Jati
diri artinya identitas atau karakteristik dan
kepribadian, seorang mukmin jelas punya identitas, kepribadian dan
integritas yang tinggi nilainya di hadapan Allah karena mereka memiliki iman,
konsisten dan siap untuk berjuang, sebagaimana yang digambarkan Allah dalam
firman-Nya; "Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada
Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang
(berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah
orang-orang yang benar" [Al Hujurat 49;15]
Berangkat dari ayat diatas ada empat
kepribadian seorang mukmin yang perlu kita miliki selain kepribadian lainnya;
1.Beriman Kepada Allah
Jati diri seorang muslim itu adalah beriman kepada Allah yang terhunjam
di hati, terucapkan melalui lisan serta teraplikasikan dalam amal-amal shaleh
setiap waktu, Allah berfirman dalam surat
Al Baqarah 2;25 “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka
yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang
mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki
buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah
diberikan kepada Kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan
untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di
dalamnya”
Iman
yang hanya sekedar terhunjam di hati tanpa terucap dilisan dan tidak
teraplikasi melalui amal perbuatan, inilah imannya Fir’aun dan iblis [10;90,
15;39-40] “Dan Kami memungkinkan Bani
Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya,
karena hendak Menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah
hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan
melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya Termasuk orang-orang
yang berserah diri (kepada Allah)"[Yunus 10;90]
“Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab
Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka
memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan
mereka semuanya” kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara
mereka".” [Al hijr 19;39-40]
Iman yang hanya terucap di bibir tanpa
terhunjam di hati, tanpa goresan amal, maka inilah imannya orang-orang munafiq
[Al Baqarah 2;8].
“Di
antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari
kemudian," pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang
beriman”
2.Beriman Kepada Rasul
Beriman kepada rasul artinya mengikuti kebenaran yang dibawanya serta tidak ragu
bahwa memang beliaulah orangnya yang diutus sebagai nabi terakhir, membawa
risalah tauhid dan kebenaran islam ini, Allah menegaskan dalam firman-Nya; “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah
beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada
rasul-Nya serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya. barangsiapa yang kafir
kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari
Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu Telah sesat sejauh-jauhnya”[An Nisa’
4;136]
Konsekwensi mengimani Rasul adalah mentaatinya, seorang mukmin punya kewajiban untuk taat dan
mengikutinya dalam seluruh asfek ajaran islam yang telah dicontohkan baik secara pribadi, keluarga,
masyarakat maupun bernegara. Hakekat mengikuti rasul adalah wahyu yang
diterjemahkan melalui tindakan kehidupan sehari-hari, demikian pula mengingkari
rasul pada hakekatnya juga mengingkari allah dan seluruh ajarannya, Allah
menegaskan dalam surat An Nisa’ 4;80 “Barangsiapa
yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah. dan barangsiapa
yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi
pemelihara bagi mereka”.
Iman kepada Rasul adalah salah satu rukun
iman [2;177,3;84] tidak dianggap muslim seseorang kecuali dia beriman bahwa
Allah mengutus Rasul yang menginterpretasikan hakekat yang sebenarnya dari
dienul islam.“Bukanlah menghadapkan
wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya
kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat,
kitab-kitab, nabi-nabi …….”[Al Baqarah 2;177]
Juga tidak dianggap beriman atau muslim
kecuali ia beriman kepada seluruh rasul dan tidak membedakan antara satu dengan
lainnhya, Allah berfirman dalam surat An Nisa’ 4;150-151“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya,
dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir
terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu)
mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),
3.Istiqamah Dalam Menjalani Hidup
Seorang yang punya kepribadian muslim itu
punya kriteria istiqamah, bagaimanapun kondisi yang dialami, sakit atau senang,
bahagia atau sengsara bahkan dikala diuji dengan segala yang melenakan hidupnya
agar berpaling dari islam maka semakin kokoh keimanannya hingga ajal
menjemputnya kelak. Kekonsistenannya terhadap islam nampak dalam kehidupan sehari-hari
melalui pribadi, keluarga dan bermasyarakat;" Di antara orang-orang
mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada
Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula)
yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)" [Al Ahzab
33;23]
Dengan keimanan yang dimiliki menjamin jiwa orang yang beriman
akan stabil dalam kondisi apapun walaupun kondisi itu akan meneteskan air mata
atau akan menggenangkan darah maka semua itu dihadapi dengan jiwa yang stabil,
Rasulullah bersabda,"Sungguh ajaib sikap orang-orang mukmin itu,
kalau diberi nikmat dia bersyukur dan itu lebih baik baginya, dan kalau ditimpa
musibah diapun bersabar dan itu lebih baik baginya"
Ibnu Taimiyah saat berhadapan dengan
pemerintahan yang zhalim yang akan mencelakakan dirinya maka dia bermunajad
kepada Allah yang menggambarkan kestabilan jiwanya menghadapio segala teror
itu, "Ya Allah seandainya mereka mencampakkan aku maka waktu itu adalah
saat yang tepat bagiku untuk bertamasa bersamaMu, kalau mereka mengurungku maka
saat itu adalah waktu yang tepat bagiku untuk bersunyi diri bersamaMu, walaupun
sekiranya mereka menggantungku maka itu adalah waktu yang tepat agar aku bisa
cepat bertemu dengan-Mu".
Satu ketika Amar bin Yasir dihukum oleh
majikannya dengan siksaan yang berat, lalu bapak dan ibunya dipancung dan
ditombak di hadapannya, tapi tidak
menggoyahkan imanya. Bahkan Musyaib bin Umair dikurung oleh ibu kandungnya
sampai ibunyapun siap untuk mogok makan agar anaknya kembali ke ajaran nenek
moyang yaitu menyembah berhala, dengan enteng Musyaib menjawab,”Wahai ibu, seandainya ibu karena tidak makan
meninggal lalu hidup lagi, mati dan hidup lagi hingga seribu kali mengalami hal
demikian, sungguh aku tidak akan meninggalkan agama yang dibawa Nabi Muhammad”.
4.Berjihad di Jalan Allah
Yang disebut jihad bukan hanya perang
saja, perang merupakan puncak dari jihad, sedangkan lingkup jihad itu banyak
sekali seperti bidang ekonomi,
pendidikan, politik, budaya dan seluruh lini kehidupan manusia yang
berorientasi mencari ridha Allah. kepribadian islami adalah pribadi muslim yang mampu
menggunakan dirinya untuk berjihad di jalan Allah pada seluruh sektor kehidupan manusia
baik dengan harta, jiwa, tenaga, fikiran,ekonomi bahkan politik demi untuk
tegaknya islam dengan kalimat Allah yang haq.
Sayid Qutb mengatakan
bahwa tegaknya islam ini di dunia karena semangat jihad ummat yang masih
berkobar, dan sebaliknya hancurnya ummat ini karena jihad telah ditinggalkan.
Ini yang disinyalir oleh Rasulullah bahwa ummat ini akan hancur
berantakan ibarat makanan yang terhidang diatas meja, direbut oleh semua
manusia, dikarenakan sudah tidak punya izzah lagi, apalagi telah terjangkit
pula oleh penyakit wahn, yaitu penyakit mental, “terlalu cinta kepada dunia dan
terlalu takut dengan kematian”.”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan
harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan
Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar
dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih
menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli
yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”[At Taubah
9;111].
Sebagai bukti iman pada seseorang harus
nampak pada nilai-nilai yang diperjuangkannya, salah satu adalah hasil celupan
Ilahiyah dan terwarnai oleh celupan itu, sebagaimana firman Allah dalam surat
Al Baqarah 2;138 “ Shibghah Allah. dan
siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan Hanya kepada-Nya-lah
kami menyembah.”
Orang yang telah tershibghah oleh
nilai-nilai Ilahiyah memiliki lima nilai perjuangan dan ini merupakan pengakuan
hati nurani, ucapan bibir dan aplikasi amal sehari-hari, yaitu;
1.Allah
Ghayatuna, Allah sebagai
Tujuan kami; artinya orang yang telah
tercelup oleh nilai-nilai Ilahi menjadikan seluruh kerjanya adalah untuk Allah
semata-mata, yaitu mencari ridha Allah sehingga nampak jelas misi apa yang
dibawa dalam setiap aktivitas tiada lain menegakkan kalimat-Nya [Al Baiyinah
98;5] ” Padahal mereka tidak disuruh
kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.
Seorang muslim itu harus menyerahkan
seluruh kehidupannya kepada Allah sehingga sempurnalah pengabdiannya; "Katakanlah:
Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam" [Al An'am 6;162].
"Kepunyaan Allah-lah segala apa yang
ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada
di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat
perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu" [Al Baqarah 2;284]
2.Rasulullah
Qudwatuna, Rasul Teladan
dan Pemimpin kami; orang yang telah terwarnai dengan wahyu Allah telah menjadikan Rasulullah sebagai pimpinan
dan teladan dalam kehidupan sehari-hari sejak dari urusan ibadah, da’wah,
politik dan pengaturan masalah tata negara [Al Ahzab 33;21] “ Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”
3.Al
Qur’an dusturuna; Al
Qur'an sebagai undang-undang kami, artinya siapa saja yang telah berada dalam
sibghah Allah telah menjadikan Al Qur’an
sebagai undang-undang hidup dalam seluruh asfek kehidupan manusia serta
menjauhkan segala aturan yang dapat merusak syari’at islam, paling tidak
dilakukan dengan bertahap sesuai dengan kafasitas, pemahaman dan kecendrungan
manusia [Al Maidah 5;44, 45, 47]“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut
apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang
kafir….zhalim…..fasiq”
Al
Qur’an adalah sebagai rahmat bagi manusia [17;82] dan sebagai pembeda yang baik
dan yang buruk, tanpa ini mustahil kita akan terarah melakoni kehidupan,
apalagi manusia itu cendrung kepada
keburukan karena memperturutkan hawa nafsu dan ajakan syaitan; “Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu
dengan Sebenarnya; membenarkan Kitab yang Telah diturunkan sebelumnya dan
menurunkan Taurat dan Injil, Sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia,
dan dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi
mempunyai balasan (siksa)”[Ali Imran 3;3-4]
Al
Qur’an adalah sebuah kitab yang menjelaskan segala persoalan hidup manusia
dengan gamblang, dia kitab yang menyelesaikan masalah tanpa masalah sejak dari
urusan dunia hingga akherat,sejak dari ekonomi, politik, budaya dan segala hal
yang digeluti manusia; “Dan Sesungguhnya
kami Telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran Ini bermacam-macam
perumpamaan. dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah”[Al Kahfi
18;54]
Al Qur’an adalah pemberi kabar gembira
bagi orang-orang yang beriman dengan istiqamah dan pemberi peringatan kepada
mereka yang lalai serta pemberi kabar pertakut kepada mereka yang kafir dan
zhalim. Disamping itu Allahpun
menggunakan sindiran bahwa ada kabar gembira kepada orang-orang kafir dengan
nerakanya yang penuh dengan azab; “Demikianlah
kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi
peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri)
sekelilingnya[1339] serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul
(kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. segolongan masuk surga, dan
segolongan masuk jahannam”[Asy Syura 42;7].
4.Jihad
Sabilina, jihad jalan
kami, artinya mereka telah menjadikan jihad/ berjuang di jalan Allah sebagai
jalan menapaki kehidupan ini karena Rasulullah telah menyatakan bahwa
barangsiapa yang tidak menjadikan jihad sebagai jalannya berarti matinya
jahiliyah [At Taubah 9;111] “
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka
dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu
mereka membunuh atau terbunuh. (Itu
telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran.
dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah
kemenangan yang besar”
5.Syahid asma amanina, syahid cita-cita
kami tertinggi, yaitu mati syahid sebagai cita-cita tertinggi dari cita-cita
lainnya. Dikatakan oleh ulama pejuang yang merujuk kepada pengalaman sahabat
bahwa barangsiapa yang tidak punya cita-cita untuk mati syahid walaupun dia
mati dalam peperangan maka matinya bukanlah syahid dan sebaliknya yang punya
niat untuk mati syahid akan dinilai sebagai syuhada’ walaupun mati di tempat
tidur [Ali Imran 3;157-158] “Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah
atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari
harta rampasan yang mereka kumpulkan. dan sungguh jika kamu meninggal atau
gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan.
Kalaulah ada sebuah mutiara yang dimiliki
oleh seseorang maka dia akan menjaga mutiara itu dengan sebaik-baiknya, diletakkan
dalam sebuah kotak, kotak tadi dibungkus lalu dimasukkan pada sebuah laci, laci
itu dalam lemari, lemari ada dalam kamar, kamar dikunci, rumahpun dikunci
dengan kuat, sampai pintu gerbangpun kadangkala ada satpam yang menjaganya.
Mutiara itu adalah iman yaitu sebuah harta yang tidak terhingga harganya bagi
mereka yang mengerti tentang pentingnya iman.
Tidak semua orang mendapat hidayah iman,
mereka adalah orang-orang pilihan Allah, disamping mereka berupaya mencari dan
mengharapkan juga kemurahan Allah kepadanya. Bagaimana Fir’aun yang hidup bersama Nabi Musa dan
isterinya Asyiyah tapi dia tidak tersentuh oleh iman, Abu Thalib dengan
kemampuannya telah mengamankan da’wah Rasulullah tapi ketika diminta oleh beliau
untuk mengucapkan kalimat iman saat mau meninggal, dengan gelengan kepala dia
menolak, lihat bagaimana anak Nabi Nuh, isteri Nabi Luth, ayah Nabi Ibrahim
bahkan tidak sedikit anak-anak kiayi yang jadi murtad, juga tidak kurang
banyaknya keturunan penjahat jadi pahlawan kebenaran ketika hidayah iman
menyeruak ke kalbunya.
Orang yang telah dihinggapi oleh hidayah
imanpun dalam segala tindakan, sikap dan sifatnya berbeda dengan orang-orang kafir, munafiq, fasiq dan zhalim.
Inilah sebagian kecil sifat-sifat orang-orang beriman yang digambarkan Allah
dalam beberapa ayat;
Pertama, orang beriman itu, apabila
disebut nama Allah maka bergetarlah hatinya, artinya dia resfon terhadap segala
aturan yang diberikan Allah. Getaran hati akan menjalar ke dalam seluruh tubuh,
memberikan kesadaran kepada seluruh anggota tubuh untuk memikul beban sehingga
meringankan untuk berzikir, berfikir dan beramal dalam seluruh kehidupannya.
Zikirnya mengantarkan kepada kesinambungan mengingat Allah dalam segala waktu
dan kondisi, fikirnya mengeluarkan ide-ide cemerlang untuk membangun ummat
kepada kebaikan, amalnya mencerminkan amal shaleh yang hanya mengharapkan ridha
Allah [8;2]
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang
bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila
dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada
Tuhanlah mereka bertawakkal”
.
Kedua, orang beriman itu apabila dibacakan
ayat-ayat Allah semakin bertambah imannya, sehingga tilawah Al Qur’an merupakan
kebutuhannya, sebagaimana Rasulullah satu ketika berkata kepada Ibnu
Mas’ud,”Bacakan untukku Al Qur’an!” Ibnu Mas’ud menjawab,”Bagaimana aku
membacakan Al Qur’an kepadamu padahal dia diturunkan kepadamu?”, Rasul
menjelaskan,”Imanku bertambah dikala Al Qur’an dibacakan oleh orang lain
untukku”.
Banyak kisah yang mengantarkan iman
semakin bertambah ketika Al Qur’an dibacakan, sebagaimana Umar bin Khattab,
Fudhail bin Iyad yang tadinya kafir, saat mendengarkan Al Qur’an dibacakan
hidayah iman masuk ke dalam hatinya [8;2]
Ketiga, orang beriman itu hanya kepada
Allah dia bertawakkal bukan kepada manusia, yang dimaksud tawakal adalah
menyerahkan segala hasil usaha kepada Allah setelah optimal berikhtiar. Satu
ketika seorang sahabat Rasul datang kepada beliau, Nabi bertanya,”Dengan apa
engkau kemari ?” dia menjawab,”Dengan unta ya Rasulullah!”, “mana untamu ?”
tanya beliau, dijawab,”Itu diluar saya lepaskan dan saya tawakkal kepada Allah,
bila Dia berkenan unta saya tidak kemana-mana, bila Allah berkehendak juga dia
akan hilang”, Rasul kemudian menjelaskan,”Itu namanya bukanlah tawakkal, ikat dahulu untamu dengan erat
baru tawakal”.
Itulah makna tawakkal, janganlah kita
salah mengartikan, usaha yang optimal dan maksimal dahulu, baru hasilnya itu
dikatakan tawakal, kita terima apa yang terbaik menurut Allah [8;3]
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian
dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.
Keempat, orang-orang beriman itu
menafkahkan sebagian rezekinya untuk jalan Allah [8;4] karena dia yakin bahwa
rezeki mereka di dalamnya ada hak fakir miskin, anak yatim dan kepentingan
ummat islam lainnya. Suatu ketika dimusim paceklik, ummat islam di Madinah
kedatangan kafilah dagang milik Usman bin Affan, konglomerat Madinah ketika itu
memberi penawaran yang menggiurkan untuk memonopoli perdagangan sehingga mereka
tidak segan-segan menawar dengan tiga, empat bahkan sepuuh kali lipat, tapi
Usman menolak sambil berkata,”Belum seberapa yang kalian berikan untuk saya,
tapi Allah telah memberikan lebih dari itu, dan kini semua dagangan saya ini
saya berikan untuk menyelamatkan ummat islam yang sedang dilanda krisis”
padahal harganya sekian milyar, sebuah infaq yang luar biasa.
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan
memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki
(nikmat) yang mulia.
Kelima, orang yang mengaku beriman kepada Allah mereka betul-betul beriman kepada Ilah dan Rasul-Nya tanpa setengah-setengah. Keimanan kepada Allah menjadikan mereka wajib pula beriman kepada Rasul, demikian pula sebaliknya bila beriman kepada Rasul pasti beriman kepada Allah [24;51]
Kelima, orang yang mengaku beriman kepada Allah mereka betul-betul beriman kepada Ilah dan Rasul-Nya tanpa setengah-setengah. Keimanan kepada Allah menjadikan mereka wajib pula beriman kepada Rasul, demikian pula sebaliknya bila beriman kepada Rasul pasti beriman kepada Allah [24;51]
. "Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin,
bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum
(mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami
patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”
Keenam, sifat orang beriman itu adalah
mempercayai rukun iman tanpa ragu-ragu sejak dari beriman kepada Allah,
malaikat, rasul, kitab, hari kiamat dan qadar/qada tanpa sedikitpun mereka
menguranginya. Keimanan kepada rukun iman ini akan membuahkan pengorbanan,
jihad dan amal shaleh [2;25].
”Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat
baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di
dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka
mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu."
Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada
isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”.
Itulah cerminan seorang mukmin yang
terletak sejauh mana dia mengaplikasikan amal-amalnya dalam kehidupan
sehari-hari bukan sekedar ucapan bibir, denyutan hati nurani tapi juga
amal shaleh. Keimanan yang tidak menampakkan
sifat demikian di hadapan Allah dipertanyakan imannya, bahkan Rasul mengatakan
iman itu mengalami naik turun, fluktuasi iman terjadi pada diri orang-orang mukmin, bukti iman
sedang naik adalah semakin banyak mengaktualisasikan sifat-sifat yang
disebutkan tadi dalam arti kata semakin banyak amal shalehnya, sedangkan bukti
iman sedang turun dibuktikan rendahnya aplikasi amal artinya banyaknya dosa dan
maksiat dilakukan oleh seorang hamba.
Mari kita jaga mutiara ini, karena dia
adalah milik berharga bagi mukmin, biarlah tidak punya apa-apa di dunia ini
asal memiliki iman yang istiqamah, biarlah putus hubungan kerja tapi jangan
putus iman, bila hal ini terjadi rasanya tidak ada artinya hidup kita di dunia
ini. Itulah sebabnya Rasulullah selalu berdo’a kepada Allah,”Ya Muqallabil qulub, tsabbit qalbi ala dinik, wahai Allah yang
membolak-balik hati ini, tetapkanlah kokoh hatiku ini pada agamamu”.
Rasul saja demikian berharapnya agar Allah
senantiasa menjaga kesinambungan iman dan amalnya agar tetap kokoh dalam
mengemban agama ini apalagi kita, seharusnya lebih banyak berdo’a sebagaimana
Nabi untuk menjaga kemilaunya mutiara iman itu yang nampak dalam karakter dan
kepribadian masing-masing mukmin. wallahu a’lam [Cubadak
Solok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29 Agustus 2010]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar