Rabu, 09 Desember 2015

34. Jihad



Kata jihad untuk zaman sekarang menjadi hantu bagi islam phobi, yaitu orang-orang yang takut kepada kejayaan islam, namun tanpa jihad islam tidak akan jaya sehingga benar apa yang dikatakan oleh Sayid Qutb bahwa islam akan hancur karena meninggalkan jihad atau islam akan berwibawa juga karena jihad. Padahal untuk mencapai derajat yang tinggi di hadapan Allah harus dengan iman, hijrah dan melakukan jihad, Allah berfirman dalam surat At Taubah 9;20-22; " Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padanya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal, Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar"

Rasulullah bersabda: "Manusia paling utama yaitu seorang mukmin yang berjuang di jalan Allah dengan jiwanya dan hartanya,  Kemudian seorang mukmin yang berada di daerah terpencil untuk taqwa kepada Allah, dan untuk menghindarkan diri dari perbuatan jahat manusia" [HR. Bukhari]
Jihad juga tuntutan dari keimanan dalam rangka mempertaruhkan kalimat tauhid yang diucapkan seseorang ketika mengaku sebagai muslim dengan klasifikasi yang beragam, baik melalui ilmu, harta, tenaga, politik, ekonomi hingga menyerahkan jiwa raga demi tegaknya syariat Allah di bumi ini;

            ’’Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar” [At Taubah 9;111]

            Berjihad fisabilillah itu termasuk amal yang utama,disamping mengerjakan shalat tepat pada waktunya, dan berbakti kepada kedua orangtua, demikian inti sari hadits dibawah ini;
            ”Dari Abu Aburrahman Abdullah bin Mas’ud ra, berkata,”Saya bertanya kepada nabi Saw,”Amal apakah yang lebih disenangi Allah?” beliau menjawab,”Mengerjakan shalat tepat pada waktunya” kataku ”Kemudian apa lagi?” sabda nabi,”berbakti kepada kedua orangtua”, aku bertanya lagi,”Kemudian apa?” sabda nabi,”Berjihad di jalan Allah”[HR.Bukhari dan Muslim]

            Adapun hadits-hadits lain tentang berjihad dan keutamaannya antara lain adalah,”Berpagi-pagi di dalam berjuang di jalan Allah atau senja hari adalah lebih baik daripada mendapatkan keuntungan dunia dan seisinya”[HR.Bukhari dan Muslim] 

            Keuntungan dunia dengan segala isinya yang diraih manusia tidaklah seberapa dibandingkan balasan yang akan diterima bagi mujahid di akherat nanti, dunia hanya sementara, kesenangan yang dirasakanpun semua tiada abadi, bila kita mampu meraih segala kesenangan dan kenikmatan dunia, paling lama hanya enampuluh tahun demikian pula halnya kesengsaraan di dunia dirasakan hanya sebatas usia manusia.

            ”Menjaga garis depan dalam berjihad di jalan Allah sehari semalam, adalah lebih baik daripada puasa dan bangun malam sebulan penuh, dan jika mati ketika itu, amal yang biasa dilakukan itu dilanjutkan dan diberi pahala dan rezeki serta aman dari fitnah kubur” [HR.Muslim].

Garis depan adalah posisi strategis untuk menghantam musuh dengan segala kemampuan yang ada, tidak semua orang siap untuk berada pada garda ini kecuali mukmin sejati yang telah ditempa dengan iman dan  tauhid melalui tarbiyah jihadiyah. Karena keberanian merekalah sehingga rasul memberikan kabar gembira sebagaimana yang tercantum pada arti hadits diatas.Mukmin sejati adalah orang-orang yang siap berjihad di jalan Allah mencari kematian dan syurga. Sedangkan orang-orang lain berperang selain dipimpin oleh thaghut mereka juga mengincar materi dunia dan fasilitasnya. Begitu besarnya pahala yang diraih bagi mujahid yang menunaikan tugas jihadnya sehingga wajar tidak sedikit para sahabat yang menangis dan menyesal sepulang perang dengan selamat karena mereka  tidak syahid saja dalam peperangan ini.

Dimasa rezim orde baru dan lama, kata jihad adalah kata yang sangat ditakuti oleh islam phobi sehingga mereka menghapusnya dalam kamus islam di negara ini, mengalihkan jihad  hanya sebatas perang melawan hawa nafsu tidak lebih dari itu, mereka takut bila ummat ini memakai kata tersebut apalagi menindak lanjuti melalui  eksen tentu habislah kezhaliman yang susah payah dipertahankan oleh antek-antek rezim tersebut.

Namun di era reformasi dan demokrasi ini, kata jihad muncul kembali bukan sebatas untuk membela kebenaran dan keadilan, tapi untuk mempertahankan rezim baru yang telah memurukkan bangsa ini ke lubang krisis kedua kalinya yang tidak jelas kapan akan selesai. Tepatkah kata ”jihad” dipakai untuk membela sebuah kesombongan, keangkuhan, kerusakan dan rezim apapun yang sedikitpun tidak menampakkan memihak kepada kepentingan islam selain membela kepentingan Yahudi dan pribadi serta kroni-kroninya.

Dapat dipastikan bahwa orang yang membela kebenaran, berjihad di jalan Allah maka kematian bagi mereka adalah syahid, yaitu kualitas akhir kehidupan yang tidak ada balasannya kecuali syurga, niatnya ikhlas, caranya sesuai dengan apa yang diteladankan oleh Rasulullah, dan tujuannyapun mencari ridha Allah semata. Selain ini berarti bukan jihad namanya tapi jahid, kematianpun bukan mati syahid tapi mati sangit yang mengantarkan pelakunya cepat masuk neraka. Untuk itu hati-hatilah menempatkan kata ”jihad” dan ”mujahid’ secara proporsional sesuai dengan syari’at Allah. Rasulullah bersabda,”Tiada kaki seorang hamba yang telah berdebu karena perjuangan di jalan Allah tersentuh api neraka” [HR.Bukhari]

Pada hadits lainpun beliau telah menyampaikan sabdanya,”Dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka adalah; mata yang telah menangis karena takut kepada Allah dan mata yang pernah berjaga dalam fisabilillah”[HR.Turmizi].


            Dalam Islam kita mengenal beberapa macam jihad yaitu;
1.Jihad melawan hawa nafsu
            Melawan musuh dengan berjihad di medan perang sangat berat tapi lebih berat lagi dikala kita dituntut untuk melawan hawa nafsu karena nafsu itu ada pada diri kita masing-masing; "Jihad yang utama itu, yaitu jihad seseorang menentang hawa nafsunya" [HR. Ibnu Najjar dari Abi Dar]

2.Jihad melawan syaitan
            Syaitan telah berjanji dengan Allah bahwa dia akan menyesatkan manusia seluruhnya sampai kapanpun, permusuhan ini seharusnya dilawan dengan jihad; "Dan Katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia" [Al Isra' 17;53]

"Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau Telah memutuskan bahwa Aku sesat, pasti Aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti Aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka".[Al Hijr 15;39-40]

3.Jihad melawan kezhaliman/ kejahatan
            Kezhaliman atau kejahatan tidak bisa dibiarkan hadir di dunia ini karena akan menyengsarakan kehidupan manusia lainnya, untuk itulah jihad perlu dikerahkan untuk melawannya, Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya [Kekuasaan], bila tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, bila tidak mampu maka rubahlah dengan hatinya, tapi yang demikian itu serendah-rendahnya iman".

Rasulullah bersabda; "Semulia-mulianya jihad itu ialah berani mengatakan yang benar di muka penguasa yang zhalim" [HR. Ibnu Majah].

4.Jihad melawan kaum munafiq dan syirik
            Kekafiran munafiq sulit untuk dideteksi karena dia ibarat musang berbulu ayam, menggunting dalam lipatan dan menohok kawan seiring, demikian pula orang-orang musyrik yang merusak ketauhidan kita dengan menserikatkan Allah, Rasulullah bersabda; "Berjihadlah melawan orang-orang musyrik itu dengan hartamu, dengan tanganmu dan dengan lidahmu" [HR. Abu Daud].

Jihad juga tuntutan dari keimanan dalam rangka mempertaruhkan kalimat tauhid yang diucapkan seseorang ketika mengaku sebagai muslim dengan klasifikasi yang beragam, baik melalui ilmu, harta, tenaga, politik, ekonomi hingga menyerahkan jiwa raga demi tegaknya syariat Allah di bumi ini; ’’Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar” [At Taubah 9;111]

            Berjihad fisabilillah itu termasuk amal yang utama,disamping mengerjakan shalat tepat pada waktunya, dan berbakti kepada kedua orangtua, demikian inti sari hadits dibawah ini;
            ”Dari Abu Aburrahman Abdullah bin Mas’ud ra, berkata,”Saya bertanya kepada nabi Saw,”Amal apakah yang lebih disenangi Allah?” beliau menjawab,”Mengerjakan shalat tepat pada waktunya” kataku ”Kemudian apa lagi?” sabda nabi,”berbakti kepada kedua orangtua”, aku bertanya lagi,”Kemudian apa?” sabda nabi,”Berjihad di jalan Allah”[HR.Bukhari dan Muslim]

            Adapun hadits-hadits lain tentang berjihad dan keutamaannya antara lain adalah,”Berpagi-pagi di dalam berjuang di jalan Allah atau senja hari adalah lebih baik daripada mendapatkan keuntungan dunia dan seisinya”[HR.Bukhari dan Muslim] 

Rasulullah bersabda;"Tiga golongan manusia yang dicintai Allah, serta disambut dengan tertawa dan gembira.....
1.Seseorang yang dalam peperangan dan ketika barisan di depannya telah kucar kacir, ia terus maju mempertaruhkan jiwanya semata-mata karena Allah
2.Seseorang yang mempunyai isteri yang cantik serta tempat tidur yang empuk, lalu ia bangun menegakkan shalat malam
3.Seseorang dalam bepergian bersama orang banyak, disaat malam tiba dan orang-orang berjaga kemudian tidur semuanya, iapun bangun di akhir malam dalam keadaan sempit atau lapang".
           
Seseorang yang dalam peperangan dan ketika barisan di depannya telah kucar kacir, ia terus maju mempertaruhkan jiwanya semata-mata karena Allah Baik ia terbunuh atau dimenangkan Allah, lalu Allah berfirman "Lihatlah hamba-Ku ini, betapa ia bersabar mempertahankan jiwanya untuk-Ku".

            Saat perang Badar akan dihadapi, Rasulullah melihat pasukan Quraisy dengan 1000 orang sedangkan ummat  islam hanya 300 orang dengan peralatan yang sangat sederhana, waktu itulah beliau berdo’a dengan sebuah harapan kepada Allah,”Ya Allah, seandainya pasukan kecil ini kalah dalam perang ini maka sungguh ya Allah, tidak ada lagi orang yang akan menyembahmu di bumi ini”.
Ketika Jibril turun mengabarkan kalau mereka pasukan malaikatpun siap untuk membantu Rasulullah;“(ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut" [Al Anfal 8;9]
Ada  tokoh-tokoh heroik dengan kejadian-kejadian yang spektakular dalam menjalankan jihad dalam perang Mu'tah. Zaid bin Haritsah bertempur dengan gagah berani, mengangkat tinggi-tinggi panji-panji, sekian banyak tombak yang menancap ditubuhnya. Dia terus maju memimpin, meski tombak dan panah mengucurkan darahnya. Akhirnya, panglima kaum Muslimin Zaid bin Haritsah jatuh juga ke tanah.
Panji-panji Rasulullah segera diambil oleh panglima kedua, Ja’far bin Abi Thalib. Dia bertempur dengan sangat berani. Memimpin pasukan yang hanya berjumlah ribuan, melawan tentara Romawi yang berhimpun lebih dari 200.000 orang. Tangan kanan Ja’far bin Abi Thalib, tertebas pedang. Kini tangan kirinya yang memegang panji-panji sambil terus memimpin pasukan. Lalu tangan kirinya pun, terpotong oleh lawan. Dengan pangkal lengannya kini Ja’far mempertahankan bendera. Akhirnya, Ja’far menemui syahidnya dengan cara mendekap panji dengan pangkal lengkap yang sudah tak bertangan.
Abdullah ibn Rawahah kini mengambil alih kepemimpinan pasukan. Memang sempat terbetik galau dan ragu dalam hatinya. Tapi segera semua itu ditepisnya tak bersisa. Sudah sejak semalam, sesungguhnya Abdullah ibnu Rawahah tak makan. Di diberi sepotong daging oleh saudaranya, di tengah-tengah laga, ”Agar tegak tulang punggungmu menghadapi lawan. Tapi ketika dipegangnya daging yang hanya sekerat itu, Abdullah ibnu Rawahah merasa terlalu lama. ”Apakah kau masih sibuk dengan dunia?” pertanyaan itu memburunya. Kemudian dia pun maju mengangkat pedang, dan terbunuh di tengah pertempuran.
Rasulullah hanya berpesan, ”Angkatlah Zaid bin Haritsah sebagai panglima. Jika dia terkena musibah, Ja’far bin Abi Thalib yang akan menggantikannya. Dan kalau Ja’far bin Abi Thalib juga terkena musibah, Abdullah ibnu Rawahah yang akan menjadi panglima.” Itu saja persan Rasulullah, tak ada pengganti setelah Abdullah ibnu Rawahah. Padahal kini ketiganya sudah meninggal dunia setelah bertempur dengan gagah.
Terjadi kekosongan pemimpin, dan tentu saja membuat situasi ricuh dan genting. Di tengah-tengan keadaan yang demikian rupa, Tsabit bin Arqam menangkan panji-panji Rasulullah yang tadi dipegang oleh Abdullah ibnu Rawahah. ”Wahai kaum Muslimin, inilah panji-panji Rasulullah! Pilihlah seorang pemimpin di antara kalian!, Waktu terus berpacu, musuh terus menyerang. Sementara pasukan tak ada komandan. Mendengar teriakan Tsabit bin Arqan, pasukan kaum Muslimin justru menunjuknya sebagai panglima. ”Andalah orangnya!” ”Bukan aku. Aku tak bisa!” jawab Tsabit bin Arqam yang tahu benar menjadi panglima di tengah perang sama sekali bukan urusan gampang.
Kemudian pasukan kaum Muslimin menunjuk Khalid bin Walid sebagai panglima perang. Khalid segera mengambil panji-panji Rasulullah, dan bertempur dengan gigihnya. Dalam satu kesempatan, Khalid bin Walid pernah mengisahkan betapa dahsyatnya peperangan kala itu. ”Pada waktu Perang Mu’tah, ada sembilan pedang yang hancur di tanganku. Sampai-sampai yang tersisanya di tanganku hanyalah sepotong besi dari Yaman yang aku gunakan untuk berperang,” tuturnya.
Bayangkan, sembilan pedang ia gunakan. Satu per satu pedang hancur, karena lawan yang harus dihadapi memang bukan kepalang. Satu hancur, diambilnya pedang lain. Satu pedang lagi hancur, diambilnya pedang lain. Sampai-sampai yang tersisa hanya sepotong besi Yaman yang ia gunakan untuk berperang.
Dua pasukan bertempur dengan hebatnya sampai menjelang malam. Dan ketika malam, keduanya berhenti untuk mengambil jeda. Panglima Khalid bin Walid menarik pasukan untuk istirahat menjauh dari pasukan musuh. Pasukan Romawi pun tak mengejar, karena hari itu mereka mengalami pengalaman yang belum pernah dirasakan. Pertempuran gigih dari pasukan yang jumlahnya jauh lebih kecil dari kekuatan mereka yang besar.
Panglima Khalid bin Walid segera mengatur strategi yang diterapkannya esok hari. Semalam, sang panglima memerintahkan, agar pasukan yang berada di sayap kiri berpindah ke sayap kanan. Pasukan yang ada di garis belakang, kini maju menggantikan pasukan yang ada di garis depan. Dan ketika matahari pecah, dan dua pasukan kembali berhadap-hadapan, tentara Romawi melihat panji-panji baru di depan mereka. Tentara Romawi melihat wajah-wajah baru yang akan mereka hadapi hari ini. Mereka menyangka, kaum Muslimin mendapatkan bantuan tentara baru semalam. Dan secara mental, hal ini telah menjatuhkan semangat perang mereka yang memang sudah kelelahan.
Ketika peperangan ini berakhir, dan pasukan Muslim kembali ke Madinah, dan pasukan Romawi tidak mengejarnya, [Ciber Sabili, Selasa, 18 Mei 2010 03:00 Herry nurdi]

            Keuntungan dunia dengan segala isinya yang diraih manusia tidaklah seberapa dibandingkan balasan yang akan diterima bagi mujahid di akherat nanti, dunia hanya sementara, kesenangan yang dirasakanpun semua tiada abadi, bila kita mampu meraih segala kesenangan dan kenikmatan dunia, paling lama hanya enampuluh tahun demikian pula halnya kesengsaraan di dunia dirasakan hanya sebatas usia manusia.”Menjaga garis depan dalam berjihad di jalan Allah sehari semalam, adalah lebih baik daripada puasa dan bangun malam sebulan penuh, dan jika mati ketika itu, amal yang biasa dilakukan itu dilanjutkan dan diberi pahala dan rezeki serta aman dari fitnah kubur” [HR.Muslim].

Namun di era reformasi dan demokrasi ini, kata jihad muncul kembali bukan sebatas untuk membela kebenaran dan keadilan, tapi untuk mempertahankan rezim baru yang telah memurukkan bangsa ini ke lubang krisis kedua kalinya yang tidak jelas kapan akan selesai. Tepatkah kata ”jihad” dipakai untuk membela sebuah kesombongan, keangkuhan, kerusakan dan rezim apapun yang sedikitpun tidak menampakkan memihak kepada kepentingan islam selain membela kepentingan Yahudi dan pribadi serta kroni-kroninya.

Dapat dipastikan bahwa orang yang membela kebenaran, berjihad di jalan Allah maka kematian bagi mereka adalah syahid, yaitu kualitas akhir kehidupan yang tidak ada balasannya kecuali syurga, niatnya ikhlas, caranya sesuai dengan apa yang diteladankan oleh Rasulullah, dan tujuannyapun mencari ridha Allah semata.

Selain ini berarti bukan jihad namanya tapi jahid, kematianpun bukan mati syahid tapi mati sangit yang mengantarkan pelakunya cepat masuk neraka. Untuk itu hati-hatilah menempatkan kata ”jihad” dan ”mujahid’ secara proporsional sesuai dengan syari’at Allah. Rasulullah bersabda,”Tiada kaki seorang hamba yang telah berdebu karena perjuangan di jalan Allah tersentuh api neraka” [HR.Bukhari]

Pada hadits lainpun beliau telah menyampaikan sabdanya,”Dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka adalah; mata yang telah menangis karena takut kepada Allah dan mata yang pernah berjaga dalam fisabilillah”[HR.Turmizi].

Allahpun sejak risalah ini diturunkan telah menyampaikan agar ummat ini siap  siaga menghadapi segala kemungkinan yang merongrong kewibawaan islam; ”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”[Al Anfal 8;60]

Doktor Abdullah Azzam seorang motor jihad di Afghanistan yang syahid bersama dua orang anak lelakinya, pernah menyatakan kepada keluarga muslim,”Jadikanlah keluargamu seperti sarang harimau sehingga ditakuti oleh musuh-musuhmu, jangan kau jadikan sebagai sarang domba niscaya dia akan diterkam srigala”, artinya rumah tangga muslim sejak awal sudah mempersiapkan kandidat mujahid dalam keluarganya yang siap dikirim ke medan jihad kapan dibutuhkan.
Setiap mukmin  dituntut jadi seorang mujahid dengan cita-cita sebagai syuhada’, yaitu mati syahid, Imam Hasan Al Banna berkata,”Barangsiapa yang bercita-cita untuk mati syahid maka dia akan mendapatkannya walaupun  wafat di tempat tidur, dan sebaliknya orang yang tidak punya cita-cita untuk syahid, dia tidak akan dapat syahadah walaupun mati dalam peperangan”.

Hai pemuda islam bekali dirimu dengan iman dan amal,siapkan dirimu sebagai mujahid untuk membela kepentingan islam dan ummatnya hingga tetesan darah penghabisan niscaya syurga menunggumu beserta 70 bidadari menyongsong kematianmu, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29 Agustus 2010]








Tidak ada komentar:

Posting Komentar