Umumnya manusia hidupnya dihiasi oleh
prilaku dan sikap yang berawal dari orang lain yang dijadikan sebagai contoh
atau teladan, apalagi seorang anak dan remaja yang masih labil tentu mudah
sekali terpengaruh oleh teman bergaul dan lingkungannya yang kemudian contoh itu
ditiru dalam sikap dan tindakan tanpa melihat apakah yang dicontoh itu baik
atau tidak, yang penting baginya prilaku yang ditirunya itu berasal dari orang
yang diidolakan seperti temannya yang pintar, kakaknya rajin, ayahnya yang
bijaksana atau dari guru yang mengajarkannya nilai-nilai keteladanan.
Nabi
Muhammad Rasulullah Saw menyatakan dalam haditsbta, ”Tiap-tiap anak yang lahir suci bersih maka orangtuanyalah yang
bertanggungjawab, akan dijadikan anaknya Yahudi, Majusi atau Nasrani”. Anak
itu ibarat kertas putih, bersih tanpa noda, tidak ada cacat dan kurangnya,
namun keteladanan dari orangtuanya yang akan menjadikannya seorang yang baik
atau sebaliknya bahkan dalam hal agamapun tergantung orangtuanya, apakah
orangtua akan menjadikan anaknya seorang muslim yang baik, menjadi seorang yang
beragama Yahudi, menganut agama Majusi atau sebagai orang yang beragama
Nasrani.
Ayah dan ibu selaku pendidik di rumah tangga akan menjadi
teladan dari sang anak; baik bicaranya, perbuatannya, sifatnya, semua akan
dijadikan contoh oleh sang anak sehingga orangtua harus berhati-hati dalam
bertindak tanduk di rumah tangga jangan sampai terjadi kekeliruan pendidikan yang sebenarnya tanpa
disadari telah terlanjur ditiru oleh anaknya.
Teladan lain
yang menjadi figur bagi seorang manusia adalah guru bahkan guru memang
diharapkan memberikan teladan yang baik
kepada murid-murid dan masyarakat disekitarnya. Puluhan tahun silam menjadi
guru sangat sulit karena diukur dari kualitas dan prestasi, pengabdiannya
dibanggakan, ilmunya diterima, akhirnya dijadikan sebagai teladan dalam hidup
bermasyarakat.
Pameo lama,”Guru
kencing berdiri murid kencing berlari” nampaknya masih sering dianut
masyarakat kita, betapa tidak kalau murid melakukan kesalahan dalam masyarakat orang akan berkata,”Pantas saja demikian karena gurunya juga begitu”. Sebenarnya hal
ini ditujukan kepada salah seorang guru yang tidak disenangi, guru yang tidak
berkualitas, guru yang tidak punya wibawa. Demikian kerasnya penilaian
masyarakat kepada manusia yang disebut sebagai guru.
Guru, digugu dan ditiru, walaupun telah usang istilah ini
masih relefan dengan dunia pendidikan sampai kapanpun, karena sebagai teladan
lansung bagi murid, baik di kelas maupun dalam aktivitas masyarakat luas. Begitu
juga halnya seorang ulama, mubaligh, ustadz dan kiayi menjadi figur yang
diteladani oleh ummatnya bahkan harus menampilkan keteladanan dalam seluruh
asfek kehidupan.
Dari masa ke
masa keberadaan ulama di tengah masyaraka sanga besar artinya, mereka
diibaratkan, ”tongkat pemandu jalan di
siang hari, dan obor penerang dimalam hari”, mereka bukan saja ahli
dibidang agama, tetapi mereka adalah
kelompok yang terpanggil untuk memperbaiki masyarakat, menangkap aspirasi
mereka, merumuskan dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang serta siap
menawarkan strategi dan altenatif pemecahan masalah. Cukup jelas bahwa para
nabi merupakan mercusuar yang tertinggi tentang kesempurnaan kemanusiaan. Oleh
sebab itu, adakah suatu jabatan yang lebih mulia dan lebih tinggi yang melebihi
para alim ulama itu, yang telah ditetapkan sebagai pewaris pada nabi ? diterangkan dalam sebuah hadits , ”Akan ditimbang nanti tinta para alim
ulama dan darah para pahlawan-pahlawan yang mati syahid pada hari kiamat”.
Setiap orang pasti mengerti bahwa darah yang dialirkan
untuk membela agama Allah atau fisabilillah adalah semahal-mahalnya darah yang
dikorbankan seorang manusia. Maka jika tinta kaum ulama yang digunakan
mengarang kitab-kitab untuk kemanfaaan ummat manusia itu dapat menyamai darah
orang yang mati syahid, bahkan ada sebagian riwayat yang menerangkan bahwa
tinta itu bahkan melebihi nilainya, maka itulah suatu bukti yang jelas, sampai
dimana islam memberikan kedudukan yang amat utama dan tertinggi bagi para
ulama.
Kitapun mengharapkan setiap waktu hadirnya pemimpin,
penguasa dan pejabat yang dapat memberikan panutan dan teladan dalam hidupnya,
setiap geraknya, setiap kebijakannya adalah ujud dari keteladanan yang akan ditiru oleh
rakyatnya.
Khalifah
Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sosok penguasa yang terkenal sabar dan
lembut. Namun, beliau juga terkenal sebagai pemimpin yang berani dan
tegas. Tatkala sebagian kaum Muslim menolak kewajiban zakat, beliau
segera memerintahkan kaum Muslim untuk memerangi mereka. Meskipun pendapatnya
sempat disanggah oleh Umar bin al-Khaththab, beliau tetap bergeming dengan
pendapatnya. Stabilitas dan kewibawaan Negara Islam harus dipertahankan
meskipun harus mengambil risiko perang.
Khalifah
Umar bin al-Khaththab sendiri terkenal sebagai penguasa yang tegas dan sangat
disiplin. Beliau tidak segan-segan merampas harta para pejabatnya yang
ditengarai berasal dari jalan yang tidak benar.Dalam sebuah riwayat dituturkan
bahwa Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah berkata kepada Abu Hurairah ra yang
saat itu menjadi gubernur di Bahrain, “Bagaimana engkau bisa menduduki jabatan
ini?”
Ia
menjawab, “Engkau telah menugaskan saya, sedangkan saya tidak menyukainya, dan
engkau menghentikan saya, sedangkan saya mencintainya.”
Pada
saat itu, Abu Hurairah membawa 400 ribu dirham dari Bahrain. Selanjutnya,
Umar bertanya kepadanya, “Apakah engkau berlaku aniaya terhadap
seseorang?”“Tidak.”
“Dari jumlah itu, berapa yang
menjadi milikmu?”
“Dua puluh.”
“Dari mana engkau memperolehnya?”
tanya Umar lagi.
“Saya berdagang.”
Umar pun menukas, “Hitunglah modalmu
dan milikmu.Lalu serahkanlah yang lainnya ke Baitul Mal.”(Thabaqât Ibnu Sa'ad,
II/4/60; Târîkh al-Islâm, II/388; dan Tahdzîb at-Tahdzîb, XII/267).
Inilah secuil keteladanan yang bisa
kita ambil dari Khulafaur Rasyidin dalam mengurus urusan rakyatnya.
Sungguh,
kehadiran seorang penguasa amanah yang selalu berjalan sesuai dengan aturan
Allah merupakan dambaan dan impian kaum Muslim saat ini. [Mendambakan Penguasa Amanah, Media Ummat; Sunday, 22 November
2009 19:48].
Seorang nabi dan rasul yang diutus Allah juga harus memberikan contoh teladan
dalam hidupnya, kalau tidak apa yang akan dilakukan oleh ummatnya sebagai standard
dan pijakan dalam mengamalkan risalah yang dibawanya, apalagi nabi Muhammad
Saw, lansung Allah menyebutkan beliau sebagai contoh teladan yang baik bagi
ummat manusia hingga kapanpun.
Rasulullah adalah manusia paripurna
yang diciptakan Allah di dunia. Segala keistimewaan diberikan kepadanya.
Kehidupannya dihiasi dengan segala pernik keindahan. Akhlaknya menebar
keharuman. Sirahnya bagai minyak kasturi bagi kehidupan. Pesan-pesannnya
menyentuh setiap insan. Lembut perawakannya. Santun ucapan katanya. Padat
ungkapan kalimatnya.
Allah SWT berfirman:’’Dan sesungguhnya engkau benar-benar,
berbudi pekerti yang luhur. (QS al-Qalam [68]: 4)Istrinya tercinta, Aisyah pernah
berkata:’’Akhlaknya adalah Al-Qur’an .... (HR
Ahmad)
Demikian juga
Rasulullah adalah sosok yang penyantun dan penyayang. Cinta menebarkan
kemanfaatan dan menolak segala yang menimbulkan kemadharatan. Allah
mengabadikan sifat itu dalam firman-Nya: Sungguh, telah datang kepadamu
seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu
alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang
yang beriman. (QS at-Taubah [9]: 128)
Bukan hanya pengakuan dari sahabatnya, melainkan juga para musuhnya. Itulah
kelebihan yang dimiliki Rasulullah sehingga siapa pun ikut mengaguminya.
Meskipun sebagai manusia pilihan yang mendapat kepercayaan untuk menyampaikan
risalah, Rasulullah selalu bersikap tenang dan penyayang kepada siapa pun.
Bahkan, pada binatang pun beliau sangat menyayanginya
Michael
Hart dalam bukunya yang berjudul “Seratus Tokoh Yang Berpengaruh di dunia”, dia
mencatat Nabi Muhammad pada rangking pertama dan utama, padahal dia sebagai
orang yang beragama Nasrani, orientalis dan bangsa barat. Bila buku itu
dikarang oleh Buya Hamka atau tokoh lain
yang beragama islam tentu kita tidak begitu kagum, walaupun sebenarnya Michael
Hart meletakkan Muhammad nomor pertama dari deretan tokoh dunia tidaklah tepat, sebab Muhammad
hanya pantas diletakkan pada deretan para nabi dan memang beliau adalah
penghulu para nabi.
Kekagumannya dengan Muhammad adalah
keberhasilannya dalam menyebarkan misi dan risalah islam ke tengah masyarakat
dunia sehingga pada detik ini ummat Muhammad terbesar di dunia ini.
Muhammad
adalah pribadi yang serba sempurna dalam berbagai asfek kehidupan, ibadahnya
tidak ada yang dapat menandingi, kezuhudannya sehingga tidak pernah kenyang
ketika makan, taqwanya tidak ada yang bisa mengalahkan. Beliaupun seorang yang pemalu
bila hidupnya punya cela, bahkan auratnyapun ketika nampak oleh seorang sahabat
yaitu betisnya saat memperbaiki masjid,bukan main malu beliau dengan muka merah
lari dan menjauh dari mereka.
Beliau adalah orang yang berani, setiap peperangan
yang dilakukan beliau adalah orang yang
terdepan dan banyak sekali perang yang beliau lakukan dipimpin lansung.
Demikian pula halnya Nabi Muhammad siap bertahan 13 tahun di Mekkah dalam
rangka menyampaikan risalah islam ini, yang dihadapi adalah gembong-gembong Quraisy yang terkenal garang
dan ganasnya.
Dalam kehidupan sehari-hari yang
dilakukannya tidaklah kaku sebagaimana yang digambarkan orang; canda, humor dan
hiburanpun beliau nikmati tapi tidak lepas dari bingkai syariat sehingga
terarah kepada kemaslahatan pribadi, keluarga dan masyarakatnya.
Rasulullah
Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir, beliau mempunyai tugas yang tidak
ringan karena harus merubah watak manusia yang kafir kepada taat, sifat
jahiliyyah kepada islami, karakter maksiat kepada ummat yang militansinya tidak
diragukan, untuk semua itu beliau bertugas.
Siapa di antara Anda yang
membaca akhlak Nabi Muhammad saw., kemudian jiwanya tidak larut, matanya tidak
berlinangan dan hatinya tidak bergetar? Siapa di antara Anda yang mampu menahan
emosionalnya ketika membaca biografi seorang yang sangat dermawan, mulia,
lembut dan tawadhu’?Siapa yang mengkaji sirah hidup beliau yang agung, perangai
yang mulia dan akhlak yang terpuji, kemudian dia tidak menagis, sembari
berikrar, “Saya bersaksi bahwa Engkau adalah utusan Allah.”?
Duhai, kiranya kita mampu
melaksanakan cara hidup, cinta dan akhlak yang mulia dari teladan mulia ini
dalam kehidupan, perilaku dan mentalitas kita. Kita bergaul dengan orang lain,
sebagaimana Nabi Muhammad saw. memperlakukan musuh-musuhnya. Beliau bersabda,“Sesungguhnya
Allah menyuruhku agar menyambung orang yang memutuskanku, memberi kepada orang
yang menahanku, dan memaafkan terhadap orang yang mendzalimiku.”
Duhai, kiranya kita
memperlakukan saudara seiman kita, sebagaimana Nabi Muhammad saw. memperlakukan
orang-orang munafik, beliau memaafkan mereka, memintakan ampun terhadap mereka
dan menyerahkan rahasia mereka kepada Allah swt.
Duhai, sekiranya kita
memperlakukan anak-anak kita, sebagaimana Nabi Muhamamd saw. memperlakukan
pembantu dan pekerjanya. Ketika pembantu kecil Nabi Muhamamd saw. sedang sakit,
beliau. membesuk dan duduk di dekat kepalanya seraya mengajak untuk masuk
Islam. Pembantu kecil itu masuk Islam, maka Nabi Muhammad gembira seraya
berkata, “Segala puji bagi Allah swt yang telah menyelamatkan dirinya dari api
neraka.”
“Seorang Yahudi menagih
utang kepada Nabi Muhamamd saw. dengan marah-marah, kasar, dan tidak sopan di
depan banyak orang. Nabi Muhammad saw. tersenyum dan menghadapinya dengan
lembut. Tak disangka si Yahudi itu masuk Islam, mengucapkan syahadat, “Saya
bersaksi bahwa Engkau utusan Allah.”Karena saya baca di Taurat tentang Engkau,
yaitu ketika saya tambah marah, justeru Engkau tambah lembut
menghadapiku.”Begitu pengakuan si Yahudi.
Duhai, kiranya kita
memperlakukan kerabat kita, meskipun mereka berbuat buruk kepada kita,
sebagaimana Nabi Muhammad saw. memperlakukan kerabat dan kaumnya. Karena
kerabat dan kaum Nabi Muhamamd saw. menyakitinya, mengusirnya, mengejeknya,
menolaknya, memeranginya. Namun, beliau tetap menghadapinya.Ketika beliau
menaklukkan Makkah, posisi beliau sebagai pemenang, penentu kebijakan, namun
beliau berdiri berpidato mengumumkan bahwa beliau memaafkan semuanya.Sejarah
telah mencatat dan momentum telah menjadi saksi sabda beliau,”Allah
telah mengampuni kalian, pergilah, kaliah bebas.”
Sewaktu Penduduk Thaif
melempari Nabi Muhammad saw. sampai beliau berdarah-darah. Beliau menghapus
darah segar yang mengalir dari tubuhnya sambil berdo’a,”Ya
Allah, ampuni kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”
Nabi Muhammad saw. pernah
dicegat oleh seorang Arab badui di tengah jalan, beliau hanya berdiri lama
berhadapan, dan tidak berpaling sampai orang badui itu berlalu dengan
sendirinya.
Suatu hari Beliau ditanya oleh
seorang nenek tua, beliau dengan tekun, hangat dan penuh perhatian menjawab
pertanyaannya. Nabi Muhamamd saw. juga membawa seorang anak kecil yang
berstatus hamba sahaya, beliau menggandeng tanganyya mengajak berjalan-jalan.
Nabi Muhammad saw. senantiasa
menjaga kehormatan seseorang, memulyakan seseorang, melaksanakan hak-hak
seseorang. Nabi Muhammad saw. tidak pernah mengumpat, menjelekkan, melaknat,
menyakiti, dan tidak merendahkan seseorang. Nabi Muhammad saw. ketika hendak
menasehati seseorang, beliau berkata, “Kenapa suatu kaum melaksanakan ini dan
itu? Artinya, beliau tidak langsung menyalah orang tersebut.Beliau bersabda,
“Mukmin itu tidak mencela, melaknat dan juga tidak keras perangainya. Beliau
juga bersabda,“Sesungguhnya yang paling saya cintai di
antara kalian dan paling dekat tempat duduknya dengan saya kelak di hari Kiamat
adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian.”
Nabi Muhamamd saw. merapikan
sandalnya, menjahit bajunya, menyapu rumahnya, memeras susu kambingnya,
mendahulukan sahabatnya soal makanan, beliau tidak suka dipuji. Nabi Muhamamd
saw. sangat peduli terhadap fakir miskin, beliau berdiri membela orang yang
terdzalimi, beliau bertandang ke orang papa, menengok orang sakit, mengantarkan
jenazah, mengusap kepala anak yatim, santun terhadap perempuan, memulyakan
tamu, memberi makan yang lapar, bercanda dengan anak-anak, dan menyayangi
binatang.
Suatu ketika para sahabat
memberi saran kepada Nabi Muhammad saw, “Tidakkah Engkau membunuh gembong
kejahatan, seorang pendosa dan otak munafik, yaitu Abdullah bin Ubai bin Salul?
Beliau menjawab, “Tidak, karena manusia nanti mengira
bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya.”[Ulis
Tofa, Lc, Nabi Muhammad, Pribadimu Sungguh
Menawan,Dakwatuna.com,15/4/2008 | 08 Rabiuts Tsani 1429 H].
Sesungguhnya yang dimaksud dengan sunnah Rasulullah shallaLlahu
alayhi wa sallam bukanlah hal-hal tertentu saja dalam kehidupan
Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam.
Bukan terbatas dalam masalah ubudiyyah (shalat, zakat, shaum dan sejenisnya)
saja, akan tetapi seluruh kehidupan Rasulullah adalah sunnah yang harus
diikuti. Karena tidak ada satu pun ucapan dan perbuatan Rasulullah shallaLlahu
alayhi wa sallam yang keliru. Seluruh segi kehidupan Rasulullah shallaLlahu
alayhi wa sallam telah terbimbing dengan wahyu.Dan
tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu
tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm
[53] : 3-4)
Bahkan dahulu para sahabat Rasulullah shallaLlahu
alayhi wa sallam sangat memperhatikan dan meneladani kehidupan
Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam hingga
sampai pada masalah-masalah yang kita anggap remeh dan sepele.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Jabir Ibn
Abdullah radhiyaLlahu ‘anhuSuatu hari aku diajak Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam ke rumahnya, kemudian beliau mengeluarkan sepotong roti.
Beliau bertanya kepada istri-istrinya: "Apakah ada lauk pauk?" Mereka
menjawab; 'Tidak ada, kecuali sedikit cuka. Lalu beliau bersabda: Sesungguhnya
cuka adalah sebaik-baik lauk.' Jabir berkata; 'Aku menyukai cuka sejak aku
mendengarnya dari Nabiyullah shallallahu 'alaihi wasallam.Dan Thalhah berkata;
Aku menyukai cuka sejak aku mendengarnya dari Jabir. (Diriwayatkan
oleh Imam Muslim dalam Shahihnya nomor3825)
SubhanaLlah...
bayangkanlah...... Jabir Ibn Abdullah radhiyaLlahu ‘anhu
tidak pernah menyukai cuka sebelumnya. Akan tetapi ketika ia mendengar bahwa
Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam
menyukai makan dengan cuka, Jabir menjadi suka dengan cuka. Sedangkan Thalhah
ibn Nafi’ yang mendengarkan hadits ini dari Jabir ibn Abdullah juga adalah
seseorang yang tadinya tidak menyukai makan dengan cuka. Akan tetapi setelah
mendengar hadits dari Jabir ini ia jadi menyukai cuka. Jika untuk masalah yang
sepele seperti ini saja para salaful ummah demikian
memperhatikan sunnah Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam
apa lagi dengan sunnah-sunnah lainnya yang lebih penting.
Untuk itu, kita tidak boleh memilih-milih aspek tertentu
saja dalam meneladani Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam.
Tidak boleh kita parsial dalam memahami dan mengamalkan sunnah Rasulullah shallaLlahu
alayhi wa sallam ini. Karena sesungguhnya, mengamalkan sunnah
Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam
secara utuh adalah jalan agar kita meraih jannah yang dijanjikan Allah Ta’ala.
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap umatku masuk surga selain
yang enggan, " Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, lantas siapa
yang enggan?" Nabi menjawab: "Siapa yang taat kepadaku (mengikuti
aku) masuk surga dan siapa yang menyelisihi aku berarti ia enggan."(Diriwayatkan
oleh Imam Bukhari)
Karena itu, marilah kita meneladani seluruh aspek kehidupan
Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam.
Kita meneladani ibadah beliau shallaLlahu alayhi wa sallam.
Sebagai contoh misalnya, bagaimana Rasulullah shallaLlahu alayhi wa
sallam sangat memperhatikan shalat lima waktu, dan berjamaah di
masjid dalam melaksanakannya.Hingga dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh
Abu Hurairah radhiyaLlahu ‘anhu, Rasulullah
shallaLlahu alayhi wa sallam bersabda :Demi
Yang jiwaku ada di tangan-Nya (Allah Ta’ala), sungguh aku sangat ingin untuk
memerintahkan seseorang mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan
seseorang untuk adzan, dan orang lain aku perintahkan untuk meng-imam-kan
manusia (kaum muslimin). Kemudian aku akan pergi ke rumah para lelaki yang
tidak menghadiri shalat berjama’ah dan aku bakar rumah-rumah mereka.
(Dikeluarkan oleh Imam Bukhari)
Demikian marahnya Rasulullah shallaLlahu alayhi wa
sallam kepada para laki-laki yang terbiasa tidak hadir shalat
berjamaah di masjid, hingga Rasulullah berkeinginan untuk membakar rumah
mereka. Karena itu jika memang betul kita mencintai Rasulullah shallaLlahu
alayhi wa sallam, janganlah kita membuat beliau shallaLlahu
alayhi wa sallam marah. Berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk
shalat berjama’ah di masjid.Jangan biarkan masjid-masjid kita kosong.Jika kita
tidak bisa hadir berjama’ah di masjid pada waktu siang dan sore dimana,
setidaknya hadirilah shalat berjama’ah di waktu shubuh.Jangan sampai muncul
benih-benih kemunafikan dalam jiwa kita karena tidak biasa hadir shalat shubuh
berjama’ah.Dari Abu Hurairayrah radhiyaLlahu ‘anhu,
beliau berkata, “Telah bersabda RasuluLlah shallaLlahu alayhi wa sallam, “Tidak
lah ada shalat yang lebih memberatkan bagi orang-orang munafiq kecuali shalat
Shubuh dan Isya’. Kalau saja mereka mengetahui (keutamaan) yang ada pada kedua
shalat itu, pastilah mereka akan mendatangi keduanya (masjid) walaupun dengan
merangkak. (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari ).[Muhammad Setiawan, Meneladani Rasulullah Seutuhnya,
eramuslim.com,Rabu, 16/02/2011 10:50 WIB].
Sebagai orangtua, guru dan
pemimpin harus berupaya menampilkan diri yang baik dalam seluruh sikap dan
ucapan karena akan dijadikan contoh oleh semua orang sehingga jadi teladan pula
dalam hidupnya, bila figure yang tampil bertentangan dengan yang sebenarnya
maka rusaklah keteladanan itu. Figure yang sempurna untuk dijadikan teladan
ialah Rasulullah Saw, tiada keteladan yang agung dan lengkap kecuali
ketaladanan dari nabi Muhammad, yang berasal dari sumber keteladanan yaitu
Allah SWT, Wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 27 Juni 2011.M/ 25
Rajab 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar