Kamis, 10 Desember 2015

46. Pendidikan



Beda manusia dengan binatang terletak pada akalnya yang mampu berfikir untuk mencetuskan suatu ide atau menyelesaikan suatu masalah yang rumit sekalipun. Sedang beda manusia dengan manusia lainnya terletak dari penggunaan akalnya. Manusia yang satu lebih tinggi derajatnya baik dalam kehidupan maupun dalam kebudayaan karena kemampuannya menggunakan akal dan sebaliknya manusia tetap hidup primiiif dan dalam kebodohan bila tidak difungsikan akalnya, yang merupakan potensi terbesar untuk bekal dalam kehidupan.

            Untuk mencipakan manusia yang manusia maka perlu adanya latihan dan pendidikan sebagai tempat mengasuh dan mengembangkan intelektual. Disamping itupun pergaulan manusia tadi sangat mempengaruhi dalam pola berfikir, bersikap dan bertingkahlaku selaku  makhluk sosial.

            Bila seorang anak sejak kecil hidup, bergaul dan dibesarkan di lingkungan binatang maka cendrung dia akan bersikap dan beritingkah laku sebagaimana halnya binatang, berjalan dan cara makannyapun tidak ubahnya sebagai binatang. 

            Suatu fakta telah membuktikan bahwa manusia  dibesarkan oleh lingkungannya, terdapat dua anak manusia yang ditemukan oleh seorang pemburu di liang Srigala di pegunungan Himalaya dalam tahun 1920 dan kemudian diserahkan ke rumah yatim piatu di Madnafur. Perkembangan kedua anak perempuan yang diberi nama Amala dan Kamala  oleh Jel Singh. Amala sesudah satu tahun berada dalam rumah yatim itu meninggal, tetapi Kamala tinggal disana sampai umur 17 tahun dan meninggal tahun 1929.

            Waktu baru masuk asrama prilaku mereka seperti Srigala; merangkak dengan kaki tangannya, melolong pada bulan terang, menggonggong seperti srigala, berani keluar malam hari, siang hari hanya tidur, makan hanya daging mentah, air tidak diteguk tapi dijilati dengan lidah, tak dapat berbicara. Cirinya seperti manusia yang pertama yaitu berjalan tegak lurus baru dapat dikuasai oleh Kamala sesudah 4 tahun belajar, itupun belum dapat berjalan cepat, pelajaran bahasa lambat dan lama sekali, sampai meninggalnya Kamala pada umur 17 tahun ia hanya dapat menguasai 50 kata.

             Begitu besarnya pengaruh pendidikan dan lingkungan bagi perkembangan anak sehingga orang tua harus berhati-hati dalam menjaga anaknya yang merupakan amanat dari Allah Swt.

            Beberapa ahli telah mencetuskan teori-teori mereka tentang pendidikan seperti halnya John Lock (1632-1704).dengan teorinya Empirisme mengajarkan bahwa perkembangan pribadi anak ditentukan oleh faktor lingkungan,terutama pendidikan, tiap individu lahir bagai kertas putih maka lingkungan itulah yang akan menulisi kertas putih tersebut. Teori Nativisme Schopenhaur yang hidup sekitar tahun 1788-1860, mengajarkan teorinya bahwa perkembangan pribadi hanya ditentukan oleh faktor ’’heriditas’’yang berarti’’kodrat’’yang tidak dapat di rubah oleh pengaruh alam atau pendidikan.

            Tanpa potensi heriditas yang baik, seseorang tidak mungkin mencapai taraf yang di inginkan, meskipun di didik dengan pendidikan yang maksimal. Nampaknya ajaran Empiris adalah ajaran optimis sedangkan ajaran Navisme adalah ajaran yang pesimis, karena menerima kepribadian sebagaimana adanya.

            Dalam jangka tidak begitu lama lahirlah seorang tokoh yang bernama William Stern yang hidup diantara tahun (1871-1938) dengan teorinya ’’konvergensi’’yang mengajarkan bahwa potensi heriditas yang baik saja tanpa pengaruh lingkungan yang positif tidak akan terbina kepribadian yang idial dan sebaliknya meskipun lingkungan positif tidak akan menghasilkan kepribadian tanpa adanya potensi heriditas yang baik pula. Nampaknya teori ini memadukan kedua pendapat terdahulu empiris dan nativisme.

            Kalau kita melihat ke dalam islam yang telah tersiar sejak 15 abad yang silam, maka islampun lebih dahulu telah mencetuskan teorinya yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Rasulullah Saw, ”Tiap-tiap anak yang lahir suci bersih maka orangtuanyalah yang bertanggungjawab, akan dijadikan anaknya Yahudi, Majusi atau Nasrani”

            Hadits diatas telah didukung oleh teori William Stern yaitu Konvergensi, disamping mempunyai potensi dari dalam maka perlu adanya pendidikan dari orangtua selaku pendidik yang pertama dan utama. Ayah dan ibu selaku pendidik di rumah tangga akan menjadi teladan dari sang anak; baik bicaranya, perbuatannya, sifatnya, semua akan dijadikan contoh oleh sang anak sehingga orangtua harus berhati-hati dalam bertindak tanduk di rumah tangga jangan sampai terjadi  kekeliruan pendidikan yang sebenarnya tanpa disadari telah terlanjur ditiru oleh anaknya.

            Allah berfirman dalam surat At Tahrim ayat 6 yang artinya,”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu”. Salah seorang  isteri Nabi Muhammad Saw yang bernama Aisyah tidak suka kepada madu, jangankan untuk meminum madu, sedang mencium baunya saja dia tidak suka. Pada suatu hari Nabi Muhammad Saw meminum madu di rumah isterinya bernama Hafsah, setelah itu masuk ke kamar Aisyah, tapi bau madu masih tercium, Aisyah tidak senang dengan keadaan Nabi Saw yang demikian.

            Karena cintanya kepada isterinya, untuk menyenangkan hati isteri tercinta itu nabi bersabda,”Demi Allah mulai saat ini aku haramkan madu untukku”. Dengan keputusan nabi tersebu, Allah menerangkan sebuah teguran dalam ayat 2 pada surat At Tahrim,”Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu, kamu mencari kesenangan isteri-isterimu dan Allah adalah pengampun lagi penyayang”.

            Dari ayat diatas dapat ditarik pengertian;
  1. Jangan mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah.
  2. Suami punya kewajiban untuk menyenangkan isteri dan sebaliknya tetapi jangan berlawanan dengan perintah Allah Swt.
  3. Kesenangan yang diberikan kepada isteri jangan sampai menyebabkan Allah murka.

            Pada ayat itu Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad Saw agar menarik kembali sumpahnya, karena sumpah yang bertentangan dengan hukum Allah batal jadinya, nabi Saw harus membayar kifarat [denda], sedangkan pada ayat tiga nabi Muhammad Saw mengadakan pembicaraan rahasia dengan isterinya Hafsah, tetapi Hafsah membongkar rahasia tersebut kepada Aisyah, lalu Allah mengabarkan kepada nabi Saw bahwa Hafsah membocorkan rahasia mereka. 

            Pada ayat empat, Allah memerintahkan kepada Aisyah dan Hafsah untuk bertaubat agar tidak melakukan perbuatan tersebut karena telah menyusahkan nabi Saw yaitu;

Karena Aisyah yang tidak suka dengan madu dan menunjukkan sikap yang tidak baik kepada nabi   maka nabi bersumpah untuk tidak minum madu lagi, kemudian Allah menegur nabi agar mencabut sumpahnya.

Hafsah telah membocorkan rahasia rumah tangganya kepada orang lain, lalu Allah menyuruh mereka berdua untuk bertaubat dengan ancaman yang tercantum pada ayat lima surat ini,:”Jika nabi Saw menceraikan kamu, boleh jadi Allah akan memberikan ganti kepadanya isteri-isteri yang lebih baik dari kamu yaitu; patuh, beriman, taat, bertaubat, suka beribadat, mau berpuasa, baik janda ataupun perawan”.

            Pada ayat enam dari surat At Tahrim menyatakan,”Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu, didalamnya terdapat malaikat yang kasar lagi bengis, yang tidak maksiat kepada Allah dan taat atas perintah yang diperintahkan Allah dilaksanakannya”. Menurut Al Maraghi, yang dimaksud dengan keluarga yaitu isteri, anak dan siapa saja yang berada dalam tanggungjawab kita, sedangkan menurut Sayid Qutb, keluarga adalah anak, isteri, ibu dan kerabat lainnya.

            Sehubungan dengan memelihara diri dan keluarga dari api neraka, Umar bin Khattab pernah mengadu kepada nabi Saw, untuk menjaga diri sendiri adalah hal yang mudah, lalu bagaimana cara menjaga keluarga?, apakah harus dikawal terus menerus, apakah selalu diawasi kemana dia pergi ?, Nabi memberikan jawaban yaitu,”Engkau tanamkan dalam jiwanya agar dia jangan melakukan perbuatan yang dilarang Allah, dan masukkan pula didadanya ajaran agar dia mengerjakan perbuatan yang diperintahkan Allah”.

            Lukmanul Hakim dalam membimbing anaknya terlebih dahulu dia tanamkan keyakinan, aqidah didada anaknya dengan landasan yang kuat, bila aqidah telah kokoh barulah dia membimbing anaknya untuk shalat. Karena aqidah merupakan pokok utama dalam agama, bila aqidah telah kuat;
  1. Jangankan hanya melaksanakan shalat, sedangkan bila nyawa yang diminta demi agama Allah akan dikerahkan.
  2. Jangankan untuk meninggalkan ucapan kotor, bahkan ketika kesempatan besar terbuka untuk korupsi dan maksiat kepada Allah dia mampu menahan.

Dalam hal mendidik anak, Ibnu Khaldun maupun Ibnu Shina memberikan satu konsep, yaitu pengajaran Al Qur’an adalah sebagai basis [dasar] bagi permulaan dari berbagai kurikulum pendidikan yang mesti diajarkan dan diterapkan kepada anak-anak sesuai dengan sabda Rasulullah Saw, ”Didiklah anak-anakmu dengan tiga perangai; cinta kepada nabimu, cinta kepada kaum kerabatnya dan cinta dalam membaca Al Qur’an, bakal berada dalam naungan Allah kelak pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya” [HR. Thabrani].

            Dalam hadits lain beliau kembali menegaskan,”Suatu pahala akan diberikan kepada orangtua yang mengajarkan Al Qur’an kepada puteranya, pada hari kiamat nanti akan mendapat mahkota di dalam syurga”[Thabrani]. Disabdakan lagi,”Rumah yang sering dibaca Al Qur’an didalamnya akan terbayang oleh penghuni langit sebagaimana bintang-bintang terbayang oleh penduduk bumi” [HR. Al Baihaqi dan Aisyah].

            Peran orangtua dalam mencetak generasi qur’ani dalam rumah tangga bukan sekedar tanggungjawab saja tapi mengandung nilai ibadah disisi Allah, tak heran jika Rasulullah bersabda,” Barangsiapa yang dikarunia anak perempuan lalu ia mengajarkannya akhlak mulia dan mendidiknya dengan baik, diberi makan bergizi, kelak amalannya itu akan menjadi penjaganya dari api neraka”.

            Dari hadits rasul diatas beliau mengangkat usaha orangtua dalam mendidik terutama anak perempuan, karena pada masa itu orang jahiliyyah sangat malu bila mempunyai anak wanita dan bangga dengan anak laki-laki, disini nampak bahwa Nabi Muhammad memberikan tempat tertentu bagi kehadiran wanita dalam keluarga, dia bukan makhluk kelas dua setelah pria, pada satu sisi ada kesamaan yang tidak dapat dibantah, Allah berfirman, ”Siapa saja yang berbuat kebaikan laki-laki maupun wanita sedang ia beriman, maka akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” [An Nahl 16;97].
           
            Dalam surat Al Hujurat 49;13 pun Allah menegaskan,”Hai manusia sesungguhnya Kami telah menciptakanmu dari seorang lelaki dan seorang wanita, dan menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Waspada”.

            Perhatian islam terhadap wanita cukup serius sehingga nama kaum ini diabadikan menjadi nama surat dalam Al Qur’an, yakni An Nisa’, Al Qur’an juga sering mengistilahkan wanita dengan sebutan Mar’ah. Selaku orangtua tidak menganggap istimewa   anak laki-laki lalu memojokkan anak wanita, jangan karena jenis kelamin yang berbeda laku tidak berlaku adil, Rasulullah bersabda, ”Berlaku adillah kepada anakmu walaupun dalam masalah ciuman [kasih sayang]”. Apalagi dari segi pendidikan, orangtua harus arif bahwa wanitapun mampu menyelesaikan pendidikannya pada tingkat yang lebih tinggi tidak bedanya dengan laki-laki.

            Letak kehancuran ummat islam karena melalaikan dari menuntut ilmu sehingga prediket bawahan selalu disandang. Karena itu islam menjatuhkan martabat dan mencela orang yang bodoh serta menyatakan akan dimasukkan ke dalam neraka,”Sesungguhnya yang sejahat-jahatnya makhluk melata menurut pandangan Allah ialah orang-orang  tuli, yang bisu dan yang  tidak dapat berfikir” [Al Anfal 8;22].

            Yang menyebabkan orang dapat mendengar, bicara dan berfikir itu ialah ilmu yang banyak. Semakin banyak ilmu seseorang, maka akan semakin nyaringlah pendengarannya, semakin banyak yang dapat dibicarakannya dan difikirkannya, Allah berfirman,”Dan sesungguhnya Kami sediakan untuk neraka itu, beberapa banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati tetapi tidak dapata mengerti dengannya, yang mempunyai mata tapi tidak dapat melihat dengannya dan mempunyai telinga tapi tidak dapat mendengar dengannya, mereka itu sama dengan hewan, bahkan lebih sesat lagi dari hewan...”[Al A’raf 7;179].

            Ilmu yang dimaksud disini tentu ilmu dunia dan akherat, sebab Rasulullah memberikan suatu gambaran   manusia akan berbahagia di dunia bila ia memiliki ilmu untuk meraihnya, orang akan bahagia di akherat bila ia memiliki ilmu akherat, dan orang akan bahagia di dunia dan di akherat bila memiliki kedua ilmu itu.

Islam sangat besar perhatiannya terhadap anak dan generasi yang akan datang karena di tangan merekalah masalah ummat ini dikemudian hari akan mereka pikul, bila ummat hari ini tidak baik dan tidak hati-hati menjaga anak keturunannya maka masa depan yang dihadapi suram dan runyam. Itulah makanya Allah dan Rasulullah memberikan pesannya berkaitan dengan generasi yang akan datang;
            Dalam sebuah haditsnya Rasulullah bersabda; ”Nabi ditanya oleh seorang sahabat,"Dosa apakah yang paling besar?" Jawab Nabi,"Engkau menjadikan sekutu bagi Allah", ditanya lagi "Kemudian apa lagi ya Rasulullah?" Nabi menjawab,"Engkau membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu".
           
Hal ini terjadi dizaman jahiliyyah yaitu sebelum masyarakat menerima Islam sebagai jalan hidupnya, apalagi anak yang lahir seorang wanita maka orang kafir Quraisy membunuh anak itu diantaranya selain karena memang adat yang mereka lakukan tapi juga karena takut miskin sebab wanita hanya menghabiskan bahan makanan saja, Allah melarang hal itu; "Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu Karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar" [Al Isra' 17;31].

                Jangankan melakukan pembunuhan terhadap anak, sedangkan meninggalkan anak yang lemah saja dilarang oleh Allah; "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar" [An Nisa' 4;9]

Berangkat dari ayat diatas dapat dinyatakan bahwa ada lima kelemahan yang terjadi pada kehidupan generasi yang akan datang, seorang mukmin harus berhati-hati agar anak keturunannya tidak mengalami kelemahan yaitu;

1.Lemah Materi
            Seorang ayah berupaya mensejahterakan anaknya dengan materi yang dimiliki dan berupaya pula bila kelak anak sudah dewasa memiliki usaha yang memadai dengan materi yang cukup. Mareri ibarat darah pada tubuh manusia, darah yang kurang pada tubuh akan membuat kita kurang semangat hingga menderita sakit. Itulah makanya islam mengatur bahwa nafkah untuk keluarga lebih didahulukan daripada wasiat kepada orang lain, bahkan Rasulullah meransang orangtua agar memberikan nafkahnya kepada keluarga terlebih dahulu daripada kepada yang lain, dan pemberian nafkah kepada keluarga lebih besar pahalanya daripada kepada yang lain, artinya nafkah untuk keluarga tidaklah habis begitu saja tapi dinilai pahala oleh Allah.

            Kalau kita tidak mampu meninggalkan materi kepada anak kita karena kita juga miskin maka paling tidak janganlah meninggalkan hutang kepada mereka yang membuat anak-anak kesusahan sepanjang masa, dalam sejarah nabi Musa terdapat kisah yang mengingatkan seorang ayah yang meninggalkan harta untuk anak-anaknya kelak;

"Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu........Al Kahfi 18;82]

2.Lemah Fisik
            Sejak awal orangtua seharusnya mengupayakan anaknya lahir dalam keadaan fisik yang sehat dan sempurna, hal ini dilakukan sejak masih berupa janin dengan mengupayakan pemeliharaan oleh ayah dan ibunya. Ketika lahirpun agar fisik kuat dan sehat digalakkan dengan makanan yang bergizi dan olah raga yang baik, sebagaimana Rasul mengajak orangtua untuk mengajari anaknya dengan memanah, menunggang kuda dan berenang, semuanya itu untuk pembentukan fisik yang kuat, bahkan Allah mengingatkan kepada kita agar mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi musuh dengan kekuatan fisik;

”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”[Al Anfal 8;60]

3.Lemah Mental
            Anak-anak harus dididik sehingga memiliki mental yang kuat dalam menghadapi kehidupan ini, mental penakut terjadi diawali dari orang-orang dewasa yang menakut-nakuti dengan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti seperti takut dengan hantu, takut keluar malam, takut dengan awan yang berarak. Anak yang selalu dimarahi tanpa alasan yang tepat membuat sang anak menjadi anak yang ciut menghadapi orang lain dan sebaliknya anak akan cengeng bila dimanja yang berlebih-lebihan.

            Doktor Abdullah Azzam seorang motor jihad di Afghanistan yang syahid bersama dua orang anak lelakinya, pernah menyatakan kepada keluarga muslim,”Jadikanlah keluargamu seperti sarang harimau sehingga ditakuti oleh musuh-musuhmu, jangan kau jadikan sebagai sarang domba niscaya dia akan diterkam srigala”, artinya rumah tangga muslim sejak awal sudah mempersiapkan kandidat mujahid dalam keluarganya yang siap dikirim ke medan jihad kapan dibutuhkan.

            Ketika Asma binti Abu Bakar akan melepas kepergian anaknya yang bernama Abdullah bin Zubeir ke medan jihad, dengan pakaian yang rapi dan lengkapnya seorang mujahid sang anak siap berangkat, sebelumnya dia memeluk sang ibu sebagai tanda pamit, Asma terkejut ketika di dada anaknya ada sesuatu yang keras, dia bertanya,"Apa ini hai anakku?" Abdullah menjawab,"Ini perisai ibu, agar tubuhku tidak ditembus panah dan pedang dan aku bisa pulang menemuimu kembali", dengan nada keras Asma berkata,"Bukanlah seorang mujahid yang ketika pergi berjihad  memasang perisai pada badannya, kau lepaskan perisai ini dahulu kemudian pergilah berjuang ", ketika perang usai akhirnya memang Abdullah bin Zubeir syahid bersama mujahid lainnya, mendengar anaknya syahid dengan senang hati Asma menerima kabar itu. Inilah pendidikan mental yang baik yang pernah diajarkan oleh sejarah.

4.Lemah Ilmu
Islam mewajibkan kepada pemeluknya untuk menuntut ilmu  tanpa membedakan ilmu agama dan ilmu umum lainnya karena semua ilmu itu berasal dari Allah yang harus dipelajari. Kewajiban ini disabdakan oleh Rasulullah,”Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan perempuan”. Dalam hadits lain Rasulullah menyampaikan sabdanya yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan Baihaqi,”Carilah ilmu itu walaupun sampai ke negeri Cina”.

Di Cina pada masa itu kebudayaan telah maju pesat dari segala lapangan kehidupan sehingga layak bila ummat islam belajar dari kemajuan yang diraih bangsa Cina, kemajuan Cina dapa dicatat diantaranya; pada Dinasi Shang telah dikenal tulisan sebagai alat penting dalam mengenal ilmu pengetahuan. Pada saat itu telah ada sekolah untuk belajar membaca, menulis serta budi pekerti. Pada tahun 105 M orang Cina berhasil menemukan kertas sebagai alat menuangkan tulisan. Dan pada masa inipun Cina telah mengenal alat cetak walaupun dengan bentuk yang sangat sederhana. Kebudayaan bangsa Cina sangat tinggi seperti arsitektur, seni patung, porselin, sastra, musik, seni tari, drama, seni menghitung dengan swipa dan lain sebagainya.
           
5.Lemah Iman
            Karena pentingnya iman dalam kehidupan seseorang sampai sejarah mencatat para nabi dan Rasul berusaha memberikan nasehat kepada anak-anak dan cucunya agar tetap menjaga  iman hingga akhir hidupnya;
Walaupun Nabi Ibrahim dan Ya'kub adalah Rasulullah tapi mereka juga khawatir terhadap anak dan keturunan mereka, sehingga pesan itu digambarkan Allah dalam firman-Nya; " Dan Ibrahim Telah mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".[Al Baqarah 2;132]

Sebagai seorang pendidik yang sangat bijak, nama Lukman Al Hakim tercantum dalam Al Qur'an bahkan butir-butir wasiatnya diabadikan Allah dalam surat Lukman ayat 13-14 diantaranya; "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". "Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun".
             
Untuk itu orangtua sebagai pendidik amanat Allah yang pertama dan terutama agar menggembleng generasinya kepada nilai-nilai luhur yang islami, walaupun ilmu dunia luas tapi tetap berpijak pada dasar-dasar ajaran islam  sehingga dengan tegas Rasulullah mengatakan,” Didiklah anak-anakmu karena dia akan menghadapi masa yang tidak sama dengan masamu”, artinya tantangan hidup, persaingan, ujian-ujian yang dihadapi anak nanti lebih berat dibandingkan yang dihadapi orangtuanya hari ini, segala bentuk idiologi menggiringnya kepada kehancuran.  Sehingga dasar islam yaitu aqidah yang istiqamah perlu sejak dini ditanamkan kepada anak kita kalau kita tidak mau generasi besok akan hancur jadinya, wallahu a’lam [Cubadak Solok,14 Ramadhan 1431.H/ 24 Agustus 2010].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar