Disebut dewasa mereka belum pantas karena masih banyak
sikap dan tingkah laku yang tidak layak ada pada orang dewasa, dikatakan
anak-anak mereka sudah tidak masanya lagi, itulah yang dinamakan remaja. Pada
masa ini mereka hidup dalam kondisi labil, goncang, tidak mantap karena pada
fase mencari kebenaran dan menginginkan pembenaran atas yang mereka lakukan.
Setahap demi setahap dunia anak-anak sudah mudah ditinggalkan untuk memasuki
masa kematangan yang dinamakan dewasa, sebelumnya fase remaja akan dilalui
bersama dinamikanya.
Remaja
yang sejak kecil telah terbiasa mengenal Allah, maka dalam melaksanakan
pengabdian kepada Allah tidak menunda waktu seperti nanti saja kalau sudah
punya pekerjaan, besoklah kalau sudah punya isteri atau lusa bila usia telah
tua memanggil.
Persepsi
ini sering hadir di tengah-tengah masyarakat kita terutama dikalangan remaja
yang belum menyadari makna kehidupan, apalagi orangtua dan lingkungannya tidak
menanamkan sejak dini nilai-nilai positif [agama]. Kegiatan agama masih
dianggap sebagai pekerjaan yang pantas untuk mereka dalam usia tua, dengan
terbatuk- batuk dan terbungkuk-bungkuk sebagai pertanda pintu kubur diambang
telah dekat. Lebih parah lagi syurga dan neraka mereka anggap sebuah kayalan
konyol, kehidupan dianggap sebagai tempat permainan yang tidak diperhitungkan
kalah menangnya, yang tidak perlu diraih serta diperjuangkan dengan kekuatan.
Hal ini dapat kita lihat dalam sebuah
semboyan kehidupan anak muda yang tidak terbimbing, mereka hanya berkhayal
untuk mendapatkan yang lebih baik tanpa usaha dan kerja keras, apa kata mereka
? ”Ketika kecil dimanja-manja, setelah
besar kaya raya, saat tua berfoya-foya, kalau mati masuk syurga” atau ”kelapa
muda kupas-kupasin, kelapa tua keras batoknya, masa muda puas-puasin, dikala
tua tinggal bongkoknya”.
Di
dunia dapatlah mereka mereguk kemanjaan dan kesenangan dari orangtua walaupun
tidak berbuat apa-apa tetapi bagaimana dapat meraih syurga yang begitu mulia,
apa mereka mengira syurga itu milik orangtua atau kepunyaan nenek moyangnya,
orang bijak pernah berucap,”Jangan kau
fikirkan tentang syurga, fikirkanlah bagaimana jalan menuju ke syurga itu”.
Kesadaran
tentang agama inilah yang harus ditanamkan kepada remaja untuk menciptakan remaja
yang mau bekerja, bersaing dengan prestasi mencapai cita-cita, bekerja dan
berjuang tadi akan lebih membangkitkan semangat bila diterjemahkan dalam bentuk
pengabdian kepada Allah sehingga dalam kegiatan apapun dia tidak menganggap
kesia-siaan walaupun kegagalan sedang dihadapi, bukankah Allah menilai usaha
seseorang bukan hasil dari usaha itu.
Pada
akhir-akhir ini remaja yang tidak dirintis sejak kecil untuk mengerti tentang
agama, banyak kegiatan yang mereka lakukan menyimpang dari norma dan nilai-nilai
agama dan sebaliknya yang terdidik dalam gemblengan agama banyak melakukan
kegiatan bermanfaat dan menunjang bagi
kehidupannya seperti diskusi, pengajian, akktif di RISMA [remaja masjid],
pesantren kilat, rohis dan lain-lainnya.
Kita
mengharapkan di masjid akan muncul tokoh-tokoh muda yang punya tanggungjawab
terhadap ummatnya sebagaimana generasi terdahulu, tokoh muda yang kita maksud
adalah seperti tampilnya Yahya-Yahya baru diabad ini yang memiliki komitmen
yang tinggi terhadap agama, Allah menggambarkan pribadi Yahya sebagaimana
firman-Nya dalam surat Maryam 19;12-14;
”Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu
dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih
kanak-kanak, dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian
(dan dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan seorang yang berbakti
kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka’’.
Generasi
ini akan hadir bila orangtua membentuk, membina dan bekerja ke arah itu, tidak
hanya berpangku tangan sambil berdo’a, Allah menegaskan dalam surat Ali Imran
3;104 ”Dan hendaklah ada
di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada
yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
Sebenarnya
remaja, pemuda ingin menampakkan kepada dunia bahwa mereka dapat berbuat, mampu
bekerja untuk kepentingan agama islam dan da’wah, bahkan membantu program
pemerintah, bangsa dan negaranya, selama orangtua masih memperhatikan dan mengarahkan
mereka kepada jalan yang benar, pendidikan islam kuncinya sebagaimana sabda
Rasulullah,”Didiklah anak-anakmu, sebab mereka akan menghadapi suatu masa yang
sangat berbeda dengan masamu”, mungkin masa itu lebih buruk, kejam, zhalim dan
maksiat berbaur di dalamnya, bila tidak dididik dengan iman dan islam tentu
mereka bukan sebagai anak yang berharga di mata kita apalagi di hadapan Allah,
lantas anak yang bagaimana yang kita banggakan nanti kepada Rasulullah saat
bertemunya ? apakah anak shaleh atau anak thaleh.
Di kalangan remaja kebiasaan merokok telah
pula menggerogoti kantong mereka sehingga SPP sekian rupiah nyaris melayang
yang diganti dengan batang-batang yang dianggap sebagai sahabat. Bagi mereka
yang tidak merokok merasa tidak enak, asing dan janggal, takut dijuluki banci,
tidak jantan dan kampungan, akhirnya terpaksa mengikuti arus dengan istilah
iseng-iseng, tanpa disadari iseng tersebut telah menyeret hidupnya ke jurang
kehancuran, kepala bisa pusing bila tidak merokok, kemudian rokok telah
memperbudak dirinya untuk diseret keambang pintu kematian dengan semboyan,
“Hidup penuh dengan problem, sejak dari cinta sampai kepada derita, putus cinta
soal biasa, putus asa adalah dosa dan putus rokok pusing kepala”.
Muhammad
Qutb berkomentar tentang keadaan ummat dizaman edan ini, yang diarahkan kepada
pemuda dan remaja, pandangan-pandangan liar yang membelalak mengikuti setiap
gadis yang lewat. Mengamati dari puncak kepala sampai ke telapak kaki,
menelusuri segala sesuatu yang masih mungkin bisa dilihat pada tubuhnya, dan
meliha semua tempat yang tersembunyi...
Jiwa-jiwa yang jalang, yang selalu mencari sesuatu
tempat dimana seks yang sangat rendah dapat ditemukan nyaris tidak pernah dapat dijaga dari impiannya yang
penuh kebengisan, selalu mencari-cari pemandangan yang menggairahkan dan
mengharapkan khayalan-khayalan yang penuh dengan kekotoran.
Kawanan
pemuda jalang yang mengejar setiap gadis seperti anjing gila. Termasuk anak
cucu Adamkah mereka ini ? Apakah darijiwa anak-anak muda semacam itu masih
dapat diharapkan suatu kebaikan ? Apakah lengan dan tangan mereka ini dapat
diharapkan membangun suatu bangsa ?
Gadis
yang memenuhi jalan raya dengan gayanya yang erotik, dengan pakaiannya yang
lebih banyak memperlihatkan daripada menyembunyikan, yang lebih banyak
menampakkan daripada menuupi; berlenggang lenggok di hadapan orang banyak, jika
berkata ”saaay..” bukan berarti ”saya” tapi ”saayaaang...” Tetapi kalau hendak
membahasakan dirinya selalu menyebu namanya dengan terus terang.
Gadis
yang semacam ini, yang kerjanya hanya memusatkan pandangan dan minat orang pada
tubuhnya yang menggiurkan, yang mampu membangkitkan seks dalam endapannya pada
jiwa pemuda, gadis yang semacam inilah yang biasanya memulai bercumbu dan
merayu, yang kalau tujuanya keluar rumah memang sengaja hendak mengganggu para
pemuda apakah dia ini makhluk manusia ?
Apakah
gadis semacam ini mampu menjadi seorang ibu dan pendidik anak-anaknya ?
generasi yang sanggup berjuang dan memiliki daya tahan dalam perjuangannya ?
Hancurnya
generasi zaman sekarang memang diawali dari kurangnya perhatian orangtua
terhadap anaknya apalagi pada zaman modern ini orangtua sibuk hanya membenahi
kekayaan dan jabatan sehingga dengan
telah terpenuhinya kekayaan dan kemewahan untuk anaknya dianggap selesailah
tugas, sementara kasih sayang, pengawasan, perhatian dan pendidikan agama untuk
anak tidak diberikan.
Pada ayat enam dari surat At Tahrim menyatakan,”Hai orang-orang yang beriman, jagalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu,
didalamnya terdapat malaikat yang kasar lagi bengis, yang tidak maksiat kepada
Allah dan taat atas perintah yang diperintahkan Allah dilaksanakannya”.
Kalau kita perhatikan di zaman
sekarang,sulit untuk membedakan seorang muslim atau non muslim sebab di
kalangan masyarakat hal itu tidak nampak bedanya, longgarnya aturan agama dan
adat telah digilas oleh perubahan zaman dan polusi budaya barat. Bolehkah gadis
pergi kemana ia suka ? Bolehkah dia punya pacar ? kalau sudah punya pacar
apakah sebaiknya harus diberitahukan dan perkenalkan keluarganya atau tetap
dirahasiakan ? Dan kalau keluarganya tahu akan marahkah mereka, atau memejamkan
mata dan pura-pura tidak tahu, atau menyambutnya dengan gembira ?
Bolehkah
sang gadis pergi ke bioskop, ke tempat-tempat pertunjukkan dan tempat-tempat
tamasya lainnya bersama-sama tunangannya sehingga orang lain tidak tahu akan
mengetahui apa yang akan terjadi dalam kepergian mereka itu ? Atau haruskah ia
disertai oleh salah seorang anggota keluarganya ? Lalu apakah kongkritnya tugas
anggota keluarga yang ikut serta ini ?
Kalau
sang gadis bepergian, bebaskah ia memakai pakaian sesuai dengan pilihannya ?
Bolehkah ia memilih bahannya, model potongannya dan jahitannya sesuai dengan
kehendaknhya ? Dandanan dada terbuka, atau punggung terbuka, atau kelihatan
betisnya ? Ataukah keluarganya harus menetukan dan memilihkan corak pakaiannya.
Bolehkah
ia ditanya pada saat pulang terlambat ? Mengapa
pulang terlambat ? Ataukah hal itu merupakan haknya dan ia bebas berbuat sesuka hatinya ? Bila ia
menjawab , ”Tapi saya belajar bersama rekan gadis saya ” Apakah jawaban itu
diterima begitu saja, ataukah lebih lanjut ia harus ditanya ? Dengan cara
bagaimana pertanyaan itu harus diajukan.
Sebaliknya,
dipihak lain bolehkah para pemuda bertindak sesuka hatinya. Bolehkah ia
mempunyai pacar yang dijadikan arena percobaan soal-soal seks, seluruhnya atau
sebagian dari padanya yang memungkinkan ? Bagaimana sikap seorang pemuda di
lingkungan keluarga dan terhadap ayahnya ? Haruskah ia menghormatinya dalam
arti mematuhi semua perintahnya; atau menghormatinya sebagai seorang ”rekan’’
saja dalam hal atau ia tidak perlu menghormatinya ?
Ini
problem pemuda dan remaja yang dikhawatirkan oleh Muhammad Qutb, yang
sebenarnya sudah ada jawabannya bila mau kembali merujuk kepada ajaran islam
dengan tatacara yang diwahyukan Allah melalui konsep hidup yang diamanatkan
kepada Rasulullah Saw, sejak hidup berpribadi, berkeluarga dan masyarakat,
sejak dari berpakaian, pergaulan sampai kepada menata sebuah negara, islam
mempunyai konsep itu. Kenapa kini kehancuran ummat islam jauh dari ajaran Al
Qur’an dan Hadits. Mana mungkin masyarakat islam akan tegak kalau
pribadi-pribadi jauh dari nilai-nilai islam. Sayid Qutb menggambarkan bagaimana
masyarakat yang diatur oleh tatanan wahyu yang diawali dari pribadi-pribadi
muslim yang muttaqin.
Dalam
masyarakat islam tidak terdapat pemuda-pemudi yang berbaju minim atau
bertelanjang, wanita-wanita yang suka menggoda orang lain atau digoda, yang berkeliaran
di setiap tempat, menyebarkan fitnah dan kekacauan, dan semuanya itu untuk
keuntungan syaitan. Dalam masyarakat islam tidak terdapat gambar-gambar
telanjang, film-film cabul dan nyanyian cabul, seperti film-film dan nyanyian
Abdul Wahab dan konco-konconya. Dalam masyarakat islam tidak akan terdapat
minum-minuman keras yang mendorong manusia untuk berbuat hal-hal yang tidak
sopan, yang dapat menghilangkan kehendak dan pemikirannya.
Lebih
jauh Sayid Qutb menegaskan, jadi kalau anda ingin memperoleh gambaran pendapat
islam tentang masalah seksual dalam kalangan pemuda, maka pertama-tama
laksanakanlah sistim islam secara keseluruhan. Baru setelah itu dilihat, bukan
sebelumnya, apakah para pemuda masih mempunyai masalah di bidang seks atau
tidak.
Artinya
bila ummat islam mau dan mampu menerapkan nilai-nilai islam secara kaffah
dengan acuan Al Qur’an dan Hadits maka tidak akan ditemukan pemuda dan pemudi
yang bermasalah, hanya sampai dimana orangtua mempersiapkan kader bangsa ini
dengan gemblengan atau tempaan dan tarbiyyah islamiyyah dalam rumah tangga,
mereka yang salah selama ini dengan julukan ”nakal” atau kita sendiri sebagai
orangtua yang ”jahil.
Agar kesucian sebagai remaja dan pemuda
dapat terpelihara dengan baik, jangan sampai tercampak pada kemaksiatan dan
tenggelam dalam dosa maka perlu adanya suatu ikhtiar atau usaha menyelamatkan
dirinya yaitu dengan jalan menjaga dorongan hawa nafsu diantaranya;
- Sebelum siap untuk memasuki pernikahan, maka palingkan fikiran kepada perkawinan. Jangan dibicarakan dahulu masalah ini, sebab nantipun ada masanya ketika segala sesuatunya telah siap. Bila perlu tidak datang ke acara walimah [pesta perkawinan] siapapun walaupun undangan seorang teman, sebab ini akan memoivasi ke arah itu.
- Menghindarkan diri dari segala hal-hal yang dapat merangsang seperti gambar-gambar porno, bacaan cabul atau film-film murahan yang sengaja mengobral aurat dan mengundang selera muda.
- Sibukkan diri dengan ilmu pengetahuan melalui penelitian-penelitian, mengadakan pengajian-pengajian islam dan isi waktu dengan kegiatan positif seperti oleh raga, dengan kesibukan ini insya Allah akan terjauh dari godaan nafsu.
- Membuat target cita-cita yang harus dicapai, umpamanya tidak akan menikah sebelum kuliah selesai, menyelesaikan terlebih dahulu hafalan Al Qur’an sebanyak sekian juz, atau ada sesuatu yang diperioritaskan.
- Mengisi waktu luang dengan hoby dan kesenangan pribadi seperti menulis, membaca, memancing, camping atau kegiatan lain yang dapat mengisi kekosongan waktu. Jangan sampai waktu kosong digunakan melamun atau untuk mengkhayal langit yang tidak bertiang.
- Bergaul dengan ulama, orang-orang shaleh dan cendikiawan dalam rangka mencontoh pribadinya atau menambah wawasan keislaman dan menerima nasehat yang berharga.
- Melakukan shalat dengan benar, artinya shalat yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat Al Ankabut 29;45, ”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”. Bahkan Rasulullah mensinyalir, shalat yang tidak mengubah diri dari perbuatan keji dan mungkar belumlah dikatakan shalat. Jangan sebagaimana istilah anak muda yang mengatakan dirinya muslim STMJ [Shalat Terus Maksiat Jalan].
- Melakukan puasa, baik puasa dalam arti sekedar menahan gejolak nafsu atau memang melakukan puasa sebenarnya seperti puasa setiap hari Senen dan Kamis, puasa tiga hari setiap bulan tanggal 13-15 hijriyah atau puasa nabi Daud yang dilakukan secara berselang-seling, Rasulullah bersabda, ”Wahai para pemuda, barangsiapa yang telah mampu hendaknya menikah, sebab nikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan. Kalau belum mampu maka berpuasalah, karena puasa akan menjadi perisai baginya” [HR. Bukhari dan Muslim].
Orangtua, guru atau masyarakat harus membenahi
diri untuk menyelamatkan generasi ini dari kehancuran moral dan kejahatan
akhlak, pemuda dan pemudi harus mampu mempertahankan kesucian diri, untuk itu
sikap, lingkungan dan pakaian ujudkanlah sesuai dengan cara islam.
Rasulullah menghibur para pemuda dan pemudi yang mampu
mempertahankan kesucian dirinya bahwa nanti di Padang Mashar jarak Matahari
dengan Bumi hanya sejengkal saja, tidak ada yang dapat menaungi manusia kecuali
Allah. Naungan itu diberikan kepada
salah seorang yang mampu mempertahankan diri dari perbuatan zina walaupun peluang itu ada. Selain itu beliau menyatakan
bahwa pemuda dan pemudi yang mampu menjaga kesucian dirinya hingga masuk pintu
pernikahan merupakan sebuah prestasi yang luar biasa.
Jika kita
mengingat kembali makna ikrar syahadat, betapa malu dan sungkannya kita kepada
Allah. Kita senantiasa obral janji, namun tidak ada buki sedikitpun. Hidup kita
jauh dari nilai-nilai syahadat yang senantiasa kita kumandangkan, rasanya tidak
layak kita masuk syurga Allah yang indah itu bila pembuktian syahadat tidak
terujud, aqidah kita masih dangkal, ibadah kita belum lagi memadai, akhlak kita
lebih banyak menonjolkan aurat daripada menutupinya, wawasan islam kita sangat
sempit, ukhuwah kita tinggal semboyan saja.
Mumpung
belum terlambat, sadarlah bahwa kita mempunyai pola hidup sendiri, dengan
aturannya begitu rapi dan indah. Termasuk dalam aturan berbusana muslimah dan
berpenampilan. Cukuplah bagi kita busana yang diharumi oleh minyak iman,
berhiaskan permata amal shaleh dan pergaulan suci dalam lingkungan malaikat dan
bidadari yang jauh dari maksiat dan langwi [perbuatan sia-sia]. Bila ikrar dari
syahadat telah mampu kita ujudkan, benarlah pesan Muhammad Qutb dan harapannya
kepada remaja muslim;
Kita
memerlukan hilangnya kerlingan mata yang sumbang, jiwa yang liar, ketawa yang
genit, lenggang lenggok yang penuh erotik, kata-kata yang porno, perasaan
birahi yang kebuluran hendak menerkam mangsanya.
Kita
memerlukan akhlak, rasa hormat dan adat lembaga. Kita memerlukan wanita sebagai
pembina generasi yang bersemangat kemanusiaan, bukan sekedar gumpalan daging
yang hangat dan tubuh menggiurkan.
Kita
menginginkan agar perasaan-perasaan kita terangkat dari lembah nafsu seks,
sentimen kita menjadi serius dan sungguh-sungguh; dan jiwa kita menjadi bersih
jernih.
Kita
memerlukan pemdua-pemuda yang jiwanya mantap dan tentram, agar mereka mampu
mencurahkan selruh tenaganya dan mampu
berjuang. Dan yang semacam itu tidak dapat diharapkan dari pemuda yang
menghabiskan waktunya bergelandangan di jalan-jalan raya seperti anjing
kelaparan.
Saya sangat takut kepada Allah dengan
adanya anak kita yang masih remaja bila tidak terdidik dengan islam, rasa takut
sang ayah kepada anaknya itu disebabkan karena sayang terhadap anaknya, tapi
kadangkala anak salah dalam mengartikan sayang tadi, orangtua dianggap tidak
kepada anak-anak, remaja dan pemuda bila permintaan mereka tidak dikabulkan, wallahu a’lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/
Agustus 2010.M]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar