Orang yang paling dekat dengan anaknya, orang
yang paling menyayangi anaknya, orang yang rela mengorbankan apa saja untuk
anaknya, orang yang menerima beban untuk mengandung, melahirkan dan membesarkan
anaknya, ialah ibu, tak satupun manusia yang membantahnya, bagaimana besarnya
kasih sayang ibu kepada anak tapi tak ada yang diharapkannya sebagai imbalan
selain anaknya hidup bahagia kelak, itulah ibu, dikala menyebut namanya,
linangan air mata tak dapat dibendung, rasa rindu membuncah seketika, kenangan
indah dikala hidup bersamanya tidak bisa dilupakan bahkan Allah menyebutkan ibu
dan bapak bergandengan dengan-Nya. Dalam surat An Nisa’ 4;36 Allah berfirman, ”Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada ibu bapakmu...”
Pada
ayat tersebut tergambar bahwa seorang anak berkewajiban unuk beribadah hanya
kepada Allah Swt, seluruh hidupnya harus bernuansa ibadah, tidak boleh
menserikatkan Allah dengan sesuatu apapun karena syirik itu merupakan
kezhaliman yang besar, beribadah dengan motivasi/ niat selain Allah maka
dihadapan-Nya tidak ada artinya sama sekali. Sedangkan kewajiban yang kedua
adalah berbakti atau berbuat baik kepada kedua orangtuanya, disini tergambar
bahwa kebaktian kepada Allah harus diiringi dengan kebaktian kepada orangtua,
tidak sempurna ibadah seseorang kepada Allah kalau dia durhaka kepada
orangtuanya, demikian pula berbuat baik kepada orangtua juga sia-sia sementara
tidak beriman kepada Allah, disini tidak bisa dipisahkan iman kepada Allah
dengan berbuat baik kepada kedua orangtua.
Berbakti
kepada kedua orangtua atau ”birrul walidain’’ dianjurkan oleh Allah Swt. Ia
memerintahkan hal ini dan memuji sebagian Rasul-Nya yang telah berbakti kepada
kedua orangtuanya, untuk itu Ia berfirman sehubungan dengan nabi Yahya As, ”Dan seorang yang berbakti kepad kedua
orangtuanya, dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka” [Maryam
19;14].
Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa ada
seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Siapakah orang yang paling
berhak ku baktikan diriku kepadanya?”, Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya
kembali,”Kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya
lagi,”kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ”Kemudian siapa
lagi?”, Rasulullah menjawab,”Ayahmu”. [HR.Bukhari dan Muslim].
Dari
dialog sahabat dengan Rasulullah tersebut dinyatakan bahwa berbakti kepada
orangtua adalah satu kewajiban yang harus ditunaikan seorang anak terutama
kepada ibunya yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendidik
dengan penuh kasih sayang.
Di
tengah masyarakat banyak kita saksikan anak-anak yang tidak dapat menunjukkan
dirinya sebagai anak yang baik bahkan cendrung dia memperlakukan orangtuanya
dengan kasar, sadis dan kejam tanpa peri kemanusiaan. Allah telah
memperingatkan dalam firman-Nya, ”Maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ”ah” dan
janganlah kamu membentaknya...” [17;23].
Ucapan
”ah, cis, hus ” saja tidak boleh apalagi sampai membentak orangtua dengan
kata-kata kasar. Mungkin anak tidak berkata ”ah” dan juga tidak berkata
kotor, tapi sikap kesehariannya banyak
menyakitkan orangtua, mencoreng nama baik keluarga, maka inipun termasuk
durhaka kepada orangtuanya.
Abdullah ibnu Mas’ud berkata, ”Aku bertanya kepada Rasulullah, amal
perbuatan apakah yang paling disukai Allah ?” Rasulullah menjawab, ”Shalat pada
waktunya”, aku bertanya kembali ”Kemudian apa lagi?”, Rasulullah menjawab,
”Berbaktilah kepada kedua orangtua”, aku bertanya lagi ”Kemudian apalagi?”
Rasulullah menjawab, ”Berjihad di jalan Allah” [HR. Bukhari dan Muslim].
Dari
hadits ini Rasulullah mengklasifikasikan tiga amalan yang utama, yang nomor dua
adalah berbakti kepada kedua orangtua, bahkan berjihad termasuk dalam deretan
yang ketiga, karena demikian pentingnya berbakti kepada kedua orangtua
dibandingkan berjihad. Seorang datang kepada Rasulullah untuk pergi jihad, tapi
dia berat untuk meninggalkan
orangtuanya yang hanya sebatang
kara, sementara itu diapun siap untuk syahid dalam jihad, maka Rasulullah
menunda keberangkatan jihad untuk pemuda itu, khusus untuk dia diberi
dispensansi untuk berbakti saja kepada orangtua dan itu senilai dengan jihad.
Berbakti
kepada orangtua banyak manfaatnya, diantaranya dapat menebus dosa yang
dilakukannya sebagaimana hadits berikut ini, ”Ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah lalu bertanya,
”Sesungguhnya aku telah melakukan suatu dosa besar, apakah ada taubat bagiku?”
Nabi balik bertanya, ”Apakah engkau mempunyai ibu?”, lelaki itu menjawab,
”Tidak ada”, apakah engkau mempunyai bibi ? tanya Rasul. Ia menjawab, ”Iya
punya”, Maka berbaktilah kepadanya”, kata Rasulullah” [HR. Turmuzi].
Dari
beberapa ayat dan hadits diatas memang keberadaan anak di dunia ini harus
mempersembahkan sesuatu kepada kedua orangtuanya, bukan sembahan berupa materi,
kemewahan dan bukan pula pangkat serta kejayaan, tapi persembahan;
memperlakukan orangtua dengan santun, penuh kasih sayang dan penuh perhatian,
tanpa perantara mereka mustahil kita dapat hadir menikmati hidup ini.
Kita
melihat sirah Rasulullah dan para sahabatnya, pituah Rasulullah wajib diikuti
oleh setiap muslim. Memang ada seorang sahabat yang datang menceritakan
bagaimana orangtua memperlakukannya dengan kejam, kasar dan tidak manusiawi,
tapi Rasulullah memberi jawaban bahwa seorang anak tetap harus menunjukkan
santun dan baktinya kepada orangtua, walaupun dahulu orangtuamu memperlakukanmu
dengan buruk, bahkan mungkin dahulu kamu diiris-iris dengan pisau sekalipun.
Pada
lembaran ini kita akan menguak kisah seorang ibu yang menghabiskan waktu dan
tenaga dan potensi hidupnya untuk anak tercinta, dialah Siti Aminah, ibundanya
Nabi Muhammad Saw.
Al kisah, seorang dara cantik rupawan,
tumbuh di keluarga Quraisy, berasal dari keturunan yang tinggi martabatnya yang
merupakan kebanggaan suku Quraisy di Mekkah. Putri dari kepala Bani Zuhrah yang
termashur kedudukannya. Terjaga rapat dalam pingitan, hingga hampir tidak
diketahui masyarakat. Harum wangi dara kembang tercium oleh pemuda-pemuda
Quraisy, yang kemudian berlomba-lomba menyiapkan diri mempersuntingnya.
Aminah
telah mengetahui dan mengenal Abdullah seperti pemuda-pemuda lainnya. Bani
Hasyim adalah keluarga yang paling dekat dibandingkan dengan suku-suku lainnya.
Keintiman keluarga ini telah terpupuk sejak Qusyai dan Zahrah putra Kilab bin
Murah. Aminah mengenal Abdullah sejak masa kanak-kanak kemudian menjadi gadis
mekar yang dipingit. Mereka sering bertemu dilorong-lorong Mekkah dan Baitil
Atiq. Akrabnya mereka ditunjang pula dengan keakraban antara orangtuanya dengan sering bersilaturahmi
membicarakan kepentingan masyarakat Mekkah.
Karena
mimpi yang mempengaruhi Abdul Muthalib, bersama Harits anaknya pergi membawa
pacul untuk menemukan sesuatu dekat berhala Ishafa dan Nailah. Orang Quraisy
menghalangi sehingga hampir terjadi baku hantam namun dengan undian yang
dimenangkan Abdul Muthalib dengan tenang dia terus menggali hingga paculnya
terantuk batu-batu yang menutup sumur, ya itulah dia sumur zam-zam yang telah
tertimbun sekian lamanya, kini mulai dihidupkan kembali oleh Abdul Muthalib.
Dia sering diolok-olok oleh penduduk Mekkah karena mempunyai anak hanya
seorang. Kesedihannya itu terobati setelah ditemukannya kembali sumur zam-zam,
lalu dia bernazar, ”Apabila aku mempunyai anak sepuluh anak, salah satu dari
mereka akan ku sembelih untuk Tuhan”, harapannya terkabul, ia memiliki sepuluh
anak dan Abdullah anak yang paling bungsu.
Suatu
hari Mekkah menjadi heboh, penduduk Mekkah semuanya tidak henti-hentinya
membicarakan Abdul Muthalib yang membawa anaknya menuju Ka’bah. Semuanya telah
mendapat undian dan dengan hati pasrah menyerahkan kepada-Nya. Kaum wanita
seluruh Mekkah turut berguncang hatinya, ikut sedih dan berdebar-debar menanti
saat yang menentukan, ada pula wanita-wanita yang sengaja datang menyaksikan.
Tetapi Aminah, mawar Zuhrah itu tetap tinggal di rumahnya, hatinyapun gelisah
sendiri.
Undian
menentukan bahwa Abdullah sebagai korban. Dan dengan tangan kanan memegang
pisau yang berkilat-kilat Abdul Muthalib membawa Abdullah ke tempat jagal.
Kejadian itu cepat pula sampai ke telinga Aminah. Jam seakan berhenti berdetak
dan bumi tidak berputar. Hari berjalan terasa lambat sekali. Aminah serta
dara-dara lainnya menjadi sedih. Mereka menyayangkan mengapa Abdullah yang
terpilih. Padahal ia adalah pemuda harapan ayahnya dan juga harapan penduduk
Mekkah. Keluarga Abdul Muthalib dirundung kedukaan, semua saudara Abdullah
menangis dan berdebar-debar menunggu ketetapan itu.
Aminah
yang telah kehilangan semangat hidupnya, tiba-tiba timbul kembali. Tatkala ia
mendengar seseorang yang menceritakan tentang keselamatan Abdullah, ”Saat Abdul
Muthalib telah meletakkan pisau berkilat-kilat di leher anaknya dan memalingkan
muka serentak bangkit berdiri tokoh-tokoh Quraiys dan melarangnya, ”Demi Allah,
jangan kau laksanakan dulu. Tunggu sampai ada keputusan yang dapat dipercaya.
Apakah tidak engkau fikir ? kami khawatir bila yang kau lakukan ini menjadi
adat dikemudian hari. Bagaimana nasib kaum Quraisy bila setiap bapak
menyembelih anaknya”.
Penyembelihan
itu dibatalkan sebelum mereka menemukan keputusan dari seorang dukun Hejaz.
Perjalanan dua puluh hari lamanya mencari dukun itu. Semua turut berduka cita
sehingga kota Mekkah mati, tidak ada kesibukan dan keramaian. Wanita-wanita
tidak mau ketinggalan menunggu keputusan dari Hejaz, mereka berharap agar
Abdullah selamat. Keputusan yang diberikan dukun itu ialah agar diganti dengan
100 ekor onta yang disembelih.
Suatu
hari Abdul Muthalib datang ke rumah Barrah untuk meminang Aminah. Dia kaget,
setelah sadar dia mejerit kegirangan, tetapi dalam hati saja. Seolah dia tidak
percaya, benarkah langit telah memilihnya untuk jadi isteri Abdullah ? Serasa
meledak dadanya karena bahagia yang tidak terhingga. Mendengar kabar itu
seluruh wanita Mekkah yang simpati dan menaruh hati kepada Abdullah menjadi iri
serta sakit hati termasuk Laila Addawiyah.
Belum
habis berita tentang Abdullah dengan penebusannya yang menjadi buah bibir
masyarakat Mekkah. Kini mereka ramai membicarakan tentang perkawinan Abdullah
dengan Aminah. Keramaian pesta perkawinan Aminah dan Abdullah selama tiga hari
tiga malam. Saat mengantar Aminah ke rumah mertuanya, ke dunia baru yang harus
dimasuki, dunia yang masih asing. Ia ucapkan selamat tinggal kepada rumah yang
dia huni, rasanya ia tidak tega, sesampai disana Abdullah menunjukkan rumah
baru buat mereka berdua. Rumah yang sederhana, cukup nyaman bagi mereka, ideal
bagi pengantin baru.
Abdullah
tiba saatnya untuk berpisah dengan Aminah menuju Syam melakukan perdagangan.
Perpisahan itu terasa berat bagi Aminah. Hatinya tak rela melepas kepergian
suami yang baru menikahinya itu. Hatinya bergetar hingga menggigil seluruh
tubuhnya. Erat dipegang tangan suaminya seakan tak mau melepas untuk pergi. Pelan
dilepaskan tangan isterinya itu, melangkah ke halaman dengan tangan yang telah
lepas dari wajah isterinya. Dengan senyum dipaksakan dia berujar, ”Bersabarlah
Aminah, aku pergi hanya beberapa minggu saja. Tunggulah, aku akan datang segera
dengan membawa oleh-oleh untukmu. Tak berapa lama. Tinggallah kau dengan
bayangan dan hatiku disini. Yang pergi hanyalah ragaku saja. Jasmaniku pergi
untuk mencari kelebihan hidup. Ia akan cepat kembali karena kesayangannya ada
disini, disampingmu, engkaulah satu-satunya makhluk Allah yang paling aku
sayangi dan cintai”.
Tapi
Aminah setelah kepergian suaminya tak berhasil melenyapkan kedukaan dan
kesedihan. Semangatnya melemah, terbang bersama perginya suami tercinta. Dia
hanya dapat terpaku diam, mematung di depan pintu mereka. Dadanya seakan tak
dapat menahan keharuan.
Hari-hari
selanjutnya ia terbaring dengan fikiran kosong. Kerinduan seakan ingin meledak,
menghancurkan dadanya yang lemah. Dia selalu
menyendiri dan menyepi untuk melamunkan berbagai kenangan indah yang
akan dan telah dianyam selama ini.
Satu
bulan berlalu. Hatinya risau memikirkan nasib suaminya apalagi kini telah
tampak tanda-tanda kehamilannya. Keyakinan akan adanya bayi dalam kandungan itu
membuat Aminah sadar. Semangat dan kekuatannya timbul lagi sampai memasuki
bulan kedua dan ketiga, namun belum ada juga kabar tentang Abdullah. Walaupun
kafilah Mekkah telah ada yang kembali, kemana Abdullah ?
Menurut
berita dari Abdul Muthalib, Abdullah sakit di Yatsrib, sehingga harus menunggu
sehat dulu baru bisa ke Mekkah. Rindu Aminah semakin menggelegak akan kehadiran
suaminya. Apalagi jika datang impian yang memberitahu dirinya anak siapa yang
dikandungnya itu. Hatinya seringkali kesal bila dia terbangun tengah malam
karena mimpi yang menyenangkan itu dan dia ingin membaginya, ternyata tak ada
siapa-siapa disininya.
Mendengar
kabar dari Harits memukul batin siapa saja terutama Aminah, hatinya remuk.
Kesedihan, kedukaan, kemurungan bercampur menjadi satu. Selama beberapa waktu
dia tidak mampu berkata sepatahpun. Hatinya tetap tidak percaya bahwa Abdullah
telah mati, meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Tapi akhirnya gerakan
bayi dalam kandunganya menyadarkan dirinya. Semangat dan kesehatannya pulih.
Kedukaan perlahan hilang seiring dengan berjalanya waktu. Ketenangan dan
kepasrahan itu mampu menumbuhkan tangis yang selama ini tertahan. Juga
kata-kata kesedihan dapat diucapkan. Sehingga agak lapang rasa hati dan beban
jantungnya.
Penduduk
Mekkah dikala itu lemas lunglai. Apalagi ketika disadari betapa belia usia
Abdullah, delapan belas tahun, ternyata tak memberinya kesempatan lebih lama
untuk mereguk nikmat dunia ini. Maut telah datang menjemput membawanya pergi.
Maut yang dulu gagal mengambilnya, kini datang menagih janjinya yang tertunda,
tanpa kenal kasihan, pada semua keluarga, semua penduduk yang mencintainya,
juga pada isterinya yang ”inai” di tangannyapun belum hilang.
Berita
lain yang mengusik kota Mekkah ialah tentang kelahiran anak Aminah yang
bertepatan pula dengan adanya berita akan kedatangan Nabi yang telah lama
ditunggu. Baik Yahudi maupun Nasrani, mereka berharap agar Nabi tersebut lahir
dari kalangan mereka. Secara psikologis berita itu mempengaruhi jiwa Aminah.
Sehingga wajar kiranya jika dia merasa bermimpi, bahwa yang dikandungnya itu
adalah seorang manusia calon Nabi dan pemimpin ummat. Bersamaan kelahiran
anaknya, Mekkah diserang pasukan Abrahah yang ingin menghancurkan Ka’bah, namun
maksud tersebut gagal karena Allah melindungi Ka’bah dari tangan-tangan jahil.
Abrahah dan pasukannya telah mengadakan perjalanan dari Yaman dengan kekalahan
dan kehancuran, menjelang tengah malam Senin Rabi’ul Awal, bayi Aminah lahir,
setelah mengadakan perjuangan antara hidup dan mati. Kelahiran itu sangat
menyenangkan hati Aminah.
Begitu
semuanya beres dan bayinya diletakkan di
sisinya, ucapan syukur berkali-kali dipanjatkan. Wajah anaknya bersih, cakap
dan tampan mengingatkan akan Abdullah ayahnya. Mata Aminah tak henti-hentinya
memandang wajah dan tubuh anaknya yang menghabiskan sisa malam itu. Ketika
sinar Matahari mulai tampak mengintip di ufuk Timur, Aminah menyuruh
pembantunya untuk mengirimkan berita gembira
itu pada mertuanya, Abdul Muthalib serentak datang menengok. Dialah
Muhammad bin Abdulah bin Abdul Muthalib Al Quraisy yang lahir dalam keadaan
yatim, bersamaan dengan kehancuran pasukan Abrahah yang akan menguasai Mekkah.
Yang jelas bagi seorang anak dia
berkewajiban untuk berbakti kepada ayah dan ibunua dan itu sudah cukup,
bagaimana ayah dan ibunya memperlakukannya dahulu maka itu tanggungjawab
orangtua kepada Allah, mereka nanti akan ditanya Allah bagaimana kewajibannya
mendidik, mengasuh, memberi pendidikan dan sebagainya kepada anaknya,
Rasulullah menyatakan, ”Setiap kamu
adalah pemimpin dan nanti akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang kamu
pimpin itu, seorang suami adalah pemimpin anak dan isterinya, nanti akan
diminta tanggungjawabnya, seorang isteri adalah pemimpin rumah suami dan
anaknya, nanti akan diminta juga
tanggungjawabnya”.
Satu
soal sekarang yang hadir di tengah masyarakat kita adalah langkanya anak yang
berbakti kepada orangtuanya, apa sebenarnya yang terjadi, apakah orangtua tidak
memberikan makanan yang halal kepada anaknya, atau orangtua tidak memperhatikan
anaknya dalam kehidupan sehari-hari. Banyak sekali fakor yang menyebabkan
anak-anak durhaka, anak cendrung nakal, bringas, sadis dan tidak berbuat baik
kepada orangtuanya, Rasulullah dalam sebuah hadits membuka mata orangtua, ”Berbuat baiklah kepada orangtuamu niscaya
nanti anak-anakmu akan berbuat baik kepadamu”.
Salah
satu faktor kenapa anak kita tidak berbakti kepada kita karena dahulu kita
kepada orangtua kita juga tidak berbakti, artinya hadirnya anak pada hari ini
merupakan cermin kita masa lalu kepada orangtua kita, jangan hanya menyalahkan
anak, koreksi diri kenapa mereka tidak berbakti kepada kita, dan bertaubatlah
kepada Allah atas kesalahan kita dahulu yang durhaka juga kepada orangtua.
Kepada
kita yang hari ini adalah seorang anak, berbaktilah kepada orangtua kita kalau
kita mau nanti dikemudian hari memiliki anak-anak yang juga berbakti kepada
kita, wallahu a’lam.[Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar