan belaian kasih sayang seorang ibu, dengan segala beban penderitaan, hingga datang suatu hari Ibrahim menjenguk anak dan isterinya. Tetapi sayang ketika dalam kegembiraan Ibrahim mendapat ujian kembali. Belum habis  rasa capeknya setelah menelusuri perjalanan yang panjang, belum terobati rasa rindunya sebuah mimpi mengusik ketenangannya, mimpi itu dari Allah agar dia menyembelih putranya.

            Dapat dibayangkan betapa hancur dan pedihnya hati seorang ayah yang sudah lama memendam rasa rindu, tapi setelah bertemu anak yang baru saja tumbuh remaja harus pula disembelih. Dia tidak tega melakukannya, sehingga beberapa saat mimpi itu selalu disimpan. Tidak berani menceritakan kepada anak dan isterinya. Namun karena perintah Allah, pengorbanan apa saja dia selalu siap melaksanakannya, ”...Ibrahim berkata, ”Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”. Ismail menjawab, ”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku orang-orang yang sabar” [Asy Syafaat;120].

            Ismail walaupun masih muda belia rela serta tidak gentar menyerahkan dirinya untuk disembelih. Dia ikhlas karena dia anak yang shaleh yang telah dibina, dididik, ditempa oleh seorang ibu dengan segala beban penderitaan. Mereka sadar bahwa hidup hanyalah serentetan ujian dari Allah. Dan kini mereka sedang berada dalam ujian yang kesekiankalinya yaitu melakukan penyembelihan terhadap anak kesayangannya, belahan jiwa, penyejuk mata penenang hati. Ketika pisau akan disembelih ke leher Ismail dengan sangat hati-hati Ibrahim melakukannya, atas kuasa Allah, diganti dengan seekor domba, Allah menerima iman dan kesabarannya.

            Dalam kisah Ashabul Kahfi, pemuda-pemuda yang diselamatkan dalam gua itu juga disertai oleh seekor anjing yang menemani mereka, kisah ini diungkapkan Allah dalam firman-Nya dalam surat Al Kahfi 18;22

''Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka''.

Yang mengabarkan kepada Nabi Sulaiman tentang sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang wanita sedangkan rakyatnya menyembah berhala adalah seekor burung Hud-hud, Sulaimanpun menyuruh burung itu untuk mengantarkan surat da'wah agar sang Ratu dan rakyatnya menyembah Allah, dialah Ratu Balqis yang  akhirnya menerima untuk beriman kepada Allah dan menjadikan Sulaiman sebagai nabi dan suaminya. Begitu besar jasanya seekor burung dalam rangka memperluas jangkauan da'wah Sulaiman. Walaupun hewan tidak diwajibkan untuk beribadah dalam arti khusus kepada Allah tapi makhluknya menunjukkan ketundukan dan ketaatan terhadap Khaliqnya walaupun anjing, burung, bahkan seekor kucingpun tidak boleh dianiaya walaupun tidak sengaja untuk menganiayanya dalam rangka beribadah kepada Allah, nabi Muhammad menggambarkan tentang akan masuk nerakanya seorang wanita lantaran mengurung seekor kucing hingga kelaparan walaupun hal itu dia lakukan dalam rangka untuk shalat, agar shalatnya tidak diganggu oleh kucingnya.

Bagaimana nabi Sulaiman harus menghentikan pasukannya karena dia mendengar dialoq semut yang mengabarkan bahwa mereka akan diinjak-injak oleh pasukan Sulaiman, untuk itu diperintahkan kepada semua semut untuk masuk ke sarangnya untuk menyelamatkan diri, setelah aman barulah mereka dibolehkan untuk keluar dari persembunyiannya.

Nabi Muhammad Saw pernah menceritakan dalam sebuah hadits yang mengatakan bahwa   pada masa dahulu terdapat seekor anjing yang sedang kehausan di pinggir perigi [kolam], dia berputar-putar di pinggir kolan tersebut dengan amat letihnya. Ketika itu juga datanglah seorang pelacur Bani Israil. Dengan perasaan tulus dan hiba,  dibukanya sepatunya, kemudian disauknya air dengan sepatu tersebut. Anjing itupun minum dengan senangnya, hausnya lepas, kemudian dia berlalu meninggalkan pelacur seorang diri. Kata Nabi, Allah memperhitungkan dan mengampuni dosanya”.

Perlakuan baikpun diajarkan beliau ketika kita menyembelih hewan dengan sikap santun dan lemah lembut, sebelum menyembelih hewan tersebut janganlah memperlihatkan senjata penyembelihan kepada hewan apalagi sengaja mengasahkan pisau di dekatnya, disembelih dengan pisau yang tajam agar hewan tidak terlalu lama merasakan  sakit dan pedihnya mata pisau, bahkan lebih jauh nabi mengajak kita untuk memperhatikan lingkungan ketika akan buang air kecil sekalipun, untuk tidak membuang air di air tergenang dan jangan membuang air di lubang-lubang serangga, bagi kita air kecil tapi bagi serangga yang datang semacam air bah yang dapat mencelakakan komunitasnya.

Peternakan apa saja selama halal untuk dipeternakkan, sebaiknya dikembangkan untuk aktivitas positif yang mendatangkan rupiah tidak sedikit sehingga ada orang yang naik haji dengan kerbau, ada orang yang punya mobil karena sapi, ada orang yang bisa membangun rumah karena dibantu oleh ayam da  anak-anak jadi sarjana karena ikan nila. Hewan apa saja yang kita miliki agar dipelihara dengan baik selain mendatangkan devisa yang menguntungkan juga sebuah ikhtiar mengais rezeki Allah karena banyak jalan untuk mendatangkan rezeki yang halal diantaranya dengan peternakan, jangan lupa untuk membayar kewajiban zakat dan infaq dari hasil tersebut agar keberkahan usaha dijamin oleh yang punya rezeki yaitu Allah, wallahu a'lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ 2010.M].




 
           

             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar