Diantara janji
Allah yang disebutkan dalam Al Qur'an
yaitu bahwa ummat islam ini adalah ummat yang terbaik dibandingkan
ummat-ummat lainnya; "Kamu adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang
munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu
lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan
mereka adalah orang-orang yang fasik" [Ali Imran 3;110].
Dari ayat diatas Allah
menyatakan bahwa ummat terbaik itu adalah ummat
islam, padahal kenyataannya sejak zaman dahulu seperti ketika kita
dizaman Belanda, dalam penjajahan yang lamanya 350 tahun demikian pula
negara-negar islam lainnya dalam jajahan bangsa lain, kinipun ummat islam
selalu ditindas seperti di Bosnia, Kashmir, Moro, Pattani dan Palestina. Dengan
kenyataan ini apakah janji Alalh itu tidak tepat sehingga dimana-mana ummat
islam selalu dihina dan dianiaya? Padahal diunkapkan dalam beberapa ayat tentang
kepastian janji Allah; " Hai manusia, Sesungguhnya janji
Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan
kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu
tentang Allah" [Fathir 35;5]
"Sesungguhnya
apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi" [Al Mursalat 77;7]
Ada kemungkinan Allah
belum menepati janji-Nya karena kesalahan ummat islam sendiri, tidak mau
menagih janji itu dan tidak mau berbuat yang maksimal untuk menggapai jani itu,
namun demikian Rasulullah mempunyai
sebuah prediksi tentang akan munculnya generasi terbaik itu sebagaimana sabda
beliau berikut ini;
"Sebaik-baik
generasi adalah pada abadku, kemudian abad yang berikutnya, kemudian yang
berikutnya, kemudian setelah itu akan ada satu kaum yang maju menjadi saksi
walaupun tidak diminta, dan berkhianat
tidak amanah, kalau bernazar tidak menepati, dan tampak mereka itu gemuk badan
dan besar perutnya" [HR. Bukhari dan Muslim]
Dari
hadits diatas tergambar bahwa generasi terbaik itu adalah selama 300 tahun
yaitu selama tiga abad;
1.Hidup pada masa nabi
dan sahabat
Inilah generasi pertama yang beriman dan
mengamalkan islam dengan baik, mereka bergaul dengan Rasul, berjihad bersama
nabi dan mengembangkan da'wah islamiyyah hingga ke pelosok dunia, generasi
ini berlansung selama satu abad yaitu
seratus tahun. Diantara sahabat nabi yang tercantum dalam sejarah seperti Abu
Bakat Ash Shiddik, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Bilal
bin Rabah, Mushaib bin Umair, Zaid bin Haritsah dan lain-lain; "Orang-orang
yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan
anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada
mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka
surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka
kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar".[At Taubah
9;100]
2.Generasi Thabi'in
Generasi ini adalah orang-orang yang tidak bertemu
dengan nabi tapi mereka bertemu dengan sahabat, mereka menerima islam masih
murni sebagaimana dizaman nabi, merekapun siap mengembangkan islam, berjihad
dan menegakkan agama Allah, generasi ini berlansung selama seratus tahun.
3.Generasi Thabi'it
Thabi'in
Generasi ini adalah orang yang tidak bertemu dengan
sahabat tapi mereka bertemu dengan thabi'in, walaupun begitu tidak terasa
begitu jauh jaraknya dengan nabi karena semangat islam yang tertanam di hati
mereka, iman dan amal mereka masih kuat dan mantap sebagaimana semangat para sahabat
dan thabi'in. Generasi ini berlansung selama tigaratus tahun. Setelah tiga
ratus tahun berlalu karena panjangnya perjalanan da'wah yang dilalui akan
muncul generasi yang rusak tampil ke
panggung sejarah dengan karakter;
1.Kaum yang
jadi saksi tanpa diminta.
Mereka adalah saksi-saksi palsu, yang siap sebagai
saksi walaupun tanpa diminta dan bukan untuk menegakkan keadilan. Pada
persidangan yang berlansung adalah yang salah menjadi benar dan yang benar akan
dibenamkan dalam penjara, undang-undang seperti sarang laba-laba, banyak
ditabrak serangga besar tapi yang terjaring serangga kecil. Pada setiap
pengadilan akan terjadi markus, mafia markus, hukum ketika itu dipermainkan
oleh para penjual saksi demi segelintir kenikmatan dunia.
2.Orang-orang
yang berkhianat
Ketika itu akan ada orang-orang yang berkhianat
ketika amanah itu dipercayakan kepadanya padahal Allah memerintahkan kita untuk
menjadi orang yang amanat, Firman Allah dalam surat An Nisa 4;58 "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila
menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat"
Apalagi seorang pemimpin dia harus mampu mengujudkan amanat ke
tengah-tengah ummatnya, bila pemimpin berlaku curang berarti dia telah
mengkhianati rakyatnya dan itu belum selesai, dia jadi pemimpin dituntut untuk
menegakkan amanah, maka bila dia mengkhianati amanat berarti dia telah mengkhianati Allah; " Dan Tuhanmulah
yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. jika dia mengazab mereka Karena
perbuatan mereka, tentu dia akan menyegerakan azab bagi mereka. tetapi bagi
mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali
tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya" [Al Kahfi 18;54]
3.Bernazat tapi
tidak menepati
Mereka adalah orang-orang yang menginginkan sesuatu
berupa apasaja yang dikehendaki, untuk memantapkan keyakinannya maka mereka
bernazar kepada Allah, dikala yang diminta itu diperoleh mereka melupakan untuk
menepati nazar tersebut. Walaupun bernazar tidak dilarang dalam islam dan
tidak akan merubah taqdir tapi sebaiknya bila bernazar maka bernazarlah yang
mungkin bisa dilakukan dan segera menunaikannya selama bernazar menyandarkan
kepada keberadaan Allah bukan bernazar kepada yang lain; "Janganlah
kalian bernazar, karena sesungguhnya nadzar itu sedikitpun tidak dapat
mempengaruhi perubahan taqdir, dan hanyasanya nadzar iru dikeluarkan oleh orang
yang pelit" [HR. Muslim dan Turmizi]
4.Badan yang
gemuk dan perut yang besar
Ini adalah kecendrungan kehidupan yang senang
karena harta dan kemewahan diraih dengan cara apa saja, ini juga gambaran
orang-orang yang tamak dan rakus.
Sebuah ungkapan mengatakan, dikala seseorang punya
jabatan yang paling rendah, dia hanya mampu berkata, ”Apa makan kita sekarang?”, sudah bisa memilih lauk pauk dan pangan
untuk setiap makan, statusnya mulai diperhitungkan orang dengan posisi dan
fasilitas yang dimiliki, diapun bertanya lain, ”Makan dimana kita sekarang ?”, tidak puas hanya menikmati masakan
isteri tersayang, tapi rumah makan dan restoran silih berganti jadi
langganannya, dia sudah bisa memilih rumah makan model apa yang harus
dikunjungi untuk pejabat seperti dia.
Bukan itu saja, saat posisi itu betul-betul kuat,
titelnya membuat orang takut, jabatannya membuat orang salud, diapun bertindah
sewenang-wenang dengan mengatakan, ”Makan siapa kita sekarang?”, tidak masalah
walaupun rakyat kecil yang didera oleh kesusahan dan kepedihan hidup jadi
sasaran tembaknya. Itulah gambarannya arogansi kekuasaan yang tidak
dikendalikan oleh iman, bangsa sendiri dimakan, bila perlu anak kemenakan
sendiri ditelan demi kekuasaan.
Dalam
surat Ali Imran 3;110 Allah membuka peluang kepada ummat ini untuk menjadi
generasi terbaik tanpa pandang waktu dan masanya dengan segala kewajiban yang
harus ditunaikan; "Kamu adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang
munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu
lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan
mereka adalah orang-orang yang fasik" [Ali Imran 3;110].
Pada ayat diatas
tergambar bahwa kalau ingin menjadi ummat dengan generasi terbaik harus ada
tiga hal yaitu amar ma'ruf, nahi mungkar dan iman;
1.Beriman Yang
Sebenarnya kepada Allah
Keimanan ummat islam baru sebatas dimulut melalui
Kartu Tanda Penduduk dan formalitas belaka, padahal iman itu harus diujudkan
pada tiga hal yaitu terhunjam di hati nurani, terucapkan melalui lisan dan
teraplikasikan melalui amal-amal perbuatan.
Seorang mengaku beriman kepada Allah tidaklah mudah demikian saja
ucapan iman dilafadzkan tetapi perlu adalah realisasi atau ujud nyata dari
keimanan tersebut. Seharusnya begitu seseorang menyatakan diri sebagai muslim
maka harus terjadi pada dirinya celupan atau warna yang sesuai dengan kehendak
Allah yaitu aqidah yang salimah, ibadah
yang shahihah, salamatul fikrah dan matiinul khuluq [aqidah yang bersih, ibadah
yang sehat, pemikiran yang jernih dan akhlak yang baik].
Bila keimanan
ummat islam belum lagi yang diharapkan Allah maka sungguh janji Allah tidak
akan bisa diraih oleh ummat ini, posisi terbelakang, mundur dan tidak
berkembang akan tetap disandang selama iman belum dibenahi.
2.Beramar ma'ruf;
mengajak kepada kebaikan
Ketika Rasulullah wafat setelah
menyampaikan ajaran islam selama lebih kurang 23 tahun dengan segala suka dan
duka dengan segala pengorbanan, maka tanggungjawab da’wah selanjutnya dipikul
oleh ummat beliau yang disebut dengan da’i, mubaligh, ustadz atau ulama sebagai
penerus estafet perjuangan agama islam. Kewajiban ini dipikul sebagai amanat
dari Allah dan Rasulullah yang termaktub dalam Al Qur’an dan Hadts, Allah
berfirman; ”Serulah manusia kepada jalan
Tuhanmu dengan hikmah dan berilah nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan
cara yang baik...” [An Nahl 16;125].
Misi da’wah seorang da’i
adalah mengajak seluruh manusia ke jalan kebenaran, tidak dibenarkan seorang
da’i mengajak orang kepada organisasinya atau kepartainya, tapi ke jalan
Tuhanmu, yaitu jalan Allah. Karakteristik da’wah menyatakan, ”Islamiyyah qabla jam’iyah” artinya da’wah itu berorientasi
kepada mengajak orang untuk mengamalkan islam, menjadikan seseorang sebagai
pribadi muslim yang militan, mengislamkan dahulu pribadi manusia setelah itu
terserah akan ditempatkan diorganisasi atau lembaga mana. sekarang ini terbalik
menjadi ”Jam’iyyah qabla islamiyyah” mendahulukan orang
untuk masuk ke sebuah organisasi, yayasan atau partai sesuatu, setelah itu baru
diberi pelajaran islam, setelah itu baru akan dipaksakan untuk mengamalkan
islam, sehingga terkesan organisasi, yayasan dan partai dengan simbol islam
tapi jauh dari nilai-nilai islam, karena langkah awalnya telah jauh melenceng
dari koridor da’wah.
3.Bernahi mungkar;
melarang dari yang mungkar
Untuk mengajak ummat kepada kebaikan sedikit sekali
resikonya tapi ketika melarang orang dari perbuatan mungkar jelas ada resikonya
tapi hal ini harus dilakukan sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah; "Barangsiapa
yang melihat kemungkaran maka hendaklah mengubah dengan tangannya, apabila
tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan
itulah iman yang paling lemah" [HR. Muslim]
Kewajiban kita untuk
menjadikan diri kita, keluarga dan masyarakat menjadi generasi terbaik,
walaupun kita tidak pernah hidup dizaman nabi tapi kita mendapat tiga
kebahagiaan sebagaimana sabda beliau,"Berbahagialah, berbahagialah,
berbahagialah bagi orang yang tidak pernah melihatku tapi mereka beriman
kepadaku". Tapi bila sebaliknya, kita jauh dari agama ini maka akan muncul
generasi lain yang akan menggantikan kita. Sepanjang sejarah kehidupan
manusia sudah banyak dicontohkan Allah dalam Al Qur'an tentang hancurnya sebuah
generasi seperti kaum 'Ad, Tsamud dan Bani Israel karena mereka mengingkari
ajaran Allah; "Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi
yang Telah kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) Telah kami
teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah kami
berikan kepadamu, dan kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan kami
jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, Kemudian kami binasakan mereka Karena
dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain"
[Al An'am 6;6]
Proses
istibdal [penggantian] generasi kepada generasi yang lebih baik, juga akan
dialami oleh ummat islam bila melakukan/ bertindak sebagai berikut;
1.Riddah/ murtad
Murtad bukan sebatas meninggalkan islam lalu masuk
agama lain, tapi sebenarnya murtad itu memiliki pengertian yang mencakup;
a.
I'tikad/ keyakinan; tidak yakin dengan islam
b.
Perkataan; ucapan yang jauh dari nilai-nilai islam
c. Prilaku; sikap yang tidak islami
d.
Melanggar perintah Allah
" Hai
orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya,
Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan
merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin,
yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah,
dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia
Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas
(pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui" [Al Maidah 5;54]
Bila kita
telah meninggalkan islam sebagian saja berarti kita telah keluar dari tatanan
kehidupan islam
2.Meninggalkan jihad
Salah satu jati diri orang yang beriman ialah
mujahadah yang disebut juga dengan jihad. Jihad artinya suatu usaha yang
sungguh-sungguh dalam urusan dunia baik urusan agama atau urusan dinas yang
mengorbankan waktu, tenaga, fikiran dan hartanya untuk jihad fisabilillah.
"Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa
kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan
kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu"[Al Maidah 5;54]
3.Berpaling dari infaq
fisabilillah
Nilai lebih manusia dapat berupa harta, ilmu dan
kedudukan. Bila si pemilik nilai lebih hanya memperbesar perut dan
kesenangannya saja berarti dia telah mengabaikan seruan Allah dan Rasul-Nya.
Islam tidak menginginkan harta kekayaan hanya beredar pada satu kaum atau
golongan saja, akan tetapi islam memberikan jalan keluarnya yang layak diikuti
bagi orang-orang yang telah meyakinkan kebenaran Risalah-Nya. "Ingatlah,
kamu Ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah.
Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir Sesungguhnya dia
hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan
kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling
niscaya dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan
seperti kamu ini"[Muhammad 47;38]
4.Menyia-nyiakan Shalat
Saat ajal akan menjemput Rasulullah maka ada tiga
kata yang beliau ucapkan secara berulang-ulang yaitu Ash Shalat, An Nisa' dan
Ummati, artinya shalat, wanita dan ummatku. Shalat disampaikan Rasul dikala
ajal menjemput sebuah isyarat agar ummat ini menjaga shalat khususnya yang lima waktu itu, jangan
disia-siakan karena letak keislaman seseorang masih terpelihara dikala shalat
masih terjaga dan bila shalat telah diabaikan maka diragukan keislaman
seseorang.
"Mereka
itu adalah orang-orang yang Telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi
dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang kami angkat bersama Nuh, dan
dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang Telah kami beri
petunjuk dan Telah kami pilih. apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha
Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. Maka
datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan
memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,
Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, Maka mereka itu akan
masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun" [Maryam
19;58-60]
Demikianlah keberadaan orang-orang beriman di
dunia ini, dituntut agar selalu menjaga imannya dalam rangka memakmurkan bumi
ini karena memang dunia ini hanya diwariskan kepada orang-orang yang beriman,
sehingga dikala kita telah keluar dari garis islam yang lurus, bila kita telah
tidak lagi konsisten dan tidak lagi konsekwen terhadap nilai-nilai Ilahi maka
Allah akan mengganti kita dengan generasi baru, semoga kita adalah generasi
yang menggantikan bukan generasi yang digantikan, itulah makanya nasehat,
wasiat dan da'wah harus selalu digelar sejak dari rumah tangga hingga ke
masyarakat luas, sebagaimana yang dilakukan oleh Lukmanul Hakim yang mencetak
anaknya menjadi negerasi terbaik pada masanya.
Sebagai seorang pendidik yang sangat bijak, nama Lukman Al Hakim tercantum
dalam Al Qur'an bahkan butir-butir wasiatnya diabadikan Allah dalam surat
Lukman ayat 13-18 diantaranya;
1.Jangan
menyekutukan Allah "Hai anakku, janganlah
kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar".
2.Berbuat baik
kepada kedua orangtua "Dan
kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya;
ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun"
3.Bersyukur
kepada Allah dan berterima kasih kepada orangtua "bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu
bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu"
4.Berakhlak
mulia walaupun orangtua musyrik "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang
tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya,
dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik"
5.Mengikuti
jalan orang yang benar "dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan
kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.
6.Allah akan
membalas segala perbuatan walaupun kecil. " (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada
(sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit
atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya).
Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
7.Mendirikan
shalat "Hai anakku, Dirikanlah shalat"
8.Beramar
ma'ruf dan nahi mungkar "dan
suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan
yang mungkar"
9.Sabar atas
segala yang menimpa "dan Bersabarlah terhadap apa
yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang
diwajibkan (oleh Allah).
10.Jangan
berpaling dari manusia "Dan
janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)"
11.Jangan
angkuh "dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri."
12.Sederhana dalam berjalan "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan "
13.Lunakkan bahasa ketika bicara "dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk
suara ialah suara keledai".
Demikian pentingnya wasiat atau
nasehat untuk generasi sebagai pegangan dalam hidupnya kelak, kalau siang
dijadikan sebagai tongkat dikala malam dijadikan sebagai suluh, sampai Rasul
menyampaikan bahwa "Din Nasihah" agama itu adalah nasehat,wallahu
a'lam [Cubadak Solok, 18 Ramadhan 1431.H/ 28 Agustus 2010]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar