Rabu, 09 Desember 2015

30. Ikhlas



Secara kelompok besar, ajaran agama Islam dibagi menjadi tiga yaitu Aqidah yang mencakup rukun iman, Syari’ah yang meliputi segala hukum agama sampai kepada masalah ibadah, ibadah secara sempit terangkum dalam rukun Islam, sedangkan secara luas yaitu segala aktivitas manusia yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari tanpa melanggar garis aturan yang telah ditetapkan Allah, sedangkan kelompok ketiga yaitu Akhlaq atau Muamalah; baik akhlak kepada Allah maupun kepada manusia bahkan kepada lingkungan sekitarnya, hewan dan tumbuh-tumbuhan.

            Dalam melaksanakan kerangka ajaran Islam yang kedua yaitu Syari’ah diantaranya masalah ibadah, secara luas atau ibadah yang sempit, diharapkan ialah ketulusan dalam melaksanakannya. Amal yang dilaksanakan dengan ikhlas, semata-mata mengharapkan ridha Allah, tetapi walaupun amal tersebut besar belum tentu membuahkan hasil yang besar karena bukan didorong oleh niat yang ikhlas.

            Ulama Salaf [ulama pada masa dahulu] pernah memberikan suatu pendapat yang berhubungan dengan niat dalam beramal, ”Kerapkali amal yang kecil menjadi besar karena niatnya, dan seringpula amal yang besar menjadi kecil karena salah niatnya”.

            Berhijrah dari Mekkah ke Madinah pada masa Rasulullah merupakan amal yang besar, tiada balasannya selain syurga, nilainya akan kecil bila dilaksanakan bukan karena Allah, dia pergi hanya mengikuti seorang wanita yang akan dinikahinya. Sahabat menanyakan kepada Rasul bagaimana pahalanya, kemudian Rasul menjawab, ”Sesungguhnya amal itu terletak pada niatnya, barangsiapa yang berhijrah karena dunia maka dia akan memperoleh dunia itu dan barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka dia akan memperoleh pahala yang baik dari Allah”.

            Ibadah yang ikhlas akan tertanam pada setiap jiwa mereka yang beriman bila mereka telah mampu mengkaji dan menghayati kerangka ajaran Islam yang kesatu yaitu Aqidah. Bila aqidah seseorang telah mapan dan kuat, maka jangankan ikhlas dalam beribadah bahkan mengorbankan apa saja yang dituntut agama dengan senang hati akan dilaksanakannya. Jangankan mengorbankan waktu shalat yang hanya sekian menit, bahkan harta serta jiwanya dia rela memberikan kepada Allah.

            Lukmanul Hakim seorang pendidik yang namannya terangkum indah dalam Al Qur’an, tidak buru-buru mengajarkan shalat kepada anaknya. Dia lebih mengutamakan penanaman aqidah, setelah keimanan ini mantap barulah meletakkan fungsi ibadah pada urutan berikutnya, jelasnya kalau iman seseorang sudah mantap maka masalah ibadah, masalah shalat, berbuat baik kepada orangtua tidak perlu lagi dipaksakan.

            ikhlas adalah memusatkan pandangan [perhatian]  manusia agar senantiasa berkonsentrasi kepada Allah. Setiap mukmin senantiasa berkonsentrasi kepada Allah. Setiap mukmin senantiasa melakukan perjanjian ikhlas dengan Rabb-nya, sebagaimana sering kita baca beberapa ayat di dalam shalat,  ’”Sesungguhnhya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cendrung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menserikatkan Allah” [Al An’am 6;79], ”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata”.

            Ibadah yang ikhlaslah yang diperhitungkan Allah walaupun sedikit serta tidak disaksikan orang lain;  ”Sekiranya kamu terangkan apa yang ada di hatikmu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah akan memperhitungkan kamu juga”[Al Baqarah 2;284]. 

            Tidak ada artinya bila ibadah tersebut disandarkan kepada yang lain, disamping beribadah kepada Allah juga kepada makhluk, masih mencari tandingan-tandingan selain Allah, seperti yang dilakukan ummat islam di lapisan masyarakat, mendatangi kuburan dan dan dukun-dukun untuk memohon do’a dan berkah, percaya dengan batu-batu dan keris dengan segala keramatnya.

Puasa dilaksanakan dengan baik ketika mertua ada di rumah, tentang amalan yang dikerjakan dengan riya’, Allah berfirman; ”Jika kamu mensekutukan Allah niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”[Az Zumar 39;65].

            ”Dan janganlah kamu hinakan aku dihari mereka dibangkitkan, yaitu ketika harta dan anak-anak tiada berguna, kecuali mereka yang menghadap kepada Allah dengan hati yang bersih”[Asy Syu’ara 26;87,89].

            Keikhlasan hati tidak akan tercermin kecuali pada orang yang amat dalam mahabbah [kecintaannya] kepada Allah, dan perhatiannya lebih terfokus pada akherat, tanpa tertempel di hatinya tujuan dunia. Orang seperti ini bila ia makan, minum, bekerja, bahkan buang hajat sekalipun akan tetap ikhlas. Sedangkan orang yang tidak mencintai Allah dan meyakini akherat maka pintu ikhlas tertutup baginya.
Fudhail bin Iyadh merumuskan amal yaitu,” Meninggalkan amal karena manusia disebut ria, beramal karena manusia disebut syirik”.

            Dalam sebuah hadits, seorang lelaki datang kepada Rasul tentang melakukan amal secara sembunyi-sembunyi karena ikhlas kemudian orang lain melihatnya, orang yang melihat tadi mencontohnya, Nabi menerangkan,”Orang yang beramal itu mendapat dua pahala, pahala karena disembunyikan [bukan pamer] dan pahala karena terbuka [agar dicontoh orang].

            Pada hari kiamat nanti akan dihadapkan dalam suatu persidangan Maha Adil yaitu tiga orang tokoh yaitu; pejuang, cendikiawan dan hartawan. Kelompok ini ditanya tentang perbuatannya oleh Allah dengan segala kebenarab sesuai dengan niat dan hati nurani masing-masing;

            Kaum pejuang berkata bahwa mereka berjuang dan bertempur  pada jalan Allah sehingga tewas di medan jihad, Allah menghardik mereka dan memasukkan ke neraka karena mereka berjuang bukan karena Allah dengan mempertahankan agama tapi hanya mengharapkan supaya disebut pahlawan,diberi bintang jasa dan dimakamkan di pekuburan para pahlawan.

            Kaum cendikiawan dihadapkan pula di pengadilan dengan pengakuan bahwa dia menuntut ilmu lalu mengajarkan ilmunya kepada orang lain dan tidak lupa membaca dan mempelajari Al Qur’an, semua itu dilakukan mencari ridha Allah. Tapi Allah tidak menerima amalnya , sebab dia belajar dan mengajar agar disebut dan digelari orang pintar, selalu membaca AlQur’an agar disebut sebagai qari dan qari’ah, maka tempat merekapun dalam neraka.

            Kelompok ketiga yaitu hartawan juga ditempatkan ke neraka karena memanfkahkan hartanya supaya disebut dermawan padahal habis sudah dana yang dia kumpulkan, tapi sia-sia karena berbuat tidak ikhlas.

            Sungguh  sangat kasihan orang yang berbuat demikian, ibarat fatamorgana, disangka pahala yang telah banyak dikumpulkan tapi kosong hasilnya, atau seperti debu yang menempel pada batu licin yang hitam, saat dihembus angin gugur semua nya, disangka pahala sudah banyak padahal hangus ditelan oleh hati yang tidak suci, disangka telah berbuat kebajikan yang banyak padahal membawa ke neraka, untuk itulah niat, hati harus suci dari segala karat yang dapat mendatangkan kerugian, Allah berfirman dalam surat Al Baiyyinah 98;5 ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
           
            Amal yang mereka perbuat di dunia dikira akan mendapat pahala tetapi malah sebaliknya, ibarat fatamorgana bagi musafir  di padang pasir yang luas, rasa haus dan letihnya membayangi sebuah oase yang penuh dengan air tapi  ketika didekati oase tadi hilang tak berujud, atau seperti debu yang menempel di batu hitam yang licin, ketika hujan datang maka debu-debu tadi luntur ke bumi tanpa meninggalkan bekas, ini ibarat bagi orang-orang yang tidak ikhlas dalam berbuat; ”Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya dipagi dan senja hari dengan mengharapkan keridhaan-Nya” [Al Kahfi 18;28].

            Rasulullah bersabda, ”Berhati-hatilah terhadap amal yang kecil, siapa tahu ketika engkau melakukan amal kecil itu lansung dicatat sebagai penghuni syurga selama-lamanya”. Amal kecil yang ikhlas lebih baik dan menjaminnya untuk diterima  Allah daripada yang besar tapi tidak ikhlas, idealnya adalah amal besar tetapi ikhlas.
                           
              Seorang sufi wanita yang terkenal bernama Rabi’ah Al Adawiyah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah karena cintanya, sebagaimana yang tergambar dalam sebuah munajadnya kepada Allah, ”Ya Allah sekiranya aku beribadah kepada-Mu karena takut kepada neraka, maka campakkanlah aku dalam jahanam. Seandainya aku beribadah kepadamu karena mengharapkan syurga, maka jauhkanlah aku daripadanya, akan tetapi bila aku beribadah kepada-Mu karena cinta maka janganlah ya Ilahi Engkau sia-siakan aku”. 

            Salah satu sebab Allah tidak mau memandang manusia pada hari kiamat ialah mereka yang beramal, berbuat kebaikan kemudian kebaikan tersebut diungkit-ungkit kembali. Kalau dia tulus berbuat baik kepada manusia maka dia tidak akan mengungkit – ungkit kebaikan apa yang pernah diberikannya kepada orang lain, walaupun tidak diungkit-ungkit maka kebaikan itu akan tetap terkenang oleh penerimanya. Kebaikan akan gugur dan sia-sia karena diungkit kembali baik dengan ucapan maupun tindakan seperti, ”Anda tidak akan sejaya ini kalau tidak karena bantuan yang saya berikan, kamu tidak akan jadi kaya kalau bukan karena saya, dia itu sukses karena sumbangan dan bantuan baik kita” dan lain sebagainya ucapan yang dilontarkan.

Semua amal apa saja yang kita lakukan, kecil apalagi besar membutuhkan konsentrasi keikhlasan, semua kerjaan harus disandarkan kepada Allah, seperti kita dianjurkan membela negara dari segala bentuk penjajahan tapi semua itu dimotivasi karena Allah.

Penjajahan  adalah suatu keadaan yang sangat menyedihkan, tiada lain yang terasa selain penderitaan, keterbelakangan, kebodohan serta derita lainnya yang sulit dilukiskan sehingga mengusir penjajah adalah suatu kewajiban setiap warga negara dengan segala daya dan upaya. Sebagaimana gerakan spontan dari pahlawan islam dalam memperjuangkan Indonesia agar terlepas dari belenggu penjajah.

            Sekalipun para pejuang Indonesia itu mengalami derita dan pahit yang dirasakan, namun pada akhirnya karena firman Allah dalam surat Al Baqarah 2;216 selalu mendampingi setiap gerak langkah perjuangan yang berbunyi, ”Telah diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu berat bagi kamu, mungkin kamu membenci sesuatu padahal itu baik buatmu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu padahal itu berabahaya bagi kamu”.

            Ummat islam tidak boleh mencari musuh, tetapi tidak boleh lari darii kejaran musuh. Jika musuh tiba dihadapan haram melarikan diri, tidak boleh menjadi pengecut demi tegaknya islam dan jayanya kaum muslimin, secara serempak musuh harus diserang bersama-sama dan harus diusir pulang ke negeri asal penjajah.

            Peperangan memang suatu hal yang sangat dibenci, sesuatu hal yang sangat memuakkan, suatu hal yang sangat menjemukan, karena harus menelan korban jiwa dan raga. Namun ada kalanya akan merasakan kenikmatan bagi siapa saja yang terjun di dalamnya. Dan ada kalanya diantara mereka lari dari medan pertempuran, itulah suatu perbuatan yang sangat tercela dan membahayakan.

            Kehadiran penjajah pada suatu bumi penjajahan bukan sekedar mengeruk keuntunga materi yang terdapat didalamnya tapi lebih dari itu bahkan menghancurkan peradaban bangsa yang dijajahnya, baik mereka kapitalis, sosialis, komunis, salibis dan zionis.

            Tradisi negara-negara komunis yang akan menaklukkan bangsa lain, adalah dengan menghancurkan akhlak atau moral bangsa yang bersangkutan, hal ini dijalankan bagi usaha untuk merebut kekuasaan oleh kelompok komunis terahadap pemerintahan setempat dengan jalan mematangkan dan mengeruhkan situasi dahulu. Kaum komunis akan memanfaatkan segala ketakstabilan masyarakat dan negara, disamping pura-pura mempertahankan status quo, sementara dengan jalan parlemen mereka berusaha menjalankan brain drain terhadap idiologi bangsa setempat, dan juga dengan cara menghancurkan moral bangsa. Maka mereka sengaja merusak moral bangsa dengan pornoisme, ikut melegalkan segala yang berbau seks, perjudian, narkoba dan sebagainya serta segala macam kenakalan remaja.

            Bila semua itu telah tercapai maka terjadilah erosi idiologi asli bangsa setempat. Dan inilah kesempatan yang paling baik untuk mengembangkan ajaran komunis, karena bilamana moral bangsa telah hancur, maka lemahlah pertahanan bangsa itu, karena moral bangsa itu termasuk ketahanan nasionall bangsa tersebut.

            Pada abad ke 19 ketika Mesir menjadi korban dari penjajahan Napleon, yang kemudian juga disusul oleh Turki, masuknya Napoleon ke Turki dan Mesir, adalah awal usaha untuk melakukan pembaratan terhadap dunia Islam. Selama Perancis mendiami dan menjajah Mesir, terus menerus mencekoki masyarakatnya dengan faham sekuler yang amat merusak aqidah islam. Berapa pemikir [intelektual] melakukan kontak dengan pihak barat. Sehingga mereka termakan oleh budaya sekuler itu, seperti ilmuan Abdurrahman dan Syaikh Hasan Attar, yang sudah terpengaruh idiologi sekuler itu, menganjurkan untuk memisahkan Mesir dari Khilafah Osmaniyyah. Sungguh itu merupakan pengkhianatan terhadap  Islam yang tidak terhingga. Sampai Perancis melakukan perang melawan kekhalifahan Osmaniyyah, sama seperti dilakukan orang-orang anti Islam, yaitu Charlemagne yang juga merupakan penjajah.

            Mengangkat martabat dan harkat bangsa di mata dunia apalagi dari tindasan penjajah bangsa lain, baik penjajah fisik, ekonomi, politik, budaya dan penjajahan idiologi merupakan kewajiban setiap warga negara, perbuatan ini disebut dengan jihad fisabilillah, kalau perjuangan membela bangsa dan negara dilandasi ridha Allah, Allah berfirman dalam surat An Nisa’ 4;76, ”Orang-orang yang beriman, berperang dijalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang dijalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaithan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah”.

            Jika seseorang menginfaqkan rezeki yang diperolehnya, ia mengharapkan timbal baliknya, baik dari segi kehormatan atau materi di alam fana, maka hal itu bukan ”Fisabilillah” namun bila anda berbuat kebaikan terhadap fakir miskin dengan mengharapkan keridhaan Allah, jangan disangsikan lagi pekerjaan anda itu mesti akan bernilai fisabilillah. Dengan demikian fisabilillah adalah setiap pekerjaan dan cita-cita anak manusia yang ikhlas dijalankan demi keselamatan dan kesejahteraan sosial dengan mengharapkan ridha Allah tanpa disertai oleh rasa hawa nafsu dan syahwat.

            Silahkan membela kepentingan bangsa dan untuk menegakkan negara berdaulat dengan segala  kekuatan dan daya upaya melalui profesi, prestasi tapi semata-mata karena Allah, tidak dibungkus dengan maksud lain. Cinta kepada negara dan bangsa wajar dan boleh saja tapi terlalu cinta kepada bangsa dan negara tidak dibenarkan dalam islam, karena bagi ummat Islam tanah ummat Islam bukan Arab atau Indonesia saja, dimana ada ummat Islam maka disanalah negeri Islam. Tentu maju dan mundurnya menjadi tanggungjawab seluruh ummat Islam yang ada di dunia i ni. Tanah Islam jauh membentang, penderitaan yang dialami  ummat Islam Moro, Afghanistan, Chechnya, Bosnia, Kasymir, Dagestan, Ambon, Aceh sejak dari Maroko sampai Merauke, dari India sampai Palestina merupakan masalah ummat Islam, walaupun terletak dalam negeri suatu bangsa, tetapi tanggungjawabnya meliputi seluruh ummat Islam, Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa yang tidak memperhatikan ummat Islam berarti dia bukanlah ummatku”.

            Tentang perjuangan membela negara dan bangsa sesuai kemampuan yang ada dilandasi dari mencari ridha Allah agar kalimat Allah tegak di negara itu, untuk itu semua perlu adanya pembinaan pribadi sebagaimana kata Ustadz Musythafa Mashur, ”Tegakkanlah Islam itu di  dirimu niscaya dia akan tegak di negaramu”.

            Seorang sahabat bertanya kepada Rasul, bagaimana bila ada orang yang berjuang dan membela agama Allah karena kegagahannya, mengharapkan ghanimah ? maka Rasulullah mengatakan bahwa pahalanya tidak akan diperoleh, tapi seluruh aktivitas apa saja dalam rangka mencari ridha Allah, sesuai dengan ghayah [tujuan], manhaj [sistim] yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya maka dia akan bernilai ibadah dan mendapat pahala dari-Nya. Jabatan diraih dengan KKN jelas sebuah kecurangan, walaupun akhirnya diperoleh dan jaya juga maka dihadapan Allah tidak bernilai, senantiasalah kita meraih segala kejayaan dengan cara yang dituntunkan sistim Islam.

Aqidah atau keyakinan Islam memberi pengaruh kepada hidup pemiliknya. Demikian pula sikap ikhlas yang bersemayam di hati mukmin memberi manfaat bagi dirinya dalam mengarungi lautan kehidupan. Manfaat ikhlas itu antara lain:

            1. Ikhlas adalah syarat utama diterimanya amal seseorang muslim di hadapan Allah, tanpa ikhlas maka amal akan ditolah dan sia-sia. Seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan berkata, ”Bagaimana pendapat tuan akan seorang laki-laki yang tampil ke medan laga untuk berperang mencari harta rampasan dan karena popularitasnya ? Rasulullah menjawab, ”Ia tidak memperoleh apa-apa” laki-laki itupun penasaran dan bertanya sampai tiga kali, Rasul tetap menjawab, ”Ia tidak memperoleh apa-apa” kemudian beliau bersabda, ”Allah tidak menerima suatu amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas demi mencari keridhaan-Nya semata’ [HR. Abu Daud].

            2. Ikhlas itu salah satu syarat seseorang untuk terjauh dar godaan syaitan, surat Al Hijr 15;39-40 Allah berfirman, ”Iblis berkata, ”Ya Rabbku, sebab Engkau telah memutuskan aku sesat, pasti aku akan jadikan mereka memandang baik perbuatan maksiat dimuka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba Engkau yang Mukhlis [ikhlas] diantara mereka”.

            3. Dengan sikap ikhlas seorang muslim akan merasa tentram di dunia, tanpa keraguan dan mencapai kebahagiaan hakiki, dalam surat Al An’am ayat  82 Allah berfirman, ”Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman [syirik] mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk”.

            4. Mereka yang hidupnya dipenuhi dengan keikhlasan akan diselamatkan dari neraka jahanam dan akan menghuni syurga jannatun na’im, sebagaimana dijelaskan Allah dalam ayat berikut, ”Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya, padahal tidak seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi dia memberikan itu semata-mata karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan” [Al Lail 92;17-21].

            Alangkah ruginya kita dalam hidup ini dengan amal yang banyak sebagai bekal di akherat, negeri yang sangat dinanti-nantikan oleh orang yang beriman, akan tetapi amal tersebut tidak akan pernah kita dapati karena dilakukan bukan karena Allah, padahal dalam beramal Rasulullah telah memberikan suatu pedoman, laksanakan dengan ikhlas hanya mengharapkan ridha Allah, wallahu a'lam [Cubadak Solok, 14 Ramadhan 1431.H/ 24 Agustus 2010.M]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar