Tak semua kita bisa bertemu sang ayah,
kadangkala sebelum lahir ayah sudah tiada karena meninggal atau karena terjadinya perceraian
sehingga hidup dan besar dengan sang ibu, itupun kalau Allah menghendaki hidup
dengan ayah tiri yang hakekatnya sama dengan ayah sendiri. Ayah adalah sosok
tampan yang jadi pujaan hati ibu dikala mudanya sehingga siap menerima
kehadirannya sebagai suami dan ayah bagi anak-anaknya, ayah adalah sosok lelaki
gagah yang dikagumi anak-anaknya, ketampanan dan kegagahannya menyimpan
kelembutan dan kasih sayang terhadap anak-anaknya sehingga seluruh tenaga,
waktu, harta dan kekayaannya hanya untuk
isteri dan anak-anaknya.
Ketika datang seorang sahabat kepada
Rasulullah, tiba-tiba anak lelaki menghampirinya, maka di gendong anaknya itu
kemudian dicium, tapi ketika datang anaknya yang perempuan, Cuma dapat belaian
saja, tidak dicium. Rasul menegurnya dengan mengatakan, kau harus adil terhadap
anak-anakmu walaupun hanya masalah ciuman.
Nabi Ibrahim telah menikah dengan Sarah.
Pernikahan itu tidak kunjung membuahkan generasi pelanjut. Berpuluh tahun
menantikan kehadiran seorang anak dalam
rumah tangganya, belum juga dikaruniai seorang putrapun. Ibrahim menjadi masqul. Melihat kesedihan suami yang
dicintai, Sarah tidak tega. Ia tawarkan
Hajar, budaknya untuk dinikahi dengan harapan akan memperoleh seorang putra
bagi Ibrahim, Sarah rela dimadu dengan Hajar.
Allah
memberikan karunianya. Hajar mengandung. Tiada terkira rasa cemburu Sarah
kepada Hajar. Timbul khawatir Ibrahim akan melupakan dirinya. Rasa cemburu
merupakan fithrah manusia, tidak kecuali pada Sarah. Sementara ia masih bisa
menahan hati ketika Hajar masih mengandung. Namun perasaan itu tidak bisa
disembunyikan lagi bila Ismail telah lahir. Suatu hari Sarah berkata, ”Suamiku
Ibrahim. Berat rasa hati mengatakan hal ini, telah lama ku pendam perasaan.
Sudah ku coba untuk menenangkan hati, tapi rasanya tak tahan lagi. Aku takut kau akan melupakan diriku, setelah
Hajar menjadi isterimu, ia wanita yang beruntung dapat memberikan keturunan
kepadamu”.
Ibrahim
menaruh kasihan, ”Sarah, Hajar adalah budakmu. Kau dapat melakukan apa saja
padanya. Kau dapat berbuat sesuka hatimu”. Hibur Ibrahim. Namun sebagai wanita
yang beriman, Sarah tidak mau melampiaskan semua isi hatinya. Ia takut kepada
Allah. Meskipun telah diberi kebebasan, dia tidak mau melakukannya. Sarah masih
membolehkan Hajar tinggal di rumahnya.
Ketika
Ismail lahir, apa yang dibayangkan serta dilakukan Sarah benar-benar terjadi.
Perhatian dan kasih sayang Ibrahim kepada Hajar dan putranya makin bertambah.
Tidak ada waktu luang yang tidak dilewatkan bersama anaknya Ismail. Tiada
terkira bahagianya Ibrahim. Melihat kenyataan itu Sarah menemui Ibrahim dan
berkata, ”Demi Allah aku tidak tahan lagi hidup bersama. Aku tidak tahan lagi
hidup satu rumah dengannya”. Setiap hari Sarah mendesak Ibrahim agar membawa
Hajar pergi dari rumahnya. Hingga suatu hari Ibrahim mendapat perintah dari
Allah Swt untuk membawa Hajar ke Selatan.
Dibawanya
Hajar dan Ismail ke daerah tandus lagi kosong tanpa penduduk. Daerah itu aman
bagi Ismail dan ibunya. Aman pula dari Sarah yang tidak menyukai kehadirannya.
Disini Ibrahim meninggalkan isteri dan anaknya dengan bekal sekarung kurma dan
segentong air, setelah dibangunnya sebuah gubuk sederhana sekedar tempat
berteduh. Disini Hajar harus berjuang mempertahankan hidup bersama Ismail.
Hajar belum menyadari mereka akan ditinggalkan ditempat sepi ini. Ia takut
dan cemas. Hari demi hari akan
dilaluinya dalam kedukaan. Setelah Ibrahim mengutarakan maksud Allah, Hajar
berusaha membujuk Ibrahim, tapi dengan tegar Ibrahim melangkah tanpa menoleh.
Setelah agak jauh meninggalkan Hajar, terdengar teriakan Hajar. ”Ibrahim
suamiku. Benarkah engkau akan pergi meninggalkan kami di tempat ini, sunyi lagi
sepi ? Benarkah yang menyuruh ini Allah ?”. dengan suara tersendat bercampur
dengan kepiluan Ibrahim menjawab, ”Benar, isteriku. Ini semua perintah Allah”.
Setelah
mendengar jawaban dari Ibrahim, puaslah hati Hajar. Dia tenang kembali, karena
yakin Allah memberikan ujian kepada mereka serta Allahpun siap menolongnya.
Sebelum hilang anak dan isteri dari pandangannya, Ibrahim berdo’a, ”Ya Allah,
sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat
rumah Engkau [Baitullah] yang dihormati. Ya Tuhan, karena yang demikian itu
agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cendrung
kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka
bersyukur” [Ibrahim;37].
Hajar
begitu menyadari telah tinggal berdua saja dengan anaknya ismail kemudian
merasa panik. Apalah daya anak bayi tersebut. Tidak ada yang lain tempat
meminta tolong. Apalagi setelah perbekalan mereka berupa kurma dan air
berangsur habis. Hajar dan anaknya terancam lapar dan dahaga. Rasa lapar dan
haus tidak tertahankan lagi membuatnya bingung. Sementara rona wajah anaknya
semakin pudar dari sinar kehidupan.
Hajar
mencari air untuk mengembalikan cahaya Ismail. Hanya pasir kering dan batu
karang yang ditemuinya. Dilayangkan pandangannya ke Shafa, seolah ada air,
tetapi alangkah kecewa hatinya. Tidak ada air yang diperlukan, dilihatnya
Marwa, diapun berlari kesana untuk mendapatkan air. Sia-sia saja usahanya,
karena dorongan rasa sayang kepada buah hatinya, tetap dicari tanpa putus asa,
tak pernah padam semangatnya.
Dari
Marwa kembali ke Shafa tidak juga berhasil. Bolak balik dari Shafa ke Marwa
sampai tujuh kali, akhirnya kehabisan tenaga. Hajar jatuh tersungkur ke batu karena
letih. Dalam ketidakberdayaannya Hajar menyerahkan diri dan nasib anaknya
kepada Allah, memohon perlindungan dan pertolongan.
Dia
dikejutkan oleh tangis anaknya, diseretnya langkah menuju sang bayi, wajah
pucat yang disayang terpandang olehnya. Cahaya kehidupan Ismail hampir padam
sedikit demi sedikit.
Hati
ibu mana yang tidak akan hancur melihat kenyataan demikian. Dikumpulkannya sisa
tenaga yang ada...perlahan-lahan ditinggalkannya anaknya yang menyongsong maut
itu. Tidak tega hatinya. Tangannya menutupi wajahnya yang berurai air mata,
penuh kesedihan dia merintih. Dunia seakan berhenti berputar, angin seolah
berhenti bertiup, turut merasakan kesedihan ibu yang menderita itu. Yang
terdengar hanya nafas ibu dan desah anaknya yang kian lembut.
Tiba-tiba
tanpa diketahui darimana datangnya. Tampak sekelompok burung terbang menuju ke
suatu tempat. Kemudian mematuk-matuk tanah dengan paruhnya. Hingga tampak
basah, secepat kilat Hajar menuju tempat itu, digalinya tanah basah itu dengan
kedua tangannya. Maka memancar air dengan derasnya. Diucapkan kata-kata
”Zam-zam” yang berarti teduhlah air, teduhlah atas kekuasaan Allah. Dibawanya
air untuk membasahi bibir Ismail dengan kedua telapak tangannya, digendong
serta disirami air. Kehidupan mulai tampak, cahaya muka Ismail mulai kelihatan
dengan adanya air zam-zam.
Sampai
Ismail menjelang dewasa, tidak pernah ditengok oleh ayahnya, hanya dalam asuhan
ibunya seorang, Ismail tidak mengetahui dan mengenal ayahnya, dia diasuh dengan
belaian kasih sayang seorang ibu, dengan segala beban penderitaan, hingga
datang suatu hari Ibrahim menjenguk anak dan isterinya. Tetapi sayang ketika
dalam kegembiraan Ibrahim mendapat ujian kembali. Belum habis rasa capeknya setelah menelusuri perjalanan
yang panjang, belum terobati rasa rindunya sebuah mimpi mengusik ketenangannya,
mimpi itu dari Allah agar dia menyembelih putranya.
Dapat
dibayangkan betapa hancur dan pedihnya hati seorang ayah yang sudah lama
memendam rasa rindu, tapi setelah bertemu anak yang baru saja tumbuh remaja
harus pula disembelih. Dia tidak tega melakukannya, sehingga beberapa saat
mimpi itu selalu disimpan. Tidak berani menceritakan kepada anak dan isterinya.
Namun karena perintah Allah, pengorbanan apa saja dia selalu siap
melaksanakannya, ”...Ibrahim berkata,
”Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka
fikirkanlah apa pendapatmu”. Ismail menjawab, ”Hai bapakku, kerjakanlah apa
yang diperintahkan Allah kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku
orang-orang yang sabar” [Asy Syafaat;120].
Ismail
walaupun masih muda belia rela serta tidak gentar menyerahkan dirinya untuk
disembelih. Dia ikhlas karena dia anak yang shaleh yang telah dibina, dididik,
ditempa oleh seorang ibu dengan segala beban penderitaan. Mereka sadar bahwa
hidup hanyalah serentetan ujian dari Allah. Dan kini mereka sedang berada dalam
ujian yang kesekiankalinya yaitu melakukan penyembelihan terhadap anak
kesayangannya, belahan jiwa, penyejuk mata penenang hati. Ketika pisau akan
disembelih ke leher Ismail dengan sangat hati-hati Ibrahim melakukannya, atas
kuasa Allah, diganti dengan seekor domba, Allah menerima iman dan kesabarannya.
Seandainya
Ibrahim, begitu menerima perintah Allah langsung mengerjakan penyembelihan
terhadap Ismail, maka dia telah berpahala, namun dia tidak suka, bila pekerjaan
besar ini tidak mendapat resfon dari Ismail, Ibrahim juga berharap agar anaknya
mendapat pahala yang besar dari pengorbanan ini.
Dari
kisah di atas nampaknya hidup memang penuh dengan rentetan ujian dan cobaan
dari Allah. Pengorbanan dalam arti luas yaitu memberikan sedikit waktu, tenaga,
peluang serta bentuk marena kepada yang membutuhkan dalam rangka mendekatkan
diri kepada Allah. Allah tidak menerima ujud dari pengorbanan tersebut namun
sebagai amal, yang sampai ialah keikhlasan dalam pengorbanan itu.
Begitu sayangnya Rasulullah kepada anaknya
yang bernama Fatimah, setiap pergi kemana saja selalu dibawa bahkan
Fatimah lebih banyak bersama Rasul dalam
menerima beban da'wah ini. Suatu saat dikala Nabi Muhammad sedang mengerjakan
shalat di depan Ka'bah, beliau sujud, tiba-tiba Abu Jahal meletakkan kotoran
onta ke kepalanya, hal itu dilihat oleh Fatimah, bukan main sedihnaya sang anak
dara ini, dengan deraian airmata dia campakkan kotoran onta yang berada di
kepala ayahnya itu. Saat meninggalpun Rasul hanya ditemani oleh Fatimah, beliau
menghadapkan kepalanya kepada anak tersayangnya itu sambil berkata,"Ya
Fatimah sakit sekali nak, tapi setelah ini tidak adalagi rasa sakit itu".
Fatimahpun sedih dan menangis menyaksikan ayahnya yang sedang sakarat.
Anak adalah dambaan
calon ayah dan ibu sebagai pelengkap kasih dalam keluarga, apalagi kehadirannya
sudah lama dinantikan dengan segala kerinduan. Rumah kurang cerah kalau
didalamnya tidak terdengar tangisan atau rengekan seorang bayi, bahkan karena
tidak dapat menghadirkan anak bagi sepasang suami isteri sebagai penghibur
keduanya, acap kali diakhiri dengan perceraian.
Setelah
anak hadir di tengah-tengah mereka dengan karunia dari Allah maka timbullah
berbagai tuntutan dan ketentuan hukum yaitu kewajiban orangtua untuk memenuhi
segala hak anak sejak mereka lahir sampai dapat hidup mandiri, diantara
kewajiban seorang ayah adalah;
Pertama, Nasab; anak dinasabkan
berbangsa kepada ayahnya melalui berbagai cara; perkawinan, pengakuan ataupun surat bukti sebagai
pengakuan secara formal. Sampai anak berumah tanggapun bagi wanita dia harus
menempatkan nama ayahnya di belakang namanya, bukan nama suaminya sebagaimana
yang terjadi pada masyarakat sekarang. Contoh namanya Aminah sedangkan nama
ayahnya Amir, nama tersebut layak digandengkan dengan sebutan Aminah Amir,
bukan nama suaminya seperti Anwar lalu menjadi Aminah Anwar. Penggandengan nama
suami bagi seorang isteri adalah suatu kekeliruan dan kesalahan yang disengaja.
Kedua, menyusukan;
kewajiban menyusukan anak adalah kewajiban seorang ibu, dia adalah kewajiban
yang dibebankan agama bukan yuridis artinya kalau ada ibu yang tidak mau
menyusukan anaknya secara hukum ia tidak bisa dipaksakan kecuali anak itu
sendiri yang enggan untuk menyusu selain kepada ibunya, barulah ibu itu boleh
dipaksa. Dalam islam bila wanita itu telah diceraikan maka ayah anaknya
berkewajiban memberikan upah khusus isterinya tersebut susu yang ditetekkan
kepada anaknya, surat Al Baqarah 2; 233 Allah
berfirman, ”Para
ibu hendaklah menyusukan anaknya selama dua tahun penuh yaitu bagi yang
ingin menyempurnakan penyusuan. Dan
kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang
ma’ruf….jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa
bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut”.
Dari segi psikologis anak yang disusukan oleh ibunya
sendiri maka kasih sayang itu sepenuhnya tercurah kepada anak dan anakpun
merasakan bagaimana denyut nadi ibunya, disamping itu anak dapat dengan
sepenuhnya merasakan asuhan ibu dengan belaian yang lembut.
Ketiga, memberi
nafkah; orangtua terutama ayah berkewajiban memberikan makan, pakaian atau
tempat tinggal yang layak kepada anaknya, tentunya sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki. Dalam surat
at Thalaq ayat 7 Allah berfirman, “Hendaklah
orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang
disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah
kepadanya, Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan [sekedar]
apa yang Allah berikan kepadanya”.
Dari sekian nafkah yang dikeluarkan seseorang dalam
hidupnya baik untuk keluarga, ataupun masyarakat, maka nilai yang lebih baik
dan tinggi disisi Allah ialah nafkah yang dikeluarkan untuk keluarga
sebagaimana sabda Rasulullah dalam shahih Muslim, “Satu dinar kamu belanjakan di jalan Allah dan satu dinar kamu
belanjakan untuk [memerdekakan] seorang budak, dan satu dinar kamu sedekahkan
kepada si miskin, dan satu dinar kamu belanjakan kepada keluargamu, maka yang
paling besar pahalanya dari itu semua adalah yang kamu belanjakan kepada
keluargamu”.
Keempat, perawatan;
yang dimaksud disini adalah perawatan yang mencakup pada kesehatan anak, baik
tentang makanan yang bergizi, obat-obatan, serta memperhatikan segala keperluannya dalam bentuk jasmani; jangan
sampai orangtua membiarkan anaknya dalam keadaan sakit tanpa diusahakan
mengobatinya atau membiarkannya bermain pada tempat yang kotor, juga perlu
diperhatikan kebutuhan fisik lainnya seperti olah raga serta keterampilan,
sebagaimana sabda Rasulullah, “Ajarilah
anakmu memanah, berkuda dan berenang”, dengan maksud agar fisiknya
berkembang, pertumbuhan tubuhnya sesuai dengan umur dan keterampilannya tangk
seras.
Kelima, pendidikan;
selain empat hal diatas maka kewajiban memberikan pendidikan kepada anak sangat
penting sebagai bekal hidupnya baik di dunia maupun di akherat. Bekal di dunia
tidak lain pendidikan yang berbentuk keterampilan, karena dengan adanya
keterampilan seorang anak merasakan dunia ini luas baginya serta dia mampu
hidup mandiri. Keterampilan yang dapat berhasil guna yaitu ahli atau
profesional dalam suatu bidang; dia betul-betul mengetahui serta mampu berbuat dengan keahlian itu,
sebagaimana sabda nabi Muhammad Saw, “Bila
pekerjaan tidak diberikan kepada ahlinya maka tunggu saja kehancurannya”.
Disamping itu
orangtua jangan lupa memberikan pendidikan agama kepada anaknya, dengan
agama anak dapat melakukan segala aktivitas mencari nilai ibadah kepada Allah,
bila aqidah telah mapan dia akan jadi seorang muslim yang berbuat karena Allah,
dalam bidang garap apapun tidak akan melakukan penyelewengan, korupsi dan
manipulasi, Allah berfirman dalam surat An Nisa’ 4;9, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya
meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatiri
terhadap mereka….”
Itulah diantara kewajiban orangtua baik ayah atau selaku
ibu yang harus dilakukan kepada anaknya karena semua itu adalah hak anak yang
layak dituntut bila tidak diberikan, Rasulullahpun memberikan nasehat kepada
kita, “Didiklah anak-anakmu karena dia
akan menghadapi masa sulit yang tidak pernah kamu hadapi”. Mudah-mudahan
kita mampu mempersiapkan kader shaleh berkualitas dari tangan bapak dan ibu
yang shaleh dan shalehah.
Bagaimana kesedihan memuncak dari seorang ayah bernama
Nuh, ketika ingin menyelamatkan anaknya dari ganasnya air bah tapi sang anak
enggan mengikuti ajakan ayahnya, akhirnya tenggelamlah sang anak dalam
kekafirannya. Allah menghibur Nuh bahwa anak yang demikian tidaklah termasuk
keluarganya, sebab yang dikatakan keluarga itu adalah orang-orang yang beriman
kepada Allah dengan segala konsekwensinya.
Luar biasa marah dan sedihnya Ya'kub ketika dikabarkan
oleh anak-anaknya bahwa Yusuf, anak
kesayangannya diterkam Srigala, sehingga kesedihan itu berlarut-larut
yang menyebabkan sembab dan buta mata sang ayah memikirkan anaknya entah
dimana, do'a dan munajad selalu dipanjatkan agar bisa bertemu dengan si anak,
di usia rentalah Ya'kub bertemu dengan
Yusuf setelah sang anak melalui perjalanan panjang hingga jadi pejabata di
negeri Mesir.
Sungguh bangga hati seorang ayah ketika anaknya
berprestasi dalam pendidikan, pintar bergaul dengan akhlak terpuji, memahami
ajaran agama dengan baik sehingga jadi anak shaleh dan shalehah, dia berharap
kelak mendapat menantu dan ;punya cucu dari anak-anaknya itu, sang ayah merasa
bahagia kalau kebahagiaan itu ada pada anak-anaknya, hati siapa yang tidak
luka, teriris-iris, sedih yang mendalam kalau punya anak yang penuh dengan
segala kekurangan sehingga rasanya menyesal punya anak demikian, wallahu a'lam.[Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus
2010.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar