Kamis, 17 Desember 2015

98. Nabi Palsu



Banyak tokoh dalam agama Yahudi dan Nasrani yang menanti datangnya seorang Nabi dari kalangan mereka, kabar kedatangan Nabi tersebut termaktub dalam kitab-kitab terdahulu, dalam kitab Taurat, Zabur dan Injil, artinya, para nabi terdahulu membawa kabar gembira kedatangan nabi Muhammad saw.
"Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan bagai mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana".[Al Baqarah 2;129]

Orang-orang yang mengimani Al Kitab terdahulu seperti Taurat, Zabur dan Injil, kitab tersebut mereka baca, ditelaah dan diamalkan, mereka mengetahui dan mengenal akan datangnya seorang nabi dikemudian hari, beruntunglah mereka yang mengikuti kebenaran itu sehingga beriman dan merugilah bagi orang yang mengingkarinya,  sebagaimana firman Allah dalam surat Al An'am 6;20
"Orang-orang yang Telah kami berikan Kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri.orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah)".

                Sepanjang perjalanan sejarah maka sepanjang itu pula deretanorang-orang yang tampil di panggung sejarah yang mengaku sebagai nabi alias nabi palsu, jadi yang dihadapi oleh nabi Muhammad bukan saja orang yang tidak percaya atas kerasulannya tapi juga orang-orang yang iseng atau juga serius menyatakan dirinya sebagai nabi, hal ini dinyatakan dalam hadits beliau;        
“Sesungguhnya akan ada tiga puluh orang pendusta di tengah umatku. Mereka  semua mengaku nabi. Padahal, aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.”[HR.Abu Dawud].

            Dalam akidah Islam, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) adalah penutup para nabi. Ini sesuai dengan firman-Nya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Ahzab [33]: 40). Sementara Islam, ajaran yang dibawa Muhammad SAW merupakan dien yang telah disempurnakan.

Namun, masih ada saja manusia yang mengaku sebagai nabi yang diutus Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) setelah Muhammad SAW untuk menyempurnakan ajaran-Nya. Bahkan, sebelum Muhammad SAW wafat pun sudah ada yang mengaku sebagai nabi.Jumlah mereka banyak sekali.

Fakta akan munculnya nabi-nabi palsu, jauh-jauh hari sudah dikabarkan oleh Rasulullah SAW. Demikianlah yang tersirat dari sabda beliau, “Aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.”Dan, demikian pula yang difirmankan Allah SWT, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab: 40)

Kata “penutup para nabi,” menyiratkan makna bahwa akan muncul nabi-nabi palsu, baik itu pada masa hidup Nabi Muhammad SAW maupun pasca beliau wafat. Fakta pun berbicara di kemudian hari, dimana sabda Nabi ini menemukan buktinya.Dan, kebenaran sabda ini tentu saja adalah sebagian dari mukjizat beliau.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Secara tekstual hadits ini menyebutkan bahwa tiga puluh orang tersebut semuanya mengaku nabi.Inilah dia rahasia sabda Nabi pada akhir hadits sebelumnya, ‘Dan sesungguhnya aku adalah penutup para nabi.’Hal ini juga bisa berarti bahwa yang mengaku sebagai nabi di antara mereka hanya tiga puluh orang, sementara selebihnya adalah para pendusta saja namun mereka menyeru kepada kesesatan.”
Pada masa Nabi, muncul Nabi palsu di Yaman bernama Abhalah bin Ka’ab bin Ghauts Al-Kadzdzab, atau yang lebih dikenal sebagai Al-Aswad Al-Ansi. Al-Aswad pernah mengirim surat kepada Rasulullah SAW, “Hai orang-orang yang membangkang kepada kami, kembalikanlah tanah kami yang telah kalian rampas. Berikan kepada kami apa yang telah kalian kumpulkan, karena kami lebih berhak memilikinya. Adapun kalian, cukuplah kalian dengan apa yang kalian miliki.”

Al-Aswad mati dibunuh oleh istrinya, Idzan, yang bekerja sama dengan pasukan kaum muslimin dalam strategi yang jitu. Berita matinya Al-Aswad sampai ke Madinah pada pagi hari wafatnya Rasulullah SAW.Namun, ada juga riwayat yang mengatakan bahwa kabar tersebut sampai Madinah ketika Khalifah Abu Bakar baru saja selesai mempersiapkan pasukan Usamah.

Di Yamamah, juga muncul nabi palsu bernama Musailimah bin Tsumamah bin Habib Al-Kadzdzab. Musailimah (bukan Musailamah) pernah datang kepada Nabi bersama rombongannya dari Bani Hanifah.Dia berkata, “Jika Muhammad menyerahkan perkara ini kepadaku setelah dia meninggal, aku akan mengikutinya.”
Mendengar apa yang dikatakan Musailimah, Nabi bersabda, “(Jangankan kenabian), kamu minta tongkat ini dariku saja tidak akan aku berikan. Sungguh, jika kamu pergi, niscaya Allah akan menyembelihmu. Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku apa yang akan terjadi padamu.”
Nabi benar. Musailimah mati oleh Wahsyi bin Harb. Dia lempar Musailimah dengan tombak,  Musailimah mati pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Masih pada masa Nabi, dari Bani Asad muncul nabi palsu bernama Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal. Pada tahun sembilan Hijrah, dia datang bersama kaumnya kepada Nabi dan menyatakan keislamannya.Ketika Nabi sakit keras, dia memproklamirkan dirinya sebagai nabi. Dia ingin menggantikan Nabi Muhammad SAW sepeninggal beliau
Thulaihah dan pasukannya pernah beberapa kali bertempur dengan kaum muslimin dan selalu kalah.Bersama istrinya, dia kabur ke Syam (sekarang Suriah).Dia mendapatkan hidayah dan kembali ke pangkuan Islam.Thulaihah mati syahid dalam Perang Nahawand tahun 21 H.
Ada juga nabi palsu bergender perempuan.Sajah binti Al-Harits bin Suwaid namanya. Dia berasal dari Bani Tamim.Dia memproklamirkan kenabiannya setelah Nabi wafat dan ketika kaum muslimin sedang sibuk memerangi kaum murtaddin.Sajah tidak pernah terlibat peperangan langsung dengan kaum muslimin.Justru dia ‘bersaing’ dengan sesama nabi palsu, yakni Musailimah, yang sempat memperistrinya selama tiga hari. Dia tinggal di tengah-tengah kaumnya hingga masa kekhalifahan Muawiyah bin Abi Sufyan, sebelum akhirnya dia diusir oleh Muawiyah.

Dalam ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Imam Abu Ath-Thayyib Abadi menyebutkan sebuah atsar dari Ibnu Abi Hatim dari Abu Zumail; Ada seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Abbas RA, “Hai Ibnu Abbas, sesungguhnya Al-Mukhtar bin Abi Ubaid mengaku bahwa tadi malam dia mendapatkan wahyu.” Ibnu Abbas berkata, “Dia benar.”Abu Zumail yang saat itu berada di dekat Ibnu Abbas langsung tersentak.Dia bangun dan berkata, “Ibnu Abbas mengatakan Al-Mukhtar benar telah mendapatkan wahyu?”
Kata Ibnu Abbas, “Sesungguhnya wahyu itu ada dua macam; wahyu dari Allah dan wahyu dari setan.Wahyu Allah diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW.Sedangkan wahyu setan diturunkan kepada kawan-kawannya.” Lalu, Ibnu Abbas pun membaca ayat, “Sesungguhnya setan itu memberikan wahyu kepada kawan-kawannya untuk membantah kalian.” (QS. Al-An’am: 121)

Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi, juga ada nabi palsu bernama Al-Harits bin Said Al-Kadzdzab. Dulunya, ia adalah seorang zuhud yang ahli ibadah. Namun sayang, ia tergelincir dari jalan Allah dan mengikuti jalan setan. Ia didatangi iblis dan diberi ‘wahyu.’ Ia bisa membuat keajaiban2 laksana mukjizat seorang nabi. Saat musim panas, ia datangkan buah-buahan yang hanya ada pada musim dingin. Dan ketika musim dingin, ia datangkan buah-buahan musim panas. Sehingga, banyak orang yang terpesona dan mengikuti kesesatannya.

Al-Harits ditangkap oleh Khalifah Abdul Malik.Ia disuruh bertaubat dan diberi kesempatan untuk bertaubat. Sejumlah ulama didatangkan untuk menyadarkannya. Tapi ia enggan. Ia tetap dalam kesesatannya. Akhirnya, Abdul Malik pun menjatuhkan hukuman mati padanya. Al-Ala` bin Ziyad berkata, “Aku tidak iri sedikit pun pada kekuasaan Abdul Malik. Tapi aku iri dengan vonis matinya terhadap Al-Harits.Sebab, Rasulullah SAW bersabda, ‘Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum muncul tiga puluh orang dajjal pendusta yang semuanya mengaku nabi. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengaku nabi, maka bunuhlah ia. Dan barangsiapa yang membunuh salah seorang dari mereka, maka ia akan masuk surga’.” (HR. Ibnu Asakir)

Setidaknya ada dua hal yang membuat seseorang mengaku nabi dan atau mendapatkan wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.Pertama, karena kebodohannya.Dan kedua, karena nafsu duniawi.
Dikarenakan kebodohan terhadap ajaran agama, seseorang yang lemah imannya sangat mudah digelincirkan setan.Dengan segala kelihaian dan kecerdikannya, setan bisa membuat seseorang merasa sangat yakin bahwa bisikan yang diterimanya adalah wahyu dari Allah melalui utusannya, Malaikat Jibril. Padahal, itu tak lain adalah bisikan setan
Dan, dikarenakan nafsu duniawi, baik itu motivasi materi ataupun kedudukan, seseorang bisa saja mengaku sebagai nabi dengan cara-cara yang dipoles sedemikian rupa.Anehnya, masih saja ada orang ‘Islam’ yang percaya kepada nabi palsu. Dan tak kalah aneh, ada pula yang menganggap nabi palsu sebagai seorang mujaddid![Abduh Zulfidar Akaha,Kisah Tentang Nabi-Nabi Palsu, Hidayatullah.com,Ahad, 20 Februari 2011].
Selain nabi-nabi palsu yang disebutkan diatas, ada juga diantara mereka yang muncul kemudian, mengaku sebagai nabi dengan berbagai pengalaman dan argumentasi yang disampaikan untuk meyakinkan orang-orang yang bodoh dan dangkal imannya.

1.     Mirza Ghulam Ahmad

Mirza Ghulam Ahmad lahir 15 Februari 1835 di Qadian, wilayah Punjab, sebelah utara India .Ia berasal dari keluarga Muslim. Namun, keluarganya itu dikenal suka berkhianat kepada agama dan negaranya.

Saat kolonial Inggris menduduki India , Mirza salah seorang yang loyal dan taat terhadap penjajah. Sementara umat Islam India berjibaku mengusir penjajah.Sikap Mirza yang pro penjajah ini, dimanfaatkan Inggris untuk membuat gerakan.Tahun 1900 berdirilah gerakan yang bernama Ahmadiyah.Mirza diangkat sebagai nabinya.

Di antara ajaran Mirza yakni meyakini bahwa Allah juga berpuasa dan melaksanakan shalat, tidur, melakukan kesalahan, dan berjima’.Selain itu, bahwa kenabian tidak ditutup dengan diutusnya Muhammad SAW. Dan dirinyalah adalah nabi yang paling utama dari para nabi yang lain.

Menjelang akhir hayatnya, Mirza didera penyakit. Menurut Hasan bin Mahmud Audah, orang kepercayaan Mirza yang sudah kembali ke Islam, ia meninggal di tempat tidur. Berminggu-minggu sebelum matinya ia buang air kecil dan besar di situ.

2.     Mirza ‘Ali Muhammad Ridha Asy-Syairazi

Mirza ‘Ali adalah orang Yahudi yang menyamar sebagai Muslim. Ia tinggal di Iran. Ia berbaur di kalangan Syi’ah Imamiyah. Pada tahun 1844 Mirza Ali memproklamirkan diri sebagai nabi.Ia mengaku sebagai, “Albab”, yang berarti pintu. Yaitu pintu bagi kaum Syi’ah atau seluruh umat Islam yang akan menyatukan mereka bersama imam yang ditunggu kedatangannya di akhir zaman. Ia juga mengaku sebagai jelmaan Tuhan. Ia penggagas ajaran Bahaiyah.

Ajaran Mirza ‘Ali yang paling populer adalah menyatukan agama. Ia mengajak umat manusia untuk keluar dari semua agama yang dianut dan membentuk satu agama. Menurutnya, ketiga agama yaitu Islam, Yahudi, dan Kristen adalah benar dan semuanya datang dari Allah.Selain itu ajaran Mirza Ali juga mengharamkan jihad.

Berkat aksinya itu, pada tahun 1850 Mirza divonis mati oleh pemerintah Iran yang saat itu dipimpin Shah Tibriz.Sementara, para pengikutnya melarikan diri ke Turki dan Palestina.

3.     Thulaihah bin Khuwailid

Thulaihah adalah seorang dukun. Ia sangat disegani oleh kaumnya. Ketika Rasulullah SAW wafat, ia mengaku sebagi nabi yang menggantikan Muhammad SAW. Ia ciptakan ajaran baru. Menurutnya, manusia tak pantas sujud pada setiap shalat.  “Kepala dan wajah diciptakan oleh Tuhan bukan untuk dihinakan dengan mencium bumi lima kali sehari semalam.”Ia pun menghapuskan kewajiban membayar zakat bagi orang kaya.

Ia pernah menghadap Abu Bakar As Shiddiq di Madinah. Ia meminta Abu Bakar mengakui kedudukannya sebagai nabi baru dan hidup bersama berdampingan. Permintaan itu ditolak dengan tegas.Saat itu juga Abu Bakar memberi instruksi kepada para sahabat untuk memeranginya.Akhirnya, terjadi peperangan antara pengikut Thulaihah dengan kaum Muslimin.Pengikut Thulaihah berhasil ditaklukan.

4.     Ahmad Moshaddeq

Nama aslinya Abdussalam.Ia penggagas aliran al-Qiyadah al-Islamiyah. Moshaddeq mengaku sebagai nabi setelah melakukan meditasi di Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat selama 40 hari 40 malam.Puncaknya, pada malam ke 40, tepatnya 23 Juli 2006, Moshaddeq mengklaim mendapat wahyu dari Allah SWT.

Ajaran yang dibawa Moshaddeq ini dianggap sesat oleh MUI. Di antara kesesatan itu adalah shalat lima waktu dalam sehari diganti menjadi satu waktu, yakni shalat malam. Syahadat Muhammadurrasulullah diganti al-Masih al-Maw’ud rasulullah.

Sebelumnya Moshaddeq tercatat sebagai karyawan di Dinas Olahraga dan Pemuda DKI Jakarta.Ia juga sempat menjadi pelatih nasional bulutangkis. [Sumber : Suara Hidayatullah, Rep: Ibnu Syafaat, Red: Cholis Akbar,Kamis, 10 Februari 2011].

            Bahkan kekaguman seseorang kepada Soekarno juga menjadikan tokoh kemerdekaan dan Presiden Pertama RI ini dijadikan pula sebagai nabi oleh beberapa orang yang tergabung pada sebuah aliran.
Ada-ada saja keanehan di negara ini.Ada tuhan palsu, kitab suci palsu, agama palsu, dan tak ketinggalan Nabi palsu.Namun dalam jejak sejarah mungkin baru kali ini ada ajaran yang menjadikan Presiden Pertama RI, Soekarno, sebagai Nabi dalam arti sebenarnya dan bukan metafor.
Adalah Ajaran Adari yang memiliki gagasan gila itu. Tidak hanya itu, mereka juga bisa jadi menjadikan para presiden selanjutnya sebagai Nabi, katakanlah Soeharto, Habibie, Megawati bahkan juga tidak mustahil, presiden Indonesia saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono.
Menurut Rahnip dalam bukunya “Aliran Kepercayaan Dan Kebatinan dalam Sorotan” (Pustaka Progresif: 1997), Ajaran Adari menyatakan bahwa Sang Gusti telah bersatu (manunggal) menjadi satu ke dalam diri Bung Karno.Jadi Tuhan menurut ajaran ini setara dengan Bung Karno, dan Bung Karno setara dengan Tuhan.
Ketika manunggal itu terjadi, maka Bung Karno adalah Gusti adanya. Sehingga segala perbuatan Bung Karno maupun perkataannya adalah perbuatan dan ucapan dari sang gusti.

Adari Sudah Ada Setelah Kemerdekaan
Menurut buku "Mengenal Aliran-Aliran Islam dan Ciri-Ciri Ajarannya" oleh Drs. Muhammad Sufyan Raji Abdullah, Lc, nama Adari tidak lain adalah singkatan dari Agama Djawa Asli Republik Indonesia. Agama paguyuban ini didirikan di Yogyakarta tahun 1948, yang persisnya pada awal tahun kemerdekaan RI, oleh Djojowolu yang mempunyai nama asli S.W.
Mangun Wijoyo, alias Mangun Suwito lahir pada tahun 1882 di Surakarta. Ia membangun ajaran Adari dari keyakinan bahwa tidak ada kitab suci agama samawi seperti Alquran, Taurat, dan Injil, yang dapat dijadikan pegangan. Dalam ritualnya, ajaran ini mengikuti cara ibadah berdasarkan keyakinan sendiri dan menetapkan tanggal satu Syura sebagai hari besarnya.

Menurut Rahnip, Mangun Wijoyo adalah penganut ajaran kebatinan. Namun ia pernah melakukan pelanggran hingga pernah dimasukkan ke dalam sel penjara. Tak lama kemudian ia mendekam di Penjara Wirogunan Yogyakarta. Dalam penjara itulah ia mengadakan perenungan.
Dari balik jeruji besi, Mangun Wijoyo mulai mengembangkan ajaran Adari.Ia menyebut ajarannya lebih sebagai agama dengan prinsip manunggaling Kawula Gusti. Bung Karno kemudian diangkat menjadi Nabi sekaligus titisan tuhan, tanpa sepengetahuan Soekarno sendiri.
Rahnip menjelaskan bahwa pada dasarnya, Adari lebih dekat ke Hindu daripada ke agama Islam dan Kristen.Hal itu diperjelas salah satu klaim teologis dari ajaran Adari yang menuduh munafik para anggotanya yang melangsungkan perkawinan secara Islami maupun Kristen.
Sedangkan bagi yang melakukan acara perkawinannya sesuai ajaran Hindu tidak dicap sebagai munafik oleh pemimpin ajaran Adari.[Kisah Aneh dan Unik Ketika Soekarno Dijadikan Nabi, Sumber Internet, Monday, 11/04/2011 14:51 WIB].

Nash-nash al-QuR’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam secaRa tegas menyatakan: “Nabi Muhammad adalah Nabi yang teRakhiR, tidak ada Nabi sesudah beliau”.

SecaRa tegas al-QuR’an mengatakan:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak daRi seORang laki-laki di antaRa kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS.al-Ahzab: 40)
SeluRuh Ahli tafsiR, daRi kalangan Salaf dan Khalaf sepakat dalam memahami ayat ini, bahwa Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam adalah penutup seluRuh paRa Nabi, tidak ada Nabi sesudah beliau. Maka daRi itu siapa saja yang mengaku diRinya sebagai Nabi sesudah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, maka meReka sepakat bahwa ORang itu adalah dajjal pendusta, Nabi palsu.

Hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam pun menyatakan demikian. Di antaRanya adalah hadits yang diRiwayatkan Oleh Abu Daud dan at-TuRmudzi daRi sumbeR Riwayat Tsauban, Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam beRsabda:”Aku adalah penutup paRa Nabi, dan tidak ada Nabi setelahku”.
(HR. Abu Daud dan at-TiRmidzi).

DaRi sisi peRumpaan mengenai kenabian. Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam mengumpamakan bagaikan sebuah bangunan yang sudah hampiR Rampung bangunannya, hanya kuRang satu ubin saja, sedangkan kenabian beliau adalah ubin teRsebut.
“Sesungguhnya peRumpamaanku dan peRumpamaan PaRa Nabi sebelumku sepeRti peRempumaan seseORang yang membangun Rumah. Kemudian ia buat Rumah itu menjadi bagus dan indah kecuali tempat satu batu yang teRtinggal di bagian pOjOknya. Maka beRkelilinglah manusia di sekitaRnya dan meRasa takjub melihatnya. Lalu beRkata, kalau seandainya batu bata itu ada (sudah diletakkan). Rasulullah beRsabda, “Aku adalah batu bata teRsebut dan aku adalah penutup paRa Nabi”. (HR. al-BukhaRi)

Maka daRi itu, aqidah ummat Islam sepanjang masa adalah meyakini bahwa Muhammad shallallahu’alaihi wasallam adalah Nabi teRakhiR, dan tidak ada Nabi sesudahnya, dan siapa saja yang mengakui adanya Nabi sesudah beliau maka ia muRtad.
Ini merupakan ujian iman bagi manusia, yang tidak mengerti dengan islam secara kaffah sementara semangat untuk belajar sedang muncul, alangkah ruginya bila mereka diraih oleh segolongan orang untuk mengikuti ajaran yang salah yang dibawa oleh nabi palsu, kalaulah nabinya sudah palsu maka agama yang dibawa juga palsu, dapat dipastikan tuhannya juga palsu, wallahu a’lam    [Geylang Lorong 12 Singapura,  07 Rajab 1432.H/ 09 Juni 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar