Rabu, 09 Desember 2015

31. Istana



Sejarah peradaban dan perkembangan manusia menuntut adanya kehidupan yang aman dari segala gangguan baik dari binatang buas, serangan perampok dan gangguan cuaca yang selalu mengancamnya. Selain itu adanya ketenangan dalam memelihara kehidupan berumah tangga bersama anak-anak dan keturunannya, hal itu membutuhkan tempat yang layak bagi sebuah tempat tinggal, kuat fisik dan ketahanan bangunannya sehingga tidak mudah diguncang bencana, aman dari jarahan orang-orang nakal dan tidak dapat dijangkau oleh binatang yang berkeliaran sehingga dapat dijamin anggota keluarga yang tinggal didalamnya selamat. Untuk itulah manusia membangun sebuah tempat berteduh untuk melindungi diri dan keluarga.
            Ketika saya masih duduk di bangku SMA salah satu pelajaran yang saya sukai adalah pelajaran menggambar, selalu dan sering ketika ada tugas menggambar yang saya gambar adalah rumah, baik yang nampak pada pemandangan di ujung desa atau rumah mewah yang ada di kota. Ketika penghasilan sudah mulai ada walaupun hanya cukup untuk keperluan harian saja saya tergerak juga untuk mendesain sebuah rumah untuk  ukuran sebuah rumah tangga sederhana, ujud itu terkabul dikala ada sedikit dana untuk membangun rumah sekedar untuk berteduh keluarga.

            Begitu juga sebuah kerajaan yang berdiri kokoh tidak hanya mempunyai tempat tinggal atau rumah yang memadai tapi sebuah istana untuk sang raja yang sekelilingnya diamankan oleh benteng-benteng untuk mengantisipasi serangan dari pihak lawan atau gangguan lainnya yang membuat kerusakan pada kerajaan. Tidaklah berbeda dengan kekuasaan yang ada pada hari ini, selain membutuhkan fasilitas seperti kendaraan yang terbaik juga adanya  tempat sang penguasa berdiam di dalamnya yang kita kenal dengan istana. Apakah istana hanya sebagai lambang saja bagi sebuah kekuasaan, untuk mengerjakan pekerjaan harian atau merayakan hari-hati penting maka istana digunakan untuk kegiatan itu,  sedangkan sang penguasa tinggal di rumah sendiri yang mungkin nilainya lebih baik, lebih mewah dan lebih segala-galanya dibandingkan istana yang disediakan.

            Istana adalah lambang sebuah kekuasaan, lambang sebuah arogansi yang dimiliki oleh penguasa, jangankan untuk bangunan dan isi istana sedangkan untuk memperbaiki pagar istana saja membutuhkan anggaran tidak sedikit, kalau diberikan kepada rakyatnya maka anggaran itu bisa untuk menghidupi sekian rakyat yang hidup dalam kemiskinan, bisa menyembuhkan sekian rakyat yang terserang penyakit yang dapat merenggut nyawanya. Karena istana merupakan ujud arogansi kekuasaan maka tidak jadi masalah dalam melaksanakan pembangunan sebuah istana akan terjadi menggusuran tanah rakyat dan tanah ulayat masyarakat dengan pembebasan ganti rugi, kenapa ganti rugi karena memang selama ini penguasa tidak pernah memberikan keuntungan kepada rakyatnya tapi selalu ujud kerugian yang dirasakan.

            Istana adalah tempat berteduhnya sang penguasa bersama anak-anak dan sanak keluarga lainnya yang diboyong ke rumah megah itu dalam rangka menunjukkan bahwa sang penguasa bukan sembarang orang, dia adalah seorang penguasa dengan kekuasaan yang tidak dimiliki orang lain, sejak dari pengaman pagar istana, harus tahu siapa saja yang masuk istana, tentu tidak sembarang orang bisa menerobos rumah penguasa itu, tukang parkir kendaraan penguasa yang mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan kendaraan istana, belum lagi yang mengurus bagian rumah tangga istana, semuanya digaji dari hasil tetesan keringat rakyat yang bahasa krennya dianggarkan di APBN hingga APBD.

            Kalau kita melihat anggaran rumah tangga untuk penguasa level mana saja, walaupun disahkan, diresmikan yang bahasa kita semuanya legal formal maka terlalu banyak anggaran untuk rumah tangga istana, sejak dari perbaikan pagar, pembuatan taman beserta aksesoris berandanya, perlengkapan dalam istana yang harus diganti dan ditambah setiap tahun, apalagi terjadi pergantian penguasa maka semua isi istana dianggarkan baru sebab dua kemungkinan, kemungkinan pertama peralatan didalamnya sudah ketinggalan zaman sehingga harus diganti, kemungkinan kedua semua isi istana dibawa habis oleh penguasa lama untuk ditempatkan pada istana keluarga, sebagai  contoh dapat kita buktikan bagaimana orang yang berkuasa menghabiskan dana untuk kekuasaannya.
Dari Bekasi, terbetik berita bahwa Bupati Bekasi telah melakukan renovasi pagar rumah yang menelan biaya Rp 1 milyar. Sementara untuk anggaran pakaian dinas setengah tahun sudah dibujetkan sebanyak Rp 405.950.750. Biaya pembuatan baju dinas itu telah disahkan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bekasi dalam rapat paripurna Anggaran Biaya Tambahan (ABT) 2008. Meskipun ada bantahan dari Bupati Sa’dudin bahwa dia yang meminta anggaran itu. Tapi tetap saja, dana sebesar itu untuk pakaian dinas tetap sebuah kemewahan yang harus dinalar ulang. “Kalau dianggap terlalu besar, silakan dikurangi, tapi jangan dibesar-besarkan,” demikian komentar Bupati Sa’dudin yang pernah dilansir oleh Tempo.
Pada tahun 2009, di Kabupaten Takalar, setiap anggota dewan yang jumlahnya tak kurang dari 30 orang, masing-masing diusulkan mendapat jatah lima set pakaian dinas. Dana yang muncul untuk anggaran pakaian dinas ini sampai Rp 292 juta. Rincian jas seragam yang akan diterima anggota dewan terpilih nantinya antara lain, dua pasang pakaian sipil harian (PSH) yang anggarannya mencapai Rp 60 juta. Pakaian sipil lengkap (PSL) Rp75 juta, satu set pakaian sipil resmi (PSR) Rp52,5 juta dan satu set pakaian dinas harian (PDH) Rp45 juta serta serta PIN emas 5 gram seharga 375 ribu per orang.
Tahun 2009 Anggota DPR pernah ribut tentang anggaran pengadaan kendaraan bagi para menteri yang memunculkan angka senilai Rp 63,99 milyar untuk pembelian 79 kendaraan bagi para pembantu presiden. Ditambah lagi Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 19 Oktober  2009 pernah mengajukan anggaran senilai Rp 62,805 milyar untuk pajak mobil para menteri, sehingga total dana yang diperlukan menjadi.
Padahal, sami mawon, tak banyak berbeda. Para anggota dewan sendiri kalau soal anggaran pribadi juga tak mau rugi. DPRD Sumsel menganggarkan sekitar Rp 1,3 milyar pada tahun 2010 untuk membuat baju dinas bagi anggota dewan periode 2009-2014. Sebanyak 350 stel pakaian dinas senilai Rp 950 juta disiapkan bagi 75 orang anggota dewan dan 75 stel pakaian adat untuk setiap anggota dewan akan dibuat.
Di Aceh, fasilitas rumah dinas yang bisa dinikmati anggota DPR Aceh adalah rumah tipe 150 dengan nilai fisiknya mencapai Rp 551 juta. Tiga orang wakil ketua dan sekretaris dewan akan tinggal di rumah tipe 300 seharga Rp 669 juta. Dari 69 unit rumah, 54 diantaranya kini sudah selesai dibangun di Desa Meunasah Papeun, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar. Rumah-rumah ini juga dilengkapi Air Conditioner (AC) merek LG, per unitnya seharga Rp 3,5 juta lebih - masing-masing rumah terpasang tiga unit. Kemudian TV LG seharga Rp 4,5 juta per unit. Dilengkapi pula sofa, meja makan, spring bed dan double bed, kulkas dua pintu, dispenser, rak piring, lemari pakaian, jaringan air ledeng hingga jasa cleaning service. Untuk memastikan komplek DPR Aceh tetap terang, telah disediakan mesin diesel genset 900 KVA yang dibeli seharga Rp 3,2 miliar. Kijang Inova siap menjadi tunggangan. Tiga orang Wakil Ketua menunggangi Toyota Fortuner. Sementara ketua dewan, akan diantar jemput dengan Toyota Camry. Sebanyak 276 stel – per stelnya seharga 2,7 juta - pakaian dinas disediakan untuk para wakil rakyat.
Bagaimana dengan cerita di DPR RI? KPU menganggarkan dana sekitar Rp 11 miliar untuk pelaksanaan kegiatan pelantikan anggota DPR dan DPD terpilih pada 1 Oktober 2009 lalu. Menurut Sekjen DPR Suripto, anggaran tersebut di antaranya untuk membiayai penginapan, transportasi pulang dan pergi ke Jakarta, uang saku, perlengkapan seperti tas, dan seragam bagi panitia. Dana sebesar itu, paling besar diserap untuk transportasi, hotel dan uang saku. Kata, itulah yang diamanahkan Undang-undang No 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif.
Sebesar Rp 2,87 miliar peruntukan biaya akomodasi, konsumsi, dan hotel, pengadaan tas Rp 115,5 juta, penyediaan jasa kendaraan bus AC dan ambulans Rp 251,9 juta, penyediaan jasa, jaket, baju batik, dan hem Rp 149,9 juta, serta uang saku Rp 2 juta per orang.[ Lain Dulu, Lain Sekarang! Senin, 03 Mei 2010 07:03 Herry nurdi, Website Majalah Islam Sabili]
            Keinginan untuk memiliki rumah yang layak  bahkan istana adalah hak semua orang apalagi keuangan untuk itu memungkinkan apa salahnya, sedangkan pegawai rendahan harus menggadaikan surat berharganya untuk mendapatkan kridit rumah yang layak huni dengan fasilitas memadai walaupun tiap bulan harus menahan selera karena gaji sudah dipotong di kantor tempat bekerjanya. Apalagi pegawai yang bergaji lumayan, seorang pengusaha dan penguasa sebuah daerah tentu tidak terlarang punya rumah bagus, besar, indah dan mentereng. Nafsu ini kadangkala dipaksakan, awalnya mungkin hanya membeli sebidang tanah di perkampungan becek dan tersuruk dari keramian, lalu didirikanlah pondasi sekedar untuk membuat sebuah rumah kecil, yang penting ada kamar, kamar mandi dan sumur. Tapi dikala ada tawaran dari pihak lain sehingga nafsu untuk menyelesaikan rumah menjadi rumah mewah bak istana tidak dapat dibendung lagi, bila tidak cukup dari pinjaman tadi maka akan tergiur lagi untuk utang sana utang sini karena nampaknya rumah tetangga lebih bagus dari rumah kita.

            Bukan itu saja, setelah rumah yang bak istana tadi selesai masih perlu perbaikan untuk garasi yang kurang besar, direnovasi lagi untuk ruang parkir, penambahan kamar untuk mertua dan pembantu, ruang dapur yang tidak refresentatif harus diganti lagi sehingga renovasi tiada henti dilakukan dengan harapan dapur ibarat ruang yang indah, bersih dan tertata dengan baik sesuai dengan selera zaman sekarang, kamar yang kurang luas harus diperlebah lagi dengan penambahan disana-sini sehingga yang menghuni kamar itu merasa aman, nyaman dan sejuk, belum lagi penggantian aksesoris di kamar dan ruang tamu harus menampakkan suasana yang wah karena banyak tamu-tamu penting yang datang untuk mengadakan penilaian kalau rumah dan istana ini layak mendapat penilaian yang sempurna dari pengunjung yang datang bahkan pagarnya saja tidak lepas dari anggaran tinggi setinggi teralis yang dipasang pada tonggaknya sehingga orang yang tidak selevel takut untuk masuk ke rumah itu.

            Ketika beberapa orang kader sebuah partai melihat perubahan rumah anggota dewan yang dianggap sudah seperti istana, tidak layak lagi dijadikan contoh dalam masyarakat ditambah lagi mobil bagus nongkrong pula dirumah itu dan orang yang masukpun tidak sembarang orang, keadaan begini tidak bisa dibiarkan walaupun uang untuk digunakan untuk membuat istana dan membeli kendaraan serta fisilitas hidupnya dari uang halal tapi masyarakat terutama kader partai itu tidak enak hati sehingga mengadukan hal itu ke pengurus pastai yang lebih tinggi dengan maksud agar tidak terlalu wah di pandang orang, bukankah ujud kesederhanaan sebaiknya ditampakkan oleh seorang wakil rakyat apalagi masyarakat kita dalam keadaan sudah hidupnya, namun pengaduan itu tidak diterima setelah dicek bahwa anggota dewan itu memangun istanakah namanya, membeli mobilkah untuk kepentingan pribadi dan keluarganya yang kadang-kadang juga untuk kepentingan partai, tidak jadi masalah asal kewajibannya sebagai wakil rakyat dilaksanakan, uang iuran partai tiap bulan tetap dibayarkan, sumbangan untuk kepentingan konstituen tidak diabaikan bahkan zakatnyapun tidak menunggak, maka sah-sah saja bila kelebihan pendapatannya digunakan untuk kepentingan lain.

            Selama kekuasaan masih ada dipegang oleh penguasa maka selama itu pula istana akan berdiri sebagai lambang sebuah kekuasaan, bahkan seorang Raja dan Nabi bernama Sulaiman mampu mengalahkan dan menundukkan sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang Ratu yang masih musyrik bernama Balqis. Mengetahui ada seorang Raja yang menawarkan risalah baru kepadanya maka Balqis mengirimkan barang-barang berharga untuk Sulaiman, tapi Sulaiman menolaknya dan mendesak agar sang Ratu datang ke istananya, tapi alangkah terkejutnya Balqis ketika memasuki istana Sulaiman, dia sensengkan kainnya karena takut tergelincir oleh air karena keramik istana yang mengkilat. Dengan istanalah Sulaiman menundukkan kekuasaan sang Ratu hingga dia menyerahkan diri sebagai seorang muslim kepada Allah Swt.

            Berdirinya bangunan Tajmahal di Agra India juga merupakan ujud kemegahan sebuah istana seorang raja, padahal bangunan itu hanya sebuah kuburan isteri raja yang sangat dia cintai meninggal dunia, untuk semuanya itu dia ujudkan dalam bentuk istana layaknya sebuah kerajaan. Begitulah istana merupakan ujud luapan cinta seorang lelaki kepada kekasihnya, tidak jadi masalah berapapun nilainya yang penting istana dapat berdiri sebagai bukti kebersamaan dan kesungguhan walaupun akhirnya istana itu harus ditinggalkan karena terjadinya ketidaksesuiaan hidup dikemudian harinya, atau istana itu harus dijual karena kesulitan dan himpitan ekonomi yang menggerogotinya.

            Suatu ketika Umar bin Khattab sedang tidur-tiduran pada sebuah teduhan pohon yang rindang dekat masjid menjelang waktu shalat masuk siang itu, tiba-tiba datang seseorang yang membangunkannya dengan maksud untuk bertemu dengan Umar bin Khattab, rupanya sang tamu tidak  tahu siapa orang yang ada di depannya. Dia mengajak Umar untuk mengantarkannya bertemu dengan Khalifah, dimana istananya sang Khalifah itu karena nama Khalifah demikian populer seantero dunia, orang yang terkenal apalagi seorang Khalifah tentu punya istana yang megah dan mewah. Umar menyatakan bahwa orang yang dicari itu adalah dirinya yang dipercaya ummat sebagai Khalifah tapi kalau istana yang ditanyakan tidak ada. Hal itu membuat sang tamu terperangah, apa iya seorang kepala negara tidak ada istananya. Sedangkan pegawai rendahan saja apalagi koruptor bagus-bagus istananya yang dibangun diberbagai tempat dengan hasil penjarahan secara terselubung, wajar bila orang Inggris kagum dengan pegawai bangsa Indonesia, dengan gaji kecil tapi dapat menyekolahkan 3 anaknya di Universitas luar negeri dengan memiliki kendaraan bagus dan rumah yang indah, wallahu a'lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/2010.M].

             

           

   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar