Senin, 14 Desember 2015

55. Tetangga



Orang yang paling dekat dengan kita karena rumahnya tidak ada jaraknya dengan rumah yang  kita diami, orang yang paling santun kepada kita, sebelum orang lain memberikan bantuan kepada kita, merekalah yang terlebih dahulu membantu kesusahan yang kita rasakan, orang yang mengerti keadaan kita karena mereka tempat kita mencurahkan segala suka dan duka, mereka adalah tetangga.

Seorang muslim punya teladan dalam hidupnya yaitu Muhammad SAW, sebagai nabi dan Rasul yang mengajarkan tentang akhlakul karimah karena memang tugas Rasul itu untuk menyempurnakan akhlak, sehingga wajar bila Allah menyebutkan bahwa akhlakul karimah itu hanya ada pada Rasulullah saja;

"Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah" [Al Ahzab 33;21].

Kehidupan muslim dituntut untuk meneladani akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah, sejak dari hidup pribadi, berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat hingga berbangsa dan bernegara, semuanya ada contoh teladannya dari kehidupan yang beliau jalani, selain tertuang pada Al Qur’an juga termaktub dalam haditsnya.

Berkaitan dengan tetangga, Rasul menyatakan bahwa tetangga itu ada tiga macam modelnya, pertama tetangga sesama muslim dari kerabat kita maka mendapat tiga hak, hak sebagai tetangga, hak sebagai muslim dan hak sebagai kerabat. Kedua tetangga sesama muslim, maka mendapat dua hak, hak sebagai tetangga dan hak sebagai muslim, ketiga tetangga non muslim mendapatkan satu hak saja yaitu hak sebagai tetangga.
Islam adalah ajaran yang sempurna.Islam mengajarkan dari hal terkecil hingga hal yang besar.Salah satu kesempurnaan itu bisa terlihat pada ajaranya dalam etika bertetangga.Kita sebagai mahluk sosial tidak pernah bisa lepas dari oranglain.Dalam lingkup tempat tinggal kita.Keberadaan tetangga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita.Kita pun adalah bagian dari tetangga.

Rasulullah saw bersabda, "Tiap empat puluh rumah adalah tetangga-tetangga, yang di depan, di belakang, di sebelah kanan dan di sebelah kiri (rumahnya)." (HR Ath-Thahawi). 

Dari hadis ini sudah jelas tentang siapa tetangga kita.Walau dalam hadis ini disebutkan batasan bukan berati kita tidak boleh mengenal orang yang tinggalnya lebih dari empat puluh rumah. Hadis  ini bermaksud menekankan kepada kita tentang hak-hak mereka. 

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan untuk tidak boleh kita lakukan terhadap tetangga kita.Kita tidak boleh bersikap pelit ketika tetangga kita mempergunakan sebagian dari bangunan atau halaman rumah kita.Seperti sabda Rasulullah SAW “Janganlah seorang melarang tetangganya menyandarkan kayunya (dijemur) pada dinding rumahnya”. (HR Bukhari). 

Hal lain yang tidak boleh kita lakukan adalah acuh ketika tetangga kita kelaparan. Hal ini sangatlah tidak manusiawi.Bahkan Rasulullah SAW menyatakan perbuatan seperti itu bukanlah perbuatan orang yang beriman.“Tiada beriman kepadaku orang yang bermalam (tidur) dengan kenyang sementara tetangganya lapar padahal dia mengetahui hal itu”.  (Al Hadis)

Barangsiapa ingin disenangi oleh Allah SWT maka janganlah kita menganggu tetangga kita.Karena hal ini salah satu perbuatan yang disenangi Allah SWT.“Barangsiapa ingin disenangi Allah dan rasulNya hendaklah berbicara jujur, menunaikan amanah dan tidak mengganggu tetangganya”. (HR Al-Baihaqi). 

Selain hal itu jika kita menjual rumah kita, maka tetangga kita lebih berhak membelinya dibandingkan dengan orang lain. “Tetangga adalah orang yang paling berhak membeli rumah tetangganya”. (HR  Bukhari dan Muslim).
Ada beberapa hak tetangga yang harus kita perhatikan.Di ntaranya ketika tetangga kita sakit kita harus mengunjunginya.Ketika tetangga kita meninggal kita harus mengantarkan jenazahnya. Bahkan jangan sampai tetangga kita menyalakan api tuk menjamu tamu yang ta’ziah. Selanjutnya jika tetangga kita mendapat kebaikan maka ia berhak mendapat ucapan selamat dari kita. 

Bangunan rumah kitapun harus kita perhatikan.Jangan sampai lebih tinggi dari tetangga kita.Bukan itu saja, ketika mereka mencium aroma masakan dari rumah kita.Maka tetangga kita berhak tuk merasakan masakan kita."Hak tetangga ialah bila dia sakit kamu kunjungi dan bila wafat kamu menghantar jenazahnya.Bila dia membutuhkan uang kamu pinjami dan bila dia mengalami kemiskinan (kesukaran) kamu tutup-tutupi (rahasiakan).Bila dia memperoleh kebaikan kamu mengucapkan selamat kepadanya dan bila dia mengalami musibah kamu datangi untuk menyampaikan rasa duka.Janganlah meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya yang dapat menutup kelancaran angin baginya dan jangan kamu mengganggunya dengan bau periuk masakan kecuali kamu menciduk sebagian untuk diberikan kepadanya”. (HR  Ath-Thabrani). [Agustiar Nur Akbar, Etika Bertetangga,republika.co.id Kamis, 19 Mei 2011 02:00 WIB].
Hidup dengan tetangga banyak hal yang perlu dijaga dengan sebaik-baiknya, dengan demikian keharmonisan akan terujud, janganlah sampai terjadi sikap-sikap negative terhadap tetangga seperti permusuhan.
Sesama muslim tidak boleh saling bermusuhan yang dapat memutuskan silaturrahim, bahkan bila terpaksa boleh saja kita tidak bertegur sapa dengan seseorang tapi diberi dispensasi hanya untuk tiga hari, setelah itu haram hukumnya saling berdiaman.Rasulullah bersabda; "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia menghubungkan silaturrahim".

Rasulullah menyatakan pula dalam haditsnya; "Dua orang yang tidak dipandang Allah di hari kiamat kelak, yaitu orang yang memutuskan silaturrahim dan tetangga yang jahat" [HR. Daulany].Kejahatan tetangga bukan hanya pada asfek fisik saja, tapi bisa Nampak pada ucapan yang disampaikan melalui kata-kata kotor dan kasar atau sindiran yang memicu kepada permusuhan, sebaiknya sebagai tetangga kita bisa mengendalikan lidah, karena lisah yang terucap kadang-kala lupa kontrolnya sehingga membuat orang tidak suka kepada kita.

            Lidah adalah  senjata manusia untuk berbicara menyampaikan maksud dalam bentuk bahasa, dengan kemahiran lisah seseorang dapat terangkat derajatnya di masyarakat, karena mampu menyalurkan maksud serta jeritan hati umat, dengan lidah da’wah dapat dilakukan sampai kepada propaganda dan obral barang di  pasar. Efek positif memang banyak, tetapi banyak pula segi negatifnya, karena lidah ada orang terlempar jauh dari masyarakat sampai terbenam ke penjara.
Rasulullah bersabda; "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka bicaralah yang baik atau lebih baik diam" 

Ajaran Islam sangat menekankan pemeliharaan lidah, ucapan yang keluar tanpa kontrol akan mengakibatkan kerugian dalam melaksanakan ibadah, seperti halnya dalam berpuasa, bila tidak mampu menahan kata-kata akan dapat mengurangi nilai ibadah puasa, bahkan ibadah puasa tersebut sia-sia. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,”Orang yang tidak meninggalkan kata-kata bohong dan senantiasa berdusta, tidak ada faedahnya ia menahan diri dari makan dan minum”.

Ada beberapa sikap terpuji seorang muslim kepada tetangganya agar kehidupan bertetangga membawa berkah dan mendapatkan keuntungan dari hubungan baik tersebut, sebab satu musuh itu terasa banyak dibandingkan seribu kawan.

Sebagai makhluk sosial, manusia butuh bersosialisasi.Di lingkungan terdekat, manusia hidup berdampingan dengan tetangganya.Dalam ajaran Islam, tetangga memiliki peran dan arti penting dalam kehidupan seorang Muslim.Islam mengajarkan, hak tetangga atas tetangga lainnya begitu agung.Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat baik kepada tetangga dekat dan jauh. "… Dan, berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, serta tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh." (QS An-Nisaa [4]:36).

Rasulullah SAW juga selalu mengingatkan umatnya untuk berbuat baik dengan tetangganya.Nabi SAW bersabda, "Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga hingga aku mengira dia akan mewariskannya."(HR Bukhari dan Muslim).

Sayangnya, masih banyak umat Islam yang belum menjalankan perintah Allah dan Rasulullah tentang pentingnya berbuat baik kepada tetangga.Tak jarang, antartetangga ada yang bermusuhan, saling menjelekkan, dan saling mengumbar aib. Akibatnya, seorang yang bermusuhan dengan tetangganya tak akan pernah merasa tenang.

Agar setiap Muslim akur dan akrab dengan tetangganya, ajaran Islam melalui Alquran dan hadis telah menetapkan adab bertetangga (Al-Jiwaar). Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam Kitab Mausuu'atul Aadaab Al-Islaamiyah menjelaskan, adab-adab yang perlu diperhatikan seorang Muslim dalam bertetangga.

Memilih tetangga yang saleh
Menurut Syekh Sayyid Nada, sebelum memutuskan tinggal di suatu tempat, seharusnya seorang Muslim memilih tempat tinggal yang saleh tetangganya. Sebab, kata dia, tetangga yang tak saleh suka membuka rahasia rumah tangga orang lain. "Ada kalanya seseorang membutuhkan bantuan tetangganya.Apabila tetangga itu orang yang saleh, tentu ia akan memberikan manfaat dan meringankan bebannya," ujar ulama terkemuka itu. Terkait masalah ini, Rasulullah SAW bersabda, "Empat perkara yang dapat mendatangkan kebahagiaan: wanita yang saleh, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang bagus." (HR Ahmad).

Menyukai kebaikan bagi tetangganya
Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya adalah menyukai kebaikan bagi tetangganya, sebagaimana ia menyukai kebaikan itu bagi dirinya sendiri. Hal itu, dalam Islam, menjadi penyempurna keimanan.Rasulullah SAW bersabda, "Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak sempurna keimanan seseorang hingga ia menyukai tetangganya apa yang ia suka bagi dirinya." (HR Muslim).

Tak mengganggu baik dengan ucapan maupun perbuatan
"Mengganggu tetangga adalah perbuatan yang haram," ujar Syekh Sayyid Nada.Bahkan, Rasulullah SAW secara khusus telah mengingatkan masalah ini.Beliau bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya." (HR Bukhari).

Selalu berbuat baik kepada tetangga
Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar selalu berbuat baik kepada tetangganya.Beliau bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya …" (HR Muslim). Untuk itulah, kata Syekh Sayyid Nada, wajib hukumnya berbuat baik kepada tetangga dengan cara apa pun yang memungkinkan.

Bersabar terhadap gangguan tetangga
"Tetangga yang baik bukan hanya menahan tangannya untuk tidak mengganggu tetangganya.Akan tetapi, ia juga bersabar terhadap gangguannya," papar Syekh Sayyid Nada. Hendaknya ia membalas gangguan itu dengan kebaikan. Menurut dia, sesungguhnya sikap seperti itu akan menutup pintu bisikan setan.
Memberi makan kepada tetangga yang fakir
Rasulullah SAW selalu menekankan pentingnya umat Islam berbuat baik kepada tetangga.Beliau bersabda, "Bukanlah Mukmin orang yang kenyang, sementara tetangga di sampingnya kelaparan."

Saat ini, masih banyak orang yang tak memedulikan kondisi tetangganya.Padahal, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya berbagi dengan tetangga.Beliau bersabda, "Jika salah seorang dari kalian memasak, perbanyaklah kuahnya, kemudian berikan sebagian kepada tetangganya."

Rasulullah juga melarang umatnya meremehkan sesuatu yang akan diberikan kepada tetangganya. Nabi SAW bersabda, "Wahai, wanita Muslimah, janganlah kalian meremehkan pemberian kepada tetangga meskipun hanya kaki kambing." Menurut Syekh Sayyid Nada, hendaknya adab yang agung ini diperhatikan dan jangan sampai diabaikan.[Mengenal Adab Bertetangga dalam Ajaran Islam,  Damanhuri/Republika co.id, Jumat, 26 November 2010, 03:57 WIB]

Selain itu, karena hubungan seorang tetangga dengan tetangganya bukan hanya sebatas tetangga, ada hubungan karena sesama muslim maka hak-hak tetangga sebagai muslimpun harus kita berikan kepadanyaagar kehidupan berukhuwah dapat berjalan secara harmonis yaitu;

1.Bila bertemu mengucapkan salam
            Selayaknya bila kita bertemu dengan sesama muslim tentu yang telah kita kenal atau paling tidak kita mengetahuinya maka ucapan yang pantas ialah mengucapkan salam. Mengucapkan salam adalah sunnah tapi bagi yang mendengarnya menjawab salam wajib, walaupun sedang duduk-duduk dijalan, dikala ada ucapan salam sebaiknya dijawab salam tersebut;"Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu" [An Nisa' 4;86].

Salam yang kita ucapkan ke tengah masyarakat bukanlah sebatas penghormatan saja tapi mengandung nilai-nilai ibadah sekaligus isyarat agar kita senentiasa menebarkan keselamatan kepada orang lain.
 Lebih jelas beliau memberikan arahan kepada kita dalam dua hadits berikut ini; ”Belumkah aku tunjukkan sesuatu yang bila dilaksanakan maka kamu akan kasih mengasihi ? ucapkan salam diantara sesama” [HR. Muslim]. ”Apabila dua orang muslim berjumpa, lalu keduanya berjabatan tangan, mengucaplan ’Alhamdulillah’ dan beristighfar maka Allah mengampuni mereka” [HR. Abu Daud].

2.Cintailah dia sebagaimana mencintai diri sendiri
            Ini adalah cinta dengan makna positif yaitu mencintai saudara kita sesama muslim sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri, Rasulullah menyatakan dalam hadiatsnya ;"seorang mukmin dengan mukmin lainnya itu bagaikan sebuah bangunan, sebagian mengokohkan  sebagian yang lainnya" [HR. Muslim].

Ujud cinta kepada saudaranya melalui sikap siap membantu dalam segala kebaikan dan tidak membiarkan saudaranya dalam kesusahan apalagi dalam kesesatan, resfonsip dan perhatian perlu diberikan kepada sesama muslim apalagi dalam keadaan duka cita yang sedang dialami;
     
''Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah bertolong menolong dalam dosa dan permusuhan, dan bertaqwalah kepada Allah” [5;2]

”Barangsiapa yang melepaskan kesulitan untuk seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat, barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan di akherat. Allah selalu menolong hamba-Nya yang selalu menolong saudaranya” [HR. Muslim].

      Rasulpun menyabdakan, ”Barangsiapa yang tidak peduli dengan ummat Islam maka dia bukanlah ummatku”.

3.Jangan menyakiti
            Sesama manusia saja tidak tidak boleh saling menyakiti apalagi sesama muslim, seharusnya sehadiran kita di dekat muslim lainnya kalaulah tidak bisa memberikan obat maka paling tidak jangan menyakitinya dengan lisan, sikap ataupun tindakan, Rasululllah bersabda; ''Orang Islam itu adalah orang yang orang islam lainnya merasa aman atau selamat dari lidah dan tangannya".

            Hadits dari Ibnu Mubarak menyatakan; "Tidak halal seorang muslim itu membuat ketakutan kepada orang muslim lainnya".

4.Jangan berlagak sombong
            Seorang muslim tidak boleh menyombongkan diri kepada muslim lainnya karena sombong itu adalah kejahiliyyahan. Salah satu watak jahiliyyah itu adalah sombong. Kesombongan itu pakaian Allah sehingga makhluk tidak diperkenankan untuk memilikinya, bahkan Rasul menyatakan bahwa orang yang punya sedikit saja rasa sombong maka Allah mengharamkan syurga baginya, Allah tidak menyukai orang yang sombong;

"Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku)], mereka tidak beriman kepadanya. dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. yang demikian itu adalah Karena mereka mendustakan ayat-ayat kami dan mereka selalu lalai dari padanya.' [Al A'raf 7;146]

5.Tidak menyebarkan berita buruk
            Berita buruk mudah sekali tersebarnya di tengah masyarakat apalagi maraknya media informasi sekarang ini, tantangan bagi seorang muslim untuk mengendalikan dirinya dan menahan untuk tidak menyebarkan berita buruk yang menimpa saudaranya.
            Rasulullah menyatakan dalam sabdanya;"Tidak masuk syurga orang yang gemar menyebarkan berita buruk".
Allah menyarankan agar seorang muslim itu harus selektif dalam menerima informasi dengan melakukan cek dan ricek kepada sumber berita, andaikata memang yang datang itu berita buruk maka janganlah menyebarkannya;

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. [Al Hujurat 49;6]

6.Jangan berdiam selama lebih dari tiga hari
            Kalau memang terpaksa juga kita bersakit hati karena sesuatu hal yang sulit untuk dimaafkan sehingga harus berdiam diri, tidak saling menegur maka Allah melalui nabinya memberi dispensasi hanya sampai tiga hari, setelah itu harus seperti biasa, saling tegur sapa; "Tidak halal bagi seorang muslim itu tidak menyapa saudaranya lebih dari tiga hari"[Haditrs].

            Lebih dari tiga hari saja tidak bertegur sapa sesama muslim tidak boleh lalu bagaimana yang sudah memendam dendam bertahun-tahun hingga bergenerasi tentu tidak layak lagi keberadaannya sebagai muslim. Kewajiban dalam agama bukanlah meminta maaf tapi memberi maaf, bagi yang memberi maaf walaupun sangat berat maka Allah memuliakannya sebagaimana hadits dari Muslim; "Tidaklah seorang yang selalu suka memaafkan itu melainkan Allah akan menambah kemuliaannya".
           
7.Jangan masuk rumah tanpa izin
Seorang muslim tidak boleh masuk ke rumah orang lain sebelum minta izin dan diizinkan, ketika bertamupun diatur sebaik-baiknya dengan etika Islam. Allah memberikan peringatan dalam surat An Nur 24; 27,”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat"

                Walaupun rumah tetangga tidak dikunci maka janganlah lancang kita masuk ke dalam rumah itu tanpa izin dari tuan rumah.
Begitu indahnya hidup dalam dekapan islam, sampai masalah kehidupan pribadi muslim dengan muslim lainnya diteladankan oleh Rasulullah dengan memberikan hak-haknya, begitu juga kehidupan dengan tetangga diatur demikian baiknya sehingga harmonis, rukun, aman dan damai dengan tetangga.Wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 27 Juni 2011.M/ 25 Rajab 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar