Ada
dua watak manusia ketika dia mendapat kekuasaan apa saja apalagi sebagai
pemimpin, posisi strategis atau jabatan
lain. Pertama orang yang menganggap semua itu adalah prestise atau kebanggaan
sehingga begitu dia mendapatkannya akan dilakukan syukuran, sujud syukur,
terima kasih bahkan mengadakan pesta kemenangan. Sedangkan orang yang kedua
adalah orang yang menganggap jabatan adalah suatu amanah yang akan
dipertanggungjawabkan di hadapan manusia dan Allah kelak di akherat, dia sangat
khawatir bila menyelewengkan jabatan tersebut, segala fasilitas dia gunakan
sesuai dengan aturan agama, berhati-hati dengan apa yang diamanatkan kepadanya.
Bagi seorang mukminpun dituntut bahwa
jabatan bukanlah segala-galanya dalam perjuangan ini, dia merupakan amanah,
bila dia dipercaya maka akan dijalankan sesuai dengan kemampuan yang ada, dan
inipun hak Allah untuk memberikan kepada hamba-Nya [3;26]. Allah berhak
membeikan kekuasaan kepada siapapun, baik kafir ataupun mukmin, tapi semua itu
akan dipertanggungjawabkan di hadapanNya, kemuliaan dan kekuasaan semuanya
berada di tangan Allah; “ Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit
dan yang di bumi, dan sungguh kami Telah memerintahkan kepada orang-orang yang
diberi Kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah.
tetapi jika kamu kafir Maka (ketahuilah), Sesungguhnya apa yang di langit dan
apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha
Terpuji.”[An Nisa’ 4;131]
Saat Allah menciptakan Nabi Adam telah
diberi kekuasaan yang kita kenal dengan “khalifah”, adapun kata pengganti
tersebut dimaksudkan dengan dua arti lagi yakni; pengganti Allah atau wakil-Nya
di muka bumi atau sebagai pengganti dari jenis makhluk yang telah datang
terlebih dahulu dari Adam. Kalaupun artinya adalah pengganti jenis manusia
sebelumnya, maka dalam ayat-ayat yang lain dijelaskan bahwa “khalifah” berarti
pengganti Allah di bumi, untuk mengolah bumi dan mengatur pelaksanaan hukum
Allah [38;26, 6;165].
Bagi seorang yang mendapat jabatan dan
kekuasaan dari Allah ada beberapa kewajiban yang perlu ditunaikan diantaranya;
- Menghukum antara manusia dengan keadilan atau kebenaran.
- Jangan turut atau mengikuti hawa nafsu.
- Pangkat, jabatan, kekuasaan dan derajat itu adalah merupakan ujian dari Allah.
- Tugas untuk mengolah bumi dan memimpin manusia itu adalah sebagai ujian juga, sebagaimana orang-orang dahulu yang dijadikan berkuasa di bumi juga dicoba Allah. Maka para penguasa itu mengikuti jejak orang-orang durhaka zaman dahulu ataupun mengikuti para penguasa yang shaleh.
- Para penguasa itu hendaklah tetap menyembah Allah dan jangan mempersekutukan Allah dengan lainnya.
- Jangan pula para penguasa itu durhaka kepada Allah, sebab kalau durhaka resiko ditanggung sendiri, yakni akibat dari kedurhakaannya itu akan mereka terima berupa siksa Allah.
- Orang-orang yang beriman dan berbuat hal-hal yang baik akan dijadikan khalifah Allah di muka bumi.
Demikian besarnya tanggungjawab seorang
pemimpin, pemangku jabatan dan penguasa pada level apapun. Salah satu makna
“Laa Ilaaha Illalah” adalah “Laa amru illallah” artinya tidak ada Penguasa,
Pengatur dan Pemerinah kecuali hanya Allah. Segala kekuasaan dan jabatan yang
ada di dunia yang diemban oleh manusia adalah pendistribusian kekuasaan-Nya di
dunia ini yang wajib ditunaikan bukan diselewengkan. Itulah makanya para
sahabat Nabi, shalafus shaleh tidak begitu ambisius terhadap jabatan, tapi bila
jabatan itu diberikan kepadanya maka mereka tunaikan dengan baik. Umar bin Abdul
Azis, dikala mendapat jabatan maka ucapan pertama kali bukanlah rasa syukur
tapi ucapan seorang yang ditimpa musibah “Innalillahi wainna ilaihi raji’un”.
Tidak sedikit orang ketika sebelum
mendapat jabatan siap untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, tapi setelah
jabatan itu di tangannya maka dia lupa dengan janji-janji kampanyenya dahulu,
maksudnya akan menghauskan KKN [Korupsi, Kolusi dan Nepotisme] tapi sebaliknya
malah kengtal sekali KKN-nya sehingga wibawanya di hati ummat tidak lagi
dihargai, idealisme yang dahulu dia perjuangkan luntur dan lentur dengan materi
dan fasilitas yang tersedia, Rasulullah bersabda:
“Akan
dijumpai kelak di tengah-tengah kamu, para pembesar yang cukup mengetahui apa
yang semestinya menjadi kewajiban mereka tetapi sayang, mereka itu melakukan
kejahatan-kejahatan dan kerusakan-kerusakan.jika para pembesar itu melakkan
perbuatan yang baik, mereka sendirilah yang akan menerima pembalasannya, dan
kamu haruslah menunjukkan rasa syukur. Tetapi bila pembesar-pembesar itu melakukan
kejahatan-kejahatan, maka bencanalah yang akan ditimpakan atas pundak mereka
sendiri, sedangkan kamu semua haruslah bersikap tabah dan sabar”[HR.Muslim]
Dalam
sebuah tulisan di Majalah Sabili No. 7 tahun XIV tanggal 19 Oktober 2006
terdapat sebuah ungkapan tentang tipe seorang pemimpin yang bermental Diplomat,
hal ini saya sampaikan hanya sebatas penyambung lidah dari tulisan tersebut
yang penting sekali diketahui bagi seorang pimimpin.
Kalau
pemimpin oportunis cendrung ingin selalu menguasai dunia sekelilingnya, maka
berbeda dengan pemimpin bertipe diplomat. Tipe pemimpin seperti ini lebih
banyak berfikir untuk menyelmatkan dirinya sendiri. Kalaupun suatu saat ia
berusaha menyelamatkan orang lain, maka sebenarnya ia menyelamatkan tameng bagi
dirinya.
Teramat
berbahaya jika pemimpin bertipe ini menjabat puncak tertinggi sebuah kekuasaan.
Ia selalu berfikir “Play safe” cendrung terlalu berhati-hati, menghindari
konflik, bahkan jika perlu mengorbankan orang terdekatnya agar tidak terjadi
bentrokan.
Pemimpin
bertipe diplomat tidak mau ambil resiko, gamang. Suka menggantung-gantungkan
masalah dan sering lari dari persoalan ketimbang menyelesaikannya. Seandainya dia diangkat menjadi PJS [pejabat
sementara] atau menjadi orang kedua, ia takkan berani mengambil keputusan. Ia
akan menempatkan dirinya sebagai tokoh seremonial yang hanya jadi patung
penghias ruang pertemuan. Meski dalam kondisi amat darurat sekalipun, ia enggan
mengetukkan palu keputusan. Selagi bias mengulur waktu, ia akan menundanya
walau sedetik. Ia segan berjanji dan pada saat yang sama mempersiapkan alasan
baru untuk melanggarnya,
Wajah
lain pemimpin bertipe diplomat ini; pintar menyenangkan atasan. Ia akan
melakukan apapun perintah atasannya, meski ia sendiri tak memahami perintah
itu, bukan melakukan yang terbaik, tapi agar dirinya aman. Karena itu, pemimpin
bertipe diplomat ini banyak ditemukan pada level manajer yuniot. Ia bias saja
layak menjadi pelaksana, tapi tidak untuk menjadi konseptor, apalagi visioner.
Yang
perlu dicamkan, jangan pernah berharap mendapat bantuan dari pimimpin bertipe
diplomat ini. Ia takkan pernah memberi. Kalaupun ia membantu, mesti ada udang
di balik batu. Jangan pernah berharap bantuan, kecuali anda siap memberinya
sesuatu. Tak mesti harta. Kadang hanya untuk sebuah ide, ia akan membayar mahal
demi keselamatan dirinya.
Tipe
pemimpin seperti ini masih bisa diperbaiki. Apalagi yang bersangkutan mau
belajar. Yang perlu ia lakukan adalah belajar bersikap tegas, mandiri, bekerja
keras dan menghargai orang lain. Potensinya untuk bekerja sama dengan orang
lain harus terus dipupuk. Cuma motivasi berbau ambisi pribadinya saja yang
harus disingkirkan. Kemampuannya sebagai perekat tim adalah potensi yang perlu
ditonjolkan. Sikap patuh pada atasan juga bias positif jika dibatasi pada
hal-hal yang mengandung kemaslahatan orang banyak, dan bukan, sekali lagi, demi
kepentingan sendiri.
Yang
perlu diamputasi dari kepribadian pemimpin bertipe diplomat ini adalah sikap
licik dan ambisi pribadi.
Kepemimpinan bukanlah
hadiah yang diberikan oleh rakyat kepada calon pemimpinnya tapi kepemimpinan
adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan dihadapan
Allah nanti, karena seorang pemimpin itu adalah orang yang siap menangguh
tanggung jawab maka Rasulullah memberikan kriteria bagi pemimpin ummat ini,
baik pemimpin level rumah tangga ataupun memimpin sebuah negara, Rasulullah bersabda; "Kamu semua
adalah pemimpin, dan setiap pemimpin kelak akan diminta pertanggungjawabannya
terhadap apa yang telah dipimpinnya".
1.Berpengetahuan luas
Seorang pemimpin
harus punya pengetahuan yang luas karena dia harus berhadapan dengan
masyarakatnya yang multi komplek, untuk itu harus punya ilmu. Satu ketika
Rasulullah didatangi oleh seseorang yang ingin masuk Islam, maka cukup hanya
dengan meninggalkan perbuatan berbohong, tapi dikala datang seorang lagi dengan
maksud yang sama, lansung setelah mengucapkan shahadat memerintahkan untuk
jihad di medan perang. Ini menunjukkan luasnya pengetahuan Rasul sehingga
menempat orang pada posisinya masing-masing, dalam memimpin perlu ilmu yang
mencakup kepada kepemimpinannya; "Niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa
yang kamu kerjakan" [Al Mujadalah 58;11]
2.Bertindak adil, jujur dan konsekwen
Kekuasaan
cendrung membuat orang bertindak tidak adil, korup dan tidak konsekwen dalam
kepemimpinannya, maka pemimpin yang demikian tidak akan bertahan lama karena
andaikata dia berkuasa lama tentu kesengsaraan rakyat semakin lama dirasakan,
seorang pemimpin harus adil, jujur dan konsekwen. Rasulullah
menyatakan,"Andaikata Fatimah anakku mencuri maka dia akan ku potong tangannya"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat
kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
mendengar lagi Maha Melihat. [An Nisa' 4;58]
3.Bertanggungjawab
Seorang pemimpin
bukan hanya bertanggungjawab terhadap jabatannya tapi dia juga harus
bertanggung jawab terhadap masyarakatnya hingga lapisan bawah, Umar bin Khattab
menyatakan "andaikata ada kuda yang terperosok dalam sebuah lubang
diperjalanan maka Umar bertanggungjawab tentang itu". Katakanlah: "Apakah Aku akan mencari Tuhan
selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah
seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri;
dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada
Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu
perselisihkan." [Al An'am 6;164]
4.Selektif terhadap informasi
Pengaduan yang
datang dari berbagai lapisan masyarakat harus diterima dengan menyikapi
terlebih dahulu seselektif mungkin, karena da pengaduan berupa informasi yang
menyesatkan dan ada yang provokatif, bila ditelan apa adanya maka dapat merusak
kepemimpinan seseorang, Allah menyarankan agar seorang pemimpin itu harus
selektif dalam menerima informasi dengan melakukan cek dan ricek kepada sumber
berita; Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa
suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu
musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu
menyesal atas perbuatanmu itu. [Al Hujurat 49;6]
5.Memberikan peringatan
Rasulullah
menyatakan bahwa bila kita melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan,
tidak mampu rubahlah dengan lisan, bila tidak mampu maka cukup dengan hati
saja. Yang dimaksud dengan tangan adalah kekuasaan dan jabatan, dengan itu
peringatan akan didengar oleh masyarakatnya karena yang memberi peringatan
adalah seorang pemimpin."Dan
tetaplah memberi peringatan, Karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi
orang-orang yang beriman.[Azd Zdariat 51;55]
6.Memberikan petunjuk dan arahan
Seorang pemimpin
harus mampu memberikan petunjuk dan arahan kepada masyarakatnya, dia sebagai
suluh saat gelap datang dan sebagai tongkat dikala siang. Petunjuk dan
arahannya akan diikuti oleh
masyarakatnya, itulah bedanya seorang pemimpin dengan seorang pemimpi, seorang
pemimpin dia bekerja untuk rakyatnya sedangkan pemimpi dia akan berkhayal untuk
dirinya; Dan kami jadikan di antara
mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah.....[ Asy
Sajadah 32;24]
7.Bermusyawarah
Sifat diktator
bukanlah watak seorang pemimpin yang baik, dia harus mampu mengakomodir
pendapat orang lain dengan jalan musyawarah sehingga tindakannya adalah
tindakan bersama karena memang keberadaannya kebersamaan, bersama
masyarakatnya; Maka disebabkan rahmat dari
Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap
keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.
Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah
membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.[Ali Imra 3;159]
8.Kebebasan berpendapat
Pemimpin tidak
boleh mengekang pendapat/ suara rakyatnya demi menegakkan kebenaran, sebagaimana kisah Umar bin
Khattab; dikala dia sedang menyampaikan pesan-pesan kepada
rakyatnya,"Siapa saja diantara kalian yang melihat kekeliruanku maka
luruskanlah aku", maka tampillah seorang pemuda yang mengataka,"Hai
Khalifah, kalau anda keliru dalam menjalankan pemerintahan ini maka pedangku
inilah yang akan meluruskannya", mendengar itu Umar malah tersenyum dan
menjawab,"Alhamdulillah masih ada yang menegurku".
Kepemimpinan Rasulullah tergambar dalam surat
dibawah ini;" Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu
sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan
keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang
mukmin." [ At Taubah 9;128]
Ciri
kepemimpinan Rasulullah adalah kepemimpinan yang baik dengan kriteria; belia hadir dari
kalangan kaumnya sendiri sehingga
keberadaannya diterima oleh masyarakatnya. Beliau sama-sama merasakan
penderitaan masyarakatnya, sesakit dan sesenang bahkan Muhammad adalah orang
yang dikala ummatnya menderita beliaulah orang yang pertama merasakan
penderitaan itu tapi dikala mendapat kesenangan maka beliaulah orang yang
terakhir merasakan kesenangan tadi. Beliau adalah orang yang menginginkan
keselamatan untuk rakyatnya sehingga dikala ajal akan menjemput nabi selalu
menyebut-nyebut ummatnmya dan beliau adalah orang yang mempunyai kasih sayang
terhadap yang dipimpinnya.
Dimasa awal kerasulan beliau, Muhammad sering berada di gua Hira
memikirkan kerusakan dan kehancuran ummat ketika itu, dia ingin menemukan jalan
yang pas untuk memperbaiki sikap dan watak jahiliyah, akhirnya dalam waktu dua
puluh tiga tahun lebih kurang dia mampu mengembalikan ummat jahiliyah ke alam
yang penuh dengan nur islam. Sebagai pemimpin yang dia fikirkan ialah bagaimana
rakyat bisa baik akhlak dan kepribadiannya, jauh sekali Muhammad memikirkan
kepentingan keluarga dan pribadinya. Suatu ketika saat ummat Islam mampu
menaklukkan suatu negeri, banyak ghanimah [harta rampasan perang] yang
diperoleh, semua ghanimah itu selesai dia bagikan untuk kaum muslimin yang
memerlukan, sedangkan anaknya, Fatimah
ketika itu sangat membutuhkan seorang pembantu mengerjakan pekerjaan rumah,
dengan pinta yang penuh pilu Fatimah mengajukan permohonannya, tapi Rasulullah
menjawab bahwa semua telah dibagikan, tidak ada lagi untuk kita.
Diwaktu
terjadi banjir, Hajar Aswad yang ada di Ka’bah jatuh dari tempatnya, semua
kabilah beranggapan merekalah yang berhak meletakkan batu hitam itu, hampir
terjadi pertempuran, maka datanglah Muhammad yang ketika itu masih muda sekali
untuk menyelesaikannya, sehingga detik
itu juga beliau dapat julukan Al Amin artinya orang yang dapat dipercaya.
Dari
kisah diatas dapat ditarik pelajaran bahwa Rasulullah sebagai calon pemimpin
siap bergaul dengan masyarakat, ikut terlibat dengan kegiatan ummat, dia tidak
hidup dengan sikap individualis, keterlibatan Rasulpun terlihat ketika beliau
ikut mendirikan masjid Quba dan Masjid Nabawi di Madinah, beliau ikut memanggul
batu, ikut bergelimang debu bersama sahabatnya. Walaupun dia seorang pimpinan
tapi tidak mau diistimewakan oleh rakyatnya, hal ini terlihat ketika dalam
suatu perjalanan bersama sahabatnya, saat beristirahat seluruh sahabat bekerja
menyiapkan makanan, ada yang mencari kayu bakar, ada yang menghidupkan api, ada
yang memasak, maka Rasululah ikut mencari kayu bakar, sebagian sahabat berkata, “Ya Rasulullah, biarlah kami saja yang
bekerja, tuan duduk sajalah, sebab tenaga kami sudah cukup untuk menyiapkan
makanan”, lalu beliau berkata, “Aku
tidak suka dengan kalian yang mengistimewakan aku”.
Ini
pribadi agung, yang jarang sekali ditemukan dizaman sekarang, dan ini bukan
basa-basi karena beliau seorang pemimpin tapi juga seorang pribadi agung yang
bernama Muhammad. Begitu pula isteri beliau yang telah dikader dengan
pengkadean yang cukup matang, siap mengorbankan harta yang dimilikinya demi
tegaknya Islam yaitu ibunda Khadijah. Seorang isteri pemimpin ummat, tidak silau dengan kemewahan bahkan
mengorbankan hartanya untuk perjuangan.
Ketika ajal hampir datang, Rasul tidak
mampu lagi memimpin shalat sehingga diserahkan kepada Abu Bakar, ini sebagai
simbul bahwa kelak Abu Bakar yang akan memimpin ummat ini. Dengan berat hati
Abu Bakar memimpin shalat berjamaah saat Rasulullah dalam keadaan sakit. Suatu
ajaran kepada kita, bila sebagai pimpinan, pimpinan apa saja, bila sudah tidak
mampu lagi melaksanakan tugas, lebih banyak uzurnya dari pada hadirnya maka
serahkanlah tugas itu kepada kader yang telah dipersiapkan, jangan dipaksakan,
apalagi kita sebagai pimpinan sudah tidak disenangi lagi oleh bawahan,
berikanlah kepada orang lain.
Segala jabatan yang dimiliki manusia
adalah kekuasaan-kekuasaan kecil di bawah kekuasaan Allah, sehingga tidak layak
muncul raja-raja kecil yang ingin mengalahkan kekuasaan Allah sebagaimana
Fir’aun dan Namrudz atau raja siapa saja harus menyadari posisinya bahwa dia
adalah raja-raja kecil yang dibawah kekuasaan Khaliqnya yaitu Allah [114;1-3] .
Seorang khalifah, penguasa, pejabat atau
raja-raja kecil yang diberikan wewenang berkewajiban untuk menggunakan
fasilitas tersebut demi kemakmuran rakyatnya bukan untuk memperbesar tabungan
dan kelanggengan jabatannya. Kewajibannya terhadap diri sendiri yaitu menuntut
ilmu sebagai bekalnya di akherat kelak [2;31], menghiasi diri dengan
akhlak-akhlak islam [2;112] baik dalam rumah tangga atau kepada rakyatnya
sehingga keberadaannya dihargai oleh masyarakat yang dipimpinnya, menggunakan
jabatan tersebut untuk menegakkan nilai-nilai islam melalui amar ma’ruf nahi
mungkar serta memperbanyak ibadah dalam seluruh asfek kehidupan.
Dengan jabatan bagi seorang mukmin semakin
tawadhu’ kepada Allah bukan malah semakin sombong, lihatlah ketika Rasulullah
mampu menaklukkan Mekkah kembali,beliau
berjalan dengan menundukkan muka, merendahkan diri, jauh dari sifat
sombong dan takabur, apalagi menjadikan dirinya sebagai figur yang harus dikultuskan
bahkan dituhankan; “Tidak wajar bagi
seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian,
lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi
penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata):
"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu
mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”[Ali Imran 3;79].
Ini pulalah yang dinampakkan oleh Abu Bakar ketika dia
mendapat dunia berupa jabatan dan kekuasaan dengan mengatakan,”Ya Allah letakkanlah jabatan itu di tanganku
sehingga aku dapat menggunakannya sesuai dengan kehendak-Mu, dan jangan Kau
letakkan di hatiku maka aku akan diaturnya” .ketika dia diangkat sebagai
pemimpin ummat menggantikan Rasulullah, saat itu dia menyampaikan pidato
kenegaraan, pidato seorang pemimpin yang kharismatik, sehingga layak kalau pidatonya ini disebut
dengan sepuluh prinsip kepemimpinan yaitu;
1.Hai
Manusia, sesungguhnya saya telah ditunjuk untuk jadi pemimpin kalian
2.Saya
bukanlah yang paling baik dari kalian
3.Bila saya
berbuat baik bantulah saya
4.Bila saya
benar belalah saya
5.Kejujuran
itu amanah Allah
6.Curang itu
khianat kepada Allah
7.Yang lemah diantara
kalian menjadi kuat disisiku sehingga saya berikan haknya
8.dan yang kuat diantara
kalian adalah lemah pada sisiku sehingga saya mengambil haknya, insya Allah
9.Janganlah salah
seorang diantara kamu meninggalkan jihad, karena bila ditinggalkan oleh suatu
kaum maka Allah akan menimpakan kepada mereka dengan kehinaan
10.Taatlah kepadaku
selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bila saya menentang Allah dan
Rasul-Nya, maka tidak wajib kalian mentaatiku". ,wallahu a’lam.[Cubadak Solok, 16 Ramadhan 1431.H/
26 Agustus 2010.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar