Rabu, 09 Desember 2015

33. Istiqamah



Salah satu sifat manusia yang dilukiskan Allah dalam Al Qur’an ialah sifat keluh kesah dan ingin cepat melihat hasil usahanya; hal ini membuat manusia merasa diburu waktu, nafasnya tersengal-sengal, langkahnya cepat namun tidak terkontrol lagi jalan yang akan ditempuh.

            Waktu memang berharga tapi harus diperhitungkan rugi laba dalam mempergunakannya, letak berharganya waktu bukan tergantung banyak hasil yang diperoleh dari hari ini sementara mengabaikan kualitas, untuk memperoleh mutu yang tinggi waktu singkat tidak mungkin, tentunya dalam tempo panjang dengan berbagai macam perbaikan disana sini serta mengurangi segala hal yang dapat menghambat.

            Manusia akan ditempa oleh waktu, lingkungan dan pendidikan yang diperolehnya selama mengontrak sebidang kehidupan di dunia ini, seorang Nabi lebih dahsyat tempaannya daripada manusia biasa, cobaan yang diterimanya akan menentukan sampai dimana mutu manusia itu.

            Dalam menghadapi segala tempaan ini, tidak sedikit manusia yang gugur dan gagal, putus asa dalam kehampaan, tidak sanggup menerimanya ibarat padi dalam satu tangkai yang memiliki beberapa butir, setelah datang berbagai bencana seperti serangan hama, angin serta banjir maka tidaklah semuanya akan jadi padi yang montok dan berisi, tentu ada juga butir yang hampa hingga tidak masuk dalam hitungan.

            Manusia dalam menyelesaikan hidup ini cendrung kepada apa yang nampak lahir saja, tidak mau menguak makna yang terkandung di balik itu, setiap yang lahir belum tentu baik bagi manusia, nampaknya baik tetapi terselip penderitaan.

Kerugian dalam perdagangan adalah hal yang tidak diinginkan manusia siapapun orangnya, tetapi dibalik itu bagi kita akan menjadikan selalu berhati-hati, tidak seenaknya dalam menggunakan modal.

            Tidak lulus dalam ujian bagi seorang pelajar adalah beban yang memusingkan namun dibalik itu akan menjadikan pelajar tadi semakin tekun dan rajin mengikuti pelajaran dimasa datang.

            Terlalu sulit bagi manusia untuk mencintai hal-hal yang tidak disukai seperti musibah, kegagalan dan lain-lainnya walaupun disebelah kejadian itu terkandung hikmah yang besar, Allah berfirman, ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” [Al Baqarah 2;216].

            Kepercayaan kepada ketentuan Allah menimbulkan keseimbangan jiwa, tidak putus asa bertemu suatu kegagalan, hidupnya selalu optimis dan tidak pula membanggakan diri karena sebuah kemujuran sebab segala sesuatu bukanlah hasil usahanya sendiri. Juga akan membawa manusia kepada peningkatan ketaqwaan bahkan segala keberuntungan maupun kegagalan dapat dijadikan sebagai ujian dari Allah, ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,”Kami telah beriman” sedangkan mereka tidak diuji lagi   ?”[Al Ankabut 29;2].

            Dalam menghadapi ujian ini harus pula terujud sikap-sikap keimanan bagi seorang muslim yaitu sesuai dengan At Taubah 9;111-112,”Sesungguhnya Allah telah memberi dari  orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka, mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh, itu telah menjadi janji yang benar dari Allah dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah lebih menepati janjinya selain Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan memelihara hukum-hukum Allah, dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu”.

            Dari ayat di atas ada beberapa sikap mukmin yang harus dimiliki manakala kita ingin menjadi seorang mukmin yang kelak meraih syurga yang dijanjikan Allah. Sikap seornag mukmin bila melakukan kesalahan atau dosa maka tidak segan-segan dan tidak menunda untuk bertaubat membersihkan dirinya karena sesuai dengan ajaran Allah dalam Ali Imran 3;133, ”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa”.

            Kehidupan seorang muslim nampak dalam semaraknya mereka melakukan ibadah kepada Allah yang merupakan sikap ketundukan atas perintah Allah, ”Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum diantara mereka, ucapan mereka ialah ”Kami mendengar dan kami patuh”, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” [An Nur 24;51].

            Dalam setiap gerak dan gerik muslim tidak pernah lepas dari pujian dan sanjungan kepada Khaliqnya, ini bertanda kesyukuran kepada Allah karena dapat mengatasi ujian hidup dengan baik,”Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” [Al Baqarah 2;152].

            Dari sikap diatas akan membawa seseorang muslim menghadapi kehidupan ini tanpa harus mengeluh dan takut karena semua itu uji coba dari Allah. Ujian itu adakalanya sengsara, ada  dengan penderitaan atau ujian yang berbentuk kesenangan, kemewahan dan keberhasilan. Nampak prilaku seorang muslim yang selalu bertaubat dikala melakukan kesalahan atau sebaliknya merasa diri suci, selalu taat beribadah dan bersyukur kepada Allah atau malah mengingkari nikmat yang telah diberikan Allah.

            Realisasi dari iman harus diwujudkan dalam merentang tali menuju hidup yang hakiki, syurga tidaklah semudah yang kita impikan, dia milik Alah bukan milik nenek moyang kita, harus diperoleh sesuai dengan persyaratan yang disediakan-Nya, ”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum nyata bagi Allah yang berjuang diantara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar”[Ali Imran 3;142].

Ketika terjadi hujan yang lebat dengan terus menerus, bendungan tersebut tidak mampu lagi menampung air yang semakin membanjir maka akhirnya bendungan Maghrib tersebut jebol dan hancur dengan menelan korban yang tidak sedikit dan negeri Saba’ hancur berantakan sebagai balasan atas kekufuran mereka, dalam surat As Saba’ Allah menerangkan”Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar yang menghancurkan segalanya dan Kami ganti kebun-kebun mereka itu dengan kebun-kebun yang ditumbuhi pohon-pohon berbuah pahit dan semacam pohon cemara dan sedikit pohon bidara”[As Saba’ 34;16-17].

Fitnah adalah ujian, tempaan dan pengkaderan yang diberikan kepada orang-orang beriman dalam rangka untuk meningkatkan kualitas imannya, sedangkan ibtila' adalah menguji atau mengetes, ujian yang datang dari Allah kepada hamba-Nya dengan kesenangan dan kesusahan. Fitnah dan ibtila' diberikan Allah kepada hamba-Nya ada dua macam yaitu keburukan dan kebaikan sebagaimana firman Allah  dalam surat Al Anbiya' 21;35"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan".

Fitnah yang berupa kesenangan seperti harta yang banyak, jabatan yang tinggi, populeritas, cantik atau tampan, luasnya ilmu dan lain-lain. Akibatnya banyak yang tidak bersyukur, merasa lebih tinggi dari orang lain, jauh dari ajaran islam dan cendrung sombong.

Fitnah yang berupa kesengsaraan seperti kemiskinan, kelaparan, kematian, ketakutan, penyiksaan, kesedihan, pengusiran, penindasan dan lain-lain, biasanya hal ini mudah dihadapi oleh siapapun dengan kesabaran;"Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar" [Al Baqarah 2;155]

Adapun cakupan fitnah itu secara individu sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi ayub, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad serta nabi-nabi yang lain. Sedangkan secara komunal seperti yang dialami ummat islam di zaman jahiliyyah, ummat islam di Moro, Bosnia, Kashmir, India, Afghanistan dan ummat islam lainnya yang mengalami penindasan oleh bangsa lain.

Segala fitnah yang datang walaupun menyakitkan tapi ada hikmah yang terjadi dibalik itu yaitu;

1.Membersihkan ummat islam dari munafiq dan musuh islam
            Dikalangan ummat islam ketika itu bahkan hari ini terlalu banyak orang-orang yang menyelusup mengaku sebagai muslim hanya sebatas lisannya saja tapi hatinya tidaklah beriman, yang sebenarnya mereka adalah orang-orang yang memusuhi islam melalui segala ucapan, sikap dan tindakannya. Dengan adanya fitnah berupa musibah, peperangan dan segala penderitaan maka Allah akan membuang orang-orang munafiq itu sehingga jelas yang tinggal adalah orang-orang yang betul-betul teguh imannya;"Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.

            Ketika seruan jihad untuk menghadapi kafir Quraisy telah diserukan maka berangkatlah 600 pasukan bersama Rasulullah, namun di  tengah perjalanan pasukan tadi terbagi menjadi dua, hampir 300 pasukan berbelot ke Madinah di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay karena mereka tidak mau berjihad, sedangkan yang bersama Rasulullah adalah pasukan yang tersaring tetap berangkat jihad.

2.Menghapus dosa-dosa muslimin
            Musibah, ujian dan fitnah yang datang dari Allah sebenarnya juga untuk menghapus dosa-dosa muslimin di dunia ini sehingga ketika di akherat tidak lagi menerima azab dari Allah, artinya sebagai koreksi bagi diri kita, ketika ada ujian dan fitnah sebaiknya mengaca diri, dosa apa yang sudah saya perbuat, semoga dengan musibah itu akan dihapuskan dosa-dosa yang lalu, Rasulullah bersabda,"Tiada satu musibahpun yang menimba seseorang muslim dari penyakit, penderitaan, kesedihan, kesulitan, sampai-sampai  duri yang terinjak kakinya, kecuali Allah akan menghapus dengan musibah tadi, kesalahan-kesalahannya" [Mutafaqun alaih]

            Ketika sedang berlansung qishash terhadap wanita yang mengaku telah berbuat zina maka dia dirajam, ada sebuah percikan darah yang menempel di baju seseorang, orang itu berkata dengan kesal,"Ih wanita pezina", Rasul menyatakan kepadanya,"Jangan begitu, hukuman yang sedang berlansung ini adalah untuk menghapus dosa wanita itu dan dia tidak pezina lagi".

3.Bukti cinta Allah kepada hamba-Nya
             Salah satu ujud cinta Allah kepada hamba-Nya dalah memberikan ujian dan cobaan kepadnya sebagaimana para Nabi dan Rasul adalah orang-orang yang selalu diberikan ujian-ujian yang tidak mampu dipikul oleh sembarang orang, ujian untuk para Nabi dan Rasul bukan karena kebencian tapi karena kecintaan Allah kepada mereka, contoh Nabi Muhammad Saw, sejak dalam kandungan sudah menjadi yatim karena ayahnya Abdullah telah meninggal ketika dia masih berusia 6 bulan dalam kandungan ibunya, ketika berusia enam tahun sang ibu Aminahpun meninggal saat Muhamma dibawa menziarahi kuburan ayahnya.  Waktu masih kanak-kanak saat diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib diapun akhirnya diasuh oleh pamannya karena sang kakek meninggal dunia pula. Dalam asuhan paman beliaupun tidaklah hidup bersenang-senang tapi harus bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup, dia biasa hidup susah, Muhammad pernah menggembalakan kambing, menjual air dan ikut berdagang dengan Abu Thalib.
                                                                           
            Apalagi ketika dia menjadi Rasul terlalu banyak ujian, cobaan dan tempaan hidup yang diberikan Allah kepadanya dan hal itu merupakan pakaiannya sehari-hari sehingga beliaupun bersabda,"Bila Allah mencintai hamba-Nya maka dia mendatangkan musibah kepada hamba itu".

Sikap mukmin terhadap ujian
         Selama kita masih di dunia ini maka ujian akan selalu datang sesusai dengan kapasitas iman kita masing-masing, tapi bagaimana kita selalu berharap ujian itu kita mampu untuk memikulnya;"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."[Al Baqarah 2;286]

         Dalam menerima ujian ada tiga sikap yang akan muncul dari pribadi seorang muslim yaitu;

            1.Bersyukur
            Seorang muslim bila mendapat ujian dia harus bersyukur apalagi ujian itu ketika berjihad, berda'wah dan beribadah karena disini besar peluang pahala dan syurga untuknya sehingga tidak boleh kesal, menggerutu, putus asa dan pesimis karena diri kita sebenarnya sudah dibeli Allah dengan harga yang luar biasa;   "Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar" [At Taubah 9;111].

            2.Sabar
           Segala ujian yang dihadapkan Allah kepada kita harus diterima dengan sabar, karena memang pribadi muslim itu sangat ajaib kata Rasul, bila ada ujian dia bersabar dan itu baik baginya dan bila ada ujian kesenangan dia bersyukur dan itupun baik baginya ; " Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar" [Ali Imran 3;142].

            3.Optimis
           Seorang muslim harus optimis bahwa ujian yang diterimanya mendatangkan perubahan kebaikan dimasa yang akan datang;"Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), Dan akan kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang Se- lalu mereka khawatirkan dari mereka itu"[Al Qashash 28;5-6].

Karena kita sebagai manusia, sebagai hamba Allah dan tinggal di bumi Allah pula maka tidak akan lepas dari ujian, fitnah dan cobaan yang akan datang, baik ujian itu karena kesalahan kita sendiri atapun berupa peningkatan iman, tiada jalan lain selain tetap Itiqamahlah seperti karang, yang dihempas oleh ombak, dihantam oleh cuaca panas dan dingin, diterjang oleh angin dan badai, tapi karang tetap kokoh bahkan semakin kokoh.

Suatu hari Sufyan bin Abdullah [Abu Ammah] minta fatwa kepada Rasulullah sebagai pegangan hidupnya di dunia, maka Rasulullah bersabda, "Katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian berpegang teguhlah atas pendirian itu"

Buya Hamka berpendapat,"Istiqomahlah laksana batu karang di ujung pulau, menerima hempasan segala ombak dan gelombang yang menggulung, setiap ombak dan gelombang datang, setiap itu pula menambah kekokohannya. Istiqamahlah, laksana sebatang pohon beringin, menerima segala angin sepoi dan angin badai, kadangkala berderak derik laksana akan runtuh, terhoyong ke kiri dan ke kanan, demi angin berhenti dan alam tenang, dia tegak pula kembali dan uratnya bertambah terhunjam ke petala bumi............"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu"[Fushilat 41;30]

Untuk sebuah pengakuan keimanan maka banyak orang yang bisa tapi untuk menjaga iman agar tetap kokoh dan bersih dari nilai-nilai yang mencemarkan ketauhidan tidak banyak orang yang sanggup. Orang yang istiqomah haus jauh dari sifat syirik, karena syirik itu dapat merusak iman dan merupakan kesesatan ; "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya" [An Nisa' 4;116]

Sikap muslim yang istiqmah dalam kehidupan ini  menerima islam secara penuh dalam sepuruh asfek kehidupan. Selayaknya seorang muslim itu menerima ajaran islam secara kafah yaitu sepenuhnya agar keislaman tadi membentuk kepribadian yang utuh pula dengan puncak keimanan yaitu taqwa;''Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu" [Al Baqarah 2;208]

            Dia memahami islam bukan sebatas masjid dan mimbar, islam bukan hanya bicara syurga dan neraka tapi juga difahami bahwa islam mencakup seluruh asfek kehidupan. Kelompok ini memiliki beberapa sifat yaitu;

a.Konsisten dengan Islam
Bagaimanapun kondisi yang dialami, sakit atau senang, bahagia atau sengsara bahkan dikala diuji dengan segala yang melenakan hidupnya agar berpaling dari islam maka semakin kokoh keimanannya hingga ajal menjemputnya kelak. Kekonsistenannya terhadap islam nampak dalam kehidupan sehari-hari melalui pribadi, keluarga dan bermasyarakat;" Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)" [Al Ahzab 33;23]

b.Berjiwa stabil dalam segala kondisi
Dengan keimanan yang  dimiliki menjamin jiwa orang yang beriman akan stabil dalam kondisi apapun walaupun kondisi itu akan meneteskan air mata atau akan menggenangkan darah maka semua itu dihadapi dengan jiwa yang stabil, Rasulullah bersabda,"Sungguh ajaib sikap orang-orang mukmin itu, kalau diberi nikmat dia bersyukur dan itu lebih baik baginya, dan kalau ditimpa musibah diapun bersabar dan itu lebih baik baginya"

Ibnu Taimiyah saat berhadapan dengan pemerintahan yang zhalim yang akan mencelakakan dirinya maka dia bermunajad kepada Allah yang menggambarkan kestabilan jiwanya menghadapio segala teror itu, "Ya Allah seandainya mereka mencampakkan aku maka waktu itu adalah saat yang tepat bagiku untuk bertamasa bersamaMu, kalau mereka mengurungku maka saat itu adalah waktu yang tepat bagiku untuk bersunyi diri bersamaMu, walaupun sekiranya mereka menggantungku maka itu adalah waktu yang tepat agar aku bisa cepat bertemu dengan-Mu".

c.Santun kepada mukmin dan tegas kepada kafir                       
            Watak orang yang akan menggantikan posisi mukmin yang murtad adalah orang yang lembah lembut terhadap orang-orang mukmin yang terpupuk dalam kehidupan ukhuwah islamiyyah.
             Sikap lemah lembut yang dimiliki orang-orang beriman tidak berarti  menjadikan mereka lemah terhadap orang kafir, kekafiran adalah bentuk keingkaran kepada Allah sehingga mereka tetap bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir karena sudah jelas batas keimanan dan kekafiran, kekafiran tidak bisa dilawan dengan lembah lembut, harus dihadapi dengan ketegasan dan sikap yang keras sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah;"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui".[Al Maidah 5;54]

d.Tidak pernah gentar bagaimanapun hebatnya musuh
Disinilah letak kemenangan yang dialami oleh ummat terdahulu, mereka tidak pernah merasa minder atau rendah diri berhadapan dengan orang-orang kafir baik dalam peperangan atau dalam kehidupan sehari-hari walaupun orang-orang kafir menampakkan fasilitas perang dan perlengkapan hidup yang wah dan menggiurkan.

Ummat ini punya harga diri yang lebih tinggi dari ummat lain karena keimanan dan ketaqwaanya dengan semboyan Izkariman aumut syahidan [hidup mulia atau mati syahid] artinya ummat itu siap untuk hidup mulia dengan segala kesuksesannya dan bila harus menemui kematian maka kematian yang berharga yaitu sebagai syuhada'."(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia Telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, Karena itu takutlah kepada mereka", Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung".[Ali Imran 3;173]

Kesabaran yang diiringi dengan istiqamah dalam menerima tempaan, ujian dan tantangan  hidup ini mutlak diperlukan, betapa tidak, angin yang kencang, petir bergelegar, bah yang dahsyat setiap saat akan menguji butir padi yang terdapat pada tangkainya, setiap insan akan menghadapi ujian dengan berbagai bentuknya untuk mengetahui kualitas seseorang, bukankah emas dapat dikatakan emas setelah mengalami ujian dan tempaan, Wallahu a'lam [Cubadak Solok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29 Agustus 2010]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar