Selama ini
sebagian besar orang mengartikan politik itu kotor, menghalalkan segala cara,
bersifat machiavelis dan dimotori oleh orang-orang culas lagi munafiq, padahal
politik itu tergantung manusia yang berkecimpung di dalamnya. Untuk masa-masa
sekarang ini makna politik itu masih seperti yang lama karena banyak dari
politisi yang bersifat machiavelis, nifak, culas dan curang, apalagi hal itu
dipertontonkan lansung oleh politisi di
Negara kita ini.
Rakyat kecil tak lelahnya menimang mimpi: kapan bisa memiliki
penguasa yang betul-betul abdi dan pelayan rakyat? Tentu impian ini benar 1000
persen. Betapa teori basi demokrasi selalu dicekokkan sejak di bangku
sekolah bahwa rakyatlah yang berdaulat dan berkuasa atas dirinya. Konsep
demokrasi mengidealkan para politikus, lembaga tinggi ne-gara, penguasa dan
seluruh struktur di bawahnya adalah instrumen pokok untuk menerjemahkan
ke-daulatan rakyat. Namun apa kenya-tannya? Demokrasi menunjukkan ilusi dan
kebobrokannya.Hari ini yang tumbuh tidak lebih dari “demo-krasi omong kosong”.
Rakyat di kubangan masalah sebagai korban, sementara para penguasa dan
politi-kusnya di meja kekuasaan mentran-saksikan kepentingan-kepentingan
pribadi dan cari untung atas nama rakyat.
Kini, kalau ada rakyat kecil yang bertanya, atas mandat siapa
koalisi bersama dilakukan?Kepen-tingan siapa, rakyatkah?Tentu sulit menemukan
hubungannya dengan nalar demokrasi sekalipun.Rasanya rakyat sudah makin
dewasa.Saking dewasanya kadang responnya keta-wa terbahak-bahak karena melihat
para politikus dan penguasanya terlalu menggelikan dalam menge-lola berbagai
masalah politik ke-bangsaan.Padahal kalau jujur, sebenarnya ketawanya untuk
menu-tupi keprihatinan yang luar biasa.Rakyat tidak mau beban hidup yang sudah
berat makin berat dengan ikut larut prihatin dengan gojekan-gojekan konyol itu.
Coba kita catat beberapa hal saja, ketika Obama hendak datang ke
Indonesia dan menimbulkan penolakan banyak pihak, pemerin-tah cepat-cepat
memberikan argu-mentasi bahwa Obama beda de-ngan Bush presiden sebelumnya. Lho
kalau beda kenapa di masa pemerintahan yang sama (SBY) Bush juga diterima
bahkan sampai perlu merusak beberapa habitat tanaman di Kebun Raya Bogor?
Kasus perdagangan bebas, rakyat bisa terjun bebas tanpa mampu
bersaing.Perjanjian ACFTA antara Cina-Indonesia implemen-tasinya dimulai tahun
2010.Dalam beberapa tahun seharusnya pe-nguasa menyiapkan regulasi dan seluruh
instrumen struktur dan in-frastrukstur yang mampu menjadi-kan industri nasional
sanggup bersaing. Tidak kemudian menung-gu protes baru kemudian renegosi-asi,
seolah baru siuman dan sadar betapa ACFTA akan mengguncang sektor industri
nasional baik dalam skala besar maupun kecil (home industri). Rakyat dibiarkan
seperti gerombolan “bonek” disuruh mela-wan negara maju dengan berbagai
perangkat regulasi dan kemampuan teknologinya.Lagi-lagi, rakyat ber-tanya
mengabdi kepada siapakah sebenarnya penguasa negeri ini?
Skandal korupsi yang melibat-kan seluruh aparat penegak hukum,
makin menjadikan wajah negeri ini makin bopeng.Bahkan skandal besar perampokan
uang rakyat “Century Gate” jelas-jelas melibat-kan tangan-tangan orang para
penguasa.Lagi-lagi kita dibuat geli, betapa skandal-demi skandal tidak jelas
juntrungnya.BLBI, Century Gate juga menguap tanpa arah apalagi setelah ada
sekber koalisi yang sepakat menyokong dan mengamankan kekuasaan hingga 2014.
Ini menjadi pertanda zaman, bahwa skandal Century akan diku-bur sementara
hingga usia kekua-saan berakhir di tahun 2014. Entah apakah nanti kemudian akan
digali dari kuburnya oleh para penguasa atau generasi-generasi berikutnya
karena keputusan politik DPR itu mengikat hingga 25 tahun men-datang. Dari sini
bisa dimengerti, orang-orang yang diduga terlibat dalam skandal ini harus ada
jalan keluar yang dianggap 'elegan” oleh penguasa karena “nggak enak ati”
kepada orang-orang yang berjasa kepadanya.Maka hengkangnya Menkeu Sri Mulyani
ke Bank Dunia adalah jalan keluar baginya agar tetap terhormat dan semua bisa
selamat.Ia dipuji sebagai orang hebat. Rakyat bingung, lho kalau hebat juga
kenapa harus dilepas dan bangga bekerja dengan pihak asing? Inilah politik,
komunikasi menjadi kunci untuk membenarkan apa saja dari sebuah skenario dari
yang baik sampai yang busuk.
Belum lagi “si pembuka kotak pandora” Susno Duadji, yang berani
membongkar borok institusi pene-gak hukum. Anehnya malah dia yang masuk bui. Di
luar itu, dengan bendera perang melawan teroris, sudah berapa banyak orang
Muslim mati dengan cara “extra judicial killing” (pembunuhan di luar hu-kum)?
Andai saja TNI yang mela-kukan, tentu AS dan sekutunya akan teriak, “Itu
melanggar HAM”. Tapi rakyat mulai mengerti bahwa proyek kontra terorisme via
Densus 88 itu juga atas jaminan AS.
Inilah babak demi babak keru-sakan yang terkuak.Hulunya karena
sistem demokrasi yang meniscaya-kan seperti itu. Keculasan dan manipulasi
kekuasaan atas nama rakyat tapi sebenarnya untuk kepen-tingan segelintir orang
dan kelom-pok yang berkuasa.
Rakyat sangat butuh rezim dan sistem yang baru.Berdasarkan survei
SEM Institute April 2010, ada tren rakyat Indonesia yang mayori-tas Muslim
merindukan Islam seba-gai sistem yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan
ber-negara. Dan ini yang harus terus dikumandangkan.[Harits Abu Ulya,Politik Kepentingan Para Penguasa, Media
ummat.com. Tuesday, 03 August 2010 15:54].
Kekuatan untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan hati nurani,
pemimpin yang amanah, jujur lagi bersih ada di tangan rakyat yang merupakan
kewajiban setiap orang, hadirnya pemimpin di panggung kekuasaan merupakan
cerminan dari mayoritas rakyatnya, satu ketika Ali bin Abi Thalib diprotes oleh
Tartar An Nahar, katanya, ketika Umar bin Khattab jadi Khalifah di negeri ini,
aman dan sejahtera rakyatnya, tapi sekarang anda yang memimpin kekacauan ada
dimana-mana, mendengar itu Ali menjawab, sewaktu Umar berkuasa, karena sebagian
besar rakyatnya seperti saya, tapi sekarang saya yang berkuasa, rakyat saya
sebagian besar seperti anda.
Manusia tak akan pernah bisa
lepas dari ‘tahta, harta, dan wanita’. Tiga ‘t’ ini terus menggelayuti
kehidupan manusia. Inti nafsu manusia kepada dunia, adalah nafsu yang hidupnya
hanya diorientasikan semata kepada tiga ‘t’ itu. Ujian iman bagi orang-orang
mukmin, berupa tiga ‘t’, yang banyak menyebabkan luruhnya iman dan aqidahnya.
Tak banyak orang-orang mukmin, ketika diberi nikmat berupa tiga ‘t’ itu dapat
selamat.
Kebanyakan mereka tersungkur,
dan akhirnya menjadikan tiga ‘t’ itu sesembahan mereka. Tiga ‘t’ mengalahkan
ketundukan, kethaatan, dan ubudiyahnya kepada Allah Azza Wa Jalla.
Setan akan terus menggerogoti
iman dan aqidah orang-orang mukmin dengan tiga ‘t’ itu. Janji atau sumpah iblis
(setan) kepada Allah Azza Wa Jalla, tak lain, mereka akan menggoda anak Adam,
sampai hari kiamat melalui pintu tiga ‘t’ itu. Karena, memang manusia termasuk
orang-orang mukmin secara instinktif (naluri) menyukai adanya tiga ‘t’.
Orang-orang kafir Yahudi,
mereka mula-mula beriman, dan menjadi ingkar dan mendurhakai Allah Rabbul
Alamin, karena mereka lebih mengutamakan tiga ‘t’ itu. Tiga itu menjadi senjata
yang paling utama, bagi orang-orang kafir semacam bangsa Yahudi untuk
menghancurkan kaum mukminin.
Gambaran yang sangat absurd di
dalam sejarah, adalah ketika bangsa Yahudi,yang diselamatkan oleh Nabi Musa
Alaihi Sallam, dan berhasil menyeberangi laut Merah, dan sampai di Palestina,
ketika mereka sudah selamat di negeri yang diberkahi itu, kembali mereka
menjadi kafir dengan menyembah anak sapi emas, yang dibuat oleh Samiri.
Orang-orang kafir, diantaranya
hidupnya hanyalah untuk ‘bersenang-senang’ dan ‘makan’.(QS: 2 ayat 30). Seperti
binatang ternak.Makan dan sek. Dari sini pula lahirnya, apa yang disebut paham
materialisme, yang sangat memuja benda dan kenikmatan duniawi.
Seperti digambarkan oleh Allah
Ta’ala, manusia itu memang menyukai wanita, harta benda, anak-anak, kebun, dan
jenisnya lainnya. (QS: 3 ayat 14). Sehingga, karena orientasi manusia pada tiga
‘t’ itu, manusia menjadi lupa akan asal-usulnya. Manusia menjadi lupa akan
hakekat dirinya. Manusia menjadi sombong, dan jauh dari rasa syukur.Melupakan
asal kejadian dirinya, dan kemudian menjadi ingkar dan kafir.Karena sudah
terjerumus ke dalam kehidupan yang lebih mencintai kenikmatan dunia semata.
Padahal, mereka akan dikembalikan kepada Penciptapanya, kelak sesuda hari
Kiamat.
Tetapi, diantara tiga ‘t’ itu,
yang sangat menjadi keinginan manusia, ialah untuk mendapatkan kekuasaan.
Kekuasaan bagi manusia yang sudah tersusupi pemikirannya oleh pengaruh iblis
dan setan, berusaha dengan segala cara mendapatkannya. Nafsu mendapatkan
kekuasaan itu, mendorong jiwa manusia menjadi sangat keras, dan tidak lagi
memperhatikan norma agama.
Dengan kekuasasan manusia
memiliki kewenangan.Kewenangan yang dimilikinya dapat digunakan untuk
mendapatkan kenikmatan yang lainnya, berupa harta dan wanita.Para penguasa dan
pemimpin yang memiliki kekuasaan, menjadi lupa, dan hanya nafsunya yang
dominan. Karena, orang yang berkuasa seperti meminum air laut, tak akan pernah
puas. Semakin banyak mereguk air laut, terasa semakin dahaga.
Maka, orang yang sudah
berkuasa tidak pernah merasa puas.Selalu terus berusaha untuk mendapatkan
kekuasaan.Selama-lamanya. Tak ada penguasa yang sudah memegang kekuasaan akan
dengna suka rela melepaskan jabatan kekuasaannya. Orang-orang yang sudah
berkuasa dan memegang kekuasaan sangat takut kehilangan kekuasaan. Maka orang
yang berkuasa itu, akan berusaha mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara.[Mashadi, Mengapa Engkau Mengejar
Kekuasaan?Eramuslim,,Jumat, 25/06/2010 14:52 WIB ].
Di alam
demokrasi, seperti di negeri ini, di mana kedaulatan dalam memilih pemimpin dan
wakil rakyat di lembaga-lembaga perwakilan, baik pada tingkat nasional maupun
lokal, berada di tangan setiap individu, kita selaku umat berkewajiban memilih
calon wakil dan kandidat pemimpin yang shalih, bersih KKN, memiliki integritas
agama, keilmuan dan moralitas yang baik, sesuai dengan petunjuk Alqur’an. Kita
wajib memberikan dukungan kepada calon pemimpin yang shaleh yang memiliki visi
dan misi dakwah rahmatan lil-‘alamin, agar ia mendapatkan kekuatan secara
konstitusional sebagai pemimpin negeri ini. Jika tidak, maka kita bakal
diperintah oleh sekelompok orang yang tak segan-segan menyengsarakan umat dan
bangsa ini ke depan.[Tim dakwatuna.com, Khutbah Jum'at, Rambu Memilih Pejabat ,17/6/2009 | 23 Jumadil Akhir 1430
H]
Berpolitik yang tidak
meneladani figure mulia Muhammad maka dia akan melakukan politik kotor, tanda
kendali, hanya mengejar kekuasaan dan harta semata, seorang mukmin harus
meneladani kehidupan rasulnya pada seluruh asfek kehidupan apalagi seorang
politisi.
Siapa yang tidak kenal
Muhammad SAW, selain beliau sebagai nabi, ia juga kerap disandarkan julukan
pemimpin politik (kepala negara). Berbeda dalam posisi beliau sebagai rasul
Allah yang terbebas dari kesalahan (ma'shum),
sebagai kepala negara beliau bukanlah suprahuman
(manusia super) yang tidak memerlukan orang lain. Sahabat menjadi forum
musyawarah untuk menentukan keputusan-keputusan politik penting dan strategis
negara ketika itu, mulai dari persoalan pajak sampai dengan hubungan
antar-Muslim dan non-Muslaim.
Negara adalah bagian dari
urusan dunia yang dalam batas tertentu orang lain lebih tahu dari dirinya.
Dengan rendah hati beliau pun mengatakan, "kamu lebih tahu dengan urusan
duniamu."Bahkan, pernyataan ini beliau lontarkan di hadapan seorang petani
yang ternyata lebih paham tentang persoalan pertanian.
Dalam kenyataannya, jabatan
politik yang beliau pegang menjadi sarana strategis bagi upaya implementasi
ajaran Islam dan pengembangannya.Sebab, dengan politik inilah beliau bisa
mengendalikan negara sesuai ide-ide moral Alquran.Hal seperti ini tidak dapat
beliau lakukan ketika masih di Makkah karena tidak memiliki kekuasaan
politik.Oleh karena itu, di Madinahlah beliau pertama kali membangun negara dan
menjadi titik balik kesuksesan menyebarkan ajaran Islam.
Bahkan, Muhammad memiliki feeling
politik yang sangat visioner.Ketika merasa umat Islam sudah kuat, beliau dengan
para pengikutnya ramai-ramai datang ke Makkah yang sudah hampir sepuluh tahun
beliau tinggalkan.Melihat Muhammad datang dengan pengikut sedemikian banyak
inilah yang membuat para penguasa dan elite Makkah menjadi panik dan menyerah
tanpa perlawanan.Apalagi, orang-orang Makkah pun kemudian berbondong-bondong
masuk Islam.
Peristiwa inilah yang
digambarkan dalam Alquran sebagai fath al-Makkah (terbukanya
Kota Makkah) dalam Alquran surah an-Nashr.Kerap juga berapa penafsir
mengartikannya dengan "jatuhnya Kota Makkah".Setelah peristiwa ini,
Kota Makkah jatuh ke tangan umat Islam. Dikatakan oleh Michel Hart bahwa sejak
saat itu Muhammad tidak saja menjadi pemimpin umat Islam, tetapi menjadi pemimpin
Arab terbesar, apa pun agama dan etnisnya.
Peristiwa fath
al-Makkah tak ubahnya sebuah unjuk rasa damai dengan menggunakan people
power di bawah komando seorang tokoh agama dengan keanggunan moral
di satu pihak dan seorang negarawan dengan strategi politik jitu di pihak lain.
Muhammad mampu menggabungkan dua kekuatan; agama dan politik dalam satu
kesatuan sinergis yang proporsional hingga mampu membangun negara yang kuat
tanpa harus melakukan penekanan, penindasan, bahkan konflik sekalipun.
Dengan kekuatan agama, seorang
akan memiliki karisma yang membuatnya mudah memengaruhi masyarakat untuk
mengikuti kebijakan yang dibuatnya. Sementara masyarakat percaya seorang yang
memiliki kekuatan agama tak akan membuat kebijakan yang menyalahi nilai-nilai
yang ada di masyarakat, kecuali pemimpin yang zalim (menindas). Sedangkan
kemampuan politik akan membuatnya tahu bagaimana seharusnya membuat keputusan
strategis yang akan mengikat semua orang.
Dalam menilik perspektif
kepemimpinan Muhammad untuk kepemimpinan Indonesia hari ini, ada baiknya
berangkat dari tesis BJ Boland, seorang orientalis asal Belanda yang mendalami
percaturan politik Indonesia pascakemerdekaan.Ia pernah menyatakan, sulitnya
tokoh Islam menjadi kepala negara di Indonesia dikarenakan tiga sebab. Pertama,
mereka hanya bisa diterima oleh kelompoknya sendiri.Jangankan dapat diterima
mayoritas bangsa Indonesia, sesama Muslim sendiri, hanya karena berbeda aliran
politik dan organisasi, tidak bisa menerimanya.
Dalam kasus pencalonan Amin
Rais, misalnya.Hanya segelintir orang Nahdlatul Ulama (NU) yang memilih Amien
Rais menjadi presiden.Juga sebaliknya, hanya beberapa orang Muhammadiyah yang
memilih Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam pemilu. Inilah yang pernah memicu
BJ Boland melontarkan kritik kepada umat Islam dengan mengatakan, jika
Indonesia ini menjadi negara Islam, lalu negara ini akan diatur dengan Islam
model siapa?
Kedua, telah terjadi semacam image
bahwa tokoh-tokoh Islam atau sering disebut dengan kaum santri itu tidak
nasionalis.Mereka terkesan hanya mementingkan Islam tanpa memperhatikan
kepentingan negara.Negara ini bukan monopoli milik umat Islam, melainkan milik
seluruh bangsa Indonesia.
Ketiga, harus diakui umat
Islam adalah bagian dari komponen bangsa ini yang secara pendidikan tertinggal
dari komponen bangsa yang lain. Ketika orang lain sudah bersekolah modern, umat
Islam masih berkutat di pesantren yang tidak berijazah. Bagaimana mungkin
menjadi presiden ijazah SD saja tidak punya. Nurcholish Madjid pernah
menyatakan, kita tak membayangkan seandainya KH Ahmad Dahlan tidak lahir,
mungkin saja hingga kini kita tidak mengenyam pendidikan modern yang darinya
akan lahir kader-kader bangsa yang mampu mengatur negara.
Di sinilah urgensi reparasi kaderisasi pemimpin bangsa berbasis Islam agar meniru gaya kepemimpinan Muhammad. Dari berbagai pintu dan celah, kaderisasi kepemimpinan bangsa mesti menjadi perhatian lebih bagi umat Islam yang notabene mayoritas.Bukan hendak unjuk identitas atau motif-motif keakuan, melainkan didasarkan pada kontribusi umat Islam yang secara kuantitas sangat potensial untuk membangun bangsa. Bila kuantitas dan kualitas tidak berimbang, tak ubahnya umat Islam bak sampah sumber daya bangsa yang cuma jadi penonton dan-meminjam istilah Buya Syafi'i Ma'arif-berada di buritan peradaban.[Teladan Politik Muhammad, Republika online, Senin, 28 Maret 2011 pukul 09:54:00].
Dengan
politik kita bisa berkuasa, dengan kekuasaan kita bisa melakukan apasaja
perbaikan terhadap ummat ini dan dengan politik pula tidak sedikit politisi
yang melupakan komitmennya terhadap rakyat dan ummat sehingga seharusnya
penguasa sebagai bamber dari kelanjutan dakwah akhirnya menjadi musuh bagi
dakwah, seharusnya retrutmen politisi dilakukan selektif mungkin dengan
kriteria dan standard keislaman bukan karena setoran,
Setiap penguasa
mempunyai paradigma berpikir sendiri, yaitu mempertahankan kursi kekuasaan selama
mungkin.Siapapun yang ingin mengusik kekuasaan si penguasa harus
dimusnahkan.Jika ada yang mengatakan, bahwa kekuasaan itu bersaudara dengan
otoriterianisme, itu benar adanya.Penguasa cenderung berpandangan bahwa yang
berbeda pendapat dengannya adalah musuh.Dalam konteks da`wah, Islam adalah tata
nilai yang semua orang -termasuk penguasa- harus tunduk padanya.Ketika penguasa
–dengan segala faktor kemanusiaannya- berseberangan dengan tuntutan da`wah,
maka yang terjadi adalah pemberangusan da`wah.Ini sudah merupakan
sunnatullah.Fir`aun pada awalnya memelihara Musa –sebelum menjadi Nabi- di
istananya.Tapi ketika da`wah harus disampaikan kepada Fir`aun yang mengaku
dirinya Tuhan, maka konflik antara Musa dan Fir`aun tidak dapat dihindari.Di
abad duapuluh, naiknya Jamal Abdun-Nashir ke kursi kepresidenan Mesir adalah
karena perjuangan Ikhwanul-Muslimin.Bahkan Jamal mengaku pernah berbai`ah
kepada Hasan Al-Banna di masa hidupnya.Tetapi ketika sudah menduduki kursinya,
Jamal membantai sejumlah tokoh-tokoh organisasi itu.Tuduhannya adalah tuduhan
yang biasa dilansir para penguasa ‘berusaha menggulingkan pemerintahan yang
sah’.
Tampaknya, konflik
antara aktifis da`wah dengan penguasa –kecuali penguasa yang mengikuti manhaj
Nabi saw.- merupakan konflik yang tak berhenti. Bahkan seandainyapun seorang
aktifis da`wah sendiri naik menjadi penguasa, keharmonisan itu belum dapat
dijamin.Karena kekuasaan merupakan nikmat yang membuat orang banyak
terlena.Kesalehan yang teruji adalah kesalehan ketika berkuasa.Orang yang mampu
konsisten pada saat berkuasa, barangkali dapat dijadikan ukuran bagi keteguhan
pendirian seseorang, [Dr Daud Rasyid, Musuh dan Tantangan Dakwah Eramuslim.com,
Selasa, 13 Juli 2010 05:43].
Karena politik itu
diasosiasikan dengan kotor dan licik sehingga banyak dari kalangan politisi
yang agamawan menolak tampil di panggung politik karena khawatir akan terjadi
pelarutan idiologi atau akan terkontaminasi politik yang kotor, selain itu
gaung politik kotor disuarakan agar tidak ada orang-orang baik yang terjun ke
gelanggang politik sehingga politikus dan penguasa selalu dari kalangan yang
sudah lama bergelimang dengan kekotoran, kekuasaan yang jalankan hanya untuk
kepentingan pribadi dan krooni-kroninya, politik akan baik tergantung orang
yang berkecimpung di dalamnya dan sebaliknya, wallahu a’lam, [Baloi Indah Batam, 11 Rajab
1432.H/ 13 Juni 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar