Orang yang paling dekat dengan kita
karena rumahnya tidak ada jaraknya dengan rumah yang kita diami, orang yang paling santun kepada
kita, sebelum orang lain memberikan bantuan kepada kita, merekalah yang
terlebih dahulu membantu kesusahan yang kita rasakan, orang yang mengerti
keadaan kita karena mereka tempat kita mencurahkan segala suka dan duka, mereka
adalah tetangga.
Seorang muslim punya teladan dalam hidupnya yaitu
Muhammad SAW, sebagai nabi dan Rasul yang mengajarkan tentang akhlakul karimah
karena memang tugas Rasul itu untuk menyempurnakan akhlak, sehingga wajar bila
Allah menyebutkan bahwa akhlakul karimah itu hanya ada pada Rasulullah saja;
"Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah" [Al Ahzab 33;21].
Kehidupan muslim dituntut untuk meneladani akhlak yang dicontohkan oleh
Rasulullah, sejak dari hidup pribadi, berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat
hingga berbangsa dan bernegara, semuanya ada contoh teladannya dari kehidupan
yang beliau jalani, selain tertuang pada Al Qur’an juga termaktub dalam
haditsnya.
Berkaitan
dengan tetangga, Rasul menyatakan bahwa tetangga itu ada tiga macam modelnya,
pertama tetangga sesama muslim dari kerabat kita maka mendapat tiga hak, hak
sebagai tetangga, hak sebagai muslim dan hak sebagai kerabat. Kedua tetangga
sesama muslim, maka mendapat dua hak, hak sebagai tetangga dan hak sebagai
muslim, ketiga tetangga non muslim mendapatkan satu hak saja yaitu hak sebagai
tetangga.
Islam adalah ajaran yang
sempurna.Islam mengajarkan dari hal terkecil hingga hal yang besar.Salah satu
kesempurnaan itu bisa terlihat pada ajaranya dalam etika bertetangga.Kita
sebagai mahluk sosial tidak pernah bisa lepas dari oranglain.Dalam lingkup
tempat tinggal kita.Keberadaan tetangga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan
kita.Kita pun adalah bagian dari tetangga.
Rasulullah saw bersabda,
"Tiap empat puluh rumah adalah tetangga-tetangga, yang di depan, di
belakang, di sebelah kanan dan di sebelah kiri (rumahnya)." (HR
Ath-Thahawi).
Dari hadis ini sudah jelas
tentang siapa tetangga kita.Walau dalam hadis ini disebutkan batasan bukan
berati kita tidak boleh mengenal orang yang tinggalnya lebih dari empat puluh
rumah. Hadis ini bermaksud menekankan kepada kita tentang hak-hak
mereka.
Ada beberapa hal yang harus
kita perhatikan untuk tidak boleh kita lakukan terhadap tetangga kita.Kita
tidak boleh bersikap pelit ketika tetangga kita mempergunakan sebagian dari
bangunan atau halaman rumah kita.Seperti sabda Rasulullah SAW “Janganlah
seorang melarang tetangganya menyandarkan kayunya (dijemur) pada dinding
rumahnya”. (HR Bukhari).
Hal lain yang tidak boleh kita
lakukan adalah acuh ketika tetangga kita kelaparan. Hal ini sangatlah tidak
manusiawi.Bahkan Rasulullah SAW menyatakan perbuatan seperti itu bukanlah
perbuatan orang yang beriman.“Tiada beriman kepadaku orang yang bermalam
(tidur) dengan kenyang sementara tetangganya lapar padahal dia mengetahui hal
itu”. (Al Hadis)
Barangsiapa ingin disenangi
oleh Allah SWT maka janganlah kita menganggu tetangga kita.Karena hal ini salah
satu perbuatan yang disenangi Allah SWT.“Barangsiapa ingin disenangi Allah dan
rasulNya hendaklah berbicara jujur, menunaikan amanah dan tidak mengganggu
tetangganya”. (HR Al-Baihaqi).
Selain hal itu jika kita
menjual rumah kita, maka tetangga kita lebih berhak membelinya dibandingkan
dengan orang lain. “Tetangga adalah orang yang paling berhak membeli rumah
tetangganya”. (HR Bukhari dan Muslim).
Ada beberapa hak tetangga yang
harus kita perhatikan.Di ntaranya ketika tetangga kita sakit kita harus
mengunjunginya.Ketika tetangga kita meninggal kita harus mengantarkan
jenazahnya. Bahkan jangan sampai tetangga kita menyalakan api tuk menjamu tamu
yang ta’ziah. Selanjutnya jika tetangga kita mendapat kebaikan maka ia berhak
mendapat ucapan selamat dari kita.
Bangunan rumah kitapun harus
kita perhatikan.Jangan sampai lebih tinggi dari tetangga kita.Bukan itu saja,
ketika mereka mencium aroma masakan dari rumah kita.Maka tetangga kita berhak
tuk merasakan masakan kita."Hak tetangga ialah bila dia sakit kamu
kunjungi dan bila wafat kamu menghantar jenazahnya.Bila dia membutuhkan uang
kamu pinjami dan bila dia mengalami kemiskinan (kesukaran) kamu tutup-tutupi
(rahasiakan).Bila dia memperoleh kebaikan kamu mengucapkan selamat kepadanya
dan bila dia mengalami musibah kamu datangi untuk menyampaikan rasa
duka.Janganlah meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya yang
dapat menutup kelancaran angin baginya dan jangan kamu mengganggunya dengan bau
periuk masakan kecuali kamu menciduk sebagian untuk diberikan kepadanya”. (HR
Ath-Thabrani). [Agustiar
Nur Akbar, Etika
Bertetangga,republika.co.id Kamis, 19 Mei 2011 02:00 WIB].
Hidup dengan tetangga banyak hal yang perlu dijaga dengan
sebaik-baiknya, dengan demikian keharmonisan akan terujud, janganlah sampai
terjadi sikap-sikap negative terhadap tetangga seperti permusuhan.
Sesama muslim tidak boleh saling
bermusuhan yang dapat memutuskan silaturrahim, bahkan bila terpaksa boleh saja
kita tidak bertegur sapa dengan seseorang tapi diberi dispensasi hanya untuk
tiga hari, setelah itu haram hukumnya saling berdiaman.Rasulullah bersabda; "Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia menghubungkan
silaturrahim".
Rasulullah menyatakan pula dalam
haditsnya; "Dua orang yang tidak dipandang Allah di hari kiamat kelak,
yaitu orang yang memutuskan silaturrahim dan tetangga yang jahat" [HR.
Daulany].Kejahatan tetangga bukan
hanya pada asfek fisik saja, tapi bisa Nampak pada ucapan yang disampaikan
melalui kata-kata kotor dan kasar atau sindiran yang memicu kepada permusuhan,
sebaiknya sebagai tetangga kita bisa mengendalikan lidah, karena lisah yang
terucap kadang-kala lupa kontrolnya sehingga membuat orang tidak suka kepada
kita.
Lidah adalah senjata manusia untuk
berbicara menyampaikan maksud dalam bentuk bahasa, dengan kemahiran lisah
seseorang dapat terangkat derajatnya di masyarakat, karena mampu menyalurkan
maksud serta jeritan hati umat, dengan lidah da’wah dapat dilakukan sampai
kepada propaganda dan obral barang di
pasar. Efek positif memang banyak, tetapi banyak pula segi negatifnya,
karena lidah ada orang terlempar jauh dari masyarakat sampai terbenam ke
penjara.
Rasulullah bersabda; "Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir maka bicaralah yang baik atau lebih baik diam"
Ajaran Islam sangat menekankan pemeliharaan lidah, ucapan
yang keluar tanpa kontrol akan mengakibatkan kerugian dalam melaksanakan
ibadah, seperti halnya dalam berpuasa, bila tidak mampu menahan kata-kata akan
dapat mengurangi nilai ibadah puasa, bahkan ibadah puasa tersebut sia-sia.
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,”Orang
yang tidak meninggalkan kata-kata bohong dan senantiasa berdusta, tidak ada
faedahnya ia menahan diri dari makan dan minum”.
Ada beberapa sikap terpuji seorang muslim kepada
tetangganya agar kehidupan bertetangga membawa berkah dan mendapatkan
keuntungan dari hubungan baik tersebut, sebab satu musuh itu terasa banyak
dibandingkan seribu kawan.
Sebagai makhluk sosial,
manusia butuh bersosialisasi.Di lingkungan terdekat, manusia hidup berdampingan
dengan tetangganya.Dalam ajaran Islam, tetangga memiliki peran dan arti penting
dalam kehidupan seorang Muslim.Islam mengajarkan, hak tetangga atas tetangga
lainnya begitu agung.Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat baik
kepada tetangga dekat dan jauh. "… Dan, berbuat baiklah kepada ibu-bapak,
karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, serta tetangga yang dekat
dan tetangga yang jauh." (QS An-Nisaa [4]:36).
Rasulullah SAW juga selalu
mengingatkan umatnya untuk berbuat baik dengan tetangganya.Nabi SAW bersabda,
"Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga
hingga aku mengira dia akan mewariskannya."(HR Bukhari dan Muslim).
Sayangnya, masih banyak umat
Islam yang belum menjalankan perintah Allah dan Rasulullah tentang pentingnya
berbuat baik kepada tetangga.Tak jarang, antartetangga ada yang bermusuhan,
saling menjelekkan, dan saling mengumbar aib. Akibatnya, seorang yang
bermusuhan dengan tetangganya tak akan pernah merasa tenang.
Agar setiap Muslim akur dan akrab dengan tetangganya, ajaran Islam melalui Alquran dan hadis telah menetapkan adab bertetangga (Al-Jiwaar). Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam Kitab Mausuu'atul Aadaab Al-Islaamiyah menjelaskan, adab-adab yang perlu diperhatikan seorang Muslim dalam bertetangga.
Agar setiap Muslim akur dan akrab dengan tetangganya, ajaran Islam melalui Alquran dan hadis telah menetapkan adab bertetangga (Al-Jiwaar). Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam Kitab Mausuu'atul Aadaab Al-Islaamiyah menjelaskan, adab-adab yang perlu diperhatikan seorang Muslim dalam bertetangga.
Memilih tetangga yang saleh
Menurut Syekh Sayyid Nada, sebelum memutuskan tinggal di
suatu tempat, seharusnya seorang Muslim memilih tempat tinggal yang saleh
tetangganya. Sebab, kata dia, tetangga yang tak saleh suka membuka rahasia
rumah tangga orang lain. "Ada kalanya seseorang membutuhkan bantuan
tetangganya.Apabila tetangga itu orang yang saleh, tentu ia akan memberikan
manfaat dan meringankan bebannya," ujar ulama terkemuka itu. Terkait
masalah ini, Rasulullah SAW bersabda, "Empat perkara yang dapat
mendatangkan kebahagiaan: wanita yang saleh, tempat tinggal yang luas, tetangga
yang saleh, dan kendaraan yang bagus." (HR Ahmad).
Menyukai kebaikan bagi
tetangganya
Hak seorang Muslim atas Muslim
lainnya adalah menyukai kebaikan bagi tetangganya, sebagaimana ia menyukai
kebaikan itu bagi dirinya sendiri. Hal itu, dalam Islam, menjadi penyempurna
keimanan.Rasulullah SAW bersabda, "Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya,
tidak sempurna keimanan seseorang hingga ia menyukai tetangganya apa yang ia
suka bagi dirinya." (HR Muslim).
Tak mengganggu baik
dengan ucapan maupun perbuatan
"Mengganggu tetangga
adalah perbuatan yang haram," ujar Syekh Sayyid Nada.Bahkan, Rasulullah
SAW secara khusus telah mengingatkan masalah ini.Beliau bersabda, "Barang
siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengganggu
tetangganya." (HR Bukhari).
Selalu berbuat baik
kepada tetangga
Rasulullah SAW mengajarkan
umatnya agar selalu berbuat baik kepada tetangganya.Beliau bersabda,
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat
baik kepada tetangganya …" (HR Muslim). Untuk itulah, kata Syekh Sayyid
Nada, wajib hukumnya berbuat baik kepada tetangga dengan cara apa pun yang
memungkinkan.
Bersabar terhadap
gangguan tetangga
"Tetangga yang baik bukan
hanya menahan tangannya untuk tidak mengganggu tetangganya.Akan tetapi, ia juga
bersabar terhadap gangguannya," papar Syekh Sayyid Nada. Hendaknya ia
membalas gangguan itu dengan kebaikan. Menurut dia, sesungguhnya sikap seperti
itu akan menutup pintu bisikan setan.
Memberi makan kepada
tetangga yang fakir
Rasulullah SAW selalu
menekankan pentingnya umat Islam berbuat baik kepada tetangga.Beliau bersabda,
"Bukanlah Mukmin orang yang kenyang, sementara tetangga di sampingnya
kelaparan."
Saat ini, masih banyak orang
yang tak memedulikan kondisi tetangganya.Padahal, Rasulullah SAW mengajarkan
umatnya berbagi dengan tetangga.Beliau bersabda, "Jika salah seorang dari
kalian memasak, perbanyaklah kuahnya, kemudian berikan sebagian kepada
tetangganya."
Rasulullah
juga melarang umatnya meremehkan sesuatu yang akan diberikan kepada
tetangganya. Nabi SAW bersabda, "Wahai, wanita Muslimah, janganlah kalian
meremehkan pemberian kepada tetangga meskipun hanya kaki kambing." Menurut
Syekh Sayyid Nada, hendaknya adab yang agung ini diperhatikan dan jangan sampai
diabaikan.[Mengenal Adab Bertetangga dalam Ajaran Islam, Damanhuri/Republika co.id, Jumat,
26 November 2010, 03:57 WIB]
Selain itu,
karena hubungan seorang tetangga dengan tetangganya bukan hanya sebatas
tetangga, ada hubungan karena sesama muslim maka hak-hak tetangga sebagai
muslimpun harus kita berikan kepadanyaagar kehidupan berukhuwah dapat berjalan
secara harmonis yaitu;
1.Bila
bertemu mengucapkan salam
Selayaknya bila kita bertemu
dengan sesama muslim tentu yang telah kita kenal atau paling tidak kita
mengetahuinya maka ucapan yang pantas ialah mengucapkan salam. Mengucapkan salam adalah sunnah
tapi bagi yang mendengarnya menjawab salam wajib, walaupun sedang duduk-duduk
dijalan, dikala ada ucapan salam sebaiknya dijawab salam tersebut;"Apabila
kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah
penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah
penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala
sesuatu" [An Nisa' 4;86].
Salam yang
kita ucapkan ke tengah masyarakat bukanlah sebatas penghormatan saja tapi
mengandung nilai-nilai ibadah sekaligus isyarat agar kita senentiasa menebarkan
keselamatan kepada orang lain.
Lebih jelas beliau memberikan arahan kepada
kita dalam dua hadits berikut ini; ”Belumkah
aku tunjukkan sesuatu yang bila dilaksanakan maka kamu akan kasih mengasihi ?
ucapkan salam diantara sesama” [HR. Muslim]. ”Apabila dua orang muslim berjumpa, lalu keduanya berjabatan tangan,
mengucaplan ’Alhamdulillah’ dan beristighfar maka Allah mengampuni mereka”
[HR. Abu Daud].
2.Cintailah
dia sebagaimana mencintai diri sendiri
Ini adalah cinta dengan makna
positif yaitu mencintai saudara kita sesama muslim sebagaimana kita mencintai
diri kita sendiri, Rasulullah menyatakan dalam hadiatsnya ;"seorang mukmin dengan mukmin lainnya itu bagaikan sebuah
bangunan, sebagian mengokohkan sebagian
yang lainnya" [HR. Muslim].
Ujud
cinta kepada saudaranya melalui sikap siap membantu dalam segala kebaikan dan
tidak membiarkan saudaranya dalam kesusahan apalagi dalam kesesatan, resfonsip
dan perhatian perlu diberikan kepada sesama muslim apalagi dalam keadaan duka
cita yang sedang dialami;
''Dan tolong
menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah bertolong menolong
dalam dosa dan permusuhan, dan bertaqwalah kepada Allah” [5;2]
”Barangsiapa yang melepaskan kesulitan untuk seorang
mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat,
barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya
di dunia dan di akherat. Allah selalu menolong hamba-Nya yang selalu menolong
saudaranya” [HR. Muslim].
Rasulpun
menyabdakan, ”Barangsiapa yang tidak
peduli dengan ummat Islam maka dia bukanlah ummatku”.
3.Jangan
menyakiti
Sesama manusia saja tidak tidak
boleh saling menyakiti apalagi sesama muslim, seharusnya sehadiran kita di
dekat muslim lainnya kalaulah tidak bisa memberikan obat maka paling tidak
jangan menyakitinya dengan lisan, sikap ataupun tindakan, Rasululllah bersabda;
''Orang Islam itu adalah orang yang orang islam lainnya merasa aman atau
selamat dari lidah dan tangannya".
Hadits dari Ibnu Mubarak menyatakan;
"Tidak halal seorang muslim itu membuat ketakutan kepada orang muslim
lainnya".
4.Jangan
berlagak sombong
Seorang muslim tidak boleh menyombongkan diri
kepada muslim lainnya karena sombong itu adalah kejahiliyyahan. Salah satu
watak jahiliyyah itu adalah sombong. Kesombongan itu pakaian Allah sehingga
makhluk tidak diperkenankan untuk memilikinya, bahkan Rasul menyatakan bahwa
orang yang punya sedikit saja rasa sombong maka Allah mengharamkan syurga
baginya, Allah tidak menyukai orang yang sombong;
"Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka
bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat
tiap-tiap ayat(Ku)], mereka tidak beriman kepadanya. dan jika mereka melihat
jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika
mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. yang demikian itu
adalah Karena mereka mendustakan ayat-ayat kami dan mereka selalu lalai dari
padanya.' [Al A'raf 7;146]
5.Tidak
menyebarkan berita buruk
Berita buruk mudah sekali
tersebarnya di tengah masyarakat apalagi maraknya media informasi sekarang ini,
tantangan bagi seorang muslim untuk mengendalikan dirinya dan menahan untuk
tidak menyebarkan berita buruk yang menimpa saudaranya.
Rasulullah menyatakan dalam
sabdanya;"Tidak masuk syurga orang yang gemar menyebarkan berita
buruk".
Allah menyarankan agar seorang
muslim itu harus selektif dalam menerima informasi dengan melakukan cek dan
ricek kepada sumber berita, andaikata memang yang datang itu berita buruk maka
janganlah menyebarkannya;
Hai orang-orang yang beriman, jika datang
kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar
kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui
keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. [Al Hujurat 49;6]
6.Jangan
berdiam selama lebih dari tiga hari
Kalau memang terpaksa juga kita
bersakit hati karena sesuatu hal yang sulit untuk dimaafkan sehingga harus
berdiam diri, tidak saling menegur maka Allah melalui nabinya memberi
dispensasi hanya sampai tiga hari, setelah itu harus seperti biasa, saling
tegur sapa; "Tidak halal bagi seorang muslim itu tidak menyapa saudaranya
lebih dari tiga hari"[Haditrs].
Lebih dari tiga hari saja tidak
bertegur sapa sesama muslim tidak boleh lalu bagaimana yang sudah memendam
dendam bertahun-tahun hingga bergenerasi tentu tidak layak lagi keberadaannya
sebagai muslim. Kewajiban dalam agama bukanlah meminta maaf tapi memberi maaf,
bagi yang memberi maaf walaupun sangat berat maka Allah memuliakannya
sebagaimana hadits dari Muslim; "Tidaklah seorang yang selalu suka
memaafkan itu melainkan Allah akan menambah kemuliaannya".
7.Jangan
masuk rumah tanpa izin
Seorang
muslim tidak boleh masuk ke rumah orang lain sebelum minta izin dan diizinkan,
ketika bertamupun diatur sebaik-baiknya dengan etika Islam. Allah memberikan
peringatan dalam surat An Nur 24; 27,”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah
yang bukan rumahmu sebelum minta izin dan memberi salam kepada penghuninya.
Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat"
Walaupun rumah tetangga tidak
dikunci maka janganlah lancang kita masuk ke dalam rumah itu tanpa izin dari
tuan rumah.
Begitu indahnya hidup dalam
dekapan islam, sampai masalah kehidupan pribadi muslim dengan muslim lainnya
diteladankan oleh Rasulullah dengan memberikan hak-haknya, begitu juga
kehidupan dengan tetangga diatur demikian baiknya sehingga harmonis, rukun,
aman dan damai dengan tetangga.Wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 27 Juni 2011.M/ 25
Rajab 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar