Beda manusia dengan binatang terletak
pada akalnya yang mampu berfikir untuk mencetuskan suatu ide atau menyelesaikan
suatu masalah yang rumit sekalipun. Sedang beda manusia dengan manusia lainnya terletak dari penggunaan
akalnya. Manusia yang satu lebih tinggi derajatnya baik dalam kehidupan maupun
dalam kebudayaan karena kemampuannya menggunakan akal dan sebaliknya manusia
tetap hidup primiiif dan dalam kebodohan bila tidak difungsikan akalnya, yang
merupakan potensi terbesar untuk bekal dalam kehidupan.
Untuk
mencipakan manusia yang manusia maka perlu adanya latihan dan pendidikan
sebagai tempat mengasuh dan mengembangkan intelektual. Disamping itupun
pergaulan manusia tadi sangat mempengaruhi dalam pola berfikir, bersikap dan
bertingkahlaku selaku makhluk sosial.
Bila
seorang anak sejak kecil hidup, bergaul dan dibesarkan di lingkungan binatang
maka cendrung dia akan bersikap dan beritingkah laku sebagaimana halnya
binatang, berjalan dan cara makannyapun tidak ubahnya sebagai binatang.
Suatu
fakta telah membuktikan bahwa manusia
dibesarkan oleh lingkungannya, terdapat dua anak manusia yang ditemukan
oleh seorang pemburu di liang Srigala di pegunungan Himalaya dalam tahun 1920
dan kemudian diserahkan ke rumah yatim piatu di Madnafur. Perkembangan kedua
anak perempuan yang diberi nama Amala dan Kamala oleh Jel Singh. Amala sesudah satu tahun
berada dalam rumah yatim itu meninggal, tetapi Kamala tinggal disana sampai
umur 17 tahun dan meninggal tahun 1929.
Waktu
baru masuk asrama prilaku mereka seperti Srigala; merangkak dengan kaki
tangannya, melolong pada bulan terang, menggonggong seperti srigala, berani
keluar malam hari, siang hari hanya tidur, makan hanya daging mentah, air tidak
diteguk tapi dijilati dengan lidah, tak dapat berbicara. Cirinya seperti
manusia yang pertama yaitu berjalan tegak lurus baru dapat dikuasai oleh Kamala
sesudah 4 tahun belajar, itupun belum dapat berjalan cepat, pelajaran bahasa
lambat dan lama sekali, sampai meninggalnya Kamala pada umur 17 tahun ia hanya
dapat menguasai 50 kata.
Begitu besarnya pengaruh pendidikan dan
lingkungan bagi perkembangan anak sehingga orang tua harus berhati-hati dalam
menjaga anaknya yang merupakan amanat dari Allah Swt.
Beberapa
ahli telah mencetuskan teori-teori mereka tentang pendidikan seperti halnya
John Lock (1632-1704).dengan teorinya Empirisme mengajarkan bahwa perkembangan
pribadi anak ditentukan oleh faktor lingkungan,terutama pendidikan, tiap
individu lahir bagai kertas putih maka lingkungan itulah yang akan menulisi
kertas putih tersebut. Teori Nativisme Schopenhaur yang hidup sekitar tahun
1788-1860, mengajarkan teorinya bahwa perkembangan pribadi hanya ditentukan
oleh faktor ’’heriditas’’yang berarti’’kodrat’’yang tidak dapat di rubah oleh
pengaruh alam atau pendidikan.
Tanpa
potensi heriditas yang baik, seseorang tidak mungkin mencapai taraf yang di
inginkan, meskipun di didik dengan pendidikan yang maksimal. Nampaknya ajaran
Empiris adalah ajaran optimis sedangkan ajaran Navisme adalah ajaran yang
pesimis, karena menerima kepribadian sebagaimana adanya.
Dalam
jangka tidak begitu lama lahirlah seorang tokoh yang bernama William Stern yang
hidup diantara tahun (1871-1938) dengan teorinya ’’konvergensi’’yang
mengajarkan bahwa potensi heriditas yang baik saja tanpa pengaruh lingkungan
yang positif tidak akan terbina kepribadian yang idial dan sebaliknya meskipun
lingkungan positif tidak akan menghasilkan kepribadian tanpa adanya potensi
heriditas yang baik pula. Nampaknya teori ini memadukan kedua pendapat
terdahulu empiris dan nativisme.
Kalau
kita melihat ke dalam islam yang telah tersiar sejak 15 abad yang silam, maka
islampun lebih dahulu telah mencetuskan teorinya yang diajarkan oleh Nabi
Muhammad Rasulullah Saw, ”Tiap-tiap anak
yang lahir suci bersih maka orangtuanyalah yang bertanggungjawab, akan
dijadikan anaknya Yahudi, Majusi atau Nasrani”
Hadits
diatas telah didukung oleh teori William Stern yaitu Konvergensi, disamping
mempunyai potensi dari dalam maka perlu adanya pendidikan dari orangtua selaku
pendidik yang pertama dan utama. Ayah dan ibu selaku pendidik di rumah tangga
akan menjadi teladan dari sang anak; baik bicaranya, perbuatannya, sifatnya,
semua akan dijadikan contoh oleh sang anak sehingga orangtua harus berhati-hati
dalam bertindak tanduk di rumah tangga jangan sampai terjadi kekeliruan pendidikan yang sebenarnya tanpa
disadari telah terlanjur ditiru oleh anaknya.
Allah
berfirman dalam surat At Tahrim ayat 6 yang artinya,”Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
manusia dan batu”. Salah seorang isteri
Nabi Muhammad Saw yang bernama Aisyah tidak suka kepada madu, jangankan untuk
meminum madu, sedang mencium baunya saja dia tidak suka. Pada suatu hari Nabi
Muhammad Saw meminum madu di rumah isterinya bernama Hafsah, setelah itu masuk
ke kamar Aisyah, tapi bau madu masih tercium, Aisyah tidak senang dengan
keadaan Nabi Saw yang demikian.
Karena
cintanya kepada isterinya, untuk menyenangkan hati isteri tercinta itu nabi
bersabda,”Demi Allah mulai saat ini aku haramkan madu untukku”. Dengan
keputusan nabi tersebu, Allah menerangkan sebuah teguran dalam ayat 2 pada
surat At Tahrim,”Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan
bagimu, kamu mencari kesenangan isteri-isterimu dan Allah adalah pengampun lagi
penyayang”.
Dari
ayat diatas dapat ditarik pengertian;
- Jangan mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah.
- Suami punya kewajiban untuk menyenangkan isteri dan sebaliknya tetapi jangan berlawanan dengan perintah Allah Swt.
- Kesenangan yang diberikan kepada isteri jangan sampai menyebabkan Allah murka.
Pada
ayat itu Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad Saw agar menarik kembali
sumpahnya, karena sumpah yang bertentangan dengan hukum Allah batal jadinya,
nabi Saw harus membayar kifarat [denda], sedangkan pada ayat tiga nabi Muhammad
Saw mengadakan pembicaraan rahasia dengan isterinya Hafsah, tetapi Hafsah
membongkar rahasia tersebut kepada Aisyah, lalu Allah mengabarkan kepada nabi Saw
bahwa Hafsah membocorkan rahasia mereka.
Pada
ayat empat, Allah memerintahkan kepada Aisyah dan Hafsah untuk bertaubat agar
tidak melakukan perbuatan tersebut karena telah menyusahkan nabi Saw yaitu;
Karena Aisyah yang tidak suka dengan madu
dan menunjukkan sikap yang tidak baik kepada nabi maka nabi bersumpah untuk tidak minum madu
lagi, kemudian Allah menegur nabi agar mencabut sumpahnya.
Hafsah telah membocorkan rahasia rumah tangganya
kepada orang lain, lalu Allah menyuruh mereka berdua untuk bertaubat dengan
ancaman yang tercantum pada ayat lima surat ini,:”Jika nabi Saw menceraikan
kamu, boleh jadi Allah akan memberikan ganti kepadanya isteri-isteri yang lebih
baik dari kamu yaitu; patuh, beriman, taat, bertaubat, suka beribadat, mau
berpuasa, baik janda ataupun perawan”.
Pada
ayat enam dari surat At Tahrim menyatakan,”Hai orang-orang yang beriman,
jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan
batu, didalamnya terdapat malaikat yang kasar lagi bengis, yang tidak maksiat
kepada Allah dan taat atas perintah yang diperintahkan Allah dilaksanakannya”. Menurut
Al Maraghi, yang dimaksud dengan keluarga yaitu isteri, anak dan siapa saja
yang berada dalam tanggungjawab kita, sedangkan menurut Sayid Qutb, keluarga
adalah anak, isteri, ibu dan kerabat lainnya.
Sehubungan
dengan memelihara diri dan keluarga dari api neraka, Umar bin Khattab pernah
mengadu kepada nabi Saw, untuk menjaga diri sendiri adalah hal yang mudah, lalu
bagaimana cara menjaga keluarga?, apakah harus dikawal terus menerus, apakah
selalu diawasi kemana dia pergi ?, Nabi memberikan jawaban yaitu,”Engkau
tanamkan dalam jiwanya agar dia jangan melakukan perbuatan yang dilarang Allah,
dan masukkan pula didadanya ajaran agar dia mengerjakan perbuatan yang
diperintahkan Allah”.
Lukmanul
Hakim dalam membimbing anaknya terlebih dahulu dia tanamkan keyakinan, aqidah
didada anaknya dengan landasan yang kuat, bila aqidah telah kokoh barulah dia
membimbing anaknya untuk shalat. Karena aqidah merupakan pokok utama dalam
agama, bila aqidah telah kuat;
- Jangankan hanya melaksanakan shalat, sedangkan bila nyawa yang diminta demi agama Allah akan dikerahkan.
- Jangankan untuk meninggalkan ucapan kotor, bahkan ketika kesempatan besar terbuka untuk korupsi dan maksiat kepada Allah dia mampu menahan.
Dalam hal mendidik anak, Ibnu Khaldun
maupun Ibnu Shina memberikan satu konsep, yaitu pengajaran Al Qur’an adalah
sebagai basis [dasar] bagi permulaan dari berbagai kurikulum pendidikan yang
mesti diajarkan dan diterapkan kepada anak-anak sesuai dengan sabda Rasulullah
Saw, ”Didiklah anak-anakmu dengan tiga
perangai; cinta kepada nabimu, cinta kepada kaum kerabatnya dan cinta dalam
membaca Al Qur’an, bakal berada dalam naungan Allah kelak pada hari yang tidak
ada naungan selain naungan-Nya” [HR. Thabrani].
Dalam
hadits lain beliau kembali menegaskan,”Suatu
pahala akan diberikan kepada orangtua yang mengajarkan Al Qur’an kepada
puteranya, pada hari kiamat nanti akan mendapat mahkota di dalam syurga”[Thabrani].
Disabdakan lagi,”Rumah yang sering dibaca
Al Qur’an didalamnya akan terbayang oleh penghuni langit sebagaimana
bintang-bintang terbayang oleh penduduk bumi” [HR. Al Baihaqi dan Aisyah].
Peran
orangtua dalam mencetak generasi qur’ani dalam rumah tangga bukan sekedar tanggungjawab
saja tapi mengandung nilai ibadah disisi Allah, tak heran jika Rasulullah
bersabda,” Barangsiapa yang dikarunia
anak perempuan lalu ia mengajarkannya akhlak mulia dan mendidiknya dengan baik,
diberi makan bergizi, kelak amalannya itu akan menjadi penjaganya dari api
neraka”.
Dari
hadits rasul diatas beliau mengangkat usaha orangtua dalam mendidik terutama
anak perempuan, karena pada masa itu orang jahiliyyah sangat malu bila
mempunyai anak wanita dan bangga dengan anak laki-laki, disini nampak bahwa
Nabi Muhammad memberikan tempat tertentu bagi kehadiran wanita dalam keluarga,
dia bukan makhluk kelas dua setelah pria, pada satu sisi ada kesamaan yang
tidak dapat dibantah, Allah berfirman,
”Siapa saja yang berbuat kebaikan laki-laki maupun wanita sedang ia beriman,
maka akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” [An Nahl 16;97].
Dalam
surat Al Hujurat 49;13 pun Allah menegaskan,”Hai
manusia sesungguhnya Kami telah menciptakanmu dari seorang lelaki dan seorang
wanita, dan menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling
kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Waspada”.
Perhatian
islam terhadap wanita cukup serius sehingga nama kaum ini diabadikan menjadi
nama surat dalam Al Qur’an, yakni An Nisa’, Al Qur’an juga sering
mengistilahkan wanita dengan sebutan Mar’ah. Selaku orangtua tidak menganggap
istimewa anak laki-laki lalu memojokkan
anak wanita, jangan karena jenis kelamin yang berbeda laku tidak berlaku adil,
Rasulullah bersabda, ”Berlaku adillah
kepada anakmu walaupun dalam masalah ciuman [kasih sayang]”. Apalagi dari
segi pendidikan, orangtua harus arif bahwa wanitapun mampu menyelesaikan
pendidikannya pada tingkat yang lebih tinggi tidak bedanya dengan laki-laki.
Letak
kehancuran ummat islam karena melalaikan dari menuntut ilmu sehingga prediket
bawahan selalu disandang. Karena itu islam menjatuhkan martabat dan mencela
orang yang bodoh serta menyatakan akan dimasukkan ke dalam neraka,”Sesungguhnya yang sejahat-jahatnya makhluk
melata menurut pandangan Allah ialah orang-orang tuli, yang bisu dan yang tidak dapat berfikir” [Al Anfal 8;22].
Yang
menyebabkan orang dapat mendengar, bicara dan berfikir itu ialah ilmu yang
banyak. Semakin banyak ilmu seseorang, maka akan semakin nyaringlah
pendengarannya, semakin banyak yang dapat dibicarakannya dan difikirkannya,
Allah berfirman,”Dan sesungguhnya Kami
sediakan untuk neraka itu, beberapa banyak dari jin dan manusia yang mempunyai
hati tetapi tidak dapata mengerti dengannya, yang mempunyai mata tapi tidak
dapat melihat dengannya dan mempunyai telinga tapi tidak dapat mendengar
dengannya, mereka itu sama dengan hewan, bahkan lebih sesat lagi dari hewan...”[Al
A’raf 7;179].
Ilmu
yang dimaksud disini tentu ilmu dunia dan akherat, sebab Rasulullah memberikan
suatu gambaran manusia akan berbahagia
di dunia bila ia memiliki ilmu untuk meraihnya, orang akan bahagia di akherat
bila ia memiliki ilmu akherat, dan orang akan bahagia di dunia dan di akherat
bila memiliki kedua ilmu itu.
Islam
sangat besar perhatiannya terhadap anak dan generasi yang akan datang karena di
tangan merekalah masalah ummat ini dikemudian hari akan mereka pikul, bila
ummat hari ini tidak baik dan tidak hati-hati menjaga anak keturunannya maka
masa depan yang dihadapi suram dan runyam. Itulah makanya Allah dan Rasulullah
memberikan pesannya berkaitan dengan generasi yang akan datang;
Dalam sebuah haditsnya Rasulullah
bersabda; ”Nabi ditanya oleh seorang sahabat,"Dosa apakah yang paling
besar?" Jawab Nabi,"Engkau menjadikan sekutu bagi Allah",
ditanya lagi "Kemudian apa lagi ya Rasulullah?" Nabi
menjawab,"Engkau membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu".
Hal ini terjadi dizaman jahiliyyah yaitu sebelum masyarakat menerima Islam
sebagai jalan hidupnya, apalagi anak yang lahir seorang wanita maka orang kafir
Quraisy membunuh anak itu diantaranya selain karena memang adat yang mereka
lakukan tapi juga karena takut miskin sebab wanita hanya menghabiskan bahan
makanan saja, Allah melarang hal itu; "Dan janganlah kamu membunuh
anak-anakmu Karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada
mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang
besar" [Al Isra' 17;31].
Jangankan melakukan pembunuhan terhadap anak,
sedangkan meninggalkan anak yang lemah saja dilarang oleh Allah; "Dan
hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap
(kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah
dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar" [An
Nisa' 4;9]
Berangkat
dari ayat diatas dapat dinyatakan bahwa ada lima kelemahan yang terjadi pada
kehidupan generasi yang akan datang, seorang mukmin harus berhati-hati agar
anak keturunannya tidak mengalami kelemahan yaitu;
1.Lemah Materi
Seorang ayah
berupaya mensejahterakan anaknya dengan materi yang dimiliki dan berupaya pula
bila kelak anak sudah dewasa memiliki usaha yang memadai dengan materi yang
cukup. Mareri ibarat darah pada tubuh manusia, darah yang kurang pada tubuh
akan membuat kita kurang semangat hingga menderita sakit. Itulah makanya islam
mengatur bahwa nafkah untuk keluarga lebih didahulukan daripada wasiat kepada
orang lain, bahkan Rasulullah meransang orangtua agar memberikan nafkahnya
kepada keluarga terlebih dahulu daripada kepada yang lain, dan pemberian nafkah
kepada keluarga lebih besar pahalanya daripada kepada yang lain, artinya nafkah
untuk keluarga tidaklah habis begitu saja tapi dinilai pahala oleh Allah.
Kalau kita tidak mampu meninggalkan
materi kepada anak kita karena kita juga miskin maka paling tidak janganlah
meninggalkan hutang kepada mereka yang membuat anak-anak kesusahan sepanjang
masa, dalam sejarah nabi Musa terdapat kisah yang mengingatkan seorang ayah
yang meninggalkan harta untuk anak-anaknya kelak;
"Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang
anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka
berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar
supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu,
sebagai rahmat dari Tuhanmu........Al Kahfi 18;82]
2.Lemah Fisik
Sejak awal
orangtua seharusnya mengupayakan anaknya lahir dalam keadaan fisik yang sehat
dan sempurna, hal ini dilakukan sejak masih berupa janin dengan mengupayakan
pemeliharaan oleh ayah dan ibunya. Ketika lahirpun agar fisik kuat dan sehat
digalakkan dengan makanan yang bergizi dan olah raga yang baik, sebagaimana
Rasul mengajak orangtua untuk mengajari anaknya dengan memanah, menunggang kuda
dan berenang, semuanya itu untuk pembentukan fisik yang kuat, bahkan Allah
mengingatkan kepada kita agar mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi
musuh dengan kekuatan fisik;
”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja
yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang
dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang
orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.
apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan
cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”[Al Anfal 8;60]
3.Lemah Mental
Anak-anak
harus dididik sehingga memiliki mental yang kuat dalam menghadapi kehidupan
ini, mental penakut terjadi diawali dari orang-orang dewasa yang menakut-nakuti
dengan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti seperti takut dengan hantu,
takut keluar malam, takut dengan awan yang berarak. Anak yang selalu dimarahi
tanpa alasan yang tepat membuat sang anak menjadi anak yang ciut menghadapi
orang lain dan sebaliknya anak akan cengeng bila dimanja yang berlebih-lebihan.
Doktor Abdullah Azzam seorang motor jihad di Afghanistan yang
syahid bersama dua orang anak lelakinya, pernah menyatakan kepada keluarga
muslim,”Jadikanlah keluargamu seperti
sarang harimau sehingga ditakuti oleh musuh-musuhmu, jangan kau jadikan sebagai
sarang domba niscaya dia akan diterkam srigala”, artinya rumah tangga
muslim sejak awal sudah mempersiapkan kandidat mujahid dalam keluarganya yang
siap dikirim ke medan jihad kapan dibutuhkan.
Ketika
Asma binti Abu Bakar akan melepas kepergian anaknya yang bernama Abdullah bin
Zubeir ke medan jihad, dengan pakaian yang rapi dan lengkapnya seorang mujahid
sang anak siap berangkat, sebelumnya dia memeluk sang ibu sebagai tanda pamit,
Asma terkejut ketika di dada anaknya ada sesuatu yang keras, dia
bertanya,"Apa ini hai anakku?" Abdullah menjawab,"Ini perisai
ibu, agar tubuhku tidak ditembus panah dan pedang dan aku bisa pulang menemuimu
kembali", dengan nada keras Asma berkata,"Bukanlah seorang mujahid
yang ketika pergi berjihad memasang
perisai pada badannya, kau lepaskan perisai ini dahulu kemudian pergilah
berjuang ", ketika perang usai akhirnya memang Abdullah bin Zubeir syahid bersama mujahid lainnya,
mendengar anaknya syahid dengan senang hati Asma menerima kabar itu. Inilah
pendidikan mental yang baik yang pernah diajarkan oleh sejarah.
4.Lemah Ilmu
Islam mewajibkan kepada pemeluknya untuk
menuntut ilmu tanpa membedakan ilmu
agama dan ilmu umum lainnya karena semua ilmu itu berasal dari Allah yang harus
dipelajari. Kewajiban ini disabdakan oleh Rasulullah,”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan
perempuan”. Dalam hadits lain Rasulullah menyampaikan sabdanya yang
diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan Baihaqi,”Carilah ilmu itu walaupun sampai ke
negeri Cina”.
Di Cina pada masa itu kebudayaan telah
maju pesat dari segala lapangan kehidupan sehingga layak bila ummat islam
belajar dari kemajuan yang diraih bangsa Cina, kemajuan Cina dapa dicatat
diantaranya; pada Dinasi Shang telah dikenal tulisan sebagai alat penting dalam
mengenal ilmu pengetahuan. Pada saat itu telah ada sekolah untuk belajar
membaca, menulis serta budi pekerti. Pada tahun 105 M orang Cina berhasil
menemukan kertas sebagai alat menuangkan tulisan. Dan pada masa inipun Cina
telah mengenal alat cetak walaupun dengan bentuk yang sangat sederhana.
Kebudayaan bangsa Cina sangat tinggi seperti arsitektur, seni patung, porselin,
sastra, musik, seni tari, drama, seni menghitung dengan swipa dan lain
sebagainya.
5.Lemah Iman
Karena pentingnya iman dalam
kehidupan seseorang sampai sejarah mencatat para nabi dan Rasul berusaha
memberikan nasehat kepada anak-anak dan cucunya agar tetap menjaga iman hingga akhir hidupnya;
Walaupun Nabi Ibrahim dan Ya'kub adalah Rasulullah
tapi mereka juga khawatir terhadap anak dan keturunan mereka, sehingga pesan
itu digambarkan Allah dalam firman-Nya; " Dan Ibrahim Telah mewasiatkan
Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata):
"Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama Ini bagimu, Maka
janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".[Al Baqarah 2;132]
Sebagai seorang pendidik yang sangat bijak, nama
Lukman Al Hakim tercantum dalam Al Qur'an bahkan butir-butir wasiatnya
diabadikan Allah dalam surat Lukman ayat 13-14 diantaranya; "Hai
anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan
(Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". "Dan kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya
Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun".
Untuk itu orangtua sebagai pendidik amanat
Allah yang pertama dan terutama agar menggembleng generasinya kepada
nilai-nilai luhur yang islami, walaupun ilmu dunia luas tapi tetap berpijak
pada dasar-dasar ajaran islam sehingga
dengan tegas Rasulullah mengatakan,”
Didiklah anak-anakmu karena dia akan menghadapi masa yang tidak sama dengan
masamu”, artinya tantangan hidup, persaingan, ujian-ujian yang dihadapi
anak nanti lebih berat dibandingkan yang dihadapi orangtuanya hari ini, segala
bentuk idiologi menggiringnya kepada kehancuran. Sehingga dasar islam yaitu aqidah yang
istiqamah perlu sejak dini ditanamkan kepada anak kita kalau kita tidak mau
generasi besok akan hancur jadinya, wallahu a’lam [Cubadak Solok,14 Ramadhan
1431.H/ 24 Agustus 2010].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar