Agama Islam adalah
agama yang menganjurkan dengan tegas agar pemeluknya suka berqurban dalam arti
yang seluas-luasnya. Al Qur’an mendorong ummat islam untuk menanamkan watak
kesediaan untuk senantiasa mengurbankan sebagian kepentingan kita, sebagian
rezeki kita, sebagian kelonggaran kita untuk sesama manusia. Ibadah kurban
terkait dengan ibadah haji yang ditunaikan pada bulan Zulhijjah yang kita kenal
dengan hari raya Idul Adha.
Hari raya Idul Adha merupakan hari raya istimewa karena dua
ibadah agung dilaksanakan pada hari raya ini yang jatuh di penghujung tahun
hijriyah, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Kedua-duanya disebut oleh
Al-Qur’an sebagai salah satu dari syi’ar-syi’ar Allah swt yang harus dihormati
dan diagungkan oleh hamba-hambaNya. Bahkan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah
merupakan pertanda dan bukti akan ketaqwaan seseorang seperti yang ditegaskan
dalam firmanNya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan
syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”.
(Al-Hajj: 33) Atau menjadi jaminan akan kebaikan seseorang di mata Allah
seperti yang diungkapkan secara korelatif pada ayat sebelumnya, “Demikianlah
(perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi
Allahmaka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya”. (Al-Hajj: 30)
Kedua ibadah agung ini yaitu ibadah haji dan ibadah
qurban tentu hanya mampu dilaksanakan dengan baik oleh mereka yang memiliki
kedekatan dengan Allah yang merupakan makna ketiga dari hari raya ini: “Qurban”
yang berasal dari kata “qaruba – qaribun” yang berarti dekat. Jika posisi
seseorang jauh dari Allah, maka dia akan mengatakan lebih baik bersenang-senang
keliling dunia dengan hartanya daripada pergi ke Mekah menjalankan ibadah haji.
Namun bagi hamba Allah yang memiliki kedekatan dengan Rabbnya dia akan
mengatakan “Labbaik Allahumma Labbaik” – lebih baik aku memenuhi seruanMu ya
Allah…Demikian juga dengan ibadah qurban. Seseorang yang jauh dari Allah tentu
akan berat mengeluarkan hartanya untuk tujuan ini. Namun mereka yang posisinya
dekat dengan Allah akan sangat mudah untuk mengorbankan segala yang dimilikinya
semata-mata memenuhi perintah Allah swt.
Mencapai posisi dekat “Al-Qurban/Al-Qurbah” dengan
Allah tentu bukan merupakan bawaan sejak lahir. Melainkan sebagai hasil dari
latihan (baca: mujahadah) dalam menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah.
Karena seringkali terjadi benturan antara keinginan diri (hawa nafsu) dengan
keinginan Allah (ibadah). Disinilah akan nyata keberpihakan seseorang apakah
kepada Allah atau kepada selainNya. Sehingga pertanyaan dalam bentuk
“muhasabah: evaluasi diri ” dalam konteks ini adalah: “mampukan kita
mengorbankan keinginan dan kesenangan kita karena kita sudah berpihak kepada Allah?…Sekali
lagi, ibadah haji dan ibadah qurban merupakan gerbang mencapai kedekatan kita
dengan Allah swt.[Dr. Attabiq Luthfi, MAdakwartuna.com;Khutbah
Idul Adha 1429 H: Membangun Kembali Semangat Berqurban 19/11/2008 | 19
Zulqaedah 1429 H]
Hadis
riwayat Jundab bin Sufyan ra., ia berkata: Aku pernah berhari raya kurban
bersama Rasulullah saw. Beliau sejenak sebelum menyelesaikan salat. Dan ketika
beliau telah menyelesaikan salat, beliau mengucapkan salam. Tiba-tiba beliau
melihat hewan kurban sudah disembelih sebelum beliau menyelesaikan salatnya.
Lalu beliau bersabda: Barang siapa telah menyembelih hewan kurbannya sebelum
salat (salat Idul Adha), maka hendaklah ia menyembelih hewan lain sebagai
gantinya. Dan barang siapa belum menyembelih, hendaklah ia menyembelih dengan
menyebut nama Allah. (Shahih Muslim ]
Hadis riwayat Anas bin Malik ra.,
ia berkata: Nabi saw. berkurban dengan
dua ekor kibas berwarna putih agak kehitam-hitaman yang bertanduk. Beliau
menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, seraya menyebut asma Allah
dan bertakbir (bismillahi Allahu akbar). Beliau meletakkan kaki beliau di atas
belikat kedua kambing itu (ketika hendak menyembelih). (Shahih Muslim )
Kurban
selain ujud ketaatan kepada Allah, dia juga merupakan ujud syukur seorang hamba
atas nikmat yang sudah diterima dari Allah, diantara realisasinya adalah shalat
dan kurban;
"Sesungguhnya
kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.Maka Dirikanlah shalat Karena
Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah
yang terputus[Al Kautsar 108;1-3]
Kurban merupakan implikasi dari
nikmat-nikmat Allah yang sudah diterima seorang hamba, artinya pahalanya ada
dua dimensi, sebelum berkurban sudah
lebih dahulu menerima pahala berupa kenikmatan dunia , hanya manusia penerima nikmat itu yang
mengerti sudah berapa banyak nikmat dunia dia terima, sehingga dari itu semua
dia juga ujudkan dengan kurban untuk mengejar pahala yang lebih besar lagi yang
berdimensi akherat, ukuran pahalanya kata Rasulullah sebanyak bulu domba yang
disembelih itu,
Ibadah
kurban adalah sarana untuk menunjukan bukti cinta kita kepada-Nya.Benar sekali,
terlalu murah rasanya bila cinta hanya diukur dengan seekor kambing.Apalagi
bila cinta kepada Sang Maha Pencipta.Maka, ketulusan dan ketundukan atas
perintah itulah yang menjadi ukurannya.Ikhlas. Dalam QS Al-Hajj:37 Allah SWT
berfirman, "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat
mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang mencapainya.
Demikianlah Alloh telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan
Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.Dan berilah kabar gembira kepada
orang-orang berbuat kebaikan!"
Apa
hubungan kurban dengan takwa? Ternyata kurban bisa menjadi indikator bagi
ketaqwaan seorang muslim? Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa yang
mempunyai kemampuan tetapi dia tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati
tempat shalat kami," (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
Masjid
tentulah tempat yang sangat dirindukan oleh kaum muslimin, apalagi masjidil
haram. Lalu apa artinya menjadi muslim apa artinya shalat zakat dan shaumnya?
Pengorbanan adalah wujud dari pengakuan cinta.Inilah yang ditunjukan Nabiyullah
Ibrahim as ketika diuji kecintaan sejatinya terhadap Allah SWT dengan perintah
menyembelih anak.Padahal Ismail adalah anak selama puluhan tahun dinanti-nanti.
Boleh bergabung dalam melaksanakan kurban. Karena Nabi saw ketika menyembelih kurban mengucapkan: "Bismillah, Wallahu Akbar, Ya Allah terimalah (qurban) ini dari Muhammad, dan dari keluarga Muhammad, dan dari ummat Muhammad" (HR. Muslim). Yang dilakukan para sahabat Nabi saw adalah sapi satu untuk tujuh orang (HR. Muslim).
Boleh bergabung dalam melaksanakan kurban. Karena Nabi saw ketika menyembelih kurban mengucapkan: "Bismillah, Wallahu Akbar, Ya Allah terimalah (qurban) ini dari Muhammad, dan dari keluarga Muhammad, dan dari ummat Muhammad" (HR. Muslim). Yang dilakukan para sahabat Nabi saw adalah sapi satu untuk tujuh orang (HR. Muslim).
Islam
adalah rahmat bagi semesta.Banyak di antara umat Islam yang ingin berkurban
tapi terbentur dengan harga hewan yang mahal.Karena itu dibolehkan untuk
berpatungan. Selain itu akan terasa nilai ukhuwahnya. Rasulullah saw bersabda,
"Sayangilah oleh kamu sekalian sesama manusia yang ada di muka bumi ini,
maka pasti yang diatas langit akan menyayangi kamu." [Cyber Sabili. Rela Berqurban Ciri Insan
Bertakwa,Sabtu, 16 Oktober 2010 01:18]
Binatang kurban yang disebut udlhiyah atau nahar
adalah simbolisasi tadlhiyah yakni pengorbanan. Baik udlhiyah maupun tadlhiyah
posisinya sama sebagai ‘ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah (taqarruban
wa qurbanan). Jika menyembelih udlhiyah merupakan ‘ibadah material yang ritual,
maka taldhiyah/pengorbanan di jalan Allah merupakan ‘ibadah keadaban yang
memajukan sektor-sektor kehidupan yang lebih luas.Tidak ada ruginya orang yang
berudlhiyah dan bertadlhiyah, karena sesungguhnya termasuk dalam kerangka MULTI
QURBAN/pendekatan diri dan MULTI INVESTASI.
Kita diperintahkan untuk bertaqarrub kepada Maha Pencipta dengan shalat serta ‘ubudiah yang lain, dan bertaqarrub kepada Allah dalam segala aktivitas hidup ini.
- Bertadlhiyah bermakna multi investasi:
- Merupakan investasi sosial (social investment) karena jelas, pengorbanan baik material maupun moral memberikan dampak sosial yang positif. Dalam Al Quran Surah Annisa ayat 114 disebutkan: Bahwa tidak ada kebaikan dalam pembicaraan atau wacana yang diadakan, kecuali untuk mengajak orang bersedekah, memerintahkan yang ma’ruf, atau untuk mendamaikan sengketa di antara masyarakat. Dan barangsiapa melakukan itu karena ridha Allah niscaya berbalas pahala yang besar.
- Bertadlhiah meruapakan investasi ekonomi (economic investment). Sebagaimana dinyatakan dalam QS al Lail, ayat 5- 10: “Barangsiapa memberi dan bertaqwa serta membenarkan balasan yang sebaik-baiknya, maka niscaya Kami beri kemudahan demi kemudahan. Dan barangsiapa yang kikir dan merasa tidak memerlukan orang lain serta mendustakan pahala yang lebih baik, maka niscaya Kami bukakan baginya pintu kesulitan”.
- Bertadlhiah juga merupakan bentuk moral investment, yang mampu mengikis kekikiran ” al syuhhu”. Sifat kikir sangat berbahaya, sebagaimana diperingatkan dalam sabda Rasulullah saw:
Artinya: ”Hati-hati dengan sifat kikir. Sebab sesungguhnya kehancuran umat sebelum kalian diakibatkan kekikiran, sifat kikir telah mendorong mereka untuk berlaku pelit, lalu mendorong mereka untuk memutus silaturahim dan akhirnya telah mendorong mereka melakukan kejahatan”.
-
Endingnya, pengorbanan di jalan Allah tentu saja sebagai investasi ukhrawi.
Sebagaimana disebutkan dalam Hadits bahwa ’ibadah orang yang menyembelih
binatang kurban sudah diterima Allah sebelum darahnya menetes ke tanah, dan
merupakan seutama-utama ’ibadah pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.[DR. Surahman HidayatKhutbah Idul Adha 1430 H: Semangat
Berkorban VS Mengorbankan;dakwatuna.com.20/11/2009 | 02 Zulhijjah 1430 H |
Hits: 37.514]
Bayangkanlah bahwa lebih dari 4000 tahun lalu
tiga manusia agung itu – Ibrahim, Hajar dan Ismail – berjalan kaki sejauh lebih
dari 2000 km – atau sejauh Makassar Jakarta – dari negeri Syam – yang sekarang
menjadi Syria, Palestina, Jordania dan Lebanon – menuju jazirah tandus –
yang oleh Al Qur’an disebut sebagai lembah yang tak ditumbuhi tanaman apapun –.
Bayangkanlah bagaimana mereka memulai sebuah
kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa.Bayangkanlah bagaimana
mereka membangun ka’bah dan memulai peradaban baru. Bayangkanlah bagaimana 42
generasi dari anak cucu Ibrahim secara turun temurun hingga Nabi Muhammad saw.
membawa agama Tauhid ini dan mengubah jazirah itu menjadi pusat dan pemimpin
peradaban dunia.
Bayangkanlah bagaimana Ka’bah pada mulanya hanya ditawafi 3 manusia agung
itu, kini setiap tahunnya ditawafi sekitar 5 juta manusia dari seluruh pelosok
dunia yang melaksanakan ibadah haji – dan dalam beberapa tahun ke depan akan
ditawafi sekitar 12 juta manusia setiap tahun, persis seperti doa Nabi Ibrahim:“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah membawa sebagian dari keturunanku untuk tinggal di sebuah lembah yang tak tertumbuhi tanaman apapun, di sisi rumahMu yang suci..Ya Tuhan kami, itu agar mereka mendirikan sholat..maka penuhilah hati sebagian manusia dengan cinta pada mereka..” ( Surat Ibrahim: 37).
Bayangkanlah bagaimana jazirah yang tandus tak berpohon itu dihuni oleh hanya mereka bertiga dan kini berubah menjadi salah satu kawasan paling kaya dan makmur di muka bumi, persis seperti doa Ibrahim:
“Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berilah rezeki kepada penduduknya berupa buah-buahan yang banyak..”(Surat Al Baqarah: 126)
Bayangkanlah bagaimana Nabi Ibrahim bermunajat agar lembah itu diberkahi dengan menurunkan seorang nabi yang melanjutkan pesan samawinya, dan kelak Nabi Muhammad saw menutup mata rantai kenabian di lembah itu, lalu kini – 1500 tahun kemudian – agama itu diikuti sekitar 1,6 sampai 1,9 milyar manusia muslim, persis seperti doa Ibrahim:
“Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat Al Baqarah 129)
Bayangkanlah bagaimana – dari sebuah kampung kecil di Irak bernama Azar – Nabi Ibrahim datang seorang diri membawa agama samawi ini, melalui dua garis keturunan keluarga; satu garis dari istrinya Sarah yang menurunkan Ishak, Ya’kub hingga Isa, dan satu garis dari istrinya Hajar yang menurunkan Ismail hingga Muhammad, dan kini setelah lebih dari 4 millenium agama samawi itu – Islam, Kristen dan Yahudi – dipeluk oleh lebih dari 4 milyar manusia.
“Dan
Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub.
(Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini
bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (Surat Al
Baqarah: 132).[Muhammad Anis Matta, Lc.Khutbah
Idul Adha 1431 H: Jalan Kebangkitan Dan Kepemimpinan Itu Adalah Bekerja Dan
Berkorban dakwatuna.com.12/11/2010
| 05 Zulhijjah 1431 H]
Pelajaran yang penting yang terdapat pada pelaksanaan
ibadah haji dan hari raya Idul Adha adalah pengorbanan yang harus dilakukan
oleh seorang muslim dalam rangka meninggikan kualitas iman dan ibadahnya kepada
Allah, taqwa selain tingkat iman yang tinggi juga merupakan ujud kedekatan
seorang hamba kepada Khaliqnya, hidup akan berjalan sebagaimana biasanya,
adakah kurban berlansung padanya atau tidak sama sekali, tapi sia-sialah hidup
bila tidak ada upaya untuk mengorbankan sesuatu untuk agama ini wallahu a’lam [Cheras
Kuala Lumpur Malaysia, 04 Rajab 1432.H/ 06 Juni 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar