Standard artinya ukuran sesuatu, pijakan
untuk menentukan sebuah kualitas, dapat juga dikatakan standard itu adalah
patokan dalam memposisikan sesuatu atau seseorang.Misalnya standard hidup orang
Indonesia adalah mempunyai kendaraan, ada rumah, penghasilan lumayan, anak-anak
pada sekolah, kebutuhan hidup tercukupi. Standard seseorang dengan orang lain
tentu berbeda, ditentukan oleh ilmu dan pengetahuan yang dimiliki.
Standard
seseorang dalam islam bukan ditentukan oleh kekayaan, jabatan dan bentuk fisik
lainnya tapi ditentukan oleh taqwanya kepada Allah. Dengan standard ini berarti
segala standard yang disodorkan manusia tidaklah layak dipakai, karena standard
yang dibuat manusia bersifat subyektif, sedangkan Allah menentukan standard
secara obyektif, tanpa dipengaruhi oleh fikiran dan keinginan siapapun.
Ubay bin Ka'ab
bertanya kepada Umar bin Khattab tentang taqwa, Umar menjawab,"Apakah anda
pernah melewati jalan berduri?", Ubay menjawab,"Ya pernah", Umar
bertanya,"Apakah yang anda lakukan?". Kata Ubay,"Saya
kesampingkan duri itu dan berusaha maju ke depan dan berhati-hati", kata
Umar, "Itulah taqwa". Rasulullah menyatakan bahwa taqwa itu ada di
hati bukan diucapan, sedangkan orang yang bertaqwa juga dikatakan adalah orang
yang mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Imam Al
Gazali menempatkan taqwa dengan tawakkal, qona'ah, wara', dan yakin.
Berarti
taqwa adalah mencari jalan yang baik untuk dilalui, menyingkirkan rintangan
dalam kehidupan dan berhati-hati dalam menapaki kehidupan ini. Banyak lagi
persi taqwa yang dapat dikemukakan selain persi selain pendapat diatas, namun
siapakah orang yang bertaqwa itu ?.beberapa ayat dibawah ini Allah
mengungkapkan orang-orang yang taqwa diantaranya;
1.Orang yang menempatkan Al Qur'an sebagai dasar kehidupan
Orang yang
bertaqwa itu adalah orang yang menjadikan Al Qur'an sebagai petunjuk dalam
seluruh asfek kehidupannya tanpa ragu-ragu.Al Qur’an bukanlah sekedar bacaan
yang mendapat pahala ketika membacanya tapi adalah sebagai way of live bagi
seorang mukmin dalam menapaki kehidupan yang penuh dengan berbagai ujian dan
godaan.
Seorang mukmin yang telah menyatakan
dirinya beriman kepada Allah harus melestarikan keimanan tersebut melalui amal
perbuatan sehari-hari, termasuk aplikasi beriman kepada kitab Allah yaitu Al
Qur’an.
"Kitab
(Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa"[Al
Baqarah 2;2].
Belajar dan
mengajarkan al-Qur’an dalam arti luas seharusnya memang menjadi rutinitas kita
sehari-hari.Meski kita awam, tapi ketika berbicara soal implementasi al-Qur’an
dalam kehidupan, harus disadari bahwa tugas ini menjadi tanggung jawab semua
orang yang mengaku beriman pada kebenaran al-Qur’an.
Karenanya, kaum
Muslimin harus terus membaca, mengkaji dan mengamalkan al-Qur’an.Selain itu
kaum Muslimin juga harus bersemangat menggali ilmu pengetahuan alam, ilmu
pengetahuan sosial dan ilmu-ilmu lain untuk kemaslahatan umat. Pada hakikatnya,
penggalian ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan adalah proses pengejawantahan
ayat-ayat Allah, sehingga akan bertambahlah hidayah dari Sang Khalik.
Persoalannya,
dalam tataran praktis, masih terjadi kesenjangan pemahaman dalam memaknai
proses belajar dan mengajarkan al-Qur’an. Sebagian masih berkutat bahwa
mempelajari al-Qur’an hanya terbatas pada membaca, menghafal dan menggunakanya
untuk melaksanakan ritual ibadah.Ketika diminta membantu memecahkan persoalan
kehidupan yang kian kompleks, mereka mundur teratur.
Bahkan Rasul saw
pernah mengadu pada Allah SWT akan sikap umatnya yang acuh tak acuh terhadap
al-Qur’an. "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur'an ini
suatu yang tidak diacuhkan.” (Qs al-Furqan: 30). Mungkin saja di rumahnya
memiliki berpuluh-puluh al-Qur’an, tapi hanya dijadikan koleksi dan hiasan
belaka.Bukan menjadi hiasan iman, akhlak, ilmu dan amal.
Dalam urusan
politik al-Qur’an sering memulai kalimatnya dengan yaa ayyuhalladziina
aamanuu, wahai orang-orang yang beriman.Jadi, politikus atau pelaku politik
yang dikehendaki oleh al-Qur’an adalah hamba Allah yang jelas keislaman dan
keimanannya sesuai standar al-Qur’an itu sendiri, bukan sekadar sudah shalat
dan zakat.Sehingga ketika aamanuu-nya(keimananya) sudah siap, otomatis
nilai-nilai Islam mampu diterapkannya dalam kehidupan politik untuk mengatur
kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi apa pun standarnya al-Qur’an.
Karenanya, jika setengah milyar umat Islam di seluruh dunia memiliki kriteria
seperti yang terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 177 ini, umat Islam akan
kuat gaungnya dalam menghidupkan al-Qur’an dalam bidang politik.
Dalam membahas
krisis ekonomi, al-Qur’an selalu mengingatkan dua hal.Pertama,
kesejahteraan ekonomi suatu masyarakat tidak terlepas dari ketaatannya kepada
Allah sebagaimana firman-Nya dalam surat al-A’raf ayat 96. Jika ekonomi
dibangun tidak sesuai dengan prinsip yang diridhai Allah maka tidak akan
membaik keadaannya. Jika disisi Allah tidak baik, otomatis dalam kehidupan pun
tidak akan baik. Kedua, kesejahteraan ekonomi dipengaruhi oleh sistem
ekonomi yang ada dalam sistem kenegaraan. Persoalannya, yang bisa menerapkan
ekonomi sesuai prinsip al-Qur’an saat ini, masih terbatas, baru pada bank,
asuransi dan beberapa lembaga ekonomi syariah. Ini pun masih banyak umat
Islam yang belum memahami sisi syariahnya, baru dipahami dari sisi bisnisnya
saja. Karenanya, ketika melakukan transaksi di bank syariah misalnya, ketika
bagi hasilnya lebih kecil dari bank konvensional, mereka langsung beralih ke
lembaga lain yang tidak syariah. Hal-hal seperti ini masih banyak terjadi. Jadi
masih perlu proses panjang untuk penyadaran.[Jadikan al-Qur’an Standarnya,
Republika online, Senin, 09 Agustus 2010 02:07].
2.Orang yang punya pandangan jauh ke depan
Orang yang bertaqwa menjadikan kehidupan
dunia adalah kehidupan sementara sedangkan kehidupan akherat adalah tujuan
akhir, sehingga dunia dijadikan sebagai pulau persinggahan.Hidup bagi orang
yang bertaqwa bukanlah disini dan ini saja yang hanya sebentar, tapi hidup yang
abadi ada di akherat sehingga perlu bekal dan persiapan untuk menuju kesana
dengan iman yang bersih dari syirik dan ibadah yang bersih dari riya'."Katakanlah:
"Kesenangan di dunia Ini Hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk
orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun''[An Nisa' 4;77].
"Dan carilah pada apa yang Telah
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu
melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan". [Al Qashahs
28;77].
3.Orang yang memiliki usaha yang bersih
Rasulullah
menyatakan bahwa di dunia ini ada yang halal dan itu jelas, ada yang haram dan
itu juga jelas tapi ada yang samar-samar, itu yang disebut dengan syubhat,
sifat orang mukmin adalah yang berhati-hati terhadap barang yang syubhat,
meninggalkan yang haram sudah pasti tapi meninggalkan yang syubhat menunjukkan
iman yang baik.
Prinsip hidupnya adalah berusaha
untuk meraih kehidupan layak di dunia dengan cara yang halal dan bersih, dari
usaha yang bersih itulah kelak akan mendapat berkah dari Allah, usaha yang
kotor disamping mengotori rezeki juga akan membuat jiwa tidak bersih sehingga
menjauhkan seseorang dari mendapat berkah dan hidayah Allah; “Hai orang-orang
yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan
kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”[Al Baqarah 2;172]
"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang
curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain
mereka minta dipenuhi, Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang
lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya
mereka akan dibangkitkan, Pada suatu
hari yang besar,(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta
alam? [Al Muthaffifin 83;1-6]
4.Orang yang memiliki sifat adil
Karena pentingnya sifat adil ini sampai Rasulullah
menyuruh berlaku adil kepada anak-anak walaupun dari segi ciuman dan perhatian
kepada mereka, sifat adil hanya dimiliki oleh orang-orang yang bertaqwa karena
orang lain tidak akan mampu menegakkannya;
"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang
selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan
janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk
berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.
dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan."[Al
Maidah 5;8].
5.Orang yang memiliki sifat setia kawan dan ukhuwah
Setia kawan dan
ukhuwah hanya dimiliki oleh orang-orang beriman dengan kualitas taqwa, hal ini
terujud dikala Rasulullah mempertemukan ummat ini di Madinah saat
melaksanakan hijrah. Setia kawan yang
dibenarkan adalah setia kawan yang terikat karena Allah semata, karena ikatan
ini yang kuat tanpa dibatasi oleh ras, suku dan bangsa, sebagaimana Rasulullah
mempersaudarakan Bilal bin Rabah yang awalnya budak hitam, Shuaib Ar Rumy yang
berasal dari Romawi dengan Umar bin Khattab dan Usman bin Affan yang berasal
dari suku Quraisy
"Orang-orang beriman itu
Sesungguhnya bersaudara.sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara
kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat
rahmat" [Al Hujurat 49;10]
6.Orang yang menyampaikan kebenaran
Orang yang
bertaqwa adalah orang yang menyampaikan kebenaran kepada siapapun walaupun
pahit akibatnya kelak. Kebenaran itu adalah apa adanya tidak dapat ditutup
tutupi, hingga sampai ketika kita bercandapun oleh Rasulullah tidak boleh
dengan kebohongan, harus dengan kebenaran. Karena sekali saja kita berbohong
maka selamanya orang tidak akan percaya lagi; "Hai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang
benar" [Al Ahzab 33;70]
Kita sering menyamaratakan satu istilah
yang berlaku di masyarakat, sehingga menganggap antara istilah satu dengan
istilah lainnya tidak ada perbedaan, baik dari segi penggunaan maupun waktu
dalam menggunakannya.Hal ini dapat mengaburkan atau menghilangkan maksud yang
terkandung dari kata yang disebutkan atau yang diungkapkan.
Bila ummat islam menyebutkan sembahyang maka tanpa difikir lagi kata
tersebut adalah shalat. Samakah shalat dengan sembahyang dari maksud makna
keduanya itu ? Terjemahan bahasa satu ke dalam bahasa lain tidak semuanya sama
atau sesuai dengan apa yang dimaksudkan dari kata itu, atau mungkin tidak
ada terjemahannya ke dalam bahasa lain.
Dalam
kehidupan sehari-hari kita selaku makhluk sosial tidak lepas dari
istilah-istilah yang sebenarnya tidak sesuai diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia, mungkin saja istilah tersebut dari bahasa asing atau bahasa daerah.
Selama ini kita mengartikan ”Addin” dengan ”Agama”, ”Allah” dengan ”Tuhan”,
”Shalat” dengan ”Sembahyang”, ”Shiam ”
dengan ”Puasa” dan ”Moral” dengan ”Akhlaq”. Padahal terjemahan tersebut
tidaklah bersinggungan, apalagi untuk tepat benar. Dalam tulisan ini dicoba
membuka ketakserasian istilah ”Moral” yang diterjemahkan dengan ”Akhlaq” dengan
maksud agar kita dapat menempatkan
istilah ini tepat pada tempat yang
sepantasnya atau untuk menggali dan menghidupkan istilah-istilah yang islami.
Moral berasal dari bahasa Latin, yang artinya ”adat kebiasaan seseorang dalam
hidupnya”.
Moral tidak menghunjam dalam dada pengikutnya, sebab
sifatnya sementara dan lokal, hanya berlaku dalam satu wilayah tertentu, maka
sifatnyapun relatif menurut situasi, kondisi dan tempat saja. Dalam pandangan
moral, yang lebih diutamakan adalah toleransi antara sesama manusia dan saling
tenggang rasa. Seseorang bisa melepaskan moralnya untuk menghargai moral orang
lain dalam pergaulan, takut orang lain tersinggung atas moralnya, sebab ada
pertentangan antara moralnya dengan moral orang lain.
Adapun sumber moral
berasal dari tokoh-tokoh manusia yang tunduk kepada hukum yuridis yang
tidak ada panutan atau teladan yang pantas diikuti sebagai standard dalam
bertindak menjalankan moral tersebut di masyarakat, dan sangsinya adalah
tercela dipandangan manusia. Sedangkan akhlaq berasal dari bahasa Arab, yaitu ”Khuluqun” yang berarti ”Budi
pekerti”, yang menentukan batas antara
baik dan buruk, yang terpuji dan tercela, tentang perkataan dan
perbuatan manusia dalam pergaulannya.
Akhlaq adalah sejumlah kumpulan prilaku berdasarkan
teladan Rasulullah Saw dimasa hidupnya, didalam kehidupan sehari-hari yang
dituntun oleh Risalah Nubuwah [Kenabian] dalam Al Ahzab;21 Allah berfirman,”Sungguh di dalam diri Rasulullah itu ada
contoh teladan yang baik”. Dalam sebuah haditspun Rasulullah menyabdakan, ”Aku diutus kemuka bumi ini tiada lain untuk
menyempurnakan akhlak manusia”.
Akhlaq menghunjam di dada dan memotivasi diri untuk
melakukan perbuatan yang baik dan benar, dengan mengharapkan semata-mata ridha
dari Allah Swt [Majalah Serial Khutbah Jum’at Jakarta, April 1990].
Demikian pula halnya dengan etika, tidak layak kita
jadikan sebagai rujukan prilaku seseorang dalam islam karena standardnya tidak
jelas walaupun muncul dari tokoh yang tampil ke gelanggang kehidupan untuk
merubah konsep hidup manusia.
Perkataan etika
berasal dari bahasa Yunani ”Ethos” yang berarti ”Adat Kebiasaan”. Kata ini
nampaknya identik dengan moral yang berasal dari bahasa latin ”Mores”, juga
sama dengan tata susila, budi pekerti, kesopanan, adab, perangai dan
tingkahlaku.
Secara istilah, etika adalah usaha manusia agar kehidupan mereka berada
dalam aturan yang baik, beredar sesuai dengan naluri kemanusiaan. Usaha itu
diwujudkan dengan membentuk suatu tata aturan kehidupan yang baik lalu dibiasakan
dalam kehidupan sehari-hari.
Persepsi berbagai agama tentang etika bermacam-macam. Budha Gautama yang melihat ketimpangan
dalam etika Hindu [kasta] mencoba mengeluarkan etika baru yang meliputi delapan
perkara; melakukan kebaikan, bersifat kasih sayang, suka menolong, mencintai
orang lain, suka memaafkan orang, ringan tangan dalam kebaikan, mencabut diri
sendiri dari sekalian kepentingan yang penting-penting dan berkorban untuk
orang lain.
Demikian
juga halnya dengan Lao Tse dan Kong Fu Tse. Dua tokoh Tiongkok ini
juga berusaha memperbaiki tingkah dan etika manusia pada zamannya dengan
berbagai ajaran kebaikan, demi keselamatan tatanan kehidupan manusia. Banyak
lagi tokoh seperti Socrates, Antintenus, Plato, Aristoteles dan
lainnya bermunculan mengemukakan konsep dan teorinya, bagaimana agar manusia
bertingkahlaku baik, menjauhkan kerusakan dan kebinasaan pribadi maupun orang
lain.
Aturan yang mereka buat hanya didasarkan kepada pendapat
orang-orang sesuai dengan fikiran dan perasaannya. Tentu saja pendapat yang
satu berbeda dengan yang lain. Bahkan, bisa saja pendapat kemaren dibantah
dengan munculnya pendapat baru. ”Kebenaran” seorang tokoh akan ditolak dengan
ditemukannya kebenaran orang sesudahnya.
Sekitar abad ketiga sebelum Masehi, muncul aliran dalam
hal etika yang dikenal dengan aliran Naturalisme;
aliran yang diprakarsai Zeno
[340-264 SM] itu berpendapat bahwa ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia
adalah manakala manusia itu secara natural mengikuti akalnya dalam mencapai
tujuan-tujuan hidupnya. Jadi menurut pendapat ini hidup manusia harus mengikuti
petunjuk akal, dengan mengikuti petunjuk akal berarti telah memiliki etika
tinggi.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Epikuros [341-270 SM] berpendapata bahwa ukuran baik buruk terletak
pada kelezatan sesuatu dan itu merupakan tujuan hidup manusia. Bila perbuatan
manusia menimbulkan suatu kenikmatan dialah orang yang mempunyai moral dan
etika yang tinggi. Pendapat ini dinamakan Hedonisme.
Pada awal-awal abad kedelapanbelas, J.S.
Mill memperkenalkan teori yang baru. Agaknya ada sedikit kemajuan. Teori
ini dikenal dengan Utilitarisme.
Mill mengemukakan bahwa ukuran baik dan buruknya sesuatu didasarkan atas besar
kecilnya manfaat yang ditimbulkan bagi manusia. Dengan pendapat ini ia
menghendaki agar manusia menemukan kebahagiaan di tengah orang banyak dengan
memanfaatkan diri dan pengorbanannya.
Ada lagi aliran Idealisme.
Aliran ini tidak bicara definisi, tapi apa yang ada dibalik etika tersebut.
Tokohnya ImmanuelKant [1725-1804].
Ia berpendapat bahwa seseorang berbuat baik pada prinsipnya bukan karena
dianjurkan oleh orang lain, melainkan
atas dasar kemauan sendiri [atau rasa kewajiban]. Perbuatan baik akan dilakukan
juga walaupun diancam atau dicela orang lain karena terpanggil oleh kewajiban.
Sedangkan aliran etika Vitalisme mengukur baik buruknya perbuatan manusia dengan ada
tidaknya daya hidup maksimum yang mengendalikan perbuatan itu. Maka, yang
dianggap baik ialah orang yang kuat dan dapat memaksakan kehendaknya serta
mampu menjadikan dirinya selalu ditaati. Pencetus aliran ini ialah FreedrichWitzche [1844-1900]. Filsafat
dalam aliran ini adalah Atheistis. Karenanya Witzche juga berjuang menentang
gereja di Eropa.
Itulah beberapa kisah tentang usaha manusia mencari
rumusan etika. Semua konsepnya semu, semua ajarannya tidak ada yang menghunjam
dalam hati nurani. Lebih jauh, tak
sedikit dari konsep etika di atas yang salah. Akibatnya, bukannya terjadi
kehidupan manusia yang beretika. Justru sebaliknya terjadi berbagai kehancuran
di muka bumi.
Etika yang benar adalah etika yang bersandar kepada
kebenaran wahyu. Dalam terminologi
etika, etika ini dikenal dengan aliran Theologis.
Aliran ini berpendapat bahwa baik buruk perbuatan manusia didasarkan atas
ajaran Tuhan yang dibawa para Nabi kepada ummatnya. Etika Theologis inilah yang
dalam Islam disebut dengan Akhlak. Ia bersumber dari sang Khaliq.
Dalam Islam
perhatian terhadap akhlak sangatlah besar. Selain akan mendampingi ketaqwaan
dalam memperbanyak amal di akherat, akhlak juga menjadi perisai bagi eksistensi
suatu bangsa. Selain itu, kebutuhan seorang muslim akan akhlak juga untuk
penopang iman. Sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah, ”Sesempurna-sempurna
iman seseorang mukmin ialah yang lebih baik akhlaknya”.
Dalam Islam,
batasan antara akhlak yang baik dan
akhlak yang buruk sangat jelas. Bahkan dengan penggambaran-penggambaran yang
vulgar. Lihatlah bagaimana Al Qur’an mengumpamakan orang-orang yang tak
berakhlak seperti binatang, bahkan lebih sesat dari binatang.
Sebaliknya, Islam memberikan ruang lingkup akhlak yang
baik dengan sangat luas. Tidak saja
terpaku kepada amal-amal yang kelihatannya sepele. Seperti menyingkirkan duri
dari jalanan, menyapa dengan mengucapkan salam ketika bertemu sesama muslim,
mendo’akan saudara, dan amal-amal lain yang sangat luas dalam Islam.
Akhlak Islam juga mengajarkan bagaimana seorang rakyat
harus bersikap, bagaimana seorang pemimpin harus memimpin, bagaimana seorang
ulama harus memberi fatwa. Semua ada aturannya, apakah orang itu pedagang,
pekerja, pengarang dan pengusaha, harus berakhlak sesuai dengan profesinya. BuyaHamka mengucapkan,
”Diribut runduk padi, dicupak Datuk
Tumenggung, Hidup kalau tidak berbudi, duduk tegak kemari canggung, tegak rumah
karena sendr, runtuh budi rumah binasa, sendi bangsa adalah budi, runtuh budi
runtuhlah bangsa”.
Banyak orang yang ingin hidup tentram dan damai. Tapi banyak
pula dari mereka yang berkiblat kepada tokoh-tokoh pencetus konsep etika dan
moral yang salah. Padahal teori-teori itu banyak yang salah. Sumber kebenaran
hanya satu yaitu dari Allah Swt, ”Sesungguhnya
kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka janganlah engkau menjadi ragu”
Wallahu A’lam [Majalah Tarbawi Jakarta Edisi 3 / 31081990].
Kehidupan muslim di
dunia dan akherat dijamin kesalamatannya
bila tetap berpegang teguh dengan dua
standard sebagai acuan dalam seluruh asfeknya,
dua standard itu adalah Al Qur’an dan Sunnah, dengan dua standard itulah
seorang muslim mengarungi kehidupan ini dengan istiqamah, Suatu hari Sufyan bin Abdullah [Abu
Ammah] minta fatwa kepada Rasulullah sebagai pegangan hidupnya di dunia, maka
Rasulullah bersabda, "Katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian
berpegang teguhlah atas pendirian itu"
Buya Hamka berpendapat,"Istiqomahlah
laksana batu karang di ujung pulau, menerima hempasan segala ombak dan
gelombang yang menggulung, setiap ombak dan gelombang datang, setiap itu pula
menambah kekokohannya. Istiqamahlah, laksana sebatang pohon beringin, menerima
segala angin sepoi dan angin badai, kadangkala berderak derik laksana akan
runtuh, terhoyong ke kiri dan ke kanan, demi angin berhenti dan alam tenang,
dia tegak pula kembali dan uratnya bertambah terhunjam ke petala
bumi............
"Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan
mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan
gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu"[Fushilat 41;30]
Untuk sebuah
pengakuan keimanan maka banyak orang yang bisa tapi untuk menjaga iman agar
tetap kokoh dan bersih dari nilai-nilai yang mencemarkan ketauhidan tidak banyak
orang yang sanggup, untuk itu tetaplah menjadikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai
standard dalam hidup ini dan menjadikan Islam sebagai penerang dari semua
kebenaran yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, wallahu a’lam.[Kubu Dalam Parak Karakah Padang,
13
Rajab 1432.H/ 14 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar