Manusia adalah makhluk yang hidup secara
kolektif dalam sebuah komunitasnya yang secara naluriah akan memunculkan
wewenang dan kekuasaan pada komunitas tersebut sehingga didaulatlah seseorang
sebagai yang dituakan untuk memimpinnya, tanpa disadari sejarah berjalan begitu
cepat yang menjadikan kekuasaan itu menjadi hal yang sangat penting.
Dengan kekuasaan orang akan berkuasa terhadap yang lain,
baik level rendahan apalagi kekuasaan yang lebih tinggi. Untuk mendapatkan
kekuasaan tidaklah semudah itu, dia membutuhkan pengerahan segala kemampuan,
segala daya dan upaya hingga harus mengorbankan segala-galanya asal mendapatkan
kekuasaan tidak jadi masalah, merebut kekuasaan dengan jalan kudeta,
melengserkan penguasa lama dengan cara yang tidak elegan, merampas kekuasaan
dengan pembunuhan karakter dan pembunuhan fisik sering terjadi selama
terbentangnya sejarah kehidupan manusia.
Jadi orang
yang punya kekuasaan dengan maksud untuk menyejahterakan orang lain, melindungi
orang yang lemah, menyayangi orang yang tidak berdaya merupakan sikap terpuji,
namun kadangkala dengan kekuasaan orang akan berbuat sekehendak hatinya, sikap
sombong dan arogan menjadi bawaannya, seolah-olah kekuasaan itu membentuk orang
untuk menguasai orang lain, menindas rakyat dengan dalih kepentingan bersama,
membuat aturan untuk melindungi kekuasaan dan mencengkram wilayah kekuasaan
sekuat-kuatnya sehingga jangan ada peluang bagi orang lain untuk bisa
menggantikan kekuasaannya kelak.
Karena
kekuasaan terbentuk awalnya dengan hukum rimba,"Siapa yang kuat dia yang
berkuasa", kuat dalam arti fisik boleh jadi bisa dipakai ketika itu tapi
untuk zaman sekarang kuat itu maknaya bisa karena banyak pengikut, banyak harta
dan luas pengaruhnya sehingga
mengeleminir orang-orang yang lemah pada semua sektor tadi, maka sampailah
orang yang berkuasa itu diartikan menjadi orang yang hebat, super dan hero.
Sehingga orang yang tidak punya kekuasaan tanpa disadari menjadi orang yang
lemah, tidak berdaya, rakyat kecil, masyarakat pinggiran dan orang yang
rendahan.
Orang yang
berkuasa memiliki sifat diatas, tidak mau ditempatkan pada tempat yang rendah,
bila hal ini terjadi berarti telah melecehkan kekuasaan, bukan melecehkan
orangnya tapi "kekuasaan" nya. Dia tidak mau duduk sembarangan pada
tempat-tempat tertentu, selalu ditempatkan pada tempat yang patut dan layak
menurut kekuasaannya sehingga rasa besar, merasa dihargai, dihormati dan
dilayani menjadi keinginannya. Ada perasaan bangga,
senang, tinggi hati, sombong dan takabur kadangkala muncul disikapnya, bila ada
orang yang melecehkan dia akan protes dengan ucapana, "apa dia tidak tahu
siapa saya?".
Kesombongan
penguasa akan bertambah dikala fasilitas hidup diberikan kepadanya yang jauh
lebih baik dari rakyat biasa, rumah mentereng di komplek elit, kendaraan bagus
yang mahal harganya, gaji besar untuk memenuhi kebutuhan hariannya, pakaian kualitas
tak sembarang orang mampu membelinya, deposito dan tabungannya sulit dihitung
berapa jumahnya, harta lain berupa kambing, kerbau, sawah dan ladang ada
dimana-mana, bahkan aksesoris perhiasan hidupnya lengkap memenuhi rumahnya,
intinya tidak ada kekurangan dalam hidup seorang penguasa dan mereka memang
berbeda dengan orang yang tidak berkuasa.
Dengan
kekuasaan, penguasa mampu untuk menyalahkan yang benar dan membenarkan yang
salah, membela bajingan yang melakukan kejahatan dan menindas simiskin yang
tidak berdaya. Dengan kekuasaan, penguasa bisa menggusur pedagang kaki lima
yang mereka hanya mencari sesuap makan untuk pagi dan petang dengan dalih
memperindah kota, penguasa bisa melegalkan perjudian dan perzihanan dengan
alasan meningkatkan devisa negara dan untuk menanggulangi judi dan zina dengan
jalan lokalisasi, penguasa dengan kekuasaannya bisa merampas harta orang lain
dengan dalih untuk perbaikan taman kota, pembangunan supermarket dengan seribu
alasan yang rakyat harus menerimanya.
Dengan
kekuasaan, penguasa dapat memerangi rakyatnya dengan maksud mengusir
"penjajah dan teroris" dari negeri tercinta ini, walaupun penguasa tidak
mampu membuktikan tuduhan itu. Dengan kekuasaan pula penguasa bisa menekan
rakyat dan menakut-nakutinya demi keamanan untuk tidak melakukan kegiatan yang
dicurigai penguasa, jangan sampai rakyat menakut-nakuti penguasanya, karena
kalau penguasa telah takut maka penguasa akan berbuat apa saja untuk
menyelamatkan dan melindungi penguasa
dan keuasaannya walaupun rakyat kelak jadi korbannya, karena demi kekuasaan dan
penguasa, rakyat harus menerima segala resikonya.
Karena
sudah jadi penguasa maka sikap lemah lembut, penyantun dan kasih sayang kepada
orang lain sudah hilang dengan alasan mengikuti prosedur kekuasaan atau istilah
lain "Protokoler" namanya. Semua orang yang tidak punya kekuasaan
dianggap masyarakat kelas dua yang patut diperlakukan hingga tidak manusiawi
padahal tanpa disadari kekuasaan yang dimiliki itu merupakan amanat yang
dibebankan oleh masyarakat kelas dua tadi agar mereka kelak memperhatikan
komunitas yang rendah ini untuk diamankan, dilindungi dan disejahterakan.
Manapun kesejahteraan akan mereka dapatkan kalau sikap dan sifat arogansi
mereka perlihatkan kepada rakyatnya.
Simbul
arogansi kekuasaan penguasa diwakili oleh Fir'aun, tidak hanya penindasan
kepada rakyatnya saja bahkan Allahpun siap dia gugat, sebagaimana Al Qur'an
mengisahkan, "Dan Berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, Aku tidak
mengetahui Tuhan bagimu selain Aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat
Kemudian buatkanlah untukku bangunan yang Tinggi supaya Aku dapat naik melihat
Tuhan Musa, dan Sesungguhnya Aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk
orang-orang pendusta". Dan berlaku angkuhlah Fir'aun dan bala tentaranya
di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak
akan dikembalikan kepada kami. Maka kami hukumlah Fir'aun dan bala tentaranya,
lalu kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka Lihatlah bagaimana akibat
orang-orang yang zalim. Dan kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru
(manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan kami
ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka
termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah)" [Al Qashash
28; 38-42].
Kekuasaan
yang terlalu lama disandang seseorang cendrung berprilaku korup bila
nilai-nilai kebenaran, nilai-nilai agama telah dikangkangi. Siapa yang
melakukan penipuan, penyalahgunaan wewenang, korupsi, menjual negeri kalau
bukan orang yang punya kekuasaan, semakin tinggi kekuasaan seseorang maka
semakin besar peluangnya untuk meraup keuntungan dengan cara ilegal, semakin
lama seseorang menduduki kursi kekuasaan maka semakin banyak lahan-lahan yang
bisa dijadikan sebagai ladang untuk mengantongi yang bukan haknya. Tukang
parkir saja, tukang robek karcis di bioskop saja punya peluang untuk mendapatkan keuntungan
pribadi dari usahanya apalagi kekuasaan yang lebih tinggi dari itu tentu lebih
menggurita lagi yang akhirnya hal itu terbongkar ketika kekuasaan sudah
dirampas orang.
Ketika ada
pejabat yang dikritik oleh bawahannya atau dinasehati oleh masyarakat luas,
dengan berbagai dalih semua kerjanya dijawab memakai argumentasi kecurigaan
melalui tudingan fitnah dan rasa tidak senang, bahkan keluar kalimat
pembenaran,"Kalau orang lain yang berkuasa tentu lebih buruk dari
ini". Umumnya penguasa tidak mau dikritik apalagi dipojokkan sehingga
jarang sekali penguasa yang mau berhadapan dengan para demontran dengan alasan
tidak etis dan dianggap demontrasi itu jalan yang salah, padahal demonstrasi
adalah sebuah sarana untuk menyampaikan keluhan dan kritikan kepada penguasa
yang selama ini jeritan, keluhan dan kritikan melalui cara apa saja dianggap
tidak mempan.
Bahkan
tidak jarang dikala demonstrasi
dilakukan dengan anarkhis terjadilah penanggakan dan pelumpuhan terhadap
kekuataan rakyat tersebut melalui ancaman dan intimidasi yang intinya sikap
penguasa ini untuk mempertahankan kekuasaannya sehingga jangan diganggu dengan
hal-hal yang dianggap kecil walaupun sebenarnya demontrasi itu adalah jalan
terakhir bagi mereka untuk memperjuangkan hak-hak rakyat yang selama ini
diabaikan.
Kekuasaan
itu nampaknya penting, karena pentingnya kekuasaan itulah ketika Nabi Muhammad Saw meninggal dunia, masyarakat
Madinah tidak mengurus penguburan jenazah Nabi terlebih dahulu tapi mencari
pengganti kekuasaan yang selama ini dipegang oleh beliau, keputusan menetapkan
bahwa Abu Bakar yang dijadikan sebagai Khalifah untuk memimpin Kota Madinah
selanjutnya baik yang berkaitan dengan asfek agama juga tidak melepaskan untuk
mengurusi sektor sosial kemasyarakatan ummat Islam.
Ketika Abu Bakar As Shiddiq diangkat menjadi Khalifah, dia berpidato di
hadapan ummat Islam, yang dapat dijadikan sebagai prinsip dasar bagi seorang
pemimpin,"Hai
Manusia, sesungguhnya saya telah ditunjuk untuk jadi pemimpin kalian,
Saya bukanlah yang paling baik
dari kalian, Bila
saya berbuat baik bantulah saya, Bila saya benar belalah saya,
Kejujuran itu amanah Allah,
.Curang itu khianat kepada Allah,
Yang lemah diantara kalian
menjadi kuat disisiku sehingga saya berikan haknya, dan yang kuat diantara kalian adalah lemah
pada sisiku sehingga saya mengambil
haknya, insya Allah, Janganlah salah seorang
diantara kamu meninggalkan jihad, karena bila ditinggalkan oleh suatu kaum maka
Allah akan menimpakan kepada mereka dengan kehinaan, Taatlah kepadaku selama saya taat kepada
Allah dan Rasul-Nya, dan bila saya menentang Allah dan Rasul-Nya, maka tidak
wajib kalian mentaatiku".
Ketika Mesir dilanda krisis pangan yang berkepanjangan,
penguasa tidak mampu untuk mengendalikannya sehingga rakyat menderita karena
kelaparan, Yusuf muda yang masih dalam
di penjara karena fitnah yang dilancarkan oleh Zulaikha, menawarkan diri untuk diangkat sebagai bagian
dari penguasa yaitu bendahara kerajaan, penawaran Yusuf ini dibuktikannya
dengan kemampuan yang luar biasa mengelola ekonomi kerajaan sehingga dalam
waktu tujuh tahun saja ekonomi kerajaan pulih kembali, rakyat merasakan
kesejahteraan dan mengangkat nama baik kekuasaan rajanya. Kekuasaan memang
efektif untuk memajukan kepentingan bangsa dan negara bagi penguasa yang punya
visi bahwa jabatan dan wewenang untuk menegakkan keadilan guna mensejahterakan rakyatnya, begitu
besarnya kerjaan para penguasa yang memang hanya dipikul oleh orang-orang yang
kuat pada seluruh asfek.
Karena
pentingnya kekuasaan itulah maka Kisra Persia bernama Heraklius ketika ditawari
oleh Rasulullah untuk masuk Islam dengan menyampaikan selembar surat ajakan
untuk masuk ke agama yang hanya mentauhidkan Allah saja, kontan dia mengatakan
dalam hatinya,"Kalau Muhammad datang kesini aku akan sujud ke kakinya dan
aku akan masuk agamanya", maka dia kumpulkanlah seluruh petinggi kerajaan
untuk menyampaikan maksudnya tadi, para pembesar itu merasa gusar dengan sikap
pemimpinnya yang akan pindah agama, keluarlah keputusan bersama,' Kalau tuan
akan masuk agama yang dibawa Muhammad, silahkan tapi tinggalkan kekuasaan dan
kerajaan ini, pergilah tuan dari istana ini", mendengar itu, dengan dalih
seorang pengecut dia menyatakan, "Saya hanya menguji kalian saja, sampai
dimana loyalitas kalian kepada saya, mustahil saya akan meninggalkan agama
kita…".
Ketika
khalifah Harun Al Rasyid menyampaikan LKPJ-nya di hadapan rakyatnya yang memang
yang memang setiap tahun dia selalu mengajak masyarakatnya untuk mengevaluasi
kinerja khalifah dan jajarannya dalam rangka melayani rakyat. Hampir satu jam
dia menyampaikan pidatonya, terasa
kering kerongkongannya maka disediakan segelas air minum untuk sang khalifah,
sebelum dia melanjutkan pidato kenegaraan, terdengar suara dari belakang, shaf
terakhir menyampaikan aspirasinya,”Hai khalifah, seandainya engkau tidak
menemukan air minum detik ini bagaimana?”. Harun Al Rasyid menjawab,”Saya akan
mengerahkan pasukan untuk mencari segelas minum”, sang rakyat bertanya
lagi,”Bila pasukan anda tidak menemukan segelas airpun?” Khalifah
menjawab,”Saya akan mengeluarkan sayembara yang isinya, siapa yang bisa
mencarikan untuk saya segelas air, akan saya berikan separo kerajaan ini untuk
dia”.
Sang khalifah melanjutkan pidato LKPJ-nya hingga tuntas,
tapi sebelum dia mengakhiri, sang rakyat yang tidak dikenal itu bertanya
lagi,”Wahai khalifah, bila air yang anda minum tadi tidak dapat dikeluarkan
lagi bagaimana?” khalifah dengan tenang menjawab,”Saya akan kerahkan seluruh
dokter kerajaan untuk mengeluarkannya”, ”Bila dokter kerajaanpun tidak mampu
menyelamatkan anda?”, sela pemuda itu, sang khalifah yang bijaksana itu
memberikan jawaban,”Saya juga akan mengeluarkan sayembara, barangsiapa yang
bisa mengeluarkan air di dalam tubuh saya, maka akan saya berikan kepadanya
seluruh kerajaan ini”, luar biasa sayembara yang dikeluarkan khaifah Harun Al
Rasyid.
Sang pemuda tadi menyimpulkan dialognya dengan
kalimat,”Ya khalifah, apa yang bisa anda banggakan dengan kekuasaan yang anda
miliki ini, lebih berharga segelas air putih dari kerajaan ini bahkan air seni
anda lebih berharga dari seluruh kerajaan ini, untuk itu hai khalifah janganlah
anda silau dengan kemegahan kerajaan lalu melupakan rakyat yang telah
mengamanatkan kekuasaan kepada tuan, dengan kekuasaan itu sudahkah rakyat anda
merasakan aman, tentram, nyenyak tidurnya, hidupnya sejahtera dan mereka
terlayani dengan baik”, Harun Al Rasyid dengan senang hati menerima dan
memahami kritikan dari rakyatnya yang disampaikan secara lansung tanpa basa
basi.
Dalam
dunia politik, kekuasaan dan uang adalah dua hal yang selalu beriringan, pada
umumnya uang akan lebih mudah datang melalui kekuasaan. Maka aktivitas
pemburuan kekuasaan dan uang, dengan segala cara dan moralitas yang
mendasarinya, dipandang sebagai gejala yang selalu tampil dalam proses politik.
Memang keduanya melekat dalam aktivitas politik dan sangat mempesona, oleh
karena itu keberadaannya selalu
mendominasi wacana politik…
Rasulullah mengingatkan kepada Abu Dzar Al
Ghifari bahwa jabatan atau kekuasaan itu amanah dan kalau tidak mampu
mengendalikannya sekaligus menjadi nadamah atau penyesalan.
Tidak sedikit aktivitas politik yang karakter
dan citranya hancur lebur karena tidak mampu menahan kobaran nafsu
kekuasaannya. Tidak sedikit pula gerakan politik yang tenggelam dikarenakan
tidak bias mengendalikan nafsu kekuasaannya.
Keterjerembaban kekuasaan yang paling
mengerikan ialah ketika dengan kekuasaan yang digenggamnya; seseorang,
sekelompok orang, atau sebuah partai menjadi tiran, walaupun kecil-kecilan,
apalagi menjadi penguasa tiran yang sungguhannya….
Maka agar perjalanan politik tidak
terjerembab kedalam kenistaan dan menempuh jalan buntu, maka Imam Al Gazali
dalam Ihya Ulumuddin menekankan pentingnya peran ulama dalam memelihara
kebaikan dan menghindari kerusakan…dia mengatakan….Sesungguhnya penyebab
kerusakan rakyat itu tidak lain adalah kerusakan ulama. Maka apabila tidak ada
qadhi [penegak hukum] yang keji dan tidak ada ulama yang jelek, tentulah
kerusakan penguasa dapat diminimalisir karena takut ditentang ulama….
Selanjutnya Al Gazali memperkenalkan konsep
Negara yang bermoral. Sebuah Negara tidak harus dipimpin oleh seorang ulama,
tapi cukup orang biasa yang berakhlak baik…
Yah agar dalam perjalanan politik ini kita
tidak terjerembab, ingat-ingat saja pesan Rasulullah kepada Abu Zar Al Ghifari,
“Wahai Abu Dzar, perbaharuilah bahteramu, sebab lautan yang kau arungi begitu
dalam. Himpun bekal secukupnya, sebab perjalanan yang akan kau tempuh sangat
jauh. Ringankan beban, sebab rintangan yang akan kau hadapi sangat berat.
Murnikan amal, sebab pengeritik yang ada di sekelilingmu memonitor terur” [Abu
Ridha, Saksi No.7/ 14 Desember 2005]
Begitu banyaknya cermin teladan yang disodorkan oleh
sejarah tentang orang-orang yang berkuasa yang kekuasaan itu digunakan untuk
memperlembut sikap dan temperamen hidupnya menjadi penguasa yang shaleh, bagi
yang sudah shaleh akan menambah kebaikan dan keshalehannya dalam menjalan
kekuasaan sebagai mana yang telah dicontohkan oleh orang-orang terdahulu
sebagaimana Umar bin Abdul Azis saat dirinya diangkat sebagai Khalifah bukan
ucapan syukur yang disampaikannya tapi ucapan "Innnalillahi wainna ilaihi
raji'un" atau ketika masyarakat Madinah menghendaki kekuasaan kekhalifahan
Umar bin Khattab digantikan oleh anaknya yang bernama Abdullah, maka dia
mengatakan,"Jangan, cukuplah Umar saja merasakan beban berat ini". Wallahu
a'lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar