Kamis, 10 Desember 2015

44. Pemimpin



Ada dua watak manusia ketika dia mendapat kekuasaan apa saja apalagi sebagai pemimpin,  posisi strategis atau jabatan lain. Pertama orang yang menganggap semua itu adalah prestise atau kebanggaan sehingga begitu dia mendapatkannya akan dilakukan syukuran, sujud syukur, terima kasih bahkan mengadakan pesta kemenangan. Sedangkan orang yang kedua adalah orang yang menganggap jabatan adalah suatu amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan manusia dan Allah kelak di akherat, dia sangat khawatir bila menyelewengkan jabatan tersebut, segala fasilitas dia gunakan sesuai dengan aturan agama, berhati-hati dengan apa yang diamanatkan kepadanya.

          Bagi seorang mukminpun dituntut bahwa jabatan bukanlah segala-galanya dalam perjuangan ini, dia merupakan amanah, bila dia dipercaya maka akan dijalankan sesuai dengan kemampuan yang ada, dan inipun hak Allah untuk memberikan kepada hamba-Nya [3;26]. Allah berhak membeikan kekuasaan kepada siapapun, baik kafir ataupun mukmin, tapi semua itu akan dipertanggungjawabkan di hadapanNya, kemuliaan dan kekuasaan semuanya berada di tangan Allah;    “ Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh kami Telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. tetapi jika kamu kafir Maka (ketahuilah), Sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.”[An Nisa’ 4;131]

        Saat Allah menciptakan Nabi Adam telah diberi kekuasaan yang kita kenal dengan “khalifah”, adapun kata pengganti tersebut dimaksudkan dengan dua arti lagi yakni; pengganti Allah atau wakil-Nya di muka bumi atau sebagai pengganti dari jenis makhluk yang telah datang terlebih dahulu dari Adam. Kalaupun artinya adalah pengganti jenis manusia sebelumnya, maka dalam ayat-ayat yang lain dijelaskan bahwa “khalifah” berarti pengganti Allah di bumi, untuk mengolah bumi dan mengatur pelaksanaan hukum Allah [38;26, 6;165].

            Bagi seorang yang mendapat jabatan dan kekuasaan dari Allah ada beberapa kewajiban yang perlu ditunaikan diantaranya;
  1. Menghukum antara manusia dengan keadilan atau kebenaran.
  2. Jangan turut atau mengikuti hawa nafsu.
  3. Pangkat, jabatan, kekuasaan dan derajat itu adalah merupakan ujian dari Allah.
  4. Tugas untuk mengolah bumi dan memimpin manusia itu adalah sebagai ujian juga, sebagaimana orang-orang dahulu yang dijadikan berkuasa di bumi juga dicoba Allah. Maka para penguasa itu mengikuti jejak orang-orang durhaka zaman dahulu ataupun mengikuti para penguasa  yang  shaleh.
  5. Para penguasa itu hendaklah tetap menyembah Allah dan jangan mempersekutukan Allah dengan lainnya.
  6. Jangan pula para penguasa itu durhaka kepada Allah, sebab kalau  durhaka resiko ditanggung sendiri, yakni akibat dari kedurhakaannya itu akan mereka terima berupa siksa Allah.
  7. Orang-orang yang beriman dan berbuat hal-hal yang baik akan dijadikan khalifah Allah di muka bumi.

Demikian besarnya tanggungjawab seorang pemimpin, pemangku jabatan dan penguasa pada level apapun. Salah satu makna “Laa Ilaaha Illalah” adalah “Laa amru illallah” artinya tidak ada Penguasa, Pengatur dan Pemerinah kecuali hanya Allah. Segala kekuasaan dan jabatan yang ada di dunia yang diemban oleh manusia adalah pendistribusian kekuasaan-Nya di dunia ini yang wajib ditunaikan bukan diselewengkan. Itulah makanya para sahabat Nabi, shalafus shaleh tidak begitu ambisius terhadap jabatan, tapi bila jabatan itu diberikan kepadanya maka mereka tunaikan dengan baik. Umar bin Abdul Azis, dikala mendapat jabatan maka ucapan pertama kali bukanlah rasa syukur tapi ucapan seorang yang ditimpa musibah “Innalillahi wainna ilaihi raji’un”.

Tidak sedikit orang ketika sebelum mendapat jabatan siap untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, tapi setelah jabatan itu di tangannya maka dia lupa dengan janji-janji kampanyenya dahulu, maksudnya akan menghauskan KKN [Korupsi, Kolusi dan Nepotisme] tapi sebaliknya malah kengtal sekali KKN-nya sehingga wibawanya di hati ummat tidak lagi dihargai, idealisme yang dahulu dia perjuangkan luntur dan lentur dengan materi dan fasilitas yang tersedia, Rasulullah bersabda:
“Akan dijumpai kelak di tengah-tengah kamu, para pembesar yang cukup mengetahui apa yang semestinya menjadi kewajiban mereka tetapi sayang, mereka itu melakukan kejahatan-kejahatan dan kerusakan-kerusakan.jika para pembesar itu melakkan perbuatan yang baik, mereka sendirilah yang akan menerima pembalasannya, dan kamu haruslah menunjukkan rasa syukur. Tetapi bila pembesar-pembesar itu melakukan kejahatan-kejahatan, maka bencanalah yang akan ditimpakan atas pundak mereka sendiri, sedangkan kamu semua haruslah bersikap tabah dan sabar”[HR.Muslim]   

Dalam sebuah tulisan di Majalah Sabili No. 7 tahun XIV tanggal 19 Oktober 2006 terdapat sebuah ungkapan tentang tipe seorang pemimpin yang bermental Diplomat, hal ini saya sampaikan hanya sebatas penyambung lidah dari tulisan tersebut yang penting sekali diketahui bagi seorang pimimpin.

Kalau pemimpin oportunis cendrung ingin selalu menguasai dunia sekelilingnya, maka berbeda dengan pemimpin bertipe diplomat. Tipe pemimpin seperti ini lebih banyak berfikir untuk menyelmatkan dirinya sendiri. Kalaupun suatu saat ia berusaha menyelamatkan orang lain, maka sebenarnya ia menyelamatkan tameng bagi dirinya.
Teramat berbahaya jika pemimpin bertipe ini menjabat puncak tertinggi sebuah kekuasaan. Ia selalu berfikir “Play safe” cendrung terlalu berhati-hati, menghindari konflik, bahkan jika perlu mengorbankan orang terdekatnya agar tidak terjadi bentrokan.

Pemimpin bertipe diplomat tidak mau ambil resiko, gamang. Suka menggantung-gantungkan masalah dan sering lari dari persoalan ketimbang menyelesaikannya.  Seandainya dia diangkat menjadi PJS [pejabat sementara] atau menjadi orang kedua, ia takkan berani mengambil keputusan. Ia akan menempatkan dirinya sebagai tokoh seremonial yang hanya jadi patung penghias ruang pertemuan. Meski dalam kondisi amat darurat sekalipun, ia enggan mengetukkan palu keputusan. Selagi bias mengulur waktu, ia akan menundanya walau sedetik. Ia segan berjanji dan pada saat yang sama mempersiapkan alasan baru untuk melanggarnya,

Wajah lain pemimpin bertipe diplomat ini; pintar menyenangkan atasan. Ia akan melakukan apapun perintah atasannya, meski ia sendiri tak memahami perintah itu, bukan melakukan yang terbaik, tapi agar dirinya aman. Karena itu, pemimpin bertipe diplomat ini banyak ditemukan pada level manajer yuniot. Ia bias saja layak menjadi pelaksana, tapi tidak untuk menjadi konseptor, apalagi visioner.

Yang perlu dicamkan, jangan pernah berharap mendapat bantuan dari pimimpin bertipe diplomat ini. Ia takkan pernah memberi. Kalaupun ia membantu, mesti ada udang di balik batu. Jangan pernah berharap bantuan, kecuali anda siap memberinya sesuatu. Tak mesti harta. Kadang hanya untuk sebuah ide, ia akan membayar mahal demi keselamatan dirinya.

Tipe pemimpin seperti ini masih bisa diperbaiki. Apalagi yang bersangkutan mau belajar. Yang perlu ia lakukan adalah belajar bersikap tegas, mandiri, bekerja keras dan menghargai orang lain. Potensinya untuk bekerja sama dengan orang lain harus terus dipupuk. Cuma motivasi berbau ambisi pribadinya saja yang harus disingkirkan. Kemampuannya sebagai perekat tim adalah potensi yang perlu ditonjolkan. Sikap patuh pada atasan juga bias positif jika dibatasi pada hal-hal yang mengandung kemaslahatan orang banyak, dan bukan, sekali lagi, demi kepentingan sendiri.
Yang perlu diamputasi dari kepribadian pemimpin bertipe diplomat ini adalah sikap licik dan ambisi pribadi.

Kepemimpinan bukanlah hadiah yang diberikan oleh rakyat kepada calon pemimpinnya tapi kepemimpinan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan dihadapan Allah nanti, karena seorang pemimpin itu adalah orang yang siap menangguh tanggung jawab maka Rasulullah memberikan kriteria bagi pemimpin ummat ini, baik pemimpin level rumah tangga ataupun memimpin sebuah negara,  Rasulullah bersabda; "Kamu semua adalah pemimpin, dan setiap pemimpin kelak akan diminta pertanggungjawabannya terhadap apa yang telah dipimpinnya".

1.Berpengetahuan luas
            Seorang pemimpin harus punya pengetahuan yang luas karena dia harus berhadapan dengan masyarakatnya yang multi komplek, untuk itu harus punya ilmu. Satu ketika Rasulullah didatangi oleh seseorang yang ingin masuk Islam, maka cukup hanya dengan meninggalkan perbuatan berbohong, tapi dikala datang seorang lagi dengan maksud yang sama, lansung setelah mengucapkan shahadat memerintahkan untuk jihad di medan perang. Ini menunjukkan luasnya pengetahuan Rasul sehingga menempat orang pada posisinya masing-masing, dalam memimpin perlu ilmu yang mencakup kepada kepemimpinannya; "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan" [Al Mujadalah 58;11]

2.Bertindak adil, jujur dan konsekwen
            Kekuasaan cendrung membuat orang bertindak tidak adil, korup dan tidak konsekwen dalam kepemimpinannya, maka pemimpin yang demikian tidak akan bertahan lama karena andaikata dia berkuasa lama tentu kesengsaraan rakyat semakin lama dirasakan, seorang pemimpin harus adil, jujur dan konsekwen. Rasulullah menyatakan,"Andaikata Fatimah anakku mencuri maka dia akan  ku potong tangannya"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat. [An Nisa' 4;58]

3.Bertanggungjawab
            Seorang pemimpin bukan hanya bertanggungjawab terhadap jabatannya tapi dia juga harus bertanggung jawab terhadap masyarakatnya hingga lapisan bawah, Umar bin Khattab menyatakan "andaikata ada kuda yang terperosok dalam sebuah lubang diperjalanan maka Umar bertanggungjawab tentang itu". Katakanlah: "Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan." [Al An'am 6;164]

4.Selektif terhadap informasi
            Pengaduan yang datang dari berbagai lapisan masyarakat harus diterima dengan menyikapi terlebih dahulu seselektif mungkin, karena da pengaduan berupa informasi yang menyesatkan dan ada yang provokatif, bila ditelan apa adanya maka dapat merusak kepemimpinan seseorang, Allah menyarankan agar seorang pemimpin itu harus selektif dalam menerima informasi dengan melakukan cek dan ricek kepada sumber berita;  Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. [Al Hujurat 49;6]

5.Memberikan peringatan
            Rasulullah menyatakan bahwa bila kita melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan, tidak mampu rubahlah dengan lisan, bila tidak mampu maka cukup dengan hati saja. Yang dimaksud dengan tangan adalah kekuasaan dan jabatan, dengan itu peringatan akan didengar oleh masyarakatnya karena yang memberi peringatan adalah seorang pemimpin."Dan tetaplah memberi peringatan, Karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.[Azd Zdariat 51;55]

6.Memberikan petunjuk dan arahan
            Seorang pemimpin harus mampu memberikan petunjuk dan arahan kepada masyarakatnya, dia sebagai suluh saat gelap datang dan sebagai tongkat dikala siang. Petunjuk dan arahannya akan  diikuti oleh masyarakatnya, itulah bedanya seorang pemimpin dengan seorang pemimpi, seorang pemimpin dia bekerja untuk rakyatnya sedangkan pemimpi dia akan berkhayal untuk dirinya; Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah.....[ Asy Sajadah 32;24]

7.Bermusyawarah
            Sifat diktator bukanlah watak seorang pemimpin yang baik, dia harus mampu mengakomodir pendapat orang lain dengan jalan musyawarah sehingga tindakannya adalah tindakan bersama karena memang keberadaannya kebersamaan, bersama masyarakatnya; Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.[Ali Imra 3;159]


8.Kebebasan berpendapat
            Pemimpin tidak boleh mengekang pendapat/ suara rakyatnya demi menegakkan  kebenaran, sebagaimana kisah Umar bin Khattab; dikala dia sedang menyampaikan pesan-pesan kepada rakyatnya,"Siapa saja diantara kalian yang melihat kekeliruanku maka luruskanlah aku", maka tampillah seorang pemuda yang mengataka,"Hai Khalifah, kalau anda keliru dalam menjalankan pemerintahan ini maka pedangku inilah yang akan meluruskannya", mendengar itu Umar malah tersenyum dan menjawab,"Alhamdulillah masih ada yang menegurku".

Kepemimpinan Rasulullah tergambar dalam surat dibawah ini;" Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin." [ At Taubah 9;128]

Ciri kepemimpinan Rasulullah adalah kepemimpinan yang  baik dengan kriteria; belia hadir dari kalangan kaumnya  sendiri sehingga keberadaannya diterima oleh masyarakatnya. Beliau sama-sama merasakan penderitaan masyarakatnya, sesakit dan sesenang bahkan Muhammad adalah orang yang dikala ummatnya menderita beliaulah orang yang pertama merasakan penderitaan itu tapi dikala mendapat kesenangan maka beliaulah orang yang terakhir merasakan kesenangan tadi. Beliau adalah orang yang menginginkan keselamatan untuk rakyatnya sehingga dikala ajal akan menjemput nabi selalu menyebut-nyebut ummatnmya dan beliau adalah orang yang mempunyai kasih sayang terhadap yang dipimpinnya.

Dimasa awal kerasulan  beliau, Muhammad sering berada di gua Hira memikirkan kerusakan dan kehancuran ummat ketika itu, dia ingin menemukan jalan yang pas untuk memperbaiki sikap dan watak jahiliyah, akhirnya dalam waktu dua puluh tiga tahun lebih kurang dia mampu mengembalikan ummat jahiliyah ke alam yang penuh dengan nur islam. Sebagai pemimpin yang dia fikirkan ialah bagaimana rakyat bisa baik akhlak dan kepribadiannya, jauh sekali Muhammad memikirkan kepentingan keluarga dan pribadinya. Suatu ketika saat ummat Islam mampu menaklukkan suatu negeri, banyak ghanimah [harta rampasan perang] yang diperoleh, semua ghanimah itu selesai dia bagikan untuk kaum muslimin yang memerlukan, sedangkan anaknya,  Fatimah ketika itu sangat membutuhkan seorang pembantu mengerjakan pekerjaan rumah, dengan pinta yang penuh pilu Fatimah mengajukan permohonannya, tapi Rasulullah menjawab bahwa semua telah dibagikan, tidak ada lagi untuk kita.

            Diwaktu terjadi banjir, Hajar Aswad yang ada di Ka’bah jatuh dari tempatnya, semua kabilah beranggapan merekalah yang berhak meletakkan batu hitam itu, hampir terjadi pertempuran, maka datanglah Muhammad yang ketika itu masih muda sekali untuk  menyelesaikannya, sehingga detik itu juga beliau dapat julukan Al Amin artinya orang yang dapat dipercaya.

            Dari kisah diatas dapat ditarik pelajaran bahwa Rasulullah sebagai calon pemimpin siap bergaul dengan masyarakat, ikut terlibat dengan kegiatan ummat, dia tidak hidup dengan sikap individualis, keterlibatan Rasulpun terlihat ketika beliau ikut mendirikan masjid Quba dan Masjid Nabawi di Madinah, beliau ikut memanggul batu, ikut bergelimang debu bersama sahabatnya. Walaupun dia seorang pimpinan tapi tidak mau diistimewakan oleh rakyatnya, hal ini terlihat ketika dalam suatu perjalanan bersama sahabatnya, saat beristirahat seluruh sahabat bekerja menyiapkan makanan, ada yang mencari kayu bakar, ada yang menghidupkan api, ada yang memasak, maka Rasululah ikut mencari kayu bakar, sebagian sahabat berkata, “Ya Rasulullah, biarlah kami saja yang bekerja, tuan duduk sajalah, sebab tenaga kami sudah cukup untuk menyiapkan makanan”, lalu beliau berkata, “Aku tidak suka dengan kalian yang mengistimewakan aku”.

            Ini pribadi agung, yang jarang sekali ditemukan dizaman sekarang, dan ini bukan basa-basi karena beliau seorang pemimpin tapi juga seorang pribadi agung yang bernama Muhammad. Begitu pula isteri beliau yang telah dikader dengan pengkadean yang cukup matang, siap mengorbankan harta yang dimilikinya demi tegaknya Islam yaitu ibunda Khadijah. Seorang isteri pemimpin ummat, tidak silau dengan kemewahan bahkan mengorbankan hartanya untuk perjuangan.

Ketika ajal hampir datang, Rasul tidak mampu lagi memimpin shalat sehingga diserahkan kepada Abu Bakar, ini sebagai simbul bahwa kelak Abu Bakar yang akan memimpin ummat ini. Dengan berat hati Abu Bakar memimpin shalat berjamaah saat Rasulullah dalam keadaan sakit. Suatu ajaran kepada kita, bila sebagai pimpinan, pimpinan apa saja, bila sudah tidak mampu lagi melaksanakan tugas, lebih banyak uzurnya dari pada hadirnya maka serahkanlah tugas itu kepada kader yang telah dipersiapkan, jangan dipaksakan, apalagi kita sebagai pimpinan sudah tidak disenangi lagi oleh bawahan, berikanlah kepada  orang lain.

Segala jabatan yang dimiliki manusia adalah kekuasaan-kekuasaan kecil di bawah kekuasaan Allah, sehingga tidak layak muncul raja-raja kecil yang ingin mengalahkan kekuasaan Allah sebagaimana Fir’aun dan Namrudz atau raja siapa saja harus menyadari posisinya bahwa dia adalah raja-raja kecil yang dibawah kekuasaan Khaliqnya yaitu Allah [114;1-3] . Seorang  khalifah, penguasa, pejabat atau raja-raja kecil yang diberikan wewenang berkewajiban untuk menggunakan fasilitas tersebut demi kemakmuran rakyatnya bukan untuk memperbesar tabungan dan kelanggengan jabatannya. Kewajibannya terhadap diri sendiri yaitu menuntut ilmu sebagai bekalnya di akherat kelak [2;31], menghiasi diri dengan akhlak-akhlak islam [2;112] baik dalam rumah tangga atau kepada rakyatnya sehingga keberadaannya dihargai oleh masyarakat yang dipimpinnya, menggunakan jabatan tersebut untuk menegakkan nilai-nilai islam melalui amar ma’ruf nahi mungkar serta memperbanyak ibadah dalam seluruh asfek kehidupan.

Dengan jabatan bagi seorang mukmin semakin tawadhu’ kepada Allah bukan malah semakin sombong, lihatlah ketika Rasulullah mampu menaklukkan Mekkah kembali,beliau  berjalan dengan menundukkan muka, merendahkan diri, jauh dari sifat sombong dan takabur, apalagi menjadikan dirinya sebagai figur yang harus dikultuskan bahkan dituhankan; “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”[Ali Imran 3;79].

Ini pulalah   yang dinampakkan oleh Abu Bakar ketika dia mendapat dunia berupa jabatan dan kekuasaan dengan mengatakan,”Ya  Allah letakkanlah jabatan itu di tanganku sehingga aku dapat menggunakannya sesuai dengan kehendak-Mu, dan jangan Kau letakkan di hatiku maka aku akan diaturnya” .ketika dia diangkat sebagai pemimpin ummat menggantikan Rasulullah, saat itu dia menyampaikan pidato kenegaraan, pidato seorang pemimpin yang kharismatik,  sehingga layak kalau pidatonya ini disebut dengan sepuluh prinsip kepemimpinan yaitu;
1.Hai Manusia, sesungguhnya saya telah ditunjuk untuk jadi pemimpin kalian
2.Saya bukanlah yang paling baik dari kalian
3.Bila saya berbuat baik bantulah saya
4.Bila saya benar belalah saya
5.Kejujuran itu amanah Allah
6.Curang itu khianat kepada Allah
7.Yang lemah diantara kalian menjadi kuat disisiku sehingga saya berikan haknya
8.dan yang kuat diantara kalian adalah lemah pada sisiku sehingga saya mengambil  haknya, insya Allah
9.Janganlah salah seorang diantara kamu meninggalkan jihad, karena bila ditinggalkan oleh suatu kaum maka Allah akan menimpakan kepada mereka dengan kehinaan
10.Taatlah kepadaku selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bila saya menentang Allah dan Rasul-Nya, maka tidak wajib kalian mentaatiku". ,wallahu a’lam.[Cubadak Solok, 16 Ramadhan 1431.H/ 26 Agustus 2010.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar