Jumat, 18 Desember 2015

103. Militan



Keberhasilan suatu kepemimpinan cendrung diukur dari pembangunan fisik, sudah berapa buah gedung bertingkat dibangun, jembatan yang direhab, jalan yang dirintis. Masjid yang diperindah serta sekian laporan pembangunan yang selesai diresmikan. Dan itu benar,disamping dibutuhkan biaya yang tidak sedikit waktu yang relatif singkat, hal itu mudah dilakukan oleh siapa saja tapi baru satu asfek yang nampak padahal ruang lingkup pembangunan itu mencakup fisik, mental dan asfek lainnya.

            Seorang Soekarno selain deklarator bangsa ini juga dikenang dengan usahanya membangun monumental yang kita kenal dengan Monas meskipun ketika itu kehidupan masyarakat menjerit dalam kemiskinan. Demikian pula keberhasilan Soeharto karena dia mampu menciptakan berbagai bangunan pencakar langit sehingga dijuluki ”Bapak Pembangunan” meskipun banyak tanah rakyat yang digusur tanpa penyelesaian yang jelas.

            Kita memang membutuhkan sarana dan prasarana yang bisa ditunjang dengan pembangunan fisik yang berkesinambungan apalagi kemakmuran rakyat biasanya diukur dari tempat tinggal seseorang, di kompleks mana, gang apa dan kendaraan jenis apa yang dimilikinya. Semua itu tidak kita pungkiri, bahkan Iskandar Zulkarnain seorang raja yang beriman kepada Allah mempunyai benteng yang kokoh untuk mempertahankan rakyatnya dari serangan negara bar-bar lain. Sulaimanpun punya kerajaan yang bagus dilengkapi dengan gedung perkotaan gaya metropolitan. Tapi mereka tidak meluakan untuk membangun mental dan spiritual rakyatnya agar hidup qana’ah tawaddhu dan tidak mempertuhankan selain Allah.

            Menurut konsep da’wah, dalam rangka membangun mental manusia ada tiga unsur pembangunan yang perlu dilakukan yaitu fisik, aqal dan ruhi yang kesemuanya harus diperhatikan, bila tidak akan terjadi kepincangan padahal kita harus hidup tawazun yaitu seimbang dalam membangunnya, yang selama ini kita hanya memprioritaskan pembangunan fisik dan aqal saja dengan mengabaikan ruhani sehingga terbentuk manusia gagah dan cerdas tapi tidak baik dan jauh dari aturan agama. Ruhani atau mental manusia perlu dibangun dengan nilai-nilai agama sehingga kepentingan dunia akherat diletakkan secara adil. [Tabloid Suara Solinda No 15/Januari 2002].

Islam adalah agama yang komprehensif, termasuk ketika mencari ketenangan jiwa.Islam itu agama yang sempurna, mencakup seluruh aspek dalam kehidupan manusia.Namun dalam praktiknya, umat ini mengambil sepotong-sepotong, lalu yang sepotong itu ditambah-tambah dan dicari hal-hal yang baru.
Akibatnya, tercampurlah ketauhidan dan kemusyrikan, yang hak dengan yang batil.Ketika Islam tidak dipahami secara utuh, maka pelariannya adalah mencari komunitas spiritual yang secara akidah, terdapat penyimpangan dan tidak sesuai dengan syariat Islam.Seolah Islam tidak memiliki metode dan terapi bagi mereka yang mendambakan ketenangan batin.

Ketenangan itu bermula dari persoalan keimanan.Orang kalau beriman jadi tenang. Dengan iman, ia percaya dengan Allah. Kalau percaya ia menjadi paham.  Karena itu, ketakwaan harus dibuktikan.Dan dalam kacamata takwa tidak ada istilah jalan buntu, selalu ada jalan keluar. Jika ada persoalan hidup yang rumit, ia akan diberikan kemudahan-kemudahan dalam urusannya. Jika punya persoalan ekonomi, ia akan diberikan rezeki yang tak diduga-duga. Biasanya, orang yang tidak tenang itu khawatir tidak mendapat  rezeki, cemas tak ada jalan keluar.

Belakangan ini, muncul tren orang mencari ketenangan melalui yoga dan meditasi yang menyerupai peribadatan agama lain. Tidak soal, jika yoga dipahami sebatas olahraga atau seni.Tapi menjadi menyimpang, ketika sudah memasuki perkara ubudiah, atau meniru peribadatan agama Hindu.Jadi yang tidak boleh adalah bila yoga dianggap sebagai peribadatan, apalagi jika mengucapkan mantera-mantera.     
Setiap orang tentu memerlukan refreshing.Kala refreshing, ada saatnya kita pergi ke alam terbuka, seperti hutan, lembah atau pegunungan. Dalam Islam, pergi ke hutan, ke laut, yang bisa membuat dirinya menjadi tenang, tidak masalah. Terpentian dia merasa ada yang Maha Kuasa disitu.

Banyak kasus pimpinan spiritual yang tersesat setelah melakukan shalat tahajud.Kok bisa?”Itu akibat tidak memahami Islam secara komprehensif.Bisa saja, setelah tahajud, dia belum merasakan ketenangan, dan tidak merasa dekat dengan Sang Khalik.Yang jelas, shalat itu butuh penghayatan dan ilmu.Ketika tidak memiliki dasar ilmu yang memadai, akhirnya membuat shalat atau zikir model baru. Solusinya, umat  Islam harus dikembalikan pada ajaran Islam. Gejala orang ingin menambah-nambah itu sudah ada sejak zaman Nabi.Makanya Nabi cegah.
Rasulullah saw pernah berkata, ”Aku ini orang yang paling bertaqwa diantara kalian. Aku shalat tapi tetap tidur, aku puasa tapi juga berbuka, aku  berjuang di jalan Allah tapi menikah.” Maka, upaya untuk membentengi umat, adalah: Pertama, harus komitmen dulu pada Islam. Kalau sudah komit pada Islam, maka dia tidak gampang menerima hal-hal yang menyimpang.Selanjutnya orang harus punya pemahaman, wawasan tentang Islam.Disitu orang harus belajar tentang Islam.[Ustadz Ahmad Yani: "Perlunya Tarbiyah Terus Menerus"  Dakwatuna.com, Rabu, 22 Desember 2010 12:38 eman Mulyatman]

Saat ini, banyak ORang mengaku diRinya sebagai muslim. Data statistik dunia teRakhiR menunjukan ada 1,7 milyaR lebih di dunia ini jumlah penduduk dunia yang beRagama Islam. Tapi, daRi sekian jumlah yang ada itu, sangat sedikit yang memiliki kepRibadian sebagai seORang muslim. Selebihnya, mempunyai kepRibadian teRpisah (split peRsOnality). ORang semacam ini agamanya saja sebagai muslim, namun, peRilaku, sikap, dan tindakannya sama sekali tidak menunjukkan keislamannya. Kalau demikian adanya, bagaimana Islam dapat menjadi Rahmah? Jika paRa pemeluknya tidak memahami, menghayati dan mengamalkan Islam? PeRsis sepeRti apa yan telah disinggung Oleh Rasulullah Saw:
Rasulululullah Saw beRsabda: “Suatu saat nanti kalian akan dikeROyOki Oleh beRbagai suku bangsa sepeRti meReka mengeROyOki makanan”. Salah seORang beRtanya: “Apakah kami saat itu minORitas ya Rasululullah?” “Tidak”, jawab Rasulullah, “bahkan kalian saat itu mayORitas, tetapi hanya bagai busa. Allah hilangkan Rasa takut di hati musuh-musuh kalian dan Allah tumbuhkan di dalam hati kalian kehinaan! Lantas ada yang beRtanya: “Kehinaan bagaimana ya Rasululullah?” Nabi pun menjawab: “Cinta dunia dan takut mati”. 

Lihatlah kOndisi masyaRakat kita saat ini yang beRada dalam keadaan lemah, hina, Rendah diRi, teRbelakang, dan ditimpa beRbagai kRisis maupun peRpecahan. Lengkap sudah segala pendeRitaan yang ada, beRbagai simbOl negatif pun teRsematkan di dada-dada bangsa kita, bangsa yang tidak beRadab dan tidak beRmORal! Padahal dahulu IndOnesia di kenal sebagai bangsa yang sangat santun dan welas asih! Mengapa ini bisa teRjadi? Nyawa manusia lebih Rendah haRganya daRi sekaRung beRas. Hanya kaRena gaRa-gaRa dituduh mencuRi uang sepuluh Ribu Rupiah, seseORang dapat menemui kematiannya. Atau hanya kaRena sepedanya dipinjam tanpa ijin, seseORang beRani membunuh kawan sekeRjanya sendiRi. Di mana-mana keRusakan meRajalela, kebOdOhan, dekadensi mORal dan hal-hal negatif lainnya. IndOnesia telah mengalami kRisis dibeRbagai aspek kehidupan, kRisis multi dimensial! 

KOndisi semacam ini tidak mungkin teRus meneRus dibiaRkan. Siapapun yang meRasa sebagai muslim yang memiliki ghiRah (semangat) keislaman, tidak akan meRelakan hal ini. Agama kita bukan agama faRdiyah (individual), tetapi agama pemeRsatu (ummatan wahidah), bahkan satu jasad. Jika sakit salah satu anggOta tubuh, maka yang lain akan meRasakannya. Islam bukan hanya agama ibadah. Tetapi meRupakan the way Of life (jalan hidup) yang paRipuRna, mengatuR segala uRusan dunia-akhiRat. Agama kita mengajak kepada wihdah (peRsatuan), al-quwwah (kekuatan), al ‘izzah (haRga diRi), al-‘adl (keadilan), dan juga kepada jihad (peRjuangan). 

Maka, misi Risalah Islam yang Rahmatan lil ‘alamin (Rahmat bagi seluRuh alam) ini beRtujuan untuk membeRikan hidayah (petunjuk) manusia pada agama yang haq, yang diRidhOi Allah. Fungsi Islam yang menyejukkan bagi seluRuh umat manusia ini, tidak mungkin teRwujud, kecuali jika benaR-benaR diamalkan Oleh ORang-ORang yang memiliki kepRibadian, atau mempunyai jati diRi sebagai seORang muslim. KaRenanya, semua itu pasti beRawal daRi diRi, lalu keluaRga, masyaRakat dan lingkungan.
Sebagaimana kita tahu, hidup meRupakan suatu peRjalanan daRi satu titik ke titik yang lain, beRanjak daRi gaRis masa lalu, melewati masa kini, untuk menuju masa depan. Masa lalu adalah sebuah sejaRah, masa kini adalah Realita dan masa yang akan datang adalah cita-cita. Sebagai seORang muslim, tentunya kita tidak akan membiaRkan hidup ini sia-sia. Hidup di dunia ini menjadi teRlalu singkat jika hanya dipenuhi dengan keluhan-keluhan, kegelisahan, Rasa pesimis dan angan-angan. Jiwa-jiwa sepeRti itu,tidak menceRminkan jati diRi seORang muslim sejati. Rasulullah Saw beRsabda:
“SeORang muslim tidak akan peRnah ditimpa kecuali kebaikan, apabila ditimpa kejelekan ia beRsabaR, dan jika dilimpahkan kenikmatan ia beRsyukuR.” 

SeORang Muslim tidak akan peRnah mengeluh menghadapi kehidupan, kaRena ia telah memiliki kepRibadian yang utuh dalam menghadapi segala macam ujian hidup.
Untuk menjadi pRibadi muslim sejati, sesuai dengan apa yang digaRiskan Oleh Islam, sudah semestinya memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan tuntunan Al-QuRan dan Al-Hadits, juga telah dipRaktekkan Oleh paRa Sahabat Nabi maupun salafus shâleh, yaitu pRibadi yang sikap, ucapan dan tindakannya teRwaRnai Oleh nilai-nilai yang datang daRi Allah Swt dan Rasul-Nya.[MaRhadi MuhayaR, Lc, M.A. membentuk-muslim-sejati SumbeR: http://makalah-aRtikel.blOgspOt.cOm/2007/11].

            Untuk menciptakan hal demikian tidaklah semudah membalik telapak tangan, membutuhkan waktu yang lama, dana yang tidak sedikit dan istiqamah yang tiada henti dengan tetap menumbuhkan kesabaran tanpa batas.
Menanam jagung dengan menanam jati hasilnya pasti akan lain. Waktu yang dibutuhkannya juga lain. Jagung hanya butuh waktu tiga bulan.Sudah dapat dipanen.Sedangkan pohon jati memerlukan waktu puluhan tahun. Tetapi pohon jati semakin tua,  kayunya semakin baik.
Manusia tabiatnya ingin cepat dan serba instan. Tidak ingin susah. Tidak ingin kesulitan.Segalanya ingin dicapai dengan mudah.Tidak ingin belama-lama dengan waktu.Usahanya ingin cepat dinikmatinya.Inilah kehidupan hari ini.Karena itu banyak orang yang tidak dapat sabar. Tidak sabar dengan waktu dan proses. Sehingga banyak yang mengambil jalan pintas.

Bagaimana menegakkan agama Allah ingin cepat mendapatkan hasilnya?Ingin terwujud sebuah tatanan yang sesuai yang diinginkannya.Padahal perjuangan menegakkan agama Allah itu bukan yang mudah.Tidak mungkin dapat terwujud dengan waktu yang serba singkat. Butuh proses. Ingin cepat terwujud keinginannya.Sementara itu berbagai tantangan dan hambatan bertumpuk-tumpuk.
Lamanya pencapaian dalam setiap usaha itu, sebaliknya akan menentukan kualitas manusia itu. Apakah dia jenis manusia yang cukup memiliki kesabaran?Sebatas dengan kemampuan menghadapi rintangan dan tantangan yang ada, dan kemudian dia tetap sabar dalam usahanya, maka manusia ini termasuk jenis manusia yang sabar.Manusia yang penuh dengan tawakal.

Seorang sahabat Salman Al-Farisi harus berjalan kaki dari negeri Syria ke Madinah. Salman yang pindah-pindah agama, yang akhirnya menemukan Islam, dan begitu rindunya dengan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, harus ridha berjalan kaki menempuh perjalanan yang sangat panjang melintasi gurun pasir, agar sampai ke Madinah.
Tidak mungkin membangun sebuah kehidupan yang menggunakan kualitas yang seperti diinginkan oleh Allah Rabbul Alamin itu, hanya berlangsung dalam waktu yang sangat singkat.Membutuhkan waktu yang amat panjang. Bila manusia sudah terdorong ingin cepat mencapai hasilnya, dan tidak sabar, maka bangunan yang diinginkannya tidak pernah akan terwujud selama-lamanya. Justru orang-orang yang menginginkan bangunan Islam dengan instan itu, ujung-ujungnya akan terperangkap pada jebakan musuh, dan kemudian akan menghancurkan gerakannya.

Kisah Salman hanyalah sepenggal kisah. Manusia yang penuh dengan keikhlasan dalam usahanya ingin mendapatkan ridha dari Rabbnya, dan keinginannya bertemu dengan manusia yang mendapatkan amanah dari Rabbul alamin, yaitu Rasul Shallahu alaihi wa sallam. Mengapa Salman begitu kuat keinginan bertemu dengan Rasul Shallahu alaihi wa sallam? Salman berani menanggung resiko denan berjalan kaki mengarungi samudera padang pasir yang begitu luas, dan jauh dari kota Madinah? Ini hanyalah episode tokoh yang begitu rindu ingin menegakkan bangunan Islam, dan Rasul Shallahu alaihi wa sallam, yang menjadi pujaannya.

Islam hanya dapat dibangun kekuatan orang-orang yang sabar, tidak pernah tergoda dengan hasil, yang berupa lukisan dunia. Salman yang berani menempuh perjalanan begitu panjang, bukan semata-mata ingin mendapatkan kehidupan dunia.[Mashadi,Jangan Menjadi Mukmin Instan,Eramuslim,Senin, 29/11/2010 13:19 WIB]

Tatkala Allah SWT memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, Ia tak hanya menyuruh mereka untuk taat melaksanakannya melainkan juga harus mengambilnya denganquwwahyang bermaknajiddiyah, kesungguhan-sungguhan.
Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh.Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka denganjiddiyah(kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.
Namun kebatilan pun dibela dengan sungguh-sungguh oleh para pendukungnya, oleh karena itulah Ali bin Abi Thalib ra menyatakan: "Al-haq yang tidak ditata dengan baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang tertata dengan baik".
Allah memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja tentu mereka tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat. Di situlah letak hikmahnya yakni bahwa seorang da'i harus sungguh-sungguh dan sabar dalam meniti jalan dakwah ini.Perjuangan ini tidak bisa dijalani dengan ketidaksungguhan, azam yang lemah dan pengorbanan yang sedikit.
Ali sempat mengeluh ketika melihat semangat juang pasukannya mulai melemah, sementara para pemberontak sudah demikian destruktif, berbuat dan berlaku seenak-enaknya.Para pengikut Ali saat itu malah menjadi ragu-ragu dan gamang, sehingga Ali perlu mengingatkan mereka dengan kalimatnya yang terkenal tersebut.

Ketika Allah menyuruh Nabi Musa as mengikuti petunjuk-Nya, tersirat di dalamnya sebuah pesan abadi, pelajaran yang mahal dan kesan yang mendalam:
"Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang teguh kepada perintah-perintahnya dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasiq".(QS. Al-A'raaf (7):145)

Demikian juga perintah-Nya terhadap Yahya, dalam surat Maryam ayat 12 :
"Hudzil kitaab bi quwwah"(Ambil kitab ini dengan quwwah). Yahya juga diperintahkan oleh Allah untuk mengemban amanah-Nya denganjiddiyah(kesungguh-sungguhan).Jiddiyahini juga nampak pada diriUlul Azmi(lima orang Nabi yakni Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad yang dianggap memiliki azam terkuat).
Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.

Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita: "Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian".
Hendaknya kita melihat bagaimana kisah kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Usia mereka hanya sekitar 60-an tahun. Satu rentang usia yang tidak terlalu panjang, namun sejarah mereka seakan tidak pernah habis-habisnya dikaji dari berbagai segi dan sudut pandang. Misalnya dari segi strategi militernya, dari visi kenegarawanannya, dari segi sosok kebapakannya dan lain sebagainya.

Seharusnyalah kisah-kisah tersebut menjadi ibrah bagi kita dan semakin meneguhkan hati kita.Seperti digambarkan dalam QS. 11:120, orang-orang yang beristiqomah di jalan Allah akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak kunjung dapat menarik ibrah dan tidak semakin bertambah teguh, besar kemungkinannya ada yang salah dalam diri kita.Seringkali kurangnya jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat kita mudah berkata hal-hal yang membatalkan keteladanan mereka atas diri kita. Misalnya: "Ah itu kan Nabi, kita bukan Nabi. Ah itu kan istri Nabi, kita kan bukan istri Nabi". Padahal memang tanpa jiddiyah sulit bagi kita untuk menarik ibrah dari keteladanan para Nabi, Rasul dan pengikut-pengikutnya.

Ada satu hal lagi yang bisa kita petik dari kisah Nabi Yusuf as.Wanita-wanita yang mempergunjingkan Zulaikha diundang ke istana untuk melihat Nabi Yusuf.Mereka mengiris-iris jari-jari tangan mereka karena terpesona melihat Nabi Yusuf. "Demi Allah, ini pasti bukan manusia". Kekaguman dan keterpesonaan mereka pada seraut wajah tampan milik Nabi Yusuf membuat mereka tidak merasakan sakitnya teriris-iris.
Hal yang demikian bisa pula terjadi pada orang-orang yang punya cita-cita mulia ingin bersama para nabi dan rasul, shidiqin, syuhada dan shalihin. Mereka tentunya akan sanggup melupakan sakitnya penderitaan dan kepahitan perjuangan karena keterpesonaan mereka pada surga dengan segala kenikmatannya yang dijanjikan.

Itulah ibrah yang harus dijadikan pusat perhatian para da'i.Apalagi berkurban di jalan Allah adalah sekedar mengembalikan sesuatu yang berasal dari Allah jua.Kadang kita berat berinfaq, padahal harta kita dari-Nya.Kita terlalu perhitungan dengan tenaga dan waktu untuk berbuat sesuatu di jalan Allah padahal semua yang kita miliki berupa ilmu dan kemuliaan keseluruhannya juga berasal dari Allah. Semoga kita terhindar dari penyimpangan-penyimpangan seperti itu dan tetap memiliki jiddiyah, militansi untuk senantiasa berjuang di jalan-Nya.[Ust. Rahmat Abdullah,Membangun Dan Membina Militansi Kita, Sunday, 01 Jun 2008 09:42 WIB].

            Menjadi seorang muslim janganlah sekedarnya maka hasilnyapun sekedarnya, tapi jadilah muslim yang fanatik yaitu muslim yang berpegang teguh dengan nilai-nilai kebenaran secara kuat, jadilah muslim yang fundamental yaitu muslim yang kuat dasar-dasar agama yang dianutnya sehingga tidak mudah goyah apalagi rubuh, jadilah muslim yang militant yaitu muslim yang selalu bersemangat untuk  menegakkan kebenaran melalui dakwah dan tarbiyyah, yang siap berkorban apa saja demi tegaknya kalimat Allah di dunia ini, wallahu a’lam [Batu Berendam Malaka Malaysia,  05 Rajab 1432.H/ 07 Juni 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar