Pada tahun 1946 Jepang kembali ke Tokio karena kalah
perang melawan sekutu, dengan rasa malu mereka tinggalkan Indonesia setelah
tiga setengah tahun dijajah, ketika meninggalkan negara jajahannya ini salah
seorang pimpinannya berkata,"Sekarang kami kembali ke Tokio, tetapi dalam
waktu duapuluh tahun kami akan kembali ke Indonesia".
Tahun 1956 Jepang kembali
menjajah Indonesia dalam bentuk lain yaitu melalui kebudayaannya seperti
Karate, Sumo, Yudo dan lain-lain. Melalui produksi modernya seperti Kawasaki,
Suzuki, Yamaha, Honda dan lain-lain. Hal itu berangkat dari sifat malunya
terusir dari Indonesia sehingga orang Jepang datang kembali dengan melakukan
penjajahan yang lebih menggurita.
Rasa
maluadalahsifatpositif yang dimilikimanusiaselamaditempatkanpadahal-hal yang
baik, orang yang tidakmudahbergaulkarenasesuatuhaldisebutdenganpemalu,
menghindariperbuatanburukberarti orang ituadasifatmalu,
melakukanperbuatanburukberartitidakpunyamalu, sebagaimuslimtidakmaumelaksanakanshalatberartimemalukan,
tidaktahudirisamadenganmalu-maluin.
Yang
positifadalahmaluberbuatnegatifataukarenaadahal-hal yang
tidakbaikpadadirinyaataumungkinjugakarenaberhadapandenganhal-halprinsif ;
KetikaNabi Muhammad Saw
melakukanIsra' Mi'raj, beliaumenerimawahyuuntukmelaksanakanshalat lima puluh
kali seharisemalam, disaatbertemudenganparanabitidakada yang
menanyakankecualinabi Musa saatberada di langitkeenam, terjadilah dialog;
Musa ; Apa yang diperintahkan Allah
kepadamuMuhammad ?
Muhammad ; Sayadiperintahkanshalatlimapuluh kali
seharisemalam.
Musa ;Ummatengkautidakakansanggupmelakukanshalatsebanyakitu,demi
Allah akutelahberpengalaman, kembalilahkeatasmintakeringanankepada Allah.
NabiMuhamamdkembalimenghadap Allah
memintakeringanan, tapinabi Musa menyuruhkembalimemintakeringananpadahalhanyatinggallima
kali sajalagishalatseharisemalam, akhirnyanabi Muhammad menjawab; "Akutelahmohonkeringanankepada
Allah sehinggaakumerasamalu, tetapiakurelamenerimanyadenganbaik".
SewaktuRasulullahbersamaparasahabatsedangmemperbaikiselubuhKa'bah
yang robek, laluangin yang
kencangmenyibakkangamisbeliausehinggamenampakkanbetisbeliau.Denganperistiwaitubeliaularidarikeramaiandenganwajahmerahpadamkarenamalu.Beliautidakmaubetisnyaterlihatoleh
orang lainpadahalbatasauratlelakiituadalahantarapusardanlutut, itulah rasa malu
yang dmilikiolehRasulullah.
Seorang Arab Baduy
datang menemui Rasulullah Saw dengan maksud akan masuk Islam, yaitu agama baru
yang dia ketahui dari masyarakat Quraisy yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Pemuda
itu hidup bergelimang jahiliyah dengan berbagai aktivitas maksit yang ukurannya
hal demikian wajar dilakukan, dia berkata, ”Ya Muhammad saya mau masuk Islam”.
Rasul menyodorkan
persyaratan, ”Ucapkanlah kalimat syahadat”, dia protes, ”Mengucapkan dua
kalimat syahadat bagi saya sangatlah mudah, saya ingin masuk Islam, tapi untuk
saya boleh berjudi, berzina, mabuk-mabukan, mencuri dan kegiatan lainnya yang
sudah jadi kebiasaan kami disini...”.
Mendengar itu para
sahabat geram, ”Ya Rasulullah, izinkan aku memukul pemuda ini” kata Umar bin
Khattab, tapi Rasul bisa meredam kemarahan para sahabatnya. Sambil mendekati
pemuda itu, kembali beliau bertanya, ”Apa yang kamu maksud wahai anak muda?”.
Sang pemuda menjawab, ”Ya itu tadi, aku mau masuk Islam tapi kebiasaan buruk
saya tidak terhalang untuk dilakukan seperti erjudi, mencuri, berzina dan
lainnya”.
Dengan ketulusan
hati Rasulullah memeluk pemuda itu
sambil bertanya, ”Apakah kamu punya ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan
punyakah engkau seorang isteri?”. dia mengangguk berarti punya, Rasul bertanya,
”Wahai pemuda, Bagaimana kalau ibumu, anak perempuanmu, isterimu, dan saudara
perempuanmu dizinahi oleh orang lain sebagaimana kamu berazina dengan orang
lain”.
Dengan muka merah
dan rasa malu mendalam, dia tersinggung dan tidak menyangka kalau ada
pertanyaan demikian. Geram sekali dia, sambil mengepalkan tinjunya dia
berteriak, ”Tidak ya Muhammad, aku mau masuk Islam tanpa syarat itu”, lalu dia
ucapkan kalimat syahadat, ”Asyhadu anla Ilaha Illallah waashadu anna Muhammad
Rasulullah”.
Abu Mas’udUqbah bin Amr al-Anshari al-Badrira, berkata,
RasulullahShallahualaihiwasalambersabda, “ Sesungguhnyasebagian yang
masihdiingat orang dariajaranparaNabiterdahulu, “Jikatidakmalu,
berbuatlahsesukamu”. (HR. Bukhari)Maknamaluadalahmencegahdarimelakukansegalasesuatu yang tercela, makasesungguhnyamemilikimalu, padadasarnya, seruanuntukmencegahsegalamaksiatdankejahatan.Rasa maluadalahcirikhaskebaikan, yang senantiasadiinginkanolehmanusia.Merekamelihatbahwatidakmemiliki rasa maluadalahaib.Rasa malumerupakanbagiandarikesempurnaaniman.“Maluadalahbagiandarikeimanan”, dandalamhadistlainnya “Rasa maluselalumendatangkankebaikan”.(HR. Bukharidan Muslim).
Imam Ahmad danTirmidzimeriwayatkansecaramarfu’ (bersumberdarisabdaRasulullah), bahwaIbnuMas’ud, “Merasamalukepada Allah adalahdenganmenjagakepaladanapa yang dipikirkannya, perutdanapa yang adadidalamnya, danselalumengingatmatidancobaan.Barangsiapa yang menghendakiakhirat, makaakanmeninggalkanperhiasandunia. Dan siapapun yang melakukanhalitutersebutiatelahmemiliki rasa malukepada Allah”.
Jikadalamdirimanusiatidakadalagi rasa malu, baik yang bersifatbawaanmaupun yang diusahakan, makatidakadalagiyangmenghalangiuntukmelakukanperbuatankejidanhina.Bahkanmenjadiseperti orang yang tidakmemilikikeimanansamasekali, sehinggatidakberbedadegangolongansyetan.
SepertidikatakanBagindaRasulullahShallahualaihiwasallam, “Jikatidakmalu, berbuatlahsesukamu”. Inimenggambarkanbetapa orang yang tidakmemilikilagimalu, pastiaiakanberbuatdanbertindaksesukahatinya, tanpalagimempedulikannya.
Berdusta, berbohong, berkhianat, memberikanwala’nya (loyalitasnya) kepadamusuh-musuh Allah, serayamengatakansebaagaikemenangan.Menerimasogokdansuap, diangapsebagaishadaqahdanjariyah.Uang-uang yang suhbhatdianggapnyasebagai yang halal.Bahkan, yang haram pun dianggapnyasebagai halal, yang dapatdigunakanuntukmencapaitujuannya, terutamamenggapaikenikmatandunia.
Takayallagisekarangini, kalangan orang-orang yang mengertitentang ‘din’ sekalipunmerekaberlomba-lombadalamrangkauntukmelaksanakankebersamaandalam “ta’awanualalismiwaludwan”, bersama-samadalammengusungkebathilan, danmenegakkan yang fasik, dandurhakakepada Allah, meskipunselalumerekaberdalihdalamrangkamencapaikemenangan Islam.
Merekasudahtidaklagimemiliki
rasa maludi depan Allah AzzaWaJalla, berbuatmaksiatdandurhaka,
justrumerekamerasamenjalankanperintah-Nya. Inilahkehidupan orang-orang yang
sudahkehilangan rasa malu.[Mashadi,Milikilah
Rasa Malu, Eramuslim, Kamis, 14/10/2010 10:47 WIB]
Abu Hasan Al Mawardi membagi malu menjadi tiga yaitu;
1.Al Haya Minallah; malu kepada Allah
Hidup diberikan bukan hanya kepada manusia saja, tetapi
diberikan juga kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan, yang diperlengkapi dengan
berbagai alat kehidupan seperti udara, air dan cahaya matahari. Kesemuanya itu dapat
diperoleh dengan gratis, tanpa harus membayar kepada yang memberi hidup ini.
Hidup adalah kurnia Ilahi kepada setiap makhluk, terutama
manusia, tidak seorangpun boleh merampasnya, kecuali dengan ketentuan-ketentuan
yang lain, Allah berfirman dalam surat Al Hijr 15;23,
"Dan Sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan
dan kami (pulalah) yang mewarisi".
Kehidupan yang diberikan kepada seorang muslim nampak
dalam semaraknya mereka melakukan ibadah kepada Allah yang merupakan sikap
ketundukan atas perintah Allah,;
"Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada
Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah
ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". dan mereka Itulah
orang-orang yang beruntung. ” [An Nur 24;51].
Dalam setiap gerak dan
gerik muslim tidak pernah lepas dari pujian dan sanjungan kepada Khaliqnya, ini
bertanda kesyukuran kepada Allah karena dapat mengatasi ujian hidup dengan
baik;
”Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat
pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari
nikmat-Ku” [Al Baqarah 2;152].
Dari nikmat itu maka selayaknya seorang muslim untuk
mensyukurinya dengan banyak beribadah, apakah tidak malu kepada Allah bila kita
mengkufuri nikmat-Nya dengan berbuat yang dilarang-Nya. Al haya minallah yaitu
malu kepada Allah dapat memotivasi kita untuk berbuat baik selamanya.
2.Al Haya Minannas; malu kepada manusia
Malu kepada manusia membuat kita bersikap santun dengan
kepribadian menarik lainnya, tidak mudah menyinggung dan memperlakukan manusia
seenak kita. Ada orang-orang yang dekat dengan kita yang harus diperhatikan
kehidupannya yaitu anak, isteri, ayah, ibu dan saudara lainnya, merekapun
senantiasa memperhatikan seluruh gerak-gerik kehidupan yang kita lakoni, dikala
perbuatan baik dan prestasi bagus yang kita hasilkan mereka sangat bangga, tapi
kalau kejahatan yang dilakukan maka mereka sangat menyesal sekali, rasa malu
kepada manusia inilah yang menjaga kita untuk berhati-hati menapaki kehidupan
ini.
Kerugian akan dirasakan
kelak oleh orang-orang yang tidak memanfaatkan waktunya untuk kebaikan, manusia
yang tidak punya malu akan menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak ada
manfaatnya bagi dirinya apalagi untuk manusia lainnya, Allah memperingatkan
kita dalam firman-Nya;
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran" [Al Asr 103;1-3].
Orang yang
tidak merugi adalah orang yang malu kepada Allah dan malu kepada manusia bila
restan umurnya tidak untuk meningkatkan iman, amal dan saling menasehati
sesamanya. Rasulullah menyatakan bahwa tidaklah ummatku yang tidak
memperhatikan ummat islam lainnya.
3.Al Haya minannafsi; malu kepada diri sendiri
Sifat malu yang ada pada diri manusia bukan hanya malu kepada orang lain
saja tapi juga malu kepada diri sendiri membuat orang untuk berhati-hati dalam
hidup, tidak menyia-nyiakan dirinya, dia akan menjaga dirinya untuk
kemaslahatan pribadi, keluarga dan masyarakat. Pada ayat ke 6 dari surat At
Tahrim Allah menyatakan,
”Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu, didalamnya
terdapat malaikat yang kasar lagi bengis, yang tidak maksiat kepada Allah dan
taat atas perintah yang diperintahkan Allah dilaksanakannya”.
Orang yang baik adalah yang menjaga diri dan keluarga dari api neraka,
orang yang lengah adalah orang yang menjaga dirinya sendiri lalu melupakan
keluarganya, dan orang yang bodoh adalah orang yang hanya menyelamatkan dirinya
saja. Sifat malu yang ada pada diri seseorang mendorong dia untuk menyelamatkan
semuanya yaitu menyelamatkan dirinya dan juga menyelamatkan keluarganya, pada
sebuah hadits diceritakan oleh Nabi ada seorang ayah yang akan masuk ke dalam
syurga tapi dihalangi oleh anaknya karena waktu di dunia sang ayah walaupun
orang yang shaleh tapi dia mengabaikan pendidikan agama anaknya.
Sifat malu yang dimiliki oleh manusia tidaklah selalu negatif bahkan
banyak sekali hal positifnya terdapat padanya sehingga memotivasi untuk berbuat
baik semaksimal mungkin, bila rasa malu kepada Allah, kepada manusia dan kepada
diri sendiri sudah tidak dimiliki lagi maka cendrung orang akan berbuat diluar
aturan, perbuatan yang dilakukan menuruti kehendak syaitan dan menuruti hawa
nafsu yang pasti merusak kepribadian seseorang dan merusak tatanan kehidupan
sosial.
Maraknya
KKN (korupsi, kolusi, nepotisme)
dansegalamacampelanggaranhukum—baikhukumTuhanmaupunmanusia—di negeriini,
taklepasdarihilangnyabudayamalu.
Manusiatakseganlagimelakukanpenyelewengandanmelanggarlarangan
Allah.Merekatenggelamdalamkubanganmaksiatkarena rasa
maludalamjiwanyatelahtercerabut.
Benarlahperkataanparanabiterdahulu,
“Jikakamutidakmemiliki rasa malu, makaberbuatlahsemaumu!”
Akhirnyapenguasaberbuatsemaunyadalammengangkangirakyatnya,
pun rakyatberbuatsemaunyadalammenjerumuskansesamanya.
IbnulQayyim
al-Jauziyah, dalamal-Jawab al-KafiLimanSa’ala an-Dawa’ as-Syafi mengatakan,
rasa maluadalahakardarisegalakebaikan.Jikahilang,
makahilanglahsegalakebaikan.
Alangkahmengenaskannasibbangsa
yang kerapdisebutsebagainegara Muslim terbesar di duniaini.Kebaikan yang
dilimpahkan Allah
seolah-olahlenyaptanpabekassehinggamemunculkanpenguasa-penguasazalim yang
sibukmemperkosahukumdanmenyalahgunakankekuasaannya.
Orang
yang bermaksiatkepada Allah akandicabutwibawadanhargadirinyadarihati orang
lain. Manusiaakanmenganggapnyahinadanremeh. Demikian pula
denganpenguasadanpemerintahan.
Sejauhmanaiamencintai
Allah, sejauhitu pula iaakandicintairakyatnya. Sejauhmanaiatakutkepada Allah,
sejauhitu pula rakyatakansegankepadanya.
Bagaimanamungkinseoranghamba
yang menginjak-injakkehormatan Allah, berharapwibawadankehormatannyaterjaga di
mata orang lain.
Bagaimanamungkinseoranghamba
yang mengabaikanhak-hak Allah berharaphak-haknyatidakdiabaikanmanusia.
Hilangnya
rasa malumengakibatkanseseorangmudahberbuatmaksiat.Kemaksiatanmengakibatkanseseorangkeluardarilingkaranihsan;
sikapterbaikdalamberibadahseakan-akaniamelihat Allah. Jikasikapihsanmelekat di
hati, makaiaakanmencegahseseorangmelakukanmaksiat.
Seoranghamba
yang beribadahkepada Allah karenakecintaandanpengharapan yang terdapatdalamhatinya,
makaseolah-olahiamenyaksikanRabb-nya.
Kondisiinilah
yang menghalanginyadarikehendakberbuatmaksiat, apalagimelakukannya. (Cyber
Sabili, ChairulAkhmad.Malu, AkarSemuaKebaikanSelasa, 25 Januari 2011 15:24
DwiHardianto].
Untukmenyelamatkanhidupinimemangharuspunya
rasa malu, bilarasa malusudahtidakdimilikilagimaka orang akanberbuat yang
memalukan, padahal rasa maluituakanmengangkatharkatdanmartabatseseorang, orang
yang sudahtidakpunya rasa malulagidalampribadinyamakadiaakanmelalukanperbuatan
yang memalukan, wallahua‘lam[BatuBerendamMalaka Malaysia, 05 Rajab 1432.H/ 07Juni
2011.M].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar