Kamis, 10 Desember 2015

41. Manusia



Makhluk yang kita bicarakan ini adalah bagian dari makhluk yang diciptakan Allah yang hidup bersama makhluk lainnya seperti jin, malaikat, hewan dan tumbuh-tumbuhannya, dia punya spesifikasi terhadap penciptaannya, dengan sifat dan bakat tertentu, tidak dimiliki oleh makhluk lain, itulah manusia, yang punya serenceng sifat dan watak, punya karakter tertentu dengan prestasi yang banyak, selain hal negatif banyak sekali hal positif yang dimilikinya.

Allah menciptakan makhluk-Nya dengan berbagai asal kejadian, malaikat berasal dari  cahaya, jin dan sebangsanya terbuat dari api sehingga kedua makhluk ini hidup tanpa memiliki jasad, sedangkan manusia adalah makhluk Allah yang terbuat dari tanah sebagai mana asal kejadian Adam As, kehidupan manusia tidak bisa lepas dari jasmani dan rohani, kejadian jasmani terjadi melalui proses atau dengan istilah tingkatan, Al Insyiqaq 84;19 menerangkan firman Allah, ”Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat [dalam kehidupan] ” artinya ialah dari setetes air mani sampai dilahirkan, kemudian melalji masa kanak-kanak, remaja sampai dewasa. Dari hidup menjadi mati kemudian dibangkitkan kembali.

            Manusia pertama yaitu Adam yang diciptakan dari tanah lumpur hitam dan tembikar sebagaimana firman Allah, ”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia [Adam] dari tanah liat kering [yang berasal] dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan [ingatlah] ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ”Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering [berasal] dari lumpur hitam yang diberi bentuk” [Al Hijr 15;26 dan 28].

            Dalam surat Ar Rahman 55;14-15, ”Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan dia menciptakan jin dari nyala api”. Kejadian Adam ini bukanlah seperti pendapat kita dahulu, cukup dengan ucapan ”Kun ” lalu jadi, bukan demikian, tapi mengalami proses yang cukup panjang sesuai dengan kemauan dan kehendak Allah.

            Kejadian Adam setelah ditetapkan tinggal di bumi akibat menyalahi petunjuk Allah mengalami perkembangan melalui proses perkawinan sebagaimana firman-Nya, ”Hai sekalian manusia, bertawalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki  dan perempuan yang banyak....”[An Nisa’ 4;1].

Allah sebagai Khaliq, Pencipta manusia,  menampakkan sosok manusia apa adanya secara obyektif.  Manusia diciptakan dalam keadaan sebaik-baik kejadian, tetapi Allah pula yang akan merendahkannya, tetapi semua itu karena ulah manusia sendiri.

            Sebelum membicarakan manusia dengan segala sifatnya secara obyektif yang telah disampaikan Allah melalui Al Qur’an, lebih baik diketahui terlebih dahulu siapa manusia itu sebenarnya, sebab  inilah pertanyaan hakiki yang harus menemukan jawabnya. Bila manusia tidak menemukan jawab terhadap dirinya sendiri, maka dia berada dalam lembah ketidak puasan, dia selalu ingin tahu, memang sifat manusia adalah ingin tahu.

            Para ahli telah mengemukakan pendapatnya tentang manusia, baik ditinjau dari segi psikologi maupn darei segi religi [agama]. Manusia adalah makhluk yang mempunyai bdi atau akal [Homo Sapien], makhluk yang pandai menciptakan bahasa dan menjelmakan fikiran dan perasaan dalam kata-kata yang tersusun [Homo Laquen], makhluk yang pandai membuat perkakas [Homo Faber], makhluk yang biasa ketawa, makhluk yang berorganisasi [Zoonpoliticon], makhluk yang suka main [Homo Ludens], makhluk yang beragama [Homo Religius], makhluk yang menjadi Khalifah Allah [ Homo Divinans], dan manusia adalah makhluk yang bisa menyerahkan kerja dan kekuasaannya kepada orang lain [Homo Deleqous].

            Sedangkan  konsep Al Qur’an tentang manusia  terjawab dalam surat Adz Dzariat ayat 56, ”Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepada-Ku”.

            Manusia adalah hamba, pengabdi, budak dari Allah, tidak ada yang pantas dijadikan Tuhan, tempat mengabdikan diri kecuali kepada Allah. Pengadian ini banyak caranya dan bisa dilaksanakan dengan perantara makhluk Allah yang lain, bukan karena makhluk tetapi karena Allah. Untuk manusia karena Allah, untuk negara karena Allah, untuk ibu bapak karena Allah. Bila pengabdian ini dilaksanakan untuk manusia karena manusia, untuk negara karena negara, untuk ibu bapak karena ibu bapak, maka manusia telah keluar dari fungsinya dan telah keluar pula dari jawaban hakiki yang telah diberikan oleh Allah.

            Allah dalam Al Qur’an mengemukakan sifat manusia tersebut dalam dua segi, sifat positif [baik] dan sifat negatif [buruk]. Sifat positif pada manusia disamping sifat ketuhanan seperti pengasih penyayang, pengampun dan pemurah juga dilengkapi dengan sifat khusus yaitu jujur, taqwa, tekun, ikhlas, tawakal, zuhur, rajin dan sebagainya.

            Sedangkan sifat negatif tidak kalah banyaknya dari sifat positif yang dimiliki manusia. Manusia adalah makhluk yang lemah, zhalim dan ingkar, pembanh, melewati batas, sombong, banyak tanya dan lain-lainnya, ”Sesungguhnya manusia itu diciptakan  bersifat keluh kesah ” [Al Ma’arif;19].
”Sesungguhnya manusia itu bersifat zhalim dan ingkar” [Ibrahim;34].
”Dan bila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian bila Tuhan mereka merasakan kepada mereka sedikit rahmat dari padanya, tiba-tiba dari sebagian mereka menyekutukan-Nya” [Ar Rum;33].

            Dengan mengetahui sifat negatif dan positif dari manusia yang dilibatkan Al Qur’an kepada kita,maka hal itu merupakan perisai bagi kita untuk membentengi diri ini jangan sampai memelihara sifat negatif tersebut dalam hidup ini, sebab sifat negatif tidak akan membawa manusia kepada kesenangan, kebahagiaan dan kebaikan, ”Dan janganlah kamu jerumuskan diri-diri kamu ke dalam kebinasaan dan baikkanlah, karena sesungguhnya Allah kasih sayang kepada orang-orang yang membaikkannya” [Al Baqarah;195].

            Semua tingkah polah manusia baik yang positif maupun yang negatif akan diterimanya dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, ”Siapa yang mengerjakan kebaikan walaupun sebesar zarrah [debu] ia akan melihatnya, dan siapa yang mengerjakan keburukan walaupun sebesar zarah ia akan melihatnya”[Al Zalzalah; 7-8].”Pada hari ini, lidah, tangan dan kaki mereka sendiri akan menjadi saksi atas perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan” [Yasin; 65].

Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah dengan perangkat tersendiri dan unik, dia memiliki kekhasan dan sifat-sifat tersendiri, jauh berbeda dengan makhluk lain seperti hewan, jin ataupun malaikat. Allah menerangkan dalam beberapa ayat-Nya tentang kedudukan manusia yang dapat kita jadikan sebagai evaluasi dan introsfeksi diri;

            Pertama, manusia adalah makhuk yang termulia dibandingkan dengan makhluk lainnya, dengan posisinya itulah manusia dituntut untuk selalu menjaga agar jangan jatuh pada tempat yang hina, sebab orang yang mulia bila melakukan sebuah aktivitas melanggar kemuliaannya maka posisinya jauh lebih hina dari makhluk yang hina [Al Isra’ 17;70]

            Kedua, manusia adalah makhluk yang paling indah bentuk dan kejadiannya yang terdiri dari tiga unsur yaitu akal, jasmani dan rohani. Ketiga unsur ini perlu dijaga sehingga keindahan manusia tetap terjamin. Salah satu saja terabaikan maka kehidupan manusia akan pincang atau salah satu saja yang diperioritaskan juga tidaklah sempurna, bahkan Allah akan menilai manusia bukan dari bentuk tubuh dan indahnya manusia tapi juga keindahan hati yang terbingkai dengan nilai-nilai rohani, sebagaimana sabda Rasulullah,”Sesungguhnya Allah tidak memandang jasadmu dan tidak pula bentuk wajahmu akan tetapi yang akan dipandang Allah adalah hati-hatimu”. Bahkan seorang ulama  menyatakan bahwa manusia itu dikatakan manusia bukan karena jasad dan akalnya tapi karena hati nurani yang dimilikinya ”[At Tin 95;4-5]

            Ketiga,            manusia adalah makhluk yang diberi kemampuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan dibekali dengan alat-alat yang mendukungnya dalam meraih ilmu tersebut, ketinggian posisi nabi Adam dibandingkan malaikat karena ilmunya demikian pula halnya ayat pertama kali turun kepada ummat ini bukanlah masalah shalat dan ibadah tapi yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yaitu “Iqra” dengan pengertian bacalah, kajilah dan telitilah sehingga menemjkan hikmah.
            Adapun alat yang dibekali Allah kepada manusia untuk mencapai ilmu pengetahuan tersebut adalah berupa pendengaran, penglihatan, akal fikiran dan hati [16;78], lisan dan kalam. Rasul mengisaratkan kepada kita agar meraih posisi terhormat di dunia dan akherat harus dengan ilmu pengetahuan; “Barangsiapa yang akan mencari posisi terhormat di dunia maka carilah dengan ilmu, barangsiapa yang ingin meraih kedudukan mulia di akherat maka  raihlah dengan ilmu,siapa saja yang ingin memperoleh keduanya juga dengan ilmu”

Keempat,  manusia itu diposisikan oleh Allah di dunia ini sebagai Khalifah Allah yang memiliki fungsi dan tugas sebagai pemimpin yang mengatur bumi berdasarkan petunjuk dan undang-undang Allah. Kepemimpinan yang tidak berdasarkan undang-undang Allah bukanlah khalifah Allah tapi adalah kepemimpinan thaghut atau dajjal yang merusak dan menghancurkan dunia ini [Al An’am 6;65]

            Khalifah Allah juga harus memakmurkan bumi dan mengeluarkan potensi yang terkandung di dalamnya untuk kesejahteraan ummat manusia berdasarkan petunjuk dan aturan Allah [11;61], bukanlah khalifah Allah bila kepemimpinan itu memakmurkan pribaid, keluarga dan konco-konconya. Rasulullah adalah pemimpin yang merasakan sakit dahulu sebelum rakyatnya merasakan, bila senang maka dialah orang yang terakhir merasakan kesenangan itu [Al Hadid 57;25]

            Kelima, manusia adalah makhluk yang diberikan beban untuk beribadah kepada Allah semata, ibadah yang menckup ibadah ritual dan seluruh asfek kehidupan manusia, sebagaimana firman Allah dalam surat Adz Dzariyat 51;56”Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”

            Suatu ketika seorang filusuf bernama Aristoteles disiang bolong membawa sebuah lentera keliling kampung, saat itu bertanya seorang kepadanya, kenapa dia menyalakan lentera di siang hari seolah-olah ada yang sedang dicari, dia menjawab bahwa dia sedang mencari manusia yang tidak dia temukan selama ini yaitu manusia yang sesuai dengan kodrat dan kepribadiannya, sehingga yang nampak  kita saksikan kini adalah manusia yang hanya berfisik manusia tapi berkepribadian tidak jauh dengan hewan; memangsa dan menindas sesamanya, norma-norma tidak lagi suatu aturan yang diikuti, kebenaran bukanlah ukuran, manusia dipandang karena kaya dan kuasanya, cantik dan gantengnya, ketika itu habis maka tidak ada lagi manusia kecuali seonggok daging yang tidak berharga.

Pada masa dinasti Chon di Cina [1027-221 SM] terdapat dua orang tokoh terkenal pada masa itu, Li Zhe seorang penasehat Kaisar berpendapat bahwa semua manusia bersifat buruk dan selalu ingin berbuat buruk atau hajat sehingga menurut Li Zhe harus ada undang-undang yang keras untuk bisa memaksa manusia untuk berbuat baik. Tokoh kedua bernama Kong Fut Tse dengan ajaran Konfusionisme yang kontra dengan pendapat pemerintah. Dia mengatakan bahwa manusia bersifat baik dan cendrung berbuat baik.

            Kedua pendapat diatas sama-sama benar, perbedaan terjadi karena cara pandang yang berlainan. Li Zhe terpaku kepada kejahatan yang dilakukan manusia sementara Kong Fut Tse meninjau dari segi positifnya saja. Sebenarnya pada diri manusia terdapat bakat-bakat yang akan berkembang dikemudian hari. Bakat tersebut ada yang negatif dan tidak sedikit yang positif. Manusia semuanya punya bakat untuk jadi baik dan berbakat pula untuk jadi orang yang paling jahat.

            Istilah ini menurut teori Nativisme yang dipelopori oleh Arthur Schopenhour menyebutkan bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh foktor heriditas yang berarti kodrat, sedangkan Nabi Muhammad Saw menyebutkan dengan istilah Fithrah, manusia yang lahir di dunia ini mempunyai bakat yang baik dan tidak kurang pula bakat jahatnya, dia berbakat jadi seorang pemimpin yang baik lagi terhormat, juga berbakat jadi penjahat yang khianat, kemampuannya ada untuk berbuat jujur juga tersimpan potensi lacur, fithrahnya mengatakan dia dapat menjadi orang yang amanah lagi adil dalam memegang suatu jabatan, juga terdapat kemampuan sebagai koruptor dan manipulator. Kesuciannya sejak lahir adalah Islam [7;172] tapi tidak menutup kemungkinan dia akan menjadi Yahudi, Majusi atau Nasrani tulen.

            Bakat-bakat yang dimiliki manusia yang baik maupun yang buruk akan berkembang tergantung kepada kecendrungan yang lebih besar dan kesempatan yang mempengaruhinya. Bila pendidikan dan lingkungan lebih dominan buruk maka peluangnya untuk jadi orang jahat lebih besar, sebaliknya, bila pendidikan dan lingkungan yang baik lebih besar menguasainya secara keseluruhan berarti kesempatan untuk jadi orang baik ada. Berarti potensi atau bakat tidak dapat berkembang tanpa dilatih, dididik baik secara langsung atau tidak sengaja.

            Salah satu lembaga pendidikan yang dominan dan sangat berpengaruh ialah lingkungan atau masyarakat yang berada di sekitarnya. Orang yang hidup di hutan, sejak kecil diasuh oleh binatang, sebagaimana di India ditemukan dua manusia yang bernama Ramu dan Kemala. Pada tahun 1936 di Amerika Serikat ditemukan pula seorang anak yang tidak bisa bicara dengan bahasa manusia. September 1988 di Lima Peru telah ditemukan seorang anak yang dibesarkan oleh kawanan babi dan hidup persis seperti babi liar yaitu mengendus, mendengkur dan melengking. Menurut Dr. Mario Chieppe, anak laki-laki tersebut tidak bisa bicara, walaupun dirinya menunjukkan usia 7 sampai 8 tahun, tapi tubuhnya tak lebih besar dari seorang anak yang berusia 3 tahun, tinggi badan sekitar 90 cm, anak tersebut diberi nama dengan Yesus.

            Hal-hal lain yang dapat mempengaruhi potensi manusia ke arah yang tidak baik yaitu nafsu dan syaithan, dia adalah sebagai musuh yang harus dilawan agar nilai kodrati positif dapat berkembang sebagaimana yang diharapkan, Allah berfirman, ”Sesungguhnya nafsu itu menyuruh kepada kejahatan”[Yusuf 12;53].”Jangan kamu ikuti hawa nafsu, karena nanti ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah” [Shad;26].

            Apalagi yang namanya syaitan tidak ada kompromi bagi mereka lalu melepaskan manusia sampai berhasil ditaklukkan, ”Sesungguhnya syaitan itu bagi manusia adalah musuh yang  nyata” [Yusuf;5].

            Mengenai lingkungan atau pergaulan hidup ada beberapa pendapat; Ali bin Abi Thalib berpendapat, ”Selemah-lemahnya manusia ialah orang yang menolak didatangi temannya”, dari ucapan ini berarti pergaulan atau teman sangat diperlukan dalam hidup bermasyarakat. Orang yang tidak memiliki teman hidupnya sempit, namun resiko yang dihadapi besar bila punya teman. Banyak orang mendekati temannya dikala keksusahan tetapi bergaul akrab dengan lawannya setelah mendapat kesenangan, demikian yang dikatakan oleh Abul Ula.

            Nabi Muhammad Saw menunjukkan suatu misal sehubungan dengan teman yang baik dan teman yang jahat, beliau bersabda,”Perumpamaan teman bergaul yang baik dan teman jahat ialah bagaikan pedagang minyak wangi dan tukang besi. Bila berteman dengan pedagang minyak wangi akan memperoleh sesuatu dari dua kemungkinan, membeli minyak wanginya atau mendapat percikan baunya, sedangkan berteman dengan tukang besi akan mendapat dua kemungkinan, badan akan terpercik api atau memperoleh bau yang tidak enak”.

            Manusia memiliki bakat atau fithrah yang baik sesuai dengan kesuciannya, akan menjadi baik dan menyebarkan kebaikan sehingga segala perkataan, sikap dan perbuatan sampai kepada getaran hatinya selalu menuntut untuk melakukan kebaikan demikian pula sebaliknya bila dipengaruhi oleh kejahatan. Manusia memiliki bakat sebagai  penjahat bila dididik, dipengaruhi oleh lingkungan yang baik, maka bakat jahat akan tertutup sehingga segala gerak polah laku sampai tuntunan hati nuraninya agar tetap melakukan segala kejahatan. Kecendrungan ini tergantung dari besar kecilnya dorongan dari dalam diri manusia dan lingkungan yang mengajaknya.

            Nilai dorongan kejahatan lebih besar maka kebaikan tidak diperhitungkan lagi walaupun kesempatan untuk berbuat baik banyak, bila dorongan kebaikan lebih besar maka kejahatan tidak akan dilakukan walaupun pintu kejahatan terbuka lebar. Hal ini sesuai dengan haditsnya Nabi tentang kesucian manusia yang lahir ke dunia, kesucian tersebut akan pudar bila orang yang bertanggungjawab tulisannya yang salah.

            Suatu malam akan berbeda penilaiannya dari seseorang yang baik dan yang jahat,. Orang yang baik akan berkata, malam ini dimana pengajian yang akan saya hadiri, sedangkan orang yang telah berkarat watak jahatnya akan berucap, malam ini rumah siapa lagi yang akan dijarah?

Manusia akan ditempa oleh waktu, lingkungan dan pendidikan yang diperolehnya selama mengontrak sebidang kehidupan di dunia ini, seorang Nabi lebih dahsyat tempaannya daripada manusia biasa, cobaan yang diterimanya akan menentukan sampai dimana mutu manusia itu.

            Dalam menghadapi segala tempaan ini, tidak sedikit manusia yang gugur dan gagal, putus asa dalam kehampaan, tidak sanggup menerimanya ibarat padi dalam satu tangkai yang memiliki beberapa butir, setelah datang berbagai bencana seperti serangan hama, angin serta banjir maka tidaklah semuanya akan jadi padi yang montok dan berisi, tentu ada juga butir yang hampa hingga tidak masuk dalam hitungan.

            Manusia dalam menyelesaikan hidup ini cendrung kepada apa yang nampak lahir saja, tidak mau menguak makna yang terkandung di balik itu, setiap yang lahir belum tentu baik bagi manusia, nampaknya baik tetapi terselip penderitaan. Kerugian dalam perdagangan adalah hal yang tidak diinginkan manusia siapapun orangnya, tetapi dibalik itu bagi kita akan menjadikan selalu berhati-hati, tidak seenaknya dalam menggunakan modal.

            Tidak lulus dalam ujian bagi seorang pelajar adalah beban yang memusingkan namun dibalik itu akan menjadikan pelajar tadi semakin tekun dan rajin mengikuti pelajaran dimasa datang. Terlalu sulit bagi manusia untuk mencintai hal-hal yang tidak disukai seperti musibah, kegagalan dan lain-lainnya walaupun disebelah kejadian itu terkandung hikmah yang besar, Allah berfirman, ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” [Al Baqarah 2;216].

            Kepercayaan kepada ketentuan Allah menimbulkan keseimbangan jiwa, tidak putus asa bertemu suatu kegagalan, hidupnya selalu optimis dan tidak pula membanggakan diri karena sebuah kemujuran sebab segala sesuatu bukanlah hasil usahanya sendiri. Juga akan membawa manusia kepada peningkatan ketaqwaan bahkan segala keberuntungan maupun kegagalan dapat dijadikan sebagai ujian dari Allah, ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,”Kami telah beriman” sedangkan mereka tidak diuji lagi   ?”[Al Ankabut 29;2].

            Dalam menghadapi ujian ini harus pula terujud sikap-sikap keimanan bagi seorang muslim yaitu sesuai dengan At Taubah 9;111-112,”Sesungguhnya Allah telah memberi dari  orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka, mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh, itu telah menjadi janji yang benar dari Allah dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah lebih menepati janjinya selain Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan memelihara hukum-hukum Allah, dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu”.

            Dari ayat di atas ada beberapa sikap mukmin yang harus dimiliki manakala kita ingin menjadi seorang mukmin yang kelak meraih syurga yang dijanjikan Allah. Sikap seornag mukmin bila melakukan kesalahan atau dosa maka tidak segan-segan dan tidak menunda untuk bertaubat membersihkan dirinya karena sesuai dengan ajaran Allah dalam Ali Imran 3;133, ”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa”.

            Kehidupan seorang muslim nampak dalam semaraknya mereka melakukan ibadah kepada Allah yang merupakan sikap ketundukan atas perintah Allah, ”Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum diantara mereka, ucapan mereka ialah ”Kami mendengar dan kami patuh”, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” [An Nur 24;51].

            Dalam setiap gerak dan gerik muslim tidak pernah lepas dari pujian dan sanjungan kepad Khaliqnya, ini bertanda kesyukuran kepada Allah karena dapat mengatasi ujian hidup dengan baik,”Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” [Al Baqarah 2;152].

            Dari sikap diatas akan membawa seseorang muslim menghadapi kehidupan ini tanpa harus mengeluh dan takut karena semua itu uji coba dari Allah. Ujian itu adakalanya sengsara, ada  dengan penderitaan atau ujian yang berbentuk kesenangan, kemewahan dan keberhasilan. Nampak prilaku seorang muslim yang selalu bertaubat dikala melakukan kesalahan atau sebaliknya merasa diri suci, selalu taat beribadah dan bersyukur kepada Allah atau malah mengingkari nikmat yang telah diberikan Allah.

            Realisasi dari iman harus diwujudkan dalam merentang tali menuju hidup yang hakiki, syurga tidaklah semudah yang kita impikan, dia milik Alah bukan milik nenek moyang kita, harus diperoleh sesuai dengan persyaratan yang disediakan-Nya, ”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum nyata bagi Allah yang berjuang diantara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar”[Ali Imran 3;142].

            Kesabaran dalam menerima tempaan hidup ini mutlak diperlukan, betapa tidak, angin yang kencang, petih bergelegar, bah yang dahsyat setiap saat akan menguji butir padi yang terdapat pada tangkainya, setiap insan akan menghadapi ujian dengan berbagai bentuknya untuk mengetahui kualitas seseorang, bukankah emas dapat dikatakan emas setelah mengalami ujian dan tempaan. [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar