Selama lebih kurang
tiga belas tahun Rasulullah menghadapi ummat jahiliyyah di tanah Mekkah, selama
itu pula suka dan duka yang beliau tanggung bersama para sahabat yang setia
mengikuti langkah nabinya. Di Madinah bukan berarti perjalanan mulus yang
dihadapi, tidak bedanya denan di Mekkah, hanya di Madinah fokus pembinaan
kepada sosial kemasyarakatan dan hukum-hukum islam. Sedangkan di Mekkah harus
mengikis habis karakteristik jahiliyyah yang telah mengkristal di hati ummat .
Walaupun demikian kerasnya perjuangan yang harus dihadapi berkat pembinaan yang
kontinyu serta hidayah Allah lahirlah tokoh-tokoh handal pembela islam seperti
Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Hamzah, Bilal bin Rabah dan para
sahabat yang lain yang rela mengorbankan hidup demi tegaknya Kalimatullah di
dunia ini.
Kebenaran
islam di Mekkah sebenarnya sudah menyentuh lapisan masyarakat laus sejak dari
budak belian sampai penguasa tapi sedikit sekali yang mau mengakui karena beberapa sebab; diantaranya mereka
tidak mau ikut ajaran islam karena para pengikut islam pada waktu itu sedikit
sekali dan terdiri dari orang-orang lemah yang tidak berpengaruh. Kenyataan ini
sejak zaman nabi Nuh dahulu sudah terjadi, ”Ketika
saudara mereka [Nuh] berkata kepada mereka, ”Mengapa kamu tidak bertaqwa? Sesungguhnya aku adalah seorang
Rasul kepercayaan yang diutus kepadamu”, mereka berkata,”apakah kami akan
beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang hina” [Asy
Syura 26;106,107,111].
Dengan
bekal iman dan kekuatan dari Allah, Rasulullah berusaha menegakkan kebenaran di
muka bumi ini dengan memerangi segala bentuk watak jahiliyyah yang menyesatkan
ummat. Mereka menyekutukan Allah dengan berbagai bentuk sembahan yang mereka
buat sendiri, mencuri, berbohong, minu, khamar, membunuh manusia tanpa haq.
Bermain judi adalah suatu adat kasar yang diwarisi turun temurun.
Berzina, main sihir, makan suap,
mengurangi timbangan atau takaran dalam perdagangan, mengumpat dan menghasut
sulit untuk ditinggalkan akibat kerasnya adat jahiliyyah yang mereka anut.
Masih banyak lagi akhlak tercela yang direkam sejarah yang dilakukan ummat
jahiliyyah. Nabi Muhammad tampil sendiri ke gelanggang dengan tuntunan wahyu
Allah agar berbeda dengan kehidupan banyak orang, karena kalau diikuti maka
kehidupan mereka akan rusaklah pribadi, hancurlah akhlak, ”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang muka bumi ini,
niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain adalah
mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta terhadap
Allah”[Al An’am 6;116].
Sejak
awal beliau mampu menunjukkan kepada ummatnya bahwa dia adalah contoh teladan
yang dikirim Allah untuk membina manusia sehingga walaupun kafir Quraisy
terbelenggu oleh adat jahiliyyah, nabi Muhammad dengan gelar ”Al Amin” yaitu orang yang dapat
dipercaya, mereka berikan julukan emas. Julukan ini bukan nabi Muhammad yang
membuatnya, tapi kepercayaan masyarakat kepada beliau yang berbeda dengan
kehidupan mereka sendiri, artinya Muhammad secara pribadi tidak jadi masalah
bagi mereka, tapi Muhammad sebagai penyampai wahyu yang mereka tidak
mengakuinya.
Untuk
menegakkan iman sudah banyak korban berjatuhan di medan perang, tidak sedikit
harta disedekahkan, ayah bercerai dengan anak, isteri tidak berjumpa dengan
suaminya selain nama yang pulang mengabarkan suami telah syahid dalam berjihad.
Tapi mereka bukan semata-mata mati yang tidak berguna, bahkan inilah kematian
yang mahal sekali harganya, ”Janganlah
kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan
mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” [Ali Imran
3;169].
Mereka
masih bertempur menghadapi musuh walaupun kawan sudah banyak jatuh sebagai
syuhada’ sedikitpun tidak gentar malah menambah keberanian untuk menumpas
kebathilan menjunjung tinggi agama Allah,
”Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka dan
mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang mereka
yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan
tidak pula mereka bersedih hati” [Ali Imran 3;170].
Masa
itu telah berlalu dibawah komando Rasulullah dan khulafaur rasyidin,
melenyapkan jahiliyyah ke akar-akarnya sehingga tegaklah kebenaran islam di
bumi ini merembes kebelahan dunia sehingga kejayaan islam diperolehnya, lalu
islam satu kekuatan yang diperhitungkan.
Nikmat iman
hanya diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya dan ini merupakan hak
preogratif Allah tanpa bisa dicampuri oleh siapapun. Walaupun demikian iman
tersebut akan diberikan memang kepada orang-orang yang mencarinya atau
orang-orang yang memang ada kecendrungan kepada keimanan, Allah berfirman;
"Segala
puji bagi Allah yang Telah menunjuki kami kepada (surga) ini. dan kami
sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami
petunjuk. "[Al A'raf 7;43]
"Barangsiapa
yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka dialah yang mendapat petunjuk; dan
barangsiapa yang disesatkan Allah, Maka merekalah orang-orang yang merugi"
[Al
A'raf 7;178]
Iman yang ada pada hati manusia bila diibaratkan kepada bangunan bagaikan
pondasi yang menghunjam ke bumi sehingga bangunan itu kokoh dan kuat. Bila
diibaratkan kepada pohon dia adalah akar yang kuat yang terkubur di tanah.
Tanpa itu semua bangunan dan pohon tadi akan mudah rubuh, tumbang dan tidak
berdaya. Demikian pula manusia, tanpa iman dan taqwa akan goncang dalam
percaturan kehidupan ini.
Rasulullah menyatakan dalam hadits
yang diriwayatkan oleh Thabrani, ”Iman adalah pengakuan dengan hati, pengucapan
dengan lisan dan pengamalan dengan anggota”.
Bahwa iman itu adalah pengakuan
dengan hati, pengucapan dengan lisan dan pengamalan dengan anggota, dia
bukanlah angan-angan tapi harus disertai dengan amal perbuatan sebagaimana
dengan yang difirmankan Allah dalam dua surat berikut ini;
-Surat Al Baqarah ayat 25, ”Berilah kabar gembira pada orang-orang yang
beriman dan beramal shaleh bahwa bagi mereka adalah penghuni syurga”.
-Surat Maryam ayat 96, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan
beramal shaleh bahwa mereka itu akan memperoleh syurga”.
Iman adalah sarana untuk mengokohkan ibadah, tanpa iman dan taqwa, ibadah
yang kita lakukan gersang dan tidak bermakna, dia akan bercampur dengan syirik,
bid’ah, kurafat dan tahyul sehingga ibadah itu sia-sia belaka. Justru itu
Lukman Al Hakim mengajarkan dan menamamkan iman kepada anaknya sebelum
menunaikan ibadah lebih dahulu. Ini digambarkan Allah dalam firman-Nya di surat
Lukman ayat 13, ”Hai anakku jangan berbuat syirik karena syirik itu adalah
kezhaliman yang besar”. Demikian pula halnya firman Allah dalam surat Al
Baqarah ayat 21,”Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang menjadikanmu dan
orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwa”.
Iman berperan dalam rangka menangkal datangnya penyakit wahnun. Rasul
pernah meramalkan bahwa nanti ummat Islam itu seperti hidangan yang terletak di
meja yang akan diserbu dan dibinasakan oleh seluruh manusia. Bahkan ummat Islam
itu nanti seperti buih yang ada di laut, akan hancur berantakan dikala diterpa
oleh angin dan ombak.
Ketika itu para sahabat bertanya, ”Ya Rasulullah, apakah saat itu
ummatmu jumlahnya sedikit?” maka Rasul
menjawab, ”Tidak, bahkan waktu itu jumlah ummatku banyak sekali, mayoritas,
tapi mereka diserang suatu penyakit yang dinamakan dengan wahnun”, sahabatpun
bertanya, ”Apakah wahnun itu ya Rasulullah?”. Rasul menjelaskan, ”Dia adalah
penyakit ’hubbuddunya wakarahiyatul maut’ yaitu penyakit terlalu cinta kepada
dunia dan terlalu takut dengan kematian”. Ini semua terjadi karena iman dan
taqwa yang dimiliki ummat Islam sangat tipis.
Iman berperan dalam memberi kekebalan terhadap serangan pihak musuh seperti
dari Yahudi dan Nasrani terhadap ummat Islam. Siapa saja, agama apa saja dan
idiologi apapun selalu tidak suka dengan Islam, mereka selalu menyerang ummat
Islam dimana saja sebagaimana tergambar dalam firman Allah dalam surat Al
Baqarah ayat 120, ”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu
hingga kamu mengikuti agama mereka”, atau seperti dalam surat Al Baqarah ayat
217, ”Mereka tidak henti-hentinya memerangi agama kamu hingga sampai mereka
dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran”.
Iman berperan dalam rangka menghadapi ujian. Hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan yang silih
berganti, sebagaimana Allah menyatakan dalam firman-Nya, ”Dan sungguh akan Kami
berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,
jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”
[Al Baqarah;155].
Bila tidak punya iman ketika berhadapan dengan ujian hidup maka manusia
tadi akan kecewa, stres, strok bahkan bunuh diri. Nyata memang bahwa iman dan
taqwa adalah obat bagi penyakit hati dan mental yang obatnya tiada lain
memperdalam keduanya. Wajar bila Allah menyatakan bahwa orang yang beruntung
itu adalah orang yang meningkatkan iman dan taqwanya dan memperbanyak ibadah
serta mengaktifkan da’wah, sebagaimana yang dinyatakan dalam surat Al Ashr ayat
1-3, ”Demi masa, sesunguhnya manusia itu dalam keadaan merugi kecuali
orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan berwasiat dengan kebenaran dan
berwasiat dengan kesabaran”.
Demikian pentingnya iman dalam
kehidupan kita sehari-hari, biarlah kita tidak punya apa-apa dalam hidup ini
tapi jangan sampai tidak punya iman dan taqwa. Biarlah seluruhnya telah kita
gadaikan untuk kebutuhan hidup tapi jangan sampai menggadaikan iman dan taqwa.
Iman yang ada pada diri kita
mengalami fluktuasi yaitu naik dan turun, untuk itu berhati-hatilah menjaganya
jangan sampai merosot bahkan hilang sama sekali. Bukti iman kita sedang naik
adalah banyak ibadah yang kita lakukan sedangkan bukti iman sedang turun adalah
banyaknya dosa dan maksiat yang kita kerjakan.
Buya Hamka dalam satu kesempatan
menyatakan, ”Dengan seni hidup akan indah, dengan ilmu hidup akan mudah dan
dengan iman hidup akan terarah”. Tampaknya iman dan taqwa memegang peranan
penting dalam kehidupan kita sehari-hari, terbukti bagaimana Rasul meletakkan
dasar pembinaan ummat selama 13 tahun di
Mekkah hanya memprioritaskan penanaman iman dan taqwa sebelum
meninggalkan kemungkaran bahkan ayat yang berkaitan dengan pelarangan khamar
dan riba jelas-jelas dilakukan dengan bertahap sesuai dengan kadar keimanan
seseorang. Demikian pula dengan menutup aurat dengan nama jilbab juga diawali
oleh faktor iman.
Orang yang beriman disebut mukmin
adalah level iman kedua setelah seorang mengkaji ajaran Islam sehingga
meningkat ”tsaqafah” [wawasan] keislamannya. Semakin menghunjam imannya
sehingga ibadah wajibnya tertib dilakukan. Dosanya semakin kecil karena
disibukkan oleh peningkatan iman.
Realisasi dari iman harus diwujudkan dalam merentang tali menuju hidup yang
hakiki, syurga tidaklah semudah yang kita impikan, dia milik Allah bukan milik
nenek moyang kita, harus diperoleh sesuai dengan persyaratan yang
disediakan-Nya; ”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal
belum nyata bagi Allah yang berjuang diantara kamu dan belum nyata orang-orang
yang sabar”[Ali Imran 3;142].
Orang yang baik wawasannya maka dia
menyadari bahwa nikmat iman merupakan nikmat yang paling tinggi dibandingkan
dengan nikmat hidup dan nikmat kemerdekaan, biarlah hidup hancur karena meraih
kemerdekaan, kemerdekaan tidak ada artinya bila tidak punya iman, bahkan iman
dapat menjadikan hidup tambah hidup, iman pula yang dapat menjadikan
kemerdekaan itu bermakna bagi manusia, karena pentingnya iman itu dibandingkan
segalanya sampai-sampai Ibnu Taimiyyah bermunajad kepada Allah,
"Seandainya mereka membuangku maka saat bagiku untuk bertamasya bersamamu,
seandainya mereka mengurungku maka itulah waktu yang tepat bagiku untuk
berdua-dua saja bersamamu, andai kata mereka membunuhku maka itulah saat yang
tepat agar aku cepat bertemu denganmu".
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim,
Rasulullah bersabda, ”Iman mempunyai 77
cabang, yang pertama ialah mengucapkan Laa Ilaaha illallah dan yang paling
rendah ialah menyingkirkan suatu barang yang mungkin berbahaya di jalan dan
malu mengerjakan kejahaan juga salah satu cabang dari rangka iman”
[Muslim].
Berangkat dari hadits tersebut dapat diambil tiga
point yang merupakan cermin dari keimanan seseorang yaitu;
Pertama, iman yang tinggi; syarat seseorang dikatakan muslim bila dia telah mengucapkan dua kalimah
syahadat sebagai persaksian bahwa dia siap berada dalam pangkuan islam. Bila
sekedar ucapan saja belumlah iman yang tinggi tapi masih disebut sebagai
muslim. Karena itu, ketika orang-orang Arab yang baru kalah perang itu
menyatakan telah beriman, karena ia telah menyatakan dua kalimah syahadat,
sontak disangkal oleh Rasulullah Saw, ”Kalian
sebenarnya belum beriman, tetapi kalian baru menyatakan muslim sebab iman belum
meresap ke dalam jiwa kalian”. Allah berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah orang-orang yang
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
kemudian mereka tidak lagi ragu-ragu dengan keimanannya itu” [Al Hujurat
49;15].
Ucapan
Laa Ilaaha Illallah, ialah pengakuan seorang hamba yang secara sadar mengakui
keberadaan Allah, konsekwensi logis dari pernyataan itu ialah mengaku pula;
tidak ada hukum yang wajib ditaati selain hukum Allah, tidak ada yang wajib
disembah selain dari Allah, tidak ada kecintaan yang melebihi dari cinta kepada
Allah, tidak ada yang ditakuti selain dari ancaman Allah, tidak ada yang dikagumi selain dari
ciptaan Allah, tidak ada yang disegani, dihormati, ditaati selain dari Allah.
Dengan
persaksian diatas, maka seorang telah dapat dikatakan bebas merdeka, tidak
diikat oleh suatu belenggu apapun, tidak dijajah oleh suatu keterikatan kepada
siapapun selain keterikatan kepada Allah Swt saja. Maka ummat islam yang telah
berikrar dengan syahadat itu bebas berbuat, bebas beribadah menjalankan hukum
Allah sesuai kehendak-Nya dengan segala kemampuan yang dimilikinya.
Realisasi
iman sesudah diucapkan melalui lisan, dihunjamkan dalam hati maka harus pula
diujudkan dalam tindakan nyata, tindakan inilah yang mengakibatkan Bilal bin
Rabah disiksa oleh majikannya, Ashabul
Kahfi dikejar-kejar oleh raja Delicius dan Nabi Muhammad dilecehkan, dikejar
bahkan nyaris dibunuh oleh kekuasaan kafir Quraisy.
Kedua, iman yang rendah; sikap yang diperbuat oleh seorang muslim
menunjukkan cetusan imannya yang digerakkan olehy hati nurani tanpa
mengharapkan pamrih dari orang lain walaupun amal itu kecil. Membuang sesuatu
rintangan yang ada di jalan,entah berupa kerikil, duri atau sebangsanya demi
keselamatan dan kelancaran lalu lintas menunjukkan suatu gerak keimanan. Bukti
iman bukan hanya memberikan derma atau sedekah sekian banyak tapi kebaikan
sedikitpun merupakan derma disamping menambah tabungan pahala juga gerak hati
sebagai orang yang beriman.
Ketika
Rasululah Saw mengeluarkan fatwa untuk mendermakan harta di jalan Allah,
terdapat seorang sahabat yang sanga papa, jangankan untuk sedekah, sedangkan
untuk diri sendiri dia tidak punya, sahabat itu berkata, ”Ya Rasulullah, bolehlah Abu Bakar, Umar atau Usman bersenanghati untuk
berderma di jalan Allah, tapi ini ya Rasulullah, orang miskin, apa yang harus
kami berikan?”
Kemudian
Rasulullah memberikan kabar gembira bahwa sedekah bukan sebatas harta yang dimiliki, salah satu sabda beliau yang diriwayatkan oleh Ahmad, setiap diri
diwajibkan sedekah setiap hari tiap terbitnya matahari, diantaranya, ”Jika ia mendamaikan diantara dua orang yang
bermusuhan dengan adil itulah sedekah, bila ia menolong seseorang untuk menaiki
binatang tunggangannya, berarti sedekah, menyingkirkan rintangan dari jalan
adalah sedekah, ucapan baik kepada orang lain dan keluarga adalah sedekah,dan
setiap langkah yang dilangkahkan seseorang untuk mendirikan shalat adalah
sedekah, senyummu di depan saudaramu adalah sedekah”.Disamping hadits tersebut,
juga terdapat sabda nabi yang mengatakan, ”Setiap tasbih, setiap tahmid, setiap
tahlil dan setiap takbir adalah sedekah”.
Keimanan
seseorang kualitasnya berbeda satu sama lain, jangankan menunjukkan keimanan
yang tinggi sedangkan bukti keimanan yang rendah saja tidak mampu ditunjukkan.
Dengan keimanan yang rendah bila dipupuk terus menerus akan semakin mantap,
kokoh lagi bernilai tinggi. Iman seseorang akan dinilai Allah melalui berbagai
bentuk ujian untuk menentukan emas dan loyang, apakah sekedar ucapan lisan atau
memang menghunjam di hati lalu direalisasikan dalam kehidupan, lalu siap pula
menerima segala konsekwensi dari keimanan tersebut yaitu berbentuk ujian, orang
yang lulus dari segala ujian kehidupanlah yang layak disebut beriman dan
beroleh pahala Allah,
”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk
syurga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnhya orang-orang
terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta
digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan
orang-orang yang beriman bersamanya, bilakah datangnya pertolongan Allah ?
ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” [Al Baqarah 2;214].
Ketiga, malu sebagian dari iman. Yang
dimaksud dengan malu disini yaitu malu berbuat kejahatan, kenistaan dan
perbuatan lainnya yang merendahkan eksistensi iman seseorang, bila seseorang
mengaku beriman sementara kejahatan dan prilaku tidak baik dilakukan juga baik
melalui tindakan atau lisan maka keimanan orang ini tidak dapat dijadikan
sebagai ukuran. Abu Hasan Al Mawardi membagi malu menjadi tiga macam yaitu;
1.Al Haya Minallah, yaitu malu kepada Allah, bila seorang
muslim malu kepada Allah maka ujud malu itu dibuktikan dengan mengikuti
perintah Allah dan menahan diri dari larangan-Nya.
2.Al Haya minannas, malu kepada manusia, sikap hidup ini
yaitu menjauhkan diri dari sikap yang dibenci orang lain sehingga disenangi dan
menimbulkan rasa simpati dan tidak bangga dengan sikap yang tidak terpuji.
3.Al Haya menannafsi, malu kepada diri sendiri yang mendorong seseorang berbuat yang terbaik
untuk dirinya tanpa mengorbankan orang lain, ia selalu berusaha menjaga diri
dari berbuat jahat.
Malu
merupakan alat yang dapat mendatangkan nilai positif atau nilai kebaikan, baik
untuk diri sendiri, orang lain, keluarga, masyarakat bahkan bangsa dan negara.
Menurut orang yang bijaksana bahwa tanpa malu seseorang masih ada bila kepada
yang baik didorongnya ke depan dan kepada yang mungkar ditahannya. Bila rasa
malu telah hilang, manusia akan berbuat seenaknya menurut dorongan hawa nafsu
yang rendah.
Agar
keimanan seorang muslim tetap tertanam lalu sedikit demi sedikit kokoh mengakar
dalam jiwa maka harus dipupuk, dibina dari shalat ke shalat, dari jum’at ke
jum’at, dari Ramadhan ke Ramadhan dan dari detik ke detik. Tumpukan lumpur yang
tidak berarti di tengah laut, dari waktu ke waktu diterpa angin dan badai,
gulungan ombak, panas dingin cuaca silih berganti. Lama kelamaan menjadi batu
karang yang kokoh tertancap dengan gagahnya demikian pula dengan iman.
Rasul
menggambarkan bahwa iman itu mengalami fluktuasi, yaitu naik dan turun, bukti
iman kita naik banyak ibadah yang dapat dikerjakan, sedangkan bukti iman sedang
turun yaitu banyak maksiat yang kita gelar, perbanyaklah ibadah otomatis iman
akan naik, jangan biarkan dia turun, maka stabilkan, wallahu a’lam [Cubadak Solok,
14 Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar