Rasulullah hijrah
dari Mekkah ke Madinah dapatkah dikatakan takut dengan kafir Quraiys yang
selama ini mengintimidasi, teror dan tindakan lainnya melecehkan ummat islam.
Padahal beliau mampu bertahan di Mekkah selama 13 tahun menyebarkan fikrul
islami [pemikiran islam]. Berkat kesabarannyalah sehingga keberhasilan da’wah
itu menemukan titik terang di Madinah. Pernah satu ketika saat Amar bin Yasir
dianiaya oleh majikannya bahkan bapak dan ibunya telah dibunuh dihadapannya
sendiri, waktu itu Rasululah mendekati Amar, menepuk pundaknya sambil
berharap,”Sabar wahai Amar, syurga ditanganmu”.
Kalau saja ketika itu Rasul mengadakan perlawanan
terhadap tindakan kafir Quraisy tentu da’wah ini akan hancur sementara kekuatan
ummat islam belum tertata, buah dari kesabaran inilah yang mengantarkan Amar
bin Yasir memperoleh syurga kelak di akherat, Allah berfirman;
”Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama
mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi
lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan
tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang
sabar.’’[Ali Imran 3;146]
Dalam peperangan sekalipun seorang mukmin dituntut untuk sabar dengan
menyusun strategi perang yang jitu, kekalahan di medan jihad Uhud karena tidak
sabarnya pasukan pemanah menanti peperangan usai sementara ghanimah sudah
bertebaran di depan mata.
Negeriiniseolahtiadahentinyadideraberagamrupabencanaalam.Mulaibanjirbandang
yang menghantamWasior, Papua, gempadan tsunami yang
menimpaMentawaihinggaletusangunungMerapi di
Yogyakarta.Musibahataubencanaselalumelahirkankorban,
baikjiwamaupunharta.Selalumelahirkansimpatidanempatisesama, seberapa pun
kecilnya.Itulahkodratmanusiawitiapinsan yang memilikikepekaanhati.
Terlepasapapunkausalitasbencana,
entahujianatauazab;
selaluadaharapanuntukberbenahdiri.Selaluadakesempatanuntukmerubahperingaidanperilaku.Dan
salahsatusikapluhur yang perludilakoniadalahbersikapsabar.Sebagaimanadikatakan
Imam Hasan al-Banna, sabaradalahlelakumulia yang
dapatmenguatkanjiwahinggamampumenanggungsegalabebanderita.Menjadikannyarelamelawanberbagaikecenderungan,
perasaan, danhawanafsu.
Allah SWT berpesan, “Hai orang-orang yang
beriman, bersabarlahkamudankuatkanlahkesabaranmudantetaplahbersiapsiaga (di
perbatasannegerimu) danbertakwalahkepada Allah, supayakamuberuntung.” (QS
Ali 'Imran: 200).
Berapabanyakmusibah yang
menjadikecildanberapabanyakmalapetaka yang menjadiremeh di hadapanjiwa yang
agungnanluhur, sertaberapabanyakkondisisulit yang dilapangkanolehjiwa yang
jauhdarikeresahan.Orang-orang
alimmemandangkesabaransebagaisaranauntukmengangkatderajatdansebagaiujianuntukmengalihkanpelakunyadarisatukedudukankepadakedudukanlain
yang lebihtinggidanlebihbesar.
Merekamemandangberbagaimusibahsebagaisaranauntukmendapatkankaruniadananugerah
Allah,
sertameyakinibahwasemuakesulitanterlalukecildibandingkanpetunjuk-Nya.Seorangdarimerekaberujar,
“Pedihnyaujianmenjadiringanbagimulantaranpengetahuanmubahwa yang mengujimuituadalah
Allah SWT.Sebab yang membuatketetapan-ketetapanitumengarahpadamuadalahjuga yang
menunjukkankepadamuujian yang baik.”
Sabaradalahsalahsatukuncikebaikan
yang dengannyaberbagailimpahanpahalatercurahkan,
danmerupakansalahsatuguyuranhujanrahmat yang membawakebaikan yang melimpah.[SabarCyber Sabili, Senin, 22 November 2010 20:39 ChairulAkhmad].
Semua yang teRjadi di alam ini telah
ada ketetapannya. Tidak ada satu peRkaRa pun yang beRgeseR dan menyimpang daRi
apa yang telah ditetapkan AllOh subhanahu wa ta’ala. Allah telah menetapkan
takdiR seluRuh makhluk, semenjak lima puluh Ribu tahun sebelum penciptaan
langit dan bumi. Rasulullah shOllallahu ‘alaihi wa sallam beRsabda:
Allah telah menetapkan takdiR seluRuh makhluk lima puluh Ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. (HR. Muslim)
Dalam kaitan ini, maka wajib bagi seluRuh manusia untuk beRiman kepada takdiR Allah, yang baik maupun yang buRuk. Allahlah yang telah membagi Rezeki, menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji hamba-Nya, menentukan apakah seORang hamba teRsebut teRmasuk yang bahagia atau sengsaRa ketika di dunia. Allah juga telah menetapkan ajal seseORang, dan memastikan pula tempat tinggalnya di akhiRat kelak, suRga ataukah neRaka. Semua yang teRjadi adalah beRdasaRkan iRadah-Nya, kehendak Allah.
Kemudian, sebagaimana yang kita Rasakan, manusia hidup di dunia ini, tak peRnah lepas daRi kesusahan, kesengsaRaan dan kesedihan. Ini semua meRupakan ujian yang selalu datang silih beRganti. AllOh subhanahu wa ta’ala beRfiRman:
ARtinya: “Dan sungguh akan Kami beRikan cObaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelapaRan, kekuRangan haRta, jiwa dan buah-buahan. Dan beRikanlah beRita gembiRa kepada ORang-ORang yang sabaR.” (QS. Al BaqaRah/2: 155).
Hikmah yang bisa diambil dengan adanya beRbagai cObaan ini, ialah untuk membedakan antaRa ORang yang benaR dan ORang yang dusta dalam pengakuannya teRhadap keimanan kepada Allah. Allah beRfiRman:
ARtinya: “Apakah manusia itu mengiRa bahwa meReka dibiaRkan (saja) mengatakan: "Kami telah beRiman", sedang meReka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji ORang-ORang yang sebelum meReka, maka sesungguhnya Allah mengetahui ORang-ORang yang benaR dan sesungguhnya Dia mengetahui ORang-ORang yang dusta.” (QS. Al Ankabut /29:2-3).
Dengan adanya cObaan, maka seseORang akan mengetahui tentang diRinya dan hakikat keimanannya. SeseORang tidak bisa mengaku telah benaR-benaR beRiman kepada Allah, sebelum datang ujian kepada diRinya dan ia pun mampu untuk beRtahan dengan kesabaRan.
Ibnul Jauzi beRkata, “BaRangsiapa yang menginginkan selalu mendapatkan kekekalan dan kesejahteRaan tanpa meRasakan cObaan, maka dia belum memahami hakikat hidup dan penghambaan diRi kepada Allah.”
Begitu pula dengan seORang mukmin. Dia pun mendapatkan ujian, dan tidak lain kecuali sebagai taRbiyah, bukan sebagai siksa. Allah Subhanahu wa Ta’ala membeRikan ujian, baik dalam keadaan suka maupun duka.
ARtinya: “Dan Kami cOba meReka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buRuk-buRuk, agaR meReka kembali (kepada kebenaRan).” (QS. Al A’Raf /7: 168).
Sesuatu yang kita benci teRkadang membawa kebaikan, dan sesuatu yang kita sukai teRkadang beRujung dengan kesengsaRaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita dalam fiRman-Nya.
ARtinya: “BOleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bOleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buRuk bagimu;” (QS. Al BaqaRah/2: 216)
Setelah memahami, bahwa dunia ini penuh ujian, maka maRilah kita mempeRsiapkan diRi sebelum cObaan itu benaR-benaR datang. Yaitu dengan mempeRtebal keimanan kepada Allah. Sehingga saat menghadapi cObaan, kita tidak beRkeluh-kesah, dan semua akan teRasa Ringan. Kita haRus yakin, ujian atau musibah itu pasti ada akhiRnya. Jangan sampai musibah teRsebut membuat kita menjadi gelap mata, sehingga mulut mengeluaRkan peRkataan yang dapat membinasakan. Atau jangan sampai peRbuatan kita membuat diRi menjadi binasa. Ringankanlah setiap beban dengan selalu mengingat pahala dan Ridha yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah ORang-ORang yang sabaR dalam menghadapi musibah, ia dijanjikan Oleh Allah dengan pahala yang besaR, bahkan akan dilipatgandakan dengan yang lebih besaR lagi.
Jalan
keluar dari segala bencana dan ujian hidup itu hanya satu yaitu bersabar
menghadapinya, bila tidak sabar mau kemana kita lagi sedangkan musibah itu
tidak dapat kita mengelaknya karena segalanya akan datang dengan tiba-tiba.
Begitu juga dengan nikmat Allah tidak
dapat memprediksinya kapan akan kita peroleh, untuk bersabar atas
bencana dan musibah memang sudah watak manusia tapi hal luar biasa yang
terdapat pada pribadi manusia apabila mampu pula bersabar atas nikmat yang
diberikan Allah.
Kesabaraninilah yang akanmenjadikanmanusiasempurnadalamkehidupannya.
Kesabaraninilah yang akanmengantarkanmanusiamendapatkanridha Allah AzzaWaJalla.
Kesabaraninilah yang akanmenyebabkanmanusiamendapatkankemuliaandisisi-Nya.Bersabaratasnikmatiman yang telahdiberikanoleh Allah AzzaWaJallakepadakita. Bersabaratasnikmat Islam yang telahdiberikanoleh Allah AzzaWaJallakepadakita. Sabardenganiman yang kitamilikiini, kitaakanmenjadikekasih-Nya yang kekal. Takakannistahidupkita. Selamanya.
Dengannikmat Islam, danbersabardengannya, kitaakanmenjadimanusia yang hidupdenganlurus, mendapatkan ‘shirat’ (jalanlurus), takakanpernahtersesatselama-lamanya. MenjadikanpetunjukRabbaniyahitu, bagikehidupankita, makaakanmendapatkankebahagiandankedamaian. Takadacara lain, danmethodelain, yang dapatmengantarkankehidupan yang membawakepadakehidupan yang damaidantenteram, kecuali Islam.
Allah Ta’alaberfirman :
“Makabersabarlahsepertipararasul yang memilikiketeguhanitutelahbersabar.”(QS. al-Ahqaf [46] : 35)
Mereka yang memilikikesabarandanketeguhanadalahNuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad ShallahuAlaihiWaSallam.
Merekahamba-hamba-Nya yang memilikikesabarandanketeguhandalammemegangkeimanan, keislamanmereka.Merekasangatteguh.Tidakmudahberubaholehpengaruhlingkungan, kondisi, danfaktor-faktorkeduniawian.
Merekabenar-benarberpegangteguhdenganapa yang telahdiberikanoleh Allah AzzaWaJalla. Tidakada yang dapatmenggoyahkansikapmerekasedikitpun.Termasukbagaimanaketikamerekamenghadapitekanandanbujukan, merekatetapsabar.Merekahanyamemilihjanji-Nyadanridha-Nya.
Pribadi yang benar-benarmenjadiuswah,dankitaharusberitiba’ kepadaRasulullahShallahuAlaihiWaSallam, karenasifat-sifatnya yang memberikanpelajaran yang sangatluarbiasabagikehidupanseluruhumatmanusia.
BagaimanaBeliau yang telahmenggenggamkekuasaan.Beliautelahmemilikisegalanya.Segala yang diinginkanmanusia.Berupakehidupandunia.TetapiRasulullahShallahuAlaihiWaSallam, takpernahtersentuhhatinyadengansemua yang artifisialduniawi. Beliautetapbergemingdengandakwahnya.Inilahteladanmanusia yang sabar di mukabumi.
Abu Sofyanpernahmenawarkanpernik-pernikkehidupan.Kekuasan, harta, danperempuancantik, diantaraperempuanQurays, tetapiRasulullahShallahuAlaihiWaSallam, menolaknya. Tidakadakemuliaandengankehidupan yang artifisialberupadunia.Kekuasaan, harta, danperempuan, semuaitumemilikilimitasi, takpernahkekal.
Semuanyaakanberakhirdenganketentuan-Nya.
Rasulullahmemilih yang kekal, yang sempurna, dankenikmatan yang panjang,
tanpaakhir, yaitukehidupanakhirat.Janji-Nyadiyakinitakakanpernahselisih,
karenabukanjanjimanusia.[Mashadi, BersabarlahAtasNikmatnya, Selasa, eramuslim.com.
23/11/2010 13:02 WIB],
Seorang
mukmin dituntut untuk menerapkan sabar ini dalam seluruh asfek kehidupannya
dengan tidak menghilangkan ketegasan serta keberanian, secara prinsip kesabaran
itu diletakkan pada empat hal;
Pertama, Ash Shabru ’indal musyibah, artinya kesabaran
itu ditempatkan saat menerima musibah. Umumnya kehidupan manusia ini dihiasi
oleh dinamika ujian dan ujian, baik berupa kesenangan maupun kesengsaraan,
keberhasilan ataupun kegagalan,bahkan Allah menjadikan musibah ini sebagai
sunnatullah dalam kehidupan;
’’Dan sungguh akan
kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan
harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang
yang sabar.(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka
mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[Al Baqarah 2;155-156].
Kedua, Ash Shabru ’anil ma’siyat, artinya kesabaran itu
harus terujud saat berhadapan dengan maksiat. Yang dimaksud adalah segala
maksiat yang ada di hadapan seorang mukmin,dia harus berupaya untuk
menghindarinya sekaligus untuk menyingkirkan maksiyat itu dengan penuh
hati-hati, tidak boleh secara prontal dan emosional, Ibnu Taimiyah
berkata,”Jangan menghilangkan maksiat dengan emosional yang akhirnya akan
mendatangkan maksiat yang lebih besar”.
Ketiga, Ash Shabru ilat Tha’ah, artinya dalam menjalankan
ketaatan kepada Allah haruslah mengujudkan kesabaran, karena terlalu banyak
rintangan dan rongrongan yang datang kepada seorang mukmin ketika dia akan
mematuhi segala suruhan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Sabar yang
keempatadalahsabaratasbebandakwahkepada Allah.Sebabparada’imenuntutmenusia agar
membebaskandiridarihawanafsu, lamunan-lamunankosong, adatkebiasaanmereka,
memberontakkepadasyahwat, sembahannenekmoyang, tradisikaum, da
superioritaskelasatauketurunan, memberikansebagian yang merekamilikikepadasaudaranya,
danmematuhiketentuan-ketentuan Allah dalambentukperintahdanlarangan, halal dan
haram.
Sementarakebanyakanmanusiamenentangdakwah
yang dibawakanolehRasulullahshallahualaihiwasallam,
sepertimenghadapiperlawanan yang menggunakansegalabentuksenjata, harta,
kekuasaan, kekuatan, wibawa, pengaruhdansebagainya.
Tidakadajalan lain
bagiparada’ikecualiharusberpegangteguhdengankeyakinansertabersenjatakankesabarandalammenghadapikekuatandankekuasaantiran.
Sabar di sinisepertidikatakan Imam Ali ra, merupakanpedang yang takpernahtumpuldancahaya yang takbisaredup. Hal inisesuaidengan yang disebutkanhadistshahih,“Sabaradalahcahaya”.
Inilahrahasiadikaitkannyaantaratawashibish-shabridantawashibilhaqqidalamsurat
al-Ashr,Sabar di sinisepertidikatakan Imam Ali ra, merupakanpedang yang takpernahtumpuldancahaya yang takbisaredup. Hal inisesuaidengan yang disebutkanhadistshahih,“Sabaradalahcahaya”.
“Demi masa, sesungguhnyamanusiaitubenar-benarberadadalamkerugian, kecuali orang-orang yang berimandanmengerjakanamalshalihdannasehat-menasehatisupayamenetapikesabaran”. (QS. Al-Ashr [103] : 1-3)
Sebab, kebenarantidakdapatdipertahankankecualidengansabar.Jugamerupakanrahasiadikaitkannyakesabarandenganamarma’rufdannahimunkar di dalamwasiatLukman Hakim kepadaanaknya,
“Haianakku, dirikanlahshalatdansuruhlahmanusiamengerjakan yang baikdancegahlahmanusiadariperbuatan yang mungkardanbersabarlahterhadapapa yang menimpakamu.Sesungguhnya yang demikianitutermasukhal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Lukman [31] : 17)
Seolah-olahdiaberpesan, selamaengkaumenyerukepadamanusiakepadakebaikan, memerintahmerekamelakukan yang ma’rufdanmencegahmerekadari yang mungkar, makapersiapkanlahdirimu yang memerintahkankebaikandanmelarangkemungkaran.[Sheikh Yusuf Qardawi, BersabarlahAtasBebanDakwah, Eramuslim, Senin, 04/04/2011 09:48 WIB].
Dari sekian nabi dan rasul yang memiliki kesabaran
yang luar biasa sehingga Allah memuji mereka dengan sebutan ulul azmi, mereka adalah
nabi Nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa dan nabi Muhammad Saw, yang seharusnya
seorang mukmin mencontoh pribadi ini dalam kesabaran, wallahu a’lam[Baloi
Indah Batam, 11 Rajab 1432.H/ 13Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar