Berobat ke dokter karena dihinggapi suatu
penyakit, bahkan walaupun hanya sakit flu dan pilek, apalagi batuk, maka kita
akan disuguhkan obat manjur oleh dokter yang terdiri dari "PIL". Obat
ini juga dapat digunakan untuk menyembuhkan luka yang sudah infeksi sehingga
merah dan bernanah, pinggirannya mengeras karena kering sedangkan bagian
tengahnya berair, terasa sakit dan pedih apalagi tersenggol, luka yang begini
disebut dengan "KADA".
Yang
kita maksud dengan Pilkada, bukanlah obat untuk menyembuhkan koreng itu, tapi
sebuah kegiatan menentukan pemimpin masa depan, Pilkada singkatan dari
"Pemilihan Kepala Daerah". Tahun 2000 saya pernah mengikuti ajang ini
sebagai calon Wakil Wali Kota Solok dari Partai Keadilan danPPP yang berpasangan
dengan Drs. Syukriadi Syukur, namun nasib belum seberuntung orang lain sehingga
pengalaman inipun kadangkala bangkit lagi untuk maju sebagai orang nomor satu
atau nomor dua di sebuah Kabupaten atau Kota melalui Pilkada yang akan datang.
Mau
tidak mau semua jabatan yang kita emban hari ini pasti akan berakhir, baik
sebagai anggota dewan ataupun sebagai kepala daerah, ada sebuah ilustrasi
sebagai bahan berkaca diri bagi kita semua dan dalam rangka menjaring bakal
calon Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/ Wakil Bupati dan Wali Kota/Wakil Wali
Kota untuk lima tahun mendatang.
Dengan
akan berakhirnya jabatan kepala daerah, baik Gubernur, Bupati/ Wali kota
berarti rakyat siap menyeleksi figur yang tepat untuk itu, bakal calon hingga
menjadi calon bukanlah sembarang orang, jangan sampai kita membeli kucing dalam
karung, artinya harus orang yang mempunyai kapasitas untuk itu serta orang yang
layak jual dalam bursa pencalonan.
Salah satu kriteria bakal calon kepala daerah adalah
sehat jasmani dan rohani, artinya secara fisik dia tidak terganggu kesehatannya
dalam rangka menjalankan tugas amanat yang dibebankan kepundaknya.
Bila kita membicarakan dari kesehatan fisik terlalu
banyak orang yang mampu untuk itu, karena penampilan fisik jasmani adalah
penampilan lahiriah; gagah, sehat, subur, tidak terserang penyakit menahun dan
tidak terganggu akalnya yang disertai keterangan dokter.
Akan tetapi kesehatan rohani sangat sulit untuk dideteksi
namun nampak dalam aplikasi di lapangan. Orang yang sehat rohani insya Allah
akan sehat jasmaninya, tapi yang sehat jasmani belum tentu sehat rohaninya;
pencoleng, koruptor, pencopet serta bentuk kejahatan lainnya, umumnya dilakukan
oleh mereka-mereka yang memiliki kesehatan jasmani.
Seorang mukminpun dituntut untuk menjaga kesehatan
jasmani sebab bila sakit datang berarti banyak tugas-tugas agama yang
terbengkalai, bahkan lebih jelas Rasulullah mengatakan, ”Jaga sehatmu sebelum
datang masa sakitmu”, orang yang merasakan kalau sehat itu sebuah nikmat
bilamana sakit datang menimpanya, jangankan sakit yang datang, sedangkan dalam
masa sehat saja terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dari waktu
yang tersedia, benar yang diserukan seorang ulama Mesir yang bernama Hasan Al
Banna agar setiap pribadi muslim apalagi da’i, agar mengecek kesehatannya
paling tidak sekali dalam tiga bulan.
Pada diri
manusia itu ada tiga unsur yang penting untuk diselamatkan; diberi makanan,
dijaga kesehatannya jangan sampai cidera. Unsur pertama adalah akal; agar
diberi konsumsi ilmu pengetahuan sehingga keberadaannya di tengah masyarakat
dapat dimanfaatkan dari segi ilmu, Rasulullah bersabda bahwa orang yang paling
baik adalah mereka yang berdayaguna di tengah masyarakat. Unsur kedua adalah
jasmani, yang harus dijaga jangan sampai terabaikan, itulah makanya Islam
melarang ummatnya untuk minum khamar, narkoba dan barang-barang yang dapat
merusak jasmani manusia.
Rohani
adalah unsur yang penting untuk dipelihara disamping yang dua diatas, salah
satu tidak terjaga maka kehidupan manusia tidak tawazun [seimbang]. Rohani
tidak terlepas dari iman dan taqwa yang diiringi dengan amal shaleh, bila
rohani tidak terpelihara dengan baik maka kehancuran akan menimpa diri pribadi,
masyarakat dan bangsa, inilah yang disebut dengan sikap mental/ moral.
Seorang
Profesor di Amsterdam yang bernama Fahrenfest diketahui melakukan bunuh diri
setelah membunuh anakna sendiri, padahal apa yang kurang dari profesor ini;
hartanya banyak, dia guru besar pada sebuah Universitas, jabatannya tinggi,
pergaulannya luas, orang terpandang, kesehatan fisiknya lumayan. Rupanya
sebelum membunuh diri, dia telah menulis surat kepada temannya Profesor
Konstant yang isinya, ”Iman itu perlu, agama penting, ibadah sangat penting,
tapi hati saya tidak bisa menerima iman”.
Salah
satu sikap mental bagi seorang calon kepala daerah yang harus dimiliki menurut
versi Islam adalah mereka yang meraih jabatan tersebut tidak dengan ambisius,
artinya dia calonkan dirinya dengan kapasitas dan kelayakannya, dia ingin
jabatan tersebut diperoleh dengan cara benar, tidak melalui bau kemenyan atau
perdukunan, tidak melalui menjegal teman, main sikut dan sikat, bila kekalahan
atau belum saatnya dapat diraih dia tidak akan merasa kecewa dan sebaliknya bila jabatan itu diberikan
kepadanya dia tidak terlalu gembira dengan pesta ria dan hura-hura, karena
jabatan itu baginya bukanlah prestise atau kebanggaan, dan bukan pula hadiah,
tapi jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan di
akherat.
Kepala
daerah yang sehat rohaninya adalah mereka yang menggunakan fasilitas dan
jabatan sebagai sarana untuk memperbaiki ummat, kesempatan baginya untuk
memupuk pahala di sisi Allah melalui kekuasaan sebagaimana Rasul menyerukan,
”Bila kamu menyaksikan kemungkaran maka ubahlah dengan kekuasaan, bila tidak
mampu ubahlah dengan lisan, tidak mampu juga maka ubahlah dengan hati, namun
itu semua serendah-rendahnya iman”. Rasulullah, melalui jabatan yang dia emban,
baik sebagai Nabi dan Kepala Daerah di Madinah bahkan sebagai seorang Presiden
mampu menata kehidupan rakyatnya sebaik-baiknya sesuai dengan kehendak Allah,
bahkan Abu Bakar Ash Shiddiq memerangi siapa saja dari kaum muslimin yang mampu
tapi tidak mau membayar zakat, sehingga ketika Umar berkata kepadanya, ”Ya
Khalifah Abu Bakar, tidak usahlah mereka diperangi, nantikan mereka akan sadar
juga...” ketika itu Abu Bakar marah mendengar permintaan sahabatnya, ”Hai Umar,
kenapa engkau demikian lemahnya padahal engkau adalah orang yang kuat,
seandainya engkau tidak mau ikut aku, biarlah aku sendiri yang memerangi
mereka...”
Di sebuah tempat segerombolan ummat Islam
sedang menyeleksi figur pimpinan mendatang, dari kaum Anshor mereka mencalonkan
bakal calon dari kelompoknya demikian pula kaum Muhajirin telah pula punya jago
yang diadu dengan lawan lainnya. Pencalonan itu akhirnya mentah kembali ketika
Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khattab datang kemudian, kontan saja mereka
berdua didaulat oleh hadirin untuk menduduki jabatan Khalifah pengganti
Rasulullah.
Dua
orang kandidat ini punya kelebihan yang luar biasa dibandingkan dengan yang
lain, Abu Bakar adalah orang yang paling berjasa membela Rasul untuk
kepentingan Islam, dialah yang menemani
Rasul ketika Hijrah serta membantu seluruh kepentingan da’wah tak
terkecuali dengan Umar, orang yang tegas terhadap kezhaliman, siap
mempertaruhkan hidup dan matinya demi tegaknya Kalimatullah.
Abu
Bakar memegang tangan Umar, lalu dia angkat tinggi-tinggi dan berseru, ”’Inilah
pemimpin kita sekarang yang akan membawa ummat ini kepada kesejahteraan,
sebagai pengganti Rasul dalam segala urusan ummatnya”, belum lagi tangan itu
naik dengan ketinggian yang dimaksud oleh Abu Bakar, lansung Umar menarik
tangannya dan berkata,”Selama masih ada Abu Bakar, maka aku tidak pantas
menggantikan Rasulullah meraih posisi ini, dengan nama Allah, Abu Bakarlah
khalifah kita...” kata Umar bin Khatab kepada hadirin, semuanya menyadari
memang Abu Bakar yang lebih baik pada masa ini menggantikan jabatan pemimpin
ummat, kehadirannyapun diterima oleh semua pihak, Umar dan Abu Bakarpun
sebenarnya tidaklah ambisius untuk jabatan itu, karena jabatan bukanlah hadiah
atau prestise tapi adalah sebuah beban dan amanat yang harus
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Kita
menginginkan tampilnya kepala daerah yang dapat menyelesaikan problem ummat
bukan menambah runyamnya negeri ini, diapun bukan orang yang ambisius untuk
sebuah jabatan dengan menghalalkan segala cara, bila datang kepadanya jabatan
itu ditunaikan dengan baik, kehadirannyapun diterima seluruh kalangan karena perjuangannya
bukan satu fraksi, satu golongan dan segelintir orang, tapi untuk semuanya,
untuk seluruh anak negeri ini agar terlepas dari kesengsaraan.
Abu
Bakar Ash Shiddiq menempatkan jabatannya dengan penuh hati-hati, meletakkan
pegawainya sesuai dengan keahlian masing-masing tanpa melihat asal keturunan,
artinya dia tidak menghidup suburkan budaya KKN, karena ini akan menghancurkan
tatanan kepemimpinan dalam masyarakat yang punya budaya dan moral Islami
kemudian disokong oleh adat istiadat yang baik.
Ketika
akhir jabatan Umar bin Khattab akan selesai, lalu sebuah tim formatur sedang
mencari kandidat, salah seorang dari kandidat yang diagungkan adalah Abdullah
bin Umar, mendengar hal itu lansung Umar protes, ”Janganlah kalian berikan
jabatan itu kepada keluargaku walaupun dia mampu, cukuplah kepada saya saja,
terlalu besar tanggungjawab saya nanti di hadapan Allah, saya tidak sanggup”.
Abdullah
bin Umar pantas menempati posisi itu karena kualitasnya, dia diterima oleh
segala kalangan dan golongan, tapi karena jabatan itu menggantikan jabatan
ayahnya, Umar dan Abdullahpun tidak mau menerimanya, akan timbul nanti suatu
tuntutan masyarakat kalau posisi yang
diraih hasil kolusi dan nepotisme.
Selama
hampir enampuluh tahun negara kita hancur karena ulah permainan KKN sehingga
jabatan itu tidak dijabat oleh mereka yang ahlinya, sebenarnya Rasulullah
pernah memberikan sinyal kepada kita, ”Bila pekerjaan tidak dijabat oleh
ahlinya tunggu saja kehancurannya”.
Kita
mendambakan kepala daerah yang shaleh dalam kehidupannya. Yang dikatakan shaleh
bukanlah mereka yang hanya bisa shalat, setiap yang shaleh pasti shalat, tapi
yang shalat belum tentu shaleh. Adapun kriteria shaleh menurut para ulama
adalah;
- Salamatul Fikrah; yaitu fikiran-fikiran yang selamat dari kontaminasi orientalis, liberal dan sekuler atau idiologi lain yang memusuhi Islam, ide-ide yang keluar dari otaknya adalah ide cemerlang yang berguna bagi kehidupan dan kemaslahatan ummat dan rakyat yang mengacu kepada standard abadi yaitu Al Qur’an dan Sunnah.
- Shahihul Ibadah; artinya ibadah yang shaheh, bertumpu kepada ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah, terjauh dari bid’ah, khurafat, syirik dan tahayul, penampilannya sebagai ’abid [ahli ibadah] beranjak dari ittiba’ [mengikut sistim Rasul] bukan taqlid [ikut pendapat orang dengan cara membebek].
- Shahibul Ibadah; artinya kepala daerah yang kita harapkan adalah orang yang selalu mengisi kesibukan dirinya dengan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah, bahkan keberhasilannya sebagai kepala daerah didukung oleh kedekatannya beribadah kepada Allah bukan kepala daerah yang hanyut dengan kesibukan dunia tanpa disadarinya melupakan akherat.
- Salimul Aqidah; artinya aqidah yang hanya mentauhidkan Allah semata; jabatan, harta, keluarga baginya kecil dibandingkan kepentingan Allah, sebagaimana ucapan Abu Bakar, ”Ya Allah, letakkanlah dunia ini di tanganku sehingga aku bisa mendistribusikannya, jangan engkua letakkan di hatiku sehingga aku diaturnya”.
- Mathinul Khaliq ; artinya seorang kepala negara, kepala daerah yang kita harapkan adalah mereka yang memiliki akhlak yang solid, dia terpandang bukan karena jabatannya tapi karena akhlaknya, melalui akhlak dia mampu memikat orang lain sehingga mendukung segala program yang dicanangkan.
Itulah
kriteria shaleh menurut ukuran Al Qur’an dan Sunnah Rasul sehingga bila kita
memiliki pemimpin yang demikian sungguh besar harapan kita kepadanya untuk
menyelamatkan rakyat dan ummat ini dari
kehancuran, jangan sampai nanti rakyat/ ummat menuntutnya di dunia sementara
mereka berlepas diri atas orang yang dipimpinnya di akherat, sebagaimana
penjelasan Allah dalam ayat dibawah ini ” Dan ingatlah ketika mereka
berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada
orang-orang yang menyombongkan diri,”Sesungguhnya kami adalah
pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebagian azab
neraka ? ”. Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, ”Sesungguhnya kita
semua sama-sama dalam neraka karena Allah telah menetapkan keputusan antara
hamba-hambamu” [40;47-48].
Nabi
Muhammad bagi seorang muslim merupakan uswah yaitu sebagai teladan dalam
kehidupan sehari-hari dan sebagai qudwah yaitu pimpinan dalam menuju kehidupan
yang hasanah di dunia dan hasanah di akherat. Tidak ada pribadi yang lebih
agung selain beliau dan memang dialah orang pilihan Allah sebagai pimpinan
ummat ini hingga akhir zaman sebagaimana firman Allah dalam surat
Saba’ ayat 28, “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada ummat manusia
seluruhnya sebagai kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan…”.
Sebelum beliau hadir di tengah ummat yang dipimpinnya,
dahulu ketika masih muda remaja, Muhammad diamanatkan untuk menggembalakan
beberapa ekor domba, dari usahanya itu dia memperoleh upah untuk memenuhi kehidupan
sehari-hari walaupun dia tinggal bersama pamannya Abu Thalib, ini suatu
gambaran walaupun Muhammad hidup bersama dengan pamannya, tapi dia tidak
sekedar numpang disana, ada usaha yang dia lakukan, ada cucuran keringatnya
untuk dinikmati, artinya seorang pemimpin tidak diharapkan menadahkan tangan
mengharapkan sesuatu dari orang lain.
Disela-sela kesibukannya menggembalakan domba,
terbetiklah dihatinya untuk menyaksikan sebuah pesta jahiliyah yang penuh
dengan maksiat, dia titipkan dombanya kepada teman yang lain, maka diapun
berangkat menuju lokasi, sesampai disana, sebelum acara digelar, Allah
menidurkannya hingga pulas, sampai pagi hari baru terbangun sehingga dia tidak
tahu adegan apa yang tampil di gelanggang ketika itu, dua sampai tiga kali keinginannya
untuk menyaksikan pesta maksiat jahiliyah tapi tidak juga terlaksana karena
Allah menidurkannya. Sehingga beliau mengharamkan untuk menyaksikan acara
tersebut hingga akhir hayatnya, artinya seorang pemimpin harus bersih
pandangannya dari tayangan-tayangan maksiat, dengan bersihnya pandangan maka
hatipun akan bersih sehingga perjuangan yang akan dia gerakkan jauh dari
unsur-unsur yang rusak.
Dimasa awal kerasulan
beliau, Muhammad sering berada di gua Hira memikirkan kerusakan dan
kehancuran ummat ketika itu, dia ingin menemukan jalan yang pas untuk
memperbaiki sikap dan watak jahiliyah, akhirnya dalam waktu dua puluh tiga
tahun lebih kurang dia mampu mengembalikan ummat jahiliyah ke alam yang penuh
dengan nur islam. Sebagai pemimpin yang dia fikirkan ialah bagaimana rakyat
bisa baik akhlak dan kepribadiannya, jauh sekali Muhammad memikirkan
kepentingan keluarga dan pribadinya. Suatu ketika saat ummat Islam mampu
menaklukkan suatu negeri, banyak ghanimah [harta rampasan perang] yang
diperoleh, semua ghanimah itu selesai dia bagikan untuk kaum muslimin yang
memerlukan, sedangkan anaknya, Fatimah
ketika itu sangat membutuhkan seorang pembantu mengerjakan pekerjaan rumah,
dengan pinta yang penuh pilu Fatimah mengajukan permohonannya, tapi Rasulullah menjawab
bahwa semua telah dibagikan, tidak ada lagi untuk kita.
Ummat saat ini menantikan seorang kepala
daerah adalah orang yang berhati ikhlas dalam amalnya, dia berbuat hanya
dimotivasi mencari ridha Allah, walaupun akhirnya mendapat ridha dari yang lain.
Imam Al Gazali pernah berkata, ”Barangsiapa yang mencari akherat maka dia akan
mendapatkan dunia dan siapa saja yang mencari dunia semata maka dia tidak akan
mendapatkan akherat”, selama ini kita mungkin belum menemukan pemimpin yang
ikhlas dalam mengemban negeri ini terbukti seluruh amalnya bersifat show dan
bernada wah sementara esensialnya kosong, kita lihat lampu jalan yang kemilau,
telefon umum yang ada disetiap sudut, ini pembangunan fisik yang sangat
dibutuhkan, tapi kenyataannya semua itu hancur oleh anak negeri sendiri, karena
kepala daerah hanya sibuk pembangunan untuk keperluan fisik sementara
pembangunan mental diabaikan, realita bisa kita saksikan saat Reformasi digagas
oleh mahasiswa maka seluruh bangunan yang menghabiskan dana milyaran rupiah
hancur seketika oleh huru hara dan penjarahan.
Masjid
di zaman orde baru banyak yang dibangun melalui Yayasan Muslimin Pancasila,
akan tetapi masyarakat tidak memanfaatkannya, mana mungkin mereka akan
memakmurkan masjid bila hati dan nurani mereka tidak dibangun sebelumnya,
itulah sebabnya Rasulullah tidak buru-buru membangun masjid, tapi beliau
berjuang membangun masjid di hati ummatnya.
Jadi
janganlah kita mengutuk keberhasilan seorang kepala daerah dari bangunan fisik
saja, pembangunan mental juga perlu dipertanyakan, MTQ penting tapi pengamalan
dari MTQ itu lebih penting, masjid perlu tapi kemakmuran masjid itu sangat
perlu.
Kita
juga mendambakan seorang kepala daerah yang bisa diajak berdialog, berdiskusi,
dikritik dan ditegur, bukan kepala daerah yang serba benar, tidak mengenal
salah, mereka juga manusia sama dengan kita, khilaf, lupa dan lalai bisa
menyerang siapa saja termasuk kepala daerah. Umar bin Khattab suatu ketika
jalan-jalan di pasar, dalam pasar itu seorang ibu-ibu mengeritiknya tentang
dibatasinya jumlah mahar yang harus disediakan seorang calon suami, dengan
senang hati Umar mengaku kesalahannya dan mencabut pendapat pribadinya itu,
katanya, ”Ibu itu benar dan Umarlah yang salah”.
Terlalu banyak harapan rakyat, ummat terhadap bakal calon Gubernur, Bupati
dan Wali Kota, mereka membutuhkan seorang kepala daerah yang super, yang ideal,
hal ini wajar saja, agar kepala daerah tersebut adalah mereka yang terbaik dari
yang baik, bila tidak ada yang lebih baik, tak usahlah kepala daerah itu
diganti, idealnya memang demikian, untuk itu perlu usaha kita semua untuk
menjaring, menyaring dan memilih bakal calon hingga menjadi calon dambaan ummat
Jabatan apapun yang diemban oleh seorang hamba
Allah, disana ada peluang untuk berbuat dosa; manipulasi, korupsi, kolusi
bahkan tukang robek karcis di bioskoppun ada peluang untuk itu, apalagi Wali
Nagari, Camat, Bupati, Gubernur, Anggota Dewan, Menteri sampai Presiden, ini
berpulang kepada pribadi manusianya. Siapa yang tidak suka harta, semua orang suka
bahkan Islam menyuruh kita mencarinya, tapi raihlah dengan cara yang halal.
Kami sebagai rakyat kecil, orang awam di
negeri ini mengharapkan kepada semua pihak, siapapun calonnya, dari golongan
manapun, bagi kami tidak jadi soal, tapi satu permintaan kami kepada kepala
daerah yang terpilih adalah orang yang memiliki citra diri yang baik, nah
kesempatan bagi anda yang memiliki krieria tersebut, pasti kami bantu dan insya
Allah anda akan dipilih oleh rakyat pada Pilkada mendatang.
Bagi aparatur Pemerintah Daerah baik di
Nagari/Desa maupun di Kecamatan untuk
tidak terlibat di Partai manapun kalau ingin tidak bermasalah dikemudian hari,
netralitas PNS dan TNI Polri harus tetap terjaga hendaknya agar pesta demokrasi
ini berjalan dengan aman dan damai. Semua partai dan Paslon punya hak yang sama untuk
diperlakukan secara adil di nagari/desa
dan Kecamatan,….. kisruh atau rusuh
dalam Pemilu dan Pilkada biasanya terjadi ketika ketidakadilan mengangkangi demokrasi, anarkhis terjadi
diawali ketika diskriminasi terhadap satu paslon dan partai dipertontonkan. Kita
tidak ingin hal itu terjadi dikemudian hari, sehingga kami menghimbau kepada
saudara Gubernur/Bupati/wali kota untuk tetap memposisikan PNS sebagai warga
negara yang menjunjung tinggi demokrasi melalui sikap netralnya, wallahu a'lam
[ Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar