Banyak dari bangsa kita yang hidup sulit
di kampung, jangankan untuk makan yang enak, biaya sekolah, beli kendaraan
sedangkan untuk makan sehari-hari harus berjuang mati-matian memeras keringat
dan membanting tulang, itupun tidak jaminan mendapatkan imbalan yang layak,
hidup serba kekurangan dijalani dengan ketidakmenentuan. Jalan keluar dari
semua itu adalah, tinggalkan kampung dengan segala kenangan menuju rantau,
tekad mencari penghidupan dengan segala keterbatasan yang ada.Pekerjaan apapun
dilakukan asal halal demi sesuap nasi dan sehelai pakaian, sisanya untuk kepentingan
keluarga di kampong.
Berbagai deraan ujian melecut yang diiringi dengan deraian air mata, waktu merubah keadaan
sehingga dari seorang pekerja yang bertekad, tidak akan kembali ke kampung
sebelum kejayaan diraih menjadi seorang pengusaha yang sukses. Dahulu di
kampung orang memandang dengan sebelah mata karena ketidakpunyaan harta dan
kekayaan, sekarang sekali-kali pulang ke kampung pandangan hormat dan mulia
tertuju kepadanya, itulah manusia, hanya memandang manusia lainnya karena
harta, jabatan dan kekuasaan, selain itu diabaikan.
Saat memberikan sambutan pada acara Silaturahmi Saudagar
Minang (SSM) III di Basko Hotel Rabu (15/9) lalu, mantan Wakil Presiden RI HM
Yusuf Kalla mengajukan pertanyaan; “Apa beda pengusaha dan pejabat?”
Sambil tersenyum pengusaha nasional asal bugis itu
mengatakan; “Bedanya adalah jika pejabat pensiun, banyak diantara mereka yang
mulai belajar jadi pengusaha.Tapi jika pengusaha pensiun, banyak diantara
mereka yang diangkat jadi pejabat.Contohnya saya, pensiun dari pengusaha,
diangkat jadi wakil presiden,” ujar Kalla sambil kembali melemparkan senyumnya
yang khas.
Dulu menurutnya, jika ingin menjadi pejabat.maka jalurnya
adalah melalui kaderisasi di Akabri. Dulu, umumnya Bupati, Gubernur, Menteri
dan pejabat tinggi lainnya berasal dari lulusan Akabri.Sekarang, banyak pejabat
tinggi yang berasal dari pengusaha.Pengusaha telah menempati posisi penting di
negara kita.
Lebih lanjut, secara sederhana menurut sumando rang
Lintau ini kemajuan suatu daerah secara ril diukur dari tingkat pertumbuhan
produk domestik bruto (PDRB) daerah tersebut. PDRB adalah hasil dari aktifitas
dunia usaha.
Sulawesi Selatan dan Riau adalah contoh daerah yang
produktifitas dunia usahanya cukup baik.Angka pertumbuhan ekonomi mereka di
atas 9 persen, sedangkan Sumbar hanya sekitar 4 persen.Di Riau atau Sulsel
waktu tunggu (waiting list) calon haji bisa mencapai 8 tahun, di Sumbar hanya
sekitar 3 tahun. Artinya jumlah peserta haji di Riau dan Sulsel jauh lebih
tinggi karena aktifitas ekonomi masyarakat di sana lebih baik.
Lalu kenapa PDRB Sumbar masih rendah?Jawabnya adalah
sektor ril Sumbar masih tertinggal dan belum berkembang maksimal.Kegiatan
ekonomi masyarakat Sumbar masih belum optimal.Jumlah penerima zakat masih jauh
lebih banyak dibandingkan kaum pemberi zakat (kaum muzakki).
Menurut Yusuf Kalla, Sumatera Barat mirip dengan
Philipina. Penghasilan penduduk lokal berasal dari wesel/kiriman dari
perantau.Hal ini tentu saja tidak strategis, iklim ekonomi daerah ini menjadi
labil karena tergantung kepada faktor luar.Seharusnya sektor ril tumbuh dan
berkembang sehingga ekonomi di daerah tersebut kokoh.
Jika ekonomi masyarakat kokoh, maka cita-cita menjadikan
Sumatera Barat menjadi daerah yang adil, makmur, dan bermartabat insyaAllah
akan tercapai. Bertumbuhnya ekonomi akan menimbulkan efek berantai yang
menghidupkan pula sektor-sektor lain, saling bersinergi. Jika kehidupan ekonomi
petani , nelayan dan pengusaha kecil meningkat, maka mereka akan beli pakaian,
makanan, alat elektronik, motor, dll. Ini berarti sektor perdagangan juga ikut
bergerak naik. Otomatis PAD (pendapatan asli daerah) dari pajak juga akan
meningkat. Jika PAD meningkat, maka pemerintah daerah bisa memiliki energi baru
untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan pegawai.
Dulu untuk meningkat omset penjualan mobil di
perusahaannya menurut Yusuf Kalla yang ia lakukan adalah membantu petani agar
panen kopi, sawit atau coklat mereka berhasil. Uang dari hasil panen inilah
nantinya akan meningkatkan omset penjualan mobil. Bagaimana mungkin omset
penjualan mobil meningkat jika masyarakat tak punya uang?
Lalu apa yang harus dilakukan untuk menggerakkan ekonomi
masyarakat? Sektor pertanian, peternakan, perikanan, UMKM harus
ditumbuh-kembangkan karena sekitar 60 persen masyarakat kita bergerak di sektor
ini. Tentu saja ini bukan berarti sektor lain ditinggalkan, tentu juga harus
disinergikan.
Lalu dari mana dana untuk menggerakkan ekonomi tersebut?
Jika mengharapkan dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah), tentu
saja semua mimpi itu tak kan bisa terlaksana. Pemerintah beserta seluruh
jajarannya harus kreatif agar dana dari berbagai sumber masuk ke Sumatera
Barat, baik melalui pemerintah pusat, maupun perantau dan pihak ketiga.
Alhamdulilah hal tersebut sudah mulai dilakukan dan hasilnya pun sudah mulai
terlihat.
Sebaliknya masyarakat juga harus serius untuk
meningkatkan ekonominya. Allah mengatakan tidak akan mengubah suatu kaum jika
kaum itu sendiri tidak mengubah dirinya sendiri. Pepatah arab juga mengatakan
”siapa mau berusaha bersungguh-sungguh pasti berhasil.”
Dulu ada cerita miring, masyarakat menjual sapi bantuan
pemerintah dan uangnya digunakan untuk keperluan lain. Atau sapi yang
nyata-nyata masih sehat dilaporkan mati, dsb.Jika hal itu masih dilakukan,
berarti masyarakat tersebut tidak ingin mengubah nasibnya, malah mencelakakan
diri sendiri. Masyarakat yang memang ingin maju dan serius akan difasilitasi,
yang tidak terpaksa ditinggalkan.
Memfasilitasi masyarakat yang memang tidak ingin berubah
seperti mendorong mobil mogok.Dibutuhkan energi ekstra untuk mendorongnya,
supaya bisa berjalan. Namun tak lama berjalan ia mogok lagi. Karena itu
sebaiknya ditinggalkan saja.
Kita harus yakin dibidang apa pun usaha dilakukan, jika
dilakukan secara serius dan jujur, pasti berhasil. Ada banyak contoh yang bisa
kita lihat.Pembuat kerupuk singkong pun bisa sukses dan jadi orang
terpandang.Tak ada sejarahnya pengusaha besar muncul begitu saja, umumnya
mereka merintis usaha dari usaha kecil.Seperti kata Yusuf Kalla, sudah saatnya
generasi kita mengubah mind set mereka. Lulus perguruan tinggi bukan untuk
menjadi pegawai, tapi jadi pengusaha.[Prof Dr H Irwan Prayitno, Jadilah Pengusaha,website Irwan
Prayitno, Sabtu, 25/09/201].
Bagaimanapun
susah payahnya seorang calon pengusaha merintis usahanya, mengalami jatuh dan
bangun, sukses dan gagal, orang kampung tidak mau tahu semua kejadian itu,
mereka hanya memandang sebuah kesuksesan dan kejayaan seorang penguasa.
Sebenarnya para nabipun banyak yang mengalami perjalanan hidupnya dengan usaha
perdagangan hingga jadi penguasa, lihatlah bagaimana kehidupan yang dilalui
oleh nabi Muhammad.
Sejak
kecil tepatnya saat berumur 12 tahun, Muhammad sudah diperkenalkan tentang
bisnis oleh pamannya, Abu Thalib, dengan cara diikutsertakan dalam perjalanan
bisnis ke Suriah.
Pengalaman
perdagangan (magang) yang diperoleh Muhammad dari pamannya selama beberapa
tahun manjadi modal dasar baginya disaat memutuskan untuk menjadi pengusaha
muda di Mekah.Beliau merintis usahanya dengan berdagang kecil-kecilan di
sekitar Ka’bah.
Dengan modal
pengalaman yang ada disertai kejujuran dalam menjalankan usaha bisnisnya, nama
Muhammad mulai dikenal dikalangan pelaku bisnis (investor) di Mekah.
Dalam kurun
waktu yang tidak cukup lama, Muhammad mulai menampakkan kelihaiannya dalam
menjalankan usaha perdagangan bahkan beberapa investor Mekah tertarik untuk
mempercayakan modalnya untuk dikelolah oleh Muhammad dengan prinsip bagi hasil
(musyarakah-mudharabah) maupun penggajian.Pada tahapan ini Muhammad telah
beralih dari business manager (mengelola usahanya sendiri) menjadi investment
manager (mengelola modal investor).
Dengan modal
yang sudah relatif besar, Muhammad memiliki kesempatan untuk ekspansi bisnis
untuk menjangkau pusat perdagangan yang ada di Jazirah Arab.Kejujuran beliau
dalam berbisnis sehingga dikenal olah para pelaku bisnis sebagai Al-Amin
menjadi daya tarik bagi kalangan investor besar untuk menginvestasikan modalnya
kepada Muhammad, salah satu di antaranya adalah Khadijah yang di kemudian hari
menjadi Istri pertama beliau.
Di usia 25
tahun, usia yang masih rekatif mudah, Muhammad menikah dengan Khadijah, seorang
pengusaha sukses Mekah. Secara otomatis Muhammad menjadi pemilik sekaligus
pengelola dari kekayaan Khadijah.Penggabungan dua kekayaan melalui pernikahan
tersebut tentunya semakin menambah usaha perdagangan mereka baik secara modal
maupun penguasaan pangsa pasar.Pada tahapan ini Muhammad sudah menjadi business
owner.
Setelah Muhammad
menikah dengan Khadijah, beliau semakin gencar mengembangkan bisnisnya melalui
dengan ekspedisi bisnis secara rutin di pusat-pusat perdagangan yang ada di
jazirah Arab, beliau intens mengunjungi pasar-pasar regional maupun
Internasional demi mempertahankan pelanggan dan mitra bisnisnya.Jaringan
perdagangan beliau telah mencapai Yaman, Suriah, Busara, Iraq, Yordania,
Bahrain dan kota-kota perdagangan Arab lainnya.
Saat menjelang
masa kenabian (berumur 38 tahun) di mana waktunya banyak dihabiskan untuk
merenung beliau telah sukses menjadi pedagang regional dimana wilayah
perdagangannya meliputi Yaman, Suriah, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain dan
kota-kota perdagangan Jazirah Arab lainnya. Pada tahapan in beliau telah
memasuki fase yang menurut Robert T Kiyosaki disebut financial freedom.
Kehebatan
berbisnis Muhammad bisa dilihat dalam sebuah riwayat yang menceritakan bahwa
beliau pernah menerima utusan dari Bahrain, Muhammad menanyakan kepada
Al-Ashajj berbagai hal dan orang-orang yang terkemuka serta kota-kota yang
terkemuka di Bahrain.Pemimpin kabilah tersebut sangat terkejut atas luasnya
pengetahuan geografis serta sentral-sentral komersial Muhammad.Kemudian
al-Ashajj berkata “sungguh Anda lebih mengetahu tentang negeri saya daripada
saya sendiri dan anda pula lebih banyak mengetahui pusat-pusat bisnis kota saya
dibanding apa yang saya ketahu.Muhammad menjawab “saya telah diberi kesempatan
untuk menjelajahi negeri anda dan saya telah melakukannya dengan baik.”(Syafi’i
Antonio, 2007).
Demikianlah
perjalanan sukses bisnis Muhammad sebelum resmi menjadi seorang Nabi yang
jarang disampaikan kepada generasi-generasi muda di saat perayaan Maulid Nabi.
Pemahaman yang utuh tentang biography kehidupan beliau akan menghindarkan
terjadinya pemahaman yang sempit tentang diri Rasulullah. Banyak orang yang mengaggap
Rasulullah sebagai orang yang miskin padahal justru sebaliknya beliau adalah
sosok pebisnis yang sukses.
Melalui momentum
Maulid Nabi ini kiranya perlu mengangkat tema kesuksesan Muhammad sebagai
pelaku bisnis demi memacu munculnya pengusaha-pengusaha muda di kalangan
Muslim.Sebenarnya negeri ini memiliki tokoh-tokoh agama sekaligus pengusaha
sukses, sebut saja misalnya, tokoh nasional K.H. Ahmad Dahlan dengan usaha
batiknya.Bahkan dalam sejarah gerakan kemerdekaan Indonesia kita mengenal
tokoh-tokoh agama yang terhimpun dalam Syarikat Dagang Indonesia.
Sebagaimana kita ketahui jumlah
wirausahawan di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan
negara-negara maju di dunia.Dari total penduduk Indonesia, 231, 83 juta jiwa
hanya sekitar 2 persen saja yang berwirausaha atau sebesar 4, 6 juta.Tentunya
jumlah ini sangat kecil sekali jika negeri ini menginginkan penduduknya untuk
semakin kuat dan mandiri secara ekonomi.
Negara-negara maju relative
memiliki persentasi wirausahawan yang relatif tinggi dari jumlah
penduduknya.Persentase penduduk Singapura yang berwirausaha mencapai 7 persen,
China dan Jepang 10 persen dari total jumlah penduduk mereka.Sedangkan yang
tertinggi adalah Amerika Serikat sebesar 11, 5-12 persen.
Melalui perayaan Maulid Nabi ini, kita perlu mengkampanyeka pentingnya berwirausaha seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai solusi untuk menyelesaikan persoalan umat yaitu kemiskinan dan pengangguran.[Ali Rama,Muhammad, Sang Pengusaha Sukses, Hidayatullah.com.Rabu, 16 Februari 2011].
Untuk zaman yang serba modern ini, maka semakin besar
biaya hidup yang akan kita keluarkan, padahal pemasukan tidaklah sebanding
dengan pengeluaran, bahkan mungkin pemasukan tidak ada sementara pengeluaran
sudah pasti terjadi, untuk itu perlu disiasati agar usaha tidak hancur dan
julukan penguasa tidak memudar. Yang selama ini kita yang mencari uang hingga
meninggalkan kampung, mencari daerah lain jauh dari keluarga, kini dapatkah kita menjadikan uang yang mencari
kita, dimanapun kita berada selalu dikejar oleh uang.
Pernahkah Anda melihat
pedagang yang tinggal di sebuah ruko, di mana lantai paling bawah digunakan
untuk berdagang, sementara lantai di atasnya digunakan sebagai tempat
tinggal?Artinya, tempat usaha dan rumah tinggal menjadi satu. Dengan kata lain,
rumah tinggal si pedagang tersebut bukan sekadar rumah tinggal, tetapi telah
menjadi aset produktif yang bisa menghasilkan uang, alias tempat berbisnis.
Bagaimana dengan Anda?Boleh jadi Anda memilki rumah lebih dari satu.Dan rumah
yang tidak Anda tinggali setiap bulan malah menguras kantong Anda karena mesti
membayar biaya listrik dan biaya pemeliharaan lainnya. Malah kondisi rumah
terus merosot karena faktor usia dan lain sebagainya. Konkretnya, beberapa
rumah yang Anda miliki bukan saja tidak produktif, tetapi malah menjadi beban.
Oleh karena itu, rumah tersebut mesti diproduktifkan, dalam arti memberikan
penghasilan, misalnya disewakan kepada pihak lain.
Selain rumah, coba lihat lagi
berbagai kekayaan yang Anda miliki.Cermati apakah aset tersebut sekadar sebagai
aset konsumtif, atau alat menjaga gengsi belaka, atau memang tergolong
produktif.Jika Anda memiliki perhiasan emas yang nilainya meningkat, perhiasan
itu tergolong aset produktif yang bisa menambah kekayaan Anda.Begitu juga
dengan lukisan yang nilainya bisa saja mengalami peningkatan.Ringkasnya, aset
produktif adalah aset yang memiliki nilai investasi.
Inovasi keuangan juga bisa
dilakukan dengan cara pemilihan investasi yang tepat. Pengertian investasi yang
tepat di sini adalah bagaimana menyuruh uang Anda ”bekerja” untuk Anda. Jadi,
uang menghasilkan uang.Bagaimana caranya?Lakukan investasi aktif.
Investasi aktif adalah secara
reguler memilih dan mengevaluasi investasi yang telah dilakukan.Di pasar modal,
misalnya, sebagian kalangan membeli saham, lalu terus memegangnya dalam kurun
waktu yang lama, dengan harapan memperoleh dividen dan capital gain.Ini memang
tidak salah.Tetapi, dalam kurun waktu tersebut, bisa saja harga saham yang
dipegang mengalami kemerosotan harga. Kalangan yang memegang saham tersebut
boleh jadi tidak peduli atau malah menjualnya karena khawatir harga saham akan
semakin merosot.
Nah, seorang investor aktif
tidak akan bersikap seperti itu. Ia malah akan membeli lagi saham dimaksud pada
harga yang lebih rendah. Kenapa?Karena tujuan memegang saham dimaksud adalah
untuk jangka panjang.Dan ketika harga saham merosot, dilakukan pembelian agar
secara rata-rata biaya pembelian saham menjadi lebih murah. Contoh-contoh lain
tentang investasi aktif telah banyak diulas dalam tulisan-tulisan terdahulu di
kolom ini.
Yang terakhir adalah inovasi
keuangan dalam pengelolaan biaya. Pernahkah Anda mendengar istilah ”must
have” vs ”nice to have”? Coba terapkan itu dalam perilaku
pengeluaran biaya Anda. Berapa banyak Anda menghabiskan uang untuk membeli
barang-barang yang sekadar ”nice to have”? Boleh jadi, kalau ditotal
seluruh pembelian Anda, terutama pengeluaran yang bersifat harian, akan lebih
banyak yang tergolong ”nice to have”.
Jika Anda bisa memotong biaya
”nice to have” 50 persen saja, akan sangat banyak tabungan yang Anda
peroleh dan bisa dimanfaatkan untuk kegiatan keuangan lain yang lebih
produktif.[Elvyn G Masassya,Membuat Uang "Bekerja" untuk AndaKompas.com.Senin,
14/6/2010 | 09:02 WIB].
Kalau kita punya tabungan yang tidak akan diinvestasikan
pada sebuah usaha karena program ini belum mantap, mungkin memerlukan waktu
cukup panjang dalam memulainya maka sebaiknya tabungan tadi disimpan dalam
bentuk emas Karena simpanan dalam bentuk emas tidak akan mengurangi nilai uang
yang kita miliki bahkan akan bertambah sesuai perjalanan waktu, tabungan dalam
bentuk selain emas cendrung mengalami fluktuasi yang merugikan pengusaha,
wallahu a’lam [Bolai Indah Batam, 10 Rajab
1432.H/ 12 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar