Bersatu
kita teguh dan bercerai kita runtuh, demikian ungkapan dari bangsa kita yang
mengatakan bahwa persatuan itu sangat penting untuk kokohnya suatu bangsa,
bahkan islam lebih jauh mengajak ummatnya untuk mengeratkan persatuan karena
banyak factor yang menyebabkan kita harus bersatu, salah satu sebab menjadikan
kita bersatu adalah karena kita sebagai muslim yang diikat oleh ukhuwah
islamiyyah yaitu persaudaraan sesama muslim.
Persatuan umat Islam harus terwujud karena dengan persatuan
itulah kita bisa menentukan agenda sendiri.Apa yang kita kerjakan dan apa yang
akan kita kerjakan di masa yang akan datang.Persatuan umat ini harus dibangun
atas dasar ukhuwah yang bersih terlepas dari kepentingan individu dan kelompok.Kemudian,
kita juga melaksanakan nasihat yang ikhlas.
Ketika kita memberikan nasihat, semuanya harus berangkat
dari niat yang ikhlas dan murni hanya untuk kebaikan.Bukan untuk mengobral
kesalahan saudara kita sendiri.Karena manusia memang tidak bisa luput dari
salah.Dan solusinya menegakkan nasihat kepada mereka, termasuk terhadap
kalangan ulama sendiri.Ukhuwah harus kita tegakkan agar persatuan itu bisa
tercapai. Kita bisa melihat bagaimana Rasululalh saw. membangun ukuhuwah.
Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, yang dilakukan pertama kali adalah
membangun masjid dan mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar.
Masjid dibangun untuk menjadi wadah semua aktivitas terkait
dengan kehidupan.Di masjid itu, Rasululllah mengajarkan ilmu kepada umatnya.Di
masjid itu pula, Rasulullah mengatur strategi perang.Di masjid itu, Rasulullah
mengadakan konsultasi bagi sahabat terkait semua persoalan yang mereka
hadapi.Ukhuwah diwujudkan dengan cara yang amat unik dengan mempersaudarakan
Muhijirin dan Anshar secara umum dan bahkan mempersaudarakan antar dua orang
secara khusus.
Ini metode yang perlu kita tiru sekarang bahwa setiap kita
harus mempunyai suadara seiman dua sampai lima orang yang persaudaraannya
melebihi dari yang lain. Agar terbangun soliditas ukhuwah.Kalau setiap umat
melakukan itu, maka akan terjalinlah ukhuwah secara luas dan umat ini akan
menghirup udara segar ukhuwah yang didasari ridha Allah, bukan duniawi.
Allah
melarang kita berpecah belah.Firman Allah dalam Surah Al-Anfal.
"...dan taatlah kepada Allah dan
Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi
gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anfal: 46)
Artinya, kalau umat ini masih tetap berpikir sendiri-sendiri
dan tidak mau bersatu, maka tidak akan mungkin terwujud kekuatan dalam diri
mereka. Sedangkan saat ini, mereka berada di titik nadir yang paling bawah:
terjajah, miskin, dan tidak berpendidikan.[Dr. Nawaf Takruri, Jangan Berada Dalam PerpecahanEramuslim, Senin,
10/11/2008 12:20 WIB].
Salah satu kewajiban kita kaum Muslimin adalah beRsatu dan menghindaRi
peRpecahan. kita mencOba meng-ingatkan kembali akan bahaya beRpecah-belah dan
beRselisih dalam Agama. BeRikut bebeRapa sebab yang senantiasa menimbul-kan
peRpecahan, dengan haRapan semOga Allah membimbing kita untuk beRsatu di bawah
al-QuR`an dan as-Sunnah dan beRusaha meninggalkan segala hal yang dapat
menimbulkan peRpecahan.
PeRpecahan dalam bahasa al-QuR`an dan as-Sunnah adalah الْإِفْتِرَاقُ, yang beRasal daRi akaR kata فَرَقَ yang makna dasaRnya adalah lawan
daRi beRsatu atau beRkumpul. PeRhatikan FiRman Allah Ta’ala,"Dan beRpeganglah kamu semuanya kepada tali
(agama) Allah, dan janganlah kamu beRceRai beRai (beRpecah belah)."
(Ali ImRan: 103).
PeRpecahan) yang kita maksud di sini adalah: PeRtama, peRpecahan dalam
Agama, dan kedua, menyelisihi jamaah kaum Muslimin, yaitu umat Islam secaRa
umum pada zaman Nabi a, pada zaman sahabat, yang mana meReka adalah Ahlus
Sunnah wal Jama'ah, dan ORang-ORang yang mengikuti hidayah meReka setelah
munculnya peRpecahan di tengah umat ini.
Definisi yang paling menyeluRuh daRi peRpecahan yang kita maksud di sini
adalah sebagaimana yang dikatakan Oleh asy-Syaikh NashiR al-Aql,
"PeRpecahan ialah: KeluaR daRi as-Sunnah dan al-Jama'ah dalam suatu pOkOk
atau lebih daRi pOkOk-pOkOk dasaR Agama yang beRsifat I'tiqadiyah atau
amaliyah, atau yang beRhubungan dengan kemaslahatan besaR umat ini, dan
teRmasuk di dalam-nya adalah menentang pemimpin kaum Muslimin yang sah dengan
kekuatan senjata." (Muqaddimat Fi al-Ahwa` wa al-IftiRaq wa al-Bida').
BeRpecah, atau beRceRai-beRai, atau beRselisih dalam Agama adalah suatu
yang sangat buRuk, teRcela, dan beRbahaya. Allah dan RasulNya telah
mempeRingatkan dengan sangat jelas di dalam al-QuR`an dan as-Sunnah.
Allah Ta’ala beRfiRman,"Dan bahwa (yang Kami peRintahkan ini) adalah jalanKu yang luRus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), kaRena jalan-jalan itu menceRai beRaikan (memecah belah) kamu daRi jalanNya." (Al-An'am: 153).
Allah Ta’ala beRfiRman,"Dan bahwa (yang Kami peRintahkan ini) adalah jalanKu yang luRus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), kaRena jalan-jalan itu menceRai beRaikan (memecah belah) kamu daRi jalanNya." (Al-An'am: 153).
Imam Mujahid 5
beRkata," وَلَاتَتَّبِعُواالسُّبُلَ (dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain), maksudnya
adalah, bid'ah, syubhat, dan kesesatan."
(TafsiR Mujahid hal. 227).
Allah Ta’ala juga beRfiRman,"Dan janganlah kamu menyeRupai ORang-ORang yang beRceRai-beRai dan beRselisih sesudah datang keteRangan yang jelas kepada meReka. MeReka itulah ORang-ORang yang mendapat siksa yang beRat." (Ali ImRan: 105).
Kemudian Nabi
Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mempeRingatkan dengan sabda beliau,
"Kaum
Yahudi telah beRpecah belah menjadi tujuh puluh satu gO-lOngan, tujuh puluh
gOlOngan di dalam neRaka dan hanya satu gOlO-ngan di dalam suRga. Kaum NasRani
beRpecah belah menjadi tujuh puluh dua gOlOngan, tujuh puluh satu gOlOngan di
dalam neRaka, dan hanya satu gOlOngan di dalam suRga. Dan demi Dzat yang diRi
Muhammad ada di TanganNya, umatku ini benaR-benaR akan beRpecah belah menjadi
tujuh puluh tiga gOlOngan, satu gOlOngan di dalam suRga dan tujuh puluh dua
gOlOngan di neRaka.' Ditanyakan kepada beliau, 'Siapa meReka (yang masuk suRga
itu) wahai Ra-sulullah?' Jawab beliau, 'Al-Jama'ah." (HR. Ibnu Majah).
Sampai di sini, bukankah sudah sangat jelas celaka dan bahayanya beRpecah
belah dalam Agama? Akan tetapi sekalipun demikian, manusia akan teRus beRpecah,
kecuali ORang-ORang yang dilimpahkan Rahmat Oleh Allah. Dan demi meRaih Rahmat
Allah inilah, setiap kita haRus beRusaha menghindaRi segala macam bentuk
peRpecahan dan meninggalkan semua macam peRselisihan dalam Agama ini. Dan ini
dapat kita lakukan dengan beRbagai usaha, yang salah satu di antaRanya adalah
mengenal sebab-sebab peRpecahan; tentu untuk kita hindaRi dan bukan untuk kita
ikuti. [AbduRRahman NuRyaman, MenghindaRi Sebab-sebab PeRpecahan,Kumpulan Khutbah
Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, DaRul Haq JakaRta).
Masih banyak permasalahan
ummat yang belum tuntas kita upayakan solusinya, termasuk masalah persatuan
ummat dan pemunculan sosok-sosok pemimpin yang berkualitas.
Perpecahan selalu membawa
malapetaka dan kerusakan besar di tengah-tengah ummat.Kurang percayakah
kita?Kurang yakinkah kita setelah demikian banyak bukti sejarah memberi
pelajaran?Perpecahan, perselisihan di perang Uhud misalnya, mengakibatkan
gagalnya kemenangan yang semula sudah diraih. Rasulullah saw. tembus di pipinya
karena dilempari dengan pecahan besi, yang ketika dicabut menyebabkan dua gigi
beliau patah. Bahkan ketika para sahabat memapah beliau ke tempat yang lebih
tinggi, Rasulullah saw terperosok ke dalam lubang jebakan yang berisi senjata
tajam, sehingga paha beliau sobek dan jatuh pingsan karena begitu banyaknya
darah yang keluar.
Kurang yakinkah kita akan efek
dari perpecahan? Tengoklah perang Shiffin yang disebabkan oleh konflik antara
Ali dan Mu’awiyah.Perang yang menelan korban 80.000 muslimin.Sebuah tragedi
kelam dalam sejarah Islam.Belum paham jugakah kita bagaimana pedihnya
perpecahan?Di Iraq, ratusan orang menjadi korban ketika kaum Syi’ah menyerang
kaum Sunniy.Selanjutnya kaum Sunniy menyerang kaum Syi’ah sehingga meninggal
pula sejumlah orang, dan seterusnya tak berkesudahan.Padahal sunniy bukanlah
musuh syi’ah dan syi’ah bukanlah musuh sunniy? Musuh mereka adalah sang
penjajah Amerika.
Belum sadarkah kita tentang apa yang terjadi di Palestina? Ketika Presiden Palestina—Mahmud Abbas—berkunjung ke Indonesia dan mengundang untuk berdiskusi, dengan tegas saya sampaikan kepada beliau, bahwa bangsa Palestina tidak akan meraih kemenangan kecuali mereka bersatu melawan Israel.
Benarlah kata Imam Ali dalam pesannya, “Kebenaran yang tidak terorganisir akan dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir”.
Sesungguhnya modal kita untuk
bersatu sangat sederhana. Ialah ketika kita sepakat untuk mengucapkan “Asyhadu
an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadurrasulullah”. Bagi kami, ketika
seseorang menyatakan komitmennya untuk taat pada Allah dan Rasul-Nya, cukuplah
itu. Soal fiqh, furu’, cabang-cabang, pendapat, mari kita bicarakan, mari kita
diskusikan, mari kita perdalam. Wong niatnya sama-sama mau masuk surga kok,
kenapa harus cek-cok?[Presiden PKS, Tifatul Sembiring, Bisakah Kita (ummat)
Bersatu?,PKS.com. Menyambut Tahun Baru 1430 Hijriyah.
Dari Abu Mas'ud
, ia berkata, "Rasulullah bersabda, 'Luruskanlah (shaf kalian) dan
janganlah bercerai berai sehingga akan tercerai berai hati kalian'."(Riwayat
Muslim).
Hadits ini
memperlihatkan larangan Rasulullah agar umat Islam tidak bercerai berai.
Islam akan kuat di atas landasan berjamaah. Dan Islam tidak akan mudah
dicerai-berai, diadu domba antara golongan yang satu dengan yang lain, bila
budaya berjamaah menjadi ruh dalam kehidupan kita sehari-hari. Pelajaran
meluruskan shaf dalam berjamaah salah satu contoh yang dilakukan Nabi untuk
menanamkan sikap disiplin dan ukhuwah Islamiyah para sahabatnya.
Sebuah
pelaksanaan shalat berjamaah yang dilaksanakan dengan baik akan memberi atsar
(pengaruh) yang baik bagi pelakunya dan akan memperkuat ukhuwah Islamiyah di
antara kita. Shalat berjamaah juga dapat membentuk pribadi Muslim yang
disiplin, penuh tanggung jawab, dan mampu menjalankan nilai-nilai luhur di
tengah masyarakatnya.
Dalam di atas hadits Nabi berpesan bahwa
shaf yang tidak rapi dan rapat akan menyebabkan terjadinya perselisihan dan
perpecahan yang berujung kepada kehancuran, kekalahan, hilangnya kekuatan dan
kemuliaan. Bukankah musuh di sekitar kita telah menjadikan kita sebagai
santapan yang diperebutkan, sebagaimana makanan yang dijadikan rebutan orang
banyak?[Cholis Akbar, Allah
Menyukai Barisan dan Shaf Yang Teratur! ,Hidayatullah.com, Rabu, 02 Februari 2011].
Polemik perbedaan
penetapan awal Ramadhan yang kerap terjadi antara sejumlah ormas islam menurut
Peneliti Astronomi-Astrofisika, LAPAN, Thomas Djamaluddin terjadi karena
ketiadaan pedoman hilal yang jelas. Dalam sidang isbat awal Ramadhan lalu,
Djamaluddin meminta Kementerian Agama untuk memfasilitasi dialog antarormas
Islam guna mendapatkan kesepatkan prihal kriteria hilal.
Menurut Djamaluddin,
kesepatakan kriteria hilal tidak semata bertujuan untuk menentukan hari besar
islam saja. Lebih dari itu, ia melihat ada tujuan yang lebih besar lagi, yakni
menuju kalendar islam yang mempersatukan umat. Berikut pemikirannya tentang
kalendar Islam pemersatu umat,
Sistem kalender yang
mapan mensyaratkan tiga hal:
- Ada batasan wilayah keberlakukan (nasional atau global).
- Ada otoritas tunggal yang menetapkannya.
- Ada kriteria yang disepakati
Saat
ini syarat pertama dan kedua secara umum sudah tercapai.Batasan wilayah hukum
Indonesia telah disepakati oleh sebagian besar ummat Islam Indonesia, walau ada
sebagian yang menghendaki wilayah global.Menteri Agama secara umum pun bisa
diterima sebagai otoritas tunggal yang menetapkan kalender Islam Indonesia
dengan dilengkapi mekanisme sidang itsbat untuk penetapan awal Ramadhan dan
hari raya.Sayangnya, syarat ketiga belum tercapai.Saat ini masing-masing ormas
Islam masih mempunyai kriteria sendiri, walau saat ini mulai ada semangat untuk
mencari titik temu.[Edi Yusuf, Menjadikan Kalender Islam Sebagai Pemersatu Umat, Bisakah? Republika co,id. Sabtu, 14 Agustus 2010, 22:07 WIB]
Ketika Sayid Qutb ditanya oleh seseorang
tentang persatuan ummat islam, dia menjawab,”Sebenarnya kita sudah berupaya
untuk bersatu, tapi upaya dari ummat lain lebih besar untuk memecah belah
kita”. Sudah berupaya saja untuk mengujudkan persatuan masih juga belum
tercapai yang dimaksud, apalagi tidak sama sekali adanya upaya untuk bersatu.
Scenario untuk memecah belah umat ini sudah berlansung sejak dahulu demikian
pula upaya untuk merekat persatuan dalam persaudaraan islam selalu dilakukan.
Nuaim bin Mas'ud
menarik napas panjang. Pasukan Ahzab terlalu kuat bagi kaum Muslimin untuk
dihadapi secara frontal.Saat itu, lebih dari 10 ribu orang gabungan dari
beberapa kelompok tengah mengepung Madinah.“Seandainya pasukan besar itu bisa
menyerbu Madinah, mungkin saja mampu membinasakan kaum Muslimin sampai ke
akar-akarnya,” tulis Shafiyur Rahman al-Mubarakfuri dalam ar-Rahiqul
Makhtum-nya.
Meski benteng
Khandaq sudah lebih dari separuh mengelilingi Madinah, tapi sampai kapan kaum
Muslimin bisa bertahan. Bahaya orang-orang Yahudi dan munafik yang membaur
bersama mereka dalam kota Madinah, ibarat bom waktu yang bisa meledak kapan
saja tanpa bisa diprediksi. Untuk itu, harus ada cara bagi kaum Muslimin agar
bisa keluar sebagai pemenang.
Sejenak Nuaim
tersenyum.Sebuah ide cerdas menyeruak di benaknya. Buru-buru ia menemui
Rasulullah saw dan mengemukakan rencananya. Rasulullah tersenyum lalu menjawab,
“Usahakan agar musuh segera meninggalkan medan peperangan.Berbuatlah
semampumu.Perang itu tipu daya."Begitu mendapat restu, Nuaim segera
beraksi. Pertama-tama ia mendatangi Bani Quraizhah yang telah membuat
kesepakatan dengan kafir Quraisy untuk memerangi kaum Muslimin. Di kalangan
mereka, Nuaim termasuk tokoh berpengaruh.Mereka tidak mengetahui bahwa Nuaim
telah memeluk Islam.Nuaim membujuk mereka agar melepaskan ikatan persekutuan
dengan kafir Quraisy.“Janganlah kalian turut berperang sebelum mereka
memberikan orang sebagai jaminan pada kalian,” tambah Nuaim.
Setelah berhasil
meyakinkan Bani Quraizhah, secara diam-diam Nuaim menemui pasukan Quraisy.
Kepada mereka, Nuaim mengatakan bahwa Bani Quraizhah meminta jaminan yang akan
diberikan kepada Muhammad saw. Nuaim terus membujuk agar kafir Quraisy tidak
memercayai Bani Quraizhah.
Ketika tiba
saatnya penyerangan, Bani Quraizhah meminta jaminan kepada kafir Quraisy
seperti disarankan Nuaim. Sebaliknya, kafir Quraisy merasa apa yang dikatakan
Nuaim benar. Mereka tak mau menuruti permintaan Bani Quraizhah.Demikianlah,
Nuaim akhirnya berhasil memecah belah pasukan Ahzab.
Tindakan Nuaim
bin Mas'ud itu merupakan strategi jitu untuk mengalahkan musuh. Dalam bentangan
zaman, taktik ini tetap sering dipergunakan.Di Indonesia, strategi ini menjadi
senjata andalan Penjajah Belanda untuk mengabadikan cengkeraman jajahannya di
Tanah Air. Devide et impera. Pecah belah dan jajahlah atau adu domba dan
kuasailah, demikian slogan mereka.
Tentu saja
tindakan Nuaim bin Mas’ud dalam peristiwa Perang Ahzab itu tak bisa disamakan
dengan taktik licik Penjajah Belanda. Apa yang dilakukan Nuaim benar-benar
strategi cerdas tapi tetap memerhatikan adab-adab perang. Sebaliknya, Penjajah
Belanda selalu menggunakan cara-cara licik yang menghalalkan segala cara.
Mereka tak segan-segan mengadu domba antara anak dan ayah sehingga terjadi
pertumpahan darah.
Kini untuk
menghalau gerakan Islam, taktik licik itu kembali dipergunakan.Dalam skala
internasional, mereka memecah belah wilayah Islam menjadi beberapa negara.Lalu,
masing-masing negara itu diadu domba.Pada awal 1991 Kuwait dan Irak diadu domba
sehingga terjadi peperangan.Pada dekade sebelumnya, Iran dan Irak
“digosok-gosok” agar mau saling serang.Begitulah strategi mereka.Strategi belah
bambu. Satu diangkat yang lain diinjak.
Dalam skala
nasional, hal yang sama menimpa umat Islam. Politik pecah belah tak hanya
dilakukan antar partai atau lembaga Islam. Tapi, mereka juga melakukan politik
adu domba dalam satu partai yang sama. Ini yang menimpa sebagian partai Islam
sehingga beberapa partai Islam mengalami perpecahan.[Eman Mulyatman, Wahai Umat Islam, Jangan Mau
Diadu Domba!, Cybersabili, Kamis, 04
Maret 2010 10:29].
Kalaulah umat islam di Indonesia
bersatu maka banyak pekerjaan besar yang bisa dikerjakan untuk mensejahterakan
rakyat dan menegakkan keadilan bagi negeri, tapi bila perpecahan yang terjadi
maka tidak ada satupun yang bisa kita lakukan karena walaupun seribu orang yang
membangun maka akan hancur juga oleh seorang yang mengacaunya apalagi hanya
satu orang yang membangun sedangkan seribu orang yang lain meruntuhkan maka
berantakanlah bangunan itu, wallahu a’lam. [Bolai Indah Batam, 11 Rajab
1432.H/ 13 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar