Hidup yang dijalani tidaklah semulus bayangan indah yang
selalu menjadi patokan kita tapi penuh dengan onak dan duri, halangan dan
rintangan selalu menghadang, kegagalan menjadi beban bagi orang-orang yang
memandang segala sesuatu dengan pesimis, tidak demikian dengan orang yang punya
jiwa optimis. Optimis artinya memandang masa depan dengan semangat dan
kecerahan yang diiringi dengan kerja keras, berfikir untuk maju sambil memeras
keringat demi masa depan.
Di dalam kalimat
syahadat terkandung aqidah, iman dan keyakinan seseorang kepada Allah dan
kepada Rasul serta terhadap seluruh rangkaian rukun iman. Iman tidak sekedar
ucapan di bibir tapi harus nampak pada tiga hal yaitu; perkataan dengan ucapan
lisannya dapat dibuktikan keimanannya [24;51],iman juga harus terhunjam di hati
sanubari yang paling dalam [8;2] serta direalisasikan melalui amal perbuatan
sehari-hari [103;1-3, 2;25]
Iman yang
terhunjam di hati, terucap di lisan dan teraplikasi melalui amal perbuatan sehari-hari
akan membentuk iman yang istiqamah yaitu iman yang kokoh, stabil dan kuat,
tidak akan lapuk karena hujan dan tidak akan lekang karena panas, Allah
berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang
mengatakan,”Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian
mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan “Janganlah
kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan gembirakanlah mereka
dengan memperoleh syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” [Fush Shilat
41;30]
Iman yang
istiqamah tidak akan tergiur oleh kondisi zaman yang berubah-ubah, ibarat batu
karang yang ada di tengah lautan, walaupun dihantam oleh hujan, ombak, badai,
cuaca yang tidak menentu, maka dia semakin kokoh, bahkan semakin tegar. Iman
yang model begini sulit sekali membentuknya, selain dengan da’wah yang efektif
juga harus disertai dengan tarbiyah zhatiyah yaitu pendidikan pribadi, sang
pribadi berusaha untuk merubah dirinya dengan belajar secara individu melalui
sirah para rasul dan sahabat, mengkaji buku-buku berkualitas serta hidupnya
berada dalam lingkungan jama’ah shalihah yaitu lingkungan yang baik.
Iman yang istiqamah akan membentuk tiga sikap
yaitu; syaja’ah artinya jiwa
keberanian dalam menghadapi seluruh asfek kehidupan, tidak ada yang dia takuti
kecuali rasa takut itu sendiri [5;52], yang kedua membentuk sikap al itmi’nan yaitu ketenangan dalam
hidup, tidak ada beban mental dalam menghadapi kehidupan ini, bagi dia hidup
harus dijalani apa adanya, derita dan bahagia hanya dinamika hidup yang harus
dinikmati, bila mendapat kebahagiaan maka layaklah bila bersyukur dan
sebaliknya harus bersabar bila derita dirasakan [13;28] serta membentuk sikap tafaul yaitu sikap hidup yang optimis
[24;55]
”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh
akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi
mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan
menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.
mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan
aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah
orang-orang yang fasik”.
Orang yang
mampu meraih tiga sikap hidup tersebut, inilah model manusia yang akan meraih
kebahagiaan hidup di dunia maupun akherat [8;65]
”Hai Nabi,
kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang
sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.
Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat
mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum
yang tidak mengerti’’.
Begituindahnya motivasi yang
diberikan Allah dan rasul-Nya kepada orang-orang beriman untuk menghadapi orang
kafir dalam peperangan dalam rangka menghilangkan rasa takut dan gentar
menghadapi para kafir tersebut, bila orang kafir perjuangannya hanya di dunia
saja, tidak ada lagi peluang untuk berhasil di tempat lain, sedangkan walaupun
ummat islam kalah dalam peperangan, tapi ada negeri lain yang harus dijemputnya
yaitu akherat.
Sebagai muslim kita dituntut
untuk hidup optimis, punya masa depan yang cerah, punya semangat yang bara
untuk melakukan perubahan dan mengejar segala ketertinggalan, kita tidak boleh
pesimis yang mengakibatkan diri kita kecut menghadapi dunia ini, jangan kecil
hati menghadapi segala kemungkinan yang sudah terjadi, walaupun pedih tapi
masih ada waktu untuk mengecap yang manis, setiap kesusahan pasti diakhiri
dengan kesenangan, tiada perjalangan yang tidak berujung, tiada laut yang tidak
bertepi, sesakit-sakitnya penderitaan yang dirasakan pasti ada akhirnya.
KeteRpuRukanekOnOmidanmOneteR yang
melandaIndOnesiadanbebeRapanegaRalainnyabeRdampakmengenaskanbagikehi-dupanmasyaRakatkelasekOnOmibawah,
khususnya, angkakemis-kinansemakinmembengkak.Angka di
bawahgaRiskemiskinanjugasemakinbesaR.KeteRpuRukanekOnOmidanmOneteR yang
di-mulaisejak 1997 M. di IndOnesiatelahdidahuluiOlehkRisismORaldanakidah,
kRisiskejujuRan, danketeladanan.
Pada sisi lain kelas ekOnOmi menengah ke atas, teRus-meneRus menumpuk-numpuk kekayaan, mengeRuk haRta benda dengan segala caRa, dan beRfOya Ria mengumbaR hawa nafsu. Kecil sekali peRhatiannya teRhadap peRbaikan ekOnOmi gOlOngan mustad'afin. Bahkan ORang kaya teRus mengeRuk haRga Rakyat beRatus-Ratus tRilyun Rupiah dengan bekeRja sama dengan paRa penguasa lacuR.
Pada sisi lain kelas ekOnOmi menengah ke atas, teRus-meneRus menumpuk-numpuk kekayaan, mengeRuk haRta benda dengan segala caRa, dan beRfOya Ria mengumbaR hawa nafsu. Kecil sekali peRhatiannya teRhadap peRbaikan ekOnOmi gOlOngan mustad'afin. Bahkan ORang kaya teRus mengeRuk haRga Rakyat beRatus-Ratus tRilyun Rupiah dengan bekeRja sama dengan paRa penguasa lacuR.
NORma-nORma ketimuRan
sebagai ORang timuR, teRlebih nilai akidah, syaRiat, dan akhlak Islam tidak
lagi diliRik sedikit pun, apa-lagi dijadikan dasaR pijakan untuk beRpeRilaku
yang cantik. Sungguh keadaan yang sangat memilukan ini menimpa hampiR seluRuh
stRuktuR dan kultuR masyaRakat IndOnesia, kecuali yang diRahmati Allah Ta’ala.
Genap lengkaplah
pendeRitaan jasmani dan ROhani, sOsial dan emOsiOnal. Jati diRi manusia beRadab
telah beRalih kepada peRilaku-peRilaku kehewanan. Keadaan ini menunjukkan bahwa
kebanyakan manusia telah beRgeseR daRi statusnya sebagai hamba Allah Ta’ala
yang diciptakan hanya untuk beRibadah kepadaNya saja. Hanyalah se-dikit manusia
yang Allah Ta’ala jaga yang tidak teRlibat di dalam peRkaRa yang mengenaskan
teRsebut, sehingga tetap istiqamah hanya beRibadah kepadaNya saja.
Ulah atau tingkah
laku yang sehaRusnya menaati Pencipta manusia, telah meReka gantikan dengan
menuRuti hawa nafsu. Segala sesuatu hanya beRdasaR peRtimbangan akal meReka
yang teRbatas dan nafsu hewani belaka. AtuRan-atuRan Penciptanya tak lagi
dihiRaukan.
Keadaan sepeRti
inilah yang membuat Allah Ta’ala menuRunkan azabnya. BeRbagai bencana alam,
musibah beRskala besaR datang silih beRganti. Inilah ulah tangan manusia yang
tidak beRtanggung jawab yang membuat keRusakan di muka bumi ini. Bukankah Allah
Ta’ala telah beRfiRman,
"Kami tidaklah mengutus seORang nabi pun
kepada suatu negeRi, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami
timpakan kepada penduduknya kesempitan dan pendeRitaan supaya meReka tunduk dan
meRendahkan diRi. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga
ketuRunan dan haRta meReka beRtambah banyak, dan meReka beRkata, 'Sesungguhnya
nenek mOyang kami pun telah meRasai pendeRitaan dan kesenangan', maka Kami
timpakan siksaan atas meReka dengan sekOnyOng-kOnyOng sedang meReka tidak
menyadaRinya. Jikalau sekiRanya penduduk negeRi-negeRi beRiman dan beRtakwa,
pastilah Kami akan melimpahkan kepada meReka beRkah daRi langit dan bumi,
tetapi meReka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa meReka
disebabkan peRbuatannya. Maka apakah penduduk negeRi-negeRi itu meRasa aman
daRi kedatangan siksaan Kami kepada meReka di malam haRi di waktu meReka sedang
tiduR? Atau apakah penduduk negeRi-negeRi itu meRasa aman daRi kedatangan
siksaan Kami kepada meReka di waktu matahaRi sepenggalan naik ketika meReka
sedang beRmain? Maka apakah meReka meRasa aman daRi azab Allah (yang tidak
teRduga-duga)? Tiadalah yang meRasa aman daRi azab Allah kecuali ORang-ORang
yang meRugi. Dan apakah belum jelas bagi ORang-ORang yang mempusakai suatu
negeRi sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami meng-hendaki tentu Kami
azab meReka kaRena dOsa-dOsanya; dan Kami kunci hati meReka sehingga meReka
tidak dapat mendengaR (pelajaRan lagi)?" (Al-A'Raf: 94-100).
Keadaan sepeRti ini membuat sebagian manusia 'telah kalah
sebelum beRpeRang'. ARtinya, melihat, menyaksikan, meRasakan, dan mengalami
pendeRitaan yang beRtubi-tubi, sekaligus tidak memiliki daya upaya dan tidak
memOhOn peRtOlOngan, hidayah, dan inayah kepada pencipta meReka yakni Allah
Ta’ala, akhiRnya muncullah sikap menyeRah, pasRah, lemah gaiRah untuk maju,
tidak ada semangat juang untuk keluaR daRi kRisis multi dimensiOnal. MOtivasi
hancuR, haRta benda hancuR, keluaRga hancuR, kehORmatan hancuR, tidak memiliki
sandaRan atau dasaR beRagama yang memadai, akhiRnya sikap pesimistis menatap ke
depan menjadi pilihan yang tak seha-Rusnya diambil. [SuROsOAbd.
Salam, M.Pd.Optimisme, IndOnesia Akan Baik
Jika ...Kumpulan
KhutbahJum’atPilihanSetahunEdisi ke-2, DaRulHaqJakaRta].
Seharusnya sifat optimis menjadi lecutan bagi seorang
mukmin untuk bangkit dari keterpurukan, iman membutuhkan masa depan yang cerah,
memerlukan sedikit cahaya untuk menembus kegelapan hingga sampai kepada terang
benderang, mencari kehidupan yang berkah meninggalkan segala kegelapan
jahiliyyah, seorang mukmin tetap ceria menyambut masa depan dengan iman dan
aman.
. Hanyadenganiman yang benardantaqwa yang
sebenarnyakitaakanmeraihketentramandiri, keberkahanhidupdan rasa
amanakanmewujud di tengah-tengahmasyarakat. Allah swt.berfirman:
JikalauSekiranyapenduduknegeri-negeriberimandanbertakwa,
pastilah Kami akanmelimpahkankepadamerekaberkahdarilangitdanbumi,
tetapimerekamendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami
siksamerekadisebabkanperbuatannya.
MakaApakahpenduduknegeri-negeriitumerasaamandarikedatangansiksaan
Kami kepadamereka di malamhari di waktumerekasedangtidur?
atauapakahpenduduknegeri-negeriitumerasaamandarikedatangansiksaan
Kami kepadamereka di waktumataharisepenggalahannaikketikamerekasedangbermain?
MakaApakahmerekamerasaamandariazab
Allah (yang tidakterduga-duga)?Tiada yang merasaamandariazab Allah kecuali
orang-orang yang merugi. Qs. Al-A’raf:96-99
Rasa
amandanterhindardaribahayaitulah yang sekarangdibutuhkannegeriini.Betapatidak,
hampirsetiapsaat, kitadikagetkandenganberbagaimacambencanadanmusibah,
takadaujungnya.Bencanaada di sekitarkita, lebih-lebih di bulanini,
mulaidaribanjirlumpurWarior, tsunami MentawaidangunungMerapi,
bahkangempabumisetiaphari.Ratusanjiwameninggal.
Ayat-ayat di atasmenginformasikansyaratmeraihkeberkahanhidupdansekaligussyaratterhindardaribencana.
“Jikalausekiranyapenduduksuatukampungataunegeri-negeriberimandanbertakwa,
pastilah Kami akanmelimpahkankepadamerekaberkahdarilangitdanbumi, …”
Langitbukanmenurunkanhujan
yang membawa mala petakabanjirsebagaimana yang terjadi di wilayahIbu Kota
dansekitarnyapadapekanlalu.Rumah-rumahterendambanjir, macet di mana-mana,
bahkanmenyeretkorbanseorangmahasiswi yang mencobamenghindaribanjirmalahterseret
air di gorong-gorongterbawaarus air sampaipuluhan kilo meter danmeninggaldunia…
Bumibukanmemuntahkanawanpanas
yang melelehkankulitkarenapanasnyasampailebihdari 600 derajatcelcius…
bumibukanlari-lariataubergoyangataugempa, yang hari-hariiniterjadi di
banyaktempat, di Maluku, Sulawesi, Lampung, Sumatera…
Lautbukanmemuntahkangelombangsetinggi
8 meter yang menghanyutkansemua yang dilaluinya… tsunami menggulungsemua yang
diterjangnya, kecuali masjid tempatbersujudhamab-hamba Allah swt.
Bencanaada di sekitarkita,
kebakaran di mana-mana, letusantabung gas masihmenelankorban… rasa
amantercerabutdarilingkungankita.
Bencanaitukarenasikapmanusia
yang mendustakanfirman-firman Allah, tidakmempercayaiaturandansyariat Allah
dantidakmelaksanakannya. “tetapimerekamendustakan (ayat-ayat Kami)
itu, maka Kami siksamerekadisebabkanperbuatannya.”
KehidupaniniadapadaGenggaman
Allah swt.DialahDzatPencipta, Pengaturalammayapadaini. Dengansangatmudah Allah
swt.menunjukkankekuatandankekuasaan-Nya. Allah swt.tinggalberucap“Kun!
fayakun”.Ketika Allah swt.sudahmenunjukkankekuatandankekuasan-Nya,
tidakada yang dapatmenolakdanmenghindarinya. Tidakada rasa amandarimakar Allah,
darimurkadanbencana-Nya.“MakaApakahpenduduknegeri-negeriitumerasaamandarikedatangansiksaan
Kami kepadamereka di malamhari di waktumerekasedangtidur?sebagaimana
yang terjadi di Mentawai…
AtauApakahpenduduknegeri-negeriitumerasaamandarikedatangansiksaan
Kami kepadamereka di waktumataharisepenggalannaikketikamerekasedangbermain?sebagaimana
yang terjadi di Wasiorataujuga yang terjadi di sekitargunungMerapi –yang bahkanterjadipadasiangdanmalamhari-…
Tidakadatempatuntuklaridarimakar
Allah.Manusiadenganketerbatasankemampuan yang dimilikinyabahkanteknologi yang
dikuasainyatidakmampumenghindardaribencana yang terjadi.
Kita
dengardanlihatketikateknologimanusiamengatakanwilayahamandaribencanaawanpanasmerapiberjarak
10KM, kemudiandirevisilagi 15KM… jarakitupuntidakaman,
bahkanpuluhanmeninggalkarenaberada di sekitardiradiusitu… terkenaawanpanas,
semuahangusterbakar, binatang, pohon-pohon, bangunan-bangunandansemua yang dilewatiawanpanas.
Kemudiandirevisilagi, jarakamanberada di radius 20KM daripuncakgunungmerapi.“MakaApakahmerekamerasaamandariazab
Allah (yang tidakterduga-duga)?tiada yang merasaamandanazab Allah kecuali
orang-orang yang merugi.”
“Dan apasajamusibah yang menimpakamumakaadalahdisebabkanolehperbuatantanganmusendiri,
dan Allah memaafkansebagianbesar (darikesalahan-kesalahanmu).”Syuro/42:30
“Telahnampakkerusakan
di daratdan di lautdisebabkankarenaperbuatantanganmanusia, supaya Allah
merasakankepadamerekasebahagiandari (akibat) perbuatanmereka, agar
merekakembali (kejalan yang benar).”QS.
Rum/30:41[UlisTofa, Lc, KhutbahJum'at,
MeraihBerkah
Allah, Eramuslim,12/11/2010 | 05 Zulhijjah 1431 H].
Banyaksekaliayat-ayat yang
mengajakummatislamituuntukhidupoptimis di duniainidenganberusahameraihjanji
Allah, bilajanjiitudiupayakandengansebaik-baiknya,
seoptimalmungkinmakadapatdipastikanduniainidalamgenggamanseorangmuslimkarenamemangmereka
yang layakmewarisiduniaini.
Allah menjanjikan kepada orang beriman bahwa mereka tetap
pada posisi makhluk terbaik; walaupun manusia pada awalnya tercipta dalam
posisi fithrah [suci], baik dan mulia tapi ketika perjalanan hidupnya jauh dari
nilai-nilai yang diharapkan oleh Allah maka akan jatuh pada posisi yang sangat
hina;
“ Sesungguhnya kami Telah
menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . Kemudian kami kembalikan
dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),’[At Tin 95;4-5]
Ketika keimanan masih disandang saat itu keadaan manusia
masih berhaga disisi Allah, tapi bila telah melakukan kemaksiatan, waktu itu
lunturlah posisinya tadi. Untuk itu perlu adanya komitmen dalam keimanan
sehingga tidak mudah diluntur dan dilenturkan oleh keadaan, lebih jauh Allah
menerangkan ketika orang beriman telah meninggalkan kmitmen imannya maka tak
bedanya dengan binatang ternak bahkan lebih;
”Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi
mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” [At Tin 9;6]
Orang beriman akan diberi kehidupan yang baik; maknanya adalah
kehidupan yang diridhai Allah walaupun dengan fasilitas yang sangat minim.
Godaan yang hadir untuk mencelakakan manusia terlalu banyak; bisa harta, tahta
dan cinta sehingga idealisme perjuangan dalam hidup mudah sekali bertukar
tergantung kebutuhan temporer, karena manusia mengartikan kehidupan yang baik
sesuai dengan hawa nafsunya.
Bagi seorang yang miskin, kondisi ini menurut Allah
untuknya adalah baik, bila dia menjadi kaya mungkin komitmen agamanya akan
berkurang sebagaimana Qarun di zaman Nabi Musa dan Tsa’labah di era Rasulullah.
Seorang yang posisinya sebagai prajurit adalah lebih baik daripada sebagai
panglima, karena Allah tahu bila dia jadi panglima akan banyak penyelewengan
yang dilakukan. Jangan kita mengartikan baik itu menurut hawa nafsu dan
pemikiran kita tapi lihatlah apa yang diprogram Allah, semua yang dijadikan
Allah, semua kejadian dan peristiwa ada hikmah dibalik itu;
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang
kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan
boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah
mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui”Al Baqarah 2;216].
Sulit bagi kita untuk menebak hal yang baik itu baik
untuk kita atau yang buruk itu akan berkibat buruk bagi kita karena semua itu
rahasia Allah, namun janji Allah bahwa manusia beriman akan diberi kehidupan
yang baik adalah persi Allah dan wajib kita ikuti;
‘’Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh,
baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan
kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri
balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka
kerjakan’’ [An Nahl 16;97]
Orang beriman akan diberi ampunan; setiap manusia berdosa
tergantung besar atau kecilnya, disengaja atau tidak. Bila dosa yang dilakukan
tidak dinetralisir dengan taubat menjadi beban bagi pelakunya, orang yang baik
bukanlah orang yang tidak berbuat salah tapi adalah orang yang berusaha untuk
memperbaiki dirinya, segala dosa dan kesalahan perlu dimintakan ampunan kepada
Allah dan untuk mengabulkannya ini merupakan hak preogatif Allah, tapi untuk orang yang beriman Allah
menjanjikan itu dengan syarat bertaubat nashuha;
“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” Al Fath 48;29].
Bahkan janji Allah juga diberikan kepada orang beriman,
agar meraih kedudukan dan posisi yang baik hingga menguasai bumi sebagaimana
orang-orang shaleh terdahulu juga ada yang menjadi penguasa di bumi ini.
“Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu
dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang
sebelum mereka berkuasa’’ [An Nur 24;55]
Bagaimana
kita tidak optimis menghadapi hidup dan kehidupan ini, sedangkan iblis saja untuk
menyesatkan manusia dengan target yang luar biasa, yaitu target yang optimistis
sebagaimana dalam surat Al Hijr difirmankan Allah;
”Iblis
berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat,
pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka
bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba
Engkau yang mukhlis di antara mereka".[Al Hijr 15;39-40].
Begitu optimisnya sang Iblis untuk menyesatkan seluruh
manusia di dunia ini agar jadi pengikutnya dan akan berada dalam neraka
bersama-sama dengannya, maka selayaknya pula kalau kita optimis untuk mengajak
semua manusia bersama-sama dengan kita untuk masuk dalam syurga Allah, wallahua’lam[JooChiat
ComplexSingapura, 08 Rajab
1432.H/ 10 Juni 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar