Jumat, 18 Desember 2015

106. Malu



Pada tahun 1946 Jepang kembali ke Tokio karena kalah perang melawan sekutu, dengan rasa malu mereka tinggalkan Indonesia setelah tiga setengah tahun dijajah, ketika meninggalkan negara jajahannya ini salah seorang pimpinannya berkata,"Sekarang kami kembali ke Tokio, tetapi dalam waktu duapuluh tahun kami akan kembali ke Indonesia".

            Tahun 1956 Jepang kembali menjajah Indonesia dalam bentuk lain yaitu melalui kebudayaannya seperti Karate, Sumo, Yudo dan lain-lain. Melalui produksi modernya seperti Kawasaki, Suzuki, Yamaha, Honda dan lain-lain. Hal itu berangkat dari sifat malunya terusir dari Indonesia sehingga orang Jepang datang kembali dengan melakukan penjajahan yang lebih menggurita.

Rasa maluadalahsifatpositif yang dimilikimanusiaselamaditempatkanpadahal-hal yang baik, orang yang tidakmudahbergaulkarenasesuatuhaldisebutdenganpemalu, menghindariperbuatanburukberarti orang ituadasifatmalu, melakukanperbuatanburukberartitidakpunyamalu, sebagaimuslimtidakmaumelaksanakanshalatberartimemalukan, tidaktahudirisamadenganmalu-maluin.
Yang positifadalahmaluberbuatnegatifataukarenaadahal-hal yang tidakbaikpadadirinyaataumungkinjugakarenaberhadapandenganhal-halprinsif ;
            KetikaNabi Muhammad Saw melakukanIsra' Mi'raj, beliaumenerimawahyuuntukmelaksanakanshalat lima puluh kali seharisemalam, disaatbertemudenganparanabitidakada yang menanyakankecualinabi Musa saatberada di langitkeenam, terjadilah dialog;
Musa               ; Apa yang diperintahkan Allah kepadamuMuhammad ?
Muhammad     ; Sayadiperintahkanshalatlimapuluh kali seharisemalam.
Musa               ;Ummatengkautidakakansanggupmelakukanshalatsebanyakitu,demi Allah akutelahberpengalaman, kembalilahkeatasmintakeringanankepada Allah.
NabiMuhamamdkembalimenghadap Allah memintakeringanan, tapinabi Musa menyuruhkembalimemintakeringananpadahalhanyatinggallima kali sajalagishalatseharisemalam, akhirnyanabi Muhammad menjawab; "Akutelahmohonkeringanankepada Allah sehinggaakumerasamalu, tetapiakurelamenerimanyadenganbaik".

            SewaktuRasulullahbersamaparasahabatsedangmemperbaikiselubuhKa'bah yang robek, laluangin yang kencangmenyibakkangamisbeliausehinggamenampakkanbetisbeliau.Denganperistiwaitubeliaularidarikeramaiandenganwajahmerahpadamkarenamalu.Beliautidakmaubetisnyaterlihatoleh orang lainpadahalbatasauratlelakiituadalahantarapusardanlutut, itulah rasa malu yang dmilikiolehRasulullah.
Seorang Arab Baduy datang menemui Rasulullah Saw dengan maksud akan masuk Islam, yaitu agama baru yang dia ketahui dari masyarakat Quraisy yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Pemuda itu hidup bergelimang jahiliyah dengan berbagai aktivitas maksit yang ukurannya hal demikian wajar dilakukan, dia berkata, ”Ya Muhammad saya mau masuk Islam”.
Rasul menyodorkan persyaratan, ”Ucapkanlah kalimat syahadat”, dia protes, ”Mengucapkan dua kalimat syahadat bagi saya sangatlah mudah, saya ingin masuk Islam, tapi untuk saya boleh berjudi, berzina, mabuk-mabukan, mencuri dan kegiatan lainnya yang sudah jadi kebiasaan kami disini...”.
Mendengar itu para sahabat geram, ”Ya Rasulullah, izinkan aku memukul pemuda ini” kata Umar bin Khattab, tapi Rasul bisa meredam kemarahan para sahabatnya. Sambil mendekati pemuda itu, kembali beliau bertanya, ”Apa yang kamu maksud wahai anak muda?”. Sang pemuda menjawab, ”Ya itu tadi, aku mau masuk Islam tapi kebiasaan buruk saya tidak terhalang untuk dilakukan seperti erjudi, mencuri, berzina dan lainnya”.
Dengan ketulusan hati Rasulullah memeluk pemuda  itu sambil bertanya, ”Apakah kamu punya ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan punyakah engkau seorang isteri?”. dia mengangguk berarti punya, Rasul bertanya, ”Wahai pemuda, Bagaimana kalau ibumu, anak perempuanmu, isterimu, dan saudara perempuanmu dizinahi oleh orang lain sebagaimana kamu berazina dengan orang lain”.
Dengan muka merah dan rasa malu mendalam, dia tersinggung dan tidak menyangka kalau ada pertanyaan demikian. Geram sekali dia, sambil mengepalkan tinjunya dia berteriak, ”Tidak ya Muhammad, aku mau masuk Islam tanpa syarat itu”, lalu dia ucapkan kalimat syahadat, ”Asyhadu anla Ilaha Illallah waashadu anna Muhammad Rasulullah”.
Abu Mas’udUqbah bin Amr al-Anshari al-Badrira, berkata, RasulullahShallahualaihiwasalambersabda, “ Sesungguhnyasebagian yang masihdiingat orang dariajaranparaNabiterdahulu, “Jikatidakmalu, berbuatlahsesukamu”. (HR. Bukhari)

Maknamaluadalahmencegahdarimelakukansegalasesuatu yang tercela, makasesungguhnyamemilikimalu, padadasarnya, seruanuntukmencegahsegalamaksiatdankejahatan.Rasa maluadalahcirikhaskebaikan, yang senantiasadiinginkanolehmanusia.Merekamelihatbahwatidakmemiliki rasa maluadalahaib.Rasa malumerupakanbagiandarikesempurnaaniman.“Maluadalahbagiandarikeimanan”, dandalamhadistlainnya “Rasa maluselalumendatangkankebaikan”.(HR. Bukharidan Muslim).
Imam Ahmad danTirmidzimeriwayatkansecaramarfu’ (bersumberdarisabdaRasulullah), bahwaIbnuMas’ud, “Merasamalukepada Allah adalahdenganmenjagakepaladanapa yang dipikirkannya, perutdanapa yang adadidalamnya, danselalumengingatmatidancobaan.Barangsiapa yang menghendakiakhirat, makaakanmeninggalkanperhiasandunia. Dan siapapun yang melakukanhalitutersebutiatelahmemiliki rasa malukepada Allah”.
Jikadalamdirimanusiatidakadalagi rasa malu, baik yang bersifatbawaanmaupun yang diusahakan, makatidakadalagiyangmenghalangiuntukmelakukanperbuatankejidanhina.Bahkanmenjadiseperti orang yang tidakmemilikikeimanansamasekali, sehinggatidakberbedadegangolongansyetan.
SepertidikatakanBagindaRasulullahShallahualaihiwasallam, “Jikatidakmalu, berbuatlahsesukamu”. Inimenggambarkanbetapa orang yang tidakmemilikilagimalu, pastiaiakanberbuatdanbertindaksesukahatinya, tanpalagimempedulikannya.
Berdusta, berbohong, berkhianat, memberikanwala’nya (loyalitasnya) kepadamusuh-musuh Allah, serayamengatakansebaagaikemenangan.Menerimasogokdansuap, diangapsebagaishadaqahdanjariyah.Uang-uang yang suhbhatdianggapnyasebagai yang halal.Bahkan, yang haram pun dianggapnyasebagai halal, yang dapatdigunakanuntukmencapaitujuannya, terutamamenggapaikenikmatandunia.
Takayallagisekarangini, kalangan orang-orang yang mengertitentang ‘din’ sekalipunmerekaberlomba-lombadalamrangkauntukmelaksanakankebersamaandalam “ta’awanualalismiwaludwan”, bersama-samadalammengusungkebathilan, danmenegakkan yang fasik, dandurhakakepada Allah, meskipunselalumerekaberdalihdalamrangkamencapaikemenangan Islam.
Merekasudahtidaklagimemiliki rasa maludi depan Allah AzzaWaJalla, berbuatmaksiatdandurhaka, justrumerekamerasamenjalankanperintah-Nya. Inilahkehidupan orang-orang yang sudahkehilangan rasa malu.[Mashadi,Milikilah Rasa Malu, Eramuslim, Kamis, 14/10/2010 10:47 WIB]

Abu Hasan Al Mawardi membagi malu menjadi tiga yaitu;

1.Al Haya Minallah; malu kepada Allah
            Hidup diberikan bukan hanya kepada manusia saja, tetapi diberikan juga kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan, yang diperlengkapi dengan berbagai alat kehidupan seperti udara, air dan cahaya matahari. Kesemuanya itu dapat diperoleh dengan gratis, tanpa harus membayar kepada yang memberi hidup ini.

Hidup adalah kurnia Ilahi kepada setiap makhluk, terutama manusia, tidak seorangpun boleh merampasnya, kecuali dengan ketentuan-ketentuan yang lain, Allah berfirman dalam surat Al Hijr 15;23,

"Dan Sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan kami (pulalah) yang mewarisi".

Kehidupan yang diberikan kepada seorang muslim nampak dalam semaraknya mereka melakukan ibadah kepada Allah yang merupakan sikap ketundukan atas perintah Allah,;

"Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. ” [An Nur 24;51].

            Dalam setiap gerak dan gerik muslim tidak pernah lepas dari pujian dan sanjungan kepada Khaliqnya, ini bertanda kesyukuran kepada Allah karena dapat mengatasi ujian hidup dengan baik;

”Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” [Al Baqarah 2;152].

Dari nikmat itu maka selayaknya seorang muslim untuk mensyukurinya dengan banyak beribadah, apakah tidak malu kepada Allah bila kita mengkufuri nikmat-Nya dengan berbuat yang dilarang-Nya. Al haya minallah yaitu malu kepada Allah dapat memotivasi kita untuk berbuat baik selamanya.

2.Al Haya Minannas; malu kepada manusia
            Malu kepada manusia membuat kita bersikap santun dengan kepribadian menarik lainnya, tidak mudah menyinggung dan memperlakukan manusia seenak kita. Ada orang-orang yang dekat dengan kita yang harus diperhatikan kehidupannya yaitu anak, isteri, ayah, ibu dan saudara lainnya, merekapun senantiasa memperhatikan seluruh gerak-gerik kehidupan yang kita lakoni, dikala perbuatan baik dan prestasi bagus yang kita hasilkan mereka sangat bangga, tapi kalau kejahatan yang dilakukan maka mereka sangat menyesal sekali, rasa malu kepada manusia inilah yang menjaga kita untuk berhati-hati menapaki kehidupan ini.
            Kerugian akan dirasakan kelak oleh orang-orang yang tidak memanfaatkan waktunya untuk kebaikan, manusia yang tidak punya malu akan menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya bagi dirinya apalagi untuk manusia lainnya, Allah memperingatkan kita dalam firman-Nya;

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran" [Al Asr 103;1-3].
Orang yang tidak merugi adalah orang yang malu kepada Allah dan malu kepada manusia bila restan umurnya tidak untuk meningkatkan iman, amal dan saling menasehati sesamanya. Rasulullah menyatakan bahwa tidaklah ummatku yang tidak memperhatikan ummat islam lainnya.
           
3.Al Haya minannafsi; malu kepada diri sendiri
            Sifat malu yang ada pada diri manusia bukan hanya malu kepada orang lain saja tapi juga malu kepada diri sendiri membuat orang untuk berhati-hati dalam hidup, tidak menyia-nyiakan dirinya, dia akan menjaga dirinya untuk kemaslahatan pribadi, keluarga dan masyarakat. Pada ayat ke 6 dari surat At Tahrim Allah menyatakan,

”Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu, didalamnya terdapat malaikat yang kasar lagi bengis, yang tidak maksiat kepada Allah dan taat atas perintah yang diperintahkan Allah dilaksanakannya”.
Orang yang baik adalah yang menjaga diri dan keluarga dari api neraka, orang yang lengah adalah orang yang menjaga dirinya sendiri lalu melupakan keluarganya, dan orang yang bodoh adalah orang yang hanya menyelamatkan dirinya saja. Sifat malu yang ada pada diri seseorang mendorong dia untuk menyelamatkan semuanya yaitu menyelamatkan dirinya dan juga menyelamatkan keluarganya, pada sebuah hadits diceritakan oleh Nabi ada seorang ayah yang akan masuk ke dalam syurga tapi dihalangi oleh anaknya karena waktu di dunia sang ayah walaupun orang yang shaleh tapi dia mengabaikan pendidikan agama anaknya.

Sifat malu yang dimiliki oleh manusia tidaklah selalu negatif bahkan banyak sekali hal positifnya terdapat padanya sehingga memotivasi untuk berbuat baik semaksimal mungkin, bila rasa malu kepada Allah, kepada manusia dan kepada diri sendiri sudah tidak dimiliki lagi maka cendrung orang akan berbuat diluar aturan, perbuatan yang dilakukan menuruti kehendak syaitan dan menuruti hawa nafsu yang pasti merusak kepribadian seseorang dan merusak tatanan kehidupan sosial. 

Maraknya KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) dansegalamacampelanggaranhukum—baikhukumTuhanmaupunmanusia—di negeriini, taklepasdarihilangnyabudayamalu.
Manusiatakseganlagimelakukanpenyelewengandanmelanggarlarangan Allah.Merekatenggelamdalamkubanganmaksiatkarena rasa maludalamjiwanyatelahtercerabut.
Benarlahperkataanparanabiterdahulu, “Jikakamutidakmemiliki rasa malu, makaberbuatlahsemaumu!” 
Akhirnyapenguasaberbuatsemaunyadalammengangkangirakyatnya, pun rakyatberbuatsemaunyadalammenjerumuskansesamanya. 
IbnulQayyim al-Jauziyah, dalamal-Jawab al-KafiLimanSa’ala an-Dawa’ as-Syafi mengatakan, rasa maluadalahakardarisegalakebaikan.Jikahilang, makahilanglahsegalakebaikan. 
Alangkahmengenaskannasibbangsa yang kerapdisebutsebagainegara Muslim terbesar di duniaini.Kebaikan yang dilimpahkan Allah seolah-olahlenyaptanpabekassehinggamemunculkanpenguasa-penguasazalim yang sibukmemperkosahukumdanmenyalahgunakankekuasaannya.
Orang yang bermaksiatkepada Allah akandicabutwibawadanhargadirinyadarihati orang lain. Manusiaakanmenganggapnyahinadanremeh. Demikian pula denganpenguasadanpemerintahan.
Sejauhmanaiamencintai Allah, sejauhitu pula iaakandicintairakyatnya. Sejauhmanaiatakutkepada Allah, sejauhitu pula rakyatakansegankepadanya.
Bagaimanamungkinseoranghamba yang menginjak-injakkehormatan Allah, berharapwibawadankehormatannyaterjaga di mata orang lain.
Bagaimanamungkinseoranghamba yang mengabaikanhak-hak Allah berharaphak-haknyatidakdiabaikanmanusia. 
Hilangnya rasa malumengakibatkanseseorangmudahberbuatmaksiat.Kemaksiatanmengakibatkanseseorangkeluardarilingkaranihsan; sikapterbaikdalamberibadahseakan-akaniamelihat Allah. Jikasikapihsanmelekat di hati, makaiaakanmencegahseseorangmelakukanmaksiat. 
Seoranghamba yang beribadahkepada Allah karenakecintaandanpengharapan yang terdapatdalamhatinya, makaseolah-olahiamenyaksikanRabb-nya.
Kondisiinilah yang menghalanginyadarikehendakberbuatmaksiat, apalagimelakukannya. (Cyber Sabili, ChairulAkhmad.Malu, AkarSemuaKebaikanSelasa, 25 Januari 2011 15:24 DwiHardianto].

            Untukmenyelamatkanhidupinimemangharuspunya rasa malu, bilarasa malusudahtidakdimilikilagimaka orang akanberbuat yang memalukan, padahal rasa maluituakanmengangkatharkatdanmartabatseseorang, orang yang sudahtidakpunya rasa malulagidalampribadinyamakadiaakanmelalukanperbuatan yang memalukan, wallahua‘lam[BatuBerendamMalaka Malaysia, 05 Rajab 1432.H/ 07Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar