Do’a menurut bahasa adalah minta
pertolongan, memanggil, memuji, memohon, sedangkan dari segi istilah yaitu
permohonan hamba kepada Allah sebagai Khaliq [Pencipta]. Do’a selain berbentuk
permohonan kepada Allah juga akan berujud ibadah sebagaimana Rasulullah
bersabda, “Do’a adalah sumber ibadah”.
Selain do’a itu perintah dari Rasul dia juga perintah Allah, bukankah Allah
telah menyebutkan bahwa orang yang tidak mau berdo’a termasuk orang yang
sombong, orang yang sombong terhalang baginya untuk masuk syurga, “Berdo’alah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan
do’amu, orang yang menyombongkan diri hingga tak hendak beribadah kepada-Ku
sungguh mereka itu akan masuk neraka dalam keadaan hina dina” [Al Mukmin;
60]
Manusia diperintahkan berdo’a karena adanya dua unsur
yaitu, unsur manusiawi; manusia dalam berusaha memiliki kemampuan yang
terbatas, tidak semua rencana manusia dapat berhasil dengan sukses, jadi harus
sabar dan tabah menunggu hasil dengan mengharapkan bantuan Allah. Unsur Ilahi;
Allah memiliki segala ketentuan walaupun manusia telah merancang dan
merencanakannya, akan tetapi banyak menemukan kegagalan, keberhasilan manusia
disamping dilakukan dengan kerja keras dan rencana yang matang juga berkat
rahmat dan mau’izhah Allah.
Dalam kajian-kajian psikologis [ilmu jiwa] do’a dipandang
sebagai obat bagi orang yang mengalami tekanan jiwa, stress, putus asa,
keterbelakangan dan lain-lain. Oleh karena itu Dr. Zakiah Darajat sampai pada
satu kesimpulan bahwa do’a yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dapat
memberikan makna penyembuhan bagi stress dan gangguan kejiwaan. Do’a juga
mengandung manfaat bagi pembinaan atau dengan kata lain do’a mempunyai kreatif,
preventif dan konstruktif bagi kesehatan jiwa.
Dalam berdo’a Allah menggambarkan tabiat manusia, yaitu
manusia yang lupa dengan karunia Allah, ”Dan
apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring,
duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia
kembali melalui jalannya yang sesat, seolah-olah dia tidak pernah berdo’a
kepada Kami untuk menghilangkan bahaya yang telah menimpanya. Begitulah
orang-orang yang melampaui batas memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”
[Yunus; 12].
Orang yang demikian, do’anya hanya sebagai pelarian saja, bila berhasil dia lupa,
seolah-olah keberhasilan itu tanpa bantuan Allah, Allah menegaskan, “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada
manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri, tetapi apabila dia ditimpa
malapetaka maka ia banyak berdo’a “ [Fusshilat; 51].
Sedangkan sikap pribadi mukmin ialah; dia akan berdo’a
dikala lapang apalagi dikala sempit, dia akan berdo’a dikala sedang dan susah
dan bila berhasil usahanya maka semakin tunduk kepada-Nya, Rasulullah bersabda,
“Barang siapa yang ingin supaya
dikabulkan do’anya diwaktu mendapat kesusahan, maka hendaklah dia banyak
berdo’a diwaktu lapang” [HR. Turmuzi].
Do’a merupakan ibadah baik dikabulkan ataupun tidak, seorang mukmin
dianjurkan senantiasa berdo’a dikala siang dan malam, dikala susah dan senang,
lambat atau cepatnya terkabul sebuah do’a ini merupakan hak mutlak Allah,
kenapa kita mengharapkan supaya Allah cepat mengabulkan do’a yang kita
sanjungkan, sementara segala perintah Allah lambat untuk dilaksanakan bahkan
terlalu banyak kemaksiatan yang kita ukir di dunia ini sehingga wajar do’a-do’a
kita tergantung di awang-awang tanpa tanggapan dari-Nya, ini semua berpulang
kepada tanggap atau tidaknya kita terhadap panggilan Ilahi
Manusia hanya mampu berencana dan Tuhanlah
yang menentukannya, usaha manusia harus diiringi dengan kekuatan lain yang
disebut dengan do’a. Kenapa manusia harus berdo’a ? karena ada dua unsur dalam
kehidupan ini yaitu unsur manusiawi dia memiliki kemampuan dalam berusaha
dengan harapan menemukan keberhasilan, bila gagal ketabahan dan kesabaran
diperlukan, unsur kedua yaitu Ilahi yang merupakan ketentuan dengan rahmat dan
ma’unah-Nya.
Bagaimanapun
besarnya cita-cita bila tanpa bantuan dan ketentuan Allah tetap tidak akan
tercapai. Do’a menurut bahasa adalah meminta pertolongan, memohon dan memanggil
sedangkan menurut istilah yaitu permohonan seorang hamba kepada Allah yang
menciptakannya, Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya berdo’a itu merupakan
ibadah”, lalu Rasulullah membaca ”Berdo’alah kamu kepada-Ku niscaya-Ku kabulkan
doamu, orang-orang yang menyombongkan diri hingga tidak hendak beribadah
kepada-Ku sungguh mereka itu akan masuk neraka dalam keadaan hina dina”
Allah
berfirman dalam surat Al Baqarah 2;186 ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran.” 
Asbabun nuzul ayat diatas adalah, diceritakan dalam peperangan Khaibar kaum muslimin berdo’a dengan suara keras, lalu Rasul bersabda,”Kendalikan dirimu, sebab kamu berseru tidak kepada orang tuli atau yang ghaib”. Bukan ajaran islam bila ada orang yang mengaku beriman kemudian mengadakan wasilah atau penghubung dengan kiyai atau ustadz tertentu yang dianggap keramat atau melalui kuburan karena menganggap manusia tidak pantas dekat kepada Allah, karena bergelimang dengan kesalahan dan dosa.
Asbabun nuzul ayat diatas adalah, diceritakan dalam peperangan Khaibar kaum muslimin berdo’a dengan suara keras, lalu Rasul bersabda,”Kendalikan dirimu, sebab kamu berseru tidak kepada orang tuli atau yang ghaib”. Bukan ajaran islam bila ada orang yang mengaku beriman kemudian mengadakan wasilah atau penghubung dengan kiyai atau ustadz tertentu yang dianggap keramat atau melalui kuburan karena menganggap manusia tidak pantas dekat kepada Allah, karena bergelimang dengan kesalahan dan dosa.
Do’a
yang kita sanjungkan kepada Allah tidak selamanya dikabulkan, Allah
memperkenankan do’a manusia dalam tiga bentuk;
- Diperkenankan dengan segera, begitu do’a disanjungkan lansung nampak hasilnya, do’a bersamaan dengan berlakunya takdir yang telah ditentukan Allah, ibarat pepatah mengatakan ”Gayung bersambut” atau ibarat ”Pucuk dicinta ulampun tiba” semua itu berkat izin Allah.
- Ditangguhkan dahulu untuk beberapa saat, mungkin saja satu atau dua hari, satu minggu, bulan, tahun atau hitungan menurut Allah. Namun demikian manusia tetap dituntut untuk terus berdo’a tanpa lelah dan tidak boleh putus asa, waktunya saja yang belum tepat untuk dikabulkan Allah.
- Dijauhkan dari peristiwa buruk, mungkin do’anya tidak dikabulkan Allah dalam waktu yang ditentukan tapi Allah membalas dengan bentuk lain yaitu terlepas dari kesengsaraan atau selamat dari malapetaka, dengan tidak dikabulkannya do’a manusia itu, Allah memberikan hadiah yang lebih besar, bahkan mungkin saja bila do’anya dikabulkan tapi bukan kebaikan yang diterimanya bersamaan terkabulnya do’a tapi masalah lain akan timbul, misal; orang berdo’a agar dapat membeli mobil tapi Allah tidak mengabulkannya, bisa jadi mobil itulah petaka awal bagi keselamatan diri dan keluarganya.
Salah
satu tabiat manusia yaitu hanya berdo’a ketika ada bahaya yang menimpa dirinya,
bila saat senang dia lupa kepada Allah, lupa dengan nikmat yang dicurahkan,
ibarat anjing kejepit, lolongannya keras namun ketika dilepaskan musibah
darinya lalu anjing itu menggigit orang yang membantunya, dasar anjing;
”Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia
berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah
Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang
sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan)
bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu
memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.”[Yunus 10;12]
’’Dan apabila Kami memberikan nikmat
kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa
malapetaka, maka ia banyak berdoa’[Fushilat 41;51].
Sedangkan
sikap orang beriman kepada Allah,dia tidak akan meniru perbuatan
diatas,sikapnya adalah; berdo’a dalam keadaan susah dan senang, beribadah dalam
keadaan lapang dan sempit, sabar dalam keadaan bahaya atau aman dan sederhana
dalam keadaan kaya dan miskin”, Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang ingin supaya dikabulkan do’anya diwaktu mendapatkan
kesusahan maka hendaklah dia banyak berdo’a diwaktu lapang”.
Segala keberhasilan manusia tidak lepas
dari bantuan dari Allah, usaha manusia yang optimal memang sangat dibutuhkan
tapi tanda do’a dan pengharapan dari Allah menunjukkan kesombongan, do’a saja
yang disanjungkan tanpa usaha juga tidak bermakna. Adapun keuntungan yang
diperoleh manusia dengan memanjatkan do’a, mengharapkan pertolongan dan rahmat
dari Allah adalah;
Pertama, manusia sangat memerlukan
sandaran yang dapat memberikan kekuatan kepada dirinya pada saat dia lemah,
ketika segala kekuatan diluar dirinya tiada mampu lagi menopang dan menunjang
dirinya. Pada saat semacam ini tiada jalan bagi manusia untuk menentramkan
hati,menenangkan jiwa dan menjernihkan fikirannya selain hanya mengadukan nasib
dan keadaannya kepada yang Maha Mutlak.
Kedua, do’a tidak semata-mata dimaksud
untuk memohon pertolongan kepada Allah untuk melepaskan diri dari kesulitan dan
penderitaan. Do’a juga dimaksud sebagai sarana memohon kepada Allah untuk
meningkatkan kualitas diri dan kemampuannya, sehingga dapat melakukan segala
tugas yang dipikulnya dengan baik dan
menggembirakan dirinya.
Ketiga, do’a mutlak
diperlukan oleh manusia, karena manusia tidak tahu apa yang akan terjadi pada
dirinya sekarang dan yang akan datang,
padahal manusia selalu menginginkan keberhasilan dalam mencapai apa yang
diinginkannya, sekarang dan akan datang. Untuk menangkal hal-hal yang tidak
baik atau merugikan dirinya pada saat sekarang dan akan datang, ia memerlukan
adanya kekuatan diluar dirinya untuk menyelesaikan masalah-masalah itu,semua
itu hanya kepada Allah sebagai Khaliqnya
.
Bagi seorang mukmin, berdo’a merupakan ibadah, meskipun tidak
dikabulkan tapi nilai-nilai ibadah telah dia terapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Apa saja do’a yang kita ajukan kepada Allah adalah baik tapi ada beberapa
do’a yang kita sanjungkan kepada Allah mengharapkan kebaikan kepada diri kita
secara maknawi seperti mengharapkan taufiq dan hidayah-Nya, rahmat dan
maghfirah-Nya yang do’a tadi tidak mesti untuk kepentingan duniawi dan materi
saja.
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw,
menceritakan, terdapat tiga orang pemuda yang sedang melakukan perjalanan.
Ketika hari sudah malam, mereka masuk ke dalam gua dengan maksud untuk menginap
di dalam gua satu malam saja. Setelah mereka berada di dalam, tiba-tiba sebuah batu
besar jatuh dari puncak bukit itu dan persis menutupi pintu gua. Mereka mencoba
mengeluarkan segala tenaga untuk menggeser batu besar itu. Tapi sedikitpun
tidak bergerak, sebab memang beratnya bukan imbangan tenaga manusia. Dengan
demikian mereka terkurung di dalam gua dan mungkin akan menemui ajalnya.
Pada
saat-saat yang kritis itu mereka menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada yang
dapat memberikan jalan keluar bagi mereka dari kesulitan itu selain pertolongan
Allah semata. Mereka memutuskan untuk berdo’a kepada Allah dengan menyebutkan
amalan ikhlas yang pernah dilakukan, secara bergantian ketiganya berdo’a dengan
khusyu’
”Ya Allah aku punya seorang ibu dan bapak
yang sudah tua dan aku mempunyai seorang isteri dengan dua orang anak. Tiap
pagi saya meninggalkan rumah, menggembalakan kambing, kalau sore aku pulang
dengan membawa susu kambing murni yang segar untuk minuman ibu bapakku, isteri
dan anak-anakku. Suatu hari ya Allah, ketika aku pulang agak terlambat,
kudapati ayah dan ibuku sudah tidur, aku tidak tega mengganggu tidur mereka,
sedang isteri dan anak-anakku merengek minta minuman susu itu, tapi tidak aku
berikan sebelum ayah dan ibuku minum terlebih dahulu. Ya Allah seandainya yang
aku lakukan itu adalah sebuah kebaikan, maka tolonglah keluarkan kami dari gua
ini dengan selamat”.
Setelah
pemuda yang pertama ini berdo’a, maka batu yang menutupi gua itu bergerak
sehingga tamak secercah cahaya keberhasilan, tapi belum bis keluar. Pemuda
keduapun berdo’a;
”Ya Allah, aku adalah seorang majikan dari
sekian buruh yang bekerja di perkebunanku. Pada suatu hari salah seorang dari mereka pergi tanpa meninggalkan pesan
sehingga upahnya belum diambilnya. Gaji buruhku itu aku belikan sepasang
kambing yang aku urus dengan baik, sampai berbulan dan bertahun, maka jadilah
kambing itu jumlahnya ratusan ekor. Tanpa diduga buruh itu datang lagi untuk
meminta upahnya yang belum dibayar dahulu, maka ya Allah aku serahkan seluruh
kambing itu kepadanya dengan ikhlas, andaikata ini suatu amal ibadah, mohon
lepaskan kami dari bahaya ini”.
Tidak
begitu lama batu itupun bergerak semakin lebar, tapi belum bisa dilalui, maka
tampillah pemuda ketiga dengan do’anya;
”Ya Allah, aku adalah seorang pemuda yang
punya kekasih, kebetulan dia anak pamanku yang cantik. Pada suatu hari aku
berdua saja dengannya berjalan-jalan sehingga kami berada pada tempat yang
jauh, tidak ada orang lain, kami hanya
berdua saja, sehingga timbul syahwaku untuk menggaulinya dan diapun
pasrah. Saat aku berada di atasnya untuk
melakukan perbuatan nista itu aku sadar dan lari meninggalkannya, sungguh ya
Rabbi semua itu karena hidayah-Mu dan aku tidak jadi melakukan perbuatan
terkutuk itu, ya Allah bila ini suatu kebaikan maka selamatkanlah kami dari
derita ini ”.
Tidak
berapa lama sesudah pemuda itu berdo’a secara otomatis batu itu bergulir
kencang meninggalkan mulut gua, maka selamatlah mereka dari bencana yang nyaris
membunuh ketiganya. Salah satu do'a hamba akan didengar oleh Allah adalah
ketika mengalami penderitaan yang berkepanjangan sebagaimana pemuda yang
terkurung dalam gua itu, begitu juga ketika penjajahan, penderitaan mendera
ummat ini, maka tiada yang dapat menenangkan perasaan, memberikan motivasi
agar hidup ini dijalani dengan jihad
bersama kesabaran kecuali dengan do'a,
Palestina adalah salah satu negeri muslim yang masih dijajah oleh zionis
Israel, si Yahudi terkutuk.
Ya Allah ya Ilahi,
hari ini belahan bumi islam bersimbah darah dan air mata, masih ada mayat-mayat
yang bergelimpangan yang tidak jelas akan dikubur dimana, mereka menjadi korban
keganasan orang-orang kafir lantaran hanya sebagai muslim. Bosnia belum lagi
reda, Afghanistan tidak tahu ujungnya, Kasymir tetap bergolak dan Palestina
mustahil terujud kedamaian bila kedengkian orang-orang kafir masih membara.
Benar
ya Allah apa yang Engkau firmankan, ”Yahudi
dan Nasrani tidak akan ridha kepadamu [kaum muslimin] sebelum kalian ikuti
langkah-langkah mereka”.
Ya
Ilahi Rabbi, dengan ketundukan hati,
kesucian jiwa dan kepasrahan, dengan segala kelemahan kami memanjatkan do’a
untuk saudara kami yang ada di
Palestina, mereka berhadapan dengan anjing-anjing Yahudi dan Amerika hanya
untuk mempertahankan identitasnya sebagai muslim. Paling tidak ya Allah sikap
kami ini ujud solidaritas dan simpati kami kepada mereka, tidak ada yang dapat
kami berikan sebagai bantuan atas perjuangan mereka kecuali sepenggal do’a.
Ya
Allah ya Tuhan kami, mereka menuduh kami sebagai teroris, fundamentalis dan
ekstrimis karena rasa benci mereka yang luar biasa. Bila islam dan muslim
identik dengan fundamentalis maka jadikanlah kami seorang fundamentalis, bila
islam dan muslim identik dengan ekstrimis maka jadikanlah kami seorang
ekstrimis, asal semua itu engkau ridhai.
Ya
Allah ya Tuhan kami, kobarkanlah semangat juang putra-putri Palestina dengan
inifadhahnya, gelorakan ruh jihad di
dada pejuang Hamas demi terujudnya kemenangan itu, sadarkanlah Yaser Arafat
atas kekeliruan dan kebodohannya selama ini yang dimanfaatkan Israel dan
Amerika untuk membinasakan rakyat Palestina serta mengangkangi perjanjian yang
tidak ada artinya.
Ya
Allah, hadirnya kami hari ini memanjatkan do’a untuk Palestina dan kehancuran
Israel adalah sebagai bukti bahwa kami bukanlah antek-antek Yahudi di negaka
ini sekaligus kami tidak membuka sedikitpun peluang bagi Yahudi untuk masuk ke
negara kami.
Ya
Allah ya Rabbi, sasaran mereka bukanlah Palestina dan Afghanistan saja, tapi
dimana saja ummat islam itulah sasarannya. Negara dan daerah kamipun telah
dimasuki oleh Yahudi-Yahudi Melayu yang mendukung progam Free Masonry, Woman
Club, Rotari Club dan lembaga-lembaga lainnya yang merupakan tangan-tangan
Yahudi di Indonesia.
Ya
Allah ya Tuhan kami, kobarkan semangat iman dan jihad di dada kami, tinggikan
ghirah [rasa cemburu] pada ajaran islam, gerakkan hati kami untuk membela
agama-Mu dimanapun kami berada. Jadikanlah da’wah bagi kami panglima dalam
perjuangan ini, sadarkanlah kaum muslimin yang pro Yahudi untuk mereka
bertaubat dan menyesali sikap yang demikian, hancurkanlah sehancur-hancurnya
antek-antek Yahudi di dunia ini yang dikomandoi oleh Amerika La’natullah,
sebagaimana engkau hancurkan mereka dalam
perang Khaibar dahulu.
Ya Allah ya Rabbi, wahai kaum muslimin,
masalah al Quds bukan masalah rakyat Palestina dan Bangsa Arab saja, namun
permasalahan bersama ummat islam dimanapun mereka berada, di belahan bumi
utara, selatan, timur dan juga barat.
Rasulullah meskipun dijamin masuk syurga,
dosanya yang lalu dan hari ini bahkan akan datang dihapuskan Allah tapi setiap
saat tidak lupa untuk berdo’a kepada Alah agar dirinya, ummatnya dan manusia
seluruhnya mendapat bimbingan dan hidayah-Nya, apatah lagi kita yang sangat
berjarak dengan Allah, tentu lebih penting lagi menjalin komunikasi dengan
Allah melalui do’a dan munajad kepada-Nya.
Do’a adalah sarana bagi seorang muslim
untuk mendekatkan diri kepada-Nya, mengadukan segala persoalan kita, baik
masalah pribadi,keluarga, masyarakat dan negara yang tidak bisa diselesaikan
oleh manusia, kita berharap dibalik do’a tersebut Allah mendengar pengaduan
kita, sehingga lambat atau cepat do’a itu terjawab, do’a itu biasanya terkabul
seiring dengan seberapa jauh pengabdian kita kepada Allah, wallahu a’lam [Cubadak
Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar