Sukses
adalah kata yang menggembirakan bagi orang-orang yang berhasil dalam berbagai
bidang, sukses artinya berhasil mencapai sesuatu, kata orang Malaysia sukses itu adalah “Berjaye” yang membuat
orang senang dari keberhasilan yang sudah diraihnya walaupun awalnya semua itu
memerlukan waktu yang panjang dengan membanting tulang, memeras keringat dan
bersungguh-sungguh untuk mencapainya. Kata guru saya ketika di SMA dulu namanya
Animar Gani, dia mengajak murid-murid untuk tekun belajar, memperhatikan
keterangan guru di kelas dan mengulang-ulang kembali pelajara itu dengan
semangat, tidak bermalas-malasan karena sukses itu tidak akan diraih oleh orang
yang malas.
Nabi
Muhammad SAW sangat tak menyukai umatnya mengumbar kata-kata 'seandainya'.
Bahkan, dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya, kalimat
lau (seandainya) membawa kepada perbuatan setan."
Syekh
Shaleh Ahmad asy-Syaami, menjelaskan, kata 'seandainya' tidak membawa manfaat
sama sekali. Menurutnya, meskipun seseorang mengucapkan ungkapan itu, ia tidak
akan mampu mengembalikan apa yang telah berlalu, dan menggagalkan kekeliruan
yang telah terjadi. Dalam bukunya bertajuk Berakhlak dan Beradab Mulia, Syekh
asy Syaami mewanti-wanti bahwa ungkapan 'seandainya' bisa berkonotasi sebagai
angan-angan semu, dan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
"Sikap
seperti ini adalah sikap yang lemah dan malas," ujarnya.Bahkan, kata dia,
Allah SWT pun membenci sikap lemah, tidak mampu, dan malas.Dalam hadis
dinyatakan, "Allah SWT mencela sikap lemah, tidak bersungguh-sungguh,
tetapi kamu harus memiliki sikap cerdas dan cekatan, namun jika kamu tetap
terkalahkan oleh suatu perkara, maka kamu berucap 'cukuplah Allah menjadi
penolongku, dan Allah sebaik-baik pelindung."(HR Abu Dawud).
Sikap
tangkas dan cerdas yang di maksud, tutur dia, melakukan usaha dan
tindakan-tindakan yang bisa membawa pada keberhasilan meraih sesuatu yang
bermanfaat, baik di dunia maupun akhirat.Ini, sambung Syekh asy-Syaami,
merupakan bentuk aplikasi terhadap hukum kausalitas yang telah Allah tetapkan.
Keutaman
dari sikap tangkas dan cerdas yakni bisa menjadi pembuka amal kebaikan.
Sebaliknya, sikap lemah dan malas, seperti telah di ingatkan Rasulullah SAW,
hanya akan mendekatkan diri kepada setan. "Sebab, jika seseorang tidak mam
pu atau malas melakukan se sua tu yang bermanfaat baginya dan ma syarakat
sekitar, maka ia akan selalu menjadi seseorang yang kerap berangan-angan,"
paparnya.
Perbuatan dan sikap semacam itu, selain kontraproduktif serta tidak akan membawa pada keberhasilan, juga sama saja dengan membuka amal perbuatan setan karena pintu amal setan tidak lain adalah sikap malas dan lemah.[Inilah Resep Islam Menjauhi Sikap Malas, Hidayatullah.com.Selasa, 04 Mei 2010, 22:25 WIB].
Perbuatan dan sikap semacam itu, selain kontraproduktif serta tidak akan membawa pada keberhasilan, juga sama saja dengan membuka amal perbuatan setan karena pintu amal setan tidak lain adalah sikap malas dan lemah.[Inilah Resep Islam Menjauhi Sikap Malas, Hidayatullah.com.Selasa, 04 Mei 2010, 22:25 WIB].
Artinya
kesuksesan dapat dicapai setelah bekerja keras, mengerahkan segala potensi
untuk menghindari segala rintangan dan tantangan, menjadikan tantangan menjadi
peluang, merubah batu tarungan menjadi pijakan untuk melompat lebih jauh
mengejar takdir yang lebih baik bagi diri kita, karena memang sukses itu harus
diupayakan, tidak pernah Allah menurunkan rezeki lansung dari langit, galilah
potensi rezeki itu pada hamparannyabumi
dengan memberdayakan akal fikiran.
Dalam
kehidupan, kita mengenal namanya takdir. Takdir adalah suatu ketentuan akan
segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Jadi,
segala sesuatu yang terjadi tentu ada takdirnya,
termasuk manusia.Masing-masing manusia memiliki takdir yang
berbeda antara satu dengan lainnya.Tergantung bagaimana dia membawa dirinya
sendiri.
Sebagaimana yang selalu kita lihat setiap hari, ada orangyang rajin, tapi ada juga yang
malas.Adaorangyang pandai, tapi ada juga yang bodoh. Sebenarnya apayang
membedakan mereka? Padahal mereka sama-sama di anugerahi dengan akal dan
pikiran yangsama. Apakah karena kekayaan, atau
karena keturunan.
Ternyata bukan, kekayaan dan
keturunan tidak memiliki pengaruh yang besar akan
kesuksesan seseorang.
Kenyataannya, sikap dan pemikiranlah yang
membedakan antara orangyang satu dengan yang lainnya.Apayang dia
kerjakan dan pikirkan, itulah yang menentukan
bagaimana hidupnya.
Dan hal itulah yang membedakan bagaimana nasib seseorang.Diri kitalah, yang
menentukan nasib kita kedepan.Apayang kita lakukan
dan pikirkan sekarang, itulah nasib kita kedepan.
Hidup hanyalah pilihan, apakah
kita akan memilih sukses atau gagal, pandai atau
bodoh, kaya atau miskin, bermanfaat atau pecundang. Nasib kita, ditentukan oleh
diri kita sendiri.[Sukses, Dalam Genggaman Kita,Posted by admin in Motivasi on Azzamfasih.com
04 25th, 2010 ].
Manusia
sebagai makhluk yang serba terbatas, hanya mampu berusaha dan berdo’a sedangkan
hasilnya diserahkan kepada Allah Swt. Inilah yang dimaksud dengan tawakal
artinya menyerahkan segala ikhtiar kepada ketentuan-Nya. Satu ketika datanglah
seorang sahabat kepada Rasulullah, lalu beliau menanyakan prihal kedatangan
sahabat tersebut. Dia datang dengan
mengendarai ontanya dan onta itu dilepaskan demikian saja diluar tanpa diikat,
katanya,”Saya tawakal kepada Allah”,mendengar jawaban demikian lalu Rasulullah
menyatakan bahwa sikap demikian itu bukanlah tawakal,”ikat dahulu ontamu, lalu
tawakallah”. Allah berfirman dalam surat Ali Imran 3;159
”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah
Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah
mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam
urusan itu, Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal
kepada-Nya”
Dari Umar bin Khatthab, ”Saya pernah mendengar Rasulullah
saw bersabda,”Andaikata kamu benar-benar
bertawakal kepada Allah,niscaya Allah akan memberi rezeki kepadamu, sebagaimana
dia memberi rezeki kepada burung yang keluar diwaktu pagi dengan perut kosong
dan kembali diwaktu sore dengan perut kenyang’[HR.Turmuzi].
Orang yang mau berusaha
mencari rezeki disertai tawakal kepada Allah, maka Allah akan memberikan
rezeki kepadanya, sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung-burung yang
keluar pagi dengan perut lapar dan sore hari pulang dengan kenyang, intinya mau
bekerja dengan niat mencari rezeki untuk kepentingan pribadi dan keluarga dalam
bingkai ridha Allah.
Dari Anas berkata,”Ada
dua orang bersaudara pada masa nabi Saw, yang satunya selalu mendatangi majlis
nabi Saw, sedang yang lainnya bekerja
terus. Kemudian yang bekerja itu mengadukan saudaranya yang tidak bekerja kepada nabi Saw, maka beliau bersabda,”Kemungkinan sekali engkau
diberi rezeki lantaran dia”.
Ada orang yang sukses dalam mencari rezeki sehingga mampu
mengumpulkan kekayaan lumayan, tersimpan di tabungan dan deposito, aset berupa
sawah dan ladang, kerbau dan sapi dia miliki, kendaraan mobil dan motor serta
rumah sudah dahulu dia beli ditambah lagi dengan semakin majunya usaha. Ada
orang yang sukses dalam pendidikan, anak-anaknya berhasil mencapai gelar
sarjana dan sebentar lagi dapat pekerjaan yang menjanjikan. Ada pula yang
berhasil sebagai Anggota Dewan, sebagai penulis, sebagai ulama dan berbagai
bidang lainnya, hal itu semuanya berangkat dari hidup prihatin dan disiplin,
kerja keras, usaha maksimal dan doa kemudian barulah diperoleh kesuksesan itu,
inilah takdir terbaik yang diupayakan
dan ditentukan Allah.
Hampir dipastikan, kita semua tidak
pernah bisa meraba bagaimana rupa takdir kita ke depan. Segala sesuatunya
adalah misteri bagi kita.Acap kali kejadian dan semua peristiwa terjadi begitu
saja tanpa bisa direkayasa.Terkadang kita juga tidak berkuasa dengan amalan
kita sendiri.Kegagalan, kesuksesan, kaya miskin, antara kehidupan dan kematian
adalah mutlak milik Allah. Bahkan, di beberapa ayat diinformasikan, salah
satunya dalam QS ash-Shaaffat, [37]: 96, bahwa kita dan semua amalan kita
Allahlah pembuat skenarionya, "Wallahu khalaqakum wa maa ta'maluun".
Meski pembuat skenario semuanya adalah Allah SWT, tapi hal yang tidak bisa dinapikan adalah bahwa banyak amalan yang bisa menentukan arah keberpihakan takdir-Nya. Pertama, doa. Sebuah hadis, Laa yaruddul qadhaa-a illa biddu'a, tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa. Jika kita menghendaki kegagalan beralih kepada kesuksesan, maka ubahlah di antaranya dengan doa. Kenapa?Karena Allah sangat mencintai hamba-Nya yang banyak minta kepada-Nya. Dalam hadis lain disebutkan, "Innallaaha yuhibul mulihhiina biddu'a." Karena Allah mencintai hamba-Nya, maka akan mudah bagi-Nya mengubah apa pun dari semua ciptaan-Nya. Cukup dengan mengatakan, "Jadilah!" Maka, "Terjadilah." (QS Yaasiin [36]: 82).
Ketahuilah, doa telah terbukti menjadi senjata yang cukup menentukan bagi orang-orang yang beriman. Sabda Nabi SAW, "ad-Du'au silahul mu'miniin." Doa adalah senjata orang yang beriman.[Muhammad Arifin Ilham, Amalan yang Mewarnai Penentuan Takdir,Republika Online, Jumat, 04 Juni 2010, 09:54 WIB].
Ternyata
dibalik kesuksesan yang diraih oleh seseorang tidak lepas dari tangan Allah
yang berperan disana, kita menjemput kesuksesan itu melalui usaha yang kita
upayakan dan do’a yang disanjungkan.Artinya kesuksesan tidak lepas dari pihak
luar yang mendorong dan menolong kita, sehingga wajar saja bila seorang mukmin
tidak boleh bangga yang berlebihan dan sombong atas kesuksesan yang dicapainya.
Khalifah
Ali bin Abi Thalib RA pernah memerintahkan Asytar al-Nukhai, gubernur Mesir
untuk mendapatkan pekerja-pekerja yang andal. Dalam perintahnya, ia mengatakan,
"Jika engkau ingin mengangkat karyawan, maka pilihlah secara selektif.
Janganlah engkau mengangkatnya karena ada unsur kecintaan dan kemuliaan (baca:
nepotisme), karena hal ini akan menciptakan golongan durhaka dan khianat.
Pilihlah karyawan karena pengalaman dan kompetensi yang dimiliki
...."
Begitupun,
karakter memegang peran penting.Karena menjadi fondasi nilai bagi keterampilan
yang dimiliki setiap individu karyawan.Karakter inilah yang menjadi benteng
kokoh dari serangan-serangan berbagai nilai yang merusak.
Itulah
sebabnya, Ali bin Abi Thalib ra melanjutkan perintahnya kepada Gubernur Mesir
Asytar al-Nukhai untuk memperhatikan karakter sebagai faktor penentu dalam
merekrut pegawai. Berikut nukilan perintah beliau, ".... Pilihlah karyawan
karena memiliki tingkat ketakwaannya dan keturunan orang shaleh, serta orang
yang memiliki akhlak mulia, argumen yang shahih, tidak mengejar kemuliaan
(pangkat) dan memiliki pandangan yang luas atas suatu persoalan."
Kompetensi atau
keterampilan menjadi ranah pengembangan Sumber Daya Insani. Sebaliknya karakter
sepatutnya berada pada ranah penarikan SDI. Mengapa demikian? Karena kompetensi
atau keterampilan lebih mudah untuk diasah dan dikembangkan di masa depan
dibanding karakter.
Tanpa
memperhatikan keduanya, atau lebih mengedepankan keterampilan yang dimiliki
saat ini tanpa memedulikan karakternya, akan mengakibatkan preseden buruk bagi
perusahaan. Alih-alih mecapai tujuan bisnis, justru semua kerja yang dilakukan
akan semakin mengerdilkan eksistensi perusahaan. "Ketika engkau
menyia-nyiakan amanah, maka tunggulah kehancuran. Dikatakan, 'Wahai Rasulullah,
apa yang membuatnya sia-sia?' Rasul bersabda, 'Ketika suatu perkara diserahkan
kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya." (HR Bukhari).[A Riawan Amin, Empat Kunci Sukses Individu dalam Bertugas, Republika
Online, Jumat, 30 Juli 2010,
00:10 WIB].
Hal yang sangat penting dalam hidup ini adalah uang dan
kekayaan, kalau ada yang mengatakan uang bukanlah segala-galanya maka
sebenarnya tidak ada artinya segala-galanya tanpa adanya uang, sehingga orang
akan mengidentikkan kesuksesan itu dengan keberhasilan mengumpulkan uang yang
banyak, untuk itulah hadirnya pakar yang mengajak kita untuk menuju sukses
dalam keuangan.
Miliuner
termuda Singapura, Adam Khoo, memberikan tips untuk mencapai kesuksesan
finansial. Apa saja tipsnya? Menurut Adam, untuk meraih sukses dalam keuangan,
langkah pertama yang harus dilakukan adalah menanamkan kepercayaan pada diri.
"Percaya 10 tahun atau 5 tahun lagi kita bisa menjadi miliuner.Jika kita
berpikir tidak bisa, tidak bisa, kita tidak akan pernah memulai," kata Adam
dalam acara Wealth Academy di Hotel Aryadutha, Jakarta, Sabtu (15/1/2011).
Langkah
kedua, lanjut Adam, harus mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk yang menghalangi
kita untuk sukses finansial."Beberapa kebiasaan ada yang dapat membuat
kita menjadi kaya ada yang membuat kita semakin susah," ujarnya.
Adapun
kebiasaan yang membuat seseorang menjadi sukses finansial, kata Adam, adalah
berinvestasi dan tidak mengundur-undur waktu untuk melakukan aksi.
"Seorang miliuner meng-invest lebih banyak dari yang mereka
belanjakan," katanya.
Lalu,
apa saja yang merupakan bentuk investasi? Menurut Adam, investasi adalah segala
bentuk pengalokasian dana yang kemudian dapat menambah uang, berbeda dengan
belanja yang hanya mengurangi uang. "Edukasi?Itu investasi, membeli buku
belajar finansial, itu investasi.Sementara membeli mobil mewah, itu
belanja," katanya.
Selain
memiliki kepercayaan dan kebiasaan miliuner, langkah yang kemudian harus
dilakukan, ujar Adam, adalah menentukan tujuan atau target yang ingin dicapai.
"Goal, berapa banyak uang yang kamu ingin miliki, kamu harus punya
target untuk tahu bagaimana cara mencapai target itu," ungkap Adam.
Kemudian,
tujuan tersebut harus diiringi dengan membuat perencanaan keuangan berupa
strategi keuangan yang baik.Perencanaan keuangan tersebut, kata Adam, harus
didukung dengan peningkatan pemasukan dan kontrol diri untuk tidak banyak
membelanjakan uang.Selanjutnya, menurut Adam, tetap diperlukan berinvestasi
yang kemudian dilengkapi dengan langkah proteksi.Memproteksi kondisi keuangan.
"Investasi adalah keharusan," imbuh Adam.[Delapan Langkah Menuju
Sukses Keuangan, Kompas.com, Minggu, 16/1/2011 | 11:02 WIB].
Sukses
mengumpulkan kekayaan itu merupakan salah satu bagian terkecil dari kesuksesan
hidup manusia, demikian kesuksesan meraih jabatan penting pada Pemerintahan,
padahal indikaktor kesuksesan itu tidak bisa hanya pada satu hal saja.DR.Didin
Hafiduddin dalam tulisannya menyatakan tentang indicator kesuksesan hidup.
Yang
perlu kita sadari bersama bahwa indikator kesukesan dalam pandangan ajaran
Islam bukan semata-mata pada aspek materi dan bukan pula sebaliknya hanya pada
aspek rohani.Bukan pula pada aspek hablumminallah saja dengan mengabaikan
hablumminannas atau sebaliknya, tetapi keseimbangan antara keduanya (tawazun)
saling melengkapi dan saling mengisi.
Indikator
kesuksesan yang bersifat tawazun ini, antara lain, seperti diungkapkan
dalam QS Al-Mukminun (23): 1-11 (yang sering dijadikan contoh pribadi
Rasulullah SAW yang sukses), yaitu: pertama, selalu berusaha untuk menegakkan
shalat dengan penuh kekhusyukan dengan cara menjadikan shalat sebagai sebuah
kebutuhan utama di samping kewajiban. Shalat dijadikan sebagai medium utama
untuk meraih pertolongan dan ridha Allah SWT.Apalagi jika ditambah dengan
shalat berjamaah yang dijadikannya untuk membangun silaturahim dan menguatkan
ukhuwah Islamiyah di antara sesama orang yang rukuk dan sujud.
Kedua,
mampu menghindarkan diri dari ucapan dan tindakan yang tidak ada
manfaatnya.Artinya, berusaha memiliki etos kerja dan produktivitas yang tinggi
serta mempersembahkan yang terbaik dalam bidang dan keahliannya sehingga
betul-betul menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya.
Ketiga,
selalu berusaha mengeluarkan sebagian hartanya untuk diberikan kepada yang
membutuhkan, terutama kaum dhuafa dalam bentuk zakat, infak, dan bentukbentuk
kedermawanan lainnya.Sikap ini akan melahirkan kekuatan etika dan moral di
dalam mencari rezeki. Hanya rezeki yang halal-lah yang ingin ia dapatkan.
Keempat,
mampu menjaga akhlak dan kehormatannya dalam pergaulan dengan lawan jenis
sehingga selalu terjaga kejernihan hati, pikiran, dan juga raganya. Dalam
situasi apa pun tidak pernah melakukan kegiatan hura-hura yang penuh dengan
kebebasan dan permisif.
Kelima,
selalu ber usaha menjaga amanah dan janjinya. Disadari betul bahwa segala
potensi yang ada pada dirinya se-perti ilmu pengetahuan dan harta meru pakan
amanah dan titipan dari Allah SWT yang kemudian akan dipertangungjawabkan di
hadapanNya. Persepsi dan pandangan seperti ini akan menyebabkan seseorang tidak
akan pernah menghalalkan segala macam cara untuk meraih kenikmatan dunia yang
sifatnya sesaat dan sementara.
Inilah
beberapa indikator kesuksesan hidup seorang Muslim kapan dan di mana pun, yang
mudah-mudahan menjadi guideline dalam mengaplikasikan dan mengimplementasikan.Niat
yang ikhlas dan kerja keras yang dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan kepada
Allah SWT merupakan bingkai utamanya.[Hikmah dari
KH Didin Hafidhuddin: Indikator Kesuksesan Hidup, Republika
Online, Selasa, 04 Januari 2011, 15:00 WIB].
Sepanjang
sejarah kehidupan yang kita amati, tidak ada orang yang mampu mengumpulkan
kesuksesan pada semua sector di dunia ini, ketika dia sukses pada satu asfek
maka pada asfek lain dia gagal, ketika seseorang diburu oleh kesuksesan mencari
harta maka banyak yang kita lihat pengamalan agamanya yang tidak becus, begitu
juga sebaliknya orang yang sukses di bidang agama, kerap kita lihat gagal dia
pada bidang materi, itulah makanya Islam membatasi kesuksesan itu bukan pada
materi saja tapi juga pada ukhrawi, carilah kesuksesan di dunia tapi jangan
lupakan kampung akherat, idealnya kita sukses di dunia dan berhasil jaya pula
di akherat, apalah artinya sukses di dunia tapi akhirnya celaka di akherat,
wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 24 Juni 2011.M/ 22 Rajab 1432.H].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar