Sejarah peradaban dan perkembangan manusia
menuntut adanya kehidupan yang aman dari segala gangguan baik dari binatang
buas, serangan perampok dan gangguan cuaca yang selalu mengancamnya. Selain itu
adanya ketenangan dalam memelihara kehidupan berumah tangga bersama anak-anak
dan keturunannya, hal itu membutuhkan tempat yang layak bagi sebuah tempat
tinggal, kuat fisik dan ketahanan bangunannya sehingga tidak mudah diguncang
bencana, aman dari jarahan orang-orang nakal dan tidak dapat dijangkau oleh
binatang yang berkeliaran sehingga dapat dijamin anggota keluarga yang tinggal
didalamnya selamat. Untuk itulah manusia membangun sebuah tempat berteduh untuk
melindungi diri dan keluarga.
Ketika saya masih duduk di bangku SMA salah satu
pelajaran yang saya sukai adalah pelajaran menggambar, selalu dan sering ketika
ada tugas menggambar yang saya gambar adalah rumah, baik yang nampak pada
pemandangan di ujung desa atau rumah mewah yang ada di kota. Ketika penghasilan
sudah mulai ada walaupun hanya cukup untuk keperluan harian saja saya tergerak
juga untuk mendesain sebuah rumah untuk
ukuran sebuah rumah tangga sederhana, ujud itu terkabul dikala ada
sedikit dana untuk membangun rumah sekedar untuk berteduh keluarga.
Begitu juga sebuah kerajaan yang berdiri kokoh tidak
hanya mempunyai tempat tinggal atau rumah yang memadai tapi sebuah istana untuk
sang raja yang sekelilingnya diamankan oleh benteng-benteng untuk
mengantisipasi serangan dari pihak lawan atau gangguan lainnya yang membuat
kerusakan pada kerajaan. Tidaklah berbeda dengan kekuasaan yang ada pada hari
ini, selain membutuhkan fasilitas seperti kendaraan yang terbaik juga
adanya tempat sang penguasa berdiam di
dalamnya yang kita kenal dengan istana. Apakah istana hanya sebagai lambang
saja bagi sebuah kekuasaan, untuk mengerjakan pekerjaan harian atau merayakan
hari-hati penting maka istana digunakan untuk kegiatan itu, sedangkan sang penguasa tinggal di rumah
sendiri yang mungkin nilainya lebih baik, lebih mewah dan lebih segala-galanya
dibandingkan istana yang disediakan.
Istana adalah lambang sebuah kekuasaan, lambang sebuah
arogansi yang dimiliki oleh penguasa, jangankan untuk bangunan dan isi istana
sedangkan untuk memperbaiki pagar istana saja membutuhkan anggaran tidak
sedikit, kalau diberikan kepada rakyatnya maka anggaran itu bisa untuk
menghidupi sekian rakyat yang hidup dalam kemiskinan, bisa menyembuhkan sekian
rakyat yang terserang penyakit yang dapat merenggut nyawanya. Karena istana
merupakan ujud arogansi kekuasaan maka tidak jadi masalah dalam melaksanakan
pembangunan sebuah istana akan terjadi menggusuran tanah rakyat dan tanah
ulayat masyarakat dengan pembebasan ganti rugi, kenapa ganti rugi karena memang
selama ini penguasa tidak pernah memberikan keuntungan kepada rakyatnya tapi
selalu ujud kerugian yang dirasakan.
Istana adalah tempat berteduhnya sang penguasa bersama
anak-anak dan sanak keluarga lainnya yang diboyong ke rumah megah itu dalam
rangka menunjukkan bahwa sang penguasa bukan sembarang orang, dia adalah
seorang penguasa dengan kekuasaan yang tidak dimiliki orang lain, sejak dari
pengaman pagar istana, harus tahu siapa saja yang masuk istana, tentu tidak
sembarang orang bisa menerobos rumah penguasa itu, tukang parkir kendaraan penguasa
yang mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan kendaraan istana, belum lagi
yang mengurus bagian rumah tangga istana, semuanya digaji dari hasil tetesan
keringat rakyat yang bahasa krennya dianggarkan di APBN hingga APBD.
Kalau kita melihat anggaran rumah tangga untuk penguasa
level mana saja, walaupun disahkan, diresmikan yang bahasa kita semuanya legal
formal maka terlalu banyak anggaran untuk rumah tangga istana, sejak dari
perbaikan pagar, pembuatan taman beserta aksesoris berandanya, perlengkapan
dalam istana yang harus diganti dan ditambah setiap tahun, apalagi terjadi
pergantian penguasa maka semua isi istana dianggarkan baru sebab dua
kemungkinan, kemungkinan pertama peralatan didalamnya sudah ketinggalan zaman
sehingga harus diganti, kemungkinan kedua semua isi istana dibawa habis oleh
penguasa lama untuk ditempatkan pada istana keluarga, sebagai contoh dapat kita buktikan bagaimana orang
yang berkuasa menghabiskan dana untuk kekuasaannya.
Dari Bekasi, terbetik berita bahwa Bupati
Bekasi telah melakukan renovasi pagar rumah yang menelan biaya Rp 1 milyar.
Sementara untuk anggaran pakaian dinas setengah tahun sudah dibujetkan sebanyak
Rp 405.950.750. Biaya pembuatan baju dinas itu telah disahkan oleh anggota
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bekasi dalam rapat paripurna Anggaran
Biaya Tambahan (ABT) 2008. Meskipun ada bantahan dari Bupati Sa’dudin bahwa dia
yang meminta anggaran itu. Tapi tetap saja, dana sebesar itu untuk pakaian
dinas tetap sebuah kemewahan yang harus dinalar ulang. “Kalau dianggap terlalu
besar, silakan dikurangi, tapi jangan dibesar-besarkan,” demikian komentar
Bupati Sa’dudin yang pernah dilansir oleh Tempo.
Pada tahun 2009, di Kabupaten Takalar, setiap
anggota dewan yang jumlahnya tak kurang dari 30 orang, masing-masing diusulkan
mendapat jatah lima
set pakaian dinas. Dana yang muncul untuk anggaran pakaian dinas ini sampai Rp
292 juta. Rincian jas seragam yang akan diterima anggota dewan terpilih
nantinya antara lain, dua pasang pakaian sipil harian (PSH) yang anggarannya
mencapai Rp 60 juta. Pakaian sipil lengkap (PSL) Rp75 juta, satu set pakaian
sipil resmi (PSR) Rp52,5 juta dan satu set pakaian dinas harian (PDH) Rp45 juta
serta serta PIN emas 5 gram seharga 375 ribu per orang.
Tahun 2009 Anggota DPR pernah ribut tentang
anggaran pengadaan kendaraan bagi para menteri yang memunculkan angka senilai
Rp 63,99 milyar untuk pembelian 79 kendaraan bagi para pembantu presiden.
Ditambah lagi Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 19 Oktober 2009 pernah
mengajukan anggaran senilai Rp 62,805 milyar untuk pajak mobil para menteri,
sehingga total dana yang diperlukan menjadi.
Padahal, sami mawon, tak banyak berbeda. Para anggota dewan sendiri kalau soal anggaran pribadi
juga tak mau rugi. DPRD Sumsel menganggarkan sekitar Rp 1,3 milyar pada tahun
2010 untuk membuat baju dinas bagi anggota dewan periode 2009-2014. Sebanyak
350 stel pakaian dinas senilai Rp 950 juta disiapkan bagi 75 orang anggota
dewan dan 75 stel pakaian adat untuk setiap anggota dewan akan dibuat.
Di Aceh, fasilitas rumah dinas yang bisa
dinikmati anggota DPR Aceh adalah rumah tipe 150 dengan nilai fisiknya mencapai
Rp 551 juta. Tiga orang wakil ketua dan sekretaris dewan akan tinggal di rumah
tipe 300 seharga Rp 669 juta. Dari 69 unit rumah, 54 diantaranya kini sudah
selesai dibangun di Desa Meunasah Papeun, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar.
Rumah-rumah ini juga dilengkapi Air Conditioner (AC) merek LG, per unitnya
seharga Rp 3,5 juta lebih - masing-masing rumah terpasang tiga unit. Kemudian
TV LG seharga Rp 4,5 juta per unit. Dilengkapi pula sofa, meja makan, spring
bed dan double bed, kulkas dua pintu, dispenser, rak piring, lemari pakaian,
jaringan air ledeng hingga jasa cleaning service. Untuk memastikan komplek DPR
Aceh tetap terang, telah disediakan mesin diesel genset 900 KVA yang dibeli
seharga Rp 3,2 miliar. Kijang Inova siap menjadi tunggangan. Tiga orang Wakil
Ketua menunggangi Toyota Fortuner. Sementara ketua dewan, akan diantar jemput
dengan Toyota Camry. Sebanyak 276 stel – per stelnya seharga 2,7 juta - pakaian
dinas disediakan untuk para wakil rakyat.
Bagaimana dengan cerita di DPR RI? KPU
menganggarkan dana sekitar Rp 11 miliar untuk pelaksanaan kegiatan pelantikan
anggota DPR dan DPD terpilih pada 1 Oktober 2009 lalu. Menurut Sekjen DPR
Suripto, anggaran tersebut di antaranya untuk membiayai penginapan,
transportasi pulang dan pergi ke Jakarta,
uang saku, perlengkapan seperti tas, dan seragam bagi panitia. Dana sebesar
itu, paling besar diserap untuk transportasi, hotel dan uang saku. Kata, itulah
yang diamanahkan Undang-undang No 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif.
Sebesar Rp 2,87 miliar peruntukan biaya
akomodasi, konsumsi, dan hotel, pengadaan tas Rp 115,5 juta, penyediaan jasa
kendaraan bus AC dan ambulans Rp 251,9 juta, penyediaan jasa, jaket, baju
batik, dan hem Rp 149,9 juta, serta uang saku Rp 2 juta per orang.[ Lain Dulu, Lain Sekarang! Senin, 03 Mei
2010 07:03 Herry nurdi, Website Majalah Islam Sabili]
Keinginan untuk memiliki rumah yang layak bahkan istana adalah hak semua orang apalagi
keuangan untuk itu memungkinkan apa salahnya, sedangkan pegawai rendahan harus
menggadaikan surat
berharganya untuk mendapatkan kridit rumah yang layak huni dengan fasilitas
memadai walaupun tiap bulan harus menahan selera karena gaji sudah dipotong di kantor
tempat bekerjanya. Apalagi pegawai yang bergaji lumayan, seorang pengusaha dan
penguasa sebuah daerah tentu tidak terlarang punya rumah bagus, besar, indah
dan mentereng. Nafsu ini kadangkala dipaksakan, awalnya mungkin hanya membeli
sebidang tanah di perkampungan becek dan tersuruk dari keramian, lalu
didirikanlah pondasi sekedar untuk membuat sebuah rumah kecil, yang penting ada
kamar, kamar mandi dan sumur. Tapi dikala ada tawaran dari pihak lain sehingga
nafsu untuk menyelesaikan rumah menjadi rumah mewah bak istana tidak dapat
dibendung lagi, bila tidak cukup dari pinjaman tadi maka akan tergiur lagi
untuk utang sana
utang sini karena nampaknya rumah tetangga lebih bagus dari rumah kita.
Bukan itu saja, setelah rumah yang bak istana tadi selesai
masih perlu perbaikan untuk garasi yang kurang besar, direnovasi lagi untuk
ruang parkir, penambahan kamar untuk mertua dan pembantu, ruang dapur yang
tidak refresentatif harus diganti lagi sehingga renovasi tiada henti dilakukan
dengan harapan dapur ibarat ruang yang indah, bersih dan tertata dengan baik
sesuai dengan selera zaman sekarang, kamar yang kurang luas harus diperlebah
lagi dengan penambahan disana-sini sehingga yang menghuni kamar itu merasa
aman, nyaman dan sejuk, belum lagi penggantian aksesoris di kamar dan ruang
tamu harus menampakkan suasana yang wah karena banyak tamu-tamu penting yang
datang untuk mengadakan penilaian kalau rumah dan istana ini layak mendapat
penilaian yang sempurna dari pengunjung yang datang bahkan pagarnya saja tidak
lepas dari anggaran tinggi setinggi teralis yang dipasang pada tonggaknya
sehingga orang yang tidak selevel takut untuk masuk ke rumah itu.
Ketika beberapa orang kader sebuah partai melihat
perubahan rumah anggota dewan yang dianggap sudah seperti istana, tidak layak
lagi dijadikan contoh dalam masyarakat ditambah lagi mobil bagus nongkrong pula
dirumah itu dan orang yang masukpun tidak sembarang orang, keadaan begini tidak
bisa dibiarkan walaupun uang untuk digunakan untuk membuat istana dan membeli kendaraan
serta fisilitas hidupnya dari uang halal tapi masyarakat terutama kader partai
itu tidak enak hati sehingga mengadukan hal itu ke pengurus pastai yang lebih
tinggi dengan maksud agar tidak terlalu wah di pandang orang, bukankah ujud
kesederhanaan sebaiknya ditampakkan oleh seorang wakil rakyat apalagi
masyarakat kita dalam keadaan sudah hidupnya, namun pengaduan itu tidak
diterima setelah dicek bahwa anggota dewan itu memangun istanakah namanya,
membeli mobilkah untuk kepentingan pribadi dan keluarganya yang kadang-kadang
juga untuk kepentingan partai, tidak jadi masalah asal kewajibannya sebagai
wakil rakyat dilaksanakan, uang iuran partai tiap bulan tetap dibayarkan,
sumbangan untuk kepentingan konstituen tidak diabaikan bahkan zakatnyapun tidak
menunggak, maka sah-sah saja bila kelebihan pendapatannya digunakan untuk
kepentingan lain.
Selama kekuasaan masih ada dipegang oleh penguasa maka
selama itu pula istana akan berdiri sebagai lambang sebuah kekuasaan, bahkan
seorang Raja dan Nabi bernama Sulaiman mampu mengalahkan dan menundukkan sebuah
kerajaan yang dipimpin oleh seorang Ratu yang masih musyrik bernama Balqis.
Mengetahui ada seorang Raja yang menawarkan risalah baru kepadanya maka Balqis
mengirimkan barang-barang berharga untuk Sulaiman, tapi Sulaiman menolaknya dan
mendesak agar sang Ratu datang ke istananya, tapi alangkah terkejutnya Balqis
ketika memasuki istana Sulaiman, dia sensengkan kainnya karena takut
tergelincir oleh air karena keramik istana yang mengkilat. Dengan istanalah
Sulaiman menundukkan kekuasaan sang Ratu hingga dia menyerahkan diri sebagai
seorang muslim kepada Allah Swt.
Berdirinya bangunan Tajmahal di Agra India juga merupakan ujud kemegahan
sebuah istana seorang raja, padahal bangunan itu hanya sebuah kuburan isteri
raja yang sangat dia cintai meninggal dunia, untuk semuanya itu dia ujudkan
dalam bentuk istana layaknya sebuah kerajaan. Begitulah istana merupakan ujud
luapan cinta seorang lelaki kepada kekasihnya, tidak jadi masalah berapapun
nilainya yang penting istana dapat berdiri sebagai bukti kebersamaan dan
kesungguhan walaupun akhirnya istana itu harus ditinggalkan karena terjadinya
ketidaksesuiaan hidup dikemudian harinya, atau istana itu harus dijual karena
kesulitan dan himpitan ekonomi yang menggerogotinya.
Suatu ketika Umar bin Khattab sedang tidur-tiduran pada
sebuah teduhan pohon yang rindang dekat masjid menjelang waktu shalat masuk
siang itu, tiba-tiba datang seseorang yang membangunkannya dengan maksud untuk
bertemu dengan Umar bin Khattab, rupanya sang tamu tidak tahu siapa orang yang ada di depannya. Dia
mengajak Umar untuk mengantarkannya bertemu dengan Khalifah, dimana istananya
sang Khalifah itu karena nama Khalifah demikian populer seantero dunia, orang yang
terkenal apalagi seorang Khalifah tentu punya istana yang megah dan mewah. Umar
menyatakan bahwa orang yang dicari itu adalah dirinya yang dipercaya ummat
sebagai Khalifah tapi kalau istana yang ditanyakan tidak ada. Hal itu membuat
sang tamu terperangah, apa iya seorang kepala negara tidak ada istananya.
Sedangkan pegawai rendahan saja apalagi koruptor bagus-bagus istananya yang
dibangun diberbagai tempat dengan hasil penjarahan secara terselubung, wajar
bila orang Inggris kagum dengan pegawai bangsa Indonesia, dengan gaji kecil
tapi dapat menyekolahkan 3 anaknya di Universitas luar negeri dengan memiliki
kendaraan bagus dan rumah yang indah, wallahu a'lam [Cubadak Solok, Ramadhan
1431.H/2010.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar