Rabu, 09 Desember 2015

26. Iman



Selama lebih kurang tiga belas tahun Rasulullah menghadapi ummat jahiliyyah di tanah Mekkah, selama itu pula suka dan duka yang beliau tanggung bersama para sahabat yang setia mengikuti langkah nabinya. Di Madinah bukan berarti perjalanan mulus yang dihadapi, tidak bedanya denan di Mekkah, hanya di Madinah fokus pembinaan kepada sosial kemasyarakatan dan hukum-hukum islam. Sedangkan di Mekkah harus mengikis habis karakteristik jahiliyyah yang telah mengkristal di hati ummat . Walaupun demikian kerasnya perjuangan yang harus dihadapi berkat pembinaan yang kontinyu serta hidayah Allah lahirlah tokoh-tokoh handal pembela islam seperti Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Hamzah, Bilal bin Rabah dan para sahabat yang lain yang rela mengorbankan hidup demi tegaknya Kalimatullah di dunia ini.

            Kebenaran islam di Mekkah sebenarnya sudah menyentuh lapisan masyarakat laus sejak dari budak belian sampai penguasa tapi sedikit sekali yang mau mengakui  karena beberapa sebab; diantaranya mereka tidak mau ikut ajaran islam karena para pengikut islam pada waktu itu sedikit sekali dan terdiri dari orang-orang lemah yang tidak berpengaruh. Kenyataan ini sejak zaman nabi Nuh dahulu sudah terjadi, ”Ketika saudara mereka [Nuh] berkata kepada mereka, ”Mengapa kamu tidak  bertaqwa? Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan yang diutus kepadamu”, mereka berkata,”apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang hina” [Asy Syura 26;106,107,111].

            Dengan bekal iman dan kekuatan dari Allah, Rasulullah berusaha menegakkan kebenaran di muka bumi ini dengan memerangi segala bentuk watak jahiliyyah yang menyesatkan ummat. Mereka menyekutukan Allah dengan berbagai bentuk sembahan yang mereka buat sendiri, mencuri, berbohong, minu, khamar, membunuh manusia tanpa haq. Bermain judi adalah suatu adat kasar yang diwarisi turun temurun.

Berzina, main sihir, makan suap, mengurangi timbangan atau takaran dalam perdagangan, mengumpat dan menghasut sulit untuk ditinggalkan akibat kerasnya adat jahiliyyah yang mereka anut. Masih banyak lagi akhlak tercela yang direkam sejarah yang dilakukan ummat jahiliyyah. Nabi Muhammad tampil sendiri ke gelanggang dengan tuntunan wahyu Allah agar berbeda dengan kehidupan banyak orang, karena kalau diikuti maka kehidupan mereka akan rusaklah pribadi, hancurlah akhlak, ”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain adalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta terhadap Allah”[Al An’am 6;116].

            Sejak awal beliau mampu menunjukkan kepada ummatnya bahwa dia adalah contoh teladan yang dikirim Allah untuk membina manusia sehingga walaupun kafir Quraisy terbelenggu oleh adat jahiliyyah, nabi Muhammad dengan gelar ”Al Amin” yaitu orang yang dapat dipercaya, mereka berikan julukan emas. Julukan ini bukan nabi Muhammad yang membuatnya, tapi kepercayaan masyarakat kepada beliau yang berbeda dengan kehidupan mereka sendiri, artinya Muhammad secara pribadi tidak jadi masalah bagi mereka, tapi Muhammad sebagai penyampai wahyu yang mereka tidak mengakuinya.

            Untuk menegakkan iman sudah banyak korban berjatuhan di medan perang, tidak sedikit harta disedekahkan, ayah bercerai dengan anak, isteri tidak berjumpa dengan suaminya selain nama yang pulang mengabarkan suami telah syahid dalam berjihad. Tapi mereka bukan semata-mata mati yang tidak berguna, bahkan inilah kematian yang mahal sekali harganya, ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” [Ali Imran 3;169].

            Mereka masih bertempur menghadapi musuh walaupun kawan sudah banyak jatuh sebagai syuhada’ sedikitpun tidak gentar malah menambah keberanian untuk menumpas kebathilan menjunjung tinggi agama Allah, ”Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia  Allah yang diberikan-Nya kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang mereka yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati” [Ali Imran 3;170].

            Masa itu telah berlalu dibawah komando Rasulullah dan khulafaur rasyidin, melenyapkan jahiliyyah ke akar-akarnya sehingga tegaklah kebenaran islam di bumi ini merembes kebelahan dunia sehingga kejayaan islam diperolehnya, lalu islam satu kekuatan yang diperhitungkan.

            Nikmat iman hanya diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya dan ini merupakan hak preogratif Allah tanpa bisa dicampuri oleh siapapun. Walaupun demikian iman tersebut akan diberikan memang kepada orang-orang yang mencarinya atau orang-orang yang memang ada kecendrungan kepada keimanan, Allah berfirman;

"Segala puji bagi Allah yang Telah menunjuki kami kepada (surga) ini. dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. "[Al A'raf 7;43]

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, Maka merekalah orang-orang yang merugi" [Al A'raf 7;178]

Iman yang ada pada hati manusia bila diibaratkan kepada bangunan bagaikan pondasi yang menghunjam ke bumi sehingga bangunan itu kokoh dan kuat. Bila diibaratkan kepada pohon dia adalah akar yang kuat yang terkubur di tanah. Tanpa itu semua bangunan dan pohon tadi akan mudah rubuh, tumbang dan tidak berdaya. Demikian pula manusia, tanpa iman dan taqwa akan goncang dalam percaturan kehidupan ini.

            Rasulullah menyatakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani, ”Iman adalah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan dan pengamalan dengan anggota”.

            Bahwa iman itu adalah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan dan pengamalan dengan anggota, dia bukanlah angan-angan tapi harus disertai dengan amal perbuatan sebagaimana dengan yang difirmankan Allah dalam dua surat berikut ini;
-Surat Al Baqarah ayat 25, ”Berilah kabar gembira pada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh bahwa bagi mereka adalah penghuni syurga”.
-Surat Maryam ayat 96, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh bahwa mereka itu akan memperoleh syurga”.

           
Iman adalah sarana untuk mengokohkan ibadah, tanpa iman dan taqwa, ibadah yang kita lakukan gersang dan tidak bermakna, dia akan bercampur dengan syirik, bid’ah, kurafat dan tahyul sehingga ibadah itu sia-sia belaka. Justru itu Lukman Al Hakim mengajarkan dan menamamkan iman kepada anaknya sebelum menunaikan ibadah lebih dahulu. Ini digambarkan Allah dalam firman-Nya di surat Lukman ayat 13, ”Hai anakku jangan berbuat syirik karena syirik itu adalah kezhaliman yang besar”. Demikian pula halnya firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 21,”Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang menjadikanmu dan orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwa”.

Iman berperan dalam rangka menangkal datangnya penyakit wahnun. Rasul pernah meramalkan bahwa nanti ummat Islam itu seperti hidangan yang terletak di meja yang akan diserbu dan dibinasakan oleh seluruh manusia. Bahkan ummat Islam itu nanti seperti buih yang ada di laut, akan hancur berantakan dikala diterpa oleh angin dan ombak.

Ketika itu para sahabat bertanya, ”Ya Rasulullah, apakah saat itu ummatmu  jumlahnya sedikit?” maka Rasul menjawab, ”Tidak, bahkan waktu itu jumlah ummatku banyak sekali, mayoritas, tapi mereka diserang suatu penyakit yang dinamakan dengan wahnun”, sahabatpun bertanya, ”Apakah wahnun itu ya Rasulullah?”. Rasul menjelaskan, ”Dia adalah penyakit ’hubbuddunya wakarahiyatul maut’ yaitu penyakit terlalu cinta kepada dunia dan terlalu takut dengan kematian”. Ini semua terjadi karena iman dan taqwa yang dimiliki ummat Islam sangat tipis.

Iman berperan dalam memberi kekebalan terhadap serangan pihak musuh seperti dari Yahudi dan Nasrani terhadap ummat Islam. Siapa saja, agama apa saja dan idiologi apapun selalu tidak suka dengan Islam, mereka selalu menyerang ummat Islam dimana saja sebagaimana tergambar dalam firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 120, ”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”, atau seperti dalam surat Al Baqarah ayat 217, ”Mereka tidak henti-hentinya memerangi agama kamu hingga sampai mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran”.
           
           
Iman berperan dalam rangka menghadapi ujian. Hidup ini  penuh dengan ujian dan cobaan yang silih berganti, sebagaimana Allah menyatakan dalam firman-Nya, ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” [Al Baqarah;155].
     
Bila tidak punya iman ketika berhadapan dengan ujian hidup maka manusia tadi akan kecewa, stres, strok bahkan bunuh diri. Nyata memang bahwa iman dan taqwa adalah obat bagi penyakit hati dan mental yang obatnya tiada lain memperdalam keduanya. Wajar bila Allah menyatakan bahwa orang yang beruntung itu adalah orang yang meningkatkan iman dan taqwanya dan memperbanyak ibadah serta mengaktifkan da’wah, sebagaimana yang dinyatakan dalam surat Al Ashr ayat 1-3, ”Demi masa, sesunguhnya manusia itu dalam keadaan merugi kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan berwasiat dengan kebenaran dan berwasiat dengan kesabaran”. 


            Demikian pentingnya iman dalam kehidupan kita sehari-hari, biarlah kita tidak punya apa-apa dalam hidup ini tapi jangan sampai tidak punya iman dan taqwa. Biarlah seluruhnya telah kita gadaikan untuk kebutuhan hidup tapi jangan sampai menggadaikan iman dan taqwa.

            Iman yang ada pada diri kita mengalami fluktuasi yaitu naik dan turun, untuk itu berhati-hatilah menjaganya jangan sampai merosot bahkan hilang sama sekali. Bukti iman kita sedang naik adalah banyak ibadah yang kita lakukan sedangkan bukti iman sedang turun adalah banyaknya dosa dan maksiat yang kita kerjakan.

            Buya Hamka dalam satu kesempatan menyatakan, ”Dengan seni hidup akan indah, dengan ilmu hidup akan mudah dan dengan iman hidup akan terarah”. Tampaknya iman dan taqwa memegang peranan penting dalam kehidupan kita sehari-hari, terbukti bagaimana Rasul meletakkan dasar pembinaan ummat selama 13 tahun di  Mekkah hanya memprioritaskan penanaman iman dan taqwa sebelum meninggalkan kemungkaran bahkan ayat yang berkaitan dengan pelarangan khamar dan riba jelas-jelas dilakukan dengan bertahap sesuai dengan kadar keimanan seseorang. Demikian pula dengan menutup aurat dengan nama jilbab juga diawali oleh faktor iman.

            Orang yang beriman disebut mukmin adalah level iman kedua setelah seorang mengkaji ajaran Islam sehingga meningkat ”tsaqafah” [wawasan] keislamannya. Semakin menghunjam imannya sehingga ibadah wajibnya tertib dilakukan. Dosanya semakin kecil karena disibukkan oleh peningkatan iman.

Realisasi dari iman harus diwujudkan dalam merentang tali menuju hidup yang hakiki, syurga tidaklah semudah yang kita impikan, dia milik Allah bukan milik nenek moyang kita, harus diperoleh sesuai dengan persyaratan yang disediakan-Nya; ”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum nyata bagi Allah yang berjuang diantara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar”[Ali Imran 3;142].

Orang yang baik wawasannya maka dia menyadari bahwa nikmat iman merupakan nikmat yang paling tinggi dibandingkan dengan nikmat hidup dan nikmat kemerdekaan, biarlah hidup hancur karena meraih kemerdekaan, kemerdekaan tidak ada artinya bila tidak punya iman, bahkan iman dapat menjadikan hidup tambah hidup, iman pula yang dapat menjadikan kemerdekaan itu bermakna bagi manusia, karena pentingnya iman itu dibandingkan segalanya sampai-sampai Ibnu Taimiyyah bermunajad kepada Allah, "Seandainya mereka membuangku maka saat bagiku untuk bertamasya bersamamu, seandainya mereka mengurungku maka itulah waktu yang tepat bagiku untuk berdua-dua saja bersamamu, andai kata mereka membunuhku maka itulah saat yang tepat agar aku cepat bertemu denganmu".

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah bersabda, ”Iman mempunyai 77 cabang, yang pertama ialah mengucapkan Laa Ilaaha illallah dan yang paling rendah ialah menyingkirkan suatu barang yang mungkin berbahaya di jalan dan malu mengerjakan kejahaan juga salah satu cabang dari rangka iman” [Muslim].

            Berangkat dari hadits tersebut dapat diambil tiga point yang merupakan cermin dari keimanan seseorang yaitu;
           
Pertama, iman yang tinggi; syarat seseorang dikatakan muslim bila dia telah mengucapkan dua kalimah syahadat sebagai persaksian bahwa dia siap berada dalam pangkuan islam. Bila sekedar ucapan saja belumlah iman yang tinggi tapi masih disebut sebagai muslim. Karena itu, ketika orang-orang Arab yang baru kalah perang itu menyatakan telah beriman, karena ia telah menyatakan dua kalimah syahadat, sontak disangkal oleh Rasulullah Saw, ”Kalian sebenarnya belum beriman, tetapi kalian baru menyatakan muslim sebab iman belum meresap ke dalam jiwa kalian”. Allah berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman  kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak lagi ragu-ragu dengan keimanannya itu” [Al Hujurat 49;15].

            Ucapan Laa Ilaaha Illallah, ialah pengakuan seorang hamba yang secara sadar mengakui keberadaan Allah, konsekwensi logis dari pernyataan itu ialah mengaku pula; tidak ada hukum yang wajib ditaati selain hukum Allah, tidak ada yang wajib disembah selain dari Allah, tidak ada kecintaan yang melebihi dari cinta kepada Allah, tidak ada yang ditakuti selain dari ancaman  Allah, tidak ada yang dikagumi selain dari ciptaan Allah, tidak ada yang disegani, dihormati, ditaati selain dari Allah.

            Dengan persaksian diatas, maka seorang telah dapat dikatakan bebas merdeka, tidak diikat oleh suatu belenggu apapun, tidak dijajah oleh suatu keterikatan kepada siapapun selain keterikatan kepada Allah Swt saja. Maka ummat islam yang telah berikrar dengan syahadat itu bebas berbuat, bebas beribadah menjalankan hukum Allah sesuai kehendak-Nya dengan segala kemampuan yang dimilikinya.

            Realisasi iman sesudah diucapkan melalui lisan, dihunjamkan dalam hati maka harus pula diujudkan dalam tindakan nyata, tindakan inilah yang mengakibatkan Bilal bin Rabah disiksa oleh  majikannya, Ashabul Kahfi dikejar-kejar oleh raja Delicius dan Nabi Muhammad dilecehkan, dikejar bahkan nyaris dibunuh oleh kekuasaan kafir Quraisy.

            Kedua, iman yang rendah;  sikap yang diperbuat oleh seorang muslim menunjukkan cetusan imannya yang digerakkan olehy hati nurani tanpa mengharapkan pamrih dari orang lain walaupun amal itu kecil. Membuang sesuatu rintangan yang ada di jalan,entah berupa kerikil, duri atau sebangsanya demi keselamatan dan kelancaran lalu lintas menunjukkan suatu gerak keimanan. Bukti iman bukan hanya memberikan derma atau sedekah sekian banyak tapi kebaikan sedikitpun merupakan derma disamping menambah tabungan pahala juga gerak hati sebagai orang yang beriman.

            Ketika Rasululah Saw mengeluarkan fatwa untuk mendermakan harta di jalan Allah, terdapat seorang sahabat yang sanga papa, jangankan untuk sedekah, sedangkan untuk diri sendiri dia tidak punya, sahabat itu berkata, ”Ya Rasulullah, bolehlah Abu Bakar, Umar atau Usman bersenanghati untuk berderma di jalan Allah, tapi ini ya Rasulullah, orang miskin, apa yang harus kami berikan?”

            Kemudian Rasulullah memberikan kabar gembira bahwa sedekah bukan sebatas harta yang  dimiliki, salah satu sabda beliau yang  diriwayatkan oleh Ahmad, setiap diri diwajibkan sedekah setiap hari tiap terbitnya matahari, diantaranya, ”Jika ia mendamaikan diantara dua orang yang bermusuhan dengan adil itulah sedekah, bila ia menolong seseorang untuk menaiki binatang tunggangannya, berarti sedekah, menyingkirkan rintangan dari jalan adalah sedekah, ucapan baik kepada orang lain dan keluarga adalah sedekah,dan setiap langkah yang dilangkahkan seseorang untuk mendirikan shalat adalah sedekah, senyummu di depan saudaramu adalah sedekah”.Disamping hadits tersebut, juga terdapat sabda nabi yang mengatakan, ”Setiap tasbih, setiap tahmid, setiap tahlil dan setiap takbir adalah sedekah”.

            Keimanan seseorang kualitasnya berbeda satu sama lain, jangankan menunjukkan keimanan yang tinggi sedangkan bukti keimanan yang rendah saja tidak mampu ditunjukkan. Dengan keimanan yang rendah bila dipupuk terus menerus akan semakin mantap, kokoh lagi bernilai tinggi. Iman seseorang akan dinilai Allah melalui berbagai bentuk ujian untuk menentukan emas dan loyang, apakah sekedar ucapan lisan atau memang menghunjam di hati lalu direalisasikan dalam kehidupan, lalu siap pula menerima segala konsekwensi dari keimanan tersebut yaitu berbentuk ujian, orang yang lulus dari segala ujian kehidupanlah yang layak disebut beriman dan beroleh pahala Allah,

            ”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnhya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, bilakah datangnya pertolongan Allah ? ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” [Al Baqarah 2;214].

            Ketiga, malu sebagian dari iman. Yang dimaksud dengan malu disini yaitu malu berbuat kejahatan, kenistaan dan perbuatan lainnya yang merendahkan eksistensi iman seseorang, bila seseorang mengaku beriman sementara kejahatan dan prilaku tidak baik dilakukan juga baik melalui tindakan atau lisan maka keimanan orang ini tidak dapat dijadikan sebagai ukuran. Abu Hasan Al Mawardi membagi malu menjadi tiga macam yaitu;

1.Al Haya Minallah, yaitu malu kepada Allah, bila seorang muslim malu kepada Allah maka ujud malu itu dibuktikan dengan mengikuti perintah Allah dan menahan diri dari larangan-Nya.

2.Al Haya minannas, malu kepada manusia, sikap hidup ini yaitu menjauhkan diri dari sikap yang dibenci orang lain sehingga disenangi dan menimbulkan rasa simpati dan tidak bangga dengan sikap yang tidak terpuji.

3.Al Haya menannafsi, malu kepada diri sendiri  yang mendorong seseorang berbuat yang terbaik untuk dirinya tanpa mengorbankan orang lain, ia selalu berusaha menjaga diri dari berbuat jahat.

            Malu merupakan alat yang dapat mendatangkan nilai positif atau nilai kebaikan, baik untuk diri sendiri, orang lain, keluarga, masyarakat bahkan bangsa dan negara. Menurut orang yang bijaksana bahwa tanpa malu seseorang masih ada bila kepada yang baik didorongnya ke depan dan kepada yang mungkar ditahannya. Bila rasa malu telah hilang, manusia akan berbuat seenaknya menurut dorongan hawa nafsu yang rendah.

            Agar keimanan seorang muslim tetap tertanam lalu sedikit demi sedikit kokoh mengakar dalam jiwa maka harus dipupuk, dibina dari shalat ke shalat, dari jum’at ke jum’at, dari Ramadhan ke Ramadhan dan dari detik ke detik. Tumpukan lumpur yang tidak berarti di tengah laut, dari waktu ke waktu diterpa angin dan badai, gulungan ombak, panas dingin cuaca silih berganti. Lama kelamaan menjadi batu karang yang kokoh tertancap dengan gagahnya demikian pula dengan iman.

            Rasul menggambarkan bahwa iman itu mengalami fluktuasi, yaitu naik dan turun, bukti iman kita naik banyak ibadah yang dapat dikerjakan, sedangkan bukti iman sedang turun yaitu banyak maksiat yang kita gelar, perbanyaklah ibadah otomatis iman akan naik, jangan biarkan dia turun, maka stabilkan, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 14 Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]. 

           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar