Banyak nikmat
Allah sudah direguk manusia, baik nikmat lahir maupun bathin, sejak dari bangun
tidur hingga tidur lagi, sehingga sulit kita untuk mengkalkulasikannya, nikmat
itu diantaranya digambarkan Allah dalam firman-Nya;
“Dan
dia Telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus
beredar (dalam orbitnya); dan Telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan dia Telah memberikan kepadamu
(keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu
menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya
manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) '' [Ibrahim
14;32-34]
Dari sekian nikmat Allah tersebut salah
satunya adalah nikmat kemerdekaan, yang hanya
diberikan kepada manusia saja, sedangkan makhluk lain terikat oleh ruang dan
waktu. Nilai kemerdekaan bila dibandingkan dengan hidup maka lebih tinggi nilai
kemerdekaan, sebab untuk melepaskan diri dari belenggu keterikatan, manusia
rela mempertahankan hak hidupnya. Apalah artinya hidup bila tertekan dan
terikat dan terbelenggu. Untuk mengusir penjajah, maka dipertaruhkan nyawa
rakyat suatu bangsa.
Kemerdekaan selalu
dikaitkan dengan bangsa dan negara, apalagi bangsa yang selama sekian ratus
tahun berada dalam penjajahan bangsa lain, dihinakan dan dibelengu dengan
berbagai aturan yang membuat bangsa ini terkungkung dalam ketiak bangsa
penjajah. Sehingga untuk melepaskan diri bangsa Indonesia dari mental terjajah
tidaklah semudah itu, memakan waktu untuk memulihkannya.
Kita tentu saja tak cukup hanya menumbuhkan
kesadaran dan kebanggaan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, namun harus
diikuti dengan tindakan nyata dalam kehidupan keseharian untuk selalu berbuat
yang terbaik (giving the best) untuk bangsa. Berbagai pontensi, profesi, dan
aktivitas apa pun, jika kita tekuni secara optimal, akan mendatangkan kebaikan
bagi bangsa. Karena itu, misalnya, tentunya tak perlu orang berebut memegang
jabatan politik dan meninggalkan potensi profesi yang sebenarnya lebih berarti
bagi bangsa jika dikembangkan.
Adanya mind-set bahwa hanya jabatan politik yang paling prestise dan membuat kaya sehingga serta-merta membuat individu-individu meninggalkan potensi profesi begitu saja secara tak langsung sebenarnya merugikan bangsa.Tapi, itu tidak berarti orang tak boleh berpindah ke dunia politik jika memang berpotensi menjadi pejabat politik atau politikus.
Misalnya, rohaniwan potensial yang berpindah menjadi politikus, selebritis berbakat yang menjadi politikus, atau guru teladan yang menjadi politikus justru tak mampu berbuat apa-apa untuk bangsa ketika menjadi pejabat politik.Terjadi juga, anggota dewan yang hanya untuk hadir rapat tak bisa memenuhi kewajibannya, apalagi membela kepentingan rakyat. Karena itu, tentu tak heran jika Pong Hendratmo, seorang aktor senior, memprotes dengan naik ke kubah gedung DPR Senayan, kemudian menuliskan kata ''jujur, adil, dan tegas''.
Selain itu, kecintaan kepada Indonesia belum ditunjukkan dalam menggunakan produk sendiri. Kita lupa bahwa negeri ini akan besar dan jaya jika individu-individu bangsa mau menggunakan produk sendiri. Di sini, bangsa kita memang belum memiliki strategi yang jelas karena Indonesia sekarang ini hanya menjadi ''pasar besar'' berbagai produk luar negeri. Padahal, kalau mau jujur, sebenarnya banyak potensi produksi Indonesia yang amat bermutu.[Putera Manuaba,Memerdekakan Mental Terjajah, Republika online, Rabu, 18/08/2010 10:25 WIB].
Adanya mind-set bahwa hanya jabatan politik yang paling prestise dan membuat kaya sehingga serta-merta membuat individu-individu meninggalkan potensi profesi begitu saja secara tak langsung sebenarnya merugikan bangsa.Tapi, itu tidak berarti orang tak boleh berpindah ke dunia politik jika memang berpotensi menjadi pejabat politik atau politikus.
Misalnya, rohaniwan potensial yang berpindah menjadi politikus, selebritis berbakat yang menjadi politikus, atau guru teladan yang menjadi politikus justru tak mampu berbuat apa-apa untuk bangsa ketika menjadi pejabat politik.Terjadi juga, anggota dewan yang hanya untuk hadir rapat tak bisa memenuhi kewajibannya, apalagi membela kepentingan rakyat. Karena itu, tentu tak heran jika Pong Hendratmo, seorang aktor senior, memprotes dengan naik ke kubah gedung DPR Senayan, kemudian menuliskan kata ''jujur, adil, dan tegas''.
Selain itu, kecintaan kepada Indonesia belum ditunjukkan dalam menggunakan produk sendiri. Kita lupa bahwa negeri ini akan besar dan jaya jika individu-individu bangsa mau menggunakan produk sendiri. Di sini, bangsa kita memang belum memiliki strategi yang jelas karena Indonesia sekarang ini hanya menjadi ''pasar besar'' berbagai produk luar negeri. Padahal, kalau mau jujur, sebenarnya banyak potensi produksi Indonesia yang amat bermutu.[Putera Manuaba,Memerdekakan Mental Terjajah, Republika online, Rabu, 18/08/2010 10:25 WIB].
Tidak ada lagi bangsa Jepang atau Belanda
sebagai penguasa dan pemerintah di negeri ini.Asumsi kemerdekaan bagi sebuah
bangsa adalah sebaliknya, yakni matang-matangnya capaian artikulasi kemerdekaan
yang meluberkan nilai-nilai ideal ke setiap relung nafas dan ruang hidup warga
negaranya.
Namun fakta berkata
sebaliknya. Negeri yang dulu jadi rebutan para penjajah, kini pun sama.
Indonesia jadi ajang jajahan dengan modus baru oleh bangsa imperialis tamak AS
dan sekutunya.Seperti pepatah, keluar dari mulut buaya masuk ke mulut
harimau.Maka pengibaran bendera tiap 17 Agustus, kehilangan esensi kemerde-kaan
yang hakiki.
Para pemimpin mabuk dengan doktrin demokrasi, globalisasi dan liberalisasi. Tanpa sadar, dog-ma-dogma yang dijadikan “topeng” penjajahan gaya baru itu menyebabkan lahirnya kebijakan-kebijakan yang membuat kemerdekaan tak berarti untuk anak negeri.
Dengan kekuatan lobi dan jejaring serta dominasi sain teknologinya, imperialis mengkooptasi semua potensi yang ada diperut bumi negeri tercinta ini. Mereka mengoyak dan menyedot semua isi bumi. Indonesia yang kaya, justru miskin.Bila standar pendapatan 2 dolar/jiwa dipakai, maka lebih dari 100 juta penduduk Indonesia terkategori miskin.
Ke mana kekayaan itu?Sebagian besar dijarah oleh imperialis dengan berbagai instrumen perundang-undangan yang mereka rancang.Tidak hanya di hulu, tapi sampai ke hilir.
Maka pidato kenegaraan jelang hari kemerdekaan menjadi tak berarti, karena hanya menjadi ajang “memuji” keberhasilan semu penguasa. Berbusa-busa cerita ekspektasi RAPBN-2011 dan nota keuangan, dengan memaparkan asumsi makro dalam RAPBN 2011; pertumbuhan ekonomi Indonesia: 6,1 - 6,4 persen, nilai tukar Rupiah: Rp 9.100 - 9.400 per dolar AS, inflasi: 4,9-5,3 persen, SBI 3 bulan: 6,2-6,5 persen, harga minyak: US$ 75-90 per barel, lifting minyak: 0,960-0,967 juta barel per hari (berdasar-kan data BKF/Badan Kebijakan Fiskal). Itu sah-sah saja, tapi potret kemiskinan tak bisa dihapuskan.
Kekayaan negeri ini berputar hanya di antara 20 persen pen-duduk Indonesia dari jumlah 230 juta lebih. Lihatlah,bagaimana hukum menjadi layu dihadapan pemilik modal dan para koruptor. Se-mentara banyak rakyat negeri ini seperti “nenek Minah” menjadi pesakitan tanpa ada empati. Masih panjang deretan angka-angka me-rah menjadi tolok ukur perubahan nasib anak negeri yang di usia 65 tahun kemerdekaannya.
Rupanya, para penguasa tidak belajar dari pengalaman.Sebagai contoh, pernyataan presi-den baru-baru ini.Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara ramah tamah dan buka puasa bersama para perintis kemerdekaan, veteran, dan purnawirawan di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/8), menegaskan; bangsa Indonesia harus mempertahankan empat kon-sensus dasar yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.Dan menjelaskan, keempat konsensus dasar itu adalah buah perjuangan para pendahulu bangsa.Lebih jauh SBY menuding ada beberapa kelompok yang menolak Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Bahkan, lanjutnya, kelompok lain menginginkan mengganti dasar negara dengan ideologi tertentu. Selain itu, di beberapa daerah, muncul sejumlah gerakan separatis yang menolak konsep negara kesatuan.
Tentang NKRI, cukup relevan dengan paparan Kapolri dalam Simposium Nasional (27/8), ada dua ancaman terhadap keutuhan NKRI dan keduanya dikategorikan sebagai tindakan terorisme. Per-tama; etnonasionalis/separatis seperti keberadan GAM dan OPM.Kedua; ingin dirikan negara Islam dan jihad global seperti kelompok JI, Laskar Jundullah Mujahadin, dan Kompak.Jika menoleh kebelakang, faktor perasaan diperlakukan tidak adil yang membuat sebagian orang Aceh memberontak. Begitu pun Pa-pua yang terus bergolak juga karena rasa ketidakadilan yang masih menjadi mimpi. Harta kekayaan yang melimpah di tanah pijakan mereka dikuras habis, dan tidak memberi efek kemakmuran dan kesejahteraan bagi mereka.Ketika mereka mencoba menggeliat “teriak” justru pendekatan “popor senjata” yang didapatkan.[Harits Abu Ulya,65 Tahun Merdeka tidak Belajar dari Pengalaman, Media ummat, Wednesday, 27 October 2010].
Para pemimpin mabuk dengan doktrin demokrasi, globalisasi dan liberalisasi. Tanpa sadar, dog-ma-dogma yang dijadikan “topeng” penjajahan gaya baru itu menyebabkan lahirnya kebijakan-kebijakan yang membuat kemerdekaan tak berarti untuk anak negeri.
Dengan kekuatan lobi dan jejaring serta dominasi sain teknologinya, imperialis mengkooptasi semua potensi yang ada diperut bumi negeri tercinta ini. Mereka mengoyak dan menyedot semua isi bumi. Indonesia yang kaya, justru miskin.Bila standar pendapatan 2 dolar/jiwa dipakai, maka lebih dari 100 juta penduduk Indonesia terkategori miskin.
Ke mana kekayaan itu?Sebagian besar dijarah oleh imperialis dengan berbagai instrumen perundang-undangan yang mereka rancang.Tidak hanya di hulu, tapi sampai ke hilir.
Maka pidato kenegaraan jelang hari kemerdekaan menjadi tak berarti, karena hanya menjadi ajang “memuji” keberhasilan semu penguasa. Berbusa-busa cerita ekspektasi RAPBN-2011 dan nota keuangan, dengan memaparkan asumsi makro dalam RAPBN 2011; pertumbuhan ekonomi Indonesia: 6,1 - 6,4 persen, nilai tukar Rupiah: Rp 9.100 - 9.400 per dolar AS, inflasi: 4,9-5,3 persen, SBI 3 bulan: 6,2-6,5 persen, harga minyak: US$ 75-90 per barel, lifting minyak: 0,960-0,967 juta barel per hari (berdasar-kan data BKF/Badan Kebijakan Fiskal). Itu sah-sah saja, tapi potret kemiskinan tak bisa dihapuskan.
Kekayaan negeri ini berputar hanya di antara 20 persen pen-duduk Indonesia dari jumlah 230 juta lebih. Lihatlah,bagaimana hukum menjadi layu dihadapan pemilik modal dan para koruptor. Se-mentara banyak rakyat negeri ini seperti “nenek Minah” menjadi pesakitan tanpa ada empati. Masih panjang deretan angka-angka me-rah menjadi tolok ukur perubahan nasib anak negeri yang di usia 65 tahun kemerdekaannya.
Rupanya, para penguasa tidak belajar dari pengalaman.Sebagai contoh, pernyataan presi-den baru-baru ini.Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara ramah tamah dan buka puasa bersama para perintis kemerdekaan, veteran, dan purnawirawan di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/8), menegaskan; bangsa Indonesia harus mempertahankan empat kon-sensus dasar yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.Dan menjelaskan, keempat konsensus dasar itu adalah buah perjuangan para pendahulu bangsa.Lebih jauh SBY menuding ada beberapa kelompok yang menolak Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Bahkan, lanjutnya, kelompok lain menginginkan mengganti dasar negara dengan ideologi tertentu. Selain itu, di beberapa daerah, muncul sejumlah gerakan separatis yang menolak konsep negara kesatuan.
Tentang NKRI, cukup relevan dengan paparan Kapolri dalam Simposium Nasional (27/8), ada dua ancaman terhadap keutuhan NKRI dan keduanya dikategorikan sebagai tindakan terorisme. Per-tama; etnonasionalis/separatis seperti keberadan GAM dan OPM.Kedua; ingin dirikan negara Islam dan jihad global seperti kelompok JI, Laskar Jundullah Mujahadin, dan Kompak.Jika menoleh kebelakang, faktor perasaan diperlakukan tidak adil yang membuat sebagian orang Aceh memberontak. Begitu pun Pa-pua yang terus bergolak juga karena rasa ketidakadilan yang masih menjadi mimpi. Harta kekayaan yang melimpah di tanah pijakan mereka dikuras habis, dan tidak memberi efek kemakmuran dan kesejahteraan bagi mereka.Ketika mereka mencoba menggeliat “teriak” justru pendekatan “popor senjata” yang didapatkan.[Harits Abu Ulya,65 Tahun Merdeka tidak Belajar dari Pengalaman, Media ummat, Wednesday, 27 October 2010].
Merdeka artinya terbebas dari
belenggu cinta dunia dan nafsu.Bukan merdeka seseorang yang dipermainkan
nafsunya dan begelimang dalam gemerlap dunia.Tetapi sayang, makna ini sekarang
terbalik.Di sana-sini terdengar teriak kemerdekaan dengan bersenang-senang
dalam nafsu dan dunia. Sungguh ini suatu kenyataan yang sangat menyedihkan,
Tidak akan merdeka penduduk sebuah negeri yang
tunduk kepada nafsu dan cinta dunia. Mengapa? (1) Nafsu akan membawa manusia
kapada dosa-dosa dan kedzaliman. Bila ke kedzaliman terus berlangsung Allah
swt.akan mencabut keberkahan. Bila keberkahan tidak ada, maka penderitaan akan
terus menimpa penghuni sebuah negeri. (2) Nafsu akan menyeret manusia kepada
kerakusan. Kerakusan melahirkan kekejaman terhadap kemanusiaan.Tidak sedikit
pembantaian terhadap kemanusiaan terjadi hanya karena karakusan terhadap harta
dan kekuasaan. (3) Nafsu membuat manusia menjadi sekedar binatang. Bila manusia
lebih didominasi oleh kebinatanganya ia akan lebih kejam dan lebih parah dari
binatang. Allah berfiman: “ulaaika kal an’aam balhum adhal”
Begitu juga cinta dunia, ia termasuk tantangan
yang selalu membuat manusia tidak merdeka. Mengapa? (1) Dengan cinta dunia
manusia menjadi hambanya. Bila manusia menjadi hambanya maka ia akan sibuk
dengannya, siang dan malam melebihi kesukannya kapada Allah swt. (2) Cinta
dunia mematikan hati nurani. Seringkali hati menjadi keras karena mengagungkan
dunia. Sebab dengan mengagungkan dunia, ia akan lupa kepada akhirat. Karenanya
dalam Al Qur’an Allah swt.berfirman: “bal tu’tsiruunal
hayaatad dunyaa wal aakhiratu khairuw wa abqaa.”
Jelasnya kemerdekaan bukan hanya sebuah makna
keterbebasan dari belenggu penjajahan.Melainkan lebih dari itu keterbebasan
dari belenggu nafsu dan cinta dunia. Bila makna ini benar-benar tercermin dalam
pribadi sebuah bangsa, maka hakikat kemerdekaan akan benar-benar tercapai.
Mengapa? Bisa dipastikan bahwa dengan terbebasnya dari belenggu nafsu dan cinta
dunia keadilan akan tegak dengan jujur. Tegaknya keadilan akan melahirkan
keamanan. Keamaman akan membuat semua kehidupan menjadi produktif dan
sejahtera.
Itulah mengapa Al Qur’an dari awal
sampai akhir selalu menekankan pentingnya manusia bersungguh-sungguh mentaati
Allah swt.dan melawan nafsu. Sebab hanya dengan mentaati Allah swt.ia akan
benar-benar merdeka.[Dakwatuna.com,Hakikat Kemerdekaan,21/8/2008 | 18 Sya'ban 1429 H].
Hak kemerdekaan
berarti harus menghambakan diri kepada seseorang, orang yang mengerti tingginya
nikmat kemerdekaan ini maka dia akan melakukan penghambaan diri hanya kepada
Allah, yaitu Khaliq yang memberikan kemerdekaan itu;
"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya kepada
Engkaulah kami meminta pertolongan" [Al Fatihah 1;5].
Yang dikatakan merdeka adalah orang yang mampu untuk
menyatakan "iya'' walaupun dipaksa-paksa untuk menyatakan "tidak'',
yang dikatakan merdeka adalah orang yang mampu untuk menyatakan
"hitam" walaupun dipaksa-paksa untuk menyatakan "merah"
merdeka itu adalah orang yang menegakkan kebenaran walaupun dipaksa-paksa untuk
mengakui kebathilan.
Kalau manusia mengorbankan
kemerdekaannya demi mempertahankan kehidupan samalah artinya dia dengan
binatang, karena binatang tidak ada kemerdekaan, dibawa kemana saja dan
diapakan saja dia terima. Selama masih bernama manusia tentunya dia tidak mau
dijajah, biarlah mati berkalang tanah dari pada hidup dalam belenggu, kematian
yang mereka alamipun bukan mati sembarangan tapi mati yang disebut dengan
syuhada' yaitu orang yang mati syahid, bahkan Allah menerangkan bahwa mereka
tidaklah mati, bahkan hidup yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam
kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan
Hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.
" Dan janganlah kamu
mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu )
mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak
menyadarinya" [Al Baqarah 2;154].
Ketika kita bicara tentang
kemerdekaan maka tidak lepas dari kebebasan, artinya kebebasan merupakan bagian
penting dari kemerdekaan, dengan kebebasan membuat warganegara dapat
mengekspresikan segala keinginannya untuk berbuat sesuatu, tentu yang
diharapkan adalah kebebasan yang bertanggungjawab bukan kebebasan yang
sebebas-bebasnya.
Bagi
seorang Muslim, kebebasan mengandung tiga makna sekaligus.Pertama, kebebasan
identik dengan ‘fitrah’ –yaitu tabiat dan kodrat asal manusia sebelum diubah,
dicemari, dan dirusak oleh sistem kehidupan disekelilingnya. Seperti kata Nabi
saw: ‘kullu mawludin yuladu ‘ala l-fitrah’. Setiap orang terlahir
sebagai mahluk dan hamba Allah yang suci bersih dari noda kufur, syirik dan
sebagainya.Namun orang-orang disekelilingnya kemudian mengubah statusnya
tersebut menjadi ingkar dan angkuh kepada Allah.
Maka
orang yang bebas ialah orang yang hidup selaras dengan fitrahnya, karena pada
dasarnya ruh setiap manusia telah bersaksi bahwa Allah itu Tuhannya.
Sebaliknya, orang yang menyalahi fitrah dirinya sebagai abdi Allah sesungguhnya
tidak bebas, karena ia hidup dalam penjara nafsu dan belenggu syaitan.
Ahli
tafsir abad keempat Hijriah, ar-Raghib al-Ishfahani, dalam kitabnya menerangkan
dua arti ‘bebas’ (hurr): pertama, bebas dari ikatan hukum; kedua, bebas
dari sifat-sifat buruk seperti rakus harta sehingga diperbudak olehnya.
Pengertian kedua inilah yang disinyalir Nabi saw dalam sebuah hadis sahih:
‘Celakalah si hamba uang’ (ta‘isa ‘abdu d-dinar’) (Lihat: Mufradat
Alfazh al-Qur’an, hlm. 224).
Makna
kedua dari kebebasan adalah daya kemampuan (istitha‘ah) dan kehendak
(masyi’ah) atau keinginan (iradah) yang Allah berikan kepada kita untuk
memilih jalan hidup masing-masing.Apakah jalan yang lurus (as-shirath
al-mustaqim) ataukah jalan yang lekuk.Apakah jalan yang terjal mendaki
ataukah jalan yang mulus menurun.Apakah jalan para nabi dan orang-orang sholeh,
ataukah jalan syaitan dan orang-orang sesat.‘Siapa yang mau beriman,
dipersilakan. Siapa yang mau ingkar, pun dipersilakan’ (fa-man sya’a
fal-yu’min, wa man sya’a fal-yakfur), firman Allah dalam al-Qur’an (18:29).
Kebebasan
disini melambangkan kehendak, kemauan dan keinginan diri sendiri.Bebasnya
manusia berarti terpulang kepadanya mau senang di dunia ataukah di akhirat.
Firman Allah: ”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka
kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang
kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya
dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan
akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah
mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.”
(QS al Isra’:18-19)
”Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS asy Syura:20). Terserah padanya apakah mau tunduk atau durhaka kepada Allah. Apakah mau menghamba kepada sang Khaliq atau mengabdi kepada makhluk. Sudah barang tentu, kebebasan ini bukan tanpa konsekuensi dan pertanggungjawaban.
”Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS asy Syura:20). Terserah padanya apakah mau tunduk atau durhaka kepada Allah. Apakah mau menghamba kepada sang Khaliq atau mengabdi kepada makhluk. Sudah barang tentu, kebebasan ini bukan tanpa konsekuensi dan pertanggungjawaban.
Dan
benarlah firman Allah bahwa tidak ada paksaan dalam agama – ‘la ikraha fi
d-din’ (2:256).Setiap manusia dijamin kebebasannya untuk menyerah ataupun
membangkang kepada Allah, berislam ataupun kafir.Mereka yang berislam dengan
sukarela (thaw‘an) lebih unggul dari mereka yang berislam karena
terpaksa (karhan), apatah lagi dibandingkan dengan mereka yang kafir
dengan sukarela.
Ketiga,
kebebasan dalam Islam berarti ‘memilih yang baik’ (ikhtiyar).
Sebagaimana dijelaskan oleh Profesor Naquib al-Attas, sesuai dengan akar
katanya, ikhtiar menghendaki pilihan yang tepat dan baik akibatnya (Lihat: Prolegomena
to the Metaphysics of Islam, hlm. 33-4). Oleh karena itu, orang yang
memilih keburukan, kejahatan, dan kekafiran itu sesungguhnya telah menyalahgunakan
kebebasannya.Sebab, pilihannya bukan sesuatu yang baik (khayr). Disini
kita dapat mengerti mengapa dalam dunia beradab manusia tidak dibiarkan bebas
untuk membunuh manusia lain.[Herry
nurdi,Tiga Makna Kebebasan dalam Islam,Cyber Sabili, Rabu, 17 Maret 2010 03:15].
Satu
ketika seorang Amerika dating ke Maninjau Sumatera Barat yang melihat kondisi
alam yang masih bersahaja, ada hutan, gunung dan lembah yang asri, belum
terjamah teknologi, sang Amerika itu berucap,”Dahulu, seratus tahun yang lalu,
beginilah keadaan negeri Amerika”, dengan kemerdekaan ratusan tahun silam mampu
mengantarkan Negeri Paman Sam itu jadi Negara yang luar biasa majunya, ketika
saya berkunjung ke Malaysia, berdialoq dengan salah seorang warga Negara
disana, sang teman mengatakan bahwa dia pernah ke Indonesia, menuruni lembah,
menaiki bukit yang terjal, suburnya tanaman yang tumbuh, jenis pepohonan yang
banyak, aliran sungai yang jernih, sejuknya angina bertiup membuat dia
berucap,”Saya melihat Indonesia seperti tahun enam puluh yang lalu”, kini setelah
Malaysia merdeka mampu merubah negerinya menjadi negeri yang kaya dan maju,
padahal kita lebih dahulu merdeka dari Malaysia. Dengan kemerdekaan dan
kebebasan yang diraih oleh bangsa kita maka seharusnya kita juga merdeka dari
segala keburukan mental dan sikap yang merugikan bangsa ini, wallahu a’lam [Batu
Berendam Malaka Malaysia, 05 Rajab
1432.H/ 07 Juni 2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar