Rabu, 09 Desember 2015

37. Mukmin



Jati diri artinya identitas atau karakteristik dan  kepribadian, seorang mukmin jelas punya identitas, kepribadian dan integritas yang tinggi nilainya di hadapan Allah karena mereka memiliki iman, konsisten dan siap untuk berjuang, sebagaimana yang digambarkan Allah dalam firman-Nya;  "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar" [Al Hujurat 49;15]
Berangkat dari ayat diatas ada empat kepribadian seorang mukmin yang perlu kita miliki selain kepribadian lainnya;

1.Beriman Kepada Allah
Jati diri seorang muslim itu adalah beriman kepada Allah yang terhunjam di hati, terucapkan melalui lisan serta teraplikasikan dalam amal-amal shaleh setiap waktu, Allah berfirman dalam surat  Al Baqarah 2;25  “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”

            Iman yang hanya sekedar terhunjam di hati tanpa terucap dilisan dan tidak teraplikasi melalui amal perbuatan, inilah imannya Fir’aun dan iblis [10;90, 15;39-40] “Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak Menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya Termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)"[Yunus 10;90]

 “Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya” kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka".” [Al hijr 19;39-40]

 Iman yang hanya terucap di bibir tanpa terhunjam di hati, tanpa goresan amal, maka inilah imannya orang-orang munafiq [Al Baqarah 2;8].

     
“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”

2.Beriman Kepada Rasul
Beriman kepada rasul artinya mengikuti  kebenaran yang dibawanya serta tidak ragu bahwa memang beliaulah orangnya yang diutus sebagai nabi terakhir, membawa risalah tauhid dan kebenaran islam ini, Allah menegaskan dalam firman-Nya; “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya. barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu Telah sesat sejauh-jauhnya”[An Nisa’ 4;136]

Konsekwensi mengimani Rasul adalah mentaatinya,  seorang mukmin punya kewajiban untuk taat dan mengikutinya dalam seluruh asfek ajaran islam yang telah dicontohkan baik secara pribadi, keluarga, masyarakat maupun bernegara. Hakekat mengikuti rasul adalah wahyu yang diterjemahkan melalui tindakan kehidupan sehari-hari, demikian pula mengingkari rasul pada hakekatnya juga mengingkari allah dan seluruh ajarannya, Allah menegaskan dalam surat An Nisa’ 4;80 “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah. dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”.

Iman kepada Rasul adalah salah satu rukun iman [2;177,3;84] tidak dianggap muslim seseorang kecuali dia beriman bahwa Allah mengutus Rasul yang menginterpretasikan hakekat yang sebenarnya dari dienul islam.“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi …….”[Al Baqarah 2;177]

Juga tidak dianggap beriman atau muslim kecuali ia beriman kepada seluruh rasul dan tidak membedakan antara satu dengan lainnhya, Allah berfirman dalam surat An Nisa’ 4;150-151“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),

3.Istiqamah Dalam Menjalani Hidup
Seorang yang punya kepribadian muslim itu punya kriteria istiqamah, bagaimanapun kondisi yang dialami, sakit atau senang, bahagia atau sengsara bahkan dikala diuji dengan segala yang melenakan hidupnya agar berpaling dari islam maka semakin kokoh keimanannya hingga ajal menjemputnya kelak. Kekonsistenannya terhadap islam nampak dalam kehidupan sehari-hari melalui pribadi, keluarga dan bermasyarakat;" Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)" [Al Ahzab 33;23]

Dengan keimanan yang  dimiliki menjamin jiwa orang yang beriman akan stabil dalam kondisi apapun walaupun kondisi itu akan meneteskan air mata atau akan menggenangkan darah maka semua itu dihadapi dengan jiwa yang stabil, Rasulullah bersabda,"Sungguh ajaib sikap orang-orang mukmin itu, kalau diberi nikmat dia bersyukur dan itu lebih baik baginya, dan kalau ditimpa musibah diapun bersabar dan itu lebih baik baginya"

Ibnu Taimiyah saat berhadapan dengan pemerintahan yang zhalim yang akan mencelakakan dirinya maka dia bermunajad kepada Allah yang menggambarkan kestabilan jiwanya menghadapio segala teror itu, "Ya Allah seandainya mereka mencampakkan aku maka waktu itu adalah saat yang tepat bagiku untuk bertamasa bersamaMu, kalau mereka mengurungku maka saat itu adalah waktu yang tepat bagiku untuk bersunyi diri bersamaMu, walaupun sekiranya mereka menggantungku maka itu adalah waktu yang tepat agar aku bisa cepat bertemu dengan-Mu".

Satu ketika Amar bin Yasir dihukum oleh majikannya dengan siksaan yang berat, lalu bapak dan ibunya dipancung dan ditombak di hadapannya,  tapi tidak menggoyahkan imanya. Bahkan Musyaib bin Umair dikurung oleh ibu kandungnya sampai ibunyapun siap untuk mogok makan agar anaknya kembali ke ajaran nenek moyang yaitu menyembah berhala, dengan enteng Musyaib menjawab,”Wahai ibu, seandainya ibu karena tidak makan meninggal lalu hidup lagi, mati dan hidup lagi hingga seribu kali mengalami hal demikian, sungguh aku tidak akan meninggalkan agama yang dibawa Nabi Muhammad”.

4.Berjihad di Jalan Allah
Yang disebut jihad bukan hanya perang saja, perang merupakan puncak dari jihad, sedangkan lingkup jihad itu banyak sekali seperti  bidang ekonomi, pendidikan, politik, budaya dan seluruh lini kehidupan manusia yang berorientasi mencari ridha Allah. kepribadian islami adalah pribadi muslim yang mampu menggunakan dirinya untuk berjihad di jalan Allah pada seluruh sektor kehidupan manusia baik dengan harta, jiwa, tenaga, fikiran,ekonomi bahkan politik demi untuk tegaknya islam dengan kalimat Allah yang haq.

Sayid Qutb mengatakan bahwa tegaknya islam ini di dunia karena semangat jihad ummat yang masih berkobar, dan sebaliknya hancurnya ummat ini karena jihad telah ditinggalkan.

Ini yang disinyalir oleh Rasulullah bahwa ummat ini akan hancur berantakan ibarat makanan yang terhidang diatas meja, direbut oleh semua manusia, dikarenakan sudah tidak punya izzah lagi, apalagi telah terjangkit pula oleh penyakit wahn, yaitu penyakit mental, “terlalu cinta kepada dunia dan terlalu takut dengan kematian”.”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”[At Taubah 9;111].

Sebagai bukti iman pada seseorang harus nampak pada nilai-nilai yang diperjuangkannya, salah satu adalah hasil celupan Ilahiyah dan terwarnai oleh celupan itu, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah 2;138 “ Shibghah Allah. dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan Hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.”

Orang yang telah tershibghah oleh nilai-nilai Ilahiyah memiliki lima nilai perjuangan dan ini merupakan pengakuan hati nurani, ucapan bibir dan aplikasi amal sehari-hari, yaitu;

1.Allah Ghayatuna, Allah sebagai Tujuan kami; artinya orang yang  telah tercelup oleh nilai-nilai Ilahi menjadikan seluruh kerjanya adalah untuk Allah semata-mata, yaitu mencari ridha Allah sehingga nampak jelas misi apa yang dibawa dalam setiap aktivitas tiada lain menegakkan kalimat-Nya [Al Baiyinah 98;5] ” Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

Seorang muslim itu harus menyerahkan seluruh kehidupannya kepada Allah sehingga sempurnalah pengabdiannya; "Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam" [Al An'am 6;162].

"Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu" [Al Baqarah 2;284]

2.Rasulullah Qudwatuna, Rasul Teladan dan Pemimpin kami; orang yang telah terwarnai dengan wahyu Allah  telah menjadikan Rasulullah sebagai pimpinan dan teladan dalam kehidupan sehari-hari sejak dari urusan ibadah, da’wah, politik dan pengaturan masalah tata negara [Al Ahzab 33;21] “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”

3.Al Qur’an dusturuna; Al Qur'an sebagai undang-undang kami, artinya siapa saja yang telah berada dalam sibghah Allah  telah menjadikan Al Qur’an sebagai undang-undang hidup dalam seluruh asfek kehidupan manusia serta menjauhkan segala aturan yang dapat merusak syari’at islam, paling tidak dilakukan dengan bertahap sesuai dengan kafasitas, pemahaman dan kecendrungan manusia [Al  Maidah 5;44, 45, 47]“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir….zhalim…..fasiq”

 Al Qur’an adalah sebagai rahmat bagi manusia [17;82] dan sebagai pembeda yang baik dan yang buruk, tanpa ini mustahil kita akan terarah melakoni kehidupan, apalagi manusia itu  cendrung kepada keburukan karena memperturutkan hawa nafsu dan ajakan syaitan; “Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan Sebenarnya; membenarkan Kitab yang Telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, Sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa)”[Ali Imran 3;3-4]

 Al Qur’an adalah sebuah kitab yang menjelaskan segala persoalan hidup manusia dengan gamblang, dia kitab yang menyelesaikan masalah tanpa masalah sejak dari urusan dunia hingga akherat,sejak dari ekonomi, politik, budaya dan segala hal yang digeluti manusia; “Dan Sesungguhnya kami Telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran Ini bermacam-macam perumpamaan. dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah”[Al Kahfi 18;54]

Al Qur’an adalah pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dengan istiqamah dan pemberi peringatan kepada mereka yang lalai serta pemberi kabar pertakut kepada mereka yang kafir dan zhalim. Disamping itu   Allahpun menggunakan sindiran bahwa ada kabar gembira kepada orang-orang kafir dengan nerakanya yang penuh dengan azab; “Demikianlah kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya[1339] serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. segolongan masuk surga, dan segolongan masuk jahannam”[Asy Syura 42;7].

4.Jihad Sabilina, jihad jalan kami, artinya mereka telah menjadikan jihad/ berjuang di jalan Allah sebagai jalan menapaki kehidupan ini karena Rasulullah telah menyatakan bahwa barangsiapa yang tidak menjadikan jihad sebagai jalannya berarti matinya jahiliyah [At Taubah 9;111] “ Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar”

5.Syahid asma amanina, syahid cita-cita kami tertinggi, yaitu mati syahid sebagai cita-cita tertinggi dari cita-cita lainnya. Dikatakan oleh ulama pejuang yang merujuk kepada pengalaman sahabat bahwa barangsiapa yang tidak punya cita-cita untuk mati syahid walaupun dia mati dalam peperangan maka matinya bukanlah syahid dan sebaliknya yang punya niat untuk mati syahid akan dinilai sebagai syuhada’ walaupun mati di tempat tidur [Ali Imran 3;157-158]  “Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan. dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan.
Kalaulah ada sebuah mutiara yang dimiliki oleh seseorang maka dia akan menjaga mutiara itu dengan sebaik-baiknya, diletakkan dalam sebuah kotak, kotak tadi dibungkus lalu dimasukkan pada sebuah laci, laci itu dalam lemari, lemari ada dalam kamar, kamar dikunci, rumahpun dikunci dengan kuat, sampai pintu gerbangpun kadangkala ada satpam yang menjaganya. Mutiara itu adalah iman yaitu sebuah harta yang tidak terhingga harganya bagi mereka yang mengerti tentang pentingnya iman.

Tidak semua orang mendapat hidayah iman, mereka adalah orang-orang pilihan Allah, disamping mereka berupaya mencari dan mengharapkan juga kemurahan Allah kepadanya. Bagaimana  Fir’aun yang hidup bersama Nabi Musa dan isterinya Asyiyah tapi dia tidak tersentuh oleh iman, Abu Thalib dengan kemampuannya telah mengamankan da’wah Rasulullah tapi ketika diminta oleh beliau untuk mengucapkan kalimat iman saat mau meninggal, dengan gelengan kepala dia menolak, lihat bagaimana anak Nabi Nuh, isteri Nabi Luth, ayah Nabi Ibrahim bahkan tidak sedikit anak-anak kiayi yang jadi murtad, juga tidak kurang banyaknya keturunan penjahat jadi pahlawan kebenaran ketika hidayah iman menyeruak ke kalbunya.

Orang yang telah dihinggapi oleh hidayah imanpun dalam segala tindakan, sikap dan sifatnya berbeda dengan  orang-orang kafir, munafiq, fasiq dan zhalim. Inilah sebagian kecil sifat-sifat orang-orang beriman yang digambarkan Allah dalam beberapa ayat;

Pertama, orang beriman itu, apabila disebut nama Allah maka bergetarlah hatinya, artinya dia resfon terhadap segala aturan yang diberikan Allah. Getaran hati akan menjalar ke dalam seluruh tubuh, memberikan kesadaran kepada seluruh anggota tubuh untuk memikul beban sehingga meringankan untuk berzikir, berfikir dan beramal dalam seluruh kehidupannya. Zikirnya mengantarkan kepada kesinambungan mengingat Allah dalam segala waktu dan kondisi, fikirnya mengeluarkan ide-ide cemerlang untuk membangun ummat kepada kebaikan, amalnya mencerminkan amal shaleh yang hanya mengharapkan ridha Allah [8;2]
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”
.
Kedua, orang beriman itu apabila dibacakan ayat-ayat Allah semakin bertambah imannya, sehingga tilawah Al Qur’an merupakan kebutuhannya, sebagaimana Rasulullah satu ketika berkata kepada Ibnu Mas’ud,”Bacakan untukku Al Qur’an!” Ibnu Mas’ud menjawab,”Bagaimana aku membacakan Al Qur’an kepadamu padahal dia diturunkan kepadamu?”, Rasul menjelaskan,”Imanku bertambah dikala Al Qur’an dibacakan oleh orang lain untukku”.
Banyak kisah yang mengantarkan iman semakin bertambah ketika Al Qur’an dibacakan, sebagaimana Umar bin Khattab, Fudhail bin Iyad yang tadinya kafir, saat mendengarkan Al Qur’an dibacakan hidayah iman masuk ke dalam hatinya [8;2]

Ketiga, orang beriman itu hanya kepada Allah dia bertawakkal bukan kepada manusia, yang dimaksud tawakal adalah menyerahkan segala hasil usaha kepada Allah setelah optimal berikhtiar. Satu ketika seorang sahabat Rasul datang kepada beliau, Nabi bertanya,”Dengan apa engkau kemari ?” dia menjawab,”Dengan unta ya Rasulullah!”, “mana untamu ?” tanya beliau, dijawab,”Itu diluar saya lepaskan dan saya tawakkal kepada Allah, bila Dia berkenan unta saya tidak kemana-mana, bila Allah berkehendak juga dia akan hilang”, Rasul kemudian menjelaskan,”Itu namanya bukanlah   tawakkal, ikat dahulu untamu dengan erat baru tawakal”.
Itulah makna tawakkal, janganlah kita salah mengartikan, usaha yang optimal dan maksimal dahulu, baru hasilnya itu dikatakan tawakal, kita terima apa yang terbaik menurut Allah [8;3]
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.


Keempat, orang-orang beriman itu menafkahkan sebagian rezekinya untuk jalan Allah [8;4] karena dia yakin bahwa rezeki mereka di dalamnya ada hak fakir miskin, anak yatim dan kepentingan ummat islam lainnya. Suatu ketika dimusim paceklik, ummat islam di Madinah kedatangan kafilah dagang milik Usman bin Affan, konglomerat Madinah ketika itu memberi penawaran yang menggiurkan untuk memonopoli perdagangan sehingga mereka tidak segan-segan menawar dengan tiga, empat bahkan sepuuh kali lipat, tapi Usman menolak sambil berkata,”Belum seberapa yang kalian berikan untuk saya, tapi Allah telah memberikan lebih dari itu, dan kini semua dagangan saya ini saya berikan untuk menyelamatkan ummat islam yang sedang dilanda krisis” padahal harganya sekian milyar, sebuah infaq yang luar biasa.
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.

           
Kelima, orang yang mengaku beriman kepada Allah mereka betul-betul beriman kepada Ilah dan Rasul-Nya tanpa setengah-setengah. Keimanan kepada Allah menjadikan mereka wajib pula beriman kepada Rasul, demikian pula sebaliknya bila beriman kepada Rasul pasti beriman kepada Allah [24;51]
. "Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”

Keenam, sifat orang beriman itu adalah mempercayai rukun iman tanpa ragu-ragu sejak dari beriman kepada Allah, malaikat, rasul, kitab, hari kiamat dan qadar/qada tanpa sedikitpun mereka menguranginya. Keimanan kepada rukun iman ini akan membuahkan pengorbanan, jihad dan amal shaleh [2;25].
”Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

Itulah cerminan seorang mukmin yang terletak sejauh mana dia mengaplikasikan amal-amalnya dalam kehidupan sehari-hari bukan sekedar ucapan bibir, denyutan hati nurani tapi juga amal  shaleh. Keimanan yang tidak menampakkan sifat demikian di hadapan Allah dipertanyakan imannya, bahkan Rasul mengatakan iman itu mengalami naik turun, fluktuasi iman terjadi  pada diri orang-orang mukmin, bukti iman sedang naik adalah semakin banyak mengaktualisasikan sifat-sifat yang disebutkan tadi dalam arti kata semakin banyak amal shalehnya, sedangkan bukti iman sedang turun dibuktikan rendahnya aplikasi amal artinya banyaknya dosa dan maksiat dilakukan oleh seorang hamba.

Mari kita jaga mutiara ini, karena dia adalah milik berharga bagi mukmin, biarlah tidak punya apa-apa di dunia ini asal memiliki iman yang istiqamah, biarlah putus hubungan kerja tapi jangan putus iman, bila hal ini terjadi rasanya tidak ada artinya hidup kita di dunia ini. Itulah sebabnya Rasulullah selalu berdo’a kepada Allah,”Ya Muqallabil qulub, tsabbit qalbi ala dinik, wahai Allah yang membolak-balik hati ini, tetapkanlah kokoh hatiku ini pada agamamu”.

Rasul saja demikian berharapnya agar Allah senantiasa menjaga kesinambungan iman dan amalnya agar tetap kokoh dalam mengemban agama ini apalagi kita, seharusnya lebih banyak berdo’a sebagaimana Nabi untuk menjaga kemilaunya mutiara iman itu yang nampak dalam karakter dan kepribadian masing-masing mukmin. wallahu a’lam [Cubadak Solok, 19 Ramadhan 1431.H/ 29 Agustus 2010]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar