Rabu, 16 Desember 2015

89. Persatuan



Bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh, demikian ungkapan dari bangsa kita yang mengatakan bahwa persatuan itu sangat penting untuk kokohnya suatu bangsa, bahkan islam lebih jauh mengajak ummatnya untuk mengeratkan persatuan karena banyak factor yang menyebabkan kita harus bersatu, salah satu sebab menjadikan kita bersatu adalah karena kita sebagai muslim yang diikat oleh ukhuwah islamiyyah yaitu persaudaraan sesama muslim.

Persatuan umat Islam harus terwujud karena dengan persatuan itulah kita bisa menentukan agenda sendiri.Apa yang kita kerjakan dan apa yang akan kita kerjakan di masa yang akan datang.Persatuan umat ini harus dibangun atas dasar ukhuwah yang bersih terlepas dari kepentingan individu dan kelompok.Kemudian, kita juga melaksanakan nasihat yang ikhlas.

Ketika kita memberikan nasihat, semuanya harus berangkat dari niat yang ikhlas dan murni hanya untuk kebaikan.Bukan untuk mengobral kesalahan saudara kita sendiri.Karena manusia memang tidak bisa luput dari salah.Dan solusinya menegakkan nasihat kepada mereka, termasuk terhadap kalangan ulama sendiri.Ukhuwah harus kita tegakkan agar persatuan itu bisa tercapai. Kita bisa melihat bagaimana Rasululalh saw. membangun ukuhuwah. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, yang dilakukan pertama kali adalah membangun masjid dan mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar.

Masjid dibangun untuk menjadi wadah semua aktivitas terkait dengan kehidupan.Di masjid itu, Rasululllah mengajarkan ilmu kepada umatnya.Di masjid itu pula, Rasulullah mengatur strategi perang.Di masjid itu, Rasulullah mengadakan konsultasi bagi sahabat terkait semua persoalan yang mereka hadapi.Ukhuwah diwujudkan dengan cara yang amat unik dengan mempersaudarakan Muhijirin dan Anshar secara umum dan bahkan mempersaudarakan antar dua orang secara khusus.

Ini metode yang perlu kita tiru sekarang bahwa setiap kita harus mempunyai suadara seiman dua sampai lima orang yang persaudaraannya melebihi dari yang lain. Agar terbangun soliditas ukhuwah.Kalau setiap umat melakukan itu, maka akan terjalinlah ukhuwah secara luas dan umat ini akan menghirup udara segar ukhuwah yang didasari ridha Allah, bukan duniawi.

Allah melarang kita berpecah belah.Firman Allah dalam Surah Al-Anfal.
"...dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anfal: 46)

Artinya, kalau umat ini masih tetap berpikir sendiri-sendiri dan tidak mau bersatu, maka tidak akan mungkin terwujud kekuatan dalam diri mereka. Sedangkan saat ini, mereka berada di titik nadir yang paling bawah: terjajah, miskin, dan tidak berpendidikan.[Dr. Nawaf Takruri, Jangan Berada Dalam PerpecahanEramuslim, Senin, 10/11/2008 12:20 WIB].

Salah satu kewajiban kita kaum Muslimin adalah beRsatu dan menghindaRi peRpecahan. kita mencOba meng-ingatkan kembali akan bahaya beRpecah-belah dan beRselisih dalam Agama. BeRikut bebeRapa sebab yang senantiasa menimbul-kan peRpecahan, dengan haRapan semOga Allah membimbing kita untuk beRsatu di bawah al-QuR`an dan as-Sunnah dan beRusaha meninggalkan segala hal yang dapat menimbulkan peRpecahan.

PeRpecahan dalam bahasa al-QuR`an dan as-Sunnah adalah الْإِفْتِرَاقُ, yang beRasal daRi akaR kata فَرَقَ yang makna dasaRnya adalah lawan daRi beRsatu atau beRkumpul. PeRhatikan FiRman Allah Ta’ala,"Dan beRpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu beRceRai beRai (beRpecah belah)." (Ali ImRan: 103). 

PeRpecahan) yang kita maksud di sini adalah: PeRtama, peRpecahan dalam Agama, dan kedua, menyelisihi jamaah kaum Muslimin, yaitu umat Islam secaRa umum pada zaman Nabi a, pada zaman sahabat, yang mana meReka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, dan ORang-ORang yang mengikuti hidayah meReka setelah munculnya peRpecahan di tengah umat ini. 

Definisi yang paling menyeluRuh daRi peRpecahan yang kita maksud di sini adalah sebagaimana yang dikatakan Oleh asy-Syaikh NashiR al-Aql, "PeRpecahan ialah: KeluaR daRi as-Sunnah dan al-Jama'ah dalam suatu pOkOk atau lebih daRi pOkOk-pOkOk dasaR Agama yang beRsifat I'tiqadiyah atau amaliyah, atau yang beRhubungan dengan kemaslahatan besaR umat ini, dan teRmasuk di dalam-nya adalah menentang pemimpin kaum Muslimin yang sah dengan kekuatan senjata." (Muqaddimat Fi al-Ahwa` wa al-IftiRaq wa al-Bida'). 

BeRpecah, atau beRceRai-beRai, atau beRselisih dalam Agama adalah suatu yang sangat buRuk, teRcela, dan beRbahaya. Allah dan RasulNya telah mempeRingatkan dengan sangat jelas di dalam al-QuR`an dan as-Sunnah.
Allah Ta’ala beRfiRman,"Dan bahwa (yang Kami peRintahkan ini) adalah jalanKu yang luRus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), kaRena jalan-jalan itu menceRai beRaikan (memecah belah) kamu daRi jalanNya." (Al-An'am: 153).
Imam Mujahid 5 beRkata," وَلَاتَتَّبِعُواالسُّبُلَ (dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain), maksudnya adalah, bid'ah, syubhat, dan kesesatan." (TafsiR Mujahid hal. 227).

Allah Ta’ala juga beRfiRman,"Dan janganlah kamu menyeRupai ORang-ORang yang beRceRai-beRai dan beRselisih sesudah datang keteRangan yang jelas kepada meReka. MeReka itulah ORang-ORang yang mendapat siksa yang beRat." (Ali ImRan: 105).
Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mempeRingatkan dengan sabda beliau,
"Kaum Yahudi telah beRpecah belah menjadi tujuh puluh satu gO-lOngan, tujuh puluh gOlOngan di dalam neRaka dan hanya satu gOlO-ngan di dalam suRga. Kaum NasRani beRpecah belah menjadi tujuh puluh dua gOlOngan, tujuh puluh satu gOlOngan di dalam neRaka, dan hanya satu gOlOngan di dalam suRga. Dan demi Dzat yang diRi Muhammad ada di TanganNya, umatku ini benaR-benaR akan beRpecah belah menjadi tujuh puluh tiga gOlOngan, satu gOlOngan di dalam suRga dan tujuh puluh dua gOlOngan di neRaka.' Ditanyakan kepada beliau, 'Siapa meReka (yang masuk suRga itu) wahai Ra-sulullah?' Jawab beliau, 'Al-Jama'ah." (HR. Ibnu Majah). 

Sampai di sini, bukankah sudah sangat jelas celaka dan bahayanya beRpecah belah dalam Agama? Akan tetapi sekalipun demikian, manusia akan teRus beRpecah, kecuali ORang-ORang yang dilimpahkan Rahmat Oleh Allah. Dan demi meRaih Rahmat Allah inilah, setiap kita haRus beRusaha menghindaRi segala macam bentuk peRpecahan dan meninggalkan semua macam peRselisihan dalam Agama ini. Dan ini dapat kita lakukan dengan beRbagai usaha, yang salah satu di antaRanya adalah mengenal sebab-sebab peRpecahan; tentu untuk kita hindaRi dan bukan untuk kita ikuti. [AbduRRahman NuRyaman, MenghindaRi Sebab-sebab PeRpecahan,Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, DaRul Haq JakaRta).

Masih banyak permasalahan ummat yang belum tuntas kita upayakan solusinya, termasuk masalah persatuan ummat dan pemunculan sosok-sosok pemimpin yang berkualitas.

Perpecahan selalu membawa malapetaka dan kerusakan besar di tengah-tengah ummat.Kurang percayakah kita?Kurang yakinkah kita setelah demikian banyak bukti sejarah memberi pelajaran?Perpecahan, perselisihan di perang Uhud misalnya, mengakibatkan gagalnya kemenangan yang semula sudah diraih. Rasulullah saw. tembus di pipinya karena dilempari dengan pecahan besi, yang ketika dicabut menyebabkan dua gigi beliau patah. Bahkan ketika para sahabat memapah beliau ke tempat yang lebih tinggi, Rasulullah saw terperosok ke dalam lubang jebakan yang berisi senjata tajam, sehingga paha beliau sobek dan jatuh pingsan karena begitu banyaknya darah yang keluar.

Kurang yakinkah kita akan efek dari perpecahan? Tengoklah perang Shiffin yang disebabkan oleh konflik antara Ali dan Mu’awiyah.Perang yang menelan korban 80.000 muslimin.Sebuah tragedi kelam dalam sejarah Islam.Belum paham jugakah kita bagaimana pedihnya perpecahan?Di Iraq, ratusan orang menjadi korban ketika kaum Syi’ah menyerang kaum Sunniy.Selanjutnya kaum Sunniy menyerang kaum Syi’ah sehingga meninggal pula sejumlah orang, dan seterusnya tak berkesudahan.Padahal sunniy bukanlah musuh syi’ah dan syi’ah bukanlah musuh sunniy? Musuh mereka adalah sang penjajah Amerika.

Belum sadarkah kita tentang apa yang terjadi di Palestina? Ketika Presiden Palestina—Mahmud Abbas—berkunjung ke Indonesia dan mengundang untuk berdiskusi, dengan tegas saya sampaikan kepada beliau, bahwa bangsa Palestina tidak akan meraih kemenangan kecuali mereka bersatu melawan Israel.
Benarlah kata Imam Ali dalam pesannya, “Kebenaran yang tidak terorganisir akan dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir”.
Sesungguhnya modal kita untuk bersatu sangat sederhana. Ialah ketika kita sepakat untuk mengucapkan “Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadurrasulullah”. Bagi kami, ketika seseorang menyatakan komitmennya untuk taat pada Allah dan Rasul-Nya, cukuplah itu. Soal fiqh, furu’, cabang-cabang, pendapat, mari kita bicarakan, mari kita diskusikan, mari kita perdalam. Wong niatnya sama-sama mau masuk surga kok, kenapa harus cek-cok?[Presiden PKS, Tifatul Sembiring, Bisakah Kita (ummat) Bersatu?,PKS.com. Menyambut Tahun Baru 1430 Hijriyah.

Dari Abu Mas'ud , ia berkata, "Rasulullah bersabda, 'Luruskanlah (shaf kalian) dan janganlah bercerai berai sehingga akan tercerai berai hati kalian'."(Riwayat Muslim).

Hadits ini memperlihatkan larangan Rasulullah agar umat Islam  tidak bercerai berai. Islam akan kuat di atas landasan berjamaah. Dan Islam tidak akan mudah dicerai-berai, diadu domba antara golongan yang satu dengan yang lain, bila budaya berjamaah menjadi ruh dalam kehidupan kita sehari-hari. Pelajaran meluruskan shaf dalam berjamaah salah satu contoh yang dilakukan Nabi untuk menanamkan sikap disiplin dan ukhuwah Islamiyah para sahabatnya.

Sebuah pelaksanaan shalat berjamaah yang dilaksanakan dengan baik akan memberi atsar (pengaruh) yang baik bagi pelakunya dan akan memperkuat ukhuwah Islamiyah di antara kita. Shalat berjamaah juga dapat membentuk pribadi Muslim yang disiplin, penuh tanggung jawab, dan mampu menjalankan nilai-nilai luhur di tengah masyarakatnya.

Dalam di atas hadits Nabi berpesan bahwa shaf yang tidak rapi dan rapat akan menyebabkan terjadinya perselisihan dan perpecahan yang berujung kepada kehancuran, kekalahan, hilangnya kekuatan dan kemuliaan. Bukankah musuh di sekitar kita telah menjadikan kita sebagai santapan yang diperebutkan, sebagaimana makanan yang dijadikan rebutan orang banyak?[Cholis Akbar, Allah Menyukai Barisan dan Shaf Yang Teratur! ,Hidayatullah.com, Rabu, 02 Februari 2011].

Polemik perbedaan penetapan awal Ramadhan yang kerap terjadi antara sejumlah ormas islam menurut Peneliti Astronomi-Astrofisika, LAPAN, Thomas Djamaluddin terjadi karena ketiadaan pedoman hilal yang jelas. Dalam sidang isbat awal Ramadhan lalu, Djamaluddin meminta Kementerian Agama untuk memfasilitasi dialog antarormas Islam guna mendapatkan kesepatkan prihal kriteria hilal.
Menurut Djamaluddin, kesepatakan kriteria hilal tidak semata bertujuan untuk menentukan hari besar islam saja. Lebih dari itu, ia melihat ada tujuan yang lebih besar lagi, yakni menuju kalendar islam yang mempersatukan umat. Berikut pemikirannya tentang kalendar Islam pemersatu umat,
Sistem kalender yang mapan mensyaratkan tiga hal:
  1. Ada batasan wilayah keberlakukan (nasional atau global).
  2. Ada otoritas tunggal yang menetapkannya.
  3. Ada kriteria yang disepakati
Saat ini syarat pertama dan kedua secara umum sudah tercapai.Batasan wilayah hukum Indonesia telah disepakati oleh sebagian besar ummat Islam Indonesia, walau ada sebagian yang menghendaki wilayah global.Menteri Agama secara umum pun bisa diterima sebagai otoritas tunggal yang menetapkan kalender Islam Indonesia dengan dilengkapi mekanisme sidang itsbat untuk penetapan awal Ramadhan dan hari raya.Sayangnya, syarat ketiga belum tercapai.Saat ini masing-masing ormas Islam masih mempunyai kriteria sendiri, walau saat ini mulai ada semangat untuk mencari titik temu.[Edi Yusuf, Menjadikan Kalender Islam Sebagai Pemersatu Umat, Bisakah? Republika co,id. Sabtu, 14 Agustus 2010, 22:07 WIB]

Ketika Sayid Qutb ditanya oleh seseorang tentang persatuan ummat islam, dia menjawab,”Sebenarnya kita sudah berupaya untuk bersatu, tapi upaya dari ummat lain lebih besar untuk memecah belah kita”. Sudah berupaya saja untuk mengujudkan persatuan masih juga belum tercapai yang dimaksud, apalagi tidak sama sekali adanya upaya untuk bersatu. Scenario untuk memecah belah umat ini sudah berlansung sejak dahulu demikian pula upaya untuk merekat persatuan dalam persaudaraan islam selalu dilakukan.

Nuaim bin Mas'ud menarik napas panjang. Pasukan Ahzab terlalu kuat bagi kaum Muslimin untuk dihadapi secara frontal.Saat itu, lebih dari 10 ribu orang gabungan dari beberapa kelompok tengah mengepung Madinah.“Seandainya pasukan besar itu bisa menyerbu Madinah, mungkin saja mampu membinasakan kaum Muslimin sampai ke akar-akarnya,” tulis Shafiyur Rahman al-Mubarakfuri dalam ar-Rahiqul Makhtum-nya.

Meski benteng Khandaq sudah lebih dari separuh mengelilingi Madinah, tapi sampai kapan kaum Muslimin bisa bertahan. Bahaya orang-orang Yahudi dan munafik yang membaur bersama mereka dalam kota Madinah, ibarat bom waktu yang bisa meledak kapan saja tanpa bisa diprediksi. Untuk itu, harus ada cara bagi kaum Muslimin agar bisa keluar sebagai pemenang.

Sejenak Nuaim tersenyum.Sebuah ide cerdas menyeruak di benaknya. Buru-buru ia menemui Rasulullah saw dan mengemukakan rencananya. Rasulullah tersenyum lalu menjawab, “Usahakan agar musuh segera meninggalkan medan peperangan.Berbuatlah semampumu.Perang itu tipu daya."Begitu mendapat restu, Nuaim segera beraksi. Pertama-tama ia mendatangi Bani Quraizhah yang telah membuat kesepakatan dengan kafir Quraisy untuk memerangi kaum Muslimin. Di kalangan mereka, Nuaim termasuk tokoh berpengaruh.Mereka tidak mengetahui bahwa Nuaim telah memeluk Islam.Nuaim membujuk mereka agar melepaskan ikatan persekutuan dengan kafir Quraisy.“Janganlah kalian turut berperang sebelum mereka memberikan orang sebagai jaminan pada kalian,” tambah Nuaim.

Setelah berhasil meyakinkan Bani Quraizhah, secara diam-diam Nuaim menemui pasukan Quraisy. Kepada mereka, Nuaim mengatakan bahwa Bani Quraizhah meminta jaminan yang akan diberikan kepada Muhammad saw. Nuaim terus membujuk agar kafir Quraisy tidak memercayai Bani Quraizhah.

Ketika tiba saatnya penyerangan, Bani Quraizhah meminta jaminan kepada kafir Quraisy seperti disarankan Nuaim. Sebaliknya, kafir Quraisy merasa apa yang dikatakan Nuaim benar. Mereka tak mau menuruti permintaan Bani Quraizhah.Demikianlah, Nuaim akhirnya berhasil memecah belah pasukan Ahzab.

Tindakan Nuaim bin Mas'ud itu merupakan strategi jitu untuk mengalahkan musuh. Dalam bentangan zaman, taktik ini tetap sering dipergunakan.Di Indonesia, strategi ini menjadi senjata andalan Penjajah Belanda untuk mengabadikan cengkeraman jajahannya di Tanah Air. Devide et impera. Pecah belah dan jajahlah atau adu domba dan kuasailah, demikian slogan mereka.

Tentu saja tindakan Nuaim bin Mas’ud dalam peristiwa Perang Ahzab itu tak bisa disamakan dengan taktik licik Penjajah Belanda. Apa yang dilakukan Nuaim benar-benar strategi cerdas tapi tetap memerhatikan adab-adab perang. Sebaliknya, Penjajah Belanda selalu menggunakan cara-cara licik yang menghalalkan segala cara. Mereka tak segan-segan mengadu domba antara anak dan ayah sehingga terjadi pertumpahan darah.

Kini untuk menghalau gerakan Islam, taktik licik itu kembali dipergunakan.Dalam skala internasional, mereka memecah belah wilayah Islam menjadi beberapa negara.Lalu, masing-masing negara itu diadu domba.Pada awal 1991 Kuwait dan Irak diadu domba sehingga terjadi peperangan.Pada dekade sebelumnya, Iran dan Irak “digosok-gosok” agar mau saling serang.Begitulah strategi mereka.Strategi belah bambu. Satu diangkat yang lain diinjak.

Dalam skala nasional, hal yang sama menimpa umat Islam. Politik pecah belah tak hanya dilakukan antar partai atau lembaga Islam. Tapi, mereka juga melakukan politik adu domba dalam satu partai yang sama. Ini yang menimpa sebagian partai Islam sehingga beberapa partai Islam mengalami perpecahan.[Eman Mulyatman, Wahai Umat Islam, Jangan Mau Diadu Domba!, Cybersabili,  Kamis, 04 Maret 2010 10:29].

Kalaulah umat islam di Indonesia bersatu maka banyak pekerjaan besar yang bisa dikerjakan untuk mensejahterakan rakyat dan menegakkan keadilan bagi negeri, tapi bila perpecahan yang terjadi maka tidak ada satupun yang bisa kita lakukan karena walaupun seribu orang yang membangun maka akan hancur juga oleh seorang yang mengacaunya apalagi hanya satu orang yang membangun sedangkan seribu orang yang lain meruntuhkan maka berantakanlah bangunan itu, wallahu a’lam. [Bolai Indah Batam, 11 Rajab 1432.H/ 13 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar