Kata rindu bukanlah hal yang baru bagi manusia apalagi yang
sedang jatuh cinta walaupun sebenarnya ungkapan rindu bukan hanya bagi yang
sedang jatuh cinta saja. Dikala tidak ada lagi keadilan pada kehidupan berbangsa
dan bernegara maka kita rindu dengan pemimpin yang adil dan mensejahterakan
rakyatnya, saat jarangnya ditemui orang-orang yang baik lagi shaleh, kita
merindukan orang demikian dalam kehidupan kita.Salah satu tanda-tanda cinta
adalah merindukan orang yang dicintai dikala jauh dan menyayanginya dikala
dekat.
Orang beriman adalah pribadi yang
digembleng dengan pendidikan keislaman yang baik sehingga kerinduannyapun
kepada hal-hal yang positif seperti rindu dengan negeri yang digambarkan Allah
dalam Al Qur’an dengan julukan Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghaffur, rindu
dengan suami atau isteri yang shaleh dan shalehah, merindukan anak-anak yang
berbakti kepada orangtuanya, rindu dengan Rasulullah hingga merindukan syurga
untuk bisa bertemu dengan Allah. Kerinduan dengan syurga bagi orang beriman
diungkapkan oleh Ustadz Fathuddin Jaffar pada khutbah jum’atnya di
eramuslim.com, sebagaimana yang diuraikan dibawah ini;
Setiap orang yang beriman pada
Allah, Rasul-Nya dan hari akhir pasti merindukan surga.Ia merindukan surga
bukan karena sudah bosan hidup di dunia, atau karena sudah tidak tahan
menghadapi kesulitan kehidupan dunia. Akan tetapi, karena ia memahami dan
meyakini bahwa kehidupan yang hakiki dan abadi hanyalah kehidupan surga.
Sebanyak apapun uang yang dimilikinya dan setinggi apapun pangkat dan jabatan
yang didukunnya semasa hidup di dunia ini tetap saja tidak dapat ia nikmati
semuanya. Yang ia nikmati sebenarnya tidak lebih dari apa yang ia makan dan ia
pakai dalam kesehariannya.
Uang yang melimpah dalam
rekeningnya, tanah dan kebun yang luas yang dimilikinya, rumah yang besar yang
dibelinya, kenderaan yang mahal yang diperolehnya, tetap saja sebagai tumpukan
harta yang secara forlam miliknya, namun ia tidak bisa menikmati semuanya,
apalagi saat ia sakit atau sedang menghadapi sakratul maut. Semuanya hanyalah
banyang-bayang atau kepemilikan semu belaka. Hal inilah yang diperingatkan
Allah dalam Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
Dihiaskan kepada
manusia kecintaan syahawat berupa wanita, anak-anak, harta benda dari emas dan
perak, dan kuda-kuda yang ditambatkan, dan binatang ternak, dan kebun.Semua itu
hanya kenikmatan dunia semata, sedangkan di sisi Allah tempat kembali yang
baik. (QS. Ali Imran [3] : 14)
Seperti apa orang yang
merindukan surga itu dapat kita lihat pada generasi Islam pertama; para sahabat
Rasul SAW. yang mulia dan generasi terbaik yang pernah Allah lahirkan ke atas
dunia ini. Setelah masuk Islam, life style (gaya hidup)
mereka benar-benar berubah dari life style yang menjadi trend
dan berkembang dalam masyarakat jahiliyah menjadi life
style generasi yang merindukan surga. Semua pencapaian duniawi yang
mereka raih baik sebelum Islam maupun setelah masuk Islam bukan lagi dianggap
sebagai standar keberhasilan bagi mereka. Siapa yang tidak kenal dengan
Khadijah, Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Shuhaib Arrumi, Abdurrahman Bin Auh dan
seterusnya? Rasululllah SAW benar berhasil mencetak mereka menjadi generasi
akhirat dan pribadi-pribadi yang mencintai akhirat, meletakkan dunia ini di
tepalak tangan mereka dan merindukan surga melebihi dari kerinduan mereka
kepada anak-anak, istri-istri, harta, kampung halaman, tempat kelahiran dan
sebagainya.
Bukti rindunya mereka kepada
surga, Allah memberikan kepada mereka stempel “radhiyallahu ‘anhum” (Allah
telah meridhoi mereka), padahal mereka masih hidup di dunia. Tidak ada di balik
keridhaan Allah itu melaikan surga, seperti yang difirmankan-Nya :
Dan orang-orang yang
terdahulu (generasi pertama Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.Allah telah meridhai mereka dan
merekapun ridha kepada-Nya dan Dia (Allah) telah menyiapkan bagi mereka surga
yang mengalir di bawahnya bermacam-macam sungai, mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya.Demikian itu adalah kesuksesan yang amat agung (tanpa batas).
(QS. At-Taubah [9] : 100)
Demikianlah orang yang
beriman.Ia sama sekali tidak tertipu oleh betapaun gemerlapnya dunia dan
sebesar apapun dunia datang menghampirinya. Pandangannya terfokus kepada
surga.Kerinduannya yang mendalam kepada surga bersemi dalam lubuh hati dan
jantungya. Di matanya, dunia dengan segala fasilitas hidup yang Allah
anugerahkan kepadanya dan betapapun banyaknya, tidak lebih dari modal yang ia
gunakan semuanya untuk membeli tiket ke surga. Sebab itu, ia bersegera dan
berlomba-lomba meraih tiket tersebut dengan mengerahkan segala potensi yang
Allah berikan padanya seperti, ilmu, harta, pemikiran, tenaga dan bahkan
nyawanya. Pikiran dan persaanya tertuju kepada sebuah kehiudpan yang hakiki nan
penuh kebahagiaan, yaitu kehidupan surga. Tak seditikpun waktu, ilmu, harta dan
tenaga ia sia-siakan. Semuanya ia curahkan untuk mengejar kehidupan surga.
Persis seperti yang Allah jelaskan dalam Al-Qur’an :
Dan bersegeralah kamu
kepada ampunan dari Tuhan Penciptamu dan kepada surga yang luasnya seluas
langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (yaitu)
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang
apabila mengerjakan perbuatan dosa atau menganiaya diri sendiri, mereka segera
ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi
yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan
perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.Mereka itu balasannya ialah
ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai,
sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang
beramal. (QS. Ali Imran [3] : 133–136)
Demikianlah di antara karakter
dan sifat orang Mukmin yang merindukan surga sehingga kita melihatnya orang
yang sangat sibuk beramal shaleh dan memperbaiki keimanan dan akhlaknya.Tidak
ada satu detikpun waktunya yang terbuang percuma.Tidak satu katapun yang keluar
dari mulutnya yang sia-sia, apalagi bernilai dosa. Tidak ada satu senpun uang
yang ia peroleh kecuali ia belanjakan di jalan Allah dan untuk hal bermanfaat
bagi dirinya, keluargnya dan masyarakatnya, bukan untuk ditumpuk dalam
rekeningnya. Semua potensi yang Allah anugerahkan kepadanya ia arahkan untuk
kepentingan akhiratnya demi mencapai surga yang ia rindukan.[Fathuddin Jafar,Merindukan Surga, Eramuslim.com
Rabu, 02/03/2011 06:30 WIB].
Kita merindukan di dunia ini
keadaan ummat islam yang pernah dialami oleh Rasulullah dan para sahabatnya
yang dicantumkan Allah dalam firman-Nya dibawah ini;
"Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli
Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang
beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik" [Ali Imran 3;110].
Dari ayat diatas Allah
menyatakan bahwa ummat terbaik itu adalah ummat
islam, padahal kenyataannya sejak zaman dahulu seperti ketika kita
dizaman Belanda, dalam penjajahan yang lamanya 350 tahun demikian pula negara-negar
islam lainnya dalam jajahan bangsa lain, kinipun ummat islam selalu ditindas
seperti di Bosnia, Kashmir, Moro, Pattani dan Palestina. Dengan kenyataan ini
apakah janji Alalh itu tidak tepat sehingga dimana-mana ummat islam selalu
dihina dan dianiaya? Padahal diungkapkan dalam beberapa ayat tentang kepastian
janji Allah;
" Hai
manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah
kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang
pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah" [Fathir 35;5]"Sesungguhnya
apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi" [Al Mursalat 77;7]
Ada kemungkinan Allah belum
menepati janji-Nya karena kesalahan ummat islam sendiri, tidak mau menagih
janji itu dan tidak mau berbuat yang maksimal untuk menggapai janji itu, namun
demikian Rasulullah mempunyai sebuah
prediksi tentang akan munculnya generasi terbaik itu sebagaimana sabda beliau
berikut ini; "Sebaik-baik generasi adalah pada abadku, kemudian abad yang
berikutnya, kemudian yang berikutnya, kemudian setelah itu akan ada satu kaum
yang maju menjadi saksi walaupun tidak diminta,
dan berkhianat tidak amanah, kalau bernazar tidak menepati, dan tampak
mereka itu gemuk badan dan besar perutnya" [HR. Bukhari dan Muslim].
Untuk hadir dizaman Rasululah
tidak mungkin bisa kita alami tapi ada masa yang baik sesudah itu yaitu abad
sesudah sahabat dan abad setelah itu, kita merindukan abad yang dimaksud, yaitu
abad ummat islam berjaya sebagaimana kejayaan masa lalu sudah dialami oleh
orang-orang terdahulu, kerinduan agar ummat terbaik bisa kita raih tentu dengan
usaha yang maksimal.
Kita merindukan rumah tangga
atau keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah karena untuk baiknya sebuah
masyarakat, bangsa dan negara diawali dari pembinaan rumah tangga.Keluarga yang islami adalah keluarga yang menyelamatkan
anggotanya dari api neraka dengan jalan mengarahkan, membimbing dan membina
anggota keluarga sejak dini, Allah berfirman;
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa
yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan”[At Tahrim 66;6]
Berkaitan dengan ayat diatas, Umar bin Khattab ingin
meminta penjelasan Rasulullah tentang kiat menjaga keluarga dari api neraka,
ketika itu Rasulullah menjawab,’’Tanamkan
dalam hatinya tentang apa saja yang diperintahkan Allah agar dilaksanakan,
ajarkan mereka tentang apa saja yang dilarang Allah supaya mereka
meninggalkannya”
Sangat ironi orangtua yang tidak memperhatikan
keselamatan anaknya baik di dunia maupun di akherat, dapat dikatakan tidak
bertanggungjawab andaikata ayah dan ibu hanya sibuk untuk menyelamatkan dirinya
lalu mengabaikan anak dan keturunannya, sungguh bodoh orang yang menyelamatkan
anak dan keturunannya dari api neraka sementara dirinya dibiarkan saja dan
sangat konyol bila orangtua mengabaikan dirinya dan melupakan anak keturunan.
Jangankan urusan akherat sedangkan untuk kepentingan dunia saja orangtua sangat
khawatir bila anaknya lemah ilmu, ekonomi, fisik dan mental, apalagi lemah iman
dan kurangnya amal, tentu keluarga ini sangat memprihatinkan;
“Dan hendaklah takut kepada Allah
orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang
lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu
hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar”[An Nisa’ 4;9].
Keluarga islami itu adalah keluarga yang
merencanakan kehidupannya di dunia dan di akherat mengalami kesuksesan dan
modal kesuksesan itu adalah ilmu pengetahuan sebagaimana sabda Rasulullah,”Barangsiapa yang menghendaki kehidupan
yang baik di dunia maka raihlah dengan ilmu, barangsiapa yang mencari
kesuksesan hidup di akherat maka kejarlah dengan ilmu, dan siapa saja yang mau
berhasil di dunia dan di akherat maka kuncinya adalah ilmu”.
Inilah
pribadi dan keluarga yang beruntung,syurga di dunia diraihnya tapi akherat yang
abadi tidak dilupakan, karena dunia hanyalah perantara dan sementara, semua
potensi hidupnya digunakan untuk beramal dan berikhtiar, karena memang ini yang
dapat manusia lakukan;“Dan Katakanlah:
"Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan
melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang
mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa
yang Telah kamu kerjakan” [At Taubah 9;105]
Keberhasilan
mereka di dunia ini dan di akherat
karena mampu dan mau menerapkan ajaran Allah dengan baik, dia telah mendidik dirinya menjadi ayah dan ibu
yang bertanggungjawab kepada anaknya
sehingga sang anak tampil dengan kepribadian islami yaitu pribadi yang shaleh
dan shalehah;“Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga 'Adn yang Telah
Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak
mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya
Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,”[Al Mukmin 40;8]
Kita merindukan anak-anak dan pemuda-pemuda yang shaleh
dan shalehah, selain mementingkan agama untuk dirinya juga untuk menegakkan
islam hingga akhir hayatnya, sebuah kisah menceritakan kepribadian seorang
pemuda yang menjadi harapan bagi orangtua dimasa kapanpun.
Seorang anak
muda, yang sedang menunggu adzan Subuh di Masjidil Haram.Dia membaca al Qur’an
setelah menunaikan shalat malam.Lalu tibalah adzan Subuh berkumandang.
Diletakkannya al Quran dan dia maju mengisi shaff kosong untuk mendirikan
shalat qabliyah Subuh yang menurut Rasulullah saw, berbobot lebih berat
dibanding dunia dan seisinya. Rasulullah begitu mengistimewakan shalat dua
rakaat sebelum Subuh ini. Dari Aisyah, beliau mengatakan mengatakan, ”Tidak
pernah Rasulullah saw sangat mewanti-wanti (sangat perhatian) atas sesuatu yang
sunat melebihi pada dua rakaat qabla subuh." Sahih Al-Bukhari, I : 393,
Sahih Muslim, I : 501
Bahkan,
Rasulullah sendiri pernah mengatakan, dari Ibnu Sailan dari Abu Hurairah
bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda, ”Janganlah kalian meninggalkan dua
rakaat qabla Subuh walaupun seekor kuda mencampakkan kalian". Musnad
Ahmad, II : 405, Sunan Abu Daud, II : 20, Sunan Al-Baihaqi Al-Kubra, II : 470
dan Malik
Kembali pada
kisah awal, sang pemuda lalu mendirikan shalat dua rakaat sebelum iqamat. Meski
shalat ini dilaksanakan dengan ringan, tapi penuh kekhusyu’an. Usai mendirikan
shalat, sang pemuda menunggu iqamat. Dan ketika pemuda ini berdiri untuk
mencari shaff yang perlu diisi setelah iqamat dikumandangkan, tiba-tiba dia terjatuh
lunglai, lemas tak bertenaga. Jamaah shalat Subuh segera menolongnya, melarikan
sang pemuda ke rumah sakit yang tersedia.
Rupanya, sang
pemuda mengalami penyumbatan pembuluh darah ke jantung. Fajar itu, ruangan unit
gawat darurat sibuk mengambil langkah penyelamatan. Seorang perawat diminta
untuk mendampingi sang pemuda, sementara dokter jaga dan spesialis jantung
menyiapkan operasi yang mungkin harus diputuskan segera. Tapi tiba-tiba sang
pemuda, meminta perawat yang di dekatnya, untuk lebih mendekat lagi.
Dibisikkannya sebuah kalimat, lalu sang pemuda memiringkan badannya ke sebelah
kanan, pelahan mengucapkan kalimat, “Asyhadu allaa ilaaha illallaah,
Waasyhadu anna Muhammadan rasuulullaah.Hanya Engkau Tuhan yang patut
disembah, dan sungguh aku bersaksi bahwa Muhammad ádalah Rasul-Mu yang mulia.”
Begitu saja,
lalu sang pemuda menutup mata, napas terakhirnya usai sebelum dokter melakukan
apa-apa. Sang perawat bergetar, lututnya tak mampu menahan berat tubuhnya.Ia
jatuh terkulai di tepi ranjang. Para dokter sibuk menanyai, tapi tak sepatah
kata mampu keluar dari lisannya. Setelah semua tenang, baru sang perawat bisa
bercerita, kalimat apa yang dibisikan oleh sang pemuda.
Pada perawat sang pemuda berkata,
“Katakan pada dokter, tak perlu susah, ajalku sudah tiba. Dari sini aku bisa
melihat tempatku di surga.”Itulah kalimat sebelum dia berbalik kanan dan
mengucapkan syahadat dengan tarifan napas terakhir.Kalimat itulah yang membuat
lututnya bergetar hebat dan tak bertenaga.[Herry nurdi, Rindu pada Pemuda Shalih,Cyber
Sabili, Selasa, 05 Oktober 2010 03:12].
Selama
masih ada benih cinta kasih dan sayang pada diri manusia maka selama itu pula
masih ada bersemayam perasaan rindu kepada seseorang dan perasaan rindu juga terhadap keadaan yang
lebih baik, bahkan kerinduan juga dipendam oleh makhluk Allah yang lain seperti
syurga merindukan orang-orang beriman yang berpuasa pada bulan Ramadhan.Kerinduan
kita kepada Ramadhan adalah sesuatu yang baik dan wajar tapi lebih baik lagi
bila Ramadhan yang merindukan kita, Wallahu a’lam.[Baloi
Indah Batam, 11 Rajab 1432.H/ 13 Juni 2011.M].a

Tidak ada komentar:
Posting Komentar