Keberadaan
anak merupakan hal yang sangat diharapkan kehadirannya oleh orangtua, sehingga
bila seseorang telah menikah, lama tidak dikaruniai anak, mereka akan sedih,
resah dan tidak tentram. Dalam Al Qur’an dikisahkan, bagaimana Nabi Zakaria
merasa gundah gulana lantaran telah lanjut usia belum juga diberi keturunan; ”Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap
mawaliku [penerus generasi] sepeninggalku, sedang isteriku seorang yang mandul,
maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku
dan mewarisi sebagian keluarga Ya’kub, dan jadikanlah dia ya Tuhanku, seorang
yang diridhoi” [Maryam ;5-6].
Anak
disamping karunia Allah dia juga sebagai amanah yang harus dididik dengan
nilai-nilai agama agar fithrah yang dibawanya sejak lahir dapat tumbuh dan
berkembang sebagai generasi yang sempurna ketaqwaannya sebagaimana Nabi Ibrahim
berdoa; ,”Wahai Tuhanku, jadikanlah aku
ummat yang mendirikan shalat dan demikian juga anak cucuku dan keturunanku.
Wahai Tuhanku, perkenankanlah doaku, wahai Tuhanku, ampunilah aku dan juga
kedua ibu bapakku dan bagi orang-orang mukmin pada hari terjadi perhitungan”[Ibrahim;40-41].
Do’a Nabi Ibrahim telah makbul, diterima Allah Swt, dan
do’a untuk anak cucunya juga telah dikabulkan. Dari keturunan Nabi Ishaq
lahirlah berpuluh nabi dan rasul seperti ; Ya’kub, Yusuf, Musa, Harun, Ayub,
Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya dan Isa . dari keturunan nabi Ismail lahirlah
seorang nabi terakhir, khatimul anbiya [nabi penutup] sayidul mursalin
[penghulu para rarul] yaitu Nabi Muhammad Saw.
Islam sangat besar perhatiannya terhadap anak dan
generasi yang akan datang karena di tangan merekalah masalah ummat ini
dikemudian hari akan mereka pikul, bila ummat hari ini tidak baik dan tidak
hati-hati menjaga anak keturunannya maka masa depan yang dihadapi suram dan
runyam. Itulah makanya Allah dan Rasulullah memberikan pesannya berkaitan
dengan generasi yang akan datang;
Dalam
sebuah haditsnya Rasulullah bersabda; ”Nabi ditanya oleh seorang
sahabat,"Dosa apakah yang paling besar?" Jawab Nabi,"Engkau
menjadikan sekutu bagi Allah", ditanya lagi "Kemudian apa lagi ya
Rasulullah?" Nabi menjawab,"Engkau membunuh anakmu karena takut dia
makan bersamamu".
Hal ini terjadi dizaman jahiliyyah yaitu
sebelum masyarakat menerima Islam sebagai jalan hidupnya, apalagi anak yang
lahir seorang wanita maka orang kafir Quraisy membunuh anak itu diantaranya
selain karena memang adat yang mereka lakukan tapi juga karena takut miskin
sebab wanita hanya menghabiskan bahan makanan saja, Allah melarang hal itu;
"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu Karena takut kemiskinan.
kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya
membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar" [Al Isra' 17;31].
Jangankan melakukan pembunuhan terhadap
anak, sedangkan meninggalkan anak yang lemah saja dilarang oleh Allah; "Dan
hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)
mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah
mereka mengucapkan perkataan yang benar" [An Nisa' 4;9]
Berbagai
macam cara orangtua mendidik anaknya agar menjadi anak yang pintar atau
berprestasi intelektual dalam kehidupan mereka, ada yang mendidik anaknya
dengan santai, ada juga yang melalui kekerasan dan peraturan yang kaku. Bukan
hanya orang-orang mewah saja yang mendambakan anaknya menjadi orang pintar
kelak dikemudian hari. Tetapi mereka yang berekonomi lemahpun juga demikian,
apalagi mengingat biaya anak sekolah tidak sedikit.
Dalam hubungan ini tidak jarang dijumpai, orangtua ikut
berperan sebagai guru, mendidik dan memberikan pelajaran pada anaknya sendiri
di rumah. Bahkan ada yang mendidik anaknya dengan terburu-buru tidak diukur
dengan kemampuan anak, atau memberi kesempatan kepada anaknya untuk berkembang
sendiri. Akan sia-sia bila memberi pelajaran dengan cara memaksa anak, padahal
daya fikir anak belum mampu untuk menerimanya. Bukannya akan menghasilkan kebaikan
tapi malah sebaliknya.
Mencetak anak yang baik, pintar dan membangggakan
orangtua tidaklah secepat yang diharapkan, harus melalui proses yang panjang
dan dengan cara yang lemah lembut bukan dengan pemaksaan demikian. Orangtua
harus berprinsif bahwa anaknya harus lebih segalanya dari mereka sendiri. Untuk
itu harus berhati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku. Segala kekerasan
yang ditanamkan tidak menghasilkan apalagi dengan terburu-buru. Orangtua harus
punya kesabaran yang luar biasa kepada anaknya karena kita sedang membentuk
manusia penerus perjuangan bangsa yang sesuai dengan kemampuannya bukan mencetak robot sehingga harus sesuai dengan
kemauan perancangnya.
Keberhasilan
anak sebagaimana yang diharapkan orangtua ditentukan oleh beberapa faktor
terutama lingkungan keluarga, jangan mengharapkan anak akan lemah lembut dalam bersikap kalau orangtua selalu berkata
keras lagi kasar. Jangankan anak akan tenang dalam belajar di rumah kalau
orangtua selalu dalam peperangan [bertengkar], jangan mengharapkan anak akan
betah di rumah kalau ayah dan ibu mereka selalu sibuk dengan urusan
masing-masing, orangtua terutama ayah berkewajiban memberikan makan, pakaian
atau tempat tinggal yang layak kepada anaknya, tentunya sesuai dengan kemampuan
yang dimiliki. Dalam surat
at Thalaq ayat 7 Allah berfirman, “Hendaklah
orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang
disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah
kepadanya, Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan [sekedar]
apa yang Allah berikan kepadanya”.
Dari sekian nafkah yang
dikeluarkan seseorang dalam hidupnya baik untuk keluarga, ataupun masyarakat,
maka nilai yang lebih baik dan tinggi disisi Allah ialah nafkah yang
dikeluarkan untuk keluarga sebagaimana sabda Rasulullah dalam shahih Muslim, “Satu dinar kamu belanjakan di jalan Allah
dan satu dinar kamu belanjakan untuk [memerdekakan] seorang budak, dan satu
dinar kamu sedekahkan kepada si miskin, dan satu dinar kamu belanjakan kepada keluargamu,
maka yang paling besar pahalanya dari itu semua adalah yang kamu belanjakan
kepada keluargamu”.
Dalam
hal mendidik anak, Ibnu Khaldun maupun Ibnu Shina memberikan satu konsep, yaitu
pengajaran Al Qur’an adalah sebagai basis [dasar] bagi permulaan dari berbagai
kurikulum pendidikan yang mesti diajarkan dan diterapkan kepada anak-anak
sesuai dengan sabda Rasulullah Saw, ”Didiklah
anak-anakmu dengan tiga perangai; cinta kepada nabimu, cinta kepada kaum
kerabatnya dan cinta dalam membaca Al Qur’an, bakal berada dalam naungan Allah
kelak pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya” [HR. Thabrani].
Dalam hadits lain beliau kembali menegaskan,”Suatu pahala akan diberikan kepada orangtua
yang mengajarkan Al Qur’an kepada puteranya, pada hari kiamat nanti akan
mendapat mahkota di dalam syurga”[Thabrani]. Disabdakan lagi,”Rumah yang sering dibaca Al Qur’an
didalamnya akan terbayang oleh penghuni langit sebagaimana bintang-bintang
terbayang oleh penduduk bumi” [HR. Al Baihaqi dan Aisyah].
Peran orangtua dalam mencetak generasi qur’ani dalam
rumah tangga bukan sekedar tanggungjawab saja tapi mengandung nilai ibadah
disisi Allah, tak heran jika Rasulullah bersabda,” Barangsiapa yang dikarunia anak perempuan lalu ia mengajarkannya
akhlak mulia dan mendidiknya dengan baik, diberi makan bergizi, kelak amalannya
itu akan menjadi penjaganya dari api neraka”.
Dari hadits rasul diatas beliau mengangkat usaha orangtua
dalam mendidik terutama anak perempuan, karena pada masa itu orang jahiliyyah
sangat malu bila mempunyai anak wanita dan bangga dengan anak laki-laki, disini
nampak bahwa Nabi Muhammad memberikan tempat tertentu bagi kehadiran wanita
dalam keluarga, dia bukan makhluk kelas dua setelah pria, pada satu sisi ada
kesamaan yang tidak dapat dibantah, Allah berfirman, ”Siapa saja yang berbuat kebaikan laki-laki maupun wanita sedang ia
beriman, maka akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” [An Nahl
16;97].
Dalam surat Al Hujurat 49;13 pun Allah menegaskan,”Hai manusia sesungguhnya Kami telah
menciptakanmu dari seorang lelaki dan seorang wanita, dan menjadikanmu
bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya
orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah yang paling taqwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Waspada”.
Perhatian islam terhadap wanita cukup serius sehingga
nama kaum ini diabadikan menjadi nama surat dalam Al Qur’an, yakni An Nisa’, Al
Qur’an juga sering mengistilahkan wanita dengan sebutan Mar’ah. Selaku orangtua
tidak menganggap istimewa anak
laki-laki lalu memojokkan anak wanita, jangan karena jenis kelamin yang berbeda
laku tidak berlaku adil, Rasulullah bersabda, ”Berlaku adillah kepada anakmu walaupun dalam masalah ciuman [kasih
sayang]”. Apalagi dari segi pendidikan, orangtua harus arif bahwa wanitapun
mampu menyelesaikan pendidikannya pada tingkat yang lebih tinggi tidak bedanya
dengan laki-laki.
Letak kehancuran ummat islam karena melalaikan dari
menuntut ilmu sehingga prediket bawahan selalu disandang. Karena itu islam
menjatuhkan martabat dan mencela orang yang bodoh serta menyatakan akan
dimasukkan ke dalam neraka,”Sesungguhnya
yang sejahat-jahatnya makhluk melata menurut pandangan Allah ialah
orang-orang tuli, yang bisu dan
yang tidak dapat berfikir” [Al Anfal
8;22].
Yang menyebabkan orang dapat mendengar, bicara dan
berfikir itu ialah ilmu yang banyak. Semakin banyak ilmu seseorang, maka akan
semakin nyaringlah pendengarannya, semakin banyak yang dapat dibicarakannya dan
difikirkannya, Allah berfirman,”Dan
sesungguhnya Kami sediakan untuk neraka itu, beberapa banyak dari jin dan
manusia yang mempunyai hati tetapi tidak dapata mengerti dengannya, yang
mempunyai mata tapi tidak dapat melihat dengannya dan mempunyai telinga tapi
tidak dapat mendengar dengannya, mereka itu sama dengan hewan, bahkan lebih
sesat lagi dari hewan...”[Al A’raf 7;179].
Ilmu yang dimaksud disini tentu ilmu dunia dan akherat,
sebab Rasulullah memberikan suatu gambaran
manusia akan berbahagia di dunia bila ia memiliki ilmu untuk meraihnya,
orang akan bahagia di akherat bila ia memiliki ilmu akherat, dan orang akan
bahagia di dunia dan di akherat bila memiliki kedua ilmu itu.
Tanggungjawab
setiap muslim setelah memperbaiki dan membina dirinya yaitu menjaga keluarga
dari api neraka dengan memberikan pendidikan agama, salah satu diantaranya
melaksanakan shalat. Disini nampak dua tugas yang tidak bisa dilepaskan yaitu;
Pertama, mengoreksi jiwanya sendiri, kemudian
menuntun isi rumahnya supaya hidup dalam
kebaktikan, ”Dan suruhlah keluargamu
mengerjakan shalat dan sabarlah atasnya” [20;132].
Kedua, jika datang waktunya, carikanlah mereka guru yang
dapat dipercaya. Dengan jalan beginilah kita dapat mengejar kembali keteledoran
kita dizaman-zaman pendidikan dalam negara kita dikuasai oleh orang yang
berbeda agama dengan kita. Sehingga kita dapati orang-orang yang berlainan
agama dengan kita itu, masih tetap memberikan pendidikan agama kepada anak kita
kaum muslimin sendiri bertahun-tahun lamanya dilalaikan. Kian datang angkatan
baru kian jauhlah mereka dari agamanya.
Anak adalah amanah Allah agar dijaga dan diselamatkan
dari bahaya yang dapat menyengsarakan hidupnya terutama di akherat dengan bekal
agama. Perintah shalat menurut hadits Rasulullah sudah diberikan kepada anak pada
usia 7 tahun. Mengapa perintah itu baru dimulai umur 7 tahun?. Karena menurut
kebiasaannya seorang anak pada usia 7 tahun sudah mumayiz, yaitu ada kemampuan
untuk membedakan antara satu dengan lainnya atau ia sudah mampu mengerjakan
hal-hal yang ringan, dengan sendirinya tanpa bantuan orang lain seperti makan,
minum, mandi, istinja dan lain-lain.
Menurut kebiasaannya, jika seseorang disuruh
mengerjakannya, walaupun hasilnya nanti mungkin tidak seperti yang diharapkan,
tapi ia sudah bisa mengerjakannya. Demikian jugalah halnya seorang anak yang
diperintahkan shalat ketika ia berumur 7 tahun, berarti ia sudah dapat
melaksanakannya walaupun belum sempurna. Dengan demikian dapat dipahami dari
hadits ini, yaitu seorang bapak hendaklah mengajarkan anaknya tata cara
melaksanakan shalat, serta mengajarkan bacaan-bacaannya ketika si anak belum
berumur 7 tahun, begitu juga mengajarkannya bagaimana berwudhu dengan benar.
Pendidikan tatacara pelaksanaan shalat sejak usia dini
ini tentunya dengan cara mengajak si anak untuk ikut shalat bersama-sama
bapaknya atau ibunya, atau membawanya ke masjid untuk shalat berjama’ah atau
shalat jum’at. Sebab seorang anak biasanya cendrung meniru apa yang dilakukan
orang lain. Jadi si anak akan melihat dan meniru bagaimana gerakan-gerakan yang
dilakkan bapaknya dalam melaksanakan shalat. Pendidikan shalat sejak usia dini
sangat penting, agar si anak sudah terbiasa shalat sejak kecilnya, dan tidak
merasa berat lagi untuk melaksanakannya .
Disini lebih utama adalah teladan bukan hanya perintah,
kalau bapak memerintahkan anaknya agar melaksanakan shalat sedang dia tidak
shalat tentu perintah tadi hambar dan cendrung diabaikan bahkan dicibirkan oleh
anak.
Waktu-waktu azan berkumandang orangtua memang memanggil
anaknya agar pulang tapi bukan untuk shalat namun sebagai tanda waktu saja.
Seperti dikala azan subuh menggema orangtua sibuk membangunkan anaknya sebagai
tanda bahwa hari sudah siang, artinya agar segera bangun, mandi, sarapan lalu
berangkat sekolah.
Lingkung
keluarga adalah pembina utama dan pertama dalam pembinaan kepribadian anak,
kemudian pada umur sekolah pertumbuhan anak dipengaruhi oleh guru, pada usia
anak-anak suka hidup bermasyarakat, jika temannya baik maka ia cendrung akan
baik pula demikian sebaliknya, sehingga
pergaulan bagi sianak akan mempengaruhi pertumbuhannya. Untuk itu orangtua agar
berhati-hati dalam melepas anaknya hidup bergaul dengan anak-anak lain,
Rasulullah bersabda’ ”Perumpamaan teman
bergaul yang baik dan teman yang jahat ialah bagaikan pedagang minyak wangi dan
tukang besi,bila berteman dengan pedagang minyak wangi akan memperoleh salah
satu dari dua kemungkinan, membeli minyak wangi atau kena percikan harumnya
minyak wangi tersebut, dan berteman dengan tukang besi akan memperoleh dua
kemungkinan, badan akan terpercik api atau memperoleh bau yang tidak sedap”
Lingkungan
yang rusak akan menciptakan manusia yang rusak pula sebab si anak dengan muda
meniru tingkah laku temannya, ahli hikmat berkata,”Bila kau berteman dengan
pencuri, minimal cara mencongkel pintu dapat kau kuasai dan bila berteman
dengan orang alim minimal membaca bismillah kau dapat”.
Tumbuhnya kenakalan remaja seperti terlibat narkoba
[narkotik dan obat-obat terlarang], mabuk-mabukan, mencuri, memperkosa,
membunuh dan perbuatan biadab lainnya, semuanya berangkat dari keadaan
lingkungan yang tidak sehat, baik lingkungan keluarga, sekolah atau masyarakat
sekitarnya.
Dalam Shaheh Muslim dapat kita ikuti sebuah riwayat
bagaimana rusaknya manusia bila dia hidup dalam lingkungan yang tidak baik; Zaman dahulu ada seorang pembunuh yang telah
membunuh korbannya sebanyak 99 orang,
lalu dia bertanya kepada penduduk negeri, siapa orang yang paling alim di
negeri ini, maka ditunjukkan seorang Rahib, didatanginya Rahib itu seraya
mengatakan bahwa dia telah membunuh 99 orang, kemudian dia bertanya, apakah
pintu taubat masih terbuka untuknya ? jawab Rahib, tidak. Maka dibunuhnya Rahib
itu dan genaplah korbannya 100 orang.
Kemudian dia bertanya pula
kepada warga setempat tentang orang yang paling alim di kampung itu, maka
ditunjukkan orang kepadanya seorang ulama. Dia menceritakan bahwa ia telah
membunuh korbannya 100 orang, apakah pintu taubat masih terbuka baginya, jawab
orang alim itu, ya bertaubatlah. Orang alim itu melanjutkan, kalau anda ingin
bertaubat atas perbuatan jahat yang pernah dilakukan, maka sinsaflah dan
ikutilah jalan Allah, pergilah anda kesuatu tempat yang disana penduduknya
menyembah Allah, sembahlah Allah bersama-sama mereak dan janganlah kembali ke
negeri anda, karena negeri anda telah rusak....
Walau seseorang yang jahat kemudian bertaubat maka untuk
menjadi orang yang baik dia harus meninggalkan lingkungan yang rusak, mencari
tempat baru atau istilah agama hijrah, sebab kalau tidak hijrah taubatnya akan
luntur dan lentur kembali. Apalagi bagi anak-anak yang masih mentah lagi
fithrah. Sangat diperlukan lingkungan yang harmonis, bi’ah shalihah [lingkungan
yang bersih], tertib, aman tentram serta damai, baik di rumah,di sekolah maupun
di masyarakat agar menciptakan suasana agamis.
Suatu fakta telah membuktikan bahwa manusia dibesarkan oleh lingkungannya, terdapat dua
anak manusia yang ditemukan oleh seorang pemburu di liang Srigala di pegunungan
Himalaya dalam tahun 1920 dan kemudian diserahkan ke rumah yatim piatu di Madnafur.
Perkembangan kedua anak perempuan yang diberi nama Amala dan Kamala oleh Jel Singh. Amala sesudah satu tahun
berada dalam rumah yatim itu meninggal, tetapi Kamala tinggal disana sampai
umur 17 tahun dan meninggal tahun 1929.
Waktu baru masuk asrama prilaku mereka seperti Srigala;
merangkak dengan kaki tangannya, melolong pada bulan terang, menggonggong
seperti srigala, berani keluar malam hari, siang hari hanya tidur, makan hanya
daging mentah, air tidak diteguk tapi dijilati dengan lidah, tak dapat
berbicara. Cirinya seperti manusia yang pertama yaitu berjalan tegak lurus baru
dapat dikuasai oleh Kamala sesudah 4 tahun belajar, itupun belum dapat berjalan
cepat, pelajaran bahasa lambat dan lama sekali, sampai meninggalnya Kamala pada
umur 17 tahun ia hanya dapat menguasai 50 kata.
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,”Setiap bayi yang
dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci, maka orangtuanyalah yang
menjadikannya Yahudi, Majusi dan Nasrani” Artinya orangtua memegang peranan
penting dalam mencetak anak agar jagi anak yang baik, kalau hal ini dilalaikan
maka kehancuran manusia akan terjadi, dia akan terseret ke lembah kenistaan dan
kemaksiatan karena terjerembab dalam pergaulan lingkungan yang tidak baik. wallahu
a'lam. [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar