Rabu, 16 Desember 2015

90. Pengusaha



Banyak dari bangsa kita yang hidup sulit di kampung, jangankan untuk makan yang enak, biaya sekolah, beli kendaraan sedangkan untuk makan sehari-hari harus berjuang mati-matian memeras keringat dan membanting tulang, itupun tidak jaminan mendapatkan imbalan yang layak, hidup serba kekurangan dijalani dengan ketidakmenentuan. Jalan keluar dari semua itu adalah, tinggalkan kampung dengan segala kenangan menuju rantau, tekad mencari penghidupan dengan segala keterbatasan yang ada.Pekerjaan apapun dilakukan asal halal demi sesuap nasi dan sehelai pakaian, sisanya untuk kepentingan keluarga di kampong.

            Berbagai deraan  ujian melecut yang diiringi dengan  deraian air mata, waktu merubah keadaan sehingga dari seorang pekerja yang bertekad, tidak akan kembali ke kampung sebelum kejayaan diraih menjadi seorang pengusaha yang sukses. Dahulu di kampung orang memandang dengan sebelah mata karena ketidakpunyaan harta dan kekayaan, sekarang sekali-kali pulang ke kampung pandangan hormat dan mulia tertuju kepadanya, itulah manusia, hanya memandang manusia lainnya karena harta, jabatan dan kekuasaan, selain itu diabaikan.

Saat memberikan sambutan pada acara Silaturahmi Saudagar Minang (SSM) III di Basko Hotel Rabu (15/9) lalu, mantan Wakil Presiden RI HM Yusuf Kalla mengajukan pertanyaan; “Apa beda pengusaha dan pejabat?”

Sambil tersenyum pengusaha nasional asal bugis itu mengatakan; “Bedanya adalah jika pejabat pensiun, banyak diantara mereka yang mulai belajar jadi pengusaha.Tapi jika pengusaha pensiun, banyak diantara mereka yang diangkat jadi pejabat.Contohnya saya, pensiun dari pengusaha, diangkat jadi wakil presiden,” ujar Kalla sambil kembali melemparkan senyumnya yang khas.

Dulu menurutnya, jika ingin menjadi pejabat.maka jalurnya adalah melalui kaderisasi di Akabri. Dulu, umumnya Bupati, Gubernur, Menteri dan pejabat tinggi lainnya berasal dari lulusan Akabri.Sekarang, banyak pejabat tinggi yang berasal dari pengusaha.Pengusaha telah menempati posisi penting di negara kita.

Lebih lanjut, secara sederhana menurut sumando rang Lintau ini kemajuan suatu daerah secara ril diukur dari tingkat pertumbuhan produk domestik bruto (PDRB) daerah tersebut. PDRB adalah hasil dari aktifitas dunia usaha.
Sulawesi Selatan dan Riau adalah contoh daerah yang produktifitas dunia usahanya cukup baik.Angka pertumbuhan ekonomi mereka di atas 9 persen, sedangkan Sumbar hanya sekitar 4 persen.Di Riau atau Sulsel waktu tunggu (waiting list) calon haji bisa mencapai 8 tahun, di Sumbar hanya sekitar 3 tahun. Artinya jumlah peserta haji di Riau dan Sulsel jauh lebih tinggi karena aktifitas ekonomi masyarakat di sana lebih baik.

Lalu kenapa PDRB Sumbar masih rendah?Jawabnya adalah sektor ril Sumbar masih tertinggal dan belum berkembang maksimal.Kegiatan ekonomi masyarakat Sumbar masih belum optimal.Jumlah penerima zakat masih jauh lebih banyak dibandingkan kaum pemberi zakat (kaum muzakki).

Menurut Yusuf Kalla, Sumatera Barat mirip dengan Philipina. Penghasilan penduduk lokal berasal dari wesel/kiriman dari perantau.Hal ini tentu saja tidak strategis, iklim ekonomi daerah ini menjadi labil karena tergantung kepada faktor luar.Seharusnya sektor ril tumbuh dan berkembang sehingga ekonomi di daerah tersebut kokoh.

Jika ekonomi masyarakat kokoh, maka cita-cita menjadikan Sumatera Barat menjadi daerah yang adil, makmur, dan bermartabat insyaAllah akan tercapai. Bertumbuhnya ekonomi akan menimbulkan efek berantai yang menghidupkan pula sektor-sektor lain, saling bersinergi. Jika kehidupan ekonomi petani , nelayan dan pengusaha kecil meningkat, maka mereka akan beli pakaian, makanan, alat elektronik, motor, dll. Ini berarti sektor perdagangan juga ikut bergerak naik. Otomatis PAD (pendapatan asli daerah) dari pajak juga akan meningkat. Jika PAD meningkat, maka pemerintah daerah bisa memiliki energi baru untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan pegawai.

Dulu untuk meningkat omset penjualan mobil di perusahaannya menurut Yusuf Kalla yang ia lakukan adalah membantu petani agar panen kopi, sawit atau coklat mereka berhasil. Uang dari hasil panen inilah nantinya akan meningkatkan omset penjualan mobil. Bagaimana mungkin omset penjualan mobil meningkat jika masyarakat tak punya uang?

Lalu apa yang harus dilakukan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat? Sektor pertanian, peternakan, perikanan, UMKM harus ditumbuh-kembangkan karena sekitar 60 persen masyarakat kita bergerak di sektor ini. Tentu saja ini bukan berarti sektor lain ditinggalkan, tentu juga harus disinergikan.

Lalu dari mana dana untuk menggerakkan ekonomi tersebut? Jika mengharapkan dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah), tentu saja semua mimpi itu tak kan bisa terlaksana. Pemerintah beserta seluruh jajarannya harus kreatif agar dana dari berbagai sumber masuk ke Sumatera Barat, baik melalui pemerintah pusat, maupun perantau dan pihak ketiga. Alhamdulilah hal tersebut sudah mulai dilakukan dan hasilnya pun sudah mulai terlihat.

Sebaliknya masyarakat juga harus serius untuk meningkatkan ekonominya. Allah mengatakan tidak akan mengubah suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mengubah dirinya sendiri. Pepatah arab juga mengatakan ”siapa mau berusaha bersungguh-sungguh pasti berhasil.”

Dulu ada cerita miring, masyarakat menjual sapi bantuan pemerintah dan uangnya digunakan untuk keperluan lain. Atau sapi yang nyata-nyata masih sehat dilaporkan mati, dsb.Jika hal itu masih dilakukan, berarti masyarakat tersebut tidak ingin mengubah nasibnya, malah mencelakakan diri sendiri. Masyarakat yang memang ingin maju dan serius akan difasilitasi, yang tidak terpaksa ditinggalkan.

Memfasilitasi masyarakat yang memang tidak ingin berubah seperti mendorong mobil mogok.Dibutuhkan energi ekstra untuk mendorongnya, supaya bisa berjalan. Namun tak lama berjalan ia mogok lagi. Karena itu sebaiknya ditinggalkan saja.

Kita harus yakin dibidang apa pun usaha dilakukan, jika dilakukan secara serius dan jujur, pasti berhasil. Ada banyak contoh yang bisa kita lihat.Pembuat kerupuk singkong pun bisa sukses dan jadi orang terpandang.Tak ada sejarahnya pengusaha besar muncul begitu saja, umumnya mereka merintis usaha dari usaha kecil.Seperti kata Yusuf Kalla, sudah saatnya generasi kita mengubah mind set mereka. Lulus perguruan tinggi bukan untuk menjadi pegawai, tapi jadi pengusaha.[Prof Dr H Irwan Prayitno, Jadilah Pengusaha,website Irwan Prayitno, Sabtu, 25/09/201].

            Bagaimanapun susah payahnya seorang calon pengusaha merintis usahanya, mengalami jatuh dan bangun, sukses dan gagal, orang kampung tidak mau tahu semua kejadian itu, mereka hanya memandang sebuah kesuksesan dan kejayaan seorang penguasa. Sebenarnya para nabipun banyak yang mengalami perjalanan hidupnya dengan usaha perdagangan hingga jadi penguasa, lihatlah bagaimana kehidupan yang dilalui oleh nabi Muhammad.

            Sejak kecil tepatnya saat berumur 12 tahun, Muhammad sudah diperkenalkan tentang bisnis oleh pamannya, Abu Thalib, dengan cara diikutsertakan dalam perjalanan bisnis ke Suriah.
Pengalaman perdagangan (magang) yang diperoleh Muhammad dari pamannya selama beberapa tahun manjadi modal dasar baginya disaat memutuskan untuk menjadi pengusaha muda di Mekah.Beliau merintis usahanya dengan berdagang kecil-kecilan di sekitar Ka’bah.
Dengan modal pengalaman yang ada disertai kejujuran dalam menjalankan usaha bisnisnya, nama Muhammad mulai dikenal dikalangan pelaku bisnis (investor) di Mekah.
Dalam kurun waktu yang tidak cukup lama, Muhammad mulai menampakkan kelihaiannya dalam menjalankan usaha perdagangan bahkan beberapa investor Mekah tertarik untuk mempercayakan modalnya untuk dikelolah oleh Muhammad dengan prinsip bagi hasil (musyarakah-mudharabah) maupun penggajian.Pada tahapan ini Muhammad telah beralih dari business manager (mengelola usahanya sendiri) menjadi investment manager (mengelola modal investor).

Dengan modal yang sudah relatif besar, Muhammad memiliki kesempatan untuk ekspansi bisnis untuk menjangkau pusat perdagangan yang ada di Jazirah Arab.Kejujuran beliau dalam berbisnis sehingga dikenal olah para pelaku bisnis sebagai Al-Amin menjadi daya tarik bagi kalangan investor besar untuk menginvestasikan modalnya kepada Muhammad, salah satu di antaranya adalah Khadijah yang di kemudian hari menjadi Istri pertama beliau.

Di usia 25 tahun, usia yang masih rekatif mudah, Muhammad menikah dengan Khadijah, seorang pengusaha sukses Mekah. Secara otomatis Muhammad menjadi pemilik sekaligus pengelola dari kekayaan Khadijah.Penggabungan dua kekayaan melalui pernikahan tersebut tentunya semakin menambah usaha perdagangan mereka baik secara modal maupun penguasaan pangsa pasar.Pada tahapan ini Muhammad sudah menjadi business owner.

Setelah Muhammad menikah dengan Khadijah, beliau semakin gencar mengembangkan bisnisnya melalui dengan ekspedisi bisnis secara rutin di pusat-pusat perdagangan yang ada di jazirah Arab, beliau intens mengunjungi pasar-pasar regional maupun Internasional demi mempertahankan pelanggan dan mitra bisnisnya.Jaringan perdagangan beliau telah mencapai Yaman, Suriah, Busara, Iraq, Yordania, Bahrain dan kota-kota perdagangan Arab lainnya.

Saat menjelang masa kenabian (berumur 38 tahun) di mana waktunya banyak dihabiskan untuk merenung beliau telah sukses menjadi pedagang regional dimana wilayah perdagangannya meliputi Yaman, Suriah, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain dan kota-kota perdagangan Jazirah Arab lainnya. Pada tahapan in beliau telah memasuki fase yang menurut Robert T Kiyosaki disebut financial freedom.

Kehebatan berbisnis Muhammad bisa dilihat dalam sebuah riwayat yang menceritakan bahwa beliau pernah menerima utusan dari Bahrain, Muhammad menanyakan kepada Al-Ashajj berbagai hal dan orang-orang yang terkemuka serta kota-kota yang terkemuka di Bahrain.Pemimpin kabilah tersebut sangat terkejut atas luasnya pengetahuan geografis serta sentral-sentral komersial Muhammad.Kemudian al-Ashajj berkata “sungguh Anda lebih mengetahu tentang negeri saya daripada saya sendiri dan anda pula lebih banyak mengetahui pusat-pusat bisnis kota saya dibanding apa yang saya ketahu.Muhammad menjawab “saya telah diberi kesempatan untuk menjelajahi negeri anda dan saya telah melakukannya dengan baik.”(Syafi’i Antonio, 2007).

Demikianlah perjalanan sukses bisnis Muhammad sebelum resmi menjadi seorang Nabi yang jarang disampaikan kepada generasi-generasi muda di saat perayaan Maulid Nabi. Pemahaman yang utuh tentang biography kehidupan beliau akan menghindarkan terjadinya pemahaman yang sempit tentang diri Rasulullah. Banyak orang yang mengaggap Rasulullah sebagai orang yang miskin padahal justru sebaliknya beliau adalah sosok pebisnis yang sukses.

Melalui momentum Maulid Nabi ini kiranya perlu mengangkat tema kesuksesan Muhammad sebagai pelaku bisnis demi memacu munculnya pengusaha-pengusaha muda di kalangan Muslim.Sebenarnya negeri ini memiliki tokoh-tokoh agama sekaligus pengusaha sukses, sebut saja misalnya, tokoh nasional K.H. Ahmad Dahlan dengan usaha batiknya.Bahkan dalam sejarah gerakan kemerdekaan Indonesia kita mengenal tokoh-tokoh agama yang terhimpun dalam Syarikat Dagang Indonesia.

Sebagaimana kita ketahui jumlah wirausahawan di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara maju di dunia.Dari total penduduk Indonesia, 231, 83 juta jiwa hanya sekitar 2 persen saja yang berwirausaha atau sebesar 4, 6 juta.Tentunya jumlah ini sangat kecil sekali jika negeri ini menginginkan penduduknya untuk semakin kuat dan mandiri secara ekonomi.

Negara-negara maju relative memiliki persentasi wirausahawan yang relatif tinggi dari jumlah penduduknya.Persentase penduduk Singapura yang berwirausaha mencapai 7 persen, China dan Jepang 10 persen dari total jumlah penduduk mereka.Sedangkan yang tertinggi adalah Amerika Serikat sebesar 11, 5-12 persen.

Melalui perayaan Maulid Nabi ini, kita perlu mengkampanyeka pentingnya berwirausaha seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai solusi untuk menyelesaikan persoalan umat yaitu kemiskinan dan pengangguran.[Ali Rama,Muhammad, Sang Pengusaha Sukses, Hidayatullah.com.Rabu, 16 Februari 2011].

Untuk zaman yang serba modern ini, maka semakin besar biaya hidup yang akan kita keluarkan, padahal pemasukan tidaklah sebanding dengan pengeluaran, bahkan mungkin pemasukan tidak ada sementara pengeluaran sudah pasti terjadi, untuk itu perlu disiasati agar usaha tidak hancur dan julukan penguasa tidak memudar. Yang selama ini kita yang mencari uang hingga meninggalkan kampung, mencari daerah lain jauh dari keluarga, kini  dapatkah kita menjadikan uang yang mencari kita, dimanapun kita berada selalu dikejar oleh uang.

Pernahkah Anda melihat pedagang yang tinggal di sebuah ruko, di mana lantai paling bawah digunakan untuk berdagang, sementara lantai di atasnya digunakan sebagai tempat tinggal?Artinya, tempat usaha dan rumah tinggal menjadi satu. Dengan kata lain, rumah tinggal si pedagang tersebut bukan sekadar rumah tinggal, tetapi telah menjadi aset produktif yang bisa menghasilkan uang, alias tempat berbisnis. Bagaimana dengan Anda?Boleh jadi Anda memilki rumah lebih dari satu.Dan rumah yang tidak Anda tinggali setiap bulan malah menguras kantong Anda karena mesti membayar biaya listrik dan biaya pemeliharaan lainnya. Malah kondisi rumah terus merosot karena faktor usia dan lain sebagainya. Konkretnya, beberapa rumah yang Anda miliki bukan saja tidak produktif, tetapi malah menjadi beban. Oleh karena itu, rumah tersebut mesti diproduktifkan, dalam arti memberikan penghasilan, misalnya disewakan kepada pihak lain.

Selain rumah, coba lihat lagi berbagai kekayaan yang Anda miliki.Cermati apakah aset tersebut sekadar sebagai aset konsumtif, atau alat menjaga gengsi belaka, atau memang tergolong produktif.Jika Anda memiliki perhiasan emas yang nilainya meningkat, perhiasan itu tergolong aset produktif yang bisa menambah kekayaan Anda.Begitu juga dengan lukisan yang nilainya bisa saja mengalami peningkatan.Ringkasnya, aset produktif adalah aset yang memiliki nilai investasi.

Inovasi keuangan juga bisa dilakukan dengan cara pemilihan investasi yang tepat. Pengertian investasi yang tepat di sini adalah bagaimana menyuruh uang Anda ”bekerja” untuk Anda. Jadi, uang menghasilkan uang.Bagaimana caranya?Lakukan investasi aktif.

Investasi aktif adalah secara reguler memilih dan mengevaluasi investasi yang telah dilakukan.Di pasar modal, misalnya, sebagian kalangan membeli saham, lalu terus memegangnya dalam kurun waktu yang lama, dengan harapan memperoleh dividen dan capital gain.Ini memang tidak salah.Tetapi, dalam kurun waktu tersebut, bisa saja harga saham yang dipegang mengalami kemerosotan harga. Kalangan yang memegang saham tersebut boleh jadi tidak peduli atau malah menjualnya karena khawatir harga saham akan semakin merosot.

Nah, seorang investor aktif tidak akan bersikap seperti itu. Ia malah akan membeli lagi saham dimaksud pada harga yang lebih rendah. Kenapa?Karena tujuan memegang saham dimaksud adalah untuk jangka panjang.Dan ketika harga saham merosot, dilakukan pembelian agar secara rata-rata biaya pembelian saham menjadi lebih murah. Contoh-contoh lain tentang investasi aktif telah banyak diulas dalam tulisan-tulisan terdahulu di kolom ini.

Yang terakhir adalah inovasi keuangan dalam pengelolaan biaya. Pernahkah Anda mendengar istilah ”must have” vs ”nice to have”? Coba terapkan itu dalam perilaku pengeluaran biaya Anda. Berapa banyak Anda menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang sekadar ”nice to have”? Boleh jadi, kalau ditotal seluruh pembelian Anda, terutama pengeluaran yang bersifat harian, akan lebih banyak yang tergolong ”nice to have”.
Jika Anda bisa memotong biaya ”nice to have” 50 persen saja, akan sangat banyak tabungan yang Anda peroleh dan bisa dimanfaatkan untuk kegiatan keuangan lain yang lebih produktif.[Elvyn G Masassya,Membuat Uang "Bekerja" untuk AndaKompas.com.Senin, 14/6/2010 | 09:02 WIB].

Kalau kita punya tabungan yang tidak akan diinvestasikan pada sebuah usaha karena program ini belum mantap, mungkin memerlukan waktu cukup panjang dalam memulainya maka sebaiknya tabungan tadi disimpan dalam bentuk emas Karena simpanan dalam bentuk emas tidak akan mengurangi nilai uang yang kita miliki bahkan akan bertambah sesuai perjalanan waktu, tabungan dalam bentuk selain emas cendrung mengalami fluktuasi yang merugikan pengusaha, wallahu a’lam [Bolai Indah Batam, 10 Rajab 1432.H/ 12 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar