Begitu banyak karunia dan nikmat yang diberikan Allah
kepada manusia sebagai bekal hidupnya di dunia, salah satunya adalah waktu,
untuk itu kita harus berupaya agar waktu yang merupakan nikmat ini kita
pergunakan dengan sebaik-baiknya;
" Dan dia Telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang
terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan Telah menundukkan bagimu malam dan
siang. Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu
mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu
menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari
(nikmat Allah)" [Ibrahim 14;33-34]
Sifat yang bijak bagi seorang muslim terhadap nikmat
Allah adalah mensyukuri nikmat tersebut dengan tiga hal yaitu senang dengan
nikmat yang diberikan Allah, lisan mengucapkan Alhamdulillah sedangkan
perbuatan kita menggunakan waktu sesuai dengan yang dikehendaki Allah.
"Dan dia (pula) yang menjadikan malam dan siang
silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin
bersyukur"[Al Furqan 25;62]
Sejak kejadian manusia yang hanya dengan setetes mani,
dari waktu yang ditentukan akhirnya lahirnya sang bayi, hingga sekian puluh
tahun kembali lagi kepada asalnya yaitu tanah dengan kematian. Sehingga Rasul
pernah bersabda, Ada orang yang pagi tadi beriman kepada Allah tapi setelah
sorenya dia kafir, ada juga orang yang tadinya kafir akhirnya menjadi orang
yang taat. Semua itu karena perjalanan waktu, itulah makanya dalam islam ada
yang disebut dengan khusnul khatimah bagi kehidupan manusiayaitu akhir
kehidupan yang baik.
"Allah, dialah yang menciptakan kamu dari keadaan
lemah, Kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat,
Kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah Kuat itu lemah (kembali) dan beruban.
dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan dialah yang Maha mengetahui lagi
Maha Kuasa"[Ar Ruum 30;54].
Waktu yang
begitu berharganya, sampai setiap orang memiliki persepsi masing-masing
terhadap waktu:
Bagi
orang barat waktu adalah uang.
Bagi
seorang pelukis waktu adalah karya.
Bagi
seorang pelajar waktu adalah ilmu
Bagi
seorang pekerja kuli bangunan waktu adalah upah dan
Bagi
seorang pejabat nakal waktu adalah kesempatan.
Waktu pula bagaikan sebuah pedang, jika kita tidak bisa mengunakanya, maka ia akan menebas leher kita. Waktu pun bagaikan sebuah kendaraan, jika kita tidak bisa mengunakanya, maka kita akan terlindas olehnya.
Dari semua istilah dan persepsi yang digunakan, pada hakekatnya waktu akan kembali pada satu kepastian dan satu kenyataan. Atau mungkin waktu hanya sebuah angin lalu yang memindahkan seseorang dari masa lalu ke masa yang akan datang, tidak ada hasil, tidak ada karya, waktu tercecer begitu saja di berbagai tempat, di warung, di terminal, di jalan ataupun di tempat-tempat lainnya.
Dalam waktu tertentu ada orang yang mampu memebuat jembatan layang, pesawat terbang, bangunan megah, segudang karya keilmuan, dan sebagainya. Dan ada pula yang sama sekali yang tidak menghasilkan apa-apa. Ia hanya terdiam bermalas-malasan tanpa ada usaha, tapi ketika kenyataan itu datang, ia selalu menyalahkan kaadaan. Oleh sebab itu allah SWT berfirman dalam sutat Al-'Ashr, yang artinya, "Demi waktu, sesungguhnya mausia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang orang yang beriman dan mengerjalan amal sholeh…"
Jika orang-orang
non Muslim bekerja di dunia hanya untuk mengejar kesenangan dan keduniaan, yang
mana sifanya hanya sementara, maka bagi orang islam bukan hanya dunia yang
dicari, tapi juga akhirat yang menjadi tujaun. Semoga kita tidak termasuk
orang-orang yang merugi seperti yang telah Allah SWT firmankan. Mari kita
gunakan waktu dengan sebaik mungkin, besusaha dengan sungsuh-sunguh dan tidak
pula meningalkan sebuah kewajiban.[Didi
Suardi,Hikmah
Pagi: Waktu, Kesempatan, dan Satu Kepastian,
Republika.co.id. Senin,
03 Januari 2011, 07:05 WIB].
Waktu akan berjalan sesuai dengan
sunnatullah, apapun yang terjadi dan apapun yang dialami oleh manusia, apakah
hidup penuh dengan genangan darah atau bergelimang kemewahan , apakah menemukan
keberhasilan atau terpuruk pada kegagalan maka waktu pasti bergerak dengan pastinya
tanpa ada yang menghalangi,semuanya akan selesai sesuai dengan waktunya.
Demi waktu.Demikian Alquran
menegaskan pentingnya waktu.Isyarat tertulis seperti tercantum pada surah
al-Ashr (QS 103) ini mengingatkan manusia untuk selalu menghitung dan mempertimbangkan
waktu. Bahkan, setelah bersumpah demi waktu, Allah kemudian menyatakan bahwa
manusia akan rugi, kecuali orang yang beriman dan beramal saleh. Lebih dari
itu, surah ini juga menggarisbawahi posisi orang-orang yang senantiasa saling
mengingatkan dalam kebajikan dan kesabaran.Mereka adalah orang-orang yang suka
memperhatikan waktu.
Tanpa membuat prioritas atas
pilihan amal yang ditempuh, manusia akan merugi. Amal-amal produktif merupakan
representasi kecerdasan manusia dalam memanfaatkan waktu.Setiap jengkal langkah
manusia adalah wujud pemanfaatan waktu secara produktif dan bermakna. Jika
tidak, kerugian yang akan melilit kehidupan manusia.
Agar tidak merugi, perlu
difasilitasi.Saat ini banyak orang yang merugi karena fasilitas hidup yang
serbaterbatas. Buruknya infrastruktur jalan yang menghambat proses
transportasi, merupakan salah satu faktor yang dapat membuat pengguna jalan
mengalami kerugian. Rendahnya mutu sarana belajar siswa, dapat membuang waktu
pembelajaran.Dan, banyak lagi kerugian yang diderita masyarakat dan bangsa ini,
bila tidak memperhatikan dimensi waktu.
Mari kita menghitung kerugian
yang kita lalui setiap hari.Contoh sederhana, berapa ribu jam negeri ini dibuat
rugi setiap hari.Misalnya, di satu permukiman terdapat 2.000 rumah dengan
penghuni produktif rata-rata satu orang setiap rumah.Masing-masing setiap hari
menempuh perjalanan 10 menit lebih lama karena jalan yang dilaluinya rusak
berat. Kita harus menerima kerugian waktu sebesar 20 ribu menit pada saat
berangkat, ditambah 20 ribu menit pada saat kembali, sehingga sekitar 40 ribu
menit hilang setiap hari atau sekitar sejuta menit selama 25 hari kerja dalam
sebulan.
Kita akan rugi sekitar 17 ribu
jam produktif setiap bulan, atau sekitar 204 ribu jam setiap tahun. Ini baru
dari satu permukiman dengan penduduk sekitar 2000 KK. Bayangkan di dua, tiga,
empat, atau sepuluh permukiman di suatu kota. Kita akan mengalami kerugian yang
berlipat ganda hanya karena infrastruktur jalan rusak berat. Jadi, jika
jalan-jalan di kota tidak diperbaiki, kita akan terus-menerus menuai kerugian
yang besar setiap hari, bulan, dan tahun. Jadi, dalam konteks seperti ini,
siapa sesungguhnya yang menjadi sumber penyebab kerugian bangsa dan negara ini?
Untuk menghindari kerugian
yang berlipat setiap hari, perbaikan berbagai sarana dan prasarana kerja
seharusnya menjadi prioritas. Jika seorang pemimpin amanah, prioritas program
untuk memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat akan menjadi misi penting
yang diembannya. Dengan demikian, kerugian akan bisa dihindari."Sesungguhnya manusia itu berada dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan orang-orang
yang senantiasa saling mengingatkan akan kebajikan dan kesabaran."[Prof Dr
Asep S Muhtadi, Demi Waktu, Republika.co.id, Saturday, 23 April 2011 11:04
WIB].
Kita hidup di dunia hanya menghabiskan
waktu yang disediakan Allah, tidak bisa ditambah dan tidak bisa pula untuk
dikurangi, waktu yang sedikit itu seharusnya dimanfaatkan untuk berbuat baik
sehingga waktu yang berupa usia itu bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga dan
orang lain, rugilah orang yang menghambur-hamburkan usianya di dunia ini dengan
hal-hal negative.
Ustadz
Aidh Abdullah al-Qarni memberikan taujihnya kepada kita tentang memanfaatkan
usia seefektif mungkin di dunia ini sebagaimana penuturannya dibawah ini;
Tiap-tiap sesuatu dapat dicari penggantinya,kecuali usia.
Dan, tiap-tiap sesuatu bila telah lenyap, adakalanya dapat dikembalikan melalui
suatu jalan atau lainnya, kecuali usia. Karena apa yang telah berlalu dari usia
tidak dapat dikembalikan dan ia pergi untuk selamanya.
Apa yang sudah berlalu dari usia, berarti lenyap yang
diharapkan masih belum pasti, dan bagimu hanyalah saat sekarang yang sedang
dijalani.Allah Ta'ala berfirman "Dan apakah Kami tidak
memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau
berpikir dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?"
(QS. Fathir [35] : 37)
Huruf ma disebutkan dalam penggunaannyadakalanya sebagai
huruf maushul yang berarti: "Dalam yang cukup untuk berpikir" atau
sebagai huruf mashdar yang berarti: "Untuk berpikir bagi orang yang mau
berpikir" dalam kehidupan ini.Allah Ta'alaberfirman :"Allah
bertanya: 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggi di bumi?' Mereka menjawab: 'Kami
tinggal di (dibumi) sehari atau setengah hari'." (QS. Al-Mu'muninun
[23] : 112-113)
Allah Ta'alaberfirman :"Kamu tidak tinggal
(di bumi), melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. Maka
apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main
(saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi
Allah, Raja yang sebenarnya, tidak ada tuhan(yang berhak disembah) selain Dia,
Tuhan (yang mempunyai) Arsy yang mulia." (QS. Al-Mu'muninun [23] : 114-116)
Ibnu Abbas ra telah menceritakan bahwa Rasulullah shallahu
alaihi was sallam pernah bersabda: "Ada dua nikmat yang keduanya
memperdaya kebanyakan manusia,yaitu sehat dan waktu luang." (HR.
Muslim)
Hal yang paling menyia-nyiakan usia adalah melakukan kedurhakan.
Ulama salaf yang shalih sangat antusias dalam memelihara usia dan menggunakan
sebaik-baiknya. Apabila menggunakan usianya untuk maksiat, berarti lenyaplah
dunia dan akhiratnya.Semoga Allah melindungi kita dari kedurhakaan.
Sesungguhnya ulama salaf dahulu menjauhi banyak hal yang
diperbolehkan karna kawatir terjerumus ke dalam hal yang dimakruhkan.Berbeda
dengan kita sekarang, sesungguhnyakit tidak ragu lagi mengerjakan kedurhakaan,
bukan lagi sekadar hal-hal yang diperbolehkan.Semoga Allah mengampuni kita
semua.
Pernah
dikatakan kepada Kanzun Ibnu Wabrah, salah seorang ahli ibadah: "Duduklah
bersama kami", maka ia menjawab: "Tahanlah matahari!" Yakni agar
tidak datang dan pergi menggerogoti usia.
Kita datang dan pergi untu keperlulan kita,dan keperluan orang
hidup iut tiada habisnya,akan berhentilah keperluan seseorang dengan
kematiannya,selama seseorang masih hidup,perputaran siang dan malam hari,telah
membuat anak kecil beruban dan oran tua mati,bila malam telah membuat tua siang
harinya,
datanglah sesudahnya siang hari yang muda.
datanglah sesudahnya siang hari yang muda.
Orang-orang yang menyia-nyiakan
umurnya dalam kehidupan di dunia, dan durhaka kepada Allah Ta'ala, dan
tidak mau bertaubat, maka hanya kebinasaan ketika nanti di akhirat, dan tidak
ada lagi pintu taubat baginya.[Aidh Abdullah
al-Qarni, Jangan Sia-Siakan
Usiamu, eramuslim.com, Minggu, 05/06/2011 15:09 WIB].
Dari sekian ibadah yang membutuhkan
waktu penting adalah shalat subuh, begitu pentingnya sehingga ibadah ini
ditimpali dengan ganjaran yang tidak sedikit yaitu dunia dan segala isinya.
Tapi begitu banyak dari ummat islam yang menjadikan subuhnya kehilangan waktu
dan jauh dari pahala karena bangun kesiangan, padahal bangun subuh saja
mendapat keuntungan yang tidak sedikit.
"Demi
fajar/subuh," firman-Nya dalam surah Al-Fajr.Ayat ini mengetuk kita dengan
penggunaan wau qasam (sumpah). Ini menunjukkan betapa urgennya waktu subuh,
yaitu saat udara masih segar, sejuk, dan pikiran masih jernih. Alam yang
tadinya mengantuk, perlahan-lahan bangun dan kembali membentangkan karunianya.
Di sinilah pentingnya arti bangun pagi; ia bukan hanya memberikan manfaat dari
sisi kesehatan, melainkan juga bisa bermakna finansial dan spiritual.
Konon,
Indonesia termasuk lima negara yang paling besar tingkat polusinya di dunia,
hingga udara yang cerah dan segar menjadi sulit didapat. Apalagi di banyak
wilayah kota besar, seperti Jakarta, yang setiap sudutnya nyaris penuh dengan
asap kendaraan bermotor. Karena itu, bagi kita yang ingin menghirup udara
segar, bangun pagi bisa menjadi alternatif.
Bangun
pagi juga mempunyai nilai ekonomis. Karena orang yang bangun lebih awal akan
punya waktu lebih banyak untuk menangani berbagai urusan dan bisnisnya.
Lebih-lebih ketika budaya kompetitif sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, maka
mengejar dan mencari peluang bisnis adalah suatu tuntutan, "Hilangnya berbagai macam peluang mengakibatkan terjadinya
kehancuran, karena memang itulah dunia," tulis Maulana Wahiduddin Khan,
pemikir dari India. Sedangkan Umar bin Abdul Aziz berujar, "Malam dan
siang bekerja untukmu, maka bekerjalah kamu pada keduanya."
Bangun
pagi juga tidak hanya menawarkan pulsa yang murah bagi orang yang ingin
berbicara via telepon, misalnya.Namun, banyak informasi bisnis penting pun
sering dilansir sejak pagi.Lebih-lebih bagi yang bergerak di bidang jasa
transportasi, waktu pagi sungguh memberikan banyak berkah.
Bagi
mereka yang masih tergeletak di peraduannya, mana mungkin bisa meraih karunia
itu.Maka, benarlah kalau Nabi mengatakan bahwa tidur di pagi hari mewariskan
kemiskinan.
Sedangkan
dari sisi spiritual, dalam banyak hadis, Nabi acap kali memberitakan tentang
fadilah shalat Subuh secara berjamaah, juga bershalawat untuknya di kala pagi
dan petang.[Jangan
Sia-siakan Waktu Subuh Mu, Republika.co.id,Selasa, 12
Oktober 2010, 09:21 WIBRep:Oleh Makmun Nawawi].
Maka
bila suatu negeri yang kaya raya ternyata terus terpuruk, jatuh dan tenggelam
dalam kesulitan demi kesulitan, itu hanya gambaran betapa penduduknya
kebanyakan adalah orang-orang lemah.Terlalu banyak orang yang tidak
jujur.Terlalu banyak orang-orang munafik.Negara ditipu.Rakyat dikhianati.Apa
kaitannya dengan sholat shubuh? Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang
munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka.Dan apabila
mereka berdiri untuk sholat mereka berdiri dengan malas.Mereka bermaksud
riya'(dengan sholat) di hadapan manusia.Dan tidaklah mereka menyebut Allah
kecuali sedikit sekai. (QS. An-Nisa': 1 42).
Lalu Rasulullah menegaskan, sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik
adalah sholat isya' dan sholat shubuh
.
Tak
berlebihan bila di negeri kita yang kaya raya ini, terlalu banyak permasalahan
yang terus menerus terjadi.Sebab yang menghadapi masalah kebanyakan adalah
orang-orang lemah.Terlalu banyak orang munafik.Terlalu banyak orang yang malas
sholat.Terlalu banyak orang yang berlambat-lembat menunaikan sholat
shubuh.Bahkan, terlalu banyak orang yang secara sengaja tidak melaksanakan
sholat shubuh.Padahal, suatu hari Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat,
"Amal apa yang paling mulia?"Rasul menjawab pertama kali dengan
mengatakan, "Sholat tepat waktunya
."
Sebuah
perjuangan harus kita mulai di sini.Di shubuh ini. Bila lagi dan lagi shubuh
kita terlambat, kita hanya akan melengkapi deretan generasi belakangan yang
jelek dan menyianyiakan sholat. Negeri ini hanya akan bisa bangkit di tangan
orang-orang kuat, yang punya energi shubuh.[Apakah Subuh Kita Terlambat Lagi[.
Begitu
banyaknya kita menggunakan waktu sehari semalam untuk kegiatan yang positif
seperti diskusi, seminar, dakwah, membaca, menulis dan kegiatan keumatan
lainnya, tapi waktu kita untuk mengabdi kepada Allah hanya sisa-sisa waktu dari
sekian kesibukan itu. Apalagi yang berbelimang dengan kemaksiatan, waktunya
habis untuk mengasuh keinginan sahwatnya saja dan memperturutkan kehendak
syaitan, apalagi yang ada untuk kebaikan, sehingga wajar kalau ustadz Aidh
Qarni menyatakan bahwa waktu bertaubat bagi orang itu tidak ada kesempatan
lagi.
Yang
dihitung di dunia ini bukanlah berapa lama hidup seseorang tapi apa yang
diperbuat oleh seseorang ketika dia hidup, Buya Hamka mengatakan,"Sehari
Harimau di hutan sama dengan setahun bagi seekor kijang". Bahkan dalam
beramalpun seseorang tidak dituntut apakah amal itu dapat dia nikmati atau
tidak, Rasulullah mengatakan;."Meskipun
saat kiamat akan tiba dan di tangan seseorang diantara kamu ada bibit tanaman,
kalau dia ada waktu dan sanggup sebelum kiamat datang maka tanamlah bibit itu,
dengan demikian dia akan mendapatkan pahala"
Allah
mengajak orang-orang beriman untuk punya cita-cita dalam hidup, punya harapan
yang akan dituju dan punya program untuk melangkah dalam rangka mengisi restan
dan kesempatan hidup yang ada, firman Allah dalam surat Al Hasyr 59;18 "Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan".
Seorang yang
bernama Hariet Martineau berkata,"Berfikirlah dan bertindaklah yang
terbaik hari ini untuk persiapan besok dan besok-besoknya lagi". Searah
dengan sabda nabi yang diriwayatkan oleh Baihaqi;"Beramallah kamu untuk
duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya dan beramallah untuk akheratmu
seolah-olah kamu mati besok".
Rasulullah
bersabda, "Jaga lima sebelum datang
yang lima, manfaatkan hidupmu sebelum datang matimu, masa sehatmu sebelum
datang waktu sakitmu, masa sempatmu sebelum datang masa sempitmu, masa mudamu
sebelum datang masa tuamu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu',
tanamkan dalam hidup kita agar restan umur akan kita isi dengan ibadah, tiada
waktu berlalu tanpa ibadah, tidak beribadah berarti menyia-nyiakan waktu, maka
kecelakaan akan dirasakan kelak, Wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 29 Juni
2011.M/ 27 Rajab 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar