Jumat, 11 Desember 2015

48. Pilkada



Berobat ke dokter karena dihinggapi suatu penyakit, bahkan walaupun hanya sakit flu dan pilek, apalagi batuk, maka kita akan disuguhkan obat manjur oleh dokter yang terdiri dari "PIL". Obat ini juga dapat digunakan untuk menyembuhkan luka yang sudah infeksi sehingga merah dan bernanah, pinggirannya mengeras karena kering sedangkan bagian tengahnya berair, terasa sakit dan pedih apalagi tersenggol, luka yang begini disebut dengan "KADA".

Yang kita maksud dengan Pilkada, bukanlah obat untuk menyembuhkan koreng itu, tapi sebuah kegiatan menentukan pemimpin masa depan, Pilkada singkatan dari "Pemilihan Kepala Daerah". Tahun 2000 saya pernah mengikuti ajang ini sebagai calon Wakil Wali Kota Solok dari Partai Keadilan danPPP yang berpasangan dengan Drs. Syukriadi Syukur, namun nasib belum seberuntung orang lain sehingga pengalaman inipun kadangkala bangkit lagi untuk maju sebagai orang nomor satu atau nomor dua di sebuah Kabupaten atau Kota melalui Pilkada yang akan datang.   

Mau tidak mau semua jabatan yang kita emban hari ini pasti akan berakhir, baik sebagai anggota dewan ataupun sebagai kepala daerah, ada sebuah ilustrasi sebagai bahan berkaca diri bagi kita semua dan dalam rangka menjaring bakal calon Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/ Wakil Bupati dan Wali Kota/Wakil Wali Kota untuk lima tahun mendatang.

Dengan akan berakhirnya jabatan kepala daerah, baik Gubernur, Bupati/ Wali kota berarti rakyat siap menyeleksi figur yang tepat untuk itu, bakal calon hingga menjadi calon bukanlah sembarang orang, jangan sampai kita membeli kucing dalam karung, artinya harus orang yang mempunyai kapasitas untuk itu serta orang yang layak jual dalam bursa pencalonan.

            Salah satu kriteria bakal calon kepala daerah adalah sehat jasmani dan rohani, artinya secara fisik dia tidak terganggu kesehatannya dalam rangka menjalankan tugas amanat yang dibebankan kepundaknya.

            Bila kita membicarakan dari kesehatan fisik terlalu banyak orang yang mampu untuk itu, karena penampilan fisik jasmani adalah penampilan lahiriah; gagah, sehat, subur, tidak terserang penyakit menahun dan tidak terganggu akalnya yang disertai keterangan dokter.

            Akan tetapi kesehatan rohani sangat sulit untuk dideteksi namun nampak dalam aplikasi di lapangan. Orang yang sehat rohani insya Allah akan sehat jasmaninya, tapi yang sehat jasmani belum tentu sehat rohaninya; pencoleng, koruptor, pencopet serta bentuk kejahatan lainnya, umumnya dilakukan oleh mereka-mereka yang memiliki kesehatan jasmani.

            Seorang mukminpun dituntut untuk menjaga kesehatan jasmani sebab bila sakit datang berarti banyak tugas-tugas agama yang terbengkalai, bahkan lebih jelas Rasulullah mengatakan, ”Jaga sehatmu sebelum datang masa sakitmu”, orang yang merasakan kalau sehat itu sebuah nikmat bilamana sakit datang menimpanya, jangankan sakit yang datang, sedangkan dalam masa sehat saja terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dari waktu yang tersedia, benar yang diserukan seorang ulama Mesir yang bernama Hasan Al Banna agar setiap pribadi muslim apalagi da’i, agar mengecek kesehatannya paling tidak sekali dalam tiga bulan.

            Pada diri manusia itu ada tiga unsur yang penting untuk diselamatkan; diberi makanan, dijaga kesehatannya jangan sampai cidera. Unsur pertama adalah akal; agar diberi konsumsi ilmu pengetahuan sehingga keberadaannya di tengah masyarakat dapat dimanfaatkan dari segi ilmu, Rasulullah bersabda bahwa orang yang paling baik adalah mereka yang berdayaguna di tengah masyarakat. Unsur kedua adalah jasmani, yang harus dijaga jangan sampai terabaikan, itulah makanya Islam melarang ummatnya untuk minum khamar, narkoba dan barang-barang yang dapat merusak jasmani manusia.

            Rohani adalah unsur yang penting untuk dipelihara disamping yang dua diatas, salah satu tidak terjaga maka kehidupan manusia tidak tawazun [seimbang]. Rohani tidak terlepas dari iman dan taqwa yang diiringi dengan amal shaleh, bila rohani tidak terpelihara dengan baik maka kehancuran akan menimpa diri pribadi, masyarakat dan bangsa, inilah yang disebut dengan sikap mental/ moral.

            Seorang Profesor di Amsterdam yang bernama Fahrenfest diketahui melakukan bunuh diri setelah membunuh anakna sendiri, padahal apa yang kurang dari profesor ini; hartanya banyak, dia guru besar pada sebuah Universitas, jabatannya tinggi, pergaulannya luas, orang terpandang, kesehatan fisiknya lumayan. Rupanya sebelum membunuh diri, dia telah menulis surat kepada temannya Profesor Konstant yang isinya, ”Iman itu perlu, agama penting, ibadah sangat penting, tapi hati saya tidak bisa menerima iman”.

            Salah satu sikap mental bagi seorang calon kepala daerah yang harus dimiliki menurut versi Islam adalah mereka yang meraih jabatan tersebut tidak dengan ambisius, artinya dia calonkan dirinya dengan kapasitas dan kelayakannya, dia ingin jabatan tersebut diperoleh dengan cara benar, tidak melalui bau kemenyan atau perdukunan, tidak melalui menjegal teman, main sikut dan sikat, bila kekalahan atau belum saatnya dapat diraih dia tidak akan merasa kecewa  dan sebaliknya bila jabatan itu diberikan kepadanya dia tidak terlalu gembira dengan pesta ria dan hura-hura, karena jabatan itu baginya bukanlah prestise atau kebanggaan, dan bukan pula hadiah, tapi jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan di akherat.

            Kepala daerah yang sehat rohaninya adalah mereka yang menggunakan fasilitas dan jabatan sebagai sarana untuk memperbaiki ummat, kesempatan baginya untuk memupuk pahala di sisi Allah melalui kekuasaan sebagaimana Rasul menyerukan, ”Bila kamu menyaksikan kemungkaran maka ubahlah dengan kekuasaan, bila tidak mampu ubahlah dengan lisan, tidak mampu juga maka ubahlah dengan hati, namun itu semua serendah-rendahnya iman”. Rasulullah, melalui jabatan yang dia emban, baik sebagai Nabi dan Kepala Daerah di Madinah bahkan sebagai seorang Presiden mampu menata kehidupan rakyatnya sebaik-baiknya sesuai dengan kehendak Allah, bahkan Abu Bakar Ash Shiddiq memerangi siapa saja dari kaum muslimin yang mampu tapi tidak mau membayar zakat, sehingga ketika Umar berkata kepadanya, ”Ya Khalifah Abu Bakar, tidak usahlah mereka diperangi, nantikan mereka akan sadar juga...” ketika itu Abu Bakar marah mendengar permintaan sahabatnya, ”Hai Umar, kenapa engkau demikian lemahnya padahal engkau adalah orang yang kuat, seandainya engkau tidak mau ikut aku, biarlah aku sendiri yang memerangi mereka...”

Di sebuah tempat segerombolan ummat Islam sedang menyeleksi figur pimpinan mendatang, dari kaum Anshor mereka mencalonkan bakal calon dari kelompoknya demikian pula kaum Muhajirin telah pula punya jago yang diadu dengan lawan lainnya. Pencalonan itu akhirnya mentah kembali ketika Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khattab datang kemudian, kontan saja mereka berdua didaulat oleh hadirin untuk menduduki jabatan Khalifah pengganti Rasulullah.

            Dua orang kandidat ini punya kelebihan yang luar biasa dibandingkan dengan yang lain, Abu Bakar adalah orang yang paling berjasa membela Rasul untuk kepentingan Islam, dialah yang menemani  Rasul ketika Hijrah serta membantu seluruh kepentingan da’wah tak terkecuali dengan Umar, orang yang tegas terhadap kezhaliman, siap mempertaruhkan hidup dan matinya demi tegaknya Kalimatullah.

            Abu Bakar memegang tangan Umar, lalu dia angkat tinggi-tinggi dan berseru, ”’Inilah pemimpin kita sekarang yang akan membawa ummat ini kepada kesejahteraan, sebagai pengganti Rasul dalam segala urusan ummatnya”, belum lagi tangan itu naik dengan ketinggian yang dimaksud oleh Abu Bakar, lansung Umar menarik tangannya dan berkata,”Selama masih ada Abu Bakar, maka aku tidak pantas menggantikan Rasulullah meraih posisi ini, dengan nama Allah, Abu Bakarlah khalifah kita...” kata Umar bin Khatab kepada hadirin, semuanya menyadari memang Abu Bakar yang lebih baik pada masa ini menggantikan jabatan pemimpin ummat, kehadirannyapun diterima oleh semua pihak, Umar dan Abu Bakarpun sebenarnya tidaklah ambisius untuk jabatan itu, karena jabatan bukanlah hadiah atau prestise tapi adalah sebuah beban dan amanat yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

            Kita menginginkan tampilnya kepala daerah yang dapat menyelesaikan problem ummat bukan menambah runyamnya negeri ini, diapun bukan orang yang ambisius untuk sebuah jabatan dengan menghalalkan segala cara, bila datang kepadanya jabatan itu ditunaikan dengan baik, kehadirannyapun diterima seluruh kalangan karena perjuangannya bukan satu fraksi, satu golongan dan segelintir orang, tapi untuk semuanya, untuk seluruh anak negeri ini agar terlepas dari kesengsaraan.

            Abu Bakar Ash Shiddiq menempatkan jabatannya dengan penuh hati-hati, meletakkan pegawainya sesuai dengan keahlian masing-masing tanpa melihat asal keturunan, artinya dia tidak menghidup suburkan budaya KKN, karena ini akan menghancurkan tatanan kepemimpinan dalam masyarakat yang punya budaya dan moral Islami kemudian disokong oleh adat istiadat yang baik.

            Ketika akhir jabatan Umar bin Khattab akan selesai, lalu sebuah tim formatur sedang mencari kandidat, salah seorang dari kandidat yang diagungkan adalah Abdullah bin Umar, mendengar hal itu lansung Umar protes, ”Janganlah kalian berikan jabatan itu kepada keluargaku walaupun dia mampu, cukuplah kepada saya saja, terlalu besar tanggungjawab saya nanti di hadapan Allah, saya tidak sanggup”.

            Abdullah bin Umar pantas menempati posisi itu karena kualitasnya, dia diterima oleh segala kalangan dan golongan, tapi karena jabatan itu menggantikan jabatan ayahnya, Umar dan Abdullahpun tidak mau menerimanya, akan timbul nanti suatu tuntutan masyarakat  kalau posisi yang diraih hasil kolusi dan nepotisme.
           
            Selama hampir enampuluh tahun negara kita hancur karena ulah permainan KKN sehingga jabatan itu tidak dijabat oleh mereka yang ahlinya, sebenarnya Rasulullah pernah memberikan sinyal kepada kita, ”Bila pekerjaan tidak dijabat oleh ahlinya tunggu saja kehancurannya”.


            Kita mendambakan kepala daerah yang shaleh dalam kehidupannya. Yang dikatakan shaleh bukanlah mereka yang hanya bisa shalat, setiap yang shaleh pasti shalat, tapi yang shalat belum tentu shaleh. Adapun kriteria shaleh menurut para ulama adalah;
  1. Salamatul Fikrah; yaitu fikiran-fikiran yang selamat dari kontaminasi orientalis, liberal dan sekuler atau idiologi lain yang memusuhi Islam, ide-ide yang keluar dari otaknya adalah ide cemerlang yang berguna bagi kehidupan dan kemaslahatan ummat dan rakyat yang mengacu kepada standard abadi yaitu Al Qur’an dan Sunnah.
     
  1. Shahihul Ibadah;  artinya ibadah yang shaheh, bertumpu kepada ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah, terjauh dari bid’ah, khurafat, syirik dan tahayul, penampilannya sebagai ’abid  [ahli ibadah] beranjak dari ittiba’ [mengikut sistim Rasul] bukan taqlid [ikut pendapat orang dengan cara membebek].

  1. Shahibul Ibadah; artinya kepala daerah yang kita harapkan adalah orang yang selalu mengisi kesibukan dirinya dengan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah, bahkan keberhasilannya sebagai kepala daerah didukung oleh kedekatannya beribadah kepada Allah bukan kepala daerah yang hanyut dengan kesibukan dunia tanpa disadarinya melupakan akherat.
           
  1. Salimul  Aqidah; artinya aqidah yang hanya mentauhidkan Allah semata; jabatan, harta, keluarga baginya kecil dibandingkan kepentingan Allah, sebagaimana ucapan Abu Bakar, ”Ya Allah, letakkanlah dunia ini di tanganku sehingga aku bisa mendistribusikannya, jangan engkua letakkan di hatiku sehingga aku diaturnya”.

  1. Mathinul Khaliq ; artinya seorang kepala negara, kepala daerah yang kita harapkan adalah mereka yang memiliki akhlak yang solid, dia terpandang bukan karena jabatannya tapi karena akhlaknya, melalui akhlak dia mampu memikat orang lain sehingga mendukung segala program yang dicanangkan.

            Itulah kriteria shaleh menurut ukuran Al Qur’an dan Sunnah Rasul sehingga bila kita memiliki pemimpin yang demikian sungguh besar harapan kita kepadanya untuk menyelamatkan  rakyat dan ummat ini dari kehancuran, jangan sampai nanti rakyat/ ummat menuntutnya di dunia sementara mereka berlepas diri atas orang yang dipimpinnya di akherat, sebagaimana penjelasan Allah dalam ayat dibawah ini ” Dan ingatlah ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri,”Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebagian azab neraka ? ”. Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, ”Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hambamu” [40;47-48].

Nabi Muhammad bagi seorang muslim merupakan uswah yaitu sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai qudwah yaitu pimpinan dalam menuju kehidupan yang hasanah di dunia dan hasanah di akherat. Tidak ada pribadi yang lebih agung selain beliau dan memang dialah orang pilihan Allah sebagai pimpinan ummat ini hingga akhir zaman sebagaimana firman Allah dalam surat Saba’ ayat 28, “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada ummat manusia seluruhnya sebagai kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan…”.

            Sebelum beliau hadir di tengah ummat yang dipimpinnya, dahulu ketika masih muda remaja, Muhammad diamanatkan untuk menggembalakan beberapa ekor domba, dari usahanya itu dia memperoleh upah untuk memenuhi kehidupan sehari-hari walaupun dia tinggal bersama pamannya Abu Thalib, ini suatu gambaran walaupun Muhammad hidup bersama dengan pamannya, tapi dia tidak sekedar numpang disana, ada usaha yang dia lakukan, ada cucuran keringatnya untuk dinikmati, artinya seorang pemimpin tidak diharapkan menadahkan tangan mengharapkan sesuatu dari orang lain.

            Disela-sela kesibukannya menggembalakan domba, terbetiklah dihatinya untuk menyaksikan sebuah pesta jahiliyah yang penuh dengan maksiat, dia titipkan dombanya kepada teman yang lain, maka diapun berangkat menuju lokasi, sesampai disana, sebelum acara digelar, Allah menidurkannya hingga pulas, sampai pagi hari baru terbangun sehingga dia tidak tahu adegan apa yang tampil di gelanggang ketika itu, dua sampai tiga kali keinginannya untuk menyaksikan pesta maksiat jahiliyah tapi tidak juga terlaksana karena Allah menidurkannya. Sehingga beliau mengharamkan untuk menyaksikan acara tersebut hingga akhir hayatnya, artinya seorang pemimpin harus bersih pandangannya dari tayangan-tayangan maksiat, dengan bersihnya pandangan maka hatipun akan bersih sehingga perjuangan yang akan dia gerakkan jauh dari unsur-unsur yang rusak.

            Dimasa awal kerasulan  beliau, Muhammad sering berada di gua Hira memikirkan kerusakan dan kehancuran ummat ketika itu, dia ingin menemukan jalan yang pas untuk memperbaiki sikap dan watak jahiliyah, akhirnya dalam waktu dua puluh tiga tahun lebih kurang dia mampu mengembalikan ummat jahiliyah ke alam yang penuh dengan nur islam. Sebagai pemimpin yang dia fikirkan ialah bagaimana rakyat bisa baik akhlak dan kepribadiannya, jauh sekali Muhammad memikirkan kepentingan keluarga dan pribadinya. Suatu ketika saat ummat Islam mampu menaklukkan suatu negeri, banyak ghanimah [harta rampasan perang] yang diperoleh, semua ghanimah itu selesai dia bagikan untuk kaum muslimin yang memerlukan, sedangkan anaknya,  Fatimah ketika itu sangat membutuhkan seorang pembantu mengerjakan pekerjaan rumah, dengan pinta yang penuh pilu Fatimah mengajukan permohonannya, tapi Rasulullah menjawab bahwa semua telah dibagikan, tidak ada lagi untuk kita.

Ummat saat ini menantikan seorang kepala daerah adalah orang yang berhati ikhlas dalam amalnya, dia berbuat hanya dimotivasi mencari ridha Allah, walaupun akhirnya mendapat ridha dari yang lain. Imam Al Gazali pernah berkata, ”Barangsiapa yang mencari akherat maka dia akan mendapatkan dunia dan siapa saja yang mencari dunia semata maka dia tidak akan mendapatkan akherat”, selama ini kita mungkin belum menemukan pemimpin yang ikhlas dalam mengemban negeri ini terbukti seluruh amalnya bersifat show dan bernada wah sementara esensialnya kosong, kita lihat lampu jalan yang kemilau, telefon umum yang ada disetiap sudut, ini pembangunan fisik yang sangat dibutuhkan, tapi kenyataannya semua itu hancur oleh anak negeri sendiri, karena kepala daerah hanya sibuk pembangunan untuk keperluan fisik sementara pembangunan mental diabaikan, realita bisa kita saksikan saat Reformasi digagas oleh mahasiswa maka seluruh bangunan yang menghabiskan dana milyaran rupiah hancur seketika oleh huru hara dan penjarahan.

            Masjid di zaman orde baru banyak yang dibangun melalui Yayasan Muslimin Pancasila, akan tetapi masyarakat tidak memanfaatkannya, mana mungkin mereka akan memakmurkan masjid bila hati dan nurani mereka tidak dibangun sebelumnya, itulah sebabnya Rasulullah tidak buru-buru membangun masjid, tapi beliau berjuang membangun masjid di hati ummatnya.

            Jadi janganlah kita mengutuk keberhasilan seorang kepala daerah dari bangunan fisik saja, pembangunan mental juga perlu dipertanyakan, MTQ penting tapi pengamalan dari MTQ itu lebih penting, masjid perlu tapi kemakmuran masjid itu sangat perlu.

            Kita juga mendambakan seorang kepala daerah yang bisa diajak berdialog, berdiskusi, dikritik dan ditegur, bukan kepala daerah yang serba benar, tidak mengenal salah, mereka juga manusia sama dengan kita, khilaf, lupa dan lalai bisa menyerang siapa saja termasuk kepala daerah. Umar bin Khattab suatu ketika jalan-jalan di pasar, dalam pasar itu seorang ibu-ibu mengeritiknya tentang dibatasinya jumlah mahar yang harus disediakan seorang calon suami, dengan senang hati Umar mengaku kesalahannya dan mencabut pendapat pribadinya itu, katanya, ”Ibu itu benar dan Umarlah yang salah”.

Terlalu banyak harapan rakyat, ummat terhadap bakal calon Gubernur, Bupati dan Wali Kota, mereka membutuhkan seorang kepala daerah yang super, yang ideal, hal ini wajar saja, agar kepala daerah tersebut adalah mereka yang terbaik dari yang baik, bila tidak ada yang lebih baik, tak usahlah kepala daerah itu diganti, idealnya memang demikian, untuk itu perlu usaha kita semua untuk menjaring, menyaring dan memilih bakal calon hingga menjadi calon dambaan ummat

Jabatan apapun yang diemban oleh seorang hamba Allah, disana ada peluang untuk berbuat dosa; manipulasi, korupsi, kolusi bahkan tukang robek karcis di bioskoppun ada peluang untuk itu, apalagi Wali Nagari, Camat, Bupati, Gubernur, Anggota Dewan, Menteri sampai Presiden, ini berpulang kepada pribadi manusianya. Siapa yang tidak suka harta, semua orang suka bahkan Islam menyuruh kita mencarinya, tapi raihlah dengan cara yang halal.

Kami sebagai rakyat kecil, orang awam di negeri ini mengharapkan kepada semua pihak, siapapun calonnya, dari golongan manapun, bagi kami tidak jadi soal, tapi satu permintaan kami kepada kepala daerah yang terpilih adalah orang yang memiliki citra diri yang baik, nah kesempatan bagi anda yang memiliki krieria tersebut, pasti kami bantu dan insya Allah anda akan dipilih oleh rakyat pada Pilkada mendatang.
           
Bagi aparatur Pemerintah Daerah baik di Nagari/Desa  maupun di Kecamatan untuk tidak terlibat di Partai manapun kalau ingin tidak bermasalah dikemudian hari, netralitas PNS dan TNI Polri harus tetap terjaga hendaknya agar pesta demokrasi ini berjalan dengan aman dan damai. Semua partai  dan Paslon punya hak yang sama untuk diperlakukan secara adil  di nagari/desa dan Kecamatan,….. kisruh atau  rusuh dalam Pemilu dan Pilkada biasanya terjadi ketika ketidakadilan  mengangkangi demokrasi, anarkhis terjadi diawali ketika diskriminasi terhadap satu paslon dan partai dipertontonkan. Kita tidak ingin hal itu terjadi dikemudian hari, sehingga kami menghimbau kepada saudara Gubernur/Bupati/wali kota untuk tetap memposisikan PNS sebagai warga negara yang menjunjung tinggi demokrasi melalui sikap netralnya, wallahu a'lam [ Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar