Seorang ibu rela
bersimbah darah dan airmata demi menunaikan tugas sambil menanti kelahiran
anaknya walaupun nyawa sebagai tebusannya, seorang ayah berpanas dan berhujan
mengais rezeki untuk anak-anak dan isterinya, hal itu terjadi karena ada
sesuatu yang dimilikinya yaitu rasa cinta. Kalaulah tidak ada rasa cinta
mungkin ayah dan ibu sudah bersekongkol untuk mengakhiri kehidupan anaknya,
apalagi bayangan susahnya mencari kehidupan, menghidupkan anak-anak yang belum tahu
apakah akan menjadi orang atau malah menjadi sampah masyarakat.
Pada satu sisi cinta itu positif sebagai sarana
penyaluran perasaan kasih dan sayang kepada sesuatu atau kepada seseorang yang
dianjurkan oleh agama, dan pada sisi lain dia menimbulkan asfek negatif bila
cinta itu tidak ditempatkan secara proporsional. Bentuk cinta itu ada dua yaitu, pertama cinta thabi’i atau tabiat yaitu
cinta yang didorong oleh nafsu dan dikomandoi oleh syaitan. Nafsu tidak
mengenal benar dan salah, halal dan haram, dia hanya mengenal kalah dan menang.
Kemenangan harus diraih meskipun dengan menghalalkan segala cara, hal itu
dinampakkan indah oleh Iblis/syaitan sehingga segala yang buruk yang dilakukan
manusia, kelihatannya bagus, indah dan bermanfaat [15;39-40]. Kedua cinta
syar’i, yaitu cinta syariat yang didorong oleh iman serta dimotivasi oleh
mencari ridha Allah semata.
Lelaki
senang kepada seorang wanita cantik, bila dia menikahi gadis tersebut sesuai
dengan aturan islam, ini namanya cinta syar’i, tapi bila sebaliknya dengan cara
zina, inilah yang disebut dengan cinta thabi’i yang dirintis oleh syaitan.
Suatu ketika Rasulullah meramalkan bahwa
ummat islam akan dikeroyok oleh ummat lain jusru dikala ummat islam berjumlah
besar, disebabkan diserang oleh suatu penyakit yang disebut dengan ”Wahnun” yaitu penyakit ummat ”Hubbuddunya wakarahiyatul maut” yaitu
tarlalu cinta kepada dunia dan terlalu takut dengan kematian.
Isi
dunia ini dilengkapi tiga perhiasan yaitu harta dengan berbagai bentuknya,
tahta dengan berbagai jenis dan jenjangnya dan wanita dari berbagai tipe dan
kepentingannya. Jangankan ketiga hal di atas sedangkan salah satu dari tiga
dimiliki manusia lalu dia dikuasai oleh yang dimilikinya itu, dalam arti kata
dia terlalu cinta pasti dikuasai oleh
yang dimilikinya itu lalu takut berpisah dengan apa yang dicintai tersebut
apalagi kematian datang menghampiri tentu tidak dia harapkan, ”Dijadikan indah pada pandangan manusia
kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta
yang banyak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi
Allahlah tempat kembali yang baik [syurga]” [Ali Imran 3;14[.
Bukan
berarti ummat islam tidak boleh mencintai isi dunia, silahkan selama kecintaan
tadi didasari cinta kepada Allah, sebagaimana kupasan Imam Al Gazali berikut
ini dalam buku ”Bimbingan Untuk Mencapai
Tingkat Mukmin”;
Kecintaan
hakiki yang didasarkan karena Allah ialah apabila seseorang itu tidaklah
mencintai orang lain karena pribadi [zat] nya orang itu, tetapi semata-mata
karena mengingat keuntungan yang akan diperoleh untuk keakheratan dari
sahabatnya iu. Misalnya seseorang yang mencintai gurunya, sebab dengan guru itu
ia dapat memperoleh perantara guru menghasilkan ilmu pengetahuan dan amalan
yang dilakukan itu hanyalah untuk keakheratan belaka untuk mencari keridhaan
Allah.
Seorang
yang mencintai muridnya, sebab pada muridnya itulah ia dapat mencurahkan isi
pengetahuannya dan dengan perantara murid itu pula ia dapat memperoleh derajat
atau tingkat sebagai pengajar atau guru, guru yang semacam inilah yang juga
disebut mencintai orang lain untuk mencari keridhaan Allah.
Seseorang
yang suka menyedekahkan hartanya karena Allah bukan karena pamer atau riya’,
suka mengumpulkan tamu-tamunya lalu menjamu mereka dengan berbagai makanan yang
lezat serta yang enak makanannya yang
dilakukan semata-mata karena untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ia
suka kepada seorang pemasak karena ketelitian dan kebaikan cara memasaknya,
maka orang inipun termasuk pula dalam golongan pencinta untuk mencari keridhaan
Allah.
Seseorang
yang mencintai kepada seseorang yang suka menyampaikan sedekah atau zakatnya
kepada orang-orang yang hendak menerimanya. Jadi ia mencintainya juga karena
Allah. Demikian pula seseorang yang mencintai kepada pelayannya yang
membersihkan dirinya untuk mencuci pakaian, membersihkan lantai rumahnya atau
memasakkan makanannya, kemudian dengan demikian tadi ia sendiri dapat penuh
mencurahkan ilmu pengetahuan serta amalan shalehnya, sedang maksudnya
menggunakan pelayan dengan pekerjaan tadi adalah untuk terus menerus dapat
beribadah, itupun orang yang mencintai karena Allah juga.
Apabila
seseorang itu menikahi seorang wanita yang shaleh, yang demikian itu
dimaksudkan agar dirinya dapat terhindar dan terjaga dari godaan syaitan dan
pula guna menjunjung agamanya atau agar nantinya dapat dikarunia oleh Allah
seorang anak yang shaleh, seseorang mencintai isterinya karena karena isteri
itulah yang merupakan perantara atau alat kepada tujuan-tujuan keagamaan, maka
kedua macam orang itupun termasuk mencintai karena Allah.
Memang,
bukan sekali-kali yang merupakan syarat mencintai Allah itu harus tidak
mencintai harta dunia, sehingga bagiannya dari keduniaan itu ditinggalkannya
sama sekali, itu tidak, sebab isi do’a yang diperintahkan oleh para nabi adalah
mencakup antara kepentingan dunia dan akherat, sebagaimana yang tertera dalam
Al Qur’an surat Al Baqarah 2;201, ”Ya
Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat dan
peliharalah kami dari siksa neraka”, dalam sebuah hadis rasulullah berdo’a,
”Ya Allah sesungguhnya saya memohonkan
kepada-Mu suatu kerahmatan yang datangnya itudapatlah saya memperoleh
keselamatan, kemuliaan-Mu di dunia dan di akherat”.
Harta,
tahta dan wanita yang dikaruniakan Allah dapat digunakan untuk mendekatkan diri
kepada Allah karena mencintai Allah bukan berarti hidup jauh di pengasingan dengan pakaian dan
makanan yang sangat menyedihkan, sebagaimana layaknya seorang sufi, namun
demikian tidak sedikit pula menusia yang jauh dari Allah karena memiliki
fasilitas dunia yang menodai, dia terlalu cinta kepada dunia padahal tidak akan
lama didiaminya dan terlalu takut dengan kematian, padahal mati merupakan awal
kehidupan yang abadi.
Bila hal ini difahami, tidak akan kita temui orang yang
memiliki harta tapi bakhil tetapi sebaliknya mereka adalah orang yang penyantun
dengan mendermakan sebagian hartanya kepada yang berhak disantuni, tidak akan
kita temui para pemilik kekuasaan yang menindas si lemah dan menekan si bodoh,
namun para penguasa yang menegakkan kebenaran dan mengangkat silemah menjadi
kuat, juga tidak akan kita temui orang yang melacurkan dirinya dengan perbuatan
maksiat yang menjijikkan.
Manusia
adalah makhluk Allah yang punya hubungan istimewa yaitu hubungan cinta, hubungan
kasih sayang antara hamba dengan Khaliqnya. Hubungan ini terujud karena nilai
iman yang tinggi dan pemahaman tauhid yang benar, sehingga seorang mukmin
meletakkan posisi cintanya sesuai dengan prioritas [9;24], bahkan Allah
menggambarkan bagaimana seorang mukmin meletakkan dasar cintanya kepada Allah
selain mencintai yang lain [2;165] ”Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada
Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika
mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah
semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).
Kedua
bentuk cinta tersebut memiliki ciri yang sama dan khas dan itu merupakan alat
ukur cinta seseorang kepada orang yang dicintainya, baik cinta itu karena Allah
atau karena syaitan, adapun standard cinta tersebut adalah;
Pertama, banyak menyebut nama orang
yang dicintai. Dalam segala waktu dan kesempatan tidak pernah hilang dari
ingatan untuk mengenang dan mengingat kekasihnya, siang hingga malam, dikala
siang jadi angan-angan, waktu malam jadi impian, demikian pula cinta kepada
Allah, dia telah menjadikan seluruh
aktivitasnya untuk zikir hanya kepada Allah [8;2] ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah
mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila
dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada
Tuhanlah mereka bertawakkal”.
Kedua, kagum kepada yang dicintai.
Segala kebaikan dan keindahan yang ada pada yang dicintai menjadi sorotan
pertama sehingga menutupi kekurangan kekasihnya. Seluruh penampilan dari
kekasihnya menarik dan menyenangkan hati yang memandang, sejak dari kedipan
mata, hidung yang mancung, bibir yang indah, body yang menarik, semuanya
seolah-olah sempurna, jauh dari cacat dan cela [1;1]. ”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang”
Ketiga, ridha terhadap
orang yang dicintai. Apapun yang diperlakukan oleh kekasih tidak pernah merasa
kesal, sedih ataupun membalas, bahkan perlakuan tadi harus diterima dengan
senang hati, sabar dan tabah sebagai ujud cinta yang tulus [9;61] ”Di antara mereka (orang-orang
munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: "Nabi mempercayai semua
apa yang didengarnya." Katakanlah: "Ia mempercayai semua yang baik
bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi
rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu." Dan orang-orang yang
menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.”
Keempat, siap
berkurban untuk yang dicintai. Kurban apa saja akan dilakukan demi orang yang
dicintai, baik waktu, tenaga, materi bahkan jiwa ragapun siap dikurbankan demi
keutuhan cinta, bahkan pengurbanan merupakan salah satu indikator mutlak untuk
menunjukkan ketulusan cinta[2;207] ”Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena
mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”
Kelima, takut dengan
ancaman orang yang dicintai. Hal ini membuat kekasih berprilaku yang sopan dan
baik, takut bila sang kekasihnya murka apalagi memberikan ancaman sehingga dia
rela berbuat apa saja demi menyenangkan
hati kekasihnya [21;90] ”Maka
Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami
jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang
selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka
berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang
khusyu' kepada Kami.”
Keenam, mengharapkan
sesuatu dari orang yang dicintai. Baik berupa senyuman yang manis, tegur sapa
yang menyenangkan hingga harapan yang melambung tinggi [21;90]
Ketujuh, taat kepada
yang dicintai. Sehingga program apapun yang diberikan oleh kekasihnya tidak
pernah ditolak bahkan membutuhkan program-program tertentu untuk meningkatkan
kualitas cinta [ 24;51] ”Sesungguhnya
jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya
agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami
mendengar, dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Kedelapan, suka
membaca surat kekasih. Sehingga tiada waktu yang tersisa semua digunakan untuk
mengenang kisah kasih dengan orang yang
dicintai, surat menyurat adalah komunikai yang efektif untuk menyambungkan tali
kasih sayang [2;2-3] ”Kitab(Al
Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat,dan
menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepadamereka.”
Kesembilan, suka
menyendiri dengan yang dicintai. Ada hal yang sangat penting dibicarakan hanya
untuk berdua saja, tidak perlu orang lain tahu, suasana begini yang amat
diharapkan oleh orang yang sedang bercinta, larut malam, hujan gerimis, petir
bersambar dan nyamukpun banyak bagi mereka bukan masalah bahkan menambah
indahnya pertemuan.
Kesepuluh, suka
datang ke tempat kekasih. Walaupun resiko yang dihadapi sangat berat . seperti
orangtuanya marah, dianggap maling, dikejar polisi, kena hardikan anjing
herder, bahkan perjalanan harus melewati kuburanpun akan dilewati, hanya satu
tujuan dengan semboyan,”Lautan dalam akan diseberangi dan gunung tinggi akan
didaki”
Kesebelas, mengakui
kesalahan bila melakukannya. Hal ini dilakukan untuk mencari simpati serta
jangan sampai kemarahan sang kekasih berlarut-larut.
Itulah sebelas standard cinta seseorang
kepada kekasihnya, salah satu tidak ada apalagi semuanya tidak melekat maka
diragukan cintanya, demikian pula cinta hamba kepada Khaliqnya harus terujud
dengan banyak berzikir, kagum kepada Allah, ridha terhadap apapun yang
diberikan Allah, siap untuk berkurban, takut dengan siksa-Nya, mengharapkan
rahmat-Nya, taat kepada Allah tanpa reserve, suka membaca Al Qur’an, menyendiri
dengan tahajud dan munajad, datang memenuhi panggilan Allah dalam seluruh
segala perintah serta tidak lupa bertaubat bila melakukan ma’siyat atau dosa
dan kesalahan.
Cinta atau mahabbah
kepada Allah adalah konsekwensi dari iman yang mendalam, dia harus mampu
meletakkan segala cintanya kepada yang lain dibawah cinta kepada Allah. Cinta
kepada Allah merupakan akhir dan titik klimaks dari seluruh tingkatan dan
tahapan dalam kehidupan orang yang menapaki jalan menuju Allah. Cinta adalah
tingkatan yang paling tinggi, agung, bermanfaat dan wajib bagi manusia untuk
selalu mencintai-Nya, karena-Nya kita telah menuhankan-Nya, yang kewajiban tadi
tertumpu pula kepada hamba untuk mengabdikan dirinya dalam menjalankan segala
asfek ibadah sesuai perintah-Nya dan menjauhi semua larangannya. Hakekat ibadah
sendiri adalah totalitas rasa tunduk dan merendahkan diri di hadapan sang
Khaliq, Allah berfirman dalam surat Al Maidah 5;54
“Hai orang-orang
yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak
Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun
mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan
yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah,
diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas
(pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”
Cinta kepada Allah
merupakan sari kehidupan bagi hati dan
konsumsi pokok dari setiap jiwa insani. Tidak ada kelezatan, kenikmatan,
kebahagiaan dan kehidupan bagi hati kecuali dengan cinta itu. Apabila hati
insan kehilangan cinta, maka ia merasakan sakit yang sangat, melebihi mata yang
kehilangan korneanya, telinga yang kehilangan gendang pendengarannya, bahkan
kerusakan hati. Apabila hati telah kosong dari cinta kepada Khaliq maka dapat
dipastikan bahwa rusaknya hati lebih
parah daripada rusaknya raga ketika terpisah dari rohnya. Hal semacam ini sulit
dipercaya, kecuali oleh mereka yang hatinya memiliki nur hidayatullah, sebab
orang yang meninggal tidak merasa sakit sekalipun dia dilukai.
Fattah Al Mushili
berkata,”Orang yang memiliki mahabbah [cinta] baginya dunia ini bukan tempat
mereguk semua kelezatan yang kekal, selalu mengingat Allah walau sekejap mata”.
Ulama Salaf
berkata,”Orang yang bercinta, hatinya senantiasa melayang mencari-Nya, banyak
menyebut-Nya, mencari keridhaan-Nya dengan segala cara yang ia mampu untuk
melakukannya berupa amalan-amalan fardhu maupun sunnah dengan merasakan rindu
hyang membara kepada-Nya”.
Seorang wanita dari
kalangan Salaf memberi nasehat bagi putra-putranya,”Biasakanlah kamu mencintai
dan taat kepada Allah, sebab orang-orang yang bertaqwa itu hatinya selalu
tunduk kepada ketaatan, sehingga seluruh anggota tubuhnya merasa asing jika
berbuat di luar hal itu…”
Disuatu malam Rasulullah
dan Aisyah menunaikan shalat Isya
berjama’ah, setelah selesai shalat maka Aisyah tidur, sedangkan Rasul
melanjutkan shalatnya, di tengah malam Aisyah tersentak, dia melihat Rasul
sedang shalat juga, lalu dia tunggu Rasul mengakhiri shalatnya dan bertanya,”Ya
Rasulullah, bukankah syurga sudah pasti engkau masuki, dosa-dosamu yang lalu,
hari ini dan yang akan datang dihapuskan Allah, kenapa shalatmu demikian
banyak,” Rasul memberikan jawaban bahwa semua yang beliau lakukan itu lantaran
cinta kepada Allah dan rasa syukur yang mendalam.
Demikian pula ungkapan
cinta Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam sebuah kata-katanya, “Bila mereka
mencampakkanku maka saatnya aku bertamasa bersama-Mu, bila mereka mengurungku,
itulah saatnya aku berkhalwat dengan-Mu, seandainya mereka menggantungku,
itulah saatnya aku cepat bertemu dengan Rabbku”.
Bila cinta hamba kepada Khaliqnya telah
terjadi penyelewengan maka Allah akan menjatuhkan vonis kepadanya dengan cap
fasiq serta akan diberikan siksa yang pedih, sebagaimana firman-Nya dalam surat
At Taubah 9;24 “Katakanlah, jika
bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan
rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu sukai daripada
Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya”,
dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq”.
Untuk itulah kita harus menempatkan prioritas cinta itu
pada posisi yang benar yaitu Allah, Rasul dan Jihad, setelah itu boleh yang
lainnya agar cinta tadi tidak ternoda oleh kekafiran dan kemusyrikan. Mencintai
Rasulullah adalah kewajiban yang dibebankan kepada setiap mukmin disamping
kewajiban-kewajiban syariat Islam lainnya. Bahkan cinta kepada Rasululah serta
mengikuti tuntunannya adalah bukti cinta kepada Allah Swt, Allah berfirman
dalam surat At
Taubah 9;24, “Katakan hai Muhammad, “Jika
kalian mencintai Alah maka itulah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan
mengampungi dosa kalian”. Karenanya sejarah kehidupa para sahabat penuh
dengan episode-episode Mahabbaturrasul
dalam berbagai bentuknya.
Suatu hari Umar bin Khattab
Radhiyalahu’anhu bersama Rasulullah saw, sebagaimana biasa beberapa hal menjadi
pembicaraan Rasulullah dan para sahabat lainnya.”Ya Rasulullah, aku lebih mencintai engkau dari segala sesuatu kecuali
dari diriku sendiri”, ucap Umar saat itu kepada Rasulullah. “Wahai Umar, cintamu itu belum bisa diterima, sampai engkau mencintai
aku dari segala sesuatu termasuk dari dirimu sendiri”, sahut Rasululah.
Mendengar jawaban Rasulullah itu, seketika itu juga Umar
bin Khattab mengatakan, “Ya Rasulullah
kini aku mencintai engkau lebih dari mencintai diriku sendiri”, maka
Rasululah menyambung, “Barulah sekarang
benar wahai Umar”. Dari dialoq itu, Rasulullah lantas bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang diantara
kamu sehingga aku lebih dicintai baginya dari dirinya, orangtuanya,
anak-anaknya dan semua manusia” [HR. Bukhari].
Diawal
sejarah Islam, seorang Abu Bakar disiksa oleh kafir Quraisy karena berani
membaca ayat-ayat Al Qur’an dihadapan mereka, sampai babak belur dan pingsan.
Begitu siuman, yang ditanyakan Abu Bakar adalah Rasulullah, “Bagaimana keadaan Muhammad Rasulullah?” .
Suatu hari Rasulullah mengirim empat orang da’i ke
kabilah ‘Udhal dan Qarah, keempat da’i itu dikhianati dan dibunuh di tengah perjalanan. Salah seorang dari mereka bernama Zaid bin
Datsinah. Menjelang beberapa saat hendak
dibunuh, orang-orang kafir pengecut itu menawarkan sesuatu kepadanya, ”Bagaimana kalau kamu saat ini duduk dengan
nyaman bersama keluargamu, sementara sebagai gantinya Muhammad yang ada di
sini”, ”Demi Allah, sekejappun aku tidak rela jika sekarang ini Muhammad
terkena duri sedikitpun sedang aku duduk bersenang-senang bersama keluaragaku”,
jawab Zaid bin Datsinah dengan tegas.
Laksana
petir, jawaban itu sungguh memerahkan telinga. Keheranan dan segala kebencian
berbaur dalam hati mereka, sampai salah seorang dari mereka berucap, ”Tidak ada seseorang yang dicintai oleh para
sahabatnya, sebagaimana cintanya sahabat Muhammad kepada Muhammad”.
Sementara
itu usia perang Uhud yang melelahkan, kaum muslimin berkemas. Syahidnya
sahabat-sahabat agu ng belum bisa begitu saja dilupakan dari benak mereka.
Disatu sisi kebahagiaan tergambar, bahwa mereka yang syahid akan segera bertemu
dengan para syuhada’ Badr di syurga. Tetapi disisi lain semua itu tidak begitu
saja dapat menghapus rasa kehilangan yang mendalam.
Ditengah
suasana itu, tampak seorang wanita yang sedang mencari-cari seseorang. Tak
berapa lama ada orang membawa tandu yang isinya jenazah, ”Jenazah siapa itu ?” tanya wanita itu. ”Jenazah anakmu”, jawab yang membawa tandu. Tetapi wanita itu diam
saja. Diapun berlalu dan berjumpa dengan jenazah suaminya. Dia tetap diam saja.
Kemudian dia bertemu dengan orang yang membawa jenazah kakaknya sendiri, diapun
diam saja, ”Biarlah semua keluargaku
syahid dalam jihad ini, tapi bagaimana keadaan Rasulullah ? betulkah dia wafat?
Sebelum bertemu beliau hatiku tidak akan tenang” kata wanita itu dengan
rasa cemas.
Masih
banyak kisah-kisah yang menggambarkan bagaimana kecintaan para sahabat kepada
Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah dan pasukan kaum muslimin sampai di Tabuk,
Abu Khaitsamah keluar dari barisan lalu pulang. Sesampainya di rumah rupanya
sang isteri telah menyediakan makanan dan minuman lezat. Seketika terbayanglah
olehnya wajah Rasulullah yang hari itu disengat matahari, bermandikan keringat,
siap menyabung nyawa mempertahankan aqidah dan menyebarkan kalimatullah. Dengan
penyesalan yang mendalam Abu Khaitsamah berkata dalam hati, ”Bagaimana aku ini, Rasulullah pergi ke
medan perang, sedangkan aku bersenang-senang di rumah”. Segera ia memacu
kudanya kembali untuk bergabung dengan kaum muslimin.
Ketika
hijrah menelusuri perjalanan yang penuh bahaya, Abu Bakar dengan waspada kadang
berjalan di depan Rasulullah, kadang di belakangnya, kadang kesamping kanan,
sebentar kemudian lari pula ke samping kiri. Beliau khawatir kalau-kalau musuh
akan menghantam Rasul dari berbagai posisi lain.
Karena
kecintaan yang mendalam pulalah, ketika mendengar kabar bahwa Rasulullah wafat,
Umar bin Khattab pada mulanya tidak percaya, ”Siapa yang mengatakan Muhammad telah wafat maka dia akan berhadapan
dengan pedangku ini. Dia tidak wafat, tetapi menemui Allah sebagaimana Musa menemui Rabbnya” serunya
dengan keras.
Kenyataan
ini akhirnya harus diterima Umar bin Khattab, saat Abu Bakar menjelaskan, ”Barangsiapa menyembah Allah, maka
sesungguhnya Ia hidup dan tidak mati. Tetapi barangsiapa menyembah Muhammad,
maka sesungguhnya ia telah mati”, lalu beliau membaca firman Allah, ”Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang
Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya para Rasul. Apakah jika dia wafat atau
terbunuh kamu berbalik ke belakang [murtad]” [Ali Imran 3;144].
Rasulullah
sendiri sangat mencintai ummatnya. Ketika
hijrah ke Madinah, Rasulullah adalah orang yang terakhir meninggalkan
Mekkah. Ketika sudah jelas bahwa ummatnya selamat semua di Madinah, barulah
beliau meninggalkan Mekkah dalam bahaya yang sangat besar.
Sementara
sesudah masa keemasan itu, sejarah kemudian mencatat bahwa tidak sedikit
pemimpin yang tampaknya dicintai dan diagung-agungkan rakyatnya. Tetapi begitu lengser, ia dihujat,
dicaci maki bahkan diseret ke pengadilan. Ironinya tidak sedikit dari para penghujat itu
yang sebenarnya bekas penjilat pemimpin yang dihujat itu.[Cubadak Solok,
Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar