Selasa, 15 Desember 2015

67. Standard



Standard artinya ukuran sesuatu, pijakan untuk menentukan sebuah kualitas, dapat juga dikatakan standard itu adalah patokan dalam memposisikan sesuatu atau seseorang.Misalnya standard hidup orang Indonesia adalah mempunyai kendaraan, ada rumah, penghasilan lumayan, anak-anak pada sekolah, kebutuhan hidup tercukupi. Standard seseorang dengan orang lain tentu berbeda, ditentukan oleh ilmu dan pengetahuan yang dimiliki.

Standard seseorang dalam islam bukan ditentukan oleh kekayaan, jabatan dan bentuk fisik lainnya tapi ditentukan oleh taqwanya kepada Allah. Dengan standard ini berarti segala standard yang disodorkan manusia tidaklah layak dipakai, karena standard yang dibuat manusia bersifat subyektif, sedangkan Allah menentukan standard secara obyektif, tanpa dipengaruhi oleh fikiran dan keinginan siapapun.

Ubay bin Ka'ab bertanya kepada Umar bin Khattab tentang taqwa, Umar menjawab,"Apakah anda pernah melewati jalan berduri?", Ubay menjawab,"Ya pernah", Umar bertanya,"Apakah yang anda lakukan?". Kata Ubay,"Saya kesampingkan duri itu dan berusaha maju ke depan dan berhati-hati", kata Umar, "Itulah taqwa". Rasulullah menyatakan bahwa taqwa itu ada di hati bukan diucapan, sedangkan orang yang bertaqwa juga dikatakan adalah orang yang mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Imam Al Gazali menempatkan taqwa dengan tawakkal, qona'ah, wara',  dan yakin.

Berarti taqwa adalah mencari jalan yang baik untuk dilalui, menyingkirkan rintangan dalam kehidupan dan berhati-hati dalam menapaki kehidupan ini. Banyak lagi persi taqwa yang dapat dikemukakan selain persi selain pendapat diatas, namun siapakah orang yang bertaqwa itu ?.beberapa ayat dibawah  ini Allah  mengungkapkan orang-orang yang taqwa diantaranya;

1.Orang yang menempatkan Al Qur'an sebagai dasar kehidupan
            Orang yang bertaqwa itu adalah orang yang menjadikan Al Qur'an sebagai petunjuk dalam seluruh asfek kehidupannya tanpa ragu-ragu.Al Qur’an bukanlah sekedar bacaan yang mendapat pahala ketika membacanya tapi adalah sebagai way of live bagi seorang mukmin dalam menapaki kehidupan yang penuh dengan berbagai ujian dan godaan.
            Seorang mukmin yang telah menyatakan dirinya beriman kepada Allah harus melestarikan keimanan tersebut melalui amal perbuatan sehari-hari, termasuk aplikasi beriman kepada kitab Allah yaitu Al Qur’an.

"Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa"[Al Baqarah 2;2].
Belajar dan mengajarkan al-Qur’an dalam arti luas seharusnya memang menjadi rutinitas kita sehari-hari.Meski kita awam, tapi ketika berbicara soal implementasi al-Qur’an dalam kehidupan, harus disadari bahwa tugas ini menjadi tanggung jawab semua orang yang mengaku beriman pada kebenaran al-Qur’an.

Karenanya, kaum Muslimin harus terus membaca, mengkaji dan mengamalkan al-Qur’an.Selain itu kaum Muslimin juga harus bersemangat menggali ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial dan ilmu-ilmu lain untuk kemaslahatan umat. Pada hakikatnya, penggalian ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan adalah proses pengejawantahan ayat-ayat Allah, sehingga akan bertambahlah hidayah dari Sang Khalik.

Persoalannya, dalam tataran praktis, masih terjadi kesenjangan pemahaman dalam memaknai proses belajar dan mengajarkan al-Qur’an. Sebagian masih berkutat bahwa mempelajari al-Qur’an hanya terbatas pada membaca, menghafal dan menggunakanya untuk melaksanakan ritual ibadah.Ketika diminta membantu memecahkan persoalan kehidupan yang kian kompleks, mereka mundur teratur.

Bahkan Rasul saw pernah mengadu pada Allah SWT akan sikap umatnya yang acuh tak acuh terhadap al-Qur’an. "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan.” (Qs al-Furqan: 30). Mungkin saja di rumahnya memiliki berpuluh-puluh al-Qur’an, tapi hanya dijadikan koleksi dan hiasan belaka.Bukan menjadi hiasan iman, akhlak, ilmu dan amal.

Dalam urusan politik al-Qur’an sering memulai kalimatnya dengan yaa ayyuhalladziina aamanuu, wahai orang-orang yang beriman.Jadi, politikus atau pelaku politik yang dikehendaki oleh al-Qur’an adalah hamba Allah yang jelas keislaman dan keimanannya sesuai standar al-Qur’an itu sendiri, bukan sekadar sudah shalat dan zakat.Sehingga ketika aamanuu-nya(keimananya) sudah siap, otomatis nilai-nilai Islam mampu diterapkannya dalam kehidupan politik untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi apa pun standarnya al-Qur’an. Karenanya, jika setengah milyar umat Islam di seluruh dunia memiliki kriteria seperti yang terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 177 ini, umat Islam akan kuat gaungnya dalam menghidupkan al-Qur’an dalam bidang politik.

Dalam membahas krisis ekonomi, al-Qur’an selalu mengingatkan dua hal.Pertama, kesejahteraan ekonomi suatu masyarakat tidak terlepas dari ketaatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya dalam surat al-A’raf ayat 96. Jika ekonomi dibangun tidak sesuai dengan prinsip yang diridhai Allah maka tidak akan membaik keadaannya. Jika disisi Allah tidak baik, otomatis dalam kehidupan pun tidak akan baik. Kedua, kesejahteraan ekonomi dipengaruhi oleh sistem ekonomi yang ada dalam sistem kenegaraan. Persoalannya, yang bisa menerapkan ekonomi sesuai prinsip al-Qur’an saat ini, masih terbatas, baru pada bank, asuransi dan beberapa lembaga ekonomi  syariah. Ini pun masih banyak umat Islam yang belum memahami sisi syariahnya, baru dipahami dari sisi bisnisnya saja. Karenanya, ketika melakukan transaksi di bank syariah misalnya, ketika bagi hasilnya lebih kecil dari bank konvensional, mereka langsung beralih ke lembaga lain yang tidak syariah. Hal-hal seperti ini masih banyak terjadi. Jadi masih perlu proses panjang untuk penyadaran.[Jadikan al-Qur’an Standarnya, Republika online, Senin, 09 Agustus 2010 02:07].

2.Orang yang punya pandangan jauh ke depan
Orang yang bertaqwa menjadikan kehidupan dunia adalah kehidupan sementara sedangkan kehidupan akherat adalah tujuan akhir, sehingga dunia dijadikan sebagai pulau persinggahan.Hidup bagi orang yang bertaqwa bukanlah disini dan ini saja yang hanya sebentar, tapi hidup yang abadi ada di akherat sehingga perlu bekal dan persiapan untuk menuju kesana dengan iman yang bersih dari syirik dan ibadah yang bersih dari riya'."Katakanlah: "Kesenangan di dunia Ini Hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun''[An Nisa' 4;77].
"Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan". [Al Qashahs 28;77].

3.Orang yang memiliki usaha yang bersih
            Rasulullah menyatakan bahwa di dunia ini ada yang halal dan itu jelas, ada yang haram dan itu juga jelas tapi ada yang samar-samar, itu yang disebut dengan syubhat, sifat orang mukmin adalah yang berhati-hati terhadap barang yang syubhat, meninggalkan yang haram sudah pasti tapi meninggalkan yang syubhat menunjukkan iman yang baik.

            Prinsip hidupnya adalah berusaha untuk meraih kehidupan layak di dunia dengan cara yang halal dan bersih, dari usaha yang bersih itulah kelak akan mendapat berkah dari Allah, usaha yang kotor disamping mengotori rezeki juga akan membuat jiwa tidak bersih sehingga menjauhkan seseorang dari mendapat berkah dan hidayah Allah; “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”[Al Baqarah 2;172]

"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,  Pada suatu hari yang besar,(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? [Al Muthaffifin 83;1-6]

4.Orang yang memiliki sifat adil
            Karena pentingnya sifat adil ini sampai Rasulullah menyuruh berlaku adil kepada anak-anak walaupun dari segi ciuman dan perhatian kepada mereka, sifat adil hanya dimiliki oleh orang-orang yang bertaqwa karena orang lain tidak akan mampu menegakkannya;

"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan."[Al Maidah 5;8].

5.Orang yang memiliki sifat setia kawan dan ukhuwah
            Setia kawan dan ukhuwah hanya dimiliki oleh orang-orang beriman dengan kualitas taqwa, hal ini terujud dikala Rasulullah mempertemukan ummat ini di Madinah saat melaksanakan  hijrah. Setia kawan yang dibenarkan adalah setia kawan yang terikat karena Allah semata, karena ikatan ini yang kuat tanpa dibatasi oleh ras, suku dan bangsa, sebagaimana Rasulullah mempersaudarakan Bilal bin Rabah yang awalnya budak hitam, Shuaib Ar Rumy yang berasal dari Romawi dengan Umar bin Khattab dan Usman bin Affan yang berasal dari suku Quraisy  

"Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara.sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat" [Al Hujurat 49;10]

6.Orang yang menyampaikan kebenaran
            Orang yang bertaqwa adalah orang yang menyampaikan kebenaran kepada siapapun walaupun pahit akibatnya kelak. Kebenaran itu adalah apa adanya tidak dapat ditutup tutupi, hingga sampai ketika kita bercandapun oleh Rasulullah tidak boleh dengan kebohongan, harus dengan kebenaran. Karena sekali saja kita berbohong maka selamanya orang tidak akan percaya lagi; "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar" [Al Ahzab 33;70]

            Kita sering menyamaratakan satu istilah yang berlaku di masyarakat, sehingga menganggap antara istilah satu dengan istilah lainnya tidak ada perbedaan, baik dari segi penggunaan maupun waktu dalam menggunakannya.Hal ini dapat mengaburkan atau menghilangkan maksud yang terkandung dari kata yang disebutkan atau yang diungkapkan.

            Bila ummat islam menyebutkan sembahyang maka tanpa difikir lagi kata tersebut adalah shalat. Samakah shalat dengan sembahyang dari maksud makna keduanya itu ? Terjemahan bahasa satu ke dalam bahasa lain tidak semuanya sama atau sesuai dengan apa yang dimaksudkan dari kata itu, atau mungkin tidak ada  terjemahannya ke dalam bahasa lain.

                   Dalam kehidupan sehari-hari kita selaku makhluk sosial tidak lepas dari istilah-istilah yang sebenarnya tidak sesuai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mungkin saja istilah tersebut dari bahasa asing atau bahasa daerah. Selama ini kita mengartikan ”Addin” dengan ”Agama”, ”Allah” dengan ”Tuhan”, ”Shalat”  dengan ”Sembahyang”, ”Shiam ” dengan ”Puasa” dan ”Moral” dengan ”Akhlaq”. Padahal terjemahan tersebut tidaklah bersinggungan, apalagi untuk tepat benar. Dalam tulisan ini dicoba membuka ketakserasian istilah ”Moral” yang diterjemahkan dengan ”Akhlaq” dengan maksud agar kita dapat  menempatkan istilah ini tepat pada  tempat yang sepantasnya atau untuk menggali dan menghidupkan istilah-istilah yang islami.

            Moral berasal dari bahasa Latin, yang artinya ”adat kebiasaan seseorang dalam hidupnya”.

            Moral tidak menghunjam dalam dada pengikutnya, sebab sifatnya sementara dan lokal, hanya berlaku dalam satu wilayah tertentu, maka sifatnyapun relatif menurut situasi, kondisi dan tempat saja. Dalam pandangan moral, yang lebih diutamakan adalah toleransi antara sesama manusia dan saling tenggang rasa. Seseorang bisa melepaskan moralnya untuk menghargai moral orang lain dalam pergaulan, takut orang lain tersinggung atas moralnya, sebab ada pertentangan antara moralnya dengan moral orang lain.

            Adapun sumber moral  berasal dari tokoh-tokoh manusia yang tunduk kepada hukum yuridis yang tidak ada panutan atau teladan yang pantas diikuti sebagai standard dalam bertindak menjalankan moral tersebut di masyarakat, dan sangsinya adalah tercela dipandangan manusia. Sedangkan akhlaq berasal dari bahasa  Arab, yaitu ”Khuluqun” yang berarti ”Budi pekerti”, yang menentukan batas antara  baik dan buruk, yang terpuji dan tercela, tentang perkataan dan perbuatan manusia dalam pergaulannya.

            Akhlaq adalah sejumlah kumpulan prilaku berdasarkan teladan Rasulullah Saw dimasa hidupnya, didalam kehidupan sehari-hari yang dituntun oleh Risalah Nubuwah [Kenabian] dalam Al Ahzab;21 Allah berfirman,”Sungguh di dalam diri Rasulullah itu ada contoh teladan yang baik”. Dalam sebuah haditspun Rasulullah menyabdakan, ”Aku diutus kemuka bumi ini tiada lain untuk menyempurnakan akhlak manusia”.

            Akhlaq menghunjam di dada dan memotivasi diri untuk melakukan perbuatan yang baik dan benar, dengan mengharapkan semata-mata ridha dari Allah Swt [Majalah Serial Khutbah Jum’at Jakarta, April 1990]. 

            Demikian pula halnya dengan etika, tidak layak kita jadikan sebagai rujukan prilaku seseorang dalam islam karena standardnya tidak jelas walaupun muncul dari tokoh yang tampil ke gelanggang kehidupan untuk merubah konsep hidup manusia.

Perkataan etika berasal dari bahasa Yunani ”Ethos” yang berarti ”Adat Kebiasaan”. Kata ini nampaknya identik dengan moral yang berasal dari bahasa latin ”Mores”, juga sama dengan tata susila, budi pekerti, kesopanan, adab, perangai dan tingkahlaku.

            Secara istilah, etika adalah  usaha manusia agar kehidupan mereka berada dalam aturan yang baik, beredar sesuai dengan naluri kemanusiaan. Usaha itu diwujudkan dengan membentuk suatu tata aturan kehidupan yang baik lalu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

            Persepsi berbagai agama tentang etika bermacam-macam. Budha Gautama yang melihat ketimpangan dalam etika Hindu [kasta] mencoba mengeluarkan etika baru yang meliputi delapan perkara; melakukan kebaikan, bersifat kasih sayang, suka menolong, mencintai orang lain, suka memaafkan orang, ringan tangan dalam kebaikan, mencabut diri sendiri dari sekalian kepentingan yang penting-penting dan berkorban untuk orang lain.
Demikian juga halnya dengan Lao Tse dan Kong Fu Tse. Dua tokoh Tiongkok ini juga berusaha memperbaiki tingkah dan etika manusia pada zamannya dengan berbagai ajaran kebaikan, demi keselamatan tatanan kehidupan manusia. Banyak lagi tokoh seperti Socrates, Antintenus, Plato, Aristoteles dan lainnya bermunculan mengemukakan konsep dan teorinya, bagaimana agar manusia bertingkahlaku baik, menjauhkan kerusakan dan kebinasaan pribadi maupun orang lain.

            Aturan yang mereka buat hanya didasarkan kepada pendapat orang-orang sesuai dengan fikiran dan perasaannya. Tentu saja pendapat yang satu berbeda dengan yang lain. Bahkan, bisa saja pendapat kemaren dibantah dengan munculnya pendapat baru. ”Kebenaran” seorang tokoh akan ditolak dengan ditemukannya kebenaran orang sesudahnya.

            Sekitar abad ketiga sebelum Masehi, muncul aliran dalam hal etika yang dikenal dengan aliran Naturalisme; aliran yang diprakarsai Zeno [340-264 SM] itu berpendapat bahwa ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia adalah manakala manusia itu secara natural mengikuti akalnya dalam mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Jadi menurut pendapat ini hidup manusia harus mengikuti petunjuk akal, dengan mengikuti petunjuk akal berarti telah memiliki etika tinggi.

            Pada waktu yang hampir bersamaan, Epikuros [341-270 SM] berpendapata bahwa ukuran baik buruk terletak pada kelezatan sesuatu dan itu merupakan tujuan hidup manusia. Bila perbuatan manusia menimbulkan suatu kenikmatan dialah orang yang mempunyai moral dan etika yang tinggi. Pendapat ini dinamakan Hedonisme. Pada awal-awal abad kedelapanbelas, J.S. Mill memperkenalkan teori yang baru. Agaknya ada sedikit kemajuan. Teori ini dikenal dengan Utilitarisme. Mill mengemukakan bahwa ukuran baik dan buruknya sesuatu didasarkan atas besar kecilnya manfaat yang ditimbulkan bagi manusia. Dengan pendapat ini ia menghendaki agar manusia menemukan kebahagiaan di tengah orang banyak dengan memanfaatkan diri dan pengorbanannya.

            Ada lagi aliran Idealisme. Aliran ini tidak bicara definisi, tapi apa yang ada dibalik etika tersebut. Tokohnya ImmanuelKant [1725-1804]. Ia berpendapat bahwa seseorang berbuat baik pada prinsipnya bukan karena dianjurkan oleh orang  lain, melainkan atas dasar kemauan sendiri [atau rasa kewajiban]. Perbuatan baik akan dilakukan juga walaupun diancam atau dicela orang lain karena  terpanggil oleh kewajiban.

            Sedangkan aliran etika Vitalisme mengukur baik buruknya perbuatan manusia dengan ada tidaknya daya hidup maksimum yang mengendalikan perbuatan itu. Maka, yang dianggap baik ialah orang yang kuat dan dapat memaksakan kehendaknya serta mampu menjadikan dirinya selalu ditaati. Pencetus aliran ini ialah FreedrichWitzche [1844-1900]. Filsafat dalam aliran ini adalah Atheistis. Karenanya Witzche juga berjuang menentang gereja di Eropa.

            Itulah beberapa kisah tentang usaha manusia mencari rumusan etika. Semua konsepnya semu, semua ajarannya tidak ada yang menghunjam dalam hati  nurani. Lebih jauh, tak sedikit dari konsep etika di atas yang salah. Akibatnya, bukannya terjadi kehidupan manusia yang beretika. Justru sebaliknya terjadi berbagai kehancuran di muka bumi.

            Etika yang benar adalah etika yang bersandar kepada kebenaran wahyu. Dalam terminologi etika, etika ini dikenal dengan aliran Theologis. Aliran ini berpendapat bahwa baik buruk perbuatan manusia didasarkan atas ajaran Tuhan yang dibawa para Nabi kepada ummatnya. Etika Theologis inilah yang dalam Islam disebut dengan Akhlak. Ia bersumber dari sang Khaliq.

Dalam Islam perhatian terhadap akhlak sangatlah besar. Selain akan mendampingi ketaqwaan dalam memperbanyak amal di akherat, akhlak juga menjadi perisai bagi eksistensi suatu bangsa. Selain itu, kebutuhan seorang muslim akan akhlak juga untuk penopang iman. Sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah, ”Sesempurna-sempurna iman seseorang mukmin ialah yang lebih baik akhlaknya”.

Dalam Islam, batasan  antara akhlak yang baik dan akhlak yang buruk sangat jelas. Bahkan dengan penggambaran-penggambaran yang vulgar. Lihatlah bagaimana Al Qur’an mengumpamakan orang-orang yang tak berakhlak seperti binatang, bahkan lebih sesat dari binatang.

            Sebaliknya, Islam memberikan ruang lingkup akhlak yang baik dengan sangat luas. Tidak  saja terpaku kepada amal-amal yang kelihatannya sepele. Seperti menyingkirkan duri dari jalanan, menyapa dengan mengucapkan salam ketika bertemu sesama muslim, mendo’akan saudara, dan amal-amal lain yang sangat luas dalam Islam.

            Akhlak Islam juga mengajarkan bagaimana seorang rakyat harus bersikap, bagaimana seorang pemimpin harus memimpin, bagaimana seorang ulama harus memberi fatwa. Semua ada aturannya, apakah orang itu pedagang, pekerja, pengarang dan pengusaha, harus berakhlak sesuai dengan  profesinya. BuyaHamka mengucapkan, ”Diribut runduk padi, dicupak  Datuk Tumenggung, Hidup kalau tidak berbudi, duduk tegak kemari canggung, tegak rumah karena sendr, runtuh budi rumah binasa, sendi bangsa adalah budi, runtuh budi runtuhlah bangsa”.

            Banyak orang yang ingin hidup tentram dan damai. Tapi banyak pula dari mereka yang berkiblat kepada tokoh-tokoh pencetus konsep etika dan moral yang salah. Padahal teori-teori itu banyak yang salah. Sumber kebenaran hanya satu yaitu dari Allah Swt, ”Sesungguhnya kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka janganlah engkau menjadi ragu” Wallahu A’lam [Majalah Tarbawi Jakarta Edisi 3 / 31081990].

Kehidupan muslim di dunia dan akherat  dijamin kesalamatannya bila tetap berpegang teguh dengan  dua standard sebagai acuan  dalam seluruh asfeknya, dua standard itu adalah Al Qur’an dan Sunnah, dengan dua standard itulah seorang muslim mengarungi kehidupan ini dengan istiqamah, Suatu hari Sufyan bin Abdullah [Abu Ammah] minta fatwa kepada Rasulullah sebagai pegangan hidupnya di dunia, maka Rasulullah bersabda, "Katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian berpegang teguhlah atas pendirian itu"

Buya Hamka berpendapat,"Istiqomahlah laksana batu karang di ujung pulau, menerima hempasan segala ombak dan gelombang yang menggulung, setiap ombak dan gelombang datang, setiap itu pula menambah kekokohannya. Istiqamahlah, laksana sebatang pohon beringin, menerima segala angin sepoi dan angin badai, kadangkala berderak derik laksana akan runtuh, terhoyong ke kiri dan ke kanan, demi angin berhenti dan alam tenang, dia tegak pula kembali dan uratnya bertambah terhunjam ke petala bumi............
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu"[Fushilat 41;30]

Untuk sebuah pengakuan keimanan maka banyak orang yang bisa tapi untuk menjaga iman agar tetap kokoh dan bersih dari nilai-nilai yang mencemarkan ketauhidan tidak banyak orang yang sanggup, untuk itu tetaplah menjadikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai standard dalam hidup ini dan menjadikan Islam sebagai penerang dari semua kebenaran yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, wallahu a’lam.[Kubu Dalam Parak Karakah Padang, 13 Rajab 1432.H/ 14 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar