Rabu, 09 Desember 2015

24. Ibu



Orang yang paling dekat dengan anaknya, orang yang paling menyayangi anaknya, orang yang rela mengorbankan apa saja untuk anaknya, orang yang menerima beban untuk mengandung, melahirkan dan membesarkan anaknya, ialah ibu, tak satupun manusia yang membantahnya, bagaimana besarnya kasih sayang ibu kepada anak tapi tak ada yang diharapkannya sebagai imbalan selain anaknya hidup bahagia kelak, itulah ibu, dikala menyebut namanya, linangan air mata tak dapat dibendung, rasa rindu membuncah seketika, kenangan indah dikala hidup bersamanya tidak bisa dilupakan bahkan Allah menyebutkan ibu dan bapak bergandengan dengan-Nya. Dalam surat An Nisa’ 4;36 Allah berfirman, ”Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada ibu bapakmu...”

            Pada ayat tersebut tergambar bahwa seorang anak berkewajiban unuk beribadah hanya kepada Allah Swt, seluruh hidupnya harus bernuansa ibadah, tidak boleh menserikatkan Allah dengan sesuatu apapun karena syirik itu merupakan kezhaliman yang besar, beribadah dengan motivasi/ niat selain Allah maka dihadapan-Nya tidak ada artinya sama sekali. Sedangkan kewajiban yang kedua adalah berbakti atau berbuat baik kepada kedua orangtuanya, disini tergambar bahwa kebaktian kepada Allah harus diiringi dengan kebaktian kepada orangtua, tidak sempurna ibadah seseorang kepada Allah kalau dia durhaka kepada orangtuanya, demikian pula berbuat baik kepada orangtua juga sia-sia sementara tidak beriman kepada Allah, disini tidak bisa dipisahkan iman kepada Allah dengan berbuat baik kepada kedua orangtua.

            Berbakti kepada kedua orangtua atau ”birrul walidain’’ dianjurkan oleh Allah Swt. Ia memerintahkan hal ini dan memuji sebagian Rasul-Nya yang telah berbakti kepada kedua orangtuanya, untuk itu Ia berfirman sehubungan dengan nabi Yahya As, ”Dan seorang yang berbakti kepad kedua orangtuanya, dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka” [Maryam 19;14].

            Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Siapakah orang yang paling berhak ku baktikan diriku kepadanya?”, Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya kembali,”Kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya lagi,”kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ”Kemudian siapa lagi?”, Rasulullah menjawab,”Ayahmu”. [HR.Bukhari dan Muslim].

            Dari dialog sahabat dengan Rasulullah tersebut dinyatakan bahwa berbakti kepada orangtua adalah satu kewajiban yang harus ditunaikan seorang anak terutama kepada ibunya yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendidik dengan penuh kasih sayang.

            Di tengah masyarakat banyak kita saksikan anak-anak yang tidak dapat menunjukkan dirinya sebagai anak yang baik bahkan cendrung dia memperlakukan orangtuanya dengan kasar, sadis dan kejam tanpa peri kemanusiaan. Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya, ”Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ”ah” dan janganlah kamu membentaknya...” [17;23].

            Ucapan ”ah, cis, hus ” saja tidak boleh apalagi sampai membentak orangtua dengan kata-kata kasar. Mungkin anak tidak berkata ”ah” dan juga tidak berkata kotor,  tapi sikap kesehariannya banyak menyakitkan orangtua, mencoreng nama baik keluarga, maka inipun termasuk durhaka kepada orangtuanya.

            Abdullah ibnu Mas’ud berkata, ”Aku bertanya kepada Rasulullah, amal perbuatan apakah yang paling disukai Allah ?” Rasulullah menjawab, ”Shalat pada waktunya”, aku bertanya kembali ”Kemudian apa lagi?”, Rasulullah menjawab, ”Berbaktilah kepada kedua orangtua”, aku bertanya lagi ”Kemudian apalagi?” Rasulullah menjawab, ”Berjihad di jalan Allah” [HR. Bukhari dan Muslim].

            Dari hadits ini Rasulullah mengklasifikasikan tiga amalan yang utama, yang nomor dua adalah berbakti kepada kedua orangtua, bahkan berjihad termasuk dalam deretan yang ketiga, karena demikian pentingnya berbakti kepada kedua orangtua dibandingkan berjihad. Seorang datang kepada Rasulullah untuk pergi jihad, tapi dia berat untuk meninggalkan  orangtuanya  yang hanya sebatang kara, sementara itu diapun siap untuk syahid dalam jihad, maka Rasulullah menunda keberangkatan jihad untuk pemuda itu, khusus untuk dia diberi dispensansi untuk berbakti saja kepada orangtua dan itu senilai dengan jihad.

            Berbakti kepada orangtua banyak manfaatnya, diantaranya dapat menebus dosa yang dilakukannya sebagaimana hadits berikut ini, ”Ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah lalu bertanya, ”Sesungguhnya aku telah melakukan suatu dosa besar, apakah ada taubat bagiku?” Nabi balik bertanya, ”Apakah engkau mempunyai ibu?”, lelaki itu menjawab, ”Tidak ada”, apakah engkau mempunyai bibi ? tanya Rasul. Ia menjawab, ”Iya punya”, Maka berbaktilah kepadanya”, kata Rasulullah” [HR. Turmuzi].

            Dari beberapa ayat dan hadits diatas memang keberadaan anak di dunia ini harus mempersembahkan sesuatu kepada kedua orangtuanya, bukan sembahan berupa materi, kemewahan dan bukan pula pangkat serta kejayaan, tapi persembahan; memperlakukan orangtua dengan santun, penuh kasih sayang dan penuh perhatian, tanpa perantara mereka mustahil kita dapat hadir menikmati hidup ini.

            Kita melihat sirah Rasulullah dan para sahabatnya, pituah Rasulullah wajib diikuti oleh setiap muslim. Memang ada seorang sahabat yang datang menceritakan bagaimana orangtua memperlakukannya dengan kejam, kasar dan tidak manusiawi, tapi Rasulullah memberi jawaban bahwa seorang anak tetap harus menunjukkan santun dan baktinya kepada orangtua, walaupun dahulu orangtuamu memperlakukanmu dengan buruk, bahkan mungkin dahulu kamu diiris-iris dengan pisau sekalipun.


            Pada lembaran ini kita akan menguak kisah seorang ibu yang menghabiskan waktu dan tenaga dan potensi hidupnya untuk anak tercinta, dialah Siti Aminah, ibundanya Nabi Muhammad Saw.
Al kisah, seorang dara cantik rupawan, tumbuh di keluarga Quraisy, berasal dari keturunan yang tinggi martabatnya yang merupakan kebanggaan suku Quraisy di Mekkah. Putri dari kepala Bani Zuhrah yang termashur kedudukannya. Terjaga rapat dalam pingitan, hingga hampir tidak diketahui masyarakat. Harum wangi dara kembang tercium oleh pemuda-pemuda Quraisy, yang kemudian berlomba-lomba menyiapkan diri mempersuntingnya.

            Aminah telah mengetahui dan mengenal Abdullah seperti pemuda-pemuda lainnya. Bani Hasyim adalah keluarga yang paling dekat dibandingkan dengan suku-suku lainnya. Keintiman keluarga ini telah terpupuk sejak Qusyai dan Zahrah putra Kilab bin Murah. Aminah mengenal Abdullah sejak masa kanak-kanak kemudian menjadi gadis mekar yang dipingit. Mereka sering bertemu dilorong-lorong Mekkah dan Baitil Atiq. Akrabnya mereka ditunjang pula dengan keakraban antara  orangtuanya dengan sering bersilaturahmi membicarakan kepentingan masyarakat Mekkah.

            Karena mimpi yang mempengaruhi Abdul Muthalib, bersama Harits anaknya pergi membawa pacul untuk menemukan sesuatu dekat berhala Ishafa dan Nailah. Orang Quraisy menghalangi sehingga hampir terjadi baku hantam namun dengan undian yang dimenangkan Abdul Muthalib dengan tenang dia terus menggali hingga paculnya terantuk batu-batu yang menutup sumur, ya itulah dia sumur zam-zam yang telah tertimbun sekian lamanya, kini mulai dihidupkan kembali oleh Abdul Muthalib. Dia sering diolok-olok oleh penduduk Mekkah karena mempunyai anak hanya seorang. Kesedihannya itu terobati setelah ditemukannya kembali sumur zam-zam, lalu dia bernazar, ”Apabila aku mempunyai anak sepuluh anak, salah satu dari mereka akan ku sembelih untuk Tuhan”, harapannya terkabul, ia memiliki sepuluh anak dan Abdullah anak yang paling bungsu.

            Suatu hari Mekkah menjadi heboh, penduduk Mekkah semuanya tidak henti-hentinya membicarakan Abdul Muthalib yang membawa anaknya menuju Ka’bah. Semuanya telah mendapat undian dan dengan hati pasrah menyerahkan kepada-Nya. Kaum wanita seluruh Mekkah turut berguncang hatinya, ikut sedih dan berdebar-debar menanti saat yang menentukan, ada pula wanita-wanita yang sengaja datang menyaksikan. Tetapi Aminah, mawar Zuhrah itu tetap tinggal di rumahnya, hatinyapun gelisah sendiri.

            Undian menentukan bahwa Abdullah sebagai korban. Dan dengan tangan kanan memegang pisau yang berkilat-kilat Abdul Muthalib membawa Abdullah ke tempat jagal. Kejadian itu cepat pula sampai ke telinga Aminah. Jam seakan berhenti berdetak dan bumi tidak berputar. Hari berjalan terasa lambat sekali. Aminah serta dara-dara lainnya menjadi sedih. Mereka menyayangkan mengapa Abdullah yang terpilih. Padahal ia adalah pemuda harapan ayahnya dan juga harapan penduduk Mekkah. Keluarga Abdul Muthalib dirundung kedukaan, semua saudara Abdullah menangis dan berdebar-debar menunggu ketetapan itu.

            Aminah yang telah kehilangan semangat hidupnya, tiba-tiba timbul kembali. Tatkala ia mendengar seseorang yang menceritakan tentang keselamatan Abdullah, ”Saat Abdul Muthalib telah meletakkan pisau berkilat-kilat di leher anaknya dan memalingkan muka serentak bangkit berdiri tokoh-tokoh Quraiys dan melarangnya, ”Demi Allah, jangan kau laksanakan dulu. Tunggu sampai ada keputusan yang dapat dipercaya. Apakah tidak engkau fikir ? kami khawatir bila yang kau lakukan ini menjadi adat dikemudian hari. Bagaimana nasib kaum Quraisy bila setiap bapak menyembelih anaknya”.  

            Penyembelihan itu dibatalkan sebelum mereka menemukan keputusan dari seorang dukun Hejaz. Perjalanan dua puluh hari lamanya mencari dukun itu. Semua turut berduka cita sehingga kota Mekkah mati, tidak ada kesibukan dan keramaian. Wanita-wanita tidak mau ketinggalan menunggu keputusan dari Hejaz, mereka berharap agar Abdullah selamat. Keputusan yang diberikan dukun itu ialah agar diganti dengan 100 ekor onta yang disembelih.

            Suatu hari Abdul Muthalib datang ke rumah Barrah untuk meminang Aminah. Dia kaget, setelah sadar dia mejerit kegirangan, tetapi dalam hati saja. Seolah dia tidak percaya, benarkah langit telah memilihnya untuk jadi isteri Abdullah ? Serasa meledak dadanya karena bahagia yang tidak terhingga. Mendengar kabar itu seluruh wanita Mekkah yang simpati dan menaruh hati kepada Abdullah menjadi iri serta sakit hati termasuk Laila Addawiyah.

            Belum habis berita tentang Abdullah dengan penebusannya yang menjadi buah bibir masyarakat Mekkah. Kini mereka ramai membicarakan tentang perkawinan Abdullah dengan Aminah. Keramaian pesta perkawinan Aminah dan Abdullah selama tiga hari tiga malam. Saat mengantar Aminah ke rumah mertuanya, ke dunia baru yang harus dimasuki, dunia yang masih asing. Ia ucapkan selamat tinggal kepada rumah yang dia huni, rasanya ia tidak tega, sesampai disana Abdullah menunjukkan rumah baru buat mereka berdua. Rumah yang sederhana, cukup nyaman bagi mereka, ideal bagi pengantin baru.

            Abdullah tiba saatnya untuk berpisah dengan Aminah menuju Syam melakukan perdagangan. Perpisahan itu terasa berat bagi Aminah. Hatinya tak rela melepas kepergian suami yang baru menikahinya itu. Hatinya bergetar hingga menggigil seluruh tubuhnya. Erat dipegang tangan suaminya seakan tak mau melepas untuk pergi. Pelan dilepaskan tangan isterinya itu, melangkah ke halaman dengan tangan yang telah lepas dari wajah isterinya. Dengan senyum dipaksakan dia berujar, ”Bersabarlah Aminah, aku pergi hanya beberapa minggu saja. Tunggulah, aku akan datang segera dengan membawa oleh-oleh untukmu. Tak berapa lama. Tinggallah kau dengan bayangan dan hatiku disini. Yang pergi hanyalah ragaku saja. Jasmaniku pergi untuk mencari kelebihan hidup. Ia akan cepat kembali karena kesayangannya ada disini, disampingmu, engkaulah satu-satunya makhluk Allah yang paling aku sayangi dan cintai”.

            Tapi Aminah setelah kepergian suaminya tak berhasil melenyapkan kedukaan dan kesedihan. Semangatnya melemah, terbang bersama perginya suami tercinta. Dia hanya dapat terpaku diam, mematung di depan pintu mereka. Dadanya seakan tak dapat menahan keharuan.

            Hari-hari selanjutnya ia terbaring dengan fikiran kosong. Kerinduan seakan ingin meledak, menghancurkan dadanya yang lemah. Dia selalu  menyendiri dan menyepi untuk melamunkan berbagai kenangan indah yang akan dan telah dianyam selama ini.

            Satu bulan berlalu. Hatinya risau memikirkan nasib suaminya apalagi kini telah tampak tanda-tanda kehamilannya. Keyakinan akan adanya bayi dalam kandungan itu membuat Aminah sadar. Semangat dan kekuatannya timbul lagi sampai memasuki bulan kedua dan ketiga, namun belum ada juga kabar tentang Abdullah. Walaupun kafilah Mekkah telah ada yang kembali, kemana Abdullah ?

            Menurut berita dari Abdul Muthalib, Abdullah sakit di Yatsrib, sehingga harus menunggu sehat dulu baru bisa ke Mekkah. Rindu Aminah semakin menggelegak akan kehadiran suaminya. Apalagi jika datang impian yang memberitahu dirinya anak siapa yang dikandungnya itu. Hatinya seringkali kesal bila dia terbangun tengah malam karena mimpi yang menyenangkan itu dan dia ingin membaginya, ternyata tak ada siapa-siapa disininya.

            Mendengar kabar dari Harits memukul batin siapa saja terutama Aminah, hatinya remuk. Kesedihan, kedukaan, kemurungan bercampur menjadi satu. Selama beberapa waktu dia tidak mampu berkata sepatahpun. Hatinya tetap tidak percaya bahwa Abdullah telah mati, meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Tapi akhirnya gerakan bayi dalam kandunganya menyadarkan dirinya. Semangat dan kesehatannya pulih. Kedukaan perlahan hilang seiring dengan berjalanya waktu. Ketenangan dan kepasrahan itu mampu menumbuhkan tangis yang selama ini tertahan. Juga kata-kata kesedihan dapat diucapkan. Sehingga agak lapang rasa hati dan beban jantungnya.

            Penduduk Mekkah dikala itu lemas lunglai. Apalagi ketika disadari betapa belia usia Abdullah, delapan belas tahun, ternyata tak memberinya kesempatan lebih lama untuk mereguk nikmat dunia ini. Maut telah datang menjemput membawanya pergi. Maut yang dulu gagal mengambilnya, kini datang menagih janjinya yang tertunda, tanpa kenal kasihan, pada semua keluarga, semua penduduk yang mencintainya, juga pada isterinya yang ”inai” di tangannyapun belum hilang.

            Berita lain yang mengusik kota Mekkah ialah tentang kelahiran anak Aminah yang bertepatan pula dengan adanya berita akan kedatangan Nabi yang telah lama ditunggu. Baik Yahudi maupun Nasrani, mereka berharap agar Nabi tersebut lahir dari kalangan mereka. Secara psikologis berita itu mempengaruhi jiwa Aminah. Sehingga wajar kiranya jika dia merasa bermimpi, bahwa yang dikandungnya itu adalah seorang manusia calon Nabi dan pemimpin ummat. Bersamaan kelahiran anaknya, Mekkah diserang pasukan Abrahah yang ingin menghancurkan Ka’bah, namun maksud tersebut gagal karena Allah melindungi Ka’bah dari tangan-tangan jahil. Abrahah dan pasukannya telah mengadakan perjalanan dari Yaman dengan kekalahan dan kehancuran, menjelang tengah malam Senin Rabi’ul Awal, bayi Aminah lahir, setelah mengadakan perjuangan antara hidup dan mati. Kelahiran itu sangat menyenangkan hati Aminah.

            Begitu semuanya beres dan bayinya  diletakkan di sisinya, ucapan syukur berkali-kali dipanjatkan. Wajah anaknya bersih, cakap dan tampan mengingatkan akan Abdullah ayahnya. Mata Aminah tak henti-hentinya memandang wajah dan tubuh anaknya yang menghabiskan sisa malam itu. Ketika sinar Matahari mulai tampak mengintip di ufuk Timur, Aminah menyuruh pembantunya untuk mengirimkan berita gembira  itu pada mertuanya, Abdul Muthalib serentak datang menengok. Dialah Muhammad bin Abdulah bin Abdul Muthalib Al Quraisy yang lahir dalam keadaan yatim, bersamaan dengan kehancuran pasukan Abrahah yang akan menguasai Mekkah.

Yang jelas bagi seorang anak dia berkewajiban untuk berbakti kepada ayah dan ibunua dan itu sudah cukup, bagaimana ayah dan ibunya memperlakukannya dahulu maka itu tanggungjawab orangtua kepada Allah, mereka nanti akan ditanya Allah bagaimana kewajibannya mendidik, mengasuh, memberi pendidikan dan sebagainya kepada anaknya, Rasulullah menyatakan, ”Setiap kamu adalah pemimpin dan nanti akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang kamu pimpin itu, seorang suami adalah pemimpin anak dan isterinya, nanti akan diminta tanggungjawabnya, seorang isteri adalah pemimpin rumah suami dan anaknya, nanti akan diminta juga  tanggungjawabnya”.

            Satu soal sekarang yang hadir di tengah masyarakat kita adalah langkanya anak yang berbakti kepada orangtuanya, apa sebenarnya yang terjadi, apakah orangtua tidak memberikan makanan yang halal kepada anaknya, atau orangtua tidak memperhatikan anaknya dalam kehidupan sehari-hari. Banyak sekali fakor yang menyebabkan anak-anak durhaka, anak cendrung nakal, bringas, sadis dan tidak berbuat baik kepada orangtuanya, Rasulullah dalam sebuah hadits membuka mata orangtua, ”Berbuat baiklah kepada orangtuamu niscaya nanti anak-anakmu akan berbuat baik kepadamu”.

            Salah satu faktor kenapa anak kita tidak berbakti kepada kita karena dahulu kita kepada orangtua kita juga tidak berbakti, artinya hadirnya anak pada hari ini merupakan cermin kita masa lalu kepada orangtua kita, jangan hanya menyalahkan anak, koreksi diri kenapa mereka tidak berbakti kepada kita, dan bertaubatlah kepada Allah atas kesalahan kita dahulu yang durhaka juga kepada orangtua.

            Kepada kita yang hari ini adalah seorang anak, berbaktilah kepada orangtua kita kalau kita mau nanti dikemudian hari memiliki anak-anak yang juga berbakti kepada kita, wallahu a’lam.[Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar