Rabu, 16 Desember 2015

85. Rindu



Kata rindu bukanlah  hal yang baru bagi manusia apalagi yang sedang jatuh cinta walaupun sebenarnya ungkapan rindu bukan hanya bagi yang sedang jatuh cinta saja. Dikala tidak ada lagi keadilan pada kehidupan berbangsa dan bernegara maka kita rindu dengan pemimpin yang adil dan mensejahterakan rakyatnya, saat jarangnya ditemui orang-orang yang baik lagi shaleh, kita merindukan orang demikian dalam kehidupan kita.Salah satu tanda-tanda cinta adalah merindukan orang yang dicintai dikala jauh dan menyayanginya dikala dekat.

            Orang beriman adalah pribadi yang digembleng dengan pendidikan keislaman yang baik sehingga kerinduannyapun kepada hal-hal yang positif seperti rindu dengan negeri yang digambarkan Allah dalam Al Qur’an dengan julukan Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghaffur, rindu dengan suami atau isteri yang shaleh dan shalehah, merindukan anak-anak yang berbakti kepada orangtuanya, rindu dengan Rasulullah hingga merindukan syurga untuk bisa bertemu dengan Allah. Kerinduan dengan syurga bagi orang beriman diungkapkan oleh Ustadz Fathuddin Jaffar pada khutbah jum’atnya di eramuslim.com, sebagaimana yang diuraikan dibawah ini;
Setiap orang yang beriman pada Allah, Rasul-Nya dan hari akhir pasti merindukan surga.Ia merindukan surga bukan karena sudah bosan hidup di dunia, atau karena sudah tidak tahan menghadapi kesulitan kehidupan dunia. Akan tetapi, karena ia memahami dan meyakini bahwa kehidupan yang hakiki dan abadi hanyalah kehidupan surga. Sebanyak apapun uang yang dimilikinya dan setinggi apapun pangkat dan jabatan yang didukunnya semasa hidup di dunia ini tetap saja tidak dapat ia nikmati semuanya. Yang ia nikmati sebenarnya tidak lebih dari apa yang ia makan dan ia pakai dalam kesehariannya.

Uang yang melimpah dalam rekeningnya, tanah dan kebun yang luas yang dimilikinya, rumah yang besar yang dibelinya, kenderaan yang mahal yang diperolehnya, tetap saja sebagai tumpukan harta yang secara forlam miliknya, namun ia tidak bisa menikmati semuanya, apalagi saat ia sakit atau sedang menghadapi sakratul maut. Semuanya hanyalah banyang-bayang atau kepemilikan semu belaka. Hal inilah yang diperingatkan Allah dalam Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
Dihiaskan kepada manusia kecintaan syahawat berupa wanita, anak-anak, harta benda dari emas dan perak, dan kuda-kuda yang ditambatkan, dan binatang ternak, dan kebun.Semua itu hanya kenikmatan dunia semata, sedangkan di sisi Allah tempat kembali yang baik. (QS. Ali Imran [3] : 14)

Seperti apa orang yang merindukan surga itu dapat kita lihat pada generasi Islam pertama; para sahabat Rasul SAW. yang mulia dan generasi terbaik yang pernah Allah lahirkan ke atas dunia ini. Setelah masuk Islam, life style (gaya hidup) mereka benar-benar berubah dari life style yang menjadi trend dan berkembang dalam masyarakat jahiliyah menjadi life style generasi yang merindukan surga. Semua pencapaian duniawi yang mereka raih baik sebelum Islam maupun setelah masuk Islam bukan lagi dianggap sebagai standar keberhasilan bagi mereka. Siapa yang tidak kenal dengan Khadijah, Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Shuhaib Arrumi, Abdurrahman Bin Auh dan seterusnya? Rasululllah SAW benar berhasil mencetak mereka menjadi generasi akhirat dan pribadi-pribadi yang mencintai akhirat, meletakkan dunia ini di tepalak tangan mereka dan merindukan surga melebihi dari kerinduan mereka kepada anak-anak, istri-istri, harta, kampung halaman, tempat kelahiran dan sebagainya.

Bukti rindunya mereka kepada surga, Allah memberikan kepada mereka stempel “radhiyallahu ‘anhum” (Allah telah meridhoi mereka), padahal mereka masih hidup di dunia. Tidak ada di balik keridhaan Allah itu melaikan surga, seperti yang difirmankan-Nya :
Dan orang-orang yang terdahulu (generasi pertama Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.Allah telah meridhai mereka dan merekapun ridha kepada-Nya dan Dia (Allah) telah menyiapkan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya bermacam-macam sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.Demikian itu adalah kesuksesan yang amat agung (tanpa batas). (QS. At-Taubah [9] : 100)

Demikianlah orang yang beriman.Ia sama sekali tidak tertipu oleh betapaun gemerlapnya dunia dan sebesar apapun dunia datang menghampirinya. Pandangannya terfokus kepada surga.Kerinduannya yang mendalam kepada surga bersemi dalam lubuh hati dan jantungya. Di matanya, dunia dengan segala fasilitas hidup yang Allah anugerahkan kepadanya dan betapapun banyaknya, tidak lebih dari modal yang ia gunakan semuanya untuk membeli tiket ke surga. Sebab itu, ia bersegera dan berlomba-lomba meraih tiket tersebut dengan mengerahkan segala potensi yang Allah berikan padanya seperti, ilmu, harta, pemikiran, tenaga dan bahkan nyawanya. Pikiran dan persaanya tertuju kepada sebuah kehiudpan yang hakiki nan penuh kebahagiaan, yaitu kehidupan surga. Tak seditikpun waktu, ilmu, harta dan tenaga ia sia-siakan. Semuanya ia curahkan untuk mengejar kehidupan surga. Persis seperti yang Allah jelaskan dalam Al-Qur’an :
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan Penciptamu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan dosa atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (QS. Ali Imran [3] : 133–136)

Demikianlah di antara karakter dan sifat orang Mukmin yang merindukan surga sehingga kita melihatnya orang yang sangat sibuk beramal shaleh dan memperbaiki keimanan dan akhlaknya.Tidak ada satu detikpun waktunya yang terbuang percuma.Tidak satu katapun yang keluar dari mulutnya yang sia-sia, apalagi bernilai dosa. Tidak ada satu senpun uang yang ia peroleh kecuali ia belanjakan di jalan Allah dan untuk hal bermanfaat bagi dirinya, keluargnya dan masyarakatnya, bukan untuk ditumpuk dalam rekeningnya. Semua potensi yang Allah anugerahkan kepadanya ia arahkan untuk kepentingan akhiratnya demi mencapai surga yang ia rindukan.[Fathuddin Jafar,Merindukan Surga, Eramuslim.com Rabu, 02/03/2011 06:30 WIB].

Kita merindukan di dunia ini keadaan ummat islam yang pernah dialami oleh Rasulullah dan para sahabatnya yang dicantumkan Allah dalam firman-Nya dibawah ini;
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik" [Ali Imran 3;110].

Dari ayat diatas Allah menyatakan bahwa ummat terbaik itu adalah ummat  islam, padahal kenyataannya sejak zaman dahulu seperti ketika kita dizaman Belanda, dalam penjajahan yang lamanya 350 tahun demikian pula negara-negar islam lainnya dalam jajahan bangsa lain, kinipun ummat islam selalu ditindas seperti di Bosnia, Kashmir, Moro, Pattani dan Palestina. Dengan kenyataan ini apakah janji Alalh itu tidak tepat sehingga dimana-mana ummat islam selalu dihina dan dianiaya? Padahal diungkapkan dalam beberapa ayat tentang kepastian janji Allah;
" Hai manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah" [Fathir 35;5]"Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi" [Al Mursalat 77;7]

Ada kemungkinan Allah belum menepati janji-Nya karena kesalahan ummat islam sendiri, tidak mau menagih janji itu dan tidak mau berbuat yang maksimal untuk menggapai janji itu, namun demikian Rasulullah  mempunyai sebuah prediksi tentang akan munculnya generasi terbaik itu sebagaimana sabda beliau berikut ini; "Sebaik-baik generasi adalah pada abadku, kemudian abad yang berikutnya, kemudian yang berikutnya, kemudian setelah itu akan ada satu kaum yang maju menjadi saksi walaupun tidak diminta,  dan berkhianat tidak amanah, kalau bernazar tidak menepati, dan tampak mereka itu gemuk badan dan besar perutnya" [HR. Bukhari dan Muslim].

Untuk hadir dizaman Rasululah tidak mungkin bisa kita alami tapi ada masa yang baik sesudah itu yaitu abad sesudah sahabat dan abad setelah itu, kita merindukan abad yang dimaksud, yaitu abad ummat islam berjaya sebagaimana kejayaan masa lalu sudah dialami oleh orang-orang terdahulu, kerinduan agar ummat terbaik bisa kita raih tentu dengan usaha yang maksimal.
Kita merindukan rumah tangga atau keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah karena untuk baiknya sebuah masyarakat, bangsa dan negara diawali dari pembinaan rumah tangga.Keluarga yang islami adalah keluarga yang menyelamatkan anggotanya dari api neraka dengan jalan mengarahkan, membimbing dan membina anggota keluarga sejak dini, Allah berfirman;
            “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”[At Tahrim 66;6]

Berkaitan dengan ayat diatas, Umar bin Khattab ingin meminta penjelasan Rasulullah tentang kiat menjaga keluarga dari api neraka, ketika itu Rasulullah menjawab,’’Tanamkan dalam hatinya tentang apa saja yang diperintahkan Allah agar dilaksanakan, ajarkan mereka tentang apa saja yang dilarang Allah supaya mereka meninggalkannya

Sangat ironi orangtua yang tidak memperhatikan keselamatan anaknya baik di dunia maupun di akherat, dapat dikatakan tidak bertanggungjawab andaikata ayah dan ibu hanya sibuk untuk menyelamatkan dirinya lalu mengabaikan anak dan keturunannya, sungguh bodoh orang yang menyelamatkan anak dan keturunannya dari api neraka sementara dirinya dibiarkan saja dan sangat konyol bila orangtua mengabaikan dirinya dan melupakan anak keturunan. Jangankan urusan akherat sedangkan untuk kepentingan dunia saja orangtua sangat khawatir bila anaknya lemah ilmu, ekonomi, fisik dan mental, apalagi lemah iman dan kurangnya amal, tentu keluarga ini sangat memprihatinkan;
            “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”[An Nisa’ 4;9].

Keluarga islami itu adalah keluarga yang merencanakan kehidupannya di dunia dan di akherat mengalami kesuksesan dan modal kesuksesan itu adalah ilmu pengetahuan sebagaimana sabda Rasulullah,”Barangsiapa yang menghendaki kehidupan yang baik di dunia maka raihlah dengan ilmu, barangsiapa yang mencari kesuksesan hidup di akherat maka kejarlah dengan ilmu, dan siapa saja yang mau berhasil di dunia dan di akherat maka kuncinya adalah ilmu”.

Inilah pribadi dan keluarga yang beruntung,syurga di dunia diraihnya tapi akherat yang abadi tidak dilupakan, karena dunia hanyalah perantara dan sementara, semua potensi hidupnya digunakan untuk beramal dan berikhtiar, karena memang ini yang dapat manusia lakukan;“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan” [At Taubah 9;105]

Keberhasilan mereka di dunia ini dan di akherat  karena mampu dan mau menerapkan ajaran Allah dengan baik, dia  telah mendidik dirinya menjadi ayah dan ibu yang bertanggungjawab  kepada anaknya sehingga sang anak tampil dengan kepribadian islami yaitu pribadi yang shaleh dan shalehah;“Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga 'Adn yang Telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,”[Al Mukmin 40;8]

Kita merindukan anak-anak dan pemuda-pemuda yang shaleh dan shalehah, selain mementingkan agama untuk dirinya juga untuk menegakkan islam hingga akhir hayatnya, sebuah kisah menceritakan kepribadian seorang pemuda yang menjadi harapan bagi orangtua dimasa kapanpun.

Seorang anak muda, yang sedang menunggu adzan Subuh di Masjidil Haram.Dia membaca al Qur’an setelah menunaikan shalat malam.Lalu tibalah adzan Subuh berkumandang. Diletakkannya al Quran dan dia maju mengisi shaff kosong untuk mendirikan shalat qabliyah Subuh yang menurut Rasulullah saw, berbobot lebih berat dibanding dunia dan seisinya. Rasulullah begitu mengistimewakan shalat dua rakaat sebelum Subuh ini. Dari Aisyah, beliau mengatakan mengatakan, ”Tidak pernah Rasulullah saw sangat mewanti-wanti (sangat perhatian) atas sesuatu yang sunat melebihi pada dua rakaat qabla subuh." Sahih Al-Bukhari, I : 393, Sahih Muslim, I : 501

Bahkan, Rasulullah sendiri pernah mengatakan, dari Ibnu Sailan dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda, ”Janganlah kalian meninggalkan dua rakaat qabla Subuh walaupun seekor kuda mencampakkan kalian". Musnad Ahmad, II : 405, Sunan Abu Daud, II : 20, Sunan Al-Baihaqi Al-Kubra, II : 470 dan Malik

Kembali pada kisah awal, sang pemuda lalu mendirikan shalat dua rakaat sebelum iqamat. Meski shalat ini dilaksanakan dengan ringan, tapi penuh kekhusyu’an. Usai mendirikan shalat, sang pemuda menunggu iqamat. Dan ketika pemuda ini berdiri untuk mencari shaff yang perlu diisi setelah iqamat dikumandangkan, tiba-tiba dia terjatuh lunglai, lemas tak bertenaga. Jamaah shalat Subuh segera menolongnya, melarikan sang pemuda ke rumah sakit yang tersedia.

Rupanya, sang pemuda mengalami penyumbatan pembuluh darah ke jantung. Fajar itu, ruangan unit gawat darurat sibuk mengambil langkah penyelamatan. Seorang perawat diminta untuk mendampingi sang pemuda, sementara dokter jaga dan spesialis jantung menyiapkan operasi yang mungkin harus diputuskan segera. Tapi tiba-tiba sang pemuda, meminta perawat yang di dekatnya, untuk lebih mendekat lagi. Dibisikkannya sebuah kalimat, lalu sang pemuda memiringkan badannya ke sebelah kanan, pelahan mengucapkan kalimat, “Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Waasyhadu anna Muhammadan rasuulullaah.Hanya Engkau Tuhan yang patut disembah, dan sungguh aku bersaksi bahwa Muhammad ádalah Rasul-Mu yang mulia.”

Begitu saja, lalu sang pemuda menutup mata, napas terakhirnya usai sebelum dokter melakukan apa-apa. Sang perawat bergetar, lututnya tak mampu menahan berat tubuhnya.Ia jatuh terkulai di tepi ranjang. Para dokter sibuk menanyai, tapi tak sepatah kata mampu keluar dari lisannya. Setelah semua tenang, baru sang perawat bisa bercerita, kalimat apa yang dibisikan oleh sang pemuda.

Pada perawat sang pemuda berkata, “Katakan pada dokter, tak perlu susah, ajalku sudah tiba. Dari sini aku bisa melihat tempatku di surga.”Itulah kalimat sebelum dia berbalik kanan dan mengucapkan syahadat dengan tarifan napas terakhir.Kalimat itulah yang membuat lututnya bergetar hebat dan tak bertenaga.[Herry nurdi, Rindu pada Pemuda Shalih,Cyber Sabili,  Selasa, 05 Oktober 2010 03:12].

            Selama masih ada benih cinta kasih dan sayang pada diri manusia maka selama itu pula masih ada bersemayam perasaan rindu kepada seseorang dan  perasaan rindu juga terhadap keadaan yang lebih baik, bahkan kerinduan juga dipendam oleh makhluk Allah yang lain seperti syurga merindukan orang-orang beriman yang berpuasa pada bulan Ramadhan.Kerinduan kita kepada Ramadhan adalah sesuatu yang baik dan wajar tapi lebih baik lagi bila Ramadhan yang merindukan kita, Wallahu a’lam.[Baloi Indah Batam, 11 Rajab 1432.H/ 13 Juni 2011.M].a


Tidak ada komentar:

Posting Komentar