Satu
ketika seorang sahabat Nabi Muhammad Saw menyatakan bahwa dia kenal dengan
seseorang, Rasul menjelaskan bahwa untuk menyatakan kenal dengan seseorang itu
tidaklah mudah, ada tiga hal yang dilakukan bersama maka berarti kita baru
mengenal orang itu, tiga hal itu adalah;
pernah melakukan perjalanan bersama dengan orang itu, pernah makan
bersama dan pernah tidur bersama dengannya.Untuk menyatakan kenal saja begitu
yang harus dilakukan, apalagi untuk menyatakan seseorang sebagai teman demikian
pula menjadikan seseorang sebagai sahabat tidaklah mudah, padahal seorang
sahabat minimal satu orang sangat kita perlukan.
Di dalam pergaulannya tersebut seseorang akan memiliki teman, baik itu disekolahnya, di tempat kerjanya ataupun di lingkungan tempat tinggalnya. Sehingga tidak ditampik lagi bahwa teman merupakan elemen penting yang berpengaruh bagi kehidupan seseorang.
Islam sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh telah mengatur bagaimana adab dan batasan-batasan di dalam pergaulan. Sebab betapa besar dampak yang akan menimpa seseorang akbiat bergaul dengan teman-teman yang jahat dan sebaliknya betapa besar manfaat yang dapat dipetik oleh seseorang yang bergaul dengan teman yang shalih.
Banyak di antara manusia yang terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan dan kesesatan dikarenakan bergaul dengan teman teman yang jahat dan banyak pula di antara manusia yang mereka mendapatkan hidayah disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.
Di dalam sebuah hadits Rasullullah Shallallaahu alaihi wa Salam menyebutkan tentang peranan dan dampak seorang teman:
“Perumpamaan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang jahat adalah seperti penjual minyak wangi dengan pandai besi.Adapun penjual minyak wangi tidak melewatkan kamu, baik engkau akan membelinya atau engkau tidak membelinya, engkau pasti akan mendapatkan baunya yang enak, sementara pandai besi ia akan membakar bujumu atau engkau akan mendapatkan baunya yang tidak enak.” (Muttafaqun ‘Alaih).
Berdasarkan hadits tersebut dapat diambil faedah penting bahwasanya bergaul dengan teman yang shalih mempunyai 2 kemungkinan yang kedua-duanya baik, yaitu:
Kita akan menjadi baik atau kita akan memperoleh kebaikan yang dilakukan teman kita. Sedang bergaul dengan teman yang jahat juga mempunyai 2 kemungkinan yang kedua-duanya jelek, yaitu:
Kita akan menjadi jelek atau kita akan ikut memperoleh kejelekan yang dilakukan teman kita.
Jamaah Jum’at yang berbahagia
Bahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menjadikan seorang teman sebagai patokan terhadap baik dan buruknya agama seseorang, oleh sebab itu Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam memerintahkan kepada kita agar memilah dan memilih kepada siapa kita bergaul.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:“Seseorang berada di atas agama temannya, maka hendaknya seseorang di antara kamu melihat kepada siapa dia bergaul.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim dengan Sanad yang saling menguatkan satu dengan yang lain).
Dan dalam sebuah syair disebutkan:
Jangan tanya tentang seseorang, tapi tanya tentang temannya, sebab orang pasti akan mengikuti kelakukan temannya.
Demikianlah karena memang fitroh manusia cenderung ingin selalu meniru tingkah laku dan keadaan temannya.
Para Salafusshalih sering menyampaikan kaidah bahwa:Hati itu lemah, sedang syubhat kencang menyambar.
Sehingga pengaruh kejelekan akan lebih mudah mempenga-ruhi kita dikarenakan lemahnya hati kita.
Merupakan sikap yang diajarkan Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah menjauhi para penyeru bid’ah, para pengikut hawa nafsu (ahlul ahwa’) dan orang-orang fasik yang terang-terangan menampakkan dan menyerukan kefasikannya ini merupakan salah satu tindakan preventif terhadap bahaya lingkungan pergaulan dan agar umat terhindar dari pengaruh kemaksiatan tersebut.
Seorang teman memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan kita, janganlah ia menyebabkan kita menyesal pada hari kiamat nanti dikarenakan bujuk rayu dan pengaruhnya sehingga kita tergelincir dari jalan yang haq dan terjerumus dalam kemak-siatan.
Renungkanlah baik-baik firman Allah berikut ini:
“Dan ingatlah hari ketika orang-orang zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata: Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besar bagiku! Kiranya dulu aku tidak mengambil si fulan sebagai teman akrabku.Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran sesudah Al-Quran itu datang kepadaku.Dan adalah syetan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29).
Lihatlah bagaimana Allah
menggambarkan seseorang yang telah menjadikan orang-orang fasik dan pelaku
maksiat sebagai teman-temanya ketika di dunia sehingga di akhirat menyebabkan
penyesalan yang sudah tidak berguna lagi baginya, karena di akhirat adalah hari
hisab bukan hari amal sedang di dunia adalah hari amal tanpa hisab.[Fuad Iskandar, Seorang Teman, Peranan Dan Dampaknya Bagi
Seseorang, Sumber:www.alsofwah.or.id/khutbah].
Dalam Shaheh
Muslim dapat kita ikuti sebuah riwayat bagaimana rusaknya manusia bila dia
hidup dalam lingkungan yang tidak baik;
Zaman dahulu ada
seorang pembunuh yang telah membunuh korbannya sebanyak 99 orang, lalu dia bertanya kepada penduduk
negeri, siapa orang yang paling alim di negeri ini, maka ditunjukkan seorang
Rahib, didatanginya Rahib itu seraya mengatakan bahwa dia telah membunuh 99
orang, kemudian dia bertanya, apakah pintu taubat masih terbuka untuknya ?
jawab Rahib, tidak. Maka dibunuhnya Rahib itu dan genaplah korbannya 100 orang.
Kemudian dia bertanya pula kepada warga setempat tentang
orang yang paling alim di kampung itu, maka ditunjukkan orang kepadanya seorang
ulama. Dia menceritakan bahwa ia telah membunuh korbannya 100 orang, apakah
pintu taubat masih terbuka baginya, jawab orang alim itu, ya bertaubatlah.
Orang alim itu melanjutkan, kalau anda ingin bertaubat atas perbuatan jahat
yang pernah dilakukan, maka sinsaflah dan ikutilah jalan Allah, pergilah anda
kesuatu tempat yang disana penduduknya menyembah Allah, sembahlah Allah
bersama-sama mereak dan janganlah kembali ke negeri anda, karena negeri anda
telah rusak....
Walau seseorang yang jahat kemudian bertaubat maka untuk
menjadi orang yang baik dia harus meninggalkan lingkungan yang rusak, mencari
tempat baru atau istilah agama hijrah, sebab kalau tidak hijrah taubatnya akan
luntur dan lentur kembali. Apalagi bagi anak-anak yang masih mentah lagi fithrah.
Sangat diperlukan lingkungan yang harmonis, bi’ah shalihah [lingkungan yang
bersih], tertib, aman tentram serta damai, baik di rumah,di sekolah maupun di
masyarakat agar menciptakan suasana agamis.
Suatu fakta telah membuktikan bahwa manusia dibesarkan oleh lingkungannya, terdapat dua
anak manusia yang ditemukan oleh seorang pemburu di liang Srigala di pegunungan
Himalaya dalam tahun 1920 dan kemudian diserahkan ke rumah yatim piatu di
Madnafur. Perkembangan kedua anak perempuan yang diberi nama Amala dan
Kamala oleh Jel Singh. Amala sesudah
satu tahun berada dalam rumah yatim itu meninggal, tetapi Kamala tinggal disana
sampai umur 17 tahun dan meninggal tahun 1929.
Waktu baru masuk asrama prilaku mereka seperti Srigala;
merangkak dengan kaki tangannya, melolong pada bulan terang, menggonggong
seperti srigala, berani keluar malam hari, siang hari hanya tidur, makan hanya
daging mentah, air tidak diteguk tapi dijilati dengan lidah, tak dapat
berbicara. Cirinya seperti manusia yang pertama yaitu berjalan tegak lurus baru
dapat dikuasai oleh Kamala sesudah 4 tahun belajar, itupun belum dapat berjalan
cepat, pelajaran bahasa lambat dan lama sekali, sampai meninggalnya Kamala pada
umur 17 tahun ia hanya dapat menguasai 50 kata.
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,”Setiap bayi yang
dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci, maka orangtuanyalah yang
menjadikannya Yahudi, Majusi dan Nasrani” Artinya orangtua memegang peranan
penting dalam mencetak anak agar jagi anak yang baik, kalau hal ini dilalaikan
maka kehancuran manusia akan terjadi, dia akan terseret ke lembah kenistaan dan
kemaksiatan karena terjerembab dalam pergaulan lingkungan yang tidak baik.
Teman atau sahabat dalam hidup memang kita perlukan tapi pengaruhnya
terhadap kita sangat luar biasa, beruntunglah bila teman dan sahabat itu
memberi pengaruh yang baik kepada kita namun dikala sebaliknya yang terjadi
maka terjerumuslah kita kepada
kerusakan, memang harus bijak untuk menentukan seseorang hanya sebagai kenalan,
sebagai teman ataupun sebagai sahabat.
Selama kita hidup di dunia ini, akan selalu berhubungan
dengan yang namanya “teman”. Ada teman yang baik, ada pula teman yang
buruk.Tapi kadang kita sulit membedakan, mana sih teman yang baik itu,
dan mana teman yang buruk itu.Sebagaimana halnya kita sering sulit membedakan
mana yang haq dan mana yang bathil.
Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Allah memberikan
petunjuk kepada kita melalui Al Qur’an yang dapat membedakan antara yang haq
dan yang bathil.Dengan petunjuk Allah itu, kita bisa menemukan siapa sebenarnya
teman yang baik, yang pantas kita jadikan sebagai teman.
Teman yang baik itu adalah orang-orang yang dianugerahi
nikmat oleh Allah. Mereka itu adalah:
1. Nabi-nabi
2. Para Shiddiiqiin
3.Orang-orang yang mati syahid
4. Orang-orang yang sholeh
2. Para Shiddiiqiin
3.Orang-orang yang mati syahid
4. Orang-orang yang sholeh
Mereka
itulah sebaik-baiknya teman, sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan barangsiapa yang
menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang
yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-
orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang
sebaik-baiknya.” (QS. An Nisaa’: 69)
Sekarang para nabi sudah tiada.Oleh karena itu, carilah
teman yang menjadikan nabi sebagai idola dan teladannya.Carilah teman yang
menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai panduan hidupnya.Carilah teman yang
menjadikan para shiddiiqiin sebagai panutannya.Carilah teman yang memiliki
cita-cita mati syahid.Dan carilah teman yang shaleh dan shalehah.
Lalu bagaimana doanya agar
kita diberi petunjuk supaya menemukan teman-teman yang baik (alias teman-teman
yang dianugerahi nikmat oleh Allah itu)?Sebenarnya doa itu sudah sering kita
ucapkan ketika sholat, mari sama-sama kita buka dan baca surat Al Fatihah ayat
6-7: “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu)
jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan
(jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
(QS. Al Fatihah: 6-7)[Hendratno,Sebaik-Baiknya
Teman Adalah… dakwatuna.com5/6/2011
| 04 Rajab 1432 H].
Rasulullah mempunyai sahabat
yang mendukung penuh perjuangan beliau, sahabat yang dekat dan mendukung
perjuangan itu bukanlah hadir dengan tiba-tiba saja tapi melalui rekrutmen yang
sangat selektif melalui tarbiyyah [pendidikan] yang kontinyu dan bertahap sehingga
hadirlah sahabat yang sekualitas Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Usamah, Bilal,
Khalid bin Walid dan yang lainnya. Kedudukan mereka istimewa di hadapan Rasul
dan mulia di hadapan Allah karena ketaqwaan yang mereka sandang.
“ orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah Ridha kepada mereka dan merekapun Ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemengan yiang besar.”(Q.S. At-taubah: 100)
Apa yang mengantarkan mereka sehingga
dapat meraih apa yang ingin diraih oleh setiap insani. Tentunya ada sesuatu
yang ajib bukan?Sesuatu yang ajib di balik kehidupan dan kepribadian yang
mereka miliki yang sarat dengan kebaikan dan keteladanan yang pantas untuk
dicontoh dan diikuti. Bahkan mengikuti dan meneladani mereka adalah suatu yang
niscaya dan wajib bagi setiap muslim. Dan sebaliknya tidak mengikuti dan
meneladani mereka adalah suatu kehancuran dan kebinasaan serta bentuk dari sebuah
kecongcakan dan kesombongan serta penolakan terhadap seruan ilahi.Sebagaimana
yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam.
“
Tidak masuk surga seseorang yang di dalam dirinya masih terdapat kesembongan
walaupun hanya sebesar dzarroh. Bertanya seseorang: apa itu sombong? Lalu
Rasulullah menjawab: menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”(H.R. Muslim)
Hati siapa yang tidak akan terkesan dan
tergugah ketika kembali menelusuri dan menapak tilasi kehidupan mereka (para
sahabat), sifat dan akhlak yang mulia menghiasi hari-hari mereka, ibadah yang
tulus dan ikhlas memenuhi relung-relung kehidupan mereka. Mari kita
ambil satu saja dari sifat-sifat atau akhlak-akhlak mereka yang agung lagi
terpuji, sebagai contoh dan bukti bahwa betul ungkapan di atas. Yakni
sebagaimana kisah yang terdapat dalam hadits Rasululluh shallallahu'alaihi wa
sallam tatkala…
, “seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, lalu dia berkata, “Sungguh aku ini miskin dan sangat lapar. Lalu Rasulullah menyampaikan hal tersebut kepada sebagian istri beliau. Maka mereka berkata, “Demi yang telah Mengutusmu dengan hak, saya tidak memiliki apa-apa kecuali air. Kemudian Rasulullah menyampaikan hal itu kepada istri-istri beliau yang lain. Sampai semuanya mengatakan jawaban yang sama, “Demi yang telah Mengutusmu dengan hak, saya tidak memiliki apa-apa kecuali air. Maka Rasulullahpun bertanya kepada para sahabat, “Siapakah kiranya yang sudi menjamu tamuku malam ini?, maka berkatalah seorang dari kalangan anshor, “Ana ya Rasulullah. Kemudian sahabat tersebut membawa tamunya ke rumahnya. Lalu berkata kepada istrinya,”Muliakanlah tamu Rasulullah.
Dalam riwayat yang lain: shahabat
tersebut bertanya kepada istrinya, “Apakah kamu memiliki sesuatu (untuk menjamu
tamu Rasulullah)?, istrinyapun menjawab, “Tidak ada, hanya makanan yang cukup
untuk anak-anak kita. Lalu sahabat tersebut berkata, “Sibukkanlah anak-anak
kita dengan sesuatu (ajak main), kalau mereka ingin makan malam, ajak mereka
tidur. Dan apabila tamu kita masuk (ke ruang makan), maka padamkanlah lampunya.
Dan tunjukkan kepadanya bahwa kita sedang makan bersamanya. Mereka duduk bersama,
tamu tersebut makan, sedangkan mereka tidur dalam keadaan menahan lapar.
Tatkala pagi, pergilah mereka berdua (sahabat dan istrinya) menuju Rasulullah
shallallahu’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah memberitakan (pujian Allah
terhadap mereka berdua), “Sungguh Allah merasa heran/kagum dengan perbuatan
kalian berdua terhadap tamu kalian)".(Muttafaq’alaih
)
Subhanallah!!
wa Masya Allah!!, mungkin ucapan inilah yang pertama kali pantas diucapkan.
Bukan hanya Allah Ta'ala yang kagum melihat peristiwa semacam ini tentunya,
tapi siapapun yang mendengar dan mengetahui kisah ini juga akan turut terkagum-kagum.
Ya, memang sangat pantas kalau meReka diistimewakan oleh Allah Jalla wa'Ala. [Abu Nabiel, Khutbah Jum’at;Meneladani Kehidupan Para Shahabat Ridwanullahu'alaihim].
Hadirnya teman atau sahabat
dalam hidup kita berangkat dari terujudnya perekat yang kuat, disebut dengan
ukhuwah islamiyyah, inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat
beliau. Ukhuwah selain merupakan perekat juga merupakan buah dari iman dan
islam sekaligus nikmat Allah yang diberikan kepada ummat ini.
Salah
satu di antara tiga unsur kekuatan yang menjadi karakteristik masyarakat
Islam di zaman Rasulullah adalah kekuatan ukhuwah; di samping kekuatan iman dan
kekuatan qudwah, keteladanan. Dengan tiga kekuatan ini, Rasulullah SAW
membangun masyarakat ideal, memperluas Islam, mengangkat tinggi bendera tauhid,
dan mengeksiskan umat Islam di atas muka dunia kurang dari setengah abad.
Satu
hal yang pasti, di antara ranah kebahagiaan dan ke-izzah-an Islam bisa kembali
kita jejaki ketika hidup dengan jalinan ukhuwah yang mampu menepikan riak
kebencian dan perselisihan.Dan ranah ini bisa didapat setelah berupaya saling
mengenal."Jiwa-jiwa manusia ibarat pasukan.Bila saling mengenal menjadi
rukun dan bila tidak saling mengenal timbul perselisihan." (HR Muslim).
Namun,
satu peristiwa perkenalan belum cukup.Butuh interaksi secara alamiah.Setelah
itu, waktu dan kualitas pertemuanlah yang menentukan.Apakah perkenalan
berlanjut pada persaudaraan.Atau sebaliknya.Dan keinginan kuat untuk bersaudara
mesti diutamakan dari sekadar kenal.Terlebih persaudaraan karena iman dan takwa
(baca QS al-Hujurat [49] ayat 13).
Proses
mengenal adalah sebuah tahapan, bukan sesuatu yang akhir. Karena kehidupan
adalah arus besar yang terus bergerak, berubah, dan berganti.Termasuk pada
sikap dan karakter. Boleh jadi, seseorang bisa terheran-heran dengan perubahan
teman lama yang pernah ia kenal. Karena ada yang beda dengan fisik, sikap,
karakter, bahkan keyakinan.
Perubahan-perubahan
itulah yang mengharuskan seorang mukmin senantiasa menghidupkan nasihat.Mukmin
yang baik tidak cukup hanya mampu memberi nasihat.Tapi, juga siap menerima
nasihat. Dari nasihat inilah, hal-hal buruk yang baru muncul dari seorang teman
bisa terluruskan (baca QS al-'Ashr [103] : 1-3).
Berburuk
sangka memang tidak dibenarkan. Tapi, ketika faktanya demikian dan bahkan sudah
juga dinasihati, kewaspadaan mungkin jadi pilihan. Karena tidak tertutup
kemungkinan, keburukan bisa menular.Paling tidak, agar tidak kecipratan bau
busuk temannya.
Ust.Arifin
Ilham menyebutkan buah dari pertemanan yang terujud dengan ukhuwah islamiyyah.
Ada beberapa buah berukhuwah yang bisa
kita nikmati.Pertama, ta'aruf; saling mengenal.Kedua, tahaabub, saling cinta.
Ketiga, tafaahum, saling memahami. Keempat, tanaashuh, saling
menasehti.Kelima, takaarum, saling menghormati.Keenam, ta'awun, saling
menolong. Ketujuh, tahaadu, saling memberi hadiah. Kedelapan, tadaa'u,
saling mendoakan. Kesembilan, tahafudz, saling menjaga nama dan kehormatan
saudara dan tidak saling menjatuhkan. Kesepuluh, tazaawur, saling mengunjungi;
dan kesebelas, tasholuh, saling mendamaikan[Ustadz Muhammad Arifin
Ilham, Buah Ukhuwah, Republika online, Senin, 18 April 2011 20:15 WIB].
Punya
teman itu baik dalam rangka hidup berinteraksi dengan masyarakat, bersahabat
lebih baik untuk membantu serta mendukung gagasan dan kerja yang kita lakukan,
tak semua orang bisa punya sahabat karena sulit menemukan sahabat yang sejati,
yaitu sahabat dikala susah dan senang tidak beda perhatiannya kepada kita,
banyak yang mengaku sebagai sahabat hanya dikala kita punya posisi baik dalam
sebuah jabatan, dikala kita punya
kelebihan sedikit kemampuan finansial, tapi dikala hal itu tidak kita milik
lagi tidak tahu entah kemana para sahabat itu, wallahu a’lam, [Baloi Indah Batam, 11 Rajab 1432.H/ 13 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar