Senin, 14 Desember 2015

57. Teladan



Umumnya manusia hidupnya dihiasi oleh prilaku dan sikap yang berawal dari orang lain yang dijadikan sebagai contoh atau teladan, apalagi seorang anak dan remaja yang masih labil tentu mudah sekali terpengaruh oleh teman bergaul dan lingkungannya yang kemudian contoh itu ditiru dalam sikap dan tindakan tanpa melihat apakah yang dicontoh itu baik atau tidak, yang penting baginya prilaku yang ditirunya itu berasal dari orang yang diidolakan seperti temannya yang pintar, kakaknya rajin, ayahnya yang bijaksana atau dari guru yang mengajarkannya nilai-nilai keteladanan.

Nabi Muhammad Rasulullah Saw menyatakan dalam haditsbta, ”Tiap-tiap anak yang lahir suci bersih maka orangtuanyalah yang bertanggungjawab, akan dijadikan anaknya Yahudi, Majusi atau Nasrani”. Anak itu ibarat kertas putih, bersih tanpa noda, tidak ada cacat dan kurangnya, namun keteladanan dari orangtuanya yang akan menjadikannya seorang yang baik atau sebaliknya bahkan dalam hal agamapun tergantung orangtuanya, apakah orangtua akan menjadikan anaknya seorang muslim yang baik, menjadi seorang yang beragama Yahudi, menganut agama Majusi atau sebagai orang yang beragama Nasrani.

            Ayah dan ibu selaku pendidik di rumah tangga akan menjadi teladan dari sang anak; baik bicaranya, perbuatannya, sifatnya, semua akan dijadikan contoh oleh sang anak sehingga orangtua harus berhati-hati dalam bertindak tanduk di rumah tangga jangan sampai terjadi  kekeliruan pendidikan yang sebenarnya tanpa disadari telah terlanjur ditiru oleh anaknya.

Teladan lain yang menjadi figur bagi seorang manusia adalah guru bahkan guru memang diharapkan memberikan  teladan yang baik kepada murid-murid dan masyarakat disekitarnya. Puluhan tahun silam menjadi guru sangat sulit karena diukur dari kualitas dan prestasi, pengabdiannya dibanggakan, ilmunya diterima, akhirnya dijadikan sebagai teladan dalam hidup bermasyarakat.

            Pameo lama,”Guru kencing berdiri murid kencing berlari” nampaknya masih sering dianut masyarakat kita, betapa tidak kalau murid melakukan  kesalahan dalam masyarakat orang  akan berkata,”Pantas saja demikian karena gurunya juga begitu”. Sebenarnya hal ini ditujukan kepada salah seorang guru yang tidak disenangi, guru yang tidak berkualitas, guru yang tidak punya wibawa. Demikian kerasnya penilaian masyarakat kepada manusia yang disebut sebagai guru.

            Guru, digugu dan ditiru, walaupun telah usang istilah ini masih relefan dengan dunia pendidikan sampai kapanpun, karena sebagai teladan lansung bagi murid, baik di kelas maupun dalam aktivitas masyarakat luas. Begitu juga halnya seorang ulama, mubaligh, ustadz dan kiayi menjadi figur yang diteladani oleh ummatnya bahkan harus menampilkan keteladanan dalam seluruh asfek kehidupan.

Dari masa ke masa keberadaan ulama di tengah masyaraka sanga besar artinya, mereka diibaratkan, ”tongkat pemandu jalan di siang hari, dan obor penerang dimalam hari”, mereka bukan saja ahli dibidang agama, tetapi mereka  adalah kelompok yang terpanggil untuk memperbaiki masyarakat, menangkap aspirasi mereka, merumuskan dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang serta siap menawarkan strategi dan altenatif pemecahan masalah. Cukup jelas bahwa para nabi merupakan mercusuar yang tertinggi tentang kesempurnaan kemanusiaan. Oleh sebab itu, adakah suatu jabatan yang lebih mulia dan lebih tinggi yang melebihi para alim ulama itu, yang telah ditetapkan sebagai pewaris pada nabi ?  diterangkan dalam sebuah hadits , ”Akan ditimbang nanti tinta para alim ulama dan darah para pahlawan-pahlawan yang mati syahid pada hari kiamat”.

            Setiap orang pasti mengerti bahwa darah yang dialirkan untuk membela agama Allah atau fisabilillah adalah semahal-mahalnya darah yang dikorbankan seorang manusia. Maka jika tinta kaum ulama yang digunakan mengarang kitab-kitab untuk kemanfaaan ummat manusia itu dapat menyamai darah orang yang mati syahid, bahkan ada sebagian riwayat yang menerangkan bahwa tinta itu bahkan melebihi nilainya, maka itulah suatu bukti yang jelas, sampai dimana islam memberikan kedudukan yang amat utama dan tertinggi bagi para ulama.

            Kitapun mengharapkan setiap waktu hadirnya pemimpin, penguasa dan pejabat yang dapat memberikan panutan dan teladan dalam hidupnya, setiap geraknya, setiap kebijakannya adalah ujud  dari keteladanan yang akan ditiru oleh rakyatnya.

Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sosok penguasa yang terkenal sabar dan lembut.  Namun, beliau juga terkenal sebagai pemimpin yang berani dan tegas.  Tatkala sebagian kaum Muslim menolak kewajiban zakat, beliau segera memerintahkan kaum Muslim untuk memerangi mereka. Meskipun pendapatnya sempat disanggah oleh Umar bin al-Khaththab, beliau tetap bergeming dengan pendapatnya. Stabilitas dan kewibawaan Negara Islam harus dipertahankan meskipun harus mengambil risiko perang.  

Khalifah Umar bin al-Khaththab sendiri terkenal sebagai penguasa yang tegas dan sangat disiplin. Beliau tidak segan-segan merampas harta para pejabatnya yang ditengarai berasal dari jalan yang tidak benar.Dalam sebuah riwayat dituturkan bahwa Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah berkata kepada Abu Hurairah ra yang saat itu menjadi gubernur di Bahrain, “Bagaimana engkau bisa menduduki jabatan ini?”

Ia menjawab, “Engkau telah menugaskan saya, sedangkan saya tidak menyukainya, dan engkau menghentikan saya, sedangkan saya mencintainya.” 

Pada saat itu, Abu Hurairah membawa 400 ribu dirham dari Bahrain.  Selanjutnya, Umar bertanya kepadanya, “Apakah engkau berlaku aniaya terhadap seseorang?”“Tidak.”
“Dari jumlah itu, berapa yang menjadi milikmu?”
“Dua puluh.”  
“Dari mana engkau memperolehnya?” tanya Umar lagi.
“Saya berdagang.”
Umar pun menukas, “Hitunglah modalmu dan milikmu.Lalu serahkanlah yang lainnya ke Baitul Mal.”(Thabaqât Ibnu Sa'ad, II/4/60; Târîkh al-Islâm, II/388; dan Tahdzîb at-Tahdzîb, XII/267).
Inilah secuil keteladanan yang bisa kita ambil dari Khulafaur Rasyidin dalam mengurus urusan rakyatnya.  

Sungguh, kehadiran seorang penguasa amanah yang selalu berjalan sesuai dengan aturan Allah merupakan dambaan dan impian kaum Muslim saat ini.  [Mendambakan Penguasa Amanah, Media Ummat; Sunday, 22 November 2009 19:48].

            Seorang nabi dan rasul yang diutus Allah juga harus memberikan contoh teladan dalam hidupnya, kalau tidak apa yang akan dilakukan oleh ummatnya sebagai standard dan pijakan dalam mengamalkan risalah yang dibawanya, apalagi nabi Muhammad Saw, lansung Allah menyebutkan beliau sebagai contoh teladan yang baik bagi ummat manusia hingga kapanpun.

Rasulullah adalah manusia paripurna yang diciptakan Allah di dunia. Segala keistimewaan diberikan kepadanya. Kehidupannya dihiasi dengan segala pernik keindahan. Akhlaknya menebar keharuman. Sirahnya bagai minyak kasturi bagi kehidupan. Pesan-pesannnya menyentuh setiap insan. Lembut perawakannya. Santun ucapan katanya. Padat ungkapan kalimatnya.
            Allah SWT berfirman:’’Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur. (QS al-Qalam [68]: 4)Istrinya tercinta, Aisyah pernah berkata:’’Akhlaknya adalah Al-Qur’an .... (HR Ahmad)
            Demikian juga Rasulullah adalah sosok yang penyantun dan penyayang. Cinta menebarkan kemanfaatan dan menolak segala yang menimbulkan kemadharatan. Allah mengabadikan sifat itu dalam firman-Nya: Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (QS at-Taubah [9]: 128)

            Bukan hanya pengakuan dari sahabatnya, melainkan juga para musuhnya. Itulah kelebihan yang dimiliki Rasulullah sehingga siapa pun ikut mengaguminya. Meskipun sebagai manusia pilihan yang mendapat kepercayaan untuk menyampaikan risalah, Rasulullah selalu bersikap tenang dan penyayang kepada siapa pun. Bahkan, pada binatang pun beliau sangat menyayanginya

Michael Hart dalam bukunya yang berjudul “Seratus Tokoh Yang Berpengaruh di dunia”, dia mencatat Nabi Muhammad pada rangking pertama dan utama, padahal dia sebagai orang yang beragama Nasrani, orientalis dan bangsa barat. Bila buku itu dikarang oleh Buya Hamka atau tokoh  lain yang beragama islam tentu kita tidak begitu kagum, walaupun sebenarnya Michael Hart meletakkan Muhammad nomor pertama dari deretan  tokoh dunia tidaklah tepat, sebab Muhammad hanya pantas diletakkan pada deretan para nabi dan memang beliau adalah penghulu para nabi.

            Kekagumannya dengan Muhammad adalah keberhasilannya dalam menyebarkan misi dan risalah islam ke tengah masyarakat dunia sehingga pada detik ini ummat Muhammad terbesar di dunia ini.

Muhammad adalah pribadi yang serba sempurna dalam berbagai asfek kehidupan, ibadahnya tidak ada yang dapat menandingi, kezuhudannya sehingga tidak pernah kenyang ketika makan, taqwanya tidak ada yang bisa mengalahkan. Beliaupun seorang yang pemalu bila hidupnya punya cela, bahkan auratnyapun ketika nampak oleh seorang sahabat yaitu betisnya saat memperbaiki masjid,bukan main malu beliau dengan muka merah lari dan menjauh dari mereka.

Beliau  adalah orang yang berani, setiap peperangan yang dilakukan beliau adalah orang yang  terdepan dan banyak sekali perang yang beliau lakukan dipimpin lansung. Demikian pula halnya Nabi Muhammad siap bertahan 13 tahun di Mekkah dalam rangka menyampaikan risalah islam ini, yang dihadapi adalah  gembong-gembong Quraisy yang terkenal garang dan ganasnya.

            Dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukannya tidaklah kaku sebagaimana yang digambarkan orang; canda, humor dan hiburanpun beliau nikmati tapi tidak lepas dari bingkai syariat sehingga terarah kepada kemaslahatan pribadi, keluarga dan masyarakatnya.

Rasulullah Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir, beliau mempunyai tugas yang tidak ringan karena harus merubah watak manusia yang kafir kepada taat, sifat jahiliyyah kepada islami, karakter maksiat kepada ummat yang militansinya tidak diragukan, untuk semua itu beliau bertugas.

Siapa di antara Anda yang membaca akhlak Nabi Muhammad saw., kemudian jiwanya tidak larut, matanya tidak berlinangan dan hatinya tidak bergetar? Siapa di antara Anda yang mampu menahan emosionalnya ketika membaca biografi seorang yang sangat dermawan, mulia, lembut dan tawadhu’?Siapa yang mengkaji sirah hidup beliau yang agung, perangai yang mulia dan akhlak yang terpuji, kemudian dia tidak menagis, sembari berikrar, “Saya bersaksi bahwa Engkau adalah utusan Allah.”?

Duhai, kiranya kita mampu melaksanakan cara hidup, cinta dan akhlak yang mulia dari teladan mulia ini dalam kehidupan, perilaku dan mentalitas kita. Kita bergaul dengan orang lain, sebagaimana Nabi Muhammad saw. memperlakukan musuh-musuhnya. Beliau bersabda,“Sesungguhnya Allah menyuruhku agar menyambung orang yang memutuskanku, memberi kepada orang yang menahanku, dan memaafkan terhadap orang yang mendzalimiku.”

Duhai, kiranya kita memperlakukan saudara seiman kita, sebagaimana Nabi Muhammad saw. memperlakukan orang-orang munafik, beliau memaafkan mereka, memintakan ampun terhadap mereka dan menyerahkan rahasia mereka kepada Allah swt.

Duhai, sekiranya kita memperlakukan anak-anak kita, sebagaimana Nabi Muhamamd saw. memperlakukan pembantu dan pekerjanya. Ketika pembantu kecil Nabi Muhamamd saw. sedang sakit, beliau. membesuk dan duduk di dekat kepalanya seraya mengajak untuk masuk Islam. Pembantu kecil itu masuk Islam, maka Nabi Muhammad gembira seraya berkata, “Segala puji bagi Allah swt yang telah menyelamatkan dirinya dari api neraka.”
“Seorang Yahudi menagih utang kepada Nabi Muhamamd saw. dengan marah-marah, kasar, dan tidak sopan di depan banyak orang. Nabi Muhammad saw. tersenyum dan menghadapinya dengan lembut. Tak disangka si Yahudi itu masuk Islam, mengucapkan syahadat, “Saya bersaksi bahwa Engkau utusan Allah.”Karena saya baca di Taurat tentang Engkau, yaitu ketika saya tambah marah, justeru Engkau tambah lembut menghadapiku.”Begitu pengakuan si Yahudi.

Duhai, kiranya kita memperlakukan kerabat kita, meskipun mereka berbuat buruk kepada kita, sebagaimana Nabi Muhammad saw. memperlakukan kerabat dan kaumnya. Karena kerabat dan kaum Nabi Muhamamd saw. menyakitinya, mengusirnya, mengejeknya, menolaknya, memeranginya. Namun, beliau tetap menghadapinya.Ketika beliau menaklukkan Makkah, posisi beliau sebagai pemenang, penentu kebijakan, namun beliau berdiri berpidato mengumumkan bahwa beliau memaafkan semuanya.Sejarah telah mencatat dan momentum telah menjadi saksi sabda beliau,”Allah telah mengampuni kalian, pergilah, kaliah bebas.”
Sewaktu Penduduk Thaif melempari Nabi Muhammad saw. sampai beliau berdarah-darah. Beliau menghapus darah segar yang mengalir dari tubuhnya sambil berdo’a,”Ya Allah, ampuni kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”
Nabi Muhammad saw. pernah dicegat oleh seorang Arab badui di tengah jalan, beliau hanya berdiri lama berhadapan, dan tidak berpaling sampai orang badui itu berlalu dengan sendirinya.
Suatu hari Beliau ditanya oleh seorang nenek tua, beliau dengan tekun, hangat dan penuh perhatian menjawab pertanyaannya. Nabi Muhamamd saw. juga membawa seorang anak kecil yang berstatus hamba sahaya, beliau menggandeng tanganyya mengajak berjalan-jalan.

Nabi Muhammad saw. senantiasa menjaga kehormatan seseorang, memulyakan seseorang, melaksanakan hak-hak seseorang. Nabi Muhammad saw. tidak pernah mengumpat, menjelekkan, melaknat, menyakiti, dan tidak merendahkan seseorang. Nabi Muhammad saw. ketika hendak menasehati seseorang, beliau berkata, “Kenapa suatu kaum melaksanakan ini dan itu? Artinya, beliau tidak langsung menyalah orang tersebut.Beliau bersabda, “Mukmin itu tidak mencela, melaknat dan juga tidak keras perangainya. Beliau juga bersabda,“Sesungguhnya yang paling saya cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya dengan saya kelak di hari Kiamat adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian.”

Nabi Muhamamd saw. merapikan sandalnya, menjahit bajunya, menyapu rumahnya, memeras susu kambingnya, mendahulukan sahabatnya soal makanan, beliau tidak suka dipuji. Nabi Muhamamd saw. sangat peduli terhadap fakir miskin, beliau berdiri membela orang yang terdzalimi, beliau bertandang ke orang papa, menengok orang sakit, mengantarkan jenazah, mengusap kepala anak yatim, santun terhadap perempuan, memulyakan tamu, memberi makan yang lapar, bercanda dengan anak-anak, dan menyayangi binatang.
Suatu ketika para sahabat memberi saran kepada Nabi Muhammad saw, “Tidakkah Engkau membunuh gembong kejahatan, seorang pendosa dan otak munafik, yaitu Abdullah bin Ubai bin Salul? Beliau menjawab, “Tidak, karena manusia nanti mengira bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya.”[Ulis Tofa, Lc, Nabi Muhammad, Pribadimu Sungguh Menawan,Dakwatuna.com,15/4/2008 | 08 Rabiuts Tsani 1429 H].

Sesungguhnya yang dimaksud dengan sunnah Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bukanlah hal-hal tertentu saja dalam kehidupan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam. Bukan terbatas dalam masalah ubudiyyah (shalat, zakat, shaum dan sejenisnya) saja, akan tetapi seluruh kehidupan Rasulullah adalah sunnah yang harus diikuti. Karena tidak ada satu pun ucapan dan perbuatan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam yang keliru. Seluruh segi kehidupan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam telah terbimbing dengan wahyu.Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm [53] : 3-4)

Bahkan dahulu para sahabat Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam sangat memperhatikan dan meneladani kehidupan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam hingga sampai pada masalah-masalah yang kita anggap remeh dan sepele.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Jabir Ibn Abdullah radhiyaLlahu ‘anhuSuatu hari aku diajak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ke rumahnya, kemudian beliau mengeluarkan sepotong roti. Beliau bertanya kepada istri-istrinya: "Apakah ada lauk pauk?" Mereka menjawab; 'Tidak ada, kecuali sedikit cuka. Lalu beliau bersabda: Sesungguhnya cuka adalah sebaik-baik lauk.' Jabir berkata; 'Aku menyukai cuka sejak aku mendengarnya dari Nabiyullah shallallahu 'alaihi wasallam.Dan Thalhah berkata; Aku menyukai cuka sejak aku mendengarnya dari Jabir. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya nomor3825)

SubhanaLlah... bayangkanlah...... Jabir Ibn Abdullah radhiyaLlahu ‘anhu tidak pernah menyukai cuka sebelumnya. Akan tetapi ketika ia mendengar bahwa Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam menyukai makan dengan cuka, Jabir menjadi suka dengan cuka. Sedangkan Thalhah ibn Nafi’ yang mendengarkan hadits ini dari Jabir ibn Abdullah juga adalah seseorang yang tadinya tidak menyukai makan dengan cuka. Akan tetapi setelah mendengar hadits dari Jabir ini ia jadi menyukai cuka. Jika untuk masalah yang sepele seperti ini saja para salaful ummah demikian memperhatikan sunnah Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam apa lagi dengan sunnah-sunnah lainnya yang lebih penting.

Untuk itu, kita tidak boleh memilih-milih aspek tertentu saja dalam meneladani Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam. Tidak boleh kita parsial dalam memahami dan mengamalkan sunnah Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam ini. Karena sesungguhnya, mengamalkan sunnah Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam secara utuh adalah jalan agar kita meraih jannah yang dijanjikan Allah Ta’ala.
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap umatku masuk surga selain yang enggan, " Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?" Nabi menjawab: "Siapa yang taat kepadaku (mengikuti aku) masuk surga dan siapa yang menyelisihi aku berarti ia enggan."(Diriwayatkan oleh Imam Bukhari)

Karena itu, marilah kita meneladani seluruh aspek kehidupan Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam. Kita meneladani ibadah beliau shallaLlahu alayhi wa sallam. Sebagai contoh misalnya, bagaimana Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam sangat memperhatikan shalat lima waktu, dan berjamaah di masjid dalam melaksanakannya.Hingga dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyaLlahu ‘anhu, Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam bersabda :Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya (Allah Ta’ala), sungguh aku sangat ingin untuk memerintahkan seseorang mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan seseorang untuk adzan, dan orang lain aku perintahkan untuk meng-imam-kan manusia (kaum muslimin). Kemudian aku akan pergi ke rumah para lelaki yang tidak menghadiri shalat berjama’ah dan aku bakar rumah-rumah mereka. (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari)

Demikian marahnya Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam kepada para laki-laki yang terbiasa tidak hadir shalat berjamaah di masjid, hingga Rasulullah berkeinginan untuk membakar rumah mereka. Karena itu jika memang betul kita mencintai Rasulullah shallaLlahu alayhi wa sallam, janganlah kita membuat beliau shallaLlahu alayhi wa sallam marah. Berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk shalat berjama’ah di masjid.Jangan biarkan masjid-masjid kita kosong.Jika kita tidak bisa hadir berjama’ah di masjid pada waktu siang dan sore dimana, setidaknya hadirilah shalat berjama’ah di waktu shubuh.Jangan sampai muncul benih-benih kemunafikan dalam jiwa kita karena tidak biasa hadir shalat shubuh berjama’ah.Dari Abu Hurairayrah radhiyaLlahu ‘anhu, beliau berkata, “Telah bersabda RasuluLlah shallaLlahu alayhi wa sallam, “Tidak lah ada shalat yang lebih memberatkan bagi orang-orang munafiq kecuali shalat Shubuh dan Isya’. Kalau saja mereka mengetahui (keutamaan) yang ada pada kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatangi keduanya (masjid) walaupun dengan merangkak. (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari ).[Muhammad Setiawan, Meneladani Rasulullah Seutuhnya, eramuslim.com,Rabu, 16/02/2011 10:50 WIB].

Sebagai orangtua, guru dan pemimpin harus berupaya menampilkan diri yang baik dalam seluruh sikap dan ucapan karena akan dijadikan contoh oleh semua orang sehingga jadi teladan pula dalam hidupnya, bila figure yang tampil bertentangan dengan yang sebenarnya maka rusaklah keteladanan itu. Figure yang sempurna untuk dijadikan teladan ialah Rasulullah Saw, tiada keteladan yang agung dan lengkap kecuali ketaladanan dari nabi Muhammad, yang berasal dari sumber keteladanan yaitu Allah SWT, Wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 27 Juni 2011.M/ 25 Rajab 1432.H].



Tidak ada komentar:

Posting Komentar