Rabu, 09 Desember 2015

32. Isteri Ideal



Dalam sebuah tulisannya, ”Menyingkap Rahasia Kebahagiaan”, Al Gazali mengemukakan beberapa konsep perkawinan, katanya bahwa perkawinan menempati kedudukan yang penting sekali dalam urusan kehidupan manusia. Keuntungan pertama yang sangat besar sekali manfaatnya   menambah jumlah manusia yang mengabdi kepada Allah, manfaat lain yang disabdakan Nabi Muhammad bahwa anak-anak yang shaleh akan memberi manfaat bagi orangtuanhya kelak dikemudian hari sesudah matinya. Apabila seorang anak diberitahukan bahwa ia akan masuk syurga, maka ia akan menangis dan mengatakan, ”Saya tidak mau masuk ke dalam syurga itu kalau tidak dengan ibu dan bapak saya”.

Diantara faedah lain dari perkawinan ialah bahwa dengan berkumpulnya suami isteri duduk-duduk merupakan suatu cara beristirahat yang dapat memberikan kesegaran fikiran sehabis bekerja berat, menunaikan tugas kewajiban agama, sehabis beristirahat dapat kembali bekerja dengan semangat baru. Sebagaimana Rasul bila menerima tekanan wahyu yang berat untuk meringankan beban itu dihampirinya isterinya Aisyah lalu bersabda, ”Bercakap-cakaplah padaku wahai Aisyah ”.

            Perkawinanpun akan membawa manfaat bahwa didalamnya akan ada yang memelihara rumah, memasak makanan, mencuci pinggan, membersihkan dan mengurus rumah tangga pada umumnya. Kalau orang lelaki sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat di luar, maka isteri adalah ratu yang mengatur rumah tangganya.
Bagi seorang isteri yang paling penting dalam rumah tangga ialah berkelakuan baik, sopan santun dan sebagainya, kalau seorang isteri melakukan suatu perbuatan yang tidak sopan dan suaminya terus diam, maka si suami itu mendapat nama yang jelek dan kehidupan agamanya terhalang. Kalau ia turut pula berbicara maka kehidupannya menjadi pahit dan kalau suami itu menceraikannya maka isteri akan merasakan kepedihan akibat dari perceraian itu. Seorang isteri yang menurut aturan hawa nafsu terpandang cantik adalah berbahaya, orang seperti itu lebih baik tidak kawin, Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa yang mencari isteri hanya sekedar untuk kepentingan kecantikan semata-mata atau harta bendanya saja, maka ia akan kehilangan kedua-duanya”.
           
            Figur isteri shalehah yang pernah tampil di panggung sejarah diantaranya Siti Khadijah, Aisyah, Siti Asiyah yaitu isteri Fir'aun, Siti Mashithah dan Siti Maryam. Adapun tanda-tanda atau kriteria isteri shalehah selain pendapat Imam Al Ghazali itu adalah;

1.Pendamping hidupnya pria yang beriman
            Wanita shalehah adalah wanita yang berhak menikah dengan lelaki shaleh agar rumah tangga terjalin dengan bingkai agama dan memang Allah telah mentakdirkan bahwa wanita yang baik-baik akan mendapatkan suami yang baik-baik pula;
"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)" [An Nuur 24;26].

2.Mampu menjadi arbatul bait/pembina rumah tangga
Isteri yang shalehah berarti seorang wanita yang tahu kewajibannya terhadap Tuhannya dan terhadap suaminya, sehingga si suami betul-betul merasa yakin bahwa isterinya hanyalah buat dirinya sendiri saja. Segala yang dilakukannya adalah untuk memberikan kesenangan dan ketenangan suaminya. Badan yang lelah pulang kerja dapat dikuatkan di dalam rumah tangga oleh isteri yang shalehah. Rumah tangga yang rapi, makan yang teratur dan sesuai dengan selera. Si isteri tahu bahwa sebagai perangsang seksual. Ia tidak akan berpakaian yang  mencolok di hadapan laki-laki lain yang bukan suaminya, sehingga menjadi teransang olehnya. Tingkah lakunya, cara ia berbicara, tidak akan menggoda laki-laki lain.

            Apabila wanita berantakan, maka rumah tangga akan berantakan dan negara juga akan berantakan. Karena rumah tangga adalah kesatuan kecil dari masyarakat dan negara. Presiden mempunyai rumah tangga dan isteri, menteri-menteri mempunyai rumah tangga, rakyatpun mempunyai rumah tangga, disana wanita memainkan peranan utama. Itulah sebabnya nabi Muhammad Saw bersabda, ” Wanita adalah tiang negara, bila ia baik maka baiklah negara dan bila ia rusak maka rusaklah negara”. Dan sejarah kehidupan bangsa-bangsa memperlihatkan kebenaran sabda Nabi Muhammad Saw ini.

            Sekelumit kisah Asma binti Abu Bakar As Siddiq, isteri Az Zubair bin Awwam. Asma saudara kandung Aisyah mendapat gelar ”Zatun Nitaqain” dari Rasulullah. Ia menyatakan tentang dirinya, ”Saya melayani Zubair dalam segala urusan rumah tangga saya yang melatih kudanya, memberikannya makan dan minum, menjahit timba yang bocor, menyiram tanaman serta memanggulnya sendiri kacang-kacangan”. Itulah Asma yang terkenal peranannya dalam sejarah Hijrah Nabi Saw sebagai Dzatun Nitaqain yang merobek stagennya menjadikan dua bagian, satu bagian sebagai pengikat bekal makanan untuk nabi dan ayahnya yang sedang singgah hijrah di gua Tsur, dan stagen satu lagi untuk dirinya.
           
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir [Ar Rum;21].

3.Memiliki kesabaran yang  tinggi
Dalam menapaki kehidupan ini penuh dengan onak dan duri yang merupakan ujian, untuk menghadapi itu semua harus dengan  sabar. Kesabaran isteri dituntut dalam rumah tangga apalagi menghadapi sikap suami yang tidak terpuji, kekurangan harta untuk memenuhi kehidupan rumah tangga ataupun ujian berupa musibah yang datang;

"Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk" [Al Baqarah 2;155-157]

4.Mampu tolong menolong dengan suami
Seorang isteri harus mampu tampil untuk bekerjasama dengan suaminya dalam berbagai hal diantaranya kerjasama dalam ketaatan kepada Allah, sama-sama mengerjakan ajaran islam dengan baik terutama pada asfek ibadah, keturunan yang diharapkan adalah keturunan generasi Rabbani yaitu generasi yang dekat kepada Allah, selain itu sang isteri secara agama tahu hak dan kewajibannya. Dalam asfek da'wah isteri senang hati melepas suami berda'wah dan mendidik dirinya serta anak dengan nilai-nilai da'wah. Dalam jihad seorang isteri dituntut untuk teguh menghadapi kehidupan, selalu berzikir, taat atas pimpinan suami, berbuat baik dan selalu sabar menghadapi segala hal.

5.Setia kepada suami untuk taat kepada Allah
Salah satu kesenangan suami dan kewajiban isteri adalah setia kepadanya dan hal ini sesuai dengan tuntutan agama kita, bahkan hukama menyatakan; "Sesungguhnya dengan janji adalah sebagian dari iman".

            Ujud kesetiaan itu diantaranya membantu pekerjaan suami, ikut menyelesaikan persoalan suami, patuh terhadap nasehat yang disampaikan suami, tidak melakukan sikap yang membuat suami tidak suka, sabar dalam kehidupan rumah tangga, tidak menyeleweng dan tidak melakukan perbuatan maksiat. 

            Suatu ketika Rasulullah melihat Ibunda Khadijah dalam keadaan melamun si sore hari, sudah tiga kali nabi menanyakan hal apa yang membuat dia begitu, tapi Khadijah belum ada resfon, kemudian Nabi berkata,"Aku tidak tahu, apakah sikap sedihmu sore ini karena hartamu sudah habis aku pergunakan untuk kepentingan da'wah ini". Mendengar itu Khadijah berkata,"Bukan itu ya Rasulullah, aku tidak sedih terhadap habisnya harta ini untuk kepentingan da'wah islamiyyah tapi yang akan sedihkan adalah tidak ada lagi yang akan aku berikan untuk da'wah ini, seandainya nanti ketika aku telah tiada, engkau akan menyeberangkan da'wah ini ke sebuah tempat, tidak ada jembatan untuk dilalui maka gunakanlah tulang-tulangku sebagai jembatan untuk menyeberangkannya".

6.Wanita yang kokoh dalam agama
            Bagaimanapun kehidupan yang dialami dalam rumah tangga yang diharapkan adalah tampilnya wanita shalehah yang kokoh memegang agamanya apapun yang akan terjadi. Siti Asiyah yang dipaksa menikah dengan Fir'aun akhirnya diapun dituntut untuk meninggalkan agama tauhid yang diimaninya, ketika hal itu harus dihadapinya maka dia siap untuk menerima kematian di tiang gantungan dari pada harus menyembah Fir'aun. Demikian pula halnya dengan Siti Mashithah, dipaksa pula oleh Fir'aun untuk kafir tapi dia tetap istiqamah walaupun harus syahid dalam kancah penggorengan dan masih banyak lagi wanita-wanita tegar sebagai teladan dalam kehidupan ini;

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu"[Fushilat 41;30]

7.Memiliki wawasan yang luas tentang islam
            Wanita shalehah adalah wanita yang berupaya untuk mengenal islam dengan baik agar rumah tangga yang diarungi penuh dengan nilai-nilai perjuangan, untuk itu dia harus membekali diri dengan nilai-nilai islam sehingga memiliki wawasan yang shamil [lengkap]  dan kamil [sempurna] dan membekali diri dengan fiqh da'wah agar berperan serta dalam mengembangkan agama ini minimal untuk keluarganya.
            Ratu Balqis adalah  contoh teladan yang perlu ditiru, walaupun dia sebelumnya menganut agama berhala namun dalam waktu singkat dia mentarbiyyah dirinya dengan islam, sebagaimana pengakuannya yang digambarkan Allah dalam surat An Naml 27;44

"Dikatakan kepadanya: "Masuklah ke dalam istana". Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. berkatalah Sulaiman: "Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca". berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku Telah berbuat zalim terhadap diriku dan Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam".

Dalam sebuah canda seorang ustadz pernah menyampaikan pengajian yang mengupas tentang wanita shalehah, dalam kesimpulannya mengatakan bahwa bila seorang  suami punya isteri yang berkarakter wanita shalehah sama artinya dia mendapat durian runtuh sehingga kurangnya rasanya kalau cuma satu,  tapi bila mendapatkan isteri yang thaleh sama artinya dia diruntuhi durian, tersiksa dan merana rasanya satupun tidak bisa bertahan lama.
 Isteri shalehah adalah idaman lelaki shaleh, ingin mendapatkan isteri shalehah maka seorang lelaki harus terlebih dahulu mempersiapkan diri sebagai lelaki shaleh karena wanita shalehah hanya untuk lelaki shaleh, isteri shalehah tidaklah tercipta demikian saja tapi setelah dibina oleh keluarga dan lingkungannya untuk menjadi seorang muslimah.

Menjadi seorang wanita yang sesuai dengan tuntunan ajaran Islam tidaklah sulit karena modal pertama yaitu sebagai muslim dan mukmin sudah dimiliki, tinggal lagi menambah ilmu dan wawasan tentang kepribadian yang dituntut oleh agama ini, adapun kriteria wanita muslimah itu  adalah;

1.Mauqiful Hayau/Sikap Malu
            Seorang muslimah harus punya rasa malu pada dirinya apalagi berinteraksi dengan lawan jenis karena demikian akhlak islam mengajarkan, Rasulullah bersabda,"Rasa malu tidaklah mendatangkan sesuatu, melainkan kebaikan semata" [HR. Bukhari].
            "Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak dan akhlak islam adalah rasa malu" [HR. Malik].

            Al Qur'an menggambarkan bahwa prilaku malu merupakan milik wanita mulia sejak zaman dahulu, sebagaimana kisah anak nabi Syu'aib yang bertemu dengan nabi Musa; "Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. kamu Telah selamat dari orang-orang yang zalim itu".[Al Qashash 28;25]


2.Qana'ah/Merasa Cukup
Kehadiran manusia di dunia ini dalam rangka mengabdikan dirinya kepada Allah pada seluruh asfek kehidupan, yang kita kenal dengan ibadah. Salah satu makna dari kalimat La Ilaaha Illallah adalah Laa Ma’buda Illallah yaitu tidak ada yang disembah kecuali Allah, artinya seluruh rangkaian tugas kehidupan seorang mukmin harus bernuansa ibadah sampai kepada mencari rezeki dan menerima rezeki dari Allah dengan rasa qana’ah. Qana’ah adalah sifat mulia seorang mukmin terhadap rezeki yang diberi Allah, dia menerima berapapun jumlahnya sambil terus berusaha memperbaiki nasibnya.
Dalam hal urusan dunia islam mengajak kita untuk memahami hal-hal berikut;

            1.lebih baik kaya jiwa; harta bukanlah jaminan untuk menjadi kaya jiwa, kesederhaan harta suami janganlah menjadi hilang perhatian kepadanya, karena sang suami memiliki kaya jiwa yang tidak dimiliki orang lain, Rasulullah bersabda;"Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta tetapi kekayaan adalah kaya akan jiwa".

            2.Lihat orang yang lebih rendah; islam menuntun kita bila yang berkaitan dengan ibadah maka lihatlah yang diatas tapi yang berhubungan dengan harta maka lihatlah yang dibawah artinya masih banyak orang lain yang lebih miskin dan sulit hidupnya sehingga akan menjadikan besar artinya nikmat yang diberikan Allah itu; "Apabila salah seorang dari kalian melihat seseorang yang dianugerahi harta dan rupa, maka hendaklah melihat orang yang dibawahnya" [HR. Bukhari].

3.Amanah/ Dapat dipercaya
Wanita muslimah adalah wanita yang dapat amanah atau dapat dipercaya, Allah berfirman dalam surat Al Ahzab 33;72"Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat  kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh".

Yang dimaksud dengan amanat disini adalah suatu sikap dan sifat pribadi setia, tulus ikhlas dan jujur dalam melaksanakan sesuatu yangt dipercayakan kepadanya, berupa harta benda, rahasia maupun tugas kewajiban lainnya, pelaksanaan amanat dengan baik dapat disebut dengan Al Amin berarti yang mendapat kepercayaan, yang jujur, setia dan aman.

4.Tahfidzush Shauti/Memelihara Suara
Seorang wanita boleh bicara dengan orang lain selama memperhatikan sikap dan menjaga kepribadian muslimahnya. Diantaranya dia tidak boleh bicara dengan nada merayu, lembut dan manja  kepada orang yang bukan muhrimnya. Apalagi dengan sikap manja dan ingin dimanja karena hal ini akan mengundang lelaki lain tertarik kepadanya. Bukan berarti bersikap kasar dan suara keras, tapi bicaralah dengan tegas dan tepat, tidak bertele-tele dan bermanja-manjaan.

Ibnu Katsir berkata, ”Wanita dilarang dengan lelaki asing dengan ucapan lunak sebagaimana dia berbicara dengan suaminya”, wanita boleh bermanja-manja atau bicara dengan suara lembut mendayu hanya boleh kepada suami, ayahnya, kakak atau adik kandungnya atau anak dan cucunya.

Dikala dia diganggu oleh lelaki lain, dia harus bicara tegas dengan nada pasti, ”Jangan” sehingga lelaki tadi berfikir dua kali untuk bersikap tidak sopan kepadanya. Tapi bila ucapan wanita itu mengatakan, ”Jangan ah” sambil menampakkan sikap genit lagi manja tentu akan mengundang dan mengandung hasrat dari lelaki tersebut. Kita masih ingat bagaimana sikap bicara anak Nabi Syuaib ketika memanggil Musa untuk datang ke rumah ayahnya, dia bicara lugas dan tepat tanpa dibumbui oleh canda dan sikap merayu. " Hai isteri-isteri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik" [Al Ahzab 33;32]

5.Ibtirajul Zinata/Tidak Memamerkan Aurat
Aurat adalah bagian tubuh yang sensiitif. Tingkat kesensitifannya mahram dan bukan mahram berbeda sehingga batas yang harus ditutuppun berbeda. Rasulullah bersabda, ”Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat lelaki lainnya dan begitu juga wanita tidak boleh melihat aurat wanita lainnya” [HR. Bukhari].

Di tengah masyarakat Islam masih terdapat bahkan terlalu banyak wanita yang tidak menutup auratnya dengan baik. Mereka lebih suka pakaian yang diimport oleh orang-orang kafir dengan mode mini, tipis, ketat dan menonjolkan aurat yang seharusnya ditutup. Bahkan perguruan-perguruan Islampun masih belum serius dan tidak tegas terhadap pakaian ini sehingga tidak ada beda sekolah yang dikelola ummat Islam dengan yang dikelola non muslim. Ironinya guru yang mengajarpun tidak mampu berpakaian secara Islami.   "Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung" [An Nuur 24;31]

Doktor H. Suhairi Ilyas MA, mengungkapkan tentang hubungan busana dengan akhlaQ, Busana bukan hanya merupakan hubungan yang erat dengan aqidah dan ibadah, akan tetapi juga mempunyai hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Busana memberikan pengaruh terhadap diri pribadi yang memakai busana tersebut ataupun terhadap pribadi-pribadi di sekitarnya.

Seorang wanita yang berbusana muslimah tanpa disadarinya busana tersebut akan mempengaruhi dan membentuk wataknya sesuai dengan akhlak mulia seorang muslimah. Bila berbusana bintang atau artis kesayangannya umpamanya, tanpa disadarinya tingkah dan akhlaknya akan mengarah pula pada tingkah laku dan  akhlak artis pula.

Sebaliknya bila seorang artis yang biasanya memakai busana setiap harinya dengan selera zaman dan hawa nafsu belaka, akan tetapi setelah dia mempelajari tentang akhlak mulia dan kepribadian muslimah, akhirnya dengan penuh kesadaran diapun akan memulai memakai busana muslimah yang menjunjung tinggi akhlak mulia. Demikian hubungan timbal balik antara busana dan akhlak seseorang. Sedangkan hubungan/ pengaruh antara busana dengan akhlak masyarakat dapat kita jelaskan seperti berikut;

Apabila seorang wanita islam memakai busana muslimah yang sempurna setiap pergi ke suatu tempat/ keluar rumah, maka dikala dia lewat di hadapan kumpulan pemuda, pada umumnya para pemuda yang melihat dan memperhatikannya akan berfikir dua kali atau lebih untuk mengganggunya atau menggoda. Bahkan mereka merasa segan dan hormat karena pantulan akhlak mulia yang terpancar dari celah-celah busana muslimah yang dipakainya itu.     

Adapun sumbangan nyata dari kaum muslimah adalah kemampuannya dalam  menangkis arus mode jahili dengan makin tegaknya jilbab. Sungguh mode jahili yang sekarang berkembang memang secara sengaja bertujuan untuk merusak islam lewat kaum muslimahnya. Suatu penyusupan yang sangat halus dan rapi. Sebab itu sudah saatnya kita menyadari bahwa Paris sebagai pusat mode internasional, dengan perancang dari Yahudi dan Nasrani, senantiasa berusaha memerangkap kita. Tujuannya akhirnya adalah menelanjangi Adam dan Hawa. Betapa jahat dan kotornya misi yang mereka rancang itu.

Setiap muslimah boleh saja mereka pakai make up, hiasan matanya ialah menundukkan pandangan, hiasan bibirnya adalah lipstik kejujuran, hiasan pipinya adalah rasa malu, dia senantiasa menggunakan sabun istghfar untuk membasuh debu-debu maksiat dan daki-daki dosa, sedangkan jilbabnya menjaga rambut dari ketombe, aksesorisnya giwang kesopanan, gelang tawadhu’, cincin ukhuwah, kalung kesucian dan tempat berhiasnya adalah salon iman, wallahu a’lam. [Cubadak Solok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29 Agustus 2010]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar