Jumat, 11 Desember 2015

51. Politik



Selama ini sebagian besar orang mengartikan politik itu kotor, menghalalkan segala cara, bersifat machiavelis dan dimotori oleh orang-orang culas lagi munafiq, padahal politik itu tergantung manusia yang berkecimpung di dalamnya. Untuk masa-masa sekarang ini makna politik itu masih seperti yang lama karena banyak dari politisi yang bersifat machiavelis, nifak, culas dan curang, apalagi hal itu dipertontonkan lansung  oleh politisi di Negara kita ini.

Rakyat kecil tak lelahnya menimang mimpi: kapan bisa memiliki penguasa yang betul-betul abdi dan pelayan rakyat? Tentu impian ini benar 1000 persen. Betapa teori  basi demokrasi selalu dicekokkan sejak di bangku sekolah bahwa rakyatlah yang berdaulat dan berkuasa atas dirinya. Konsep demokrasi mengidealkan para politikus, lembaga tinggi ne-gara, penguasa dan seluruh struktur di bawahnya adalah instrumen pokok untuk menerjemahkan ke-daulatan rakyat. Namun apa kenya-tannya? Demokrasi menunjukkan ilusi dan kebobrokannya.Hari ini yang tumbuh tidak lebih dari “demo-krasi omong kosong”. Rakyat di kubangan masalah sebagai korban, sementara para penguasa dan politi-kusnya di meja kekuasaan mentran-saksikan kepentingan-kepentingan pribadi dan cari untung atas nama rakyat.

Kini, kalau ada rakyat kecil yang bertanya, atas mandat siapa koalisi bersama dilakukan?Kepen-tingan siapa, rakyatkah?Tentu sulit menemukan hubungannya dengan nalar demokrasi sekalipun.Rasanya rakyat sudah makin dewasa.Saking dewasanya kadang responnya keta-wa terbahak-bahak karena melihat para politikus dan penguasanya terlalu menggelikan dalam menge-lola berbagai masalah politik ke-bangsaan.Padahal kalau jujur, sebenarnya ketawanya untuk menu-tupi keprihatinan yang luar biasa.Rakyat tidak mau beban hidup yang sudah berat makin berat dengan ikut larut prihatin dengan gojekan-gojekan konyol itu.

Coba kita catat beberapa hal saja, ketika Obama hendak datang ke Indonesia dan menimbulkan penolakan banyak pihak, pemerin-tah cepat-cepat memberikan argu-mentasi bahwa Obama beda de-ngan Bush presiden sebelumnya. Lho kalau beda kenapa di masa pemerintahan yang sama (SBY) Bush juga diterima bahkan sampai perlu merusak beberapa habitat tanaman di Kebun Raya Bogor?  

Kasus perdagangan bebas, rakyat bisa terjun bebas tanpa mampu bersaing.Perjanjian ACFTA antara Cina-Indonesia implemen-tasinya dimulai tahun 2010.Dalam beberapa tahun seharusnya pe-nguasa menyiapkan regulasi dan seluruh instrumen struktur dan in-frastrukstur yang mampu menjadi-kan industri nasional sanggup bersaing. Tidak kemudian menung-gu protes baru kemudian renegosi-asi, seolah baru siuman dan sadar betapa ACFTA akan mengguncang sektor industri nasional baik dalam skala besar maupun kecil (home industri). Rakyat dibiarkan seperti gerombolan “bonek” disuruh mela-wan negara maju dengan berbagai perangkat regulasi dan kemampuan teknologinya.Lagi-lagi, rakyat ber-tanya mengabdi kepada siapakah sebenarnya penguasa negeri ini?

Skandal korupsi yang melibat-kan seluruh aparat penegak hukum, makin menjadikan wajah negeri ini makin bopeng.Bahkan skandal besar perampokan uang rakyat “Century Gate” jelas-jelas melibat-kan tangan-tangan orang para penguasa.Lagi-lagi kita dibuat geli, betapa skandal-demi skandal tidak jelas juntrungnya.BLBI, Century Gate juga menguap tanpa arah apalagi setelah ada sekber koalisi yang sepakat menyokong dan mengamankan kekuasaan hingga 2014. Ini menjadi pertanda zaman, bahwa skandal Century akan diku-bur sementara hingga usia kekua-saan berakhir di tahun 2014. Entah apakah nanti kemudian akan digali dari kuburnya oleh para penguasa atau generasi-generasi berikutnya karena keputusan politik DPR itu mengikat hingga 25 tahun men-datang. Dari sini bisa dimengerti, orang-orang yang diduga terlibat dalam skandal ini harus ada jalan keluar yang dianggap 'elegan” oleh penguasa karena “nggak enak ati” kepada orang-orang yang berjasa kepadanya.Maka hengkangnya Menkeu Sri Mulyani ke Bank Dunia adalah jalan keluar baginya agar tetap terhormat dan semua bisa selamat.Ia dipuji sebagai orang hebat. Rakyat bingung, lho kalau hebat juga kenapa harus dilepas dan bangga bekerja dengan pihak asing? Inilah politik, komunikasi menjadi kunci untuk membenarkan apa saja dari sebuah skenario dari yang baik sampai yang  busuk.

Belum lagi “si pembuka kotak pandora” Susno Duadji, yang berani membongkar borok institusi pene-gak hukum. Anehnya malah dia yang masuk bui. Di luar itu, dengan bendera perang melawan teroris, sudah berapa banyak orang Muslim mati dengan cara “extra judicial killing” (pembunuhan di luar hu-kum)? Andai saja TNI yang mela-kukan, tentu AS dan sekutunya akan teriak, “Itu melanggar HAM”. Tapi rakyat mulai mengerti bahwa proyek kontra terorisme via Densus 88 itu juga atas jaminan AS.

Inilah babak demi babak keru-sakan yang terkuak.Hulunya karena sistem demokrasi yang meniscaya-kan seperti itu. Keculasan dan manipulasi kekuasaan atas nama rakyat tapi sebenarnya untuk kepen-tingan segelintir orang dan kelom-pok yang berkuasa.
Rakyat sangat butuh rezim dan sistem yang baru.Berdasarkan survei SEM Institute April 2010, ada tren rakyat Indonesia yang mayori-tas Muslim merindukan Islam seba-gai sistem yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan ber-negara. Dan ini yang harus terus dikumandangkan.[Harits Abu Ulya,Politik Kepentingan Para Penguasa, Media ummat.com. Tuesday, 03 August 2010 15:54].

Kekuatan untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan hati nurani, pemimpin yang amanah, jujur lagi bersih ada di tangan rakyat yang merupakan kewajiban setiap orang, hadirnya pemimpin di panggung kekuasaan merupakan cerminan dari mayoritas rakyatnya, satu ketika Ali bin Abi Thalib diprotes oleh Tartar An Nahar, katanya, ketika Umar bin Khattab jadi Khalifah di negeri ini, aman dan sejahtera rakyatnya, tapi sekarang anda yang memimpin kekacauan ada dimana-mana, mendengar itu Ali menjawab, sewaktu Umar berkuasa, karena sebagian besar rakyatnya seperti saya, tapi sekarang saya yang berkuasa, rakyat saya sebagian besar seperti anda.

Manusia tak akan pernah bisa lepas dari ‘tahta, harta, dan wanita’. Tiga ‘t’ ini terus menggelayuti kehidupan manusia. Inti nafsu manusia kepada dunia, adalah nafsu yang hidupnya hanya diorientasikan semata kepada tiga ‘t’ itu. Ujian iman bagi orang-orang mukmin, berupa tiga ‘t’, yang banyak menyebabkan luruhnya iman dan aqidahnya. Tak banyak orang-orang mukmin, ketika diberi nikmat berupa tiga ‘t’ itu dapat selamat.
Kebanyakan mereka tersungkur, dan akhirnya menjadikan tiga ‘t’ itu sesembahan mereka. Tiga ‘t’ mengalahkan ketundukan, kethaatan, dan ubudiyahnya kepada Allah Azza Wa Jalla.
Setan akan terus menggerogoti iman dan aqidah orang-orang mukmin dengan tiga ‘t’ itu. Janji atau sumpah iblis (setan) kepada Allah Azza Wa Jalla, tak lain, mereka akan menggoda anak Adam, sampai hari kiamat melalui pintu tiga ‘t’ itu. Karena, memang manusia termasuk orang-orang mukmin secara instinktif (naluri) menyukai adanya tiga ‘t’.

Orang-orang kafir Yahudi, mereka mula-mula beriman, dan menjadi ingkar dan mendurhakai Allah Rabbul Alamin, karena mereka lebih mengutamakan tiga ‘t’ itu. Tiga itu menjadi senjata yang paling utama, bagi orang-orang kafir semacam bangsa Yahudi untuk menghancurkan kaum mukminin.

Gambaran yang sangat absurd di dalam sejarah, adalah ketika bangsa Yahudi,yang diselamatkan oleh Nabi Musa Alaihi Sallam, dan berhasil menyeberangi laut Merah, dan sampai di Palestina, ketika mereka sudah selamat di negeri yang diberkahi itu, kembali mereka menjadi kafir dengan menyembah anak sapi emas, yang dibuat oleh Samiri.

Orang-orang kafir, diantaranya hidupnya hanyalah untuk ‘bersenang-senang’ dan ‘makan’.(QS: 2 ayat 30). Seperti binatang ternak.Makan dan sek. Dari sini pula lahirnya, apa yang disebut paham materialisme, yang sangat memuja benda dan kenikmatan duniawi.

Seperti digambarkan oleh Allah Ta’ala, manusia itu memang menyukai wanita, harta benda, anak-anak, kebun, dan jenisnya lainnya. (QS: 3 ayat 14). Sehingga, karena orientasi manusia pada tiga ‘t’ itu, manusia menjadi lupa akan asal-usulnya. Manusia menjadi lupa akan hakekat dirinya. Manusia menjadi sombong, dan jauh dari rasa syukur.Melupakan asal kejadian dirinya, dan kemudian menjadi ingkar dan kafir.Karena sudah terjerumus ke dalam kehidupan yang lebih mencintai kenikmatan dunia semata. Padahal, mereka akan dikembalikan kepada Penciptapanya, kelak sesuda hari Kiamat.

Tetapi, diantara tiga ‘t’ itu, yang sangat menjadi keinginan manusia, ialah untuk mendapatkan kekuasaan. Kekuasaan bagi manusia yang sudah tersusupi pemikirannya oleh pengaruh iblis dan setan, berusaha dengan segala cara mendapatkannya. Nafsu mendapatkan kekuasaan itu, mendorong jiwa manusia menjadi sangat keras, dan tidak lagi memperhatikan norma agama.

Dengan kekuasasan manusia memiliki kewenangan.Kewenangan yang dimilikinya dapat digunakan untuk mendapatkan kenikmatan yang lainnya, berupa harta dan wanita.Para penguasa dan pemimpin yang memiliki kekuasaan, menjadi lupa, dan hanya nafsunya yang dominan. Karena, orang yang berkuasa seperti meminum air laut, tak akan pernah puas. Semakin banyak mereguk air laut, terasa semakin dahaga.

Maka, orang yang sudah berkuasa tidak pernah merasa puas.Selalu terus berusaha untuk mendapatkan kekuasaan.Selama-lamanya. Tak ada penguasa yang sudah memegang kekuasaan akan dengna suka rela melepaskan jabatan kekuasaannya. Orang-orang yang sudah berkuasa dan memegang kekuasaan sangat takut kehilangan kekuasaan. Maka orang yang berkuasa itu, akan berusaha mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara.[Mashadi, Mengapa Engkau Mengejar Kekuasaan?Eramuslim,,Jumat, 25/06/2010 14:52 WIB ].

Di alam demokrasi, seperti di negeri ini, di mana kedaulatan dalam memilih pemimpin dan wakil rakyat di lembaga-lembaga perwakilan, baik pada tingkat nasional maupun lokal, berada di tangan setiap individu, kita selaku umat berkewajiban memilih calon wakil dan kandidat pemimpin yang shalih, bersih KKN, memiliki integritas agama, keilmuan dan moralitas yang baik, sesuai dengan petunjuk Alqur’an. Kita wajib memberikan dukungan kepada calon pemimpin yang shaleh yang memiliki visi dan misi dakwah rahmatan lil-‘alamin, agar ia mendapatkan kekuatan secara konstitusional sebagai pemimpin negeri ini. Jika tidak, maka kita bakal diperintah oleh sekelompok orang yang tak segan-segan menyengsarakan umat dan bangsa ini ke depan.[Tim dakwatuna.com, Khutbah Jum'at, Rambu Memilih Pejabat ,17/6/2009 | 23 Jumadil Akhir 1430 H]

Berpolitik yang tidak meneladani figure mulia Muhammad maka dia akan melakukan politik kotor, tanda kendali, hanya mengejar kekuasaan dan harta semata, seorang mukmin harus meneladani kehidupan rasulnya pada seluruh asfek kehidupan apalagi seorang politisi. 

Siapa yang tidak kenal Muhammad SAW, selain beliau sebagai nabi, ia juga kerap disandarkan julukan pemimpin politik (kepala negara). Berbeda dalam posisi beliau sebagai rasul Allah yang terbebas dari kesalahan (ma'shum), sebagai kepala negara beliau bukanlah suprahuman (manusia super) yang tidak memerlukan orang lain. Sahabat menjadi forum musyawarah untuk menentukan keputusan-keputusan politik penting dan strategis negara ketika itu, mulai dari persoalan pajak sampai dengan hubungan antar-Muslim dan non-Muslaim.

Negara adalah bagian dari urusan dunia yang dalam batas tertentu orang lain lebih tahu dari dirinya. Dengan rendah hati beliau pun mengatakan, "kamu lebih tahu dengan urusan duniamu."Bahkan, pernyataan ini beliau lontarkan di hadapan seorang petani yang ternyata lebih paham tentang persoalan pertanian.

Dalam kenyataannya, jabatan politik yang beliau pegang menjadi sarana strategis bagi upaya implementasi ajaran Islam dan pengembangannya.Sebab, dengan politik inilah beliau bisa mengendalikan negara sesuai ide-ide moral Alquran.Hal seperti ini tidak dapat beliau lakukan ketika masih di Makkah karena tidak memiliki kekuasaan politik.Oleh karena itu, di Madinahlah beliau pertama kali membangun negara dan menjadi titik balik kesuksesan menyebarkan ajaran Islam.

Bahkan, Muhammad memiliki feeling politik yang sangat visioner.Ketika merasa umat Islam sudah kuat, beliau dengan para pengikutnya ramai-ramai datang ke Makkah yang sudah hampir sepuluh tahun beliau tinggalkan.Melihat Muhammad datang dengan pengikut sedemikian banyak inilah yang membuat para penguasa dan elite Makkah menjadi panik dan menyerah tanpa perlawanan.Apalagi, orang-orang Makkah pun kemudian berbondong-bondong masuk Islam.

Peristiwa inilah yang digambarkan dalam Alquran sebagai fath al-Makkah (terbukanya Kota Makkah) dalam Alquran surah an-Nashr.Kerap juga berapa penafsir mengartikannya dengan "jatuhnya Kota Makkah".Setelah peristiwa ini, Kota Makkah jatuh ke tangan umat Islam. Dikatakan oleh Michel Hart bahwa sejak saat itu Muhammad tidak saja menjadi pemimpin umat Islam, tetapi menjadi pemimpin Arab terbesar, apa pun agama dan etnisnya.

Peristiwa fath al-Makkah tak ubahnya sebuah unjuk rasa damai dengan menggunakan people power di bawah komando seorang tokoh agama dengan keanggunan moral di satu pihak dan seorang negarawan dengan strategi politik jitu di pihak lain. Muhammad mampu menggabungkan dua kekuatan; agama dan politik dalam satu kesatuan sinergis yang proporsional hingga mampu membangun negara yang kuat tanpa harus melakukan penekanan, penindasan, bahkan konflik sekalipun.

Dengan kekuatan agama, seorang akan memiliki karisma yang membuatnya mudah memengaruhi masyarakat untuk mengikuti kebijakan yang dibuatnya. Sementara masyarakat percaya seorang yang memiliki kekuatan agama tak akan membuat kebijakan yang menyalahi nilai-nilai yang ada di masyarakat, kecuali pemimpin yang zalim (menindas). Sedangkan kemampuan politik akan membuatnya tahu bagaimana seharusnya membuat keputusan strategis yang akan mengikat semua orang.

Dalam menilik perspektif kepemimpinan Muhammad untuk kepemimpinan Indonesia hari ini, ada baiknya berangkat dari tesis BJ Boland, seorang orientalis asal Belanda yang mendalami percaturan politik Indonesia pascakemerdekaan.Ia pernah menyatakan, sulitnya tokoh Islam menjadi kepala negara di Indonesia dikarenakan tiga sebab. Pertama, mereka hanya bisa diterima oleh kelompoknya sendiri.Jangankan dapat diterima mayoritas bangsa Indonesia, sesama Muslim sendiri, hanya karena berbeda aliran politik dan organisasi, tidak bisa menerimanya.

Dalam kasus pencalonan Amin Rais, misalnya.Hanya segelintir orang Nahdlatul Ulama (NU) yang memilih Amien Rais menjadi presiden.Juga sebaliknya, hanya beberapa orang Muhammadiyah yang memilih Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam pemilu. Inilah yang pernah memicu BJ Boland melontarkan kritik kepada umat Islam dengan mengatakan, jika Indonesia ini menjadi negara Islam, lalu negara ini akan diatur dengan Islam model siapa?

Kedua, telah terjadi semacam image bahwa tokoh-tokoh Islam atau sering disebut dengan kaum santri itu tidak nasionalis.Mereka terkesan hanya mementingkan Islam tanpa memperhatikan kepentingan negara.Negara ini bukan monopoli milik umat Islam, melainkan milik seluruh bangsa Indonesia.

Ketiga, harus diakui umat Islam adalah bagian dari komponen bangsa ini yang secara pendidikan tertinggal dari komponen bangsa yang lain. Ketika orang lain sudah bersekolah modern, umat Islam masih berkutat di pesantren yang tidak berijazah. Bagaimana mungkin menjadi presiden ijazah SD saja tidak punya. Nurcholish Madjid pernah menyatakan, kita tak membayangkan seandainya KH Ahmad Dahlan tidak lahir, mungkin saja hingga kini kita tidak mengenyam pendidikan modern yang darinya akan lahir kader-kader bangsa yang mampu mengatur negara.

Di sinilah urgensi reparasi kaderisasi pemimpin bangsa berbasis Islam agar meniru gaya kepemimpinan Muhammad. Dari berbagai pintu dan celah, kaderisasi kepemimpinan bangsa mesti menjadi perhatian lebih bagi umat Islam yang notabene mayoritas.Bukan hendak unjuk identitas atau motif-motif keakuan, melainkan didasarkan pada kontribusi umat Islam yang secara kuantitas sangat potensial untuk membangun bangsa. Bila kuantitas dan kualitas tidak berimbang, tak ubahnya umat Islam bak sampah sumber daya bangsa yang cuma jadi penonton dan-meminjam istilah Buya Syafi'i Ma'arif-berada di buritan peradaban.[Teladan Politik Muhammad, Republika online, Senin, 28 Maret 2011 pukul 09:54:00].

                Dengan politik kita bisa berkuasa, dengan kekuasaan kita bisa melakukan apasaja perbaikan terhadap ummat ini dan dengan politik pula tidak sedikit politisi yang melupakan komitmennya terhadap rakyat dan ummat sehingga seharusnya penguasa sebagai bamber dari kelanjutan dakwah akhirnya menjadi musuh bagi dakwah, seharusnya retrutmen politisi dilakukan selektif mungkin dengan kriteria dan standard keislaman bukan karena setoran, 

Setiap penguasa mempunyai paradigma berpikir sendiri, yaitu mempertahankan kursi kekuasaan selama mungkin.Siapapun yang ingin mengusik kekuasaan si penguasa harus dimusnahkan.Jika ada yang mengatakan, bahwa kekuasaan itu bersaudara dengan otoriterianisme, itu benar adanya.Penguasa cenderung berpandangan bahwa yang berbeda pendapat dengannya adalah musuh.Dalam konteks da`wah, Islam adalah tata nilai yang semua orang -termasuk penguasa- harus tunduk padanya.Ketika penguasa –dengan segala faktor kemanusiaannya- berseberangan dengan tuntutan da`wah, maka yang terjadi adalah pemberangusan da`wah.Ini sudah merupakan sunnatullah.Fir`aun pada awalnya memelihara Musa –sebelum menjadi Nabi- di istananya.Tapi ketika da`wah harus disampaikan kepada Fir`aun yang mengaku dirinya Tuhan, maka konflik antara Musa dan Fir`aun tidak dapat dihindari.Di abad duapuluh, naiknya Jamal Abdun-Nashir ke kursi kepresidenan Mesir adalah karena perjuangan Ikhwanul-Muslimin.Bahkan Jamal mengaku pernah berbai`ah kepada Hasan Al-Banna di masa hidupnya.Tetapi ketika sudah menduduki kursinya, Jamal membantai sejumlah tokoh-tokoh organisasi itu.Tuduhannya adalah tuduhan yang biasa dilansir para penguasa ‘berusaha menggulingkan pemerintahan yang sah’.

Tampaknya, konflik antara aktifis da`wah dengan penguasa –kecuali penguasa yang mengikuti manhaj Nabi saw.- merupakan konflik yang tak berhenti. Bahkan seandainyapun seorang aktifis da`wah sendiri naik menjadi penguasa, keharmonisan itu belum dapat dijamin.Karena kekuasaan merupakan nikmat yang membuat orang banyak terlena.Kesalehan yang teruji adalah kesalehan ketika berkuasa.Orang yang mampu konsisten pada saat berkuasa, barangkali dapat dijadikan ukuran bagi keteguhan pendirian seseorang, [Dr Daud Rasyid, Musuh dan Tantangan Dakwah Eramuslim.com, Selasa, 13 Juli 2010 05:43].

Karena politik itu diasosiasikan dengan kotor dan licik sehingga banyak dari kalangan politisi yang agamawan menolak tampil di panggung politik karena khawatir akan terjadi pelarutan idiologi atau akan terkontaminasi politik yang kotor, selain itu gaung politik kotor disuarakan agar tidak ada orang-orang baik yang terjun ke gelanggang politik sehingga politikus dan penguasa selalu dari kalangan yang sudah lama bergelimang dengan kekotoran, kekuasaan yang jalankan hanya untuk kepentingan pribadi dan krooni-kroninya, politik akan baik tergantung orang yang berkecimpung di dalamnya dan sebaliknya, wallahu a’lam, [Baloi Indah Batam, 11 Rajab 1432.H/ 13 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar