Senin, 14 Desember 2015

65. Sukses








Sukses adalah kata yang menggembirakan bagi orang-orang yang berhasil dalam berbagai bidang, sukses artinya berhasil mencapai sesuatu, kata orang Malaysia  sukses itu adalah “Berjaye” yang membuat orang senang dari keberhasilan yang sudah diraihnya walaupun awalnya semua itu memerlukan waktu yang panjang dengan membanting tulang, memeras keringat dan bersungguh-sungguh untuk mencapainya. Kata guru saya ketika di SMA dulu namanya Animar Gani, dia mengajak murid-murid untuk tekun belajar, memperhatikan keterangan guru di kelas dan mengulang-ulang kembali pelajara itu dengan semangat, tidak bermalas-malasan karena sukses itu tidak akan diraih oleh orang yang malas.

Nabi Muhammad SAW sangat tak menyukai umatnya mengumbar kata-kata 'seandainya'. Bahkan, dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya, kalimat lau (seandainya) membawa kepada perbuatan setan."
Syekh Shaleh Ahmad asy-Syaami, menjelaskan, kata 'seandainya' tidak membawa manfaat sama sekali. Menurutnya, meskipun seseorang mengucapkan ungkapan itu, ia tidak akan mampu mengembalikan apa yang telah berlalu, dan menggagalkan kekeliruan yang telah terjadi. Dalam bukunya bertajuk Berakhlak dan Beradab Mulia, Syekh asy Syaami mewanti-wanti bahwa ungkapan 'seandainya' bisa berkonotasi sebagai angan-angan semu, dan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

"Sikap seperti ini adalah sikap yang lemah dan malas," ujarnya.Bahkan, kata dia, Allah SWT pun membenci sikap lemah, tidak mampu, dan malas.Dalam hadis dinyatakan, "Allah SWT mencela sikap lemah, tidak bersungguh-sungguh, tetapi kamu harus memiliki sikap cerdas dan cekatan, namun jika kamu tetap terkalahkan oleh suatu perkara, maka kamu berucap 'cukuplah Allah menjadi penolongku, dan Allah sebaik-baik pelindung."(HR Abu Dawud).

Sikap tangkas dan cerdas yang di maksud, tutur dia, melakukan usaha dan tindakan-tindakan yang bisa membawa pada keberhasilan meraih sesuatu yang bermanfaat, baik di dunia maupun akhirat.Ini, sambung Syekh asy-Syaami, merupakan bentuk aplikasi terhadap hukum kausalitas yang telah Allah tetapkan.
Keutaman dari sikap tangkas dan cerdas yakni bisa menjadi pembuka amal kebaikan. Sebaliknya, sikap lemah dan malas, seperti telah di ingatkan Rasulullah SAW, hanya akan mendekatkan diri kepada setan. "Sebab, jika seseorang tidak mam pu atau malas melakukan se sua tu yang bermanfaat baginya dan ma syarakat sekitar, maka ia akan selalu menjadi seseorang yang kerap berangan-angan," paparnya.

Perbuatan dan sikap semacam itu, selain kontraproduktif serta tidak akan membawa pada keberhasilan, juga sama saja dengan membuka amal perbuatan setan karena pintu amal setan tidak lain adalah sikap malas dan lemah.[
Inilah Resep Islam Menjauhi Sikap Malas, Hidayatullah.com.Selasa, 04 Mei 2010, 22:25 WIB].

Artinya kesuksesan dapat dicapai setelah bekerja keras, mengerahkan segala potensi untuk menghindari segala rintangan dan tantangan, menjadikan tantangan menjadi peluang, merubah batu tarungan menjadi pijakan untuk melompat lebih jauh mengejar takdir yang lebih baik bagi diri kita, karena memang sukses itu harus diupayakan, tidak pernah Allah menurunkan rezeki lansung dari langit, galilah potensi rezeki itu pada  hamparannyabumi dengan memberdayakan akal fikiran.
Dalam kehidupan, kita mengenal namanya takdir. Takdir adalah suatu ketentuan akan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Jadi, segala sesuatu yang terjadi tentu ada takdirnya, termasuk manusia.Masing-masing manusia memiliki takdir yang berbeda antara satu dengan lainnya.Tergantung bagaimana dia membawa dirinya sendiri.
Sebagaimana yang selalu kita lihat setiap hari, ada orangyang rajin, tapi ada juga yang malas.Adaorangyang pandai, tapi ada juga yang bodoh.  Sebenarnya apayang membedakan mereka? Padahal mereka sama-sama di anugerahi dengan akal dan pikiran yangsama. Apakah karena kekayaan, atau karena keturunan.
Ternyata bukan, kekayaan dan keturunan tidak memiliki pengaruh yang besar akan  kesuksesan seseorang. Kenyataannya, sikap dan pemikiranlah yang membedakan antara orangyang satu dengan yang lainnya.Apayang dia kerjakan dan pikirkan, itulah yang menentukan bagaimana hidupnya.
Dan hal itulah yang membedakan bagaimana nasib seseorang.Diri kitalah, yang menentukan nasib kita kedepan.Apayang kita lakukan dan pikirkan sekarang, itulah nasib kita kedepan.

Hidup hanyalah pilihan, apakah kita akan memilih sukses atau gagal, pandai atau bodoh, kaya atau miskin, bermanfaat atau pecundang. Nasib kita, ditentukan oleh diri kita sendiri.[Sukses, Dalam Genggaman Kita,Posted by admin in Motivasi on Azzamfasih.com 04 25th, 2010 ].

Manusia sebagai makhluk yang serba terbatas, hanya mampu berusaha dan berdo’a sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah Swt. Inilah yang dimaksud dengan tawakal artinya menyerahkan segala ikhtiar kepada ketentuan-Nya. Satu ketika datanglah seorang sahabat kepada Rasulullah, lalu beliau menanyakan prihal kedatangan sahabat tersebut.  Dia datang dengan mengendarai ontanya dan onta itu dilepaskan demikian saja diluar tanpa diikat, katanya,”Saya tawakal kepada Allah”,mendengar jawaban demikian lalu Rasulullah menyatakan bahwa sikap demikian itu bukanlah tawakal,”ikat dahulu ontamu, lalu tawakallah”. Allah berfirman dalam surat Ali Imran 3;159

”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu, Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”

            Dari Umar bin Khatthab, ”Saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda,”Andaikata kamu benar-benar bertawakal kepada Allah,niscaya Allah akan memberi rezeki kepadamu, sebagaimana dia memberi rezeki kepada burung yang keluar diwaktu pagi dengan perut kosong dan kembali diwaktu sore dengan perut kenyang’[HR.Turmuzi].
           
            Orang yang mau berusaha  mencari rezeki disertai tawakal kepada Allah, maka Allah akan memberikan rezeki kepadanya, sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung-burung yang keluar pagi dengan perut lapar dan sore hari pulang dengan kenyang, intinya mau bekerja dengan niat mencari rezeki untuk kepentingan pribadi dan keluarga dalam bingkai ridha Allah.

            Dari Anas berkata,”Ada dua orang bersaudara pada masa nabi Saw, yang satunya selalu mendatangi majlis nabi   Saw, sedang yang lainnya bekerja terus. Kemudian yang bekerja itu mengadukan saudaranya yang tidak bekerja kepada  nabi Saw, maka   beliau bersabda,”Kemungkinan sekali engkau diberi rezeki lantaran dia”.

            Ada orang yang sukses dalam mencari rezeki sehingga mampu mengumpulkan kekayaan lumayan, tersimpan di tabungan dan deposito, aset berupa sawah dan ladang, kerbau dan sapi dia miliki, kendaraan mobil dan motor serta rumah sudah dahulu dia beli ditambah lagi dengan semakin majunya usaha. Ada orang yang sukses dalam pendidikan, anak-anaknya berhasil mencapai gelar sarjana dan sebentar lagi dapat pekerjaan yang menjanjikan. Ada pula yang berhasil sebagai Anggota Dewan, sebagai penulis, sebagai ulama dan berbagai bidang lainnya, hal itu semuanya berangkat dari hidup prihatin dan disiplin, kerja keras, usaha maksimal dan doa kemudian barulah diperoleh kesuksesan itu, inilah takdir terbaik yang  diupayakan dan ditentukan Allah.

Hampir dipastikan, kita semua tidak pernah bisa meraba bagaimana rupa takdir kita ke depan. Segala sesuatunya adalah misteri bagi kita.Acap kali kejadian dan semua peristiwa terjadi begitu saja tanpa bisa direkayasa.Terkadang kita juga tidak berkuasa dengan amalan kita sendiri.Kegagalan, kesuksesan, kaya miskin, antara kehidupan dan kematian adalah mutlak milik Allah. Bahkan, di beberapa ayat diinformasikan, salah satunya dalam QS ash-Shaaffat, [37]: 96, bahwa kita dan semua amalan kita Allahlah pembuat skenarionya, "Wallahu khalaqakum wa maa ta'maluun".

Meski pembuat skenario semuanya adalah Allah SWT, tapi hal yang tidak bisa dinapikan adalah bahwa banyak amalan yang bisa menentukan arah keberpihakan takdir-Nya. Pertama, doa. Sebuah hadis, Laa yaruddul qadhaa-a illa biddu'a, tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa. Jika kita menghendaki kegagalan beralih kepada kesuksesan, maka ubahlah di antaranya dengan doa. Kenapa?Karena Allah sangat mencintai hamba-Nya yang banyak minta kepada-Nya. Dalam hadis lain disebutkan, "Innallaaha yuhibul mulihhiina biddu'a." Karena Allah mencintai hamba-Nya, maka akan mudah bagi-Nya mengubah apa pun dari semua ciptaan-Nya. Cukup dengan mengatakan, "Jadilah!" Maka, "Terjadilah." (QS Yaasiin [36]: 82).

Ketahuilah, doa telah terbukti menjadi senjata yang cukup menentukan bagi orang-orang yang beriman. Sabda Nabi SAW, "ad-Du'au silahul mu'miniin." Doa adalah senjata orang yang beriman.
[Muhammad Arifin Ilham, Amalan yang Mewarnai Penentuan Takdir,Republika Online, Jumat, 04 Juni 2010, 09:54 WIB].

            Ternyata dibalik kesuksesan yang diraih oleh seseorang tidak lepas dari tangan Allah yang berperan disana, kita menjemput kesuksesan itu melalui usaha yang kita upayakan dan do’a yang disanjungkan.Artinya kesuksesan tidak lepas dari pihak luar yang mendorong dan menolong kita, sehingga wajar saja bila seorang mukmin tidak boleh bangga yang berlebihan dan sombong atas kesuksesan yang dicapainya.

Khalifah Ali bin Abi Thalib RA pernah memerintahkan Asytar al-Nukhai, gubernur Mesir untuk mendapatkan pekerja-pekerja yang andal. Dalam perintahnya, ia mengatakan, "Jika engkau ingin mengangkat karyawan, maka pilihlah secara selektif. Janganlah engkau mengangkatnya karena ada unsur kecintaan dan kemuliaan (baca: nepotisme), karena hal ini akan menciptakan golongan durhaka dan khianat. Pilihlah karyawan karena pengalaman dan kompetensi yang dimiliki  ...."

Begitupun, karakter memegang peran penting.Karena menjadi fondasi nilai bagi keterampilan yang dimiliki setiap individu karyawan.Karakter inilah yang menjadi benteng kokoh dari serangan-serangan berbagai nilai yang merusak.
Itulah sebabnya, Ali bin Abi Thalib ra melanjutkan perintahnya kepada Gubernur Mesir Asytar al-Nukhai untuk memperhatikan karakter sebagai faktor penentu dalam merekrut pegawai. Berikut nukilan perintah beliau, ".... Pilihlah karyawan karena memiliki tingkat ketakwaannya dan keturunan orang shaleh, serta orang yang memiliki akhlak mulia, argumen yang shahih, tidak mengejar kemuliaan (pangkat) dan memiliki pandangan yang luas atas suatu persoalan."
Kompetensi atau keterampilan menjadi ranah pengembangan Sumber Daya Insani. Sebaliknya karakter sepatutnya berada pada ranah penarikan SDI. Mengapa demikian? Karena kompetensi atau keterampilan lebih mudah untuk diasah dan dikembangkan di masa depan dibanding karakter.
Tanpa memperhatikan keduanya, atau lebih mengedepankan keterampilan yang dimiliki saat ini tanpa memedulikan karakternya, akan mengakibatkan preseden buruk bagi perusahaan. Alih-alih mecapai tujuan bisnis, justru semua kerja yang dilakukan akan semakin mengerdilkan eksistensi perusahaan.  "Ketika engkau menyia-nyiakan amanah, maka tunggulah kehancuran. Dikatakan, 'Wahai Rasulullah, apa yang membuatnya sia-sia?' Rasul bersabda, 'Ketika suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya." (HR Bukhari).[A Riawan Amin, Empat Kunci Sukses Individu dalam Bertugas, Republika Online, Jumat, 30 Juli 2010, 00:10 WIB].

Hal yang sangat penting dalam hidup ini adalah uang dan kekayaan, kalau ada yang mengatakan uang bukanlah segala-galanya maka sebenarnya tidak ada artinya segala-galanya tanpa adanya uang, sehingga orang akan mengidentikkan kesuksesan itu dengan keberhasilan mengumpulkan uang yang banyak, untuk itulah hadirnya pakar yang mengajak kita untuk menuju sukses dalam keuangan.

Miliuner termuda Singapura, Adam Khoo, memberikan tips untuk mencapai kesuksesan finansial. Apa saja tipsnya? Menurut Adam, untuk meraih sukses dalam keuangan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menanamkan kepercayaan pada diri. "Percaya 10 tahun atau 5 tahun lagi kita bisa menjadi miliuner.Jika kita berpikir tidak bisa, tidak bisa, kita tidak akan pernah memulai," kata Adam dalam acara Wealth Academy di Hotel Aryadutha, Jakarta, Sabtu (15/1/2011).

Langkah kedua, lanjut Adam, harus mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk yang menghalangi kita untuk sukses finansial."Beberapa kebiasaan ada yang dapat membuat kita menjadi kaya ada yang membuat kita semakin susah," ujarnya.
Adapun kebiasaan yang membuat seseorang menjadi sukses finansial, kata Adam, adalah berinvestasi dan tidak mengundur-undur waktu untuk melakukan aksi. "Seorang miliuner meng-invest lebih banyak dari yang mereka belanjakan," katanya.
Lalu, apa saja yang merupakan bentuk investasi? Menurut Adam, investasi adalah segala bentuk pengalokasian dana yang kemudian dapat menambah uang, berbeda dengan belanja yang hanya mengurangi uang. "Edukasi?Itu investasi, membeli buku belajar finansial, itu investasi.Sementara membeli mobil mewah, itu belanja," katanya.
Selain memiliki kepercayaan dan kebiasaan miliuner, langkah yang kemudian harus dilakukan, ujar Adam, adalah menentukan tujuan atau target yang ingin dicapai. "Goal, berapa banyak uang yang kamu ingin miliki, kamu harus punya target untuk tahu bagaimana cara mencapai target itu," ungkap Adam.
Kemudian, tujuan tersebut harus diiringi dengan membuat perencanaan keuangan berupa strategi keuangan yang baik.Perencanaan keuangan tersebut, kata Adam, harus didukung dengan peningkatan pemasukan dan kontrol diri untuk tidak banyak membelanjakan uang.Selanjutnya, menurut Adam, tetap diperlukan berinvestasi yang kemudian dilengkapi dengan langkah proteksi.Memproteksi kondisi keuangan. "Investasi adalah keharusan," imbuh Adam.[Delapan Langkah Menuju Sukses Keuangan, Kompas.com, Minggu, 16/1/2011 | 11:02 WIB].

Sukses mengumpulkan kekayaan itu merupakan salah satu bagian terkecil dari kesuksesan hidup manusia, demikian kesuksesan meraih jabatan penting pada Pemerintahan, padahal indikaktor kesuksesan itu tidak bisa hanya pada satu hal saja.DR.Didin Hafiduddin dalam tulisannya menyatakan tentang indicator kesuksesan hidup.

Yang perlu kita sadari bersama bahwa indikator kesukesan dalam pandangan ajaran Islam bukan semata-mata pada aspek materi dan bukan pula sebaliknya hanya pada aspek rohani.Bukan pula pada aspek hablumminallah saja dengan mengabaikan hablumminannas atau sebaliknya, tetapi keseimbangan antara keduanya (tawazun) saling melengkapi dan saling mengisi.

Indikator kesuksesan yang bersifat tawazun ini, antara lain, seperti diungkapkan dalam QS Al-Mukminun (23): 1-11 (yang sering dijadikan contoh pribadi Rasulullah SAW yang sukses), yaitu: pertama, selalu berusaha untuk menegakkan shalat dengan penuh kekhusyukan dengan cara menjadikan shalat sebagai sebuah kebutuhan utama di samping kewajiban. Shalat dijadikan sebagai medium utama untuk meraih pertolongan dan ridha Allah SWT.Apalagi jika ditambah dengan shalat berjamaah yang dijadikannya untuk membangun silaturahim dan menguatkan ukhuwah Islamiyah di antara sesama orang yang rukuk dan sujud.
Kedua, mampu menghindarkan diri dari ucapan dan tindakan yang tidak ada manfaatnya.Artinya, berusaha memiliki etos kerja dan produktivitas yang tinggi serta mempersembahkan yang terbaik dalam bidang dan keahliannya sehingga betul-betul menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya.
Ketiga, selalu berusaha mengeluarkan sebagian hartanya untuk diberikan kepada yang membutuhkan, terutama kaum dhuafa dalam bentuk zakat, infak, dan bentukbentuk kedermawanan lainnya.Sikap ini akan melahirkan kekuatan etika dan moral di dalam mencari rezeki. Hanya rezeki yang halal-lah yang ingin ia dapatkan.
Keempat, mampu menjaga akhlak dan kehormatannya dalam pergaulan dengan lawan jenis sehingga selalu terjaga kejernihan hati, pikiran, dan juga raganya. Dalam situasi apa pun tidak pernah melakukan kegiatan hura-hura yang penuh dengan kebebasan dan permisif.
Kelima, selalu ber usaha menjaga amanah dan janjinya. Disadari betul bahwa segala potensi yang ada pada dirinya se-perti ilmu pengetahuan dan harta meru pakan amanah dan titipan dari Allah SWT yang kemudian akan dipertangungjawabkan di hadapanNya. Persepsi dan pandangan seperti ini akan menyebabkan seseorang tidak akan pernah menghalalkan segala macam cara untuk meraih kenikmatan dunia yang sifatnya sesaat dan sementara.

Inilah beberapa indikator kesuksesan hidup seorang Muslim kapan dan di mana pun, yang mudah-mudahan menjadi guideline dalam mengaplikasikan dan mengimplementasikan.Niat yang ikhlas dan kerja keras yang dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT merupakan bingkai utamanya.[Hikmah dari KH Didin Hafidhuddin: Indikator Kesuksesan Hidup, Republika Online, Selasa, 04 Januari 2011, 15:00 WIB].

Sepanjang sejarah kehidupan yang kita amati, tidak ada orang yang mampu mengumpulkan kesuksesan pada semua sector di dunia ini, ketika dia sukses pada satu asfek maka pada asfek lain dia gagal, ketika seseorang diburu oleh kesuksesan mencari harta maka banyak yang kita lihat pengamalan agamanya yang tidak becus, begitu juga sebaliknya orang yang sukses di bidang agama, kerap kita lihat gagal dia pada bidang materi, itulah makanya Islam membatasi kesuksesan itu bukan pada materi saja tapi juga pada ukhrawi, carilah kesuksesan di dunia tapi jangan lupakan kampung akherat, idealnya kita sukses di dunia dan berhasil jaya pula di akherat, apalah artinya sukses di dunia tapi akhirnya celaka di akherat, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 24 Juni 2011.M/ 22 Rajab 1432.H].









Tidak ada komentar:

Posting Komentar