Kamis, 17 Desember 2015

93. Pemuda



Manusia  tidak bisa hidup  sendiri di dunia ini, kita perlu bantuan orang lain, kita perlu perhatian orang lain yang memberikan motivasi agar hidup lebih hidup, walaupun kelak kita menghadap Khaliq sendiri-sendiri dan tidak akan ada bantuan dari siapapun kecuali amal-amal yang kita lakukan di dunia. Saling membutuhkan hidup di dunia merupakan fithrah manusia, peduli kepada orang lain sangat dianjurkan oleh agama kita.

Bila Anda memiliki segelas teh, lalu disuruh memberikannya kepada orang di sebelah, tinggal berapa teh yang tersisa Anda miliki?Tinggal berapa?Demikian mudahnya.Kalau memiliki tiga diberikan satu, tentu tinggal dua.Kalau memiliki dua diberikan satu tentu sisa satu.Kalau hanya memiliki satu diberikan satu, ya habis, tentu saja.Tak bersisa.Itulah yang sering terbayang dalam benak kebanyakan orang.Hitung- hitungannya memang begitu.Namun benarkah demikian itu?

Ya, demikian keyakinan atau pengalaman sebagian orang. Bahwa memberikan apa yang dimiliki faktanya hanya akan membuat berkurang. Lain dengan investasi bisnis yang bisa diharap bagi hasilnya. Tapi kalau berbagi kepada fakir miskin dan yatim piatu, apa mungkin mereka bisa memberi imbalan hasil? Apa yang mau ditunggu? Sia- sia saja.Itulah yang terbayang.

Bayangan demikian itu membuat seseorang berat berbagi.Meski hartanya banyak, kalau disuruh bersedekah masih harus hitung- hitungan dulu.“Ini kan hasil jerih payah saya sendiri. Untuk apa harus dibagi dengan mereka yang kekurangan dan menderita? Peduli amat dengan nasib mereka,” demikian pikirnya.Benarkah cara pandang hidup demikian itu baik baginya?

Roda kehidupan terus berputar, kadang di atas kadang juga di bawah.Kemudahan dan kesulitan datang silih berganti. Bila keadaan lapang itu berubah menjadi sempit, siapa pun akan butuh pertolongan orang lain. Ia berharap ada orang yang peduli dan mau menolong dirinya.

Tapi bagaimana orang- orang di sekitarnya memperlakukan seorang yang bakhil itu?Bisa jadi masih ada yang berfikir, “Ah, untuk apa menolong orang yang bakhil seperti dia. Bukankah saat berlebih ia hanya memikirkan diri sendiri?Biarin saja agar tau rasa.”Si Bakhil akhirnya benar- benar merasakan kesulitan.Pintu- pintu tertutup.Ia terbelenggu oleh kebakhilannya sendiri.

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka.Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. (Ali Imran [3]: 180)

Saat dikaruniai Allah kekayaan lebih, sesungguhnya merupakan kesempatan seorang untuk berbagi dengan sesama.Itulah saat yang tepat menanam kebaikan.Tetapi hawa nafsu dan syaitan membisikkan manusia untuk lebih mementingkan diri sendiri dan cinta dunia.Mereka tidak peduli terhadap kesulitan hidup fakir miskin, yatim piatu, dan dhuafa. Mereka menganggap sikap bakhilnya itu akan membuatnya lebih baik. Padahal pada kenyataanya itu hanya akan menyempitkan jiwanya sendiri saja dan berakibat buruk baginya. Ia telah diperbudak oleh hartanya dan dikucilkan masyarakatnya.
  
Lepaskan jiwa dari belenggu dunia.Ingatlah sesungguhnya harta dan dunia ini adalah amanah- Nya agar kita berbagi dengan sesama.Janganlah kita menyumbat aliran rahmat- Nya dengan sikap tak mau berbagi. Bakhil hanya akan membelenggu diri. Apalagi saat roda kehidupan terhenti alias maut menjemput, harta yang telah menjerat jiwanya di dunia itu juga akan menjerat pula di akhirat. Naudzubillah.

Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran [3]: 180)
Hitung- hitungan dalam kehidupan itu ternyata tidak seperti anggapan orang di atas bahwa bila memberi akan berkurang. Misalnya saat Anda dan beberapa teman sedang bertamu. Oleh tuan rumah Anda disuguhi segelas teh. “Tolong Pak, minumannya diberikan teman sebelah.” Mungkin ada yang berpikir, “Kalau saya berikan, bagaimana bagian saya nanti?”Tapi begitu Anda memberikannya kepada teman sebelah, habiskah yang kita miliki? Ya, sejenak sepertinya apa yang kita miliki itu berpindah tangan. Tak bersisa. Namun tak seberapa lama tuan rumah memberi lagi. Ternyata dengan memberi bukannya habis tapi ada lagi pengganti. Saat kita memberikannya lagi pada teman lain yang belum mendapat bagian, tuan rumahnya memberinya lagi. Lagi dan lagi.

Kita hidup di dunia ini juga demikian.Ibaratnya kita sebagai tamu Allah.Kita lahir dalam keadaan telanjang dan tak membawa sehelai benang pun.Kemudian kita bisa hidup karena dicukupi dengan suguhan berbagai karunia dan rizki- Nya.Cukup makan, sandang dan papan. Pada saat kita berlebih, Allah memerintahkan kita bersedekah dan berbagi kepada hamba- hamba- Nya yang lain yang belum kebagian seperti kita.[Ust. Hanif Hanan, Indahnya Berbagi dengan Sesama, media ummat.com, Friday, 19 June 2009administrator].

            Selama ini kita baru mendidik diri kita menjadi orang yang shaleh dengan melakukan ibadah dan ketaatan kepada Allah, itu baik sebagai ujud keimanan seorang muslim, tapi makna shaleh bukan hanya itu saja, kita juga dituntut untuk menjadi pribadi yang shaleh secara social dengan memberikan bantuan, pertolongan, santunan dan kebaikan lainnya kepada orang lain.

Shalih dalam Alquran banyak diulang dalam beberapa ayat dan semuanya menunjukkan pada satu predikat, yaitu indikator keimanan seseorang.Rangkaian ayat dalam Alquran sering digabungkan antara “alladzina aamanuu” dengan “amilus shalihat.” Hal ini mengandung faidah bahwa antara iman dan amal shalih tidak bisa dipisahkan, bagai dua sisi mata uang (like two sides a coin), satu sama lain saling menyempunakan.

Dalam Kamus al-Munawwir (h.788-789), istilah Shalih mengandung makna al-Jayyid (bagus), al-Baar (sholeh), al-manfa’at (kemanfaatan), al-Ni’mat al-Waafirah (keni’matan yang sempurna), dan lain-lain.Semua istilah tersebut merujuk pada satu kata ‘kebaikan.’Tolok ukur kelakuan baik dan buruk mestilah merujuk kepada ketentuan Allah SWT.

Demikian rumus yang diberikan oleh kebanyakan ulama.Apa yang dinilai baik oleh Allah, pasti baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya, tidak mungkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan baik, karena kebohongan esensinya buruk.
Berbuat baik (amal shalih) tentu tidak cukup hanya untuk diri sendiri saja.Hal tersebut hanya memberikan kesan menjadi shalih secara individual, padahal Islam menganjurkan terwujudnya suatu sistem akhlak yang mengerucut pada predikat kesahalihan sosial (kolektif/jama’i).

Islam adalah sebagai sistem aturan (agama) yang berfungsi sebagai rahmatan lil ‘alamin.Karena itu, sasaran akhlak yang baik selain untuk diri sendiri juga untuk Allah SWT, sesama manusia, dan alam secara keseluruhan (M Quraish Shihab, 2000:261-273).

Perintah agama untuk berbuat kebaikan pada dasarnya merupakan washilah yang akan menghantarkan kita pada derajat keridhaan Illahi nanti di akhirat. Perintah dan dorongan berbuat baik itu datang dari Allah melalui para utusan-Nya.Namun sesungguhnya dorongan kepada kebaikan itu sudah merupakan “bakat primordial” manusia, bersumber dari hati nurani (nurani, bersifat nur atau terang) karena adanya fitrah pada manusia. Oleh karena itu berbuat baik merupakan sesuatu yang “natural” atau alami, karena dia tidak lain adalah perpanjangan nalurinya sendiri, alamnya sendiri, yang ada secara primordial, sejak seseorang dilahirkan ke dunia ini.

Maka jika Allah memerintahkan kita berbuat baik, sesungguhnya seolah-olah Dia hanyalah mengingatkan kepada kita akan “nature” kita sendiri, kecenderungan kita sendiri. Dengan kata lain, berbuat baik adalah sesuatu yang manusiawi, yang sejalan dan mencocoki sifat dasar manusia itu sendiri. Dengan sendirinya perbuatan jahat adalah melawan kemanusiaan, menyalahi sifat dasar manusia itu.

Karena itu, dari perspektif ini bisa disimpulkan bahwa perintah berbuat baik dari Allah SWT kepada kita bukanlah untuk kepentingan Allah sendiri. Dia Maha Kaya (al-Ghaniy), tidak membutuhkan pelayanan/service dari makhluk-Nya. Sebaliknya, ketika perbuatan baik dikerjakan manusia maka semuanya akan kembali untuk kebaikan manusia itu sendiri. Hal ini telah Allah tegaskan dalam QS Fushilat : 46, “Barang siapa berbuat baik, maka hal itu untuk dirinya sendiri; dan barang siapa berbuat jahat, maka hal itu adalah atas (kerugian) dirinya sendiri.”

Berbagai kajian ilmiah mengenai manusia telah mengukuhkan bahwa manusia yang reach out,  mengulurkan tangan untuk menolong orang lain, adalah orang yang bahagia. Jika suatu kali kita bertemu dengan orang yang membutuhkan pertolongan, kemudian kita menolongnya, sepintas lalu nampak seperti perbuatan kita adalah untuk kepentingan orang tersebut.Tetapi, dalam perenungan yang lebih mendalam, seuntung-untungnya orang yang kita tolong itu, tetap masih beruntung dan bahagia kita sendiri, justeru karena kita mampu menolong. Lebih lanjut, karena perasaan bahagia itu, kita akan mendapatkan dunia ini terasa lapang dan luas untuk kita disebabkan oleh lapang dan luasnya dada (jiwa) kita. Kita dibimbing oleh Allah, berkat perbuatan baik kita sendiri, kepada kehidupan yang luas,lapang dan penuh harapan (Nurcholis Madjid, 1999 : 186-187)

Inilah salah satu makna janji Allah SWT dalam firman-Nya QS. Al-Zumar : 10   “Katakanlah (Muhammad), “wahai-wahai hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas.Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pehalanya tanpa batas.”

Drs H Hamzah Ya’kub menyebutkan ada beberapa faktor penting dalam membentuk etika atau akhlak yang baik yang akan menghasilkan amal shalih. Dalam bahasa sekarang diistilahkan dengan pembentukan karakter (character building). Beberapa faktor tersebut antara lain : manusia (subjek), instink (naluri), Kebiasaan (habit), Keturunan (hereditas/nasab), lingkungan, ‘Azzam (tekad/motivasi kuat), Suara batin, dan pendidikan (tarbiyah).

Dengan kata lain, kesuksesan seseorang dalam beramal shalih akan banyak ditentukan oleh faktor-faktor tadi. Akan tetapi hal di atas bukan bermakna menafikan peran hidayah Allah SWT yang sudah menjadi sifat mutlak bagi makhluk-Nya.
Ketika sebagian besar saudara kita sedang membutuhkan pertolongan, maka seharusnya lah kita memberikan apapun yang kita mampu dan yang mereka butuhkan.Kepedulilan sosial kita mengindikasikan tingkat kecerdasan sosial kita (social intellegience).

Kita berusaha simpati sekaligus empati atas segala musibah yang sedang menimpa saudara-saudara kita. Sebaliknya, ketika tidak peduli dengan urusan saudaranya, Rasul SAW sampai memberikan ultimatum: “Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin yang lain, maka dia bukan dari golongan mereka.”[ Ihsan Faisal Mag, Keshalihan Sosial,
Republika OnLine,Rabu, 02 Maret 2011, 07:26 WIB].

            Keshalehan pribdi harus dikembangkan menjadi keshalehan kolektif artinya janganlah kita merasa senang dan bangga saja dengan keshalehan kita .sementara tidak ada upaya kita untuk mengajak orang lain menjadi shaleh pula, keshalehan pribadi perlu ditanamkan untuk kebaikan pribadi, keshalehan social dalam rangka merekrut dan menambah banyak orang-orang baik di sekitar kita, sedangkan shaleh social selain memberikan bantuan materi berupa santunan dari zakat, infaq dan shadaqah juta juga menjaga hubungan silaturahim dan ukhuwah islamiyyah.

Salah satu di antara tiga unsur kekuatan  yang menjadi karakteristik masyarakat Islam di zaman Rasulullah adalah kekuatan ukhuwah; di samping kekuatan iman dan kekuatan qudwah, keteladanan. Dengan tiga kekuatan ini, Rasulullah SAW membangun masyarakat ideal, memperluas Islam, mengangkat tinggi bendera tauhid, dan mengeksiskan umat Islam di atas muka dunia kurang dari setengah abad.

Satu hal yang pasti, di antara ranah kebahagiaan dan ke-izzah-an Islam bisa kembali kita jejaki ketika hidup dengan jalinan ukhuwah yang mampu menepikan riak kebencian dan perselisihan.Dan ranah ini bisa didapat setelah berupaya saling mengenal."Jiwa-jiwa manusia ibarat pasukan.Bila saling mengenal menjadi rukun dan bila tidak saling mengenal timbul perselisihan." (HR Muslim).
Namun, satu peristiwa perkenalan belum cukup.Butuh interaksi secara alamiah.Setelah itu, waktu dan kualitas pertemuanlah yang menentukan.Apakah perkenalan berlanjut pada persaudaraan.Atau sebaliknya.Dan keinginan kuat untuk bersaudara mesti diutamakan dari sekadar kenal.Terlebih persaudaraan karena iman dan takwa (baca QS al-Hujurat [49] ayat 13).

Proses mengenal adalah sebuah tahapan, bukan sesuatu yang akhir. Karena kehidupan adalah arus besar yang terus bergerak, berubah, dan berganti.Termasuk pada sikap dan karakter. Boleh jadi, seseorang bisa terheran-heran dengan perubahan teman lama yang pernah ia kenal. Karena ada yang beda dengan fisik, sikap, karakter, bahkan keyakinan.
Perubahan-perubahan itulah yang mengharuskan seorang mukmin senantiasa menghidupkan nasihat.Mukmin yang baik tidak cukup hanya mampu memberi nasihat.Tapi, juga siap menerima nasihat. Dari nasihat inilah, hal-hal buruk yang baru muncul dari seorang teman bisa terluruskan (baca QS al-'Ashr [103] : 1-3).
Berburuk sangka memang tidak dibenarkan. Tapi, ketika faktanya demikian dan bahkan sudah juga dinasihati,  kewaspadaan mungkin jadi pilihan. Karena tidak tertutup kemungkinan, keburukan bisa menular.Paling tidak, agar tidak kecipratan bau busuk temannya.
Rasulullah SAW bersabda, "Kawan pendamping yang saleh ibarat penjual minyak wangi. Bila dia tidak memberimu minyak wangi, kamu akan mencium keharumannya. Sedangkan kawan pendamping yang buruk ibarat tukang pandai besi.Bila kamu tidak terjilat apinya, kamu akan terkena asapnya." (HR Bukhari).
Waspada tidak berarti memutus pertemanan.Apalagi menyebar hawa permusuhan dan kebencian.Karena boleh jadi, sifat buruk bisa berubah baik.Sebagaimana, baik menjadi buruk.Kontribusi sebagai seorang teman mesti terus mengalir. Paling tidak, dalam bentuk doa.

Ada beberapa buah berukhuwah yang bisa kita nikmati.Pertama, ta'aruf; saling mengenal.Kedua, tahaabub, saling cinta. Ketiga, tafaahum,  saling memahami. Keempat, tanaashuh, saling menasehti.Kelima, takaarum, saling menghormati.Keenam, ta'awun, saling menolong. Ketujuh,  tahaadu, saling memberi hadiah. Kedelapan, tadaa'u, saling mendoakan. Kesembilan, tahafudz, saling menjaga nama dan kehormatan saudara dan tidak saling menjatuhkan. Kesepuluh, tazaawur, saling mengunjungi; dan kesebelas, tashaluh, saling mendamaikan [Ust.Muhammad Arifin Ilham, Buah Ukhuwah, Republika online, Senin, 18 April 2011 20:15 WIB].

Bencana alam yang silih berganti menimpa negeri ini semoga semakin menyadarkan kita tentang kekuasaan Allah SWT.Semakin menyadarkan keterbatasan dan ketidak berdayaan manusia di hadapan semua kehendak dan keputusan-Nya.Tidak ada lagi tempat bagi kesombongan, pembangkangan dan penolakan terhadap kehendak-kehendak Allah SWT.Tidak ada lagi ruang di hati ini untuk menghindar dari ketentuan ketentuan-Nya.
Tunduk dan taat, ridha dan ikhlas, sabar dan tawakkal menjadi ungkapan iman yang paling aktual, ketika ujian itu datang. Musibah itu akan berubah menjadi peluang perbaikan iman dan peningkatan martabat di sisi Allah. SWT.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. 156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" 157. mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.[QS. Al Baqarah 2;155].
Iman dan tauhid yang ada dalam jiwa harus diaktualkan dalam kehidupan kemanusiaan berdasaran pada nilai tauhid dan keimanan.
Ibadah haji disyariatkan bagi umat ini, diantara pesan tekstual yang Allah sampaikan adalah agar mampu memberikan manfaat bagi sesama manusia.

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus[ yang datang dari segenap penjuru yang jauh, 28. supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.[QS. Al Hajj;27]

Nilai kemanusiaan dalam ibadah qurban sudah sangat jelasa dan gambling.Aktualisasi taqwa yang memberikan manfaat dan kegembiraan bagi orang-orang di sekitarnya.

“dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam Keadaan berdiri (dan telah terikat). kemudian apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. QS. Al Hajj;36]

Solidaritas dan soliditas sosial begitu kuat bagi umat ini ketika bencana itu datang.Perhatian dan empati kepada sesama datang dari semua arah dan sisi.Satu fakta yang menegaskan bahwa harmoni kehidupan itu dalam solidaritas dan soliditas.Berbagi dan berempati adalah bukti kemanusiaan.Tolong menolong adalah pilar peradaban. Sifat egois, tidak peduli kepada orang lain adalah cacat perdaban.
Inilah poin penting yang perlu kita garis bawahi, kepedulian kepada sesama, tidak melakukan perbuatan yang membuat celaka dan bahaya bagi orang lain.

Ketika menjadi anak ia pandai membahagiakan orang tua, tidak membuatnya susah dan menderita, menjadi kebanggaan dan pelita hati mereka.
Jika manusia wafat, terputus semua amalnya kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakannya
Ketika menjadi suami, pandai membahagiakan istri dan anak-anaknya, tidak melakukan perbuatan yang mengganggu perasaan dan eksistensinya, demikian juga ketika menjadi istri, ia pandai membahagiakan suami, dan anak-anaknya, menyayangi mereka dengan penuh cinta.
Orang beriman yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik baik keluarganya.
Ketika menjadi tetangga, ia adalah tetanga yang baik yang tidak menjadi ancaman bagi tetangga lainnya, mampu menghadirkan rasa aman dan kehormatan bagi tetangga di sekitarnya. Menjauhi segala tindakan dan perbuatan yang mengganggu apalagi melukainya
Tidak hentinya Jibril mewasiatkan kepadaku tentang tetangga sehingga saya menduga bahwa ia akan memberikan warisan kepadanya.
Ketika menjadi pejabat ia berguna bagi rakyatnya, tidak melakukan perbuatan yang merugikan, memberatkan, apalagi mendzaliminya.

Marilah kita perkuat solidaritas dan soliditas keummatan, kebangsaan dan kemanusiaan kita. Hubungan yang dibangun di atas landasan iman dan taqwa, dihiasi dengan akhlak mulia yang tertuang dalam pola saling menghargai dan  menghormati, memahami perbedaan sebagai sebuah kenyataan, tidak untuk dibenturkan tetapi keniscayaan yang harus diterima dan dikelola dengan sebaik-baiknya.[H. Muhith Muhammad Ishaq, Lc. MPdI, Khutbah Idul Adha 1431 H: Tauhid dan Kepedulian, eramuslim.com. 4/11/2010 | 27 Zulqaedah 1431 H].
            Dalam kehidupan bermasyarakat ujud peduli kepada orang lain itu berupa solidaritas yaitu memberikan kesempatan kepada orang lain, memperhatikan orang lain apa keinginannya tanpa ada tekanan, toleransi juga bentuk kepedulian kepada orang lain untuk melakukan kerja-kerja kebaikan sesuai dengan keyakinannya tanpa terganggu dengan keinginan siapapun, memperhatikan nasib orang lain artinya peduli terhadap sesama, kadangkala dalam dunia yang penuh dengan kesibukan, mengejar rezeki dengan berbagai aktivitas bisnis menjadikan orang lupa untuk memperhatikan orang lain, itulah makanya Rasul memperingatkan ummatnya dengan ayat-ayat untuk memancing kembali sifat peduli kita kepada mereka seperti anak yatim, orang miskin,para janda, orang-orang terlantar, untuk peduli kepada orang lain memang sesuatu yang positif,  wallahu a’lam    [Joo Chiat Complex Singapura,  08 Rajab 1432.H/ 10 Juni 2011.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar