Rabu, 09 Desember 2015

39. Kekuasaan



Manusia adalah makhluk yang hidup secara kolektif dalam sebuah komunitasnya yang secara naluriah akan memunculkan wewenang dan kekuasaan pada komunitas tersebut sehingga didaulatlah seseorang sebagai yang dituakan untuk memimpinnya, tanpa disadari sejarah berjalan begitu cepat yang menjadikan kekuasaan itu menjadi hal yang sangat penting.
           
            Dengan kekuasaan orang akan berkuasa terhadap yang lain, baik level rendahan apalagi kekuasaan yang lebih tinggi. Untuk mendapatkan kekuasaan tidaklah semudah itu, dia membutuhkan pengerahan segala kemampuan, segala daya dan upaya hingga harus mengorbankan segala-galanya asal mendapatkan kekuasaan tidak jadi masalah, merebut kekuasaan dengan jalan kudeta, melengserkan penguasa lama dengan cara yang tidak elegan, merampas kekuasaan dengan pembunuhan karakter dan pembunuhan fisik sering terjadi selama terbentangnya sejarah kehidupan manusia.

Jadi orang yang punya kekuasaan dengan maksud untuk menyejahterakan orang lain, melindungi orang yang lemah, menyayangi orang yang tidak berdaya merupakan sikap terpuji, namun kadangkala dengan kekuasaan orang akan berbuat sekehendak hatinya, sikap sombong dan arogan menjadi bawaannya, seolah-olah kekuasaan itu membentuk orang untuk menguasai orang lain, menindas rakyat dengan dalih kepentingan bersama, membuat aturan untuk melindungi kekuasaan dan mencengkram wilayah kekuasaan sekuat-kuatnya sehingga jangan ada peluang bagi orang lain untuk bisa menggantikan kekuasaannya kelak.

Karena kekuasaan terbentuk awalnya dengan hukum rimba,"Siapa yang kuat dia yang berkuasa", kuat dalam arti fisik boleh jadi bisa dipakai ketika itu tapi untuk zaman sekarang kuat itu maknaya bisa karena banyak pengikut, banyak harta dan luas pengaruhnya sehingga  mengeleminir orang-orang yang lemah pada semua sektor tadi, maka sampailah orang yang berkuasa itu diartikan menjadi orang yang hebat, super dan hero. Sehingga orang yang tidak punya kekuasaan tanpa disadari menjadi orang yang lemah, tidak berdaya, rakyat kecil, masyarakat pinggiran dan orang yang rendahan.

Orang yang berkuasa memiliki sifat diatas, tidak mau ditempatkan pada tempat yang rendah, bila hal ini terjadi berarti telah melecehkan kekuasaan, bukan melecehkan orangnya tapi "kekuasaan" nya. Dia tidak mau duduk sembarangan pada tempat-tempat tertentu, selalu ditempatkan pada tempat yang patut dan layak menurut kekuasaannya sehingga rasa besar, merasa dihargai, dihormati dan dilayani  menjadi keinginannya. Ada perasaan bangga, senang, tinggi hati, sombong dan takabur kadangkala muncul disikapnya, bila ada orang yang melecehkan dia akan protes dengan ucapana, "apa dia tidak tahu siapa saya?".

Kesombongan penguasa akan bertambah dikala fasilitas hidup diberikan kepadanya yang jauh lebih baik dari rakyat biasa, rumah mentereng di komplek elit, kendaraan bagus yang mahal harganya, gaji besar untuk memenuhi kebutuhan hariannya, pakaian kualitas tak sembarang orang mampu membelinya, deposito dan tabungannya sulit dihitung berapa jumahnya, harta lain berupa kambing, kerbau, sawah dan ladang ada dimana-mana, bahkan aksesoris perhiasan hidupnya lengkap memenuhi rumahnya, intinya tidak ada kekurangan dalam hidup seorang penguasa dan mereka memang berbeda dengan orang yang tidak berkuasa.

Dengan kekuasaan, penguasa mampu untuk menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah, membela bajingan yang melakukan kejahatan dan menindas simiskin yang tidak berdaya. Dengan kekuasaan, penguasa bisa menggusur pedagang kaki lima yang mereka hanya mencari sesuap makan untuk pagi dan petang dengan dalih memperindah kota, penguasa bisa melegalkan perjudian dan perzihanan dengan alasan meningkatkan devisa negara dan untuk menanggulangi judi dan zina dengan jalan lokalisasi, penguasa dengan kekuasaannya bisa merampas harta orang lain dengan dalih untuk perbaikan taman kota, pembangunan supermarket dengan seribu alasan yang rakyat harus menerimanya.

Dengan kekuasaan, penguasa dapat memerangi rakyatnya dengan maksud mengusir "penjajah dan teroris" dari negeri tercinta ini, walaupun penguasa tidak mampu membuktikan tuduhan itu. Dengan kekuasaan pula penguasa bisa menekan rakyat dan menakut-nakutinya demi keamanan untuk tidak melakukan kegiatan yang dicurigai penguasa, jangan sampai rakyat menakut-nakuti penguasanya, karena kalau penguasa telah takut maka penguasa akan berbuat apa saja untuk menyelamatkan  dan melindungi penguasa dan keuasaannya walaupun rakyat kelak jadi korbannya, karena demi kekuasaan dan penguasa, rakyat harus menerima segala resikonya.

Karena sudah jadi penguasa maka sikap lemah lembut, penyantun dan kasih sayang kepada orang lain sudah hilang dengan alasan mengikuti prosedur kekuasaan atau istilah lain "Protokoler" namanya. Semua orang yang tidak punya kekuasaan dianggap masyarakat kelas dua yang patut diperlakukan hingga tidak manusiawi padahal tanpa disadari kekuasaan yang dimiliki itu merupakan amanat yang dibebankan oleh masyarakat kelas dua tadi agar mereka kelak memperhatikan komunitas yang rendah ini untuk diamankan, dilindungi dan disejahterakan. Manapun kesejahteraan akan mereka dapatkan kalau sikap dan sifat arogansi mereka perlihatkan kepada rakyatnya.

Simbul arogansi kekuasaan penguasa diwakili oleh Fir'aun, tidak hanya penindasan kepada rakyatnya saja bahkan Allahpun siap dia gugat, sebagaimana Al Qur'an mengisahkan, "Dan Berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, Aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain Aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat Kemudian buatkanlah untukku bangunan yang Tinggi supaya Aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan Sesungguhnya Aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta". Dan berlaku angkuhlah Fir'aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada kami. Maka kami hukumlah Fir'aun dan bala tentaranya, lalu kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka Lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. Dan kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah)" [Al Qashash 28; 38-42].

Kekuasaan yang terlalu lama disandang seseorang cendrung berprilaku korup bila nilai-nilai kebenaran, nilai-nilai agama telah dikangkangi. Siapa yang melakukan penipuan, penyalahgunaan wewenang, korupsi, menjual negeri kalau bukan orang yang punya kekuasaan, semakin tinggi kekuasaan seseorang maka semakin besar peluangnya untuk meraup keuntungan dengan cara ilegal, semakin lama seseorang menduduki kursi kekuasaan maka semakin banyak lahan-lahan yang bisa dijadikan sebagai ladang untuk mengantongi yang bukan haknya. Tukang parkir saja, tukang robek karcis di bioskop saja  punya peluang untuk mendapatkan keuntungan pribadi dari usahanya apalagi kekuasaan yang lebih tinggi dari itu tentu lebih menggurita lagi yang akhirnya hal itu terbongkar ketika kekuasaan sudah dirampas orang.

Ketika ada pejabat yang dikritik oleh bawahannya atau dinasehati oleh masyarakat luas, dengan berbagai dalih semua kerjanya dijawab memakai argumentasi kecurigaan melalui tudingan fitnah dan rasa tidak senang, bahkan keluar kalimat pembenaran,"Kalau orang lain yang berkuasa tentu lebih buruk dari ini". Umumnya penguasa tidak mau dikritik apalagi dipojokkan sehingga jarang sekali penguasa yang mau berhadapan dengan para demontran dengan alasan tidak etis dan dianggap demontrasi itu jalan yang salah, padahal demonstrasi adalah sebuah sarana untuk menyampaikan keluhan dan kritikan kepada penguasa yang selama ini jeritan, keluhan dan kritikan melalui cara apa saja dianggap tidak mempan.  
Bahkan tidak jarang dikala  demonstrasi dilakukan dengan anarkhis terjadilah penanggakan dan pelumpuhan terhadap kekuataan rakyat tersebut melalui ancaman dan intimidasi yang intinya sikap penguasa ini untuk mempertahankan kekuasaannya sehingga jangan diganggu dengan hal-hal yang dianggap kecil walaupun sebenarnya demontrasi itu adalah jalan terakhir bagi mereka untuk memperjuangkan hak-hak rakyat yang selama ini diabaikan.

Kekuasaan itu nampaknya penting, karena pentingnya kekuasaan itulah ketika  Nabi Muhammad Saw meninggal dunia, masyarakat Madinah tidak mengurus penguburan jenazah Nabi terlebih dahulu tapi mencari pengganti kekuasaan yang selama ini dipegang oleh beliau, keputusan menetapkan bahwa Abu Bakar yang dijadikan sebagai Khalifah untuk memimpin Kota Madinah selanjutnya baik yang berkaitan dengan asfek agama juga tidak melepaskan untuk mengurusi sektor sosial kemasyarakatan ummat Islam.
            Ketika Abu Bakar As Shiddiq diangkat menjadi Khalifah, dia berpidato di hadapan ummat Islam, yang dapat dijadikan sebagai prinsip dasar bagi seorang pemimpin,"Hai Manusia, sesungguhnya saya telah ditunjuk untuk jadi pemimpin kalian, Saya bukanlah yang paling baik dari kalian, Bila saya berbuat baik bantulah saya, Bila saya benar belalah saya, Kejujuran itu amanah Allah, .Curang itu khianat kepada Allah, Yang lemah diantara kalian menjadi kuat disisiku sehingga saya berikan haknya, dan yang kuat diantara kalian adalah lemah pada sisiku sehingga saya mengambil  haknya, insya Allah, Janganlah salah seorang diantara kamu meninggalkan jihad, karena bila ditinggalkan oleh suatu kaum maka Allah akan menimpakan kepada mereka dengan kehinaan, Taatlah kepadaku selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bila saya menentang Allah dan Rasul-Nya, maka tidak wajib kalian mentaatiku".

            Ketika Mesir dilanda krisis pangan yang berkepanjangan, penguasa tidak mampu untuk mengendalikannya sehingga rakyat menderita karena kelaparan, Yusuf muda yang masih dalam  di penjara karena fitnah yang dilancarkan oleh Zulaikha,  menawarkan diri untuk diangkat sebagai bagian dari penguasa yaitu bendahara kerajaan, penawaran Yusuf ini dibuktikannya dengan kemampuan yang luar biasa mengelola ekonomi kerajaan sehingga dalam waktu tujuh tahun saja ekonomi kerajaan pulih kembali, rakyat merasakan kesejahteraan dan mengangkat nama baik kekuasaan rajanya. Kekuasaan memang efektif untuk memajukan kepentingan bangsa dan negara bagi penguasa yang punya visi bahwa jabatan dan wewenang untuk menegakkan keadilan  guna mensejahterakan rakyatnya, begitu besarnya kerjaan para penguasa yang memang hanya dipikul oleh orang-orang yang kuat pada seluruh asfek.

Karena pentingnya kekuasaan itulah maka Kisra Persia bernama Heraklius ketika ditawari oleh Rasulullah untuk masuk Islam dengan menyampaikan selembar surat ajakan untuk masuk ke agama yang hanya mentauhidkan Allah saja, kontan dia mengatakan dalam hatinya,"Kalau Muhammad datang kesini aku akan sujud ke kakinya dan aku akan masuk agamanya", maka dia kumpulkanlah seluruh petinggi kerajaan untuk menyampaikan maksudnya tadi, para pembesar itu merasa gusar dengan sikap pemimpinnya yang akan pindah agama, keluarlah keputusan bersama,' Kalau tuan akan masuk agama yang dibawa Muhammad, silahkan tapi tinggalkan kekuasaan dan kerajaan ini, pergilah tuan dari istana ini", mendengar itu, dengan dalih seorang pengecut dia menyatakan, "Saya hanya menguji kalian saja, sampai dimana loyalitas kalian kepada saya, mustahil saya akan meninggalkan agama kita…".

Ketika khalifah Harun Al Rasyid menyampaikan LKPJ-nya di hadapan rakyatnya yang memang yang memang setiap tahun dia selalu mengajak masyarakatnya untuk mengevaluasi kinerja khalifah dan jajarannya dalam rangka melayani rakyat. Hampir satu jam dia menyampaikan pidatonya,  terasa kering kerongkongannya maka disediakan segelas air minum untuk sang khalifah, sebelum dia melanjutkan pidato kenegaraan, terdengar suara dari belakang, shaf terakhir menyampaikan aspirasinya,”Hai khalifah, seandainya engkau tidak menemukan air minum detik ini bagaimana?”. Harun Al Rasyid menjawab,”Saya akan mengerahkan pasukan untuk mencari segelas minum”, sang rakyat bertanya lagi,”Bila pasukan anda tidak menemukan segelas airpun?” Khalifah menjawab,”Saya akan mengeluarkan sayembara yang isinya, siapa yang bisa mencarikan untuk saya segelas air, akan saya berikan separo kerajaan ini untuk dia”.

            Sang khalifah melanjutkan pidato LKPJ-nya hingga tuntas, tapi sebelum dia mengakhiri, sang rakyat yang tidak dikenal itu bertanya lagi,”Wahai khalifah, bila air yang anda minum tadi tidak dapat dikeluarkan lagi bagaimana?” khalifah dengan tenang menjawab,”Saya akan kerahkan seluruh dokter kerajaan untuk mengeluarkannya”, ”Bila dokter kerajaanpun tidak mampu menyelamatkan anda?”, sela pemuda itu, sang khalifah yang bijaksana itu memberikan jawaban,”Saya juga akan mengeluarkan sayembara, barangsiapa yang bisa mengeluarkan air di dalam tubuh saya, maka akan saya berikan kepadanya seluruh kerajaan ini”, luar biasa sayembara yang dikeluarkan khaifah Harun Al Rasyid.

            Sang pemuda tadi menyimpulkan dialognya dengan kalimat,”Ya khalifah, apa yang bisa anda banggakan dengan kekuasaan yang anda miliki ini, lebih berharga segelas air putih dari kerajaan ini bahkan air seni anda lebih berharga dari seluruh kerajaan ini, untuk itu hai khalifah janganlah anda silau dengan kemegahan kerajaan lalu melupakan rakyat yang telah mengamanatkan kekuasaan kepada tuan, dengan kekuasaan itu sudahkah rakyat anda merasakan aman, tentram, nyenyak tidurnya, hidupnya sejahtera dan mereka terlayani dengan baik”, Harun Al Rasyid dengan senang hati menerima dan memahami kritikan dari rakyatnya yang disampaikan secara lansung tanpa basa basi.

Dalam dunia politik, kekuasaan dan uang adalah dua hal yang selalu beriringan, pada umumnya uang akan lebih mudah datang melalui kekuasaan. Maka aktivitas pemburuan kekuasaan dan uang, dengan segala cara dan moralitas yang mendasarinya, dipandang sebagai gejala yang selalu tampil dalam proses politik. Memang keduanya melekat dalam aktivitas politik dan sangat mempesona, oleh karena itu  keberadaannya selalu mendominasi wacana politik…

Rasulullah mengingatkan kepada Abu Dzar Al Ghifari bahwa jabatan atau kekuasaan itu amanah dan kalau tidak mampu mengendalikannya sekaligus menjadi nadamah atau penyesalan.

Tidak sedikit aktivitas politik yang karakter dan citranya hancur lebur karena tidak mampu menahan kobaran nafsu kekuasaannya. Tidak sedikit pula gerakan politik yang tenggelam dikarenakan tidak bias mengendalikan nafsu kekuasaannya.

Keterjerembaban kekuasaan yang paling mengerikan ialah ketika dengan kekuasaan yang digenggamnya; seseorang, sekelompok orang, atau sebuah partai menjadi tiran, walaupun kecil-kecilan, apalagi menjadi penguasa tiran yang sungguhannya….

Maka agar perjalanan politik tidak terjerembab kedalam kenistaan dan menempuh jalan buntu, maka Imam Al Gazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan pentingnya peran ulama dalam memelihara kebaikan dan menghindari kerusakan…dia mengatakan….Sesungguhnya penyebab kerusakan rakyat itu tidak lain adalah kerusakan ulama. Maka apabila tidak ada qadhi [penegak hukum] yang keji dan tidak ada ulama yang jelek, tentulah kerusakan penguasa dapat diminimalisir karena takut ditentang ulama….

Selanjutnya Al Gazali memperkenalkan konsep Negara yang bermoral. Sebuah Negara tidak harus dipimpin oleh seorang ulama, tapi cukup orang biasa yang berakhlak baik…

Yah agar dalam perjalanan politik ini kita tidak terjerembab, ingat-ingat saja pesan Rasulullah kepada Abu Zar Al Ghifari, “Wahai Abu Dzar, perbaharuilah bahteramu, sebab lautan yang kau arungi begitu dalam. Himpun bekal secukupnya, sebab perjalanan yang akan kau tempuh sangat jauh. Ringankan beban, sebab rintangan yang akan kau hadapi sangat berat. Murnikan amal, sebab pengeritik yang ada di sekelilingmu memonitor terur” [Abu Ridha, Saksi No.7/ 14 Desember 2005]

            Begitu banyaknya cermin teladan yang disodorkan oleh sejarah tentang orang-orang yang berkuasa yang kekuasaan itu digunakan untuk memperlembut sikap dan temperamen hidupnya menjadi penguasa yang shaleh, bagi yang sudah shaleh akan menambah kebaikan dan keshalehannya dalam menjalan kekuasaan sebagai mana yang telah dicontohkan oleh orang-orang terdahulu sebagaimana Umar bin Abdul Azis saat dirinya diangkat sebagai Khalifah bukan ucapan syukur yang disampaikannya tapi ucapan "Innnalillahi wainna ilaihi raji'un" atau ketika masyarakat Madinah menghendaki kekuasaan kekhalifahan Umar bin Khattab digantikan oleh anaknya yang bernama Abdullah, maka dia mengatakan,"Jangan, cukuplah Umar saja merasakan beban berat ini". Wallahu a'lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]
           


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar