Secara kelompok besar, ajaran agama Islam dibagi
menjadi tiga yaitu Aqidah yang mencakup rukun iman, Syari’ah yang meliputi
segala hukum agama sampai kepada masalah ibadah, ibadah secara sempit terangkum
dalam rukun Islam, sedangkan secara luas yaitu segala aktivitas manusia yang
dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari tanpa melanggar garis aturan yang
telah ditetapkan Allah, sedangkan kelompok ketiga yaitu Akhlaq atau Muamalah;
baik akhlak kepada Allah maupun kepada manusia bahkan kepada lingkungan
sekitarnya, hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Dalam melaksanakan
kerangka ajaran Islam yang kedua yaitu Syari’ah diantaranya masalah ibadah,
secara luas atau ibadah yang sempit, diharapkan ialah ketulusan dalam
melaksanakannya. Amal yang dilaksanakan dengan ikhlas, semata-mata mengharapkan
ridha Allah, tetapi walaupun amal tersebut besar belum tentu membuahkan hasil
yang besar karena bukan didorong oleh niat yang ikhlas.
Ulama Salaf [ulama pada
masa dahulu] pernah memberikan suatu pendapat yang berhubungan dengan niat
dalam beramal, ”Kerapkali amal yang kecil
menjadi besar karena niatnya, dan seringpula amal yang besar menjadi kecil
karena salah niatnya”.
Berhijrah dari Mekkah ke
Madinah pada masa Rasulullah merupakan amal yang besar, tiada balasannya selain
syurga, nilainya akan kecil bila dilaksanakan bukan karena Allah, dia pergi
hanya mengikuti seorang wanita yang akan dinikahinya. Sahabat menanyakan kepada Rasul bagaimana pahalanya, kemudian Rasul
menjawab, ”Sesungguhnya amal itu terletak pada niatnya, barangsiapa yang
berhijrah karena dunia maka dia akan memperoleh dunia itu dan barangsiapa
berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka dia akan memperoleh pahala yang baik
dari Allah”.
Ibadah yang ikhlas akan
tertanam pada setiap jiwa mereka yang beriman bila mereka telah mampu mengkaji
dan menghayati kerangka ajaran Islam yang kesatu yaitu Aqidah. Bila aqidah
seseorang telah mapan dan kuat, maka jangankan ikhlas dalam beribadah bahkan
mengorbankan apa saja yang dituntut agama dengan senang hati akan
dilaksanakannya. Jangankan mengorbankan waktu shalat yang hanya sekian menit,
bahkan harta serta jiwanya dia rela memberikan kepada Allah.
Lukmanul Hakim seorang pendidik yang namannya terangkum indah
dalam Al Qur’an, tidak buru-buru mengajarkan shalat kepada anaknya. Dia lebih
mengutamakan penanaman aqidah, setelah keimanan ini mantap barulah meletakkan
fungsi ibadah pada urutan berikutnya, jelasnya kalau iman seseorang sudah
mantap maka masalah ibadah, masalah shalat, berbuat baik kepada orangtua tidak
perlu lagi dipaksakan.
ikhlas adalah memusatkan
pandangan [perhatian] manusia agar
senantiasa berkonsentrasi kepada Allah. Setiap mukmin senantiasa berkonsentrasi
kepada Allah. Setiap mukmin senantiasa melakukan perjanjian ikhlas dengan
Rabb-nya, sebagaimana sering kita baca beberapa ayat di dalam shalat, ’”Sesungguhnhya
aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan
cendrung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang
menserikatkan Allah” [Al An’am 6;79], ”Sesungguhnya
shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata”.
Ibadah yang ikhlaslah yang
diperhitungkan Allah walaupun sedikit serta tidak disaksikan orang lain; ”Sekiranya kamu terangkan apa yang ada di
hatikmu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah akan memperhitungkan kamu juga”[Al
Baqarah 2;284].
Tidak ada artinya bila
ibadah tersebut disandarkan kepada yang lain, disamping beribadah kepada Allah
juga kepada makhluk, masih mencari tandingan-tandingan selain Allah, seperti
yang dilakukan ummat islam di lapisan masyarakat, mendatangi kuburan dan dan
dukun-dukun untuk memohon do’a dan berkah, percaya dengan batu-batu dan keris
dengan segala keramatnya.
Puasa dilaksanakan dengan baik ketika mertua ada di
rumah, tentang amalan yang dikerjakan dengan riya’, Allah berfirman; ”Jika kamu mensekutukan Allah niscaya akan
hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”[Az
Zumar 39;65].
”Dan janganlah kamu hinakan aku dihari mereka dibangkitkan, yaitu
ketika harta dan anak-anak tiada berguna, kecuali mereka yang menghadap kepada
Allah dengan hati yang bersih”[Asy Syu’ara 26;87,89].
Keikhlasan hati tidak akan
tercermin kecuali pada orang yang amat dalam mahabbah [kecintaannya] kepada
Allah, dan perhatiannya lebih terfokus pada akherat, tanpa tertempel di hatinya
tujuan dunia. Orang seperti ini bila ia makan, minum, bekerja, bahkan buang
hajat sekalipun akan tetap ikhlas. Sedangkan orang yang tidak mencintai Allah
dan meyakini akherat maka pintu ikhlas tertutup baginya.
Fudhail bin Iyadh merumuskan amal yaitu,”
Meninggalkan amal karena manusia disebut ria, beramal karena manusia disebut
syirik”.
Dalam sebuah hadits,
seorang lelaki datang kepada Rasul tentang melakukan amal secara sembunyi-sembunyi
karena ikhlas kemudian orang lain melihatnya, orang yang melihat tadi
mencontohnya, Nabi menerangkan,”Orang yang beramal itu mendapat dua pahala,
pahala karena disembunyikan [bukan pamer] dan pahala karena terbuka [agar
dicontoh orang].
Pada hari kiamat nanti
akan dihadapkan dalam suatu persidangan Maha Adil yaitu tiga orang tokoh yaitu;
pejuang, cendikiawan dan hartawan. Kelompok ini ditanya tentang perbuatannya
oleh Allah dengan segala kebenarab sesuai dengan niat dan hati nurani
masing-masing;
Kaum pejuang berkata bahwa
mereka berjuang dan bertempur pada jalan
Allah sehingga tewas di medan jihad, Allah menghardik mereka dan memasukkan ke
neraka karena mereka berjuang bukan karena Allah dengan mempertahankan agama
tapi hanya mengharapkan supaya disebut pahlawan,diberi bintang jasa dan
dimakamkan di pekuburan para pahlawan.
Kaum cendikiawan
dihadapkan pula di pengadilan dengan pengakuan bahwa dia menuntut ilmu lalu
mengajarkan ilmunya kepada orang lain dan tidak lupa membaca dan mempelajari Al
Qur’an, semua itu dilakukan mencari ridha Allah. Tapi Allah tidak menerima
amalnya , sebab dia belajar dan mengajar agar disebut dan digelari orang
pintar, selalu membaca AlQur’an agar disebut sebagai qari dan qari’ah, maka
tempat merekapun dalam neraka.
Kelompok ketiga yaitu
hartawan juga ditempatkan ke neraka karena memanfkahkan hartanya supaya disebut
dermawan padahal habis sudah dana yang dia kumpulkan, tapi sia-sia karena
berbuat tidak ikhlas.
Sungguh sangat kasihan orang yang berbuat demikian,
ibarat fatamorgana, disangka pahala yang telah banyak dikumpulkan tapi kosong
hasilnya, atau seperti debu yang menempel pada batu licin yang hitam, saat
dihembus angin gugur semua nya, disangka pahala sudah banyak padahal hangus
ditelan oleh hati yang tidak suci, disangka telah berbuat kebajikan yang banyak
padahal membawa ke neraka, untuk itulah niat, hati harus suci dari segala karat
yang dapat mendatangkan kerugian, Allah berfirman dalam surat Al Baiyyinah 98;5
”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan
supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah
agama yang lurus.”
Amal yang mereka perbuat
di dunia dikira akan mendapat pahala tetapi malah sebaliknya, ibarat
fatamorgana bagi musafir di padang pasir
yang luas, rasa haus dan letihnya membayangi sebuah oase yang penuh dengan air
tapi ketika didekati oase tadi hilang
tak berujud, atau seperti debu yang menempel di batu hitam yang licin, ketika
hujan datang maka debu-debu tadi luntur ke bumi tanpa meninggalkan bekas, ini
ibarat bagi orang-orang yang tidak ikhlas dalam berbuat; ”Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya
dipagi dan senja hari dengan mengharapkan keridhaan-Nya” [Al Kahfi 18;28].
Rasulullah bersabda, ”Berhati-hatilah terhadap amal yang kecil,
siapa tahu ketika engkau melakukan amal kecil itu lansung dicatat sebagai
penghuni syurga selama-lamanya”. Amal kecil yang ikhlas lebih baik dan menjaminnya
untuk diterima Allah daripada yang besar
tapi tidak ikhlas, idealnya adalah amal besar tetapi ikhlas.
Seorang sufi wanita yang terkenal bernama Rabi’ah Al Adawiyah dalam
melaksanakan ibadah kepada Allah karena cintanya, sebagaimana yang tergambar
dalam sebuah munajadnya kepada Allah, ”Ya
Allah sekiranya aku beribadah kepada-Mu karena takut kepada neraka, maka
campakkanlah aku dalam jahanam. Seandainya aku beribadah kepadamu karena
mengharapkan syurga, maka jauhkanlah aku daripadanya, akan tetapi bila aku
beribadah kepada-Mu karena cinta maka janganlah ya Ilahi Engkau sia-siakan
aku”.
Salah satu sebab Allah
tidak mau memandang manusia pada hari kiamat ialah mereka yang beramal, berbuat
kebaikan kemudian kebaikan tersebut diungkit-ungkit kembali. Kalau dia tulus
berbuat baik kepada manusia maka dia tidak akan mengungkit – ungkit kebaikan
apa yang pernah diberikannya kepada orang lain, walaupun tidak diungkit-ungkit
maka kebaikan itu akan tetap terkenang oleh penerimanya. Kebaikan akan gugur
dan sia-sia karena diungkit kembali baik dengan ucapan maupun tindakan seperti, ”Anda tidak akan sejaya ini kalau tidak
karena bantuan yang saya berikan, kamu tidak akan jadi kaya kalau bukan karena
saya, dia itu sukses karena sumbangan dan bantuan baik kita” dan lain
sebagainya ucapan yang dilontarkan.
Semua amal apa saja yang
kita lakukan, kecil apalagi besar membutuhkan konsentrasi keikhlasan, semua
kerjaan harus disandarkan kepada Allah, seperti kita dianjurkan membela negara
dari segala bentuk penjajahan tapi semua itu dimotivasi karena Allah.
Penjajahan adalah suatu keadaan yang sangat menyedihkan,
tiada lain yang terasa selain penderitaan, keterbelakangan, kebodohan serta
derita lainnya yang sulit dilukiskan sehingga mengusir penjajah adalah suatu
kewajiban setiap warga negara dengan segala daya dan upaya. Sebagaimana gerakan
spontan dari pahlawan islam dalam memperjuangkan Indonesia agar terlepas dari
belenggu penjajah.
Sekalipun para pejuang
Indonesia itu mengalami derita dan pahit yang dirasakan, namun pada akhirnya
karena firman Allah dalam surat Al Baqarah 2;216 selalu mendampingi setiap
gerak langkah perjuangan yang berbunyi, ”Telah
diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu berat bagi kamu, mungkin kamu
membenci sesuatu padahal itu baik buatmu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu
padahal itu berabahaya bagi kamu”.
Ummat islam tidak boleh
mencari musuh, tetapi tidak boleh lari darii kejaran musuh. Jika musuh tiba
dihadapan haram melarikan diri, tidak boleh menjadi pengecut demi tegaknya
islam dan jayanya kaum muslimin, secara serempak musuh harus diserang
bersama-sama dan harus diusir pulang ke negeri asal penjajah.
Peperangan memang suatu
hal yang sangat dibenci, sesuatu hal yang sangat memuakkan, suatu hal yang sangat
menjemukan, karena harus menelan korban jiwa dan raga. Namun ada kalanya akan
merasakan kenikmatan bagi siapa saja yang terjun di dalamnya. Dan ada kalanya
diantara mereka lari dari medan pertempuran, itulah suatu perbuatan yang sangat
tercela dan membahayakan.
Kehadiran penjajah pada
suatu bumi penjajahan bukan sekedar mengeruk keuntunga materi yang terdapat
didalamnya tapi lebih dari itu bahkan menghancurkan peradaban bangsa yang
dijajahnya, baik mereka kapitalis, sosialis, komunis, salibis dan zionis.
Tradisi negara-negara
komunis yang akan menaklukkan bangsa lain, adalah dengan menghancurkan akhlak
atau moral bangsa yang bersangkutan, hal ini dijalankan bagi usaha untuk
merebut kekuasaan oleh kelompok komunis terahadap pemerintahan setempat dengan
jalan mematangkan dan mengeruhkan situasi dahulu. Kaum komunis akan
memanfaatkan segala ketakstabilan masyarakat dan negara, disamping pura-pura
mempertahankan status quo, sementara dengan jalan parlemen mereka berusaha
menjalankan brain drain terhadap idiologi bangsa setempat, dan juga dengan cara
menghancurkan moral bangsa. Maka mereka sengaja merusak moral bangsa dengan
pornoisme, ikut melegalkan segala yang berbau seks, perjudian, narkoba dan
sebagainya serta segala macam kenakalan remaja.
Bila semua itu telah
tercapai maka terjadilah erosi idiologi asli bangsa setempat. Dan inilah
kesempatan yang paling baik untuk mengembangkan ajaran komunis, karena bilamana
moral bangsa telah hancur, maka lemahlah pertahanan bangsa itu, karena moral
bangsa itu termasuk ketahanan nasionall bangsa tersebut.
Pada abad ke 19 ketika
Mesir menjadi korban dari penjajahan Napleon, yang kemudian juga disusul oleh
Turki, masuknya Napoleon ke Turki dan Mesir, adalah awal usaha untuk melakukan
pembaratan terhadap dunia Islam. Selama Perancis mendiami dan menjajah Mesir,
terus menerus mencekoki masyarakatnya dengan faham sekuler yang amat merusak
aqidah islam. Berapa pemikir [intelektual] melakukan kontak dengan pihak barat.
Sehingga mereka termakan oleh budaya sekuler itu, seperti ilmuan Abdurrahman
dan Syaikh Hasan Attar, yang sudah terpengaruh idiologi sekuler itu,
menganjurkan untuk memisahkan Mesir dari Khilafah Osmaniyyah. Sungguh itu
merupakan pengkhianatan terhadap Islam
yang tidak terhingga. Sampai Perancis melakukan perang melawan kekhalifahan
Osmaniyyah, sama seperti dilakukan orang-orang anti Islam, yaitu Charlemagne
yang juga merupakan penjajah.
Mengangkat martabat dan
harkat bangsa di mata dunia apalagi dari tindasan penjajah bangsa lain, baik
penjajah fisik, ekonomi, politik, budaya dan penjajahan idiologi merupakan
kewajiban setiap warga negara, perbuatan ini disebut dengan jihad fisabilillah,
kalau perjuangan membela bangsa dan negara dilandasi ridha Allah, Allah
berfirman dalam surat An Nisa’ 4;76,
”Orang-orang yang beriman, berperang dijalan Allah, dan orang-orang yang kafir
berperang dijalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaithan itu,
karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah”.
Jika seseorang
menginfaqkan rezeki yang diperolehnya, ia mengharapkan timbal baliknya, baik
dari segi kehormatan atau materi di alam fana, maka hal itu bukan ”Fisabilillah” namun bila anda berbuat
kebaikan terhadap fakir miskin dengan mengharapkan keridhaan Allah, jangan
disangsikan lagi pekerjaan anda itu mesti akan bernilai fisabilillah. Dengan
demikian fisabilillah adalah setiap pekerjaan dan cita-cita anak manusia yang
ikhlas dijalankan demi keselamatan dan kesejahteraan sosial dengan mengharapkan
ridha Allah tanpa disertai oleh rasa hawa nafsu dan syahwat.
Silahkan membela
kepentingan bangsa dan untuk menegakkan negara berdaulat dengan segala kekuatan dan daya upaya melalui profesi,
prestasi tapi semata-mata karena Allah, tidak dibungkus dengan maksud lain.
Cinta kepada negara dan bangsa wajar dan boleh saja tapi terlalu cinta kepada
bangsa dan negara tidak dibenarkan dalam islam, karena bagi ummat Islam tanah
ummat Islam bukan Arab atau Indonesia saja, dimana ada ummat Islam maka
disanalah negeri Islam. Tentu maju dan mundurnya menjadi tanggungjawab seluruh
ummat Islam yang ada di dunia i ni. Tanah Islam jauh membentang, penderitaan
yang dialami ummat Islam Moro,
Afghanistan, Chechnya, Bosnia, Kasymir, Dagestan, Ambon, Aceh sejak dari Maroko
sampai Merauke, dari India sampai Palestina merupakan masalah ummat Islam,
walaupun terletak dalam negeri suatu bangsa, tetapi tanggungjawabnya meliputi
seluruh ummat Islam, Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa
yang tidak memperhatikan ummat Islam berarti dia bukanlah ummatku”.
Tentang perjuangan membela
negara dan bangsa sesuai kemampuan yang ada dilandasi dari mencari ridha Allah
agar kalimat Allah tegak di negara itu, untuk itu semua perlu adanya pembinaan
pribadi sebagaimana kata Ustadz Musythafa Mashur, ”Tegakkanlah Islam itu di dirimu
niscaya dia akan tegak di negaramu”.
Seorang sahabat bertanya
kepada Rasul, bagaimana bila ada orang yang berjuang dan membela agama Allah
karena kegagahannya, mengharapkan ghanimah ? maka Rasulullah mengatakan bahwa
pahalanya tidak akan diperoleh, tapi seluruh aktivitas apa saja dalam rangka
mencari ridha Allah, sesuai dengan ghayah [tujuan], manhaj [sistim] yang
diajarkan Allah dan Rasul-Nya maka dia akan bernilai ibadah dan mendapat pahala
dari-Nya. Jabatan diraih dengan KKN jelas sebuah kecurangan, walaupun akhirnya
diperoleh dan jaya juga maka dihadapan Allah tidak bernilai, senantiasalah kita
meraih segala kejayaan dengan cara yang dituntunkan sistim Islam.
Aqidah atau keyakinan Islam memberi pengaruh
kepada hidup pemiliknya. Demikian pula sikap ikhlas yang bersemayam di hati
mukmin memberi manfaat bagi dirinya dalam mengarungi lautan kehidupan. Manfaat
ikhlas itu antara lain:
1. Ikhlas adalah syarat
utama diterimanya amal seseorang muslim di hadapan Allah, tanpa ikhlas maka
amal akan ditolah dan sia-sia. Seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan
berkata, ”Bagaimana pendapat tuan akan
seorang laki-laki yang tampil ke medan laga untuk berperang mencari harta
rampasan dan karena popularitasnya ? Rasulullah menjawab, ”Ia tidak memperoleh
apa-apa” laki-laki itupun penasaran dan bertanya sampai tiga kali, Rasul tetap
menjawab, ”Ia tidak memperoleh apa-apa” kemudian beliau bersabda, ”Allah tidak
menerima suatu amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas demi mencari
keridhaan-Nya semata’ [HR. Abu Daud].
2. Ikhlas itu salah satu
syarat seseorang untuk terjauh dar godaan syaitan, surat Al Hijr 15;39-40 Allah
berfirman, ”Iblis berkata, ”Ya Rabbku,
sebab Engkau telah memutuskan aku sesat, pasti aku akan jadikan mereka
memandang baik perbuatan maksiat dimuka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan
mereka semua, kecuali hamba-hamba Engkau yang Mukhlis [ikhlas] diantara
mereka”.
3. Dengan sikap ikhlas
seorang muslim akan merasa tentram di dunia, tanpa keraguan dan mencapai
kebahagiaan hakiki, dalam surat Al An’am ayat
82 Allah berfirman, ”Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman [syirik]
mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itulah
orang-orang yang mendapatkan petunjuk”.
4. Mereka yang hidupnya
dipenuhi dengan keikhlasan akan diselamatkan dari neraka jahanam dan akan
menghuni syurga jannatun na’im, sebagaimana dijelaskan Allah dalam ayat
berikut, ”Dan kelak akan dijauhkan orang
yang paling taqwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah
untuk membersihkannya, padahal tidak seorangpun memberikan suatu nikmat
kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi dia memberikan itu semata-mata karena
mencari keridhaan Rabbnya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat
kepuasan” [Al Lail 92;17-21].
Alangkah ruginya kita
dalam hidup ini dengan amal yang banyak sebagai bekal di akherat, negeri yang
sangat dinanti-nantikan oleh orang yang beriman, akan tetapi amal tersebut
tidak akan pernah kita dapati karena dilakukan bukan karena Allah, padahal
dalam beramal Rasulullah telah memberikan suatu pedoman, laksanakan dengan
ikhlas hanya mengharapkan ridha Allah, wallahu a'lam [Cubadak Solok, 14
Ramadhan 1431.H/ 24 Agustus 2010.M]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar