Kamis, 17 Desember 2015

94. Optimis



Hidup yang dijalani tidaklah semulus bayangan indah yang selalu menjadi patokan kita tapi penuh dengan onak dan duri, halangan dan rintangan selalu menghadang, kegagalan menjadi beban bagi orang-orang yang memandang segala sesuatu dengan pesimis, tidak demikian dengan orang yang punya jiwa optimis. Optimis artinya memandang masa depan dengan semangat dan kecerahan yang diiringi dengan kerja keras, berfikir untuk maju sambil memeras keringat demi masa depan.

Di dalam kalimat syahadat terkandung aqidah, iman dan keyakinan seseorang kepada Allah dan kepada Rasul serta terhadap seluruh rangkaian rukun iman. Iman tidak sekedar ucapan di bibir tapi harus nampak pada tiga hal yaitu; perkataan dengan ucapan lisannya dapat dibuktikan keimanannya [24;51],iman juga harus terhunjam di hati sanubari yang paling dalam [8;2] serta direalisasikan melalui amal perbuatan sehari-hari [103;1-3, 2;25]

Iman yang terhunjam di hati, terucap di lisan dan teraplikasi melalui amal perbuatan sehari-hari akan membentuk iman yang istiqamah yaitu iman yang kokoh, stabil dan kuat, tidak akan lapuk karena hujan dan tidak akan lekang karena panas, Allah berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan,”Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan memperoleh syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” [Fush Shilat 41;30]

Iman yang istiqamah tidak akan tergiur oleh kondisi zaman yang berubah-ubah, ibarat batu karang yang ada di tengah lautan, walaupun dihantam oleh hujan, ombak, badai, cuaca yang tidak menentu, maka dia semakin kokoh, bahkan semakin tegar. Iman yang model begini sulit sekali membentuknya, selain dengan da’wah yang efektif juga harus disertai dengan tarbiyah zhatiyah yaitu pendidikan pribadi, sang pribadi berusaha untuk merubah dirinya dengan belajar secara individu melalui sirah para rasul dan sahabat, mengkaji buku-buku berkualitas serta hidupnya berada dalam lingkungan jama’ah shalihah yaitu lingkungan yang baik.   

Iman yang istiqamah akan membentuk tiga sikap yaitu; syaja’ah artinya jiwa keberanian dalam menghadapi seluruh asfek kehidupan, tidak ada yang dia takuti kecuali rasa takut itu sendiri [5;52], yang kedua membentuk sikap al itmi’nan yaitu ketenangan dalam hidup, tidak ada beban mental dalam menghadapi kehidupan ini, bagi dia hidup harus dijalani apa adanya, derita dan bahagia hanya dinamika hidup yang harus dinikmati, bila mendapat kebahagiaan maka layaklah bila bersyukur dan sebaliknya harus bersabar bila derita dirasakan [13;28] serta membentuk sikap tafaul yaitu sikap hidup yang optimis [24;55]

”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”.


Orang yang mampu meraih tiga sikap hidup tersebut, inilah model manusia yang akan meraih kebahagiaan hidup di dunia maupun akherat [8;65]

”Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti’’.

Begituindahnya motivasi yang diberikan Allah dan rasul-Nya kepada orang-orang beriman untuk menghadapi orang kafir dalam peperangan dalam rangka menghilangkan rasa takut dan gentar menghadapi para kafir tersebut, bila orang kafir perjuangannya hanya di dunia saja, tidak ada lagi peluang untuk berhasil di tempat lain, sedangkan walaupun ummat islam kalah dalam peperangan, tapi ada negeri lain yang harus dijemputnya yaitu akherat.
Sebagai muslim kita dituntut untuk hidup optimis, punya masa depan yang cerah, punya semangat yang bara untuk melakukan perubahan dan mengejar segala ketertinggalan, kita tidak boleh pesimis yang mengakibatkan diri kita kecut menghadapi dunia ini, jangan kecil hati menghadapi segala kemungkinan yang sudah terjadi, walaupun pedih tapi masih ada waktu untuk mengecap yang manis, setiap kesusahan pasti diakhiri dengan kesenangan, tiada perjalangan yang tidak berujung, tiada laut yang tidak bertepi, sesakit-sakitnya penderitaan yang dirasakan pasti ada akhirnya.
KeteRpuRukanekOnOmidanmOneteR yang melandaIndOnesiadanbebeRapanegaRalainnyabeRdampakmengenaskanbagikehi-dupanmasyaRakatkelasekOnOmibawah, khususnya, angkakemis-kinansemakinmembengkak.Angka di bawahgaRiskemiskinanjugasemakinbesaR.KeteRpuRukanekOnOmidanmOneteR yang di-mulaisejak 1997 M. di IndOnesiatelahdidahuluiOlehkRisismORaldanakidah, kRisiskejujuRan, danketeladanan.
Pada sisi lain kelas ekOnOmi menengah ke atas, teRus-meneRus menumpuk-numpuk kekayaan, mengeRuk haRta benda dengan segala caRa, dan beRfOya Ria mengumbaR hawa nafsu. Kecil sekali peRhatiannya teRhadap peRbaikan ekOnOmi gOlOngan mustad'afin. Bahkan ORang kaya teRus mengeRuk haRga Rakyat beRatus-Ratus tRilyun Rupiah dengan bekeRja sama dengan paRa penguasa lacuR.
NORma-nORma ketimuRan sebagai ORang timuR, teRlebih nilai akidah, syaRiat, dan akhlak Islam tidak lagi diliRik sedikit pun, apa-lagi dijadikan dasaR pijakan untuk beRpeRilaku yang cantik. Sungguh keadaan yang sangat memilukan ini menimpa hampiR seluRuh stRuktuR dan kultuR masyaRakat IndOnesia, kecuali yang diRahmati Allah Ta’ala.
Genap lengkaplah pendeRitaan jasmani dan ROhani, sOsial dan emOsiOnal. Jati diRi manusia beRadab telah beRalih kepada peRilaku-peRilaku kehewanan. Keadaan ini menunjukkan bahwa kebanyakan manusia telah beRgeseR daRi statusnya sebagai hamba Allah Ta’ala yang diciptakan hanya untuk beRibadah kepadaNya saja. Hanyalah se-dikit manusia yang Allah Ta’ala jaga yang tidak teRlibat di dalam peRkaRa yang mengenaskan teRsebut, sehingga tetap istiqamah hanya beRibadah kepadaNya saja.
Ulah atau tingkah laku yang sehaRusnya menaati Pencipta manusia, telah meReka gantikan dengan menuRuti hawa nafsu. Segala sesuatu hanya beRdasaR peRtimbangan akal meReka yang teRbatas dan nafsu hewani belaka. AtuRan-atuRan Penciptanya tak lagi dihiRaukan.
Keadaan sepeRti inilah yang membuat Allah Ta’ala menuRunkan azabnya. BeRbagai bencana alam, musibah beRskala besaR datang silih beRganti. Inilah ulah tangan manusia yang tidak beRtanggung jawab yang membuat keRusakan di muka bumi ini. Bukankah Allah Ta’ala telah beRfiRman,
"Kami tidaklah mengutus seORang nabi pun kepada suatu negeRi, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan pendeRitaan supaya meReka tunduk dan meRendahkan diRi. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga ketuRunan dan haRta meReka beRtambah banyak, dan meReka beRkata, 'Sesungguhnya nenek mOyang kami pun telah meRasai pendeRitaan dan kesenangan', maka Kami timpakan siksaan atas meReka dengan sekOnyOng-kOnyOng sedang meReka tidak menyadaRinya. Jikalau sekiRanya penduduk negeRi-negeRi beRiman dan beRtakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada meReka beRkah daRi langit dan bumi, tetapi meReka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa meReka disebabkan peRbuatannya. Maka apakah penduduk negeRi-negeRi itu meRasa aman daRi kedatangan siksaan Kami kepada meReka di malam haRi di waktu meReka sedang tiduR? Atau apakah penduduk negeRi-negeRi itu meRasa aman daRi kedatangan siksaan Kami kepada meReka di waktu matahaRi sepenggalan naik ketika meReka sedang beRmain? Maka apakah meReka meRasa aman daRi azab Allah (yang tidak teRduga-duga)? Tiadalah yang meRasa aman daRi azab Allah kecuali ORang-ORang yang meRugi. Dan apakah belum jelas bagi ORang-ORang yang mempusakai suatu negeRi sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami meng-hendaki tentu Kami azab meReka kaRena dOsa-dOsanya; dan Kami kunci hati meReka sehingga meReka tidak dapat mendengaR (pelajaRan lagi)?" (Al-A'Raf: 94-100).
Keadaan sepeRti ini membuat sebagian manusia 'telah kalah sebelum beRpeRang'. ARtinya, melihat, menyaksikan, meRasakan, dan mengalami pendeRitaan yang beRtubi-tubi, sekaligus tidak memiliki daya upaya dan tidak memOhOn peRtOlOngan, hidayah, dan inayah kepada pencipta meReka yakni Allah Ta’ala, akhiRnya muncullah sikap menyeRah, pasRah, lemah gaiRah untuk maju, tidak ada semangat juang untuk keluaR daRi kRisis multi dimensiOnal. MOtivasi hancuR, haRta benda hancuR, keluaRga hancuR, kehORmatan hancuR, tidak memiliki sandaRan atau dasaR beRagama yang memadai, akhiRnya sikap pesimistis menatap ke depan menjadi pilihan yang tak seha-Rusnya diambil. [SuROsOAbd. Salam, M.Pd.Optimisme, IndOnesia Akan Baik Jika ...Kumpulan KhutbahJum’atPilihanSetahunEdisi ke-2, DaRulHaqJakaRta].
            Seharusnya sifat optimis menjadi lecutan bagi seorang mukmin untuk bangkit dari keterpurukan, iman membutuhkan masa depan yang cerah, memerlukan sedikit cahaya untuk menembus kegelapan hingga sampai kepada terang benderang, mencari kehidupan yang berkah meninggalkan segala kegelapan jahiliyyah, seorang mukmin tetap ceria menyambut masa depan dengan iman dan aman.
. Hanyadenganiman yang benardantaqwa yang sebenarnyakitaakanmeraihketentramandiri, keberkahanhidupdan rasa amanakanmewujud di tengah-tengahmasyarakat. Allah swt.berfirman:
JikalauSekiranyapenduduknegeri-negeriberimandanbertakwa, pastilah Kami akanmelimpahkankepadamerekaberkahdarilangitdanbumi, tetapimerekamendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksamerekadisebabkanperbuatannya.
MakaApakahpenduduknegeri-negeriitumerasaamandarikedatangansiksaan Kami kepadamereka di malamhari di waktumerekasedangtidur?
atauapakahpenduduknegeri-negeriitumerasaamandarikedatangansiksaan Kami kepadamereka di waktumataharisepenggalahannaikketikamerekasedangbermain?
MakaApakahmerekamerasaamandariazab Allah (yang tidakterduga-duga)?Tiada yang merasaamandariazab Allah kecuali orang-orang yang merugi. Qs. Al-A’raf:96-99
Rasa amandanterhindardaribahayaitulah yang sekarangdibutuhkannegeriini.Betapatidak, hampirsetiapsaat, kitadikagetkandenganberbagaimacambencanadanmusibah, takadaujungnya.Bencanaada di sekitarkita, lebih-lebih di bulanini, mulaidaribanjirlumpurWarior, tsunami MentawaidangunungMerapi, bahkangempabumisetiaphari.Ratusanjiwameninggal.
Ayat-ayat di atasmenginformasikansyaratmeraihkeberkahanhidupdansekaligussyaratterhindardaribencana.
Jikalausekiranyapenduduksuatukampungataunegeri-negeriberimandanbertakwa, pastilah Kami akanmelimpahkankepadamerekaberkahdarilangitdanbumi, …”
Langitbukanmenurunkanhujan yang membawa mala petakabanjirsebagaimana yang terjadi di wilayahIbu Kota dansekitarnyapadapekanlalu.Rumah-rumahterendambanjir, macet di mana-mana, bahkanmenyeretkorbanseorangmahasiswi yang mencobamenghindaribanjirmalahterseret air di gorong-gorongterbawaarus air sampaipuluhan kilo meter danmeninggaldunia…
Bumibukanmemuntahkanawanpanas yang melelehkankulitkarenapanasnyasampailebihdari 600 derajatcelcius… bumibukanlari-lariataubergoyangataugempa, yang hari-hariiniterjadi di banyaktempat, di Maluku, Sulawesi, Lampung, Sumatera…
Lautbukanmemuntahkangelombangsetinggi 8 meter yang menghanyutkansemua yang dilaluinya… tsunami menggulungsemua yang diterjangnya, kecuali masjid tempatbersujudhamab-hamba Allah swt.
Bencanaada di sekitarkita, kebakaran di mana-mana, letusantabung gas masihmenelankorban… rasa amantercerabutdarilingkungankita.
Bencanaitukarenasikapmanusia yang mendustakanfirman-firman Allah, tidakmempercayaiaturandansyariat Allah dantidakmelaksanakannya. “tetapimerekamendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksamerekadisebabkanperbuatannya.”
KehidupaniniadapadaGenggaman Allah swt.DialahDzatPencipta, Pengaturalammayapadaini. Dengansangatmudah Allah swt.menunjukkankekuatandankekuasaan-Nya. Allah swt.tinggalberucap“Kun! fayakun”.Ketika Allah swt.sudahmenunjukkankekuatandankekuasan-Nya, tidakada yang dapatmenolakdanmenghindarinya. Tidakada rasa amandarimakar Allah, darimurkadanbencana-Nya.“MakaApakahpenduduknegeri-negeriitumerasaamandarikedatangansiksaan Kami kepadamereka di malamhari di waktumerekasedangtidur?sebagaimana yang terjadi di Mentawai…
AtauApakahpenduduknegeri-negeriitumerasaamandarikedatangansiksaan Kami kepadamereka di waktumataharisepenggalannaikketikamerekasedangbermain?sebagaimana yang terjadi di Wasiorataujuga yang terjadi di sekitargunungMerapi –yang bahkanterjadipadasiangdanmalamhari-…
Tidakadatempatuntuklaridarimakar Allah.Manusiadenganketerbatasankemampuan yang dimilikinyabahkanteknologi yang dikuasainyatidakmampumenghindardaribencana yang terjadi.
Kita dengardanlihatketikateknologimanusiamengatakanwilayahamandaribencanaawanpanasmerapiberjarak 10KM, kemudiandirevisilagi 15KM… jarakitupuntidakaman, bahkanpuluhanmeninggalkarenaberada di sekitardiradiusitu… terkenaawanpanas, semuahangusterbakar, binatang, pohon-pohon, bangunan-bangunandansemua yang dilewatiawanpanas. Kemudiandirevisilagi, jarakamanberada di radius 20KM daripuncakgunungmerapi.“MakaApakahmerekamerasaamandariazab Allah (yang tidakterduga-duga)?tiada yang merasaamandanazab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”
“Dan apasajamusibah yang menimpakamumakaadalahdisebabkanolehperbuatantanganmusendiri, dan Allah memaafkansebagianbesar (darikesalahan-kesalahanmu).”Syuro/42:30
“Telahnampakkerusakan di daratdan di lautdisebabkankarenaperbuatantanganmanusia, supaya Allah merasakankepadamerekasebahagiandari (akibat) perbuatanmereka, agar merekakembali (kejalan yang benar).”QS. Rum/30:41[UlisTofa, Lc, KhutbahJum'at, MeraihBerkah Allah, Eramuslim,12/11/2010 | 05 Zulhijjah 1431 H].
            Banyaksekaliayat-ayat yang mengajakummatislamituuntukhidupoptimis di duniainidenganberusahameraihjanji Allah, bilajanjiitudiupayakandengansebaik-baiknya, seoptimalmungkinmakadapatdipastikanduniainidalamgenggamanseorangmuslimkarenamemangmereka yang layakmewarisiduniaini.
Allah menjanjikan kepada orang beriman bahwa mereka tetap pada posisi makhluk terbaik; walaupun manusia pada awalnya tercipta dalam posisi fithrah [suci], baik dan mulia tapi ketika perjalanan hidupnya jauh dari nilai-nilai yang diharapkan oleh Allah maka akan jatuh pada posisi yang sangat hina;
 “ Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),’[At Tin 95;4-5]
Ketika keimanan masih disandang saat itu keadaan manusia masih berhaga disisi Allah, tapi bila telah melakukan kemaksiatan, waktu itu lunturlah posisinya tadi. Untuk itu perlu adanya komitmen dalam keimanan sehingga tidak mudah diluntur dan dilenturkan oleh keadaan, lebih jauh Allah menerangkan ketika orang beriman telah meninggalkan kmitmen imannya maka tak bedanya dengan binatang ternak bahkan lebih;
”Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” [At Tin 9;6]
Orang beriman akan diberi kehidupan yang baik; maknanya adalah kehidupan yang diridhai Allah walaupun dengan fasilitas yang sangat minim. Godaan yang hadir untuk mencelakakan manusia terlalu banyak; bisa harta, tahta dan cinta sehingga idealisme perjuangan dalam hidup mudah sekali bertukar tergantung kebutuhan temporer, karena manusia mengartikan kehidupan yang baik sesuai dengan hawa nafsunya.
Bagi seorang yang miskin, kondisi ini menurut Allah untuknya adalah baik, bila dia menjadi kaya mungkin komitmen agamanya akan berkurang sebagaimana Qarun di zaman Nabi Musa dan Tsa’labah di era Rasulullah. Seorang yang posisinya sebagai prajurit adalah lebih baik daripada sebagai panglima, karena Allah tahu bila dia jadi panglima akan banyak penyelewengan yang dilakukan. Jangan kita mengartikan baik itu menurut hawa nafsu dan pemikiran kita tapi lihatlah apa yang diprogram Allah, semua yang dijadikan Allah, semua kejadian dan peristiwa ada hikmah dibalik itu;
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui”Al Baqarah 2;216].
Sulit bagi kita untuk menebak hal yang baik itu baik untuk kita atau yang buruk itu akan berkibat buruk bagi kita karena semua itu rahasia Allah, namun janji Allah bahwa manusia beriman akan diberi kehidupan yang baik adalah persi Allah dan wajib kita ikuti;
             ‘’Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan’’ [An Nahl 16;97]
Orang beriman akan diberi ampunan; setiap manusia berdosa tergantung besar atau kecilnya, disengaja atau tidak. Bila dosa yang dilakukan tidak dinetralisir dengan taubat menjadi beban bagi pelakunya, orang yang baik bukanlah orang yang tidak berbuat salah tapi adalah orang yang berusaha untuk memperbaiki dirinya, segala dosa dan kesalahan perlu dimintakan ampunan kepada Allah dan untuk mengabulkannya ini merupakan hak preogatif Allah,  tapi untuk orang yang beriman Allah menjanjikan itu dengan syarat bertaubat nashuha;
“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” Al Fath 48;29].
Bahkan janji Allah juga diberikan kepada orang beriman, agar meraih kedudukan dan posisi yang baik hingga menguasai bumi sebagaimana orang-orang shaleh terdahulu juga ada yang menjadi penguasa di bumi ini.
“Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa’’ [An Nur 24;55]
Bagaimana kita tidak optimis menghadapi hidup dan kehidupan ini, sedangkan iblis saja untuk menyesatkan manusia dengan target yang luar biasa, yaitu target yang optimistis sebagaimana dalam surat Al Hijr difirmankan Allah;

”Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka".[Al Hijr 15;39-40].

Begitu optimisnya sang Iblis untuk menyesatkan seluruh manusia di dunia ini agar jadi pengikutnya dan akan berada dalam neraka bersama-sama dengannya, maka selayaknya pula kalau kita optimis untuk mengajak semua manusia bersama-sama dengan kita untuk masuk dalam syurga Allah, wallahua’lam[JooChiat ComplexSingapura,  08 Rajab 1432.H/ 10 Juni 2011.M].










Tidak ada komentar:

Posting Komentar