Jumat, 11 Desember 2015

50. Remaja



Disebut dewasa mereka belum pantas karena masih banyak sikap dan tingkah laku yang tidak layak ada pada orang dewasa, dikatakan anak-anak mereka sudah tidak masanya lagi, itulah yang dinamakan remaja. Pada masa ini mereka hidup dalam kondisi labil, goncang, tidak mantap karena pada fase mencari kebenaran dan menginginkan pembenaran atas yang mereka lakukan. Setahap demi setahap dunia anak-anak sudah mudah ditinggalkan untuk memasuki masa kematangan yang dinamakan dewasa, sebelumnya fase remaja akan dilalui bersama dinamikanya.

            Remaja yang sejak kecil telah terbiasa mengenal Allah, maka dalam melaksanakan pengabdian kepada Allah tidak menunda waktu seperti nanti saja kalau sudah punya pekerjaan, besoklah kalau sudah punya isteri atau lusa bila usia telah tua memanggil.

            Persepsi ini sering hadir di tengah-tengah masyarakat kita terutama dikalangan remaja yang belum menyadari makna kehidupan, apalagi orangtua dan lingkungannya tidak menanamkan sejak dini nilai-nilai positif [agama]. Kegiatan agama masih dianggap sebagai pekerjaan yang pantas untuk mereka dalam usia tua, dengan terbatuk- batuk dan terbungkuk-bungkuk sebagai pertanda pintu kubur diambang telah dekat. Lebih parah lagi syurga dan neraka mereka anggap sebuah kayalan konyol, kehidupan dianggap sebagai tempat permainan yang tidak diperhitungkan kalah menangnya, yang tidak perlu diraih serta diperjuangkan dengan kekuatan.

Hal ini dapat kita lihat dalam sebuah semboyan kehidupan anak muda yang tidak terbimbing, mereka hanya berkhayal untuk mendapatkan yang lebih baik tanpa usaha dan kerja keras, apa kata mereka ? ”Ketika kecil dimanja-manja, setelah besar kaya raya, saat tua berfoya-foya, kalau mati masuk syurga” atau ”kelapa muda kupas-kupasin, kelapa tua keras batoknya, masa muda puas-puasin, dikala tua tinggal bongkoknya”.

            Di dunia dapatlah mereka mereguk kemanjaan dan kesenangan dari orangtua walaupun tidak berbuat apa-apa tetapi bagaimana dapat meraih syurga yang begitu mulia, apa mereka mengira syurga itu milik orangtua atau kepunyaan nenek moyangnya, orang bijak pernah berucap,”Jangan kau fikirkan tentang syurga, fikirkanlah bagaimana jalan menuju ke syurga itu”.

            Kesadaran tentang agama inilah yang harus ditanamkan kepada remaja untuk menciptakan remaja yang mau bekerja, bersaing dengan prestasi mencapai cita-cita, bekerja dan berjuang tadi akan lebih membangkitkan semangat bila diterjemahkan dalam bentuk pengabdian kepada Allah sehingga dalam kegiatan apapun dia tidak menganggap kesia-siaan walaupun kegagalan sedang dihadapi, bukankah Allah menilai usaha seseorang bukan hasil dari usaha itu.

            Pada akhir-akhir ini remaja yang tidak dirintis sejak kecil untuk mengerti tentang agama, banyak kegiatan yang mereka lakukan menyimpang dari norma dan nilai-nilai agama dan sebaliknya yang terdidik dalam gemblengan agama banyak melakukan kegiatan bermanfaat dan menunjang  bagi kehidupannya seperti diskusi, pengajian, akktif di RISMA [remaja masjid], pesantren kilat, rohis dan lain-lainnya.

            Kita mengharapkan di masjid akan muncul tokoh-tokoh muda yang punya tanggungjawab terhadap ummatnya sebagaimana generasi terdahulu, tokoh muda yang kita maksud adalah seperti tampilnya Yahya-Yahya baru diabad ini yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap agama, Allah menggambarkan pribadi Yahya sebagaimana firman-Nya dalam surat Maryam 19;12-14;
            ”Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka’’.

            Generasi ini akan hadir bila orangtua membentuk, membina dan bekerja ke arah itu, tidak hanya berpangku tangan sambil berdo’a, Allah menegaskan dalam surat Ali Imran 3;104 ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
           
            Sebenarnya remaja, pemuda ingin menampakkan kepada dunia bahwa mereka dapat berbuat, mampu bekerja untuk kepentingan agama islam dan da’wah, bahkan membantu program pemerintah, bangsa dan negaranya, selama orangtua masih memperhatikan dan mengarahkan mereka kepada jalan yang benar, pendidikan islam kuncinya sebagaimana sabda Rasulullah,”Didiklah anak-anakmu, sebab mereka akan menghadapi suatu masa yang sangat berbeda dengan masamu”, mungkin masa itu lebih buruk, kejam, zhalim dan maksiat berbaur di dalamnya, bila tidak dididik dengan iman dan islam tentu mereka bukan sebagai anak yang berharga di mata kita apalagi di hadapan Allah, lantas anak yang bagaimana yang kita banggakan nanti kepada Rasulullah saat bertemunya ? apakah anak shaleh atau anak thaleh.
Di kalangan remaja kebiasaan merokok telah pula menggerogoti kantong mereka sehingga SPP sekian rupiah nyaris melayang yang diganti dengan batang-batang yang dianggap sebagai sahabat. Bagi mereka yang tidak merokok merasa tidak enak, asing dan janggal, takut dijuluki banci, tidak jantan dan kampungan, akhirnya terpaksa mengikuti arus dengan istilah iseng-iseng, tanpa disadari iseng tersebut telah menyeret hidupnya ke jurang kehancuran, kepala bisa pusing bila tidak merokok, kemudian rokok telah memperbudak dirinya untuk diseret keambang pintu kematian dengan semboyan, “Hidup penuh dengan problem, sejak dari cinta sampai kepada derita, putus cinta soal biasa, putus asa adalah dosa dan putus rokok pusing kepala”.

            Muhammad Qutb berkomentar tentang keadaan ummat dizaman edan ini, yang diarahkan kepada pemuda dan remaja, pandangan-pandangan liar yang membelalak mengikuti setiap gadis yang lewat. Mengamati dari puncak kepala sampai ke telapak kaki, menelusuri segala sesuatu yang masih mungkin bisa dilihat pada tubuhnya, dan meliha semua tempat yang tersembunyi...

            Jiwa-jiwa yang jalang, yang selalu mencari sesuatu tempat dimana seks yang sangat rendah dapat ditemukan nyaris  tidak pernah dapat dijaga dari impiannya yang penuh kebengisan, selalu mencari-cari pemandangan yang menggairahkan dan mengharapkan khayalan-khayalan yang penuh dengan kekotoran.

            Kawanan pemuda jalang yang mengejar setiap gadis seperti anjing gila. Termasuk anak cucu Adamkah mereka ini ? Apakah darijiwa anak-anak muda semacam itu masih dapat diharapkan suatu kebaikan ? Apakah lengan dan tangan mereka ini dapat diharapkan membangun suatu bangsa ?

            Gadis yang memenuhi jalan raya dengan gayanya yang erotik, dengan pakaiannya yang lebih banyak memperlihatkan daripada menyembunyikan, yang lebih banyak menampakkan daripada menuupi; berlenggang lenggok di hadapan orang banyak, jika berkata ”saaay..” bukan berarti ”saya” tapi ”saayaaang...” Tetapi kalau hendak membahasakan dirinya selalu menyebu namanya dengan terus terang.

            Gadis yang semacam ini, yang kerjanya hanya memusatkan pandangan dan minat orang pada tubuhnya yang menggiurkan, yang mampu membangkitkan seks dalam endapannya pada jiwa pemuda, gadis yang semacam inilah yang biasanya memulai bercumbu dan merayu, yang kalau tujuanya keluar rumah memang sengaja hendak mengganggu para pemuda apakah dia ini makhluk manusia ?

            Apakah gadis semacam ini mampu menjadi seorang ibu dan pendidik anak-anaknya ? generasi yang sanggup berjuang dan memiliki daya tahan dalam perjuangannya ?

            Hancurnya generasi zaman sekarang memang diawali dari kurangnya perhatian orangtua terhadap anaknya apalagi pada zaman modern ini orangtua sibuk hanya membenahi kekayaan  dan jabatan sehingga dengan telah terpenuhinya kekayaan dan kemewahan untuk anaknya dianggap selesailah tugas, sementara kasih sayang, pengawasan, perhatian dan pendidikan agama untuk anak tidak diberikan.
           
             Pada ayat enam dari surat At Tahrim menyatakan,”Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu, didalamnya terdapat malaikat yang kasar lagi bengis, yang tidak maksiat kepada Allah dan taat atas perintah yang diperintahkan Allah dilaksanakannya”.

            Kalau kita perhatikan di zaman sekarang,sulit untuk membedakan seorang muslim atau non muslim sebab di kalangan masyarakat hal itu tidak nampak bedanya, longgarnya aturan agama dan adat telah digilas oleh perubahan zaman dan polusi budaya barat. Bolehkah gadis pergi kemana ia suka ? Bolehkah dia punya pacar ? kalau sudah punya pacar apakah sebaiknya harus diberitahukan dan perkenalkan keluarganya atau tetap dirahasiakan ? Dan kalau keluarganya tahu akan marahkah mereka, atau memejamkan mata dan pura-pura tidak tahu, atau menyambutnya dengan gembira ?

            Bolehkah sang gadis pergi ke bioskop, ke tempat-tempat pertunjukkan dan tempat-tempat tamasya lainnya bersama-sama tunangannya sehingga orang lain tidak tahu akan mengetahui apa yang akan terjadi dalam kepergian mereka itu ? Atau haruskah ia disertai oleh salah seorang anggota keluarganya ? Lalu apakah kongkritnya tugas anggota keluarga yang ikut serta ini ?

            Kalau sang gadis bepergian, bebaskah ia memakai pakaian sesuai dengan pilihannya ? Bolehkah ia memilih bahannya, model potongannya dan jahitannya sesuai dengan kehendaknhya ? Dandanan dada terbuka, atau punggung terbuka, atau kelihatan betisnya ? Ataukah keluarganya harus menetukan dan memilihkan corak pakaiannya.

            Bolehkah ia ditanya pada saat pulang terlambat ? Mengapa  pulang terlambat ? Ataukah hal itu merupakan haknya dan ia  bebas berbuat sesuka hatinya ? Bila ia menjawab , ”Tapi saya belajar bersama rekan gadis saya ” Apakah jawaban itu diterima begitu saja, ataukah lebih lanjut ia harus ditanya ? Dengan cara bagaimana pertanyaan itu harus diajukan.

            Sebaliknya, dipihak lain bolehkah para pemuda bertindak sesuka hatinya. Bolehkah ia mempunyai pacar yang dijadikan arena percobaan soal-soal seks, seluruhnya atau sebagian dari padanya yang memungkinkan ? Bagaimana sikap seorang pemuda di lingkungan keluarga dan terhadap ayahnya ? Haruskah ia menghormatinya dalam arti mematuhi semua perintahnya; atau menghormatinya sebagai seorang ”rekan’’ saja dalam hal atau ia tidak perlu menghormatinya ?

            Ini problem pemuda dan remaja yang dikhawatirkan oleh Muhammad Qutb, yang sebenarnya sudah ada jawabannya bila mau kembali merujuk kepada ajaran islam dengan tatacara yang diwahyukan Allah melalui konsep hidup yang diamanatkan kepada Rasulullah Saw, sejak hidup berpribadi, berkeluarga dan masyarakat, sejak dari berpakaian, pergaulan sampai kepada menata sebuah negara, islam mempunyai konsep itu. Kenapa kini kehancuran ummat islam jauh dari ajaran Al Qur’an dan Hadits. Mana mungkin masyarakat islam akan tegak kalau pribadi-pribadi jauh dari nilai-nilai islam. Sayid Qutb menggambarkan bagaimana masyarakat yang diatur oleh tatanan wahyu yang diawali dari pribadi-pribadi muslim yang muttaqin.

            Dalam masyarakat islam tidak terdapat pemuda-pemudi yang berbaju minim atau bertelanjang, wanita-wanita yang suka menggoda orang lain atau digoda, yang berkeliaran di setiap tempat, menyebarkan fitnah dan kekacauan, dan semuanya itu untuk keuntungan syaitan. Dalam masyarakat islam tidak terdapat gambar-gambar telanjang, film-film cabul dan nyanyian cabul, seperti film-film dan nyanyian Abdul Wahab dan konco-konconya. Dalam masyarakat islam tidak akan terdapat minum-minuman keras yang mendorong manusia untuk berbuat hal-hal yang tidak sopan, yang dapat menghilangkan kehendak dan pemikirannya.

            Lebih jauh Sayid Qutb menegaskan, jadi kalau anda ingin memperoleh gambaran pendapat islam tentang masalah seksual dalam kalangan pemuda, maka pertama-tama laksanakanlah sistim islam secara keseluruhan. Baru setelah itu dilihat, bukan sebelumnya, apakah para pemuda masih mempunyai masalah di bidang seks atau tidak.

            Artinya bila ummat islam mau dan mampu menerapkan nilai-nilai islam secara kaffah dengan acuan Al Qur’an dan Hadits maka tidak akan ditemukan pemuda dan pemudi yang bermasalah, hanya sampai dimana orangtua mempersiapkan kader bangsa ini dengan gemblengan atau tempaan dan tarbiyyah islamiyyah dalam rumah tangga, mereka yang salah selama ini dengan julukan ”nakal” atau kita sendiri sebagai orangtua yang ”jahil.

Agar kesucian sebagai remaja dan pemuda dapat terpelihara dengan baik, jangan sampai tercampak pada kemaksiatan dan tenggelam dalam dosa maka perlu adanya suatu ikhtiar atau usaha menyelamatkan dirinya yaitu dengan jalan menjaga dorongan hawa nafsu diantaranya; 

  1. Sebelum siap untuk memasuki pernikahan, maka palingkan fikiran kepada perkawinan. Jangan dibicarakan dahulu masalah ini, sebab nantipun ada masanya ketika segala sesuatunya telah siap. Bila perlu tidak datang ke acara walimah [pesta perkawinan] siapapun walaupun undangan seorang teman, sebab ini akan memoivasi ke arah itu.

  1. Menghindarkan diri dari segala  hal-hal yang dapat merangsang seperti gambar-gambar porno, bacaan cabul atau film-film murahan yang sengaja mengobral aurat dan mengundang selera muda.

  1. Sibukkan diri dengan ilmu pengetahuan melalui penelitian-penelitian, mengadakan pengajian-pengajian islam dan isi waktu dengan kegiatan positif seperti oleh raga, dengan kesibukan ini insya Allah akan terjauh dari godaan nafsu.

  1. Membuat target cita-cita yang harus dicapai, umpamanya tidak akan menikah sebelum kuliah selesai, menyelesaikan terlebih dahulu hafalan Al Qur’an sebanyak sekian juz, atau ada sesuatu yang diperioritaskan.

  1. Mengisi waktu luang dengan hoby dan kesenangan pribadi seperti menulis, membaca, memancing, camping atau kegiatan lain yang dapat mengisi kekosongan waktu. Jangan sampai waktu kosong digunakan melamun atau untuk mengkhayal langit yang tidak bertiang.

  1. Bergaul dengan ulama, orang-orang shaleh dan cendikiawan dalam rangka mencontoh pribadinya atau menambah wawasan keislaman dan menerima nasehat yang berharga.

  1. Melakukan shalat dengan benar, artinya shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat Al Ankabut 29;45, ”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”. Bahkan Rasulullah mensinyalir, shalat yang tidak mengubah diri dari perbuatan keji dan mungkar belumlah dikatakan shalat. Jangan sebagaimana istilah anak muda yang mengatakan dirinya muslim STMJ [Shalat Terus Maksiat Jalan].

  1. Melakukan puasa, baik puasa dalam arti sekedar menahan gejolak nafsu atau memang melakukan puasa sebenarnya seperti puasa setiap hari Senen dan Kamis, puasa tiga hari setiap bulan tanggal 13-15 hijriyah atau puasa nabi Daud yang dilakukan secara berselang-seling, Rasulullah bersabda, ”Wahai para pemuda, barangsiapa yang telah mampu hendaknya menikah, sebab nikah akan lebih menundukkan  pandangan dan lebih menjaga kehormatan. Kalau belum mampu maka berpuasalah, karena puasa akan menjadi perisai baginya” [HR. Bukhari dan Muslim].

            Orangtua, guru atau masyarakat harus membenahi diri untuk menyelamatkan generasi ini dari kehancuran moral dan kejahatan akhlak, pemuda dan pemudi harus mampu mempertahankan kesucian diri, untuk itu sikap, lingkungan dan pakaian ujudkanlah sesuai dengan cara islam.

            Rasulullah menghibur para pemuda dan pemudi yang mampu mempertahankan kesucian dirinya bahwa nanti di Padang Mashar jarak Matahari dengan Bumi hanya sejengkal saja, tidak ada yang dapat menaungi manusia kecuali Allah. Naungan itu  diberikan kepada salah seorang yang mampu mempertahankan diri dari perbuatan zina walaupun  peluang itu ada. Selain itu beliau menyatakan bahwa pemuda dan pemudi yang mampu menjaga kesucian dirinya hingga masuk pintu pernikahan merupakan sebuah prestasi yang luar biasa.

            Jika kita mengingat kembali makna ikrar syahadat, betapa malu dan sungkannya kita kepada Allah. Kita senantiasa obral janji, namun tidak ada buki sedikitpun. Hidup kita jauh dari nilai-nilai syahadat yang senantiasa kita kumandangkan, rasanya tidak layak kita masuk syurga Allah yang indah itu bila pembuktian syahadat tidak terujud, aqidah kita masih dangkal, ibadah kita belum lagi memadai, akhlak kita lebih banyak menonjolkan aurat daripada menutupinya, wawasan islam kita sangat sempit, ukhuwah kita tinggal semboyan saja.

            Mumpung belum terlambat, sadarlah bahwa kita mempunyai pola hidup sendiri, dengan aturannya begitu rapi dan indah. Termasuk dalam aturan berbusana muslimah dan berpenampilan. Cukuplah bagi kita busana yang diharumi oleh minyak iman, berhiaskan permata amal shaleh dan pergaulan suci dalam lingkungan malaikat dan bidadari yang jauh dari maksiat dan langwi [perbuatan sia-sia]. Bila ikrar dari syahadat telah mampu kita ujudkan, benarlah pesan Muhammad Qutb dan harapannya kepada remaja muslim;

            Kita memerlukan hilangnya kerlingan mata yang sumbang, jiwa yang liar, ketawa yang genit, lenggang lenggok yang penuh erotik, kata-kata yang porno, perasaan birahi yang kebuluran hendak menerkam mangsanya.

            Kita memerlukan akhlak, rasa hormat dan adat lembaga. Kita memerlukan wanita sebagai pembina generasi yang bersemangat kemanusiaan, bukan sekedar gumpalan daging yang hangat dan tubuh menggiurkan.

            Kita menginginkan agar perasaan-perasaan kita terangkat dari lembah nafsu seks, sentimen kita menjadi serius dan sungguh-sungguh; dan jiwa kita menjadi bersih jernih.

            Kita memerlukan pemdua-pemuda yang jiwanya mantap dan tentram, agar mereka mampu mencurahkan selruh tenaganya dan  mampu berjuang. Dan yang semacam itu tidak dapat diharapkan dari pemuda yang menghabiskan waktunya bergelandangan di jalan-jalan raya seperti anjing kelaparan.

Saya sangat takut kepada Allah dengan adanya anak kita yang masih remaja bila tidak terdidik dengan islam, rasa takut sang ayah kepada anaknya itu disebabkan karena sayang terhadap anaknya, tapi kadangkala anak salah dalam mengartikan sayang tadi, orangtua dianggap tidak kepada anak-anak, remaja dan pemuda bila permintaan mereka tidak dikabulkan,  wallahu a’lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ Agustus 2010.M]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar