Secara umum perbuatan dosa terbagi menjadi
dua, yang pertama adalah dosa besar. Rasulullah dalam beberapa haditsnya secara ekspisit menjelaskan sejumlah
dosa yang termasuk dalam kategori dosa besar. Seperti syirik, sihir, memakan harta riba, durhaka
kepada orangtua, saksi palsu dan sebagainya. Dosa seperti ini, bila sipelaku tidak sempat
bertaubat, akan mendatangkan balasan yang berat dan pedih dari Allah SWT.
Artinya, taubat dari dosa besar, masih mungkin dilakukan selama yang
bersangkutan sungguh-sungguh meninggalkan perkara dosa tersebut.
Disamping dosa besar, ada pula dosa kecil.
Umumnya sedikit orang yang memperhatikan dosa kecil ini sebagai suatu kemaksiatan. Padahal ampunan Allah
terhadap hamba-Nya yang melakukan dosa, selama tidak dilakukan berulang, lebih
besar kemungkinan terkabulnya dibandingkan ampunan terhadap dosa kecil yang
dilakukan kembali secara berulang-ulang.
Dosa yang dilakukan dianggap kecil akan
menjadi besar oleh Allah, sebaliknya bila dosa dianggap besar, maka ia akan
menjadi kecil dalam penilaian Allah, Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya seorang
mukmin itu melihat dosa-dosanya sepertinya ia berada di bawah gunung besar yang
ia takut menimpa dirinya. Sementara orang yang banyak dosa itu adalah orang
yang melihat dosanya seperti lalat yang ada di hidungnya. Kemudian ia katakan
begini [meremehkan].
Anas bin Malik Ra, diriwayatkan oleh
Bukhari menyebutkan hadist,”Sesungguhnya kalian akan melakukan suatu amal yang
dalam pandangan kalian amalan tersebut lebih kecil dari rambut, sementara kami
menganggapnya dizaman Rasulullah sebagai dosa besar”.
Bilal bin Rabah mengatakan,”Jangan
memandang kecilnya suatu kemaksiatan, tetapi lihatlah pada kebesaran Zat yang
engkau lakukan maksiat terhadap-Nya”.
Kita sering mendengar kata
"Dosa" dalam perbincangan
sehari-hari, namun pengertiannya adalah; ''Dosa adalah apa yang tergetar di hatimu dan engkau
tidak senang kalau orang lain mengetahuinya' [HR.Muslim].
Dosa adalah akibat melanggar
larangan Allah baik disengaja ataupun tidak, baik besar ataupun kecil. Larangan
Allah yang dilakukan manusia dapat merusak pribadi, keluarga dan masyarakatnya.
Ada beberapa akibat berbuat dosa yaitu;
1.Melanggar
perjanjian dengan Allah
Sejak dahulu sudah ada perjanjian manusia dengan
Allah bahwa mereka akan menjadi hamba yang taat, menyembah Allah dengan segala
kemampuan; ''Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak
Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab:
"Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang
demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya
kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan
Tuhan)",[Al Baqarah 7;172]
Tapi yang namanya perjanjian di alam ruh,
sedangkan perjanjian di dunia saja manusia cendrung lupa dan melupakan sehingga
terjadilah pelanggaran perjanjian itu yang menyebabkan rusaknya hubungan dengan
Allah dan akan menerima kelak akibat pelanggaran itu sebagai dosa yang akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah di akherat.
2.Merusak iman
Iman yang terpelihara dengan baik adalah iman yang
mampu terjauh dari perbuatan dosa, dosa dapat merusak iman seseorang, Rasulullah
bersabda; "Barangsiapa yang berzina atau minum khamar, mencabut Allah
akan imannya, sebagaimana seseorang melepaskan bajunya melalui kepalanya"
[HR. Thabrani] "Barangsiapa minum arak maka keluarlah iman dari rongga
hatinya" [HR. Thabrani]
3.Menjatuhkan
martabat manusia
Manusia adalah makhluk Allah yang diberi beberapa
kelebihan dibandingkan dengan makhluk lain. Kelebihan itu diantaranya; manusia adalah makhluk Allah
yang terbaik dibandingkan makhluk yang lain; "Sesungguhnya kami Telah menciptakan
manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya " [At Tin 95;4]
Manusia
adalah makhluk Allah yang termulia dibandingkan makhluk ciptaan Allah
yang, kemuliaan itu terbukti diberikan Allah fasilitas untuk hidup di dunia; "Dan
Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan
dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan
mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami
ciptakan" [Al Isra' 17;70]
Manusia adalah
makhluk Allah yang dipercaya untuk memegang amanah sehingga keimanan dapat
terjaga dengan baik, bila amanah sudah dikhianati karena mencampurkan iman
dengan kekafiran dan kenifakan maka akan merendahkan posisi manusia. Posisi
yang jatuh kepada kerendahan martabat karena berbuat dosa, akan kembali baik
bila bertaubat dengan sungguh-sungguh. "Sehingga
Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang
musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima Taubat
orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. dan adalah Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang ' [Al Ahzab 33;73]
Manusia adalah
makhluk Allah yang tersayang dengan memberikan segala apa yang ada di langit dan di bumi untuk kesejahteraan
hidupnya. Namun bila perbuatan yang dilarang Allah dilakukan maka posisi ini
akan merendahkan derajatnya dihadapan Allah dan masyarakatnya;"Dia-lah
Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui
segala sesuatu" [Al Baqarah 2;29]
Manusia adalah
makhluk Allah yang pintar, sehingga mampu untuk menaklukkan dunia ini dengan
ilmunya itu, walaupun malaikat sudah lama diciptakan tapi mereka harus memberi
hormat kepada nabi Adam yang diberikan ilmu pengetahuan sedangkan malaikat
tidak mempunyai, demikian pula karena pentingnya ilmu sehingga ayat yang turun
pertama kali adalah kata-kata Iqra' yang
artinya baca, selidiki, teliti dan kaji ; "Ingatlah ketika
Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Dan dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian
mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku
nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"[Al
Baqarah 2;30-31]
Walau status itu diberikan Allah kepada
manusia, tapi bila melakukan dosa maka status itu akan direndahkan.... "Kemudian
kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)''[At Tin
95;5]
Ibarat pepatah yang mengatakan
"karena nila setitik maka rusaklah
susu sebelanga". Artinya kelebihan manusia yang diberikan
Allah sehingga mendapat posisi mulia
akan hancur bilamana melakukan perbuatan dosa. Rasulullahpun telah berpesan,”Hati-hatilah
terhadap dosa kecil, siapa tahu begitu kamu mengerjakan dosa kecil Allah
mencatatmu sebagai penduduk neraka selama-lamanya dan hati-hatilah terhadap
amal yang kecil, siapa tahu ketika kalian mengerjakan amal yang kecil itu
dicatat Allah sebagai penghuni syurga selama-lamanya”.
Walaupun kesalahan, kekeliruan, dosa dan
maksiat yang dilakukan manusia, tapi peluang untuk baik masih diberikan oleh
Allah melalui taubat dan pensucian diri, Imam Al Gazali membagi pensucian diri
kepada empat hal yaitu;
Mensucikan diri dari hadas dan najis
dengan jalan thaharah melalui wudhu, mandi atau tayamum sehingga dengan
kesucian ini dapat menunaikan ibadah mahdhoh seperti shalat.
Mensucikan diri dari kegiatan mengandung
dosa yang dilakukan oleh indra manusia sehingga tangan tidak mudah untuk
mencuri dan memukul, kaki tidak ringan untuk menyepak lawan dan sebagainya.
Mensucikan diri dari akhlak tercela
seperti sombong, takabur, hasad, dengki dan lain sebagainya sehingga memiliki
akhlakul karimah yang dipuji Allah dan disenangi oleh manusia.
Mensucikan diri dari niat yang tidak baik
dalam seluruh asfek kehidupan, kesucian
ini lebih penting dari segalanya dengan tidak melupakan kesucian lainna. Dalam
berbuat manusia dihiasi oleh niat-niat yang sengaja men yimpangkannya dari
ikhlas kepada Allah sehingga merusak ibadahnya.
Pada
masa dahulupun ummat ini selalu dirongrong oleh segala konspirasi untuk
menjauhkan dirinya dari kesucian itu, dalam mesjidpun terjadi usaha penyimpangan aqidah sebagaimana yang
tergambar dalam surat At Taubah 9;108 ”Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya.
sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari
pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada
orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bersih.”
Berkaitan
dengan ayat diatas, memang demikianlah keadaan sahabat Rasulullah, mereka
adalah orang yang siap membersihkan dirinya dari segala bentuk kotoran yang
melekat di badan dan di hatinya. Masjid
yang didirikan oleh Abdullah bin Ubay sebagai tandingan terhadap masjid nabi
adalah konspirasi untuk menghancurkan islam yang dimotori oleh para munafiq,
pada diri mereka penuh dengan kotoran yang melekat sejak kenabian Muhammad Saw.
Sebuah ancaman diberikan Allah agar ummat islam tidak menegakkan shalat di
masjid itu, lebih layak mereka shalat di masjid yang didalamnya banyak
orang-orang yang mensucikan dirinya, itulah dia masjid Quba, yang landasan
pendiriannya karena taqwa; ”Hai
orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa
(taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan
orang-orang mukmin yang bersama Dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan
dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami,
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah Kami; Sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Kata
”nasuha” dalam ayat tersebut diatas maksudnya ialah suatu taubat yang memberi
nasehat baik pada diri sendiri serta dilakukan dengan ikhlas yang
sesungguh-sungguhnya karena mengharapkan keridhaan Allah dan sunyi dari segala
macam tujuan dan godaan yang lain-lain.
Perihal
keutamaan taubat, maka Allah sendiri sudah menjelaskan dalam firman-Nya; ’’ Mereka bertanya kepadamu tentang haidh.
Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu
hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu
mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka Telah suci, Maka
campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang
mensucikan diri.’’ [Al Baqarah 2;222]
Rasulullah
juga bersabda,”Seseorang yang bertaubat dari dosanya itu adalah sama dengan
orang yang tidak mempunyai dosa lagi”[HR.Ibnu Majah}. Maka taubat yang
sebenarnya menurut pengertian bahasanya ialah kembali, menurut istilah syariat
maksudnya ialah kembali kengikuti jalan yang benar dari jalan yang sudah
ditempuhnya yang tentunya berupa jalan yang sesat. Sebenarnya terlepas diri
dari sesuatu dosa itu bagi setiap manusia tidaklah mungkin sama sekali, sebab
hal ini memang sudah merupakan kekurangan manusia.
Hanya
saja besar kecilnya kekurangan itu tergantung memang berbeda-beda. Tetapi
menurut keasliannya kekurangan demikian itu pasti ada dan tidak dapat dihindari
sama sekali, oleh sebab itu Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya saja hatiku dapat
juga tergoda sehingga saya harus memohon pengampunan kepada Allah dalam sehari
semalam itu sebanyak tujuh puluh kali”[HR.Muslim]
Karena
itu Allah sengaja mengaruniakan kemuliaan pada beliau dengan firman-Nya; ”Supaya Allah memberi ampunan kepadamu
terhadap dosamu yang Telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan
nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus”[Al Fath 48;2]
Jikalau
Rasulullah saja sudah memastikan keadaan dirinya pasti terkena godaan syaitan,
konon pula yang lainnya. Jadi tentulah lebih dapat tergoda dan tidak mustahil
terkena godaan itu. Taubat itu apabila sudah terkumpul syarat-syaratnya, sudah
pasti dan tidak perlu diragukan lagi bahwa taubat yang sedemikian tentu
diterima.
Sucikan
dosa dengan cucuran air mata untuk membasuh segala kesalahan yang melekat di
hati serta panasnya rasa penyesalan batin, maka pastilah hati tadi akan kembali
bersih, suci dan mengkilat. Hati yang sudah suci dan bersih dari segala kotoran
dan penyakit batin, tentu saja akan diterima, sebagaimana halnya pakaian yang
suci dan bersih juga akan digemari oleh siapapun juga, jadi yang penting bagi
kita adalah membersihkan dan mensucikan
diri dan hati.
Taubat adalah perasaan hati kecil yang
merupakan penyesalan atas segala yang telah terjadi, kemudian mengharap ampunan
dari Allah SWT dengan menjauhi segala perbuatan dosa, dan selalu berbuat baik.
Dengan perbuatan baik inilah, taubat seseorang dan seluruh ketaatannya akan diterima oleh Allah
SWT. Barangsiapa yang bertaubat hanya sekedar mengisi kekosongan dan tidak
mengerjakan apa-apa yang dicintai oleh Allah, maka dia tidak dikatakan
bertaubat, kecuali kalau dia benar-benar kembali kepada Allah dan berusaha
melepaskan keterkaitan hati dari mengulangi perbuatan dosa serta menetapkan
makna taubat didalamnya sebelum mengucapkan secara lisan, dan membuktikan
kesungguhan taubatnya dengan menjauhi segala yang dibenci Allah SWT seraya
kembali kepada yang dicintai dan diridhai-Nya.
Taubat memiliki keutamaan bagi orang yang
menyadari kesalahannya lalu kembali menjadi orang-orang yang shaleh yang
diiringi dengan penyesalan yang mendalam, adapun keutamaannya adalah;
a.Perbuatan yang paling utama;
Taubat kepada Allah adalah perbuatan yang
paling utama, oleh karena itu Allah selalu menyeru kepada orang-orang mukmin
untuk bertaubat, ”Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai
orang-orang yang beiman supaya kamu beruntung” [An Nur 24;31] dan Allah selalu
membuka pintu-pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya, ”Katakanlah,”Hai
hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah
kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya, dan sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Az
Zumar;53].
b.
Dosanya akan diampuni Allah;
Barangsiapa yang bertaubat dan memohon
ampun kepada –Nya, niscaya Allah akan mengampuninya, walaupun dia telah banyak
berbuat dosa,”Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau
menyesatkan dirinya sendiri. Kemudian ingat akan Allah dan memohon ampun atas
dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada
Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui”
[Ali Imran;135]
c.
Mendapat rahmat dari Allah
Orang yang bertaubat kepada Allah dari
dosa-dosa yang telah diperbuat, niscaya dia akan selalu mendapat rahmat,
perlindungan, barakah dan akan dilapangkan rezekinya serta kebahagiaan hidup di
dunia dan akherat, ”Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhannya dan syurga
yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang mereka kekal di dalamnya dan
itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal” [Ali Imran;136].
d.
Hidup akan tentram dan sejahtera
Memohon ampun kepada Allah dengan
meninggalkan semua perbuatan-perbuatan dosa, inilah yang menyebabkan hidup
tentram dan sejahtera, lahirnya generasi-generasi yang shaleh dan menambah
kemuliaan baginya, ”Maka aku katakan kepada mereka, ”Mohonlah ampunan kepada
Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan kepadamu
hujan yang lebat. Dan melimpahkan kepadamu harta dan keturunan, menyediakan
untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai” [Nuh; 10-12].
e.
Tidak ada penghalang dengan Allah
Pintu taubat akan selalu terbuka bagi
siapa saja yang menghendaki, dan tidak seorangpun mampu menghalangi rahmat
Allah darinya, tidak ada hijab [penghalang] apapun antara dia dengan Tuhannya,
”Kecuali bagi siapa saja yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, niscaya
mereka itu akan masuk ke dalam syurga dan tidak disesatkan sedikit juapun.
Yaitu syurga Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada
hamba-hamba-Nya sekalipun syurga itu tidak nampak, sesungguhnya janji Allah itu
pasti akan ditetapi” [Maryam 60;16].
f.
Menyelamatkan dari neraka
Maka taubatlah yang menumbuhkan iman dan
amal shaleh, sehingga terealisir
pengertiannya secara aktif dan jelas. Taubat juga menyelamatkan orang-orang
dari neraka, selain itu juga, tidak menjerumuskan mereka ke dalam jurang
kesesatan,”Akan tetapi mereka itu akan masuk ke dalam syurga dan tidak
disesatkan sedikitpun” [Maryam;60].
Adapun
yang berhubungan dengan persoalan diterimanya, maka hal itu hendaklah kita
serahkan saja kepada Dzat yang hendak menilai hati kita itu, sebab semuanya itu
pasti sudah tertulis dan tercatat dengan seterang-terangnya menurut ketentuan
sejak zman azzali dahulu yang bagi kita tidak mungkin untuk mengelakkannya,
jikalau nyata diterima, maka itulah yang namanya kemenangan atau kebahagiaan
sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah dalam surat Asy Syam 91;7-10 ”Dan jiwa serta penyempurnaannya
(ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,Dan
Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya..
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw,
menceritakan, terdapat tiga orang pemuda yang sedang melakukan perjalanan.
Ketika hari sudah malam, mereka masuk ke dalam gua dengan maksud untuk menginap
di dalam gua satu malam saja. Setelah mereka berada di dalam, tiba-tiba sebuah
batu besar jatuh dari puncak bukit itu dan persis menutupi pintu gua. Mereka
mencoba mengeluarkan segala tenaga untuk menggeser batu besar itu. Tapi
sedikitpun tidak bergerak, sebab memang beratnya bukan imbangan tenaga manusia.
Dengan demikian mereka terkurung di dalam gua dan mungkin akan menemui ajalnya.
Pada
saat-saat yang kritis itu mereka menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada yang
dapat memberikan jalan keluar bagi mereka dari kesulitan itu selain pertolongan
Allah semata. Mereka memutuskan untuk berdo’a kepada Allah dengan menyebutkan
amalan ikhlas yang pernah dilakukan, secara bergantian ketiganya berdo’a dengan
khusyu’ ”Ya Allah aku punya seorang ibu
dan bapak yang sudah tua dan aku mempunyai seorang isteri dengan dua orang anak.
Tiap pagi saya meninggalkan rumah, menggembalakan kambing, kalau sore aku
pulang dengan membawa susu kambing murni yang segar untuk minuman ibu bapakku,
isteri dan anak-anakku. Suatu hari ya Allah, ketika aku pulang agak terlambat,
kudapati ayah dan ibuku sudah tidur, aku tidak tega mengganggu tidur mereka,
sedang isteri dan anak-anakku merengek minta minuman susu itu, tapi tidak aku
berikan sebelum ayah dan ibuku minum terlebih dahulu. Ya Allah seandainya yang
aku lakukan itu adalah sebuah kebaikan, maka tolonglah keluarkan kami dari gua
ini dengan selamat”.
Setelah
pemuda yang pertama ini berdo’a, maka batu yang menutupi gua itu bergerak
sehingga tamak secercah cahaya keberhasilan, tapi belum bis keluar. Pemuda
keduapun berdo’a; ”Ya Allah, aku adalah
seorang majikan dari sekian buruh yang bekerja di perkebunanku. Pada suatu hari
salah seorang dari mereka pergi tanpa
meninggalkan pesan sehingga upahnya belum diambilnya. Gaji buruhku itu aku
belikan sepasang kambing yang aku urus dengan baik, sampai berbulan dan
bertahun, maka jadilah kambing itu jumlahnya ratusan ekor. Tanpa diduga buruh
itu datang lagi untuk meminta upahnya yang belum dibayar dahulu, maka ya Allah
aku serahkan seluruh kambing itu kepadanya dengan ikhlas, andaikata ini suatu
amal ibadah, mohon lepaskan kami dari bahaya ini”.
Tidak
begitu lama batu itupun bergerak semakin lebar, tapi belum bisa dilalui, maka
tampillah pemuda ketiga dengan do’anya; ”Ya
Allah, aku adalah seorang pemuda yang punya kekasih, kebetulan dia anak pamanku
yang cantik. Pada suatu hari aku berdua saja dengannya berjalan-jalan sehingga
kami berada pada tempat yang jauh, tidak ada orang lain, kami hanya berdua saja, sehingga timbul syahwaku untuk
menggaulinya dan diapun pasrah. Saat aku berada
di atasnya untuk melakukan perbuatan nista itu aku sadar dan lari
meninggalkannya, sungguh ya Rabbi semua itu karena hidayah-Mu dan aku tidak
jadi melakukan perbuatan terkutuk itu, ya Allah bila ini suatu kebaikan maka
selamatkanlah kami dari derita ini ”.
Tidak berapa lama sesudah pemuda itu
berdo’a secara otomatis batu itu bergulir kencang meninggalkan mulut gua, maka
selamatlah mereka dari bencana yang nyaris membunuh ketiganya. Do'a dan
permohonan taubat mereka diterima Allah dengan wasilahnya yaitu amal-amal
shaleh. Taubat yang berarti penyesalan, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT
dalam Al Baqarah 2;54, ”Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan
bunuhlah dirimu”. ”Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang
yang beriman supaya kamu beruntung” [An Nur;31] Taubat yang berarti memberi
ampun ,”Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin
dan orang-orang Anshar” [At Taubah;117], wallahu a'lam [Cubadak Solok, 18
Ramadhan 1431.H/ 28 Agustus 2010.M]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar