Rabu, 16 Desember 2015

88. Perubahan



Semua yang terjadi dialam ini mengalami proses yang telah ditentukan, sesuai dengan kadarnya, kejadian alam rayapun mengalami hal yang sama, membutuhkan waktu yang panjang demikian pula dengan hadirnya manusia di dunia ini tidaklah dengan tiba-tiba tapi sudah dipersiapkan sejak dari alam ruh, alam kandungan hingga kelahiran, semuanya dilalui dengan proses yang sudah dirancang kepastiannya, perjalanan proses itu mengalami perubahan menuju kepada kesempurnaan dan kelak berakhir dengan kehancuran.

Di alam ini, segala hal berubah, dan tak ada yang tak berubah, kecuali perubahan itu sendiri.Pada masa kita sekarang, perubahan berjalan sangat cepat, bahkan dahsyat dan dramatik.Kita semua, tak bisa tidak, berjalan bersama atau seiring dengan perubahan itu.Tak berlebihan bila Alan Deutschman pernah menulis buku, untuk mengingatkan kita semua, dengan judul agak ekstrim, “Change or Die” (Berubah atau Mati).
Perubahan pada hakekatnya adalah ketetapan Allah (sunnatullah) yang berlangsung konstan (ajek), tidak pernah berubah, serta tidak bisa dilawan, sebagai bukti dari wujud dan kuasa-Nya (QS. Ali Imran [3]: 190-191). Namun, perubahan yang dikehendaki, yaitu perubahan menuju kemajuan, tidak datang dari langit  (given) atau datang secara cuma-cuma (taken for granted). Hal ini, karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri mengubah diri mereka sendiri (QS. Al-Ra`d [13]: 11).

Untuk mencapai kemajuan, setiap orang harus merencanakan perubahan, dan perubahan itu harus datang dan dimulai dari diri sendiri.Perubahan sejatinya tidak dapat dipaksakan dari luar, tetapi merupakan revolusi kesadaran yang lahir dari dalam. Itu sebabnya, kepada orang yang bertanya soal hijrah dan jihad,  Nabi berpesan. Kata beliau, “Ibda’ bi nafsik, faghzuha” (mulailah dari dirimu sendiri, lalu berperanglah!).  (HR. al-Thayalisi dari Abdullah Ibn `Umar).

Seperti diharapkan Nabi SAW dalam riwayat di atas, perubahan dari dalam dan dari diri sendiri merupakan pangkal segala perubahan, dan sekaligus merupakan kepemimpinan dalam arti yang sebenarnya.Hakekat kepemimpinan adalah kepemimpinan atas diri sendiri. Dikatakan demikian, karena seorang tak mungkin memimpin dan mengubah orang lain, bila ia tak sanggup memimpin dan mengubah dirinya sendiri.
Perubahan dalam diri manusia dimulai dari perubahan cara pandang atau perubahan paradigma pikir (mindset). Manusia tak mungkin mengubah hidupnya, bilamana ia tak mampu mengubah paradigma pikirnya. Karena itu, kita disuruh mengubah pikiran kita agar kita dapat mengubah hidup kita (Change Our Thinking Change Our Life).
Selanjutnya, perubahan paradigma harus disertai dengan perubahan dalam penguasaan ilmu dan keterampilan. Perubahan yang satu ini memerlukan pembelajaran  dan pembiasaan (learning habits) yang perlu terus diasah.

Akhirnya, perubahan diri itu, menurut Imam al-Ghazali, membutuhkan tindakan nyata (al-Af`al). Ilmu hanya menjadi kekuatan jika ia benar-benar dikelola menjadi program dan tindakan nyata yang mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Pada tahap ini, tindakan menjadi faktor pamungkas, dan menjadi satu-satunya kekuatan yang bisa mengubah cita-cita (harapan) menjadi realita (kenyataan).[A Ilyas Ismail,Hikmah Mengubah Diri Sendiri,
Republika OnLine,Sabtu, 08 Januari 2011, 05:03 WIB].

            Perubahan memang membutuhkan waktu, tenaga dan fikiran, tapi semua yang dikeluarkan itu untuk kebaikan dan menuju kepada kesempurnaan, begitu juga halnya diampun membutuhkan waktu, fikiran dan tenaga, namun semua itu hilang dengan mubazir, apapun yang terjadi dan apapun yang dilakukan di dunia ini meskipun meneteskan air mata maka kehidupan akan berjalan dengan sendirinya. 

Terkadang kita ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita.Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan, keburukan, maupun kelalaian.Namun ternyata sikap kita yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah. Banyak orang yang menginginkan orang lain berubah, tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud. Kita sering melihat orang yang menginginkan Indonesia berubah. Tapi, pada saat yang sama, ternyata keluarganya ‘babak belur’, di kampus tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat. Itu namanya terlampau muluk.

Jangankan mengubah Indonesia, mengubah keluarga sendiri saja tidak mampu.Banyak yang menginginkan situasi negara berubah, tapi kenapa merubah sikap adik saja tidak sanggup. Jawabnya adalah: kita tidak pernah punya waktu yang memadai untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar.Tapi jawaban ini perlu diingat baik-baik.  Siapa pun yang bercita-cita besar, rahasianya adalah perubahan diri sendiri.Ingin mengubah Indonesia, caranya adalah ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah orang lain, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita.

Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois.Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga hanya untuk diri sendiri.Tapi yang dimaksud di sini adalah memikirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas.  Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikirkan genteng, memikirkan tiang yang kokoh, akan tetapi pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupakan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesungguhan untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan keberanian melihat kekurangan diri.
Pemimpin mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya.Orang sukses mana pun bakal rubuh kalau dia tidak punya keberanian untuk mengubah dirinya.Kata kuncinya adalah keberanian.Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu mudah, tapi, tidak sembarang orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri.Ini hanya milik orang-orang yang sukses sejati.  Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan oleh orang yang tidak punya apa-apa sekali pun.Tapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya, inilah calon orang besar.

Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak berucap sepatah kata pun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigihan kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya. Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya semakin besar seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.

Jadi kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah keluarga, sulitnya mengubah anak, jawabannya dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah. Kalau kita sebagai ustadz, atau kyai, jangan banyak menyalahkan santrinya.Tanya dulu diri sendiri. Kalau kita sebagai pemimpin, jangan banyak menyalahkan bawahannya, lihat dulu diri sendiri seperti apa.  Kalau kita sebagai pemimpin negara, jangan banyak menyalahkan rakyatnya.Lebih baik para penyelenggara negara gigih memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan. Insya Allah, walaupun tanpa banyak berkata, dia akan membuat perubahan cepat terasa, jika berani memperbaiki diri. Itu lebih baik  dibanding banyak berkata, tapi tanpa keberanian menjadi suri teladan.  Jangan terlalu banyak bicara.Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri.Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makin sungguh-sungguh, ibadah kian tangguh. Ini akan disaksikan orang.

Membicarakan dalil itu suatu kebaikan. Tapi pembicaraan itu akan menjadi bumerang ketika perilaku kita tidak sesuai dengan dalil yang dibicarakan. Jauh lebih utama orang yang tidak berbicara dalil, tapi berbuat sesuai dalil.Walaupun tidak dikatakan, dirinya sudah menjadi bukti dalil tersebut. Mudah-mudahan, kita bisa menjadi orang yang sadar bahwa kesuksesan diawali dari keberanian melihat kekurangan diri sendiri. Jadi teringat  kutipan kata bijak dari sebuah buku seperti ini:

Jadilah kau sedemikian kuat sehingga tidak ada yang dapat mengganggu kedamaian pikiranmu.Lihatlah sisi yang menyenangkan dari setiap hal.[Fitria Meysti Sari, Ciri Orang Besar Memulai Perubahan ,Dakwatuna.com. 28/1/2011 | 22 Shafar 1432 H].

Perubahan menuju kepada kebaikan tidaklah terjadi dengan sendirinya tapi membutuhkan rancangan yang matang, perlu adanya kekuatan yang dahsyat yaitu tekad dan kemauan menuju kesana, tanpa unsur itu maka perubahan akan terjadi juga tapi kearah negative  karena banyak hal yang menyeret kearah itu, bujukan syaitan, rayuan hawa nafsu dan godaan lainnya.

Godaan kekuasaan sangat besar.Akses terhadap harta, tahta dan wanita sangat mudah diperoleh.Surat al Baqarah menggambarkan hal ini.Dalam perjalanan menyerang Raja Jalut, tiba-tiba terik dan panas menyerang tentara Thalut.Pasukan itu pun mengadu, “Kami kehausan.” Raja Samuel mengatakan, “Di depan ada sungai yang airnya jernih. Tapi awas, siapa yang minum bukan golongan kami, sedangkan yang tidak minum termasuk golongan kami kecuali minum sedikit saja.”

Sesampainya di sungai, empat ribu tentara Thalut terbagi empat kelompok.Pertama, tentara yang minum dan mandi.Kedua, minum banyak.Ketiga, minum sedikit.Keempat, sama sekali tak minum. Tentara yang minum sedikit jumlahnya 300 dan yang tidak minum 13 orang.Ketika saatnya menyerang, ternyata hanya 313 tentara yang bisa bertempur, sebagian besar lainnya lemas dan berbalik pulang. Yang paling tangguh justru 13 tentara yang sama sekali tidak minum, di dalamnya ada pemuda bernama Daud yang berhasil membunuh Raja Jalut.

Dalam konteks kekinian, tokoh-tokoh partai, termasuk partai Islam berkampanye meraup suara.Sepertinya, mereka anti uang dan membagikan uang pada konstituennya.Tapi, setelah mereka masuk ke sungai, sedikit sekali yang tidak minum.Baru saja menjadi anggota DPRD, DPR atau kepala daerah, langsung punya beberapa mobil mewah, rumah besar di kawasan elit dan kemewahan dunia lainnya. Mereka berdalih, ini fasilitas dan royalti resmi serta setumpuk argumen manis lainnya.

Pimpinan Pesantren Nurul Hidayah Leuwiliang Kabupaten Bogor KH Khodamul Quddus menilai, kader seperti ini tidak akan kuat meneruskan perjuangan. Jabatan yang sebenarnya mempunyai power untuk mengangkat rakyat dari jurang kemiskinan, kebodohan dan kemaksiatan tidak akan bisa dimanfaatkannya. Ia menjadi lemah karena memakan harta yang tak jelas halal haramnya. “Meski ia dan keluarganya hidup mewah, pada hakikatnya ia menjadi pecundang sebelum bertarung,” tegasnya.[Kelompok Kecil Militan Selalu Menjadi Pendobrak, Cybersabili, Jumat, 30 Juli 2010 02:00].

Untuk melakukan perubahan itu harus dimulai dari sekarang, bila sedang tidur maka segeralah bangun, duduk, berdiri dan berlari, jadikan sikap malas dengan kesigapan, rubah sikap diam dengan kerja keras, bangkit dan bergeraklah dari satu keadaan kepada keadaan lainnya, ujudkan banyak bicara dengan kerja nyata, jauhkan khayalan dengan  realitas.

Nabi Muhammad SAW sangat tak menyukai umatnya mengumbar kata-kata 'seandainya'. Bahkan, dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya, kalimat lau (seandainya) membawa kepada perbuatan setan."

Syekh Shaleh Ahmad asy-Syaami, menjelaskan, kata 'seandainya' tidak membawa manfaat sama sekali. Menurutnya, meskipun seseorang mengucapkan ungkapan itu, ia tidak akan mampu mengembalikan apa yang telah berlalu, dan menggagalkan kekeliruan yang telah terjadi. Dalam bukunya bertajuk Berakhlak dan Beradab Mulia, Syekh asy Syaami mewanti-wanti bahwa ungkapan 'seandainya' bisa berkonotasi sebagai angan-angan semu, dan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

"Sikap seperti ini adalah sikap yang lemah dan malas," ujarnya.Bahkan, kata dia, Allah SWT pun membenci sikap lemah, tidak mampu, dan malas.Dalam hadis dinyatakan, "Allah SWT mencela sikap lemah, tidak bersungguh-sungguh, tetapi kamu harus memiliki sikap cerdas dan cekatan, namun jika kamu tetap terkalahkan oleh suatu perkara, maka kamu berucap 'cukuplah Allah menjadi penolongku, dan Allah sebaik-baik pelindung."(HR Abu Dawud).

Sikap tangkas dan cerdas yang di maksud, tutur dia, melakukan usaha dan tindakan-tindakan yang bisa membawa pada keberhasilan meraih sesuatu yang bermanfaat, baik di dunia maupun akhirat.Ini, sambung Syekh asy-Syaami, merupakan bentuk aplikasi terhadap hukum kausalitas yang telah Allah tetapkan.
Keutaman dari sikap tangkas dan cerdas yakni bisa menjadi pembuka amal kebaikan. Sebaliknya, sikap lemah dan malas, seperti telah di ingatkan Rasulullah SAW, hanya akan mendekatkan diri kepada setan. "Sebab, jika seseorang tidak mam pu atau malas melakukan se sua tu yang bermanfaat baginya dan ma syarakat sekitar, maka ia akan selalu menjadi seseorang yang kerap berangan-angan," paparnya.

Perbuatan dan sikap semacam itu, selain kontraproduktif serta tidak akan membawa pada keberhasilan, juga sama saja dengan membuka amal perbuatan setan karena pintu amal setan tidak lain adalah sikap malas dan lemah. Merekalah, tegas as-Syaami, adalah orang yang paling merugi.

Mengapa dikatakan orang yang paling merugi?Sebab, sifat malas dan lemah merupakan kunci segala bencana.Seperti, perbuatan maksiat sudah pasti terjadi karena lemahnya keimanan dan ketakwaan seseorang sehingga berani melanggar larangan agama.

Jadi, dia menambahkan, seorang hamba yang memiliki dua sifat tercela tadi, berarti ia tidak mampu melaksanakan amal perbuatan ketaatan serta tidak bisa melakukan hal-hal yang bisa membentengi dirinya dari godaan perbuatan jahat maupun maksiat.

Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Barri jilid XI menggarisbawahi, apabila penyakit hati itu telah menjangkiti manusia, maka ia akan mulai mendekati larangan Allah. Dia pun menjadi enggan untuk bertobat. Untuk itu, Nabi SAW memberikan tuntunan doa bagi umatnya agar terhindar dari dua jenis sifat tercela tadi. Rasulullah SAW berdoa, "Ya Allah, hamba meminta perlindungan kepadaMu dari kecemasan dan kesedihan."

Cemas dan sedih, keduanya juga bersumber dari malas dan lemah. Karena, apa yang telah terjadi, tidak mungkin diubah atau dihapus hanya dengan kesedihan, namun yang perlu dilakukan adalah menerimanya dengan kerelaan, sabar dan iman.

Demikian pula sesuatu yang mungkin terjadi di waktu mendatang, juga tidak mungkin dapat diubah atau dihapus hanya dengan kecemasan atau kekhawatiran.Maka itu, seseorang harus selalu siap membekali diri dengan sikap-sikap yang baik untuk menghadapi segala kemungkinan.

Oleh karenanya, Islam sangat menjunjung tinggi optimisme, kerja keras, dan berusaha sekuat tenaga.Jiwa seorang Muslim sejati adalah yang meyakini bahwa rezeki Allah SWT sangatlah berlimpah, dan disediakan bagi siapapun yang mampu menggapainya dengan semangat dan etos kuat.

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS al Jumu'ah [62] : 10) Ada perbedaan antara harapan dan angan-angan.Harapan selalu dibarengi dengan usaha, sementara anganangan atau kemalasan hanyalah angan-angan kosong.[Inilah Resep Islam Menjauhi Sikap Malas, Republika online,Selasa, 04 Mei 2010, 22:25 WIB].

Bahkan untuk berubahnya sebuah bangsa dan Negara, suatu komunitas dan ummat berawal dari berubahnya secara serentak masing-masing individu menuju kepada gerak yang pasti dan sebaliknya bila individu tidak mau bergerak menuju perubahan maka dapat dipastikan bangsa itu akan diam dan tenggelam.

Sangatlah jelas, Tak akan berubah nasib suatu kaum bila tidak adanya keinginan atau usaha untuk melakukan perubahan. Karena itu, perubahan sudah bernilai wajib guna memberikan perbaikan.Lantaran sudah bernilai wajib, sudah sewajarnya bagi setiap individu untuk melakukan perubahan.Nilai wajib perubahan itu sekiranya sangat tepat bagi kondisi Indonesia seperti sekarang.Dimana dalam segala bidang, negeri tercinta tengah didera berbagai “penyakit”. Korupsi kian marak, indeks pembangunan sumber daya jauh tertinggal, adu domba mengatasnamakan agama, dan birokrasi yang tak kunjung memihak wong cilik.

Melihat dari deteksi keparahan penyakit negara tercinta, sudah pasti perubahan yang dilakukan akan mengundang konsekuensi berupa perlunya keberanian menempuh segala resiko dan harus berpikir keluar dari pemikiran konensional yang usang. Sebuah keberanian yang akan menyembuhkan segala penyakit yang mendera, mengembalikan lagi Indonesia menjadi negara yang sehat dan sukses memakmurkan rakyatnya. Karena itu, perlu tokoh yang mampu dan mau melakukan perubahan.[Inilah Tokoh Perubahan 2010,Republika online, Kamis, 31 Maret 2011 19:50 WIB].

Waktu yang diberikan Allah kepada kita relative singkat di dunia ini, seharusnya dapat dimanfaatkan untuk melakukan perubahan dalam tiga asfek yaitu peningkatan iman, penambahan amal ibadah dan melajukan gerak dakwah, bila tiga hal itu diabaikan maka selama berada di dunia ini kita berada dalam kerugian, ingin tidak mengalami kerugian maka lakukanlah perubahan, wallahu a’lam, [Baloi Indah Batam, 11 Rajab 1432.H/ 13 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar