Makhluk yang kita
bicarakan ini adalah bagian dari makhluk yang diciptakan Allah yang hidup
bersama makhluk lainnya seperti jin, malaikat, hewan dan tumbuh-tumbuhannya,
dia punya spesifikasi terhadap penciptaannya, dengan sifat dan bakat tertentu,
tidak dimiliki oleh makhluk lain, itulah manusia, yang punya serenceng sifat
dan watak, punya karakter tertentu dengan prestasi yang banyak, selain hal
negatif banyak sekali hal positif yang dimilikinya.
Allah menciptakan makhluk-Nya dengan berbagai asal kejadian, malaikat
berasal dari cahaya, jin dan sebangsanya
terbuat dari api sehingga kedua makhluk ini hidup tanpa memiliki jasad,
sedangkan manusia adalah makhluk Allah yang terbuat dari tanah sebagai mana
asal kejadian Adam As, kehidupan manusia tidak bisa lepas dari jasmani dan
rohani, kejadian jasmani terjadi melalui proses atau dengan istilah tingkatan,
Al Insyiqaq 84;19 menerangkan firman Allah, ”Sesungguhnya kamu melalui tingkat
demi tingkat [dalam kehidupan] ” artinya ialah dari setetes air mani sampai
dilahirkan, kemudian melalji masa kanak-kanak, remaja sampai dewasa. Dari hidup
menjadi mati kemudian dibangkitkan kembali.
Manusia pertama yaitu Adam yang
diciptakan dari tanah lumpur hitam dan tembikar sebagaimana firman Allah, ”Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia [Adam] dari tanah liat kering [yang
berasal] dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan [ingatlah] ketika Tuhanmu
berfirman kepada malaikat, ”Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari
tanah liat kering [berasal] dari lumpur hitam yang diberi bentuk” [Al Hijr
15;26 dan 28].
Dalam surat Ar Rahman 55;14-15, ”Dia
menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan dia menciptakan jin
dari nyala api”. Kejadian Adam ini bukanlah seperti pendapat kita dahulu, cukup
dengan ucapan ”Kun ” lalu jadi, bukan demikian, tapi mengalami proses yang
cukup panjang sesuai dengan kemauan dan kehendak Allah.
Kejadian Adam setelah ditetapkan
tinggal di bumi akibat menyalahi petunjuk Allah mengalami perkembangan melalui
proses perkawinan sebagaimana firman-Nya, ”Hai sekalian manusia, bertawalah
kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya
Allah menciptakan isterinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak....”[An Nisa’ 4;1].
Allah sebagai Khaliq, Pencipta manusia, menampakkan sosok manusia apa adanya secara
obyektif. Manusia diciptakan dalam
keadaan sebaik-baik kejadian, tetapi Allah pula yang akan merendahkannya,
tetapi semua itu karena ulah manusia sendiri.
Sebelum membicarakan manusia dengan
segala sifatnya secara obyektif yang telah disampaikan Allah melalui Al Qur’an,
lebih baik diketahui terlebih dahulu siapa manusia itu sebenarnya, sebab inilah pertanyaan hakiki yang harus menemukan
jawabnya. Bila manusia tidak menemukan jawab terhadap dirinya sendiri, maka dia
berada dalam lembah ketidak puasan, dia selalu ingin tahu, memang sifat manusia
adalah ingin tahu.
Para ahli telah mengemukakan
pendapatnya tentang manusia, baik ditinjau dari segi psikologi maupn darei segi
religi [agama]. Manusia adalah makhluk yang mempunyai bdi atau akal [Homo
Sapien], makhluk yang pandai menciptakan bahasa dan menjelmakan fikiran dan
perasaan dalam kata-kata yang tersusun [Homo Laquen], makhluk yang pandai
membuat perkakas [Homo Faber], makhluk yang biasa ketawa, makhluk yang
berorganisasi [Zoonpoliticon], makhluk yang suka main [Homo Ludens], makhluk
yang beragama [Homo Religius], makhluk yang menjadi Khalifah Allah [ Homo
Divinans], dan manusia adalah makhluk yang bisa menyerahkan kerja dan
kekuasaannya kepada orang lain [Homo Deleqous].
Sedangkan konsep Al Qur’an tentang manusia terjawab dalam surat Adz Dzariat ayat 56,
”Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepada-Ku”.
Manusia adalah hamba, pengabdi,
budak dari Allah, tidak ada yang pantas dijadikan Tuhan, tempat mengabdikan
diri kecuali kepada Allah. Pengadian ini banyak caranya dan bisa dilaksanakan
dengan perantara makhluk Allah yang lain, bukan karena makhluk tetapi karena
Allah. Untuk manusia karena Allah, untuk negara karena Allah, untuk ibu bapak
karena Allah. Bila pengabdian ini dilaksanakan untuk manusia karena manusia,
untuk negara karena negara, untuk ibu bapak karena ibu bapak, maka manusia telah
keluar dari fungsinya dan telah keluar pula dari jawaban hakiki yang telah
diberikan oleh Allah.
Allah dalam Al Qur’an mengemukakan
sifat manusia tersebut dalam dua segi, sifat positif [baik] dan sifat negatif
[buruk]. Sifat positif pada manusia disamping sifat ketuhanan seperti pengasih
penyayang, pengampun dan pemurah juga dilengkapi dengan sifat khusus yaitu
jujur, taqwa, tekun, ikhlas, tawakal, zuhur, rajin dan sebagainya.
Sedangkan sifat negatif tidak kalah banyaknya dari
sifat positif yang dimiliki manusia. Manusia adalah makhluk yang lemah, zhalim
dan ingkar, pembanh, melewati batas, sombong, banyak tanya dan lain-lainnya,
”Sesungguhnya manusia itu diciptakan
bersifat keluh kesah ” [Al Ma’arif;19].
”Sesungguhnya
manusia itu bersifat zhalim dan ingkar” [Ibrahim;34].
”Dan bila manusia
disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat
kepada-Nya, kemudian bila Tuhan mereka merasakan kepada mereka sedikit rahmat
dari padanya, tiba-tiba dari sebagian mereka menyekutukan-Nya” [Ar Rum;33].
Dengan mengetahui sifat negatif dan
positif dari manusia yang dilibatkan Al Qur’an kepada kita,maka hal itu
merupakan perisai bagi kita untuk membentengi diri ini jangan sampai memelihara
sifat negatif tersebut dalam hidup ini, sebab sifat negatif tidak akan membawa
manusia kepada kesenangan, kebahagiaan dan kebaikan, ”Dan janganlah kamu
jerumuskan diri-diri kamu ke dalam kebinasaan dan baikkanlah, karena
sesungguhnya Allah kasih sayang kepada orang-orang yang membaikkannya” [Al
Baqarah;195].
Semua tingkah polah manusia baik
yang positif maupun yang negatif akan diterimanya dan dipertanggungjawabkan di
hadapan Allah, ”Siapa yang mengerjakan kebaikan walaupun sebesar zarrah [debu]
ia akan melihatnya, dan siapa yang mengerjakan keburukan walaupun sebesar zarah
ia akan melihatnya”[Al Zalzalah; 7-8].”Pada hari ini, lidah, tangan dan kaki
mereka sendiri akan menjadi saksi atas perbuatan-perbuatan yang telah mereka
lakukan” [Yasin; 65].
Manusia adalah
makhluk yang diciptakan Allah dengan perangkat tersendiri dan unik, dia
memiliki kekhasan dan sifat-sifat tersendiri, jauh berbeda dengan makhluk lain
seperti hewan, jin ataupun malaikat. Allah menerangkan dalam beberapa ayat-Nya
tentang kedudukan manusia yang dapat kita jadikan sebagai evaluasi dan
introsfeksi diri;
Pertama, manusia adalah makhuk yang termulia dibandingkan
dengan makhluk lainnya, dengan posisinya itulah manusia dituntut untuk selalu
menjaga agar jangan jatuh pada tempat yang hina, sebab orang yang mulia bila
melakukan sebuah aktivitas melanggar kemuliaannya maka posisinya jauh lebih
hina dari makhluk yang hina [Al Isra’ 17;70]
Kedua, manusia adalah makhluk yang paling indah bentuk
dan kejadiannya yang terdiri dari tiga unsur yaitu akal, jasmani dan rohani.
Ketiga unsur ini perlu dijaga sehingga keindahan manusia tetap terjamin. Salah
satu saja terabaikan maka kehidupan manusia akan pincang atau salah satu saja
yang diperioritaskan juga tidaklah sempurna, bahkan Allah akan menilai manusia
bukan dari bentuk tubuh dan indahnya manusia tapi juga keindahan hati yang
terbingkai dengan nilai-nilai rohani, sebagaimana sabda Rasulullah,”Sesungguhnya
Allah tidak memandang jasadmu dan tidak pula bentuk wajahmu akan tetapi yang
akan dipandang Allah adalah hati-hatimu”. Bahkan seorang ulama menyatakan bahwa manusia itu dikatakan
manusia bukan karena jasad dan akalnya tapi karena hati nurani yang dimilikinya
”[At Tin 95;4-5]
Ketiga, manusia
adalah makhluk yang diberi kemampuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan
dibekali dengan alat-alat yang mendukungnya dalam meraih ilmu tersebut,
ketinggian posisi nabi Adam dibandingkan malaikat karena ilmunya demikian pula
halnya ayat pertama kali turun kepada ummat ini bukanlah masalah shalat dan
ibadah tapi yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yaitu “Iqra” dengan
pengertian bacalah, kajilah dan telitilah sehingga menemjkan hikmah.
Adapun alat yang dibekali Allah kepada manusia untuk
mencapai ilmu pengetahuan tersebut adalah berupa pendengaran, penglihatan, akal
fikiran dan hati [16;78], lisan dan kalam. Rasul mengisaratkan kepada kita agar
meraih posisi terhormat di dunia dan akherat harus dengan ilmu pengetahuan; “Barangsiapa
yang akan mencari posisi terhormat di dunia maka carilah dengan ilmu,
barangsiapa yang ingin meraih kedudukan mulia di akherat maka raihlah dengan ilmu,siapa saja yang ingin
memperoleh keduanya juga dengan ilmu”
Keempat,
manusia itu diposisikan oleh Allah di dunia ini sebagai Khalifah Allah
yang memiliki fungsi dan tugas sebagai pemimpin yang mengatur bumi berdasarkan
petunjuk dan undang-undang Allah. Kepemimpinan yang tidak berdasarkan
undang-undang Allah bukanlah khalifah Allah tapi adalah kepemimpinan thaghut
atau dajjal yang merusak dan menghancurkan dunia ini [Al An’am 6;65]
Khalifah Allah juga harus memakmurkan bumi dan
mengeluarkan potensi yang terkandung di dalamnya untuk kesejahteraan ummat
manusia berdasarkan petunjuk dan aturan Allah [11;61], bukanlah khalifah Allah
bila kepemimpinan itu memakmurkan pribaid, keluarga dan konco-konconya.
Rasulullah adalah pemimpin yang merasakan sakit dahulu sebelum rakyatnya
merasakan, bila senang maka dialah orang yang terakhir merasakan kesenangan itu
[Al Hadid 57;25]
Kelima, manusia adalah makhluk yang diberikan beban untuk
beribadah kepada Allah semata, ibadah yang menckup ibadah ritual dan seluruh
asfek kehidupan manusia, sebagaimana firman Allah dalam surat Adz Dzariyat
51;56”Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah
kepada-Ku”
Suatu ketika seorang filusuf bernama Aristoteles disiang
bolong membawa sebuah lentera keliling kampung, saat itu bertanya seorang
kepadanya, kenapa dia menyalakan lentera di siang hari seolah-olah ada yang
sedang dicari, dia menjawab bahwa dia sedang mencari manusia yang tidak dia
temukan selama ini yaitu manusia yang sesuai dengan kodrat dan kepribadiannya,
sehingga yang nampak kita saksikan kini
adalah manusia yang hanya berfisik manusia tapi berkepribadian tidak jauh
dengan hewan; memangsa dan menindas sesamanya, norma-norma tidak lagi suatu
aturan yang diikuti, kebenaran bukanlah ukuran, manusia dipandang karena kaya
dan kuasanya, cantik dan gantengnya, ketika itu habis maka tidak ada lagi
manusia kecuali seonggok daging yang tidak berharga.
Pada
masa dinasti Chon di Cina [1027-221 SM] terdapat dua orang tokoh terkenal pada
masa itu, Li Zhe seorang penasehat Kaisar berpendapat bahwa semua manusia
bersifat buruk dan selalu ingin berbuat buruk atau hajat sehingga menurut Li
Zhe harus ada undang-undang yang keras untuk bisa memaksa manusia untuk berbuat
baik. Tokoh kedua bernama Kong Fut Tse dengan ajaran Konfusionisme yang kontra
dengan pendapat pemerintah. Dia mengatakan bahwa manusia bersifat baik dan
cendrung berbuat baik.
Kedua pendapat diatas sama-sama
benar, perbedaan terjadi karena cara pandang yang berlainan. Li Zhe terpaku
kepada kejahatan yang dilakukan manusia sementara Kong Fut Tse meninjau dari
segi positifnya saja. Sebenarnya pada diri manusia terdapat bakat-bakat yang
akan berkembang dikemudian hari. Bakat tersebut ada yang negatif dan tidak
sedikit yang positif. Manusia semuanya punya bakat untuk jadi baik dan berbakat
pula untuk jadi orang yang paling jahat.
Istilah ini menurut teori Nativisme
yang dipelopori oleh Arthur Schopenhour menyebutkan bahwa perkembangan manusia
ditentukan oleh foktor heriditas yang berarti kodrat, sedangkan Nabi Muhammad
Saw menyebutkan dengan istilah Fithrah, manusia yang lahir di dunia ini
mempunyai bakat yang baik dan tidak kurang pula bakat jahatnya, dia berbakat
jadi seorang pemimpin yang baik lagi terhormat, juga berbakat jadi penjahat
yang khianat, kemampuannya ada untuk berbuat jujur juga tersimpan potensi
lacur, fithrahnya mengatakan dia dapat menjadi orang yang amanah lagi adil
dalam memegang suatu jabatan, juga terdapat kemampuan sebagai koruptor dan
manipulator. Kesuciannya sejak lahir adalah Islam [7;172] tapi tidak menutup
kemungkinan dia akan menjadi Yahudi, Majusi atau Nasrani tulen.
Bakat-bakat yang dimiliki manusia
yang baik maupun yang buruk akan berkembang tergantung kepada kecendrungan yang
lebih besar dan kesempatan yang mempengaruhinya. Bila pendidikan dan lingkungan
lebih dominan buruk maka peluangnya untuk jadi orang jahat lebih besar,
sebaliknya, bila pendidikan dan lingkungan yang baik lebih besar menguasainya
secara keseluruhan berarti kesempatan untuk jadi orang baik ada. Berarti
potensi atau bakat tidak dapat berkembang tanpa dilatih, dididik baik secara
langsung atau tidak sengaja.
Salah satu lembaga pendidikan yang
dominan dan sangat berpengaruh ialah lingkungan atau masyarakat yang berada di
sekitarnya. Orang yang hidup di hutan, sejak kecil diasuh oleh binatang,
sebagaimana di India ditemukan dua manusia yang bernama Ramu dan Kemala. Pada
tahun 1936 di Amerika Serikat ditemukan pula seorang anak yang tidak bisa
bicara dengan bahasa manusia. September 1988 di Lima Peru telah ditemukan
seorang anak yang dibesarkan oleh kawanan babi dan hidup persis seperti babi
liar yaitu mengendus, mendengkur dan melengking. Menurut Dr. Mario Chieppe,
anak laki-laki tersebut tidak bisa bicara, walaupun dirinya menunjukkan usia 7
sampai 8 tahun, tapi tubuhnya tak lebih besar dari seorang anak yang berusia 3
tahun, tinggi badan sekitar 90 cm, anak tersebut diberi nama dengan Yesus.
Hal-hal lain yang dapat mempengaruhi
potensi manusia ke arah yang tidak baik yaitu nafsu dan syaithan, dia adalah
sebagai musuh yang harus dilawan agar nilai kodrati positif dapat berkembang
sebagaimana yang diharapkan, Allah berfirman, ”Sesungguhnya nafsu itu menyuruh
kepada kejahatan”[Yusuf 12;53].”Jangan kamu ikuti hawa nafsu, karena nanti ia akan
menyesatkan kamu dari jalan Allah” [Shad;26].
Apalagi yang namanya syaitan tidak
ada kompromi bagi mereka lalu melepaskan manusia sampai berhasil ditaklukkan,
”Sesungguhnya syaitan itu bagi manusia adalah musuh yang nyata” [Yusuf;5].
Mengenai lingkungan atau pergaulan
hidup ada beberapa pendapat; Ali bin Abi Thalib berpendapat, ”Selemah-lemahnya
manusia ialah orang yang menolak didatangi temannya”, dari ucapan ini berarti
pergaulan atau teman sangat diperlukan dalam hidup bermasyarakat. Orang yang
tidak memiliki teman hidupnya sempit, namun resiko yang dihadapi besar bila
punya teman. Banyak orang mendekati temannya dikala keksusahan tetapi bergaul
akrab dengan lawannya setelah mendapat kesenangan, demikian yang dikatakan oleh
Abul Ula.
Nabi Muhammad Saw menunjukkan suatu
misal sehubungan dengan teman yang baik dan teman yang jahat, beliau
bersabda,”Perumpamaan teman bergaul yang baik dan teman jahat ialah bagaikan
pedagang minyak wangi dan tukang besi. Bila berteman dengan pedagang minyak
wangi akan memperoleh sesuatu dari dua kemungkinan, membeli minyak wanginya
atau mendapat percikan baunya, sedangkan berteman dengan tukang besi akan
mendapat dua kemungkinan, badan akan terpercik api atau memperoleh bau yang
tidak enak”.
Manusia memiliki bakat atau fithrah
yang baik sesuai dengan kesuciannya, akan menjadi baik dan menyebarkan kebaikan
sehingga segala perkataan, sikap dan perbuatan sampai kepada getaran hatinya
selalu menuntut untuk melakukan kebaikan demikian pula sebaliknya bila
dipengaruhi oleh kejahatan. Manusia memiliki bakat sebagai penjahat bila dididik, dipengaruhi oleh
lingkungan yang baik, maka bakat jahat akan tertutup sehingga segala gerak
polah laku sampai tuntunan hati nuraninya agar tetap melakukan segala
kejahatan. Kecendrungan ini tergantung dari besar kecilnya dorongan dari dalam
diri manusia dan lingkungan yang mengajaknya.
Nilai dorongan kejahatan lebih besar
maka kebaikan tidak diperhitungkan lagi walaupun kesempatan untuk berbuat baik
banyak, bila dorongan kebaikan lebih besar maka kejahatan tidak akan dilakukan
walaupun pintu kejahatan terbuka lebar. Hal ini sesuai dengan haditsnya Nabi
tentang kesucian manusia yang lahir ke dunia, kesucian tersebut akan pudar bila
orang yang bertanggungjawab tulisannya yang salah.
Suatu malam akan berbeda
penilaiannya dari seseorang yang baik dan yang jahat,. Orang yang baik akan
berkata, malam ini dimana pengajian yang akan saya hadiri, sedangkan orang yang
telah berkarat watak jahatnya akan berucap, malam ini rumah siapa lagi yang akan
dijarah?
Manusia akan ditempa oleh waktu, lingkungan dan pendidikan yang
diperolehnya selama mengontrak sebidang kehidupan di dunia ini, seorang Nabi
lebih dahsyat tempaannya daripada manusia biasa, cobaan yang diterimanya akan
menentukan sampai dimana mutu manusia itu.
Dalam menghadapi segala tempaan ini,
tidak sedikit manusia yang gugur dan gagal, putus asa dalam kehampaan, tidak
sanggup menerimanya ibarat padi dalam satu tangkai yang memiliki beberapa
butir, setelah datang berbagai bencana seperti serangan hama, angin serta
banjir maka tidaklah semuanya akan jadi padi yang montok dan berisi, tentu ada
juga butir yang hampa hingga tidak masuk dalam hitungan.
Manusia dalam menyelesaikan hidup
ini cendrung kepada apa yang nampak lahir saja, tidak mau menguak makna yang
terkandung di balik itu, setiap yang lahir belum tentu baik bagi manusia,
nampaknya baik tetapi terselip penderitaan. Kerugian dalam perdagangan adalah
hal yang tidak diinginkan manusia siapapun orangnya, tetapi dibalik itu bagi
kita akan menjadikan selalu berhati-hati, tidak seenaknya dalam menggunakan
modal.
Tidak lulus dalam ujian bagi seorang
pelajar adalah beban yang memusingkan namun dibalik itu akan menjadikan pelajar
tadi semakin tekun dan rajin mengikuti pelajaran dimasa datang. Terlalu sulit
bagi manusia untuk mencintai hal-hal yang tidak disukai seperti musibah,
kegagalan dan lain-lainnya walaupun disebelah kejadian itu terkandung hikmah
yang besar, Allah berfirman, ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat
baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu,
Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” [Al Baqarah 2;216].
Kepercayaan kepada ketentuan Allah
menimbulkan keseimbangan jiwa, tidak putus asa bertemu suatu kegagalan,
hidupnya selalu optimis dan tidak pula membanggakan diri karena sebuah
kemujuran sebab segala sesuatu bukanlah hasil usahanya sendiri. Juga akan
membawa manusia kepada peningkatan ketaqwaan bahkan segala keberuntungan maupun
kegagalan dapat dijadikan sebagai ujian dari Allah, ”Apakah manusia itu mengira
bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,”Kami telah beriman” sedangkan mereka
tidak diuji lagi ?”[Al Ankabut 29;2].
Dalam menghadapi ujian ini harus
pula terujud sikap-sikap keimanan bagi seorang muslim yaitu sesuai dengan At
Taubah 9;111-112,”Sesungguhnya Allah telah memberi dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka
dengan memberikan syurga untuk mereka, mereka berperang di jalan Allah, lalu
mereka membunuh atau terbunuh, itu telah menjadi janji yang benar dari Allah
dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah lebih menepati janjinya selain
Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan
itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat,
yang beribadat, yang memuji Allah, yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang
menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan memelihara hukum-hukum
Allah, dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu”.
Dari ayat di atas ada beberapa sikap
mukmin yang harus dimiliki manakala kita ingin menjadi seorang mukmin yang
kelak meraih syurga yang dijanjikan Allah. Sikap seornag mukmin bila melakukan
kesalahan atau dosa maka tidak segan-segan dan tidak menunda untuk bertaubat
membersihkan dirinya karena sesuai dengan ajaran Allah dalam Ali Imran 3;133,
”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang
bertaqwa”.
Kehidupan seorang muslim nampak
dalam semaraknya mereka melakukan ibadah kepada Allah yang merupakan sikap
ketundukan atas perintah Allah, ”Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila
mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum diantara
mereka, ucapan mereka ialah ”Kami mendengar dan kami patuh”, dan mereka itulah
orang-orang yang beruntung” [An Nur 24;51].
Dalam setiap gerak dan gerik muslim
tidak pernah lepas dari pujian dan sanjungan kepad Khaliqnya, ini bertanda
kesyukuran kepada Allah karena dapat mengatasi ujian hidup dengan baik,”Karena
itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah
kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” [Al Baqarah 2;152].
Dari sikap diatas akan membawa
seseorang muslim menghadapi kehidupan ini tanpa harus mengeluh dan takut karena
semua itu uji coba dari Allah. Ujian itu adakalanya sengsara, ada dengan penderitaan atau ujian yang berbentuk
kesenangan, kemewahan dan keberhasilan. Nampak prilaku seorang muslim yang
selalu bertaubat dikala melakukan kesalahan atau sebaliknya merasa diri suci,
selalu taat beribadah dan bersyukur kepada Allah atau malah mengingkari nikmat
yang telah diberikan Allah.
Realisasi dari iman harus diwujudkan
dalam merentang tali menuju hidup yang hakiki, syurga tidaklah semudah yang
kita impikan, dia milik Alah bukan milik nenek moyang kita, harus diperoleh
sesuai dengan persyaratan yang disediakan-Nya, ”Apakah kamu mengira bahwa kamu
akan masuk syurga, padahal belum nyata bagi Allah yang berjuang diantara kamu
dan belum nyata orang-orang yang sabar”[Ali Imran 3;142].
Kesabaran
dalam menerima tempaan hidup ini mutlak diperlukan, betapa tidak, angin yang
kencang, petih bergelegar, bah yang dahsyat setiap saat akan menguji butir padi
yang terdapat pada tangkainya, setiap insan akan menghadapi ujian dengan berbagai
bentuknya untuk mengetahui kualitas seseorang, bukankah emas dapat dikatakan
emas setelah mengalami ujian dan tempaan. [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/
Agustus 2010.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar