Dalam sebuah tulisannya, ”Menyingkap Rahasia Kebahagiaan”, Al
Gazali mengemukakan beberapa konsep perkawinan, katanya bahwa perkawinan
menempati kedudukan yang penting sekali dalam urusan kehidupan manusia. Keuntungan
pertama yang sangat besar sekali manfaatnya
menambah jumlah manusia yang mengabdi kepada Allah, manfaat lain yang
disabdakan Nabi Muhammad bahwa anak-anak yang shaleh akan memberi manfaat bagi
orangtuanhya kelak dikemudian hari sesudah matinya. Apabila seorang anak
diberitahukan bahwa ia akan masuk syurga, maka ia akan menangis dan mengatakan,
”Saya tidak mau masuk ke dalam syurga itu
kalau tidak dengan ibu dan bapak saya”.
Diantara faedah lain dari perkawinan ialah
bahwa dengan berkumpulnya suami isteri duduk-duduk merupakan suatu cara
beristirahat yang dapat memberikan kesegaran fikiran sehabis bekerja berat,
menunaikan tugas kewajiban agama, sehabis beristirahat dapat kembali bekerja
dengan semangat baru. Sebagaimana Rasul bila menerima tekanan wahyu yang berat
untuk meringankan beban itu dihampirinya isterinya Aisyah lalu bersabda, ”Bercakap-cakaplah padaku wahai Aisyah ”.
Perkawinanpun
akan membawa manfaat bahwa didalamnya akan ada yang memelihara rumah, memasak
makanan, mencuci pinggan, membersihkan dan mengurus rumah tangga pada umumnya.
Kalau orang lelaki sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat di luar, maka
isteri adalah ratu yang mengatur rumah tangganya.
Bagi seorang isteri yang paling penting
dalam rumah tangga ialah berkelakuan baik, sopan santun dan sebagainya, kalau
seorang isteri melakukan suatu perbuatan yang tidak sopan dan suaminya terus
diam, maka si suami itu mendapat nama yang jelek dan kehidupan agamanya
terhalang. Kalau ia turut pula berbicara maka kehidupannya menjadi pahit dan
kalau suami itu menceraikannya maka isteri akan merasakan kepedihan akibat dari
perceraian itu. Seorang isteri yang menurut aturan hawa nafsu terpandang cantik
adalah berbahaya, orang seperti itu lebih baik tidak kawin, Rasulullah
bersabda, ”Barangsiapa yang mencari
isteri hanya sekedar untuk kepentingan kecantikan semata-mata atau harta
bendanya saja, maka ia akan kehilangan kedua-duanya”.
Figur isteri shalehah yang pernah
tampil di panggung sejarah diantaranya Siti Khadijah, Aisyah, Siti Asiyah yaitu
isteri Fir'aun, Siti Mashithah dan Siti Maryam. Adapun tanda-tanda atau
kriteria isteri shalehah selain pendapat Imam Al Ghazali itu adalah;
1.Pendamping
hidupnya pria yang beriman
Wanita shalehah adalah wanita yang berhak menikah
dengan lelaki shaleh agar rumah tangga terjalin dengan bingkai agama dan memang
Allah telah mentakdirkan bahwa wanita yang baik-baik akan mendapatkan suami
yang baik-baik pula;
"Wanita-wanita
yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat
wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk
laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang
baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh
mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)"
[An Nuur 24;26].
2.Mampu menjadi
arbatul bait/pembina rumah tangga
Isteri yang shalehah berarti seorang
wanita yang tahu kewajibannya terhadap Tuhannya dan terhadap suaminya, sehingga
si suami betul-betul merasa yakin bahwa isterinya hanyalah buat dirinya sendiri
saja. Segala yang dilakukannya adalah untuk memberikan kesenangan dan
ketenangan suaminya. Badan yang lelah pulang kerja dapat dikuatkan di dalam
rumah tangga oleh isteri yang shalehah. Rumah tangga yang rapi, makan yang
teratur dan sesuai dengan selera. Si isteri tahu bahwa sebagai perangsang
seksual. Ia tidak akan berpakaian yang
mencolok di hadapan laki-laki lain yang bukan suaminya, sehingga menjadi
teransang olehnya. Tingkah lakunya, cara ia berbicara, tidak akan menggoda
laki-laki lain.
Apabila
wanita berantakan, maka rumah tangga akan berantakan dan negara juga akan
berantakan. Karena rumah tangga adalah kesatuan kecil dari masyarakat dan
negara. Presiden mempunyai rumah tangga dan isteri, menteri-menteri mempunyai
rumah tangga, rakyatpun mempunyai rumah tangga, disana wanita memainkan peranan
utama. Itulah sebabnya nabi Muhammad Saw bersabda, ” Wanita adalah tiang negara, bila ia baik maka baiklah negara dan bila
ia rusak maka rusaklah negara”. Dan sejarah kehidupan bangsa-bangsa
memperlihatkan kebenaran sabda Nabi Muhammad Saw ini.
Sekelumit
kisah Asma binti Abu Bakar As Siddiq, isteri Az Zubair bin Awwam. Asma saudara
kandung Aisyah mendapat gelar ”Zatun
Nitaqain” dari Rasulullah. Ia menyatakan tentang dirinya, ”Saya melayani Zubair dalam segala urusan
rumah tangga saya yang melatih kudanya, memberikannya makan dan minum, menjahit
timba yang bocor, menyiram tanaman serta memanggulnya sendiri kacang-kacangan”.
Itulah Asma yang terkenal peranannya dalam sejarah Hijrah Nabi Saw sebagai
Dzatun Nitaqain yang merobek stagennya menjadikan dua bagian, satu bagian
sebagai pengikat bekal makanan untuk nabi dan ayahnya yang sedang singgah
hijrah di gua Tsur, dan stagen satu lagi untuk dirinya.
"Dan di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya
diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir [Ar Rum;21].
3.Memiliki kesabaran yang tinggi
Dalam menapaki kehidupan ini penuh dengan onak dan duri yang merupakan
ujian, untuk menghadapi itu semua harus dengan
sabar. Kesabaran isteri dituntut dalam rumah tangga apalagi menghadapi
sikap suami yang tidak terpuji, kekurangan harta untuk memenuhi kehidupan rumah
tangga ataupun ujian berupa musibah yang datang;
"Dan sungguh akan kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:
"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka Itulah yang
mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka
Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk" [Al Baqarah 2;155-157]
4.Mampu tolong
menolong dengan suami
Seorang isteri harus mampu tampil untuk bekerjasama dengan suaminya dalam
berbagai hal diantaranya kerjasama dalam ketaatan kepada Allah, sama-sama
mengerjakan ajaran islam dengan baik terutama pada asfek ibadah, keturunan yang
diharapkan adalah keturunan generasi Rabbani yaitu generasi yang dekat kepada
Allah, selain itu sang isteri secara agama tahu hak dan kewajibannya. Dalam
asfek da'wah isteri senang hati melepas suami berda'wah dan mendidik dirinya
serta anak dengan nilai-nilai da'wah. Dalam jihad seorang isteri dituntut untuk
teguh menghadapi kehidupan, selalu berzikir, taat atas pimpinan suami, berbuat
baik dan selalu sabar menghadapi segala hal.
5.Setia kepada
suami untuk taat kepada Allah
Salah satu kesenangan suami dan kewajiban isteri adalah setia kepadanya dan
hal ini sesuai dengan tuntutan agama kita, bahkan hukama menyatakan; "Sesungguhnya
dengan janji adalah sebagian dari iman".
Ujud kesetiaan itu diantaranya
membantu pekerjaan suami, ikut menyelesaikan persoalan suami, patuh terhadap
nasehat yang disampaikan suami, tidak melakukan sikap yang membuat suami tidak
suka, sabar dalam kehidupan rumah tangga, tidak menyeleweng dan tidak melakukan
perbuatan maksiat.
Suatu ketika Rasulullah melihat
Ibunda Khadijah dalam keadaan melamun si sore hari, sudah tiga kali nabi
menanyakan hal apa yang membuat dia begitu, tapi Khadijah belum ada resfon,
kemudian Nabi berkata,"Aku tidak tahu, apakah sikap sedihmu sore ini
karena hartamu sudah habis aku pergunakan untuk kepentingan da'wah ini".
Mendengar itu Khadijah berkata,"Bukan itu ya Rasulullah, aku tidak sedih
terhadap habisnya harta ini untuk kepentingan da'wah islamiyyah tapi yang akan
sedihkan adalah tidak ada lagi yang akan aku berikan untuk da'wah ini,
seandainya nanti ketika aku telah tiada, engkau akan menyeberangkan da'wah ini
ke sebuah tempat, tidak ada jembatan untuk dilalui maka gunakanlah
tulang-tulangku sebagai jembatan untuk menyeberangkannya".
6.Wanita yang
kokoh dalam agama
Bagaimanapun kehidupan yang dialami dalam rumah
tangga yang diharapkan adalah tampilnya wanita shalehah yang kokoh memegang
agamanya apapun yang akan terjadi. Siti Asiyah yang dipaksa menikah dengan
Fir'aun akhirnya diapun dituntut untuk meninggalkan agama tauhid yang
diimaninya, ketika hal itu harus dihadapinya maka dia siap untuk menerima
kematian di tiang gantungan dari pada harus menyembah Fir'aun. Demikian pula
halnya dengan Siti Mashithah, dipaksa pula oleh Fir'aun untuk kafir tapi dia
tetap istiqamah walaupun harus syahid dalam kancah penggorengan dan masih
banyak lagi wanita-wanita tegar sebagai teladan dalam kehidupan ini;
"Sesungguhnya orang-orang yang
mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:
"Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka
dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu"[Fushilat
41;30]
7.Memiliki
wawasan yang luas tentang islam
Wanita shalehah adalah
wanita yang berupaya untuk mengenal islam dengan baik agar rumah tangga yang
diarungi penuh dengan nilai-nilai perjuangan, untuk itu dia harus membekali diri dengan nilai-nilai islam sehingga
memiliki wawasan yang shamil [lengkap]
dan kamil [sempurna] dan membekali diri dengan fiqh da'wah agar berperan
serta dalam mengembangkan agama ini minimal untuk keluarganya.
Ratu
Balqis adalah contoh teladan yang perlu
ditiru, walaupun dia sebelumnya menganut agama berhala namun dalam waktu
singkat dia mentarbiyyah dirinya dengan islam, sebagaimana pengakuannya yang
digambarkan Allah dalam surat An Naml 27;44
"Dikatakan
kepadanya: "Masuklah ke dalam istana". Maka tatkala dia melihat
lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua
betisnya. berkatalah Sulaiman: "Sesungguhnya ia adalah istana licin
terbuat dari kaca". berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku
Telah berbuat zalim terhadap diriku dan Aku berserah diri bersama Sulaiman
kepada Allah, Tuhan semesta alam".
Dalam sebuah canda seorang ustadz pernah
menyampaikan pengajian yang mengupas tentang wanita shalehah, dalam
kesimpulannya mengatakan bahwa bila seorang
suami punya isteri yang berkarakter wanita shalehah sama artinya dia
mendapat durian runtuh sehingga kurangnya rasanya kalau cuma satu, tapi bila mendapatkan isteri yang thaleh sama
artinya dia diruntuhi durian, tersiksa dan merana rasanya satupun tidak bisa
bertahan lama.
Isteri
shalehah adalah idaman lelaki shaleh, ingin mendapatkan isteri shalehah maka
seorang lelaki harus terlebih dahulu mempersiapkan diri sebagai lelaki shaleh
karena wanita shalehah hanya untuk lelaki shaleh, isteri shalehah tidaklah
tercipta demikian saja tapi setelah dibina oleh keluarga dan lingkungannya
untuk menjadi seorang muslimah.
Menjadi seorang wanita yang sesuai dengan tuntunan ajaran Islam tidaklah
sulit karena modal pertama yaitu sebagai muslim dan mukmin sudah dimiliki,
tinggal lagi menambah ilmu dan wawasan tentang kepribadian yang dituntut oleh
agama ini, adapun kriteria wanita muslimah itu
adalah;
1.Mauqiful Hayau/Sikap Malu
Seorang
muslimah harus punya rasa malu pada dirinya apalagi berinteraksi dengan lawan
jenis karena demikian akhlak islam mengajarkan, Rasulullah bersabda,"Rasa
malu tidaklah mendatangkan sesuatu, melainkan kebaikan semata" [HR.
Bukhari].
"Sesungguhnya
setiap agama memiliki akhlak dan akhlak islam adalah rasa malu" [HR.
Malik].
Al Qur'an
menggambarkan bahwa prilaku malu merupakan milik wanita mulia sejak zaman
dahulu, sebagaimana kisah anak nabi Syu'aib yang bertemu dengan nabi Musa; "Kemudian
datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan
kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia
memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami".
Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya
cerita (mengenai dirinya), Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. kamu
Telah selamat dari orang-orang yang zalim itu".[Al Qashash 28;25]
2.Qana'ah/Merasa Cukup
Kehadiran
manusia di dunia ini dalam rangka mengabdikan dirinya kepada Allah pada seluruh
asfek kehidupan, yang kita kenal dengan ibadah. Salah satu makna dari kalimat La
Ilaaha Illallah adalah Laa Ma’buda Illallah yaitu tidak ada
yang disembah kecuali Allah, artinya seluruh rangkaian tugas kehidupan seorang
mukmin harus bernuansa ibadah sampai kepada mencari rezeki dan menerima rezeki
dari Allah dengan rasa qana’ah. Qana’ah
adalah sifat mulia seorang mukmin terhadap rezeki yang diberi Allah, dia
menerima berapapun jumlahnya sambil terus berusaha memperbaiki nasibnya.
Dalam hal urusan dunia islam mengajak kita untuk memahami hal-hal berikut;
1.lebih
baik kaya jiwa; harta bukanlah jaminan untuk menjadi kaya jiwa, kesederhaan
harta suami janganlah menjadi hilang perhatian kepadanya, karena sang suami
memiliki kaya jiwa yang tidak dimiliki orang lain, Rasulullah bersabda;"Bukanlah
kekayaan itu dengan banyaknya harta tetapi kekayaan adalah kaya akan
jiwa".
2.Lihat orang yang lebih rendah;
islam menuntun kita bila yang berkaitan dengan ibadah maka lihatlah yang diatas
tapi yang berhubungan dengan harta maka lihatlah yang dibawah artinya masih
banyak orang lain yang lebih miskin dan sulit hidupnya sehingga akan menjadikan
besar artinya nikmat yang diberikan Allah itu; "Apabila salah seorang
dari kalian melihat seseorang yang dianugerahi harta dan rupa, maka hendaklah
melihat orang yang dibawahnya" [HR. Bukhari].
3.Amanah/ Dapat dipercaya
Wanita muslimah adalah wanita yang dapat amanah
atau dapat dipercaya, Allah berfirman dalam surat Al Ahzab 33;72"Sesungguhnya kami Telah
mengemukakan amanat kepada langit, bumi
dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh".
Yang dimaksud dengan amanat disini adalah
suatu sikap dan sifat pribadi setia, tulus ikhlas dan jujur dalam melaksanakan
sesuatu yangt dipercayakan kepadanya, berupa harta benda, rahasia maupun tugas
kewajiban lainnya, pelaksanaan amanat dengan baik dapat disebut dengan Al Amin
berarti yang mendapat kepercayaan, yang jujur, setia dan aman.
4.Tahfidzush Shauti/Memelihara Suara
Seorang wanita boleh bicara dengan orang
lain selama memperhatikan sikap dan menjaga kepribadian muslimahnya.
Diantaranya dia tidak boleh bicara dengan nada merayu, lembut dan manja kepada orang yang bukan muhrimnya. Apalagi
dengan sikap manja dan ingin dimanja karena hal ini akan mengundang lelaki lain
tertarik kepadanya. Bukan berarti bersikap kasar dan suara keras, tapi
bicaralah dengan tegas dan tepat, tidak bertele-tele dan bermanja-manjaan.
Ibnu Katsir berkata, ”Wanita dilarang dengan lelaki asing dengan
ucapan lunak sebagaimana dia berbicara dengan suaminya”, wanita boleh
bermanja-manja atau bicara dengan suara lembut mendayu hanya boleh kepada
suami, ayahnya, kakak atau adik kandungnya atau anak dan cucunya.
Dikala dia diganggu oleh lelaki lain, dia
harus bicara tegas dengan nada pasti, ”Jangan”
sehingga lelaki tadi berfikir dua kali untuk bersikap tidak sopan kepadanya.
Tapi bila ucapan wanita itu mengatakan, ”Jangan
ah” sambil menampakkan sikap genit lagi manja tentu akan mengundang dan
mengandung hasrat dari lelaki tersebut. Kita masih ingat bagaimana sikap bicara
anak Nabi Syuaib ketika memanggil Musa untuk datang ke rumah ayahnya, dia
bicara lugas dan tepat tanpa dibumbui oleh canda dan sikap merayu. "
Hai isteri-isteri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika
kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga
berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan
yang baik" [Al Ahzab 33;32]
5.Ibtirajul Zinata/Tidak Memamerkan Aurat
Aurat adalah bagian tubuh yang sensiitif. Tingkat kesensitifannya mahram
dan bukan mahram berbeda sehingga batas yang harus ditutuppun berbeda.
Rasulullah bersabda, ”Seorang lelaki
tidak boleh melihat aurat lelaki lainnya dan begitu juga wanita tidak boleh
melihat aurat wanita lainnya” [HR. Bukhari].
Di tengah masyarakat Islam masih terdapat bahkan terlalu banyak wanita yang
tidak menutup auratnya dengan baik. Mereka lebih suka pakaian yang diimport
oleh orang-orang kafir dengan mode mini, tipis, ketat dan menonjolkan aurat
yang seharusnya ditutup. Bahkan perguruan-perguruan Islampun masih belum serius
dan tidak tegas terhadap pakaian ini sehingga tidak ada beda sekolah yang
dikelola ummat Islam dengan yang dikelola non muslim. Ironinya guru yang
mengajarpun tidak mampu berpakaian secara Islami. "Katakanlah
kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung
kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka,
atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau
putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau
putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan
mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan
kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah
kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu
beruntung" [An Nuur 24;31]
Doktor H. Suhairi Ilyas MA, mengungkapkan
tentang hubungan busana dengan akhlaQ, Busana bukan hanya merupakan hubungan
yang erat dengan aqidah dan ibadah, akan tetapi juga mempunyai hubungan timbal
balik yang saling mempengaruhi. Busana memberikan pengaruh terhadap diri
pribadi yang memakai busana tersebut ataupun terhadap pribadi-pribadi di
sekitarnya.
Seorang wanita yang berbusana muslimah
tanpa disadarinya busana tersebut akan mempengaruhi dan membentuk wataknya
sesuai dengan akhlak mulia seorang muslimah. Bila berbusana bintang atau artis
kesayangannya umpamanya, tanpa disadarinya tingkah dan akhlaknya akan mengarah
pula pada tingkah laku dan akhlak artis
pula.
Sebaliknya bila seorang artis yang
biasanya memakai busana setiap harinya dengan selera zaman dan hawa nafsu
belaka, akan tetapi setelah dia mempelajari tentang akhlak mulia dan
kepribadian muslimah, akhirnya dengan penuh kesadaran diapun akan memulai
memakai busana muslimah yang menjunjung tinggi akhlak mulia. Demikian hubungan
timbal balik antara busana dan akhlak seseorang. Sedangkan hubungan/ pengaruh
antara busana dengan akhlak masyarakat dapat kita jelaskan seperti berikut;
Apabila seorang wanita islam memakai
busana muslimah yang sempurna setiap pergi ke suatu tempat/ keluar rumah, maka
dikala dia lewat di hadapan kumpulan pemuda, pada umumnya para pemuda yang melihat
dan memperhatikannya akan berfikir dua kali atau lebih untuk mengganggunya atau
menggoda. Bahkan mereka merasa segan dan hormat karena pantulan akhlak mulia
yang terpancar dari celah-celah busana muslimah yang dipakainya itu.
Adapun sumbangan nyata dari kaum muslimah
adalah kemampuannya dalam menangkis arus
mode jahili dengan makin tegaknya jilbab. Sungguh mode jahili yang sekarang
berkembang memang secara sengaja bertujuan untuk merusak islam lewat kaum
muslimahnya. Suatu penyusupan yang sangat halus dan rapi. Sebab itu sudah
saatnya kita menyadari bahwa Paris sebagai pusat mode internasional, dengan
perancang dari Yahudi dan Nasrani, senantiasa berusaha memerangkap kita.
Tujuannya akhirnya adalah menelanjangi Adam dan Hawa. Betapa jahat dan kotornya
misi yang mereka rancang itu.
Setiap muslimah boleh saja mereka pakai
make up, hiasan matanya ialah menundukkan pandangan, hiasan bibirnya adalah
lipstik kejujuran, hiasan pipinya adalah rasa malu, dia senantiasa menggunakan
sabun istghfar untuk membasuh debu-debu maksiat dan daki-daki dosa, sedangkan
jilbabnya menjaga rambut dari ketombe, aksesorisnya giwang kesopanan, gelang
tawadhu’, cincin ukhuwah, kalung kesucian dan tempat berhiasnya adalah salon
iman, wallahu a’lam. [Cubadak Solok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29 Agustus 2010]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar